Bab 1
Aku meninggal di bawah bianglala tempat Haris Gunawan dan Lea Linata berselingkuh. Satu tubuh, dua nyawa melayang. Mereka berkata itu sudah takdirku, aku pantas mengalaminya. Lea merencanakan segalanya, memanipulasi Haris untuk membedah perutku dan mengambil anakku untuknya, lalu mencuri ponselku untuk memfitnahku berselingkuh, sehingga Haris tidak akan mencariku lagi.
Haris kemudian mengetahui bahwa mayat yang dibedahnya itu adalah aku, dan anaknya sendiri telah dia serahkan kepada Lea. Tak ada tulang belulang yang tersisa. Dia bilang anak itu telah berbuat baik dan akan diberkahi, dan dia sangat menyesal. Namun, dia malah memutuskan untuk menikahi Lea. Saat resepsi pernikahan mereka, dia mengungkapkan semua kejahatan Lea dan melompat dari gedung bersamanya. Lea mati di tempat, tetapi Haris hidup dalam keadaan vegetatif seumur hidup.
Hari ini, tanggal 20 Mei, aku mati di tempat aku dan Haris dulu membuat janji cinta, kepalaku terhantam kabin bianglala.
Aku dan anakku meninggal bersama.
Sementara itu, suamiku, Haris, sedang asyik berpelukan dan berciuman dengan Lea di dalam kabin itu.
"Pak Haris, kalau aku nggak banyak bergerak, apa dia ...."
Aku melayang di udara, melihat Lea melekat erat dalam pelukan Haris, sepertinya sangat menyesal.
Aku berbisik di telinganya terus-menerus, "Ini semua karena kamu. Karena kamu terus bergerak, kabin bianglala jatuh. Kalau bukan karena kamu, aku nggak mungkin mati!"
Sayangnya, dia nggak bisa mendengarku.
"Bukan salahmu, Lea. Dia memang bernasib buruk. Kalau bukan kita, pasti ada orang lain yang duduk di kabin itu, dan dia tetap akan mati."
Haris memeluk Lea erat-erat, seolah-olah takut aku tiba-tiba hidup kembali dan menakuti mereka.
"Pak Haris, aku takut."
"Jangan lihat. Ayo kita pergi dari sini."
Haris menggendong Lea dan menekan kepala gadis itu ke dadanya.
Namun, Lea masih sempat menoleh ke tubuhku yang tak lagi berkepala, dan di ujung bibirnya tersirat senyum samar.
Pekerjaan Haris sangat unik. Dia adalah seorang petugas pemulasaran jenazah di rumah duka, sementara Lea adalah magang baru yang akan lulus pada bulan Juni.
Lea masih muda dan menarik, dan Haris mengatakan bahwa gadis itu sering menanyakan hal-hal yang menurut orang lain mungkin terlihat bodoh.
"Magang baru ini sangat bodoh. Pekerjaanku ini membutuhkan orang yang cerdas dan teliti. Kalau nggak, bagaimana kita bisa memenuhi kepercayaan terakhir mereka?"
Awalnya, Haris selalu mengeluh tentang kebodohan dan kecerobohan Lea. Menurutnya, gadis itu tidak cocok untuk pekerjaan itu.
Namun, keluhannya lama-kelamaan terdengar penuh kasih sayang.
"Lea lagi-lagi melakukan hal bodoh hari ini. Untung ada aku yang membantunya."
"Kalau nggak ada aku, dia harus bagaimana?"
Mungkin menyadari ada yang salah dengan ucapannya, Haris buru-buru melihat ekspresiku.
Sebenarnya aku sudah tahu sejak lama bahwa dia berselingkuh, jadi ekspresiku saat itu tidak aneh.
Justru Lea yang memberitahuku. Setelah mereka berhubungan, dia langsung mengirimiku foto.
"Bu, Pak Haris bilang kamu itu wanita mandul yang nggak bisa punya anak. Dia sudah nggak mencintaimu. Pergilah kalau tahu diri."
Melihat tubuh mereka yang saling berpelukan erat, aku tidak bisa lagi memastikan apakah perkataan Lea hanya bualannya untuk membuatku pergi.
