Logo
Sejuta cerita di balik pintu kos
Sejuta cerita di balik pintu kos

Sejuta cerita di balik pintu kos

76 Bab
Tamat
Dalam novel modern Sejuta cerita di balik pintu kos, Dens Bagus memulai perantauan di Solo. Menghadapi dinamika hidup di kos sederhana, ia harus beradaptasi dengan karakter penghuni yang kontras demi masa depan. Temukan kisah young adult ini di platform read novels online kami sekarang.
Bab 1 dari Sejuta cerita di balik pintu kos

Solo menyambutku dengan desah angin panas dan aroma rempah yang asing. Deru mesin mobil ayahku melambat, dan jantungku berdebar lebih kencang daripada biasanya. Kami tiba di sebuah gerbang besi tua yang catnya mulai mengelupas, diapit oleh pagar tembok tinggi yang dihiasi tanaman merambat liar. Di baliknya, rumah kos Bu Ratih berdiri kokoh, namun tampak sunyi, seolah menahan napas. Aku menatap keluar jendela, telapak tanganku berkeringat dingin menempel pada jok mobil.

"Sudah sampai, Dens," kata ayah, suaranya berusaha terdengar ringan, tapi aku tahu ada getaran kesedihan di sana.

Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat. Pandanganku menyapu sekeliling, mencari-cari tanda-tanda kehidupan, namun hanya kesunyian yang menyapa. Halaman kos yang cukup luas ditumbuhi rumput gajah yang rapi, dan sebuah sepeda motor tua terparkir miring di bawah pohon mangga.

Sebuah perasaan aneh merayapi diriku, campuran antara kegugupan dan kerinduan yang mendalam akan rumah. Ini adalah awal dari perjalananku yang baru, jauh dari hiruk-pikuk kota kecil di Jawa Timur.

Ayah membunyikan klakson pelan. Tak lama, pintu utama terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan daster batik berwarna cerah.

Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi yang masih utuh, namun matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang diriku.

"Assalamu'alaikum, Bu Ratih!" Ayah turun lebih dulu, menyalami wanita itu dengan sopan.

"Wa'alaikumussalam, Pak Bagus! Aduh, akhirnya sampai juga. Kok lama sekali, to, Pak? Dari pagi saya sudah siapkan kamarnya. Jangan-jangan mampir makan sate dulu, ya?" Bu Ratih menyambut