Bab 2
Setelah mengantar pulang Lea yang masih ketakutan, barulah Haris teringat untuk pulang ke rumah kami.
"Anna, tolong ambilkan aku segelas air!"
Itulah kebiasaan Haris. Dia selalu minum air hangat setiap kali pulang.
Katanya, suhu di rumah duka terlalu dingin, dan hanya dengan begitu dia bisa merasakan kehangatan rumah.
Sayangnya, yang menjawabnya hanyalah keheningan.
Pagi tadi kami bertengkar gara-gara Lea.
"Istriku, Lea demam dan sendirian di rumah sakit. Sebagai mentornya, aku harus menjenguknya."
Melihat Haris sudah berganti sepatu di pintu masuk, tiba-tiba aku merasa, kalau dia pergi, mungkin dia tidak akan kembali lagi.
"Di rumah sakit ada dokter dan perawat. Buat apa kamu pergi? Lagi pula, hari ini tanggal 20 Mei, kamu tega meninggalkan aku sendirian di rumah?"
Haris berhenti sejenak dan menatapku dengan ekspresi tidak percaya.
"Anna, orang lain sedang sakit, kamu malah berpikir ingin merayakan hari ini?"
"Kamu benar-benar dingin. Lea bahkan bilang dia sangat menyukaimu. Kalau dia tahu, dia pasti akan kecewa!"
Aku ingin berkata, kamu tahu dia itu 'orang lain,' 'kan?
Kenapa dia meneleponmu pada tanggal 20 Mei ini? Kenapa dia sakit malah merusak hari kita?
Aku bahkan ingin berkompromi dan mengatakan, sebenarnya aku bisa ikut denganmu untuk merawatnya.
Sayangnya, aku tidak sempat mengatakannya. Suara pintu dibanting menahan semua kata-kata itu di tenggorokanku.
"Datanglah ke Bianglala Bahagia."
Aku menerima pesan WhatsApp dari Haris tepat setelah aku tahu aku hamil.
Kupikir dia sengaja bertengkar denganku untuk memberi kejutan.
Namun, tidak kusangka, kejutan itu ternyata menyakitkan.
Benar juga, aku terlalu banyak baca novel. Di kehidupan nyata, tidak banyak pria yang benar-benar setia.
Melihat mereka bergandengan masuk ke kabin nomor 6 di bianglala, aku merasa remuk. Aku dan Haris dulu juga berpelukan, berciuman, dan berjanji sehidup semati di kabin itu.
Aku tidak mengerti, bukankah mereka seharusnya di rumah sakit? Lalu, kenapa mereka ada di sini?
Seperti pencuri, aku duduk di kabin nomor 8, mengawasi gerak-gerik mereka.
Aku lihat mereka mencapai puncak bianglala dan mulai berpelukan dan berciuman.
Apakah mereka juga saling berjanji untuk selalu bersama?
Seperti ketika aku dan Haris baru berpacaran dulu.
"Anna, kita akan selalu bersama, selamanya."
"Aku nggak akan mengkhianatimu. Kalau sampai itu terjadi, aku akan hidup tanpa cinta, kesepian hingga akhir hayat."
Dulu kami juga duduk di kabin nomor 6, saling bersandar, mengucapkan janji setia itu.
Kenangan itu terus membanjiri benakku, dan guncangan bianglala membuatku mual.
Aku terpaksa turun dari bianglala. Kepalaku pening sampai tidak bisa melihat jalan.
Sampai kudengar suara 'krek,' lalu kesadaranku hilang.
Saat terbangun, aku melihat kepalaku sendiri sudah hancur dihantam kabin bianglala.
Bab 3
Haris tidak mencariku. Dia langsung tidur setelah mencuci muka dan sikat gigi.
Dia tidak menelepon atau mengirim pesan untuk menanyakan aku ke mana.
Benar saja, ketika kamu sudah melihat bagaimana dia mencintaimu, akan sangat jelas terlihat ketika dia tidak mencintaimu lagi. Sekali lihat saja sudah tahu.