"Apa jadi selingkuhan itu membanggakan?"
Dengan tangan gemetar, aku hanya bisa mengetik beberapa kata. Benakku kosong, tidak tahu harus bertanya apa.
Pada akhirnya, bukankah ini kesalahan Haris?
"Yang nggak dicintai itu yang disebut selingkuhan, Bu. Kamu sudah tua, nggak bisa mengikuti perkembangan zaman."
Aku terjebak oleh ucapan Lea yang menyebutku 'wanita mandul yang nggak bisa punya anak.' Aku pikir, mungkin karena itu Haris selingkuh.
Saat itu aku berpikir, mungkin kalau punya anak, semuanya akan berbeda.
Kami sudah bersama-sama selama 10 tahun, menikah 8 tahun. Karena satu saluran tuba falopiku tersumbat, aku belum bisa hamil.
Kami berdua sangat ingin punya anak. Kami bahkan sudah menyiapkan kamar bayi dan tempat tidur bayi.
Sejak itu, aku diam-diam minum obat tradisional selama berbulan-bulan, berharap bisa memberinya kejutan.
Obat itu pahit dan berbau tidak sedap. Aku harus menutup hidung saat meminumnya teguk demi teguk, seolah-olah dengan begitu, aku bisa segera hamil.
Tuhan tidak mengabaikan usahaku. Saat menyadari sudah tiga bulan tidak datang bulan, aku pun diam-diam melakukan tes.
Saat melihat dua garis di alat tes kehamilan, aku berteriak dan menangis sendirian di kamar mandi.
Akhirnya aku akan jadi seorang ibu!
Namun, anakku tidak pernah punya kesempatan untuk melihat dunia ini.
Bab 2
Setelah mengantar pulang Lea yang masih ketakutan, barulah Haris teringat untuk pulang ke rumah kami.
"Anna, tolong ambilkan aku segelas air!"
Itulah kebiasaan Haris. Dia selalu minum air hangat setiap kali pulang.
Katanya, suhu di rumah duka terlalu dingin, dan hanya dengan begitu dia bisa merasakan kehangatan rumah.
Sayangnya, yang menjawabnya hanyalah keheningan.
Pagi tadi kami bertengkar gara-gara Lea.
"Istriku, Lea demam dan sendirian di rumah sakit. Sebagai mentornya, aku harus menjenguknya."
Melihat Haris sudah berganti sepatu di pintu masuk, tiba-tiba aku merasa, kalau dia pergi, mungkin dia tidak akan kembali lagi.
"Di rumah sakit ada dokter dan perawat. Buat apa kamu pergi? Lagi pula, hari ini tanggal 20 Mei, kamu tega meninggalkan aku sendirian di rumah?"
Haris berhenti sejenak dan menatapku dengan ekspresi tidak percaya.
"Anna, orang lain sedang sakit, kamu malah berpikir ingin merayakan hari ini?"
"Kamu benar-benar dingin. Lea bahkan bilang dia sangat menyukaimu. Kalau dia tahu, dia pasti akan kecewa!"
Aku ingin berkata, kamu tahu dia itu 'orang lain,' 'kan?
Kenapa dia meneleponmu pada tanggal 20 Mei ini? Kenapa dia sakit malah merusak hari kita?
Aku bahkan ingin berkompromi dan mengatakan, sebenarnya aku bisa ikut denganmu untuk merawatnya.
Sayangnya, aku tidak sempat mengatakannya. Suara pintu dibanting menahan semua kata-kata itu di tenggorokanku.
"Datanglah ke Bianglala Bahagia."
Aku menerima pesan WhatsApp dari Haris tepat setelah aku tahu aku hamil.
Kupikir dia sengaja bertengkar denganku untuk memberi kejutan.
Namun, tidak kusangka, kejutan itu ternyata menyakitkan.
Benar juga, aku terlalu banyak baca novel. Di kehidupan nyata, tidak banyak pria yang benar-benar setia.
Melihat mereka bergandengan masuk ke kabin nomor 6 di bianglala, aku merasa remuk. Aku dan Haris dulu juga berpelukan, berciuman, dan berjanji sehidup semati di kabin itu.
Aku tidak mengerti, bukankah mereka seharusnya di rumah sakit? Lalu, kenapa mereka ada di sini?
Seperti pencuri, aku duduk di kabin nomor 8, mengawasi gerak-gerik mereka.
Aku lihat mereka mencapai puncak bianglala dan mulai berpelukan dan berciuman.
Apakah mereka juga saling berjanji untuk selalu bersama?
Seperti ketika aku dan Haris baru berpacaran dulu.
"Anna, kita akan selalu bersama, selamanya."
"Aku nggak akan mengkhianatimu. Kalau sampai itu terjadi, aku akan hidup tanpa cinta, kesepian hingga akhir hayat."
Dulu kami juga duduk di kabin nomor 6, saling bersandar, mengucapkan janji setia itu.
Kenangan itu terus membanjiri benakku, dan guncangan bianglala membuatku mual.
Aku terpaksa turun dari bianglala. Kepalaku pening sampai tidak bisa melihat jalan.
Sampai kudengar suara 'krek,' lalu kesadaranku hilang.
Saat terbangun, aku melihat kepalaku sendiri sudah hancur dihantam kabin bianglala.
Bab 3
Haris tidak mencariku. Dia langsung tidur setelah mencuci muka dan sikat gigi.
Dia tidak menelepon atau mengirim pesan untuk menanyakan aku ke mana.
Benar saja, ketika kamu sudah melihat bagaimana dia mencintaimu, akan sangat jelas terlihat ketika dia tidak mencintaimu lagi. Sekali lihat saja sudah tahu.
Dulu, ketika aku sibuk bekerja dan tidak langsung membalas pesannya, panggilan bertubi-tubi darinya akan masuk.
Kadang-kadang, jika aku tidak mengangkat telepon, dia bahkan akan meninggalkan pekerjaannya untuk datang ke kantor dan memastikan keadaanku.
"Anna, sesibuk apa pun kamu, ingatlah untuk membalas pesanku."
"Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
"Nanti kalau kamu sibuk, balas saja dengan emotikon senyum, supaya aku tahu kamu baik-baik saja."
...
Sekarang, mengirim pesan pun dia sudah malas.
Aku mengenalnya karena ibuku.
Ibuku adalah wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama puluhan tahun, dan akhirnya melompat dari gedung tinggi, meninggalkan jasad yang hancur.
Haris adalah petugas pemulasaran jenazahnya.
Aku melihat Haris mengenakan sarung tangan, menyusun kembali tubuh ibuku dengan hati-hati, matanya penuh dengan rasa hormat dan iba.
Saat itu aku berpikir, uang yang kukeluarkan itu sepadan, anggap saja sebagai balas jasaku atas pengorbanannya melahirkanku.
"Ada tisu bersih di sebelahmu, pakailah untuk menyeka air matamu."
"Dia pasti akan merasa sedih."
Kupikir hatiku sudah sekeras batu, tetapi air mata tetap mengalir tanpa kusadari, sampai Haris mengingatkanku.
Dengan panik aku menyeka air mataku dengan tisu, diam-diam menatap Haris.
Dia memang tampan, wajahnya halus, garis wajahnya tegas. Hanya saja, aku tidak mengerti kenapa dia memilih pekerjaan ini.
"Kenapa kamu memilih pekerjaan ini?"
Biasanya aku pendiam, tetapi pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja.
"Karena ayahku. Waktu itu dia meninggal karena kecelakaan, dan nggak ada yang bisa memperbaiki wajahnya. Ibuku sangat menyesal, karena ayah pergi dalam keadaan nggak utuh. Saat itu aku bersumpah, kelak aku akan menjadi petugas pemulasaran jenazah terbaik, agar setiap orang yang kutangani bisa pergi dalam keadaan utuh."
Kukira dia tidak akan menjawab. Ternyata Haris memberikan penjelasan panjang.
Dia bahkan bercerita tentang kisah indah orang tuanya.
Namun, Haris yang begitu hangat, begitu profesional dalam pekerjaannya, akhirnya melanggar prinsipnya demi Lea.