Dulu, ketika aku sibuk bekerja dan tidak langsung membalas pesannya, panggilan bertubi-tubi darinya akan masuk.
Kadang-kadang, jika aku tidak mengangkat telepon, dia bahkan akan meninggalkan pekerjaannya untuk datang ke kantor dan memastikan keadaanku.
"Anna, sesibuk apa pun kamu, ingatlah untuk membalas pesanku."
"Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
"Nanti kalau kamu sibuk, balas saja dengan emotikon senyum, supaya aku tahu kamu baik-baik saja."
...
Sekarang, mengirim pesan pun dia sudah malas.
Aku mengenalnya karena ibuku.
Ibuku adalah wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama puluhan tahun, dan akhirnya melompat dari gedung tinggi, meninggalkan jasad yang hancur.
Haris adalah petugas pemulasaran jenazahnya.
Aku melihat Haris mengenakan sarung tangan, menyusun kembali tubuh ibuku dengan hati-hati, matanya penuh dengan rasa hormat dan iba.
Saat itu aku berpikir, uang yang kukeluarkan itu sepadan, anggap saja sebagai balas jasaku atas pengorbanannya melahirkanku.
"Ada tisu bersih di sebelahmu, pakailah untuk menyeka air matamu."
"Dia pasti akan merasa sedih."
Kupikir hatiku sudah sekeras batu, tetapi air mata tetap mengalir tanpa kusadari, sampai Haris mengingatkanku.
Dengan panik aku menyeka air mataku dengan tisu, diam-diam menatap Haris.
Dia memang tampan, wajahnya halus, garis wajahnya tegas. Hanya saja, aku tidak mengerti kenapa dia memilih pekerjaan ini.
"Kenapa kamu memilih pekerjaan ini?"
Biasanya aku pendiam, tetapi pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja.
"Karena ayahku. Waktu itu dia meninggal karena kecelakaan, dan nggak ada yang bisa memperbaiki wajahnya. Ibuku sangat menyesal, karena ayah pergi dalam keadaan nggak utuh. Saat itu aku bersumpah, kelak aku akan menjadi petugas pemulasaran jenazah terbaik, agar setiap orang yang kutangani bisa pergi dalam keadaan utuh."
Kukira dia tidak akan menjawab. Ternyata Haris memberikan penjelasan panjang.
Dia bahkan bercerita tentang kisah indah orang tuanya.
Namun, Haris yang begitu hangat, begitu profesional dalam pekerjaannya, akhirnya melanggar prinsipnya demi Lea.
Bab 4
Tubuhku dikirim ke rumah duka tempat Haris bekerja, dan di sana Haris bersama Lea yang mengurus jasadku.
Haris bertugas merapikan jenazah dan memulihkan penampilanku, sedangkan Lea bertugas menata barang-barang peninggalanku.
Ternyata selama ini mereka begitu kompak. Lalu, kenapa setiap hari Haris selalu mengeluh tentang Lea di rumah?
Apakah ini karena, konon, yang tidak bisa dimiliki selalu mengusik hati?
"Pak Haris, kasihan sekali dia. Dia sedang hamil, loh."
Lea melihat hasil otopsiku dan mendapati bahwa aku sudah hamil tiga bulan.
Haris tidak menanggapi ucapan Lea dan tetap fokus menyusun kembali tulang tengkorakku.
Kalau saja aku tidak melihat Lea diam-diam menyembunyikan ponselku saat mengurus barang-barangku, aku mungkin akan percaya bahwa dia benar-benar mengasihaniku.
Kepalaku hancur berkeping-keping, sehingga sangat sulit menyusunnya kembali secara utuh dan hanya bisa diatur kasar untuk membentuk siluetnya.
Sayang sekali, mereka tidak akan mengenaliku. Dengan begitu, mereka pun tidak merasa takut.
Haris sangat sibuk, terus-menerus menggunakan kawat baja untuk memperkuat tengkorakku, sementara Lea tampak santai, bergerak ke sana kemari seolah-olah tanpa beban.
Namun, kata-kata Lea selanjutnya membuat jantungku yang sudah tidak berdenyut bergetar.
"Pak Haris, aku khawatir sekali tentang penyakit Ibu. Katanya hanya janin yang belum terbentuk yang bisa dijadikan obat untuk menyembuhkannya."
Haris tidak menjawabnya, fokus pada pekerjaannya.
Melihat Haris tidak menanggapi, Lea duduk dengan muram di sudut ruangan.
Sebagai roh yang hanya bisa menyaksikan, aku menyentuh perutku yang rata. Tampaknya anakku sudah pergi. Rupanya begitu aku mati, dia tidak lagi menyertaiku.
"Ambil pisau!"
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Haris tiba-tiba berseru, mengejutkan Lea yang duduk di sudut.
"Pisau buat apa, Pak Haris?"
Haris menatap Lea yang kebingungan, lalu tersenyum lembut.
"Bukannya kamu bilang mau menyembuhkan penyakit ibumu?"
Mendengar itu, Lea langsung bergegas mengambil pisau bedah.
"Haris Gunawan, kalau kamu melakukan ini, aku pasti akan membunuhmu!"
"Haris!"
Seberapa pun kerasnya aku berteriak dan memanggilnya, Haris tetap tidak menanggapi, memegang pisau, bersiap membelah perutku.
"Pak Haris!"
Suara Lea menghentikan Haris.
"Pak Haris, apa ini nanti nggak akan ketahuan?"
"Selama kamu baik-baik saja, aku nggak peduli."
Melihat Haris mengarahkan pisau ke perutku, aku tidak bisa menahan diri dan berlutut, memohon padanya.
"Kumohon, biarkan dia. Dia belum sempat melihat dunia!"
"Kumohon, Haris. Aku rela jadi budakmu di kehidupan berikutnya. Apa pun yang kamu mau, akan kulakukan."
"Lea, kumohon, hentikan dia. Aku nggak akan merebutnya darimu lagi."
Permohonanku membuat angin berembus kencang di ruang rias, menyibakkan kain kafan yang menutupi tubuhku.
Jasadku kini terbuka sepenuhnya di hadapan Haris, termasuk tahi lalat merah di dadaku.
"Haris, tahi lalat merah di dadaku ini pasti karena hatiku terluka oleh orang yang kucintai di kehidupan sebelumnya. Jangan buat aku merasakan sakit yang sama."
"Anna, seumur hidupku aku cuma mencintaimu."
"Oh, dan juga anak kita."
Janji itu terasa seperti kemarin, tetapi sekarang bukan hanya aku yang dia lukai, tetapi juga anak kami yang sudah meninggal.
Melihat tahi lalat merah di dadaku, Haris menggeleng pelan, seakan menyangkal dugaan apa pun, lalu mendekatkan pisau ke perutku.
"Haris! Kumohon padamu!"
"Nggak! Jangan!"
Seberapa pun aku menangis dan memohon, Haris tetap membedah perutku dan mengeluarkan janinku yang belum terbentuk.
"Haris, aku mengutukmu agar selamanya nggak bisa mendapatkan cinta, dan mati dalam kesengsaraan!"
"Kalian berdua nggak akan mati dengan tenang!"
Mungkin karena dendamku terlalu kuat, lampu di ruang rias mulai berkedip-kedip.
"Ah, Pak Haris, sepertinya dia marah."
"Nggak apa-apa. Anggap saja dia melakukan perbuatan baik. Semoga di kehidupan selanjutnya dia terlahir dengan nasib yang lebih baik."
Aku menangis bercucuran darah mendengar kata-kata Haris yang begitu dingin, tetapi agak lega karena anakku tidak harus lahir ke dunia ini.
Haris, kamu akan menyesalinya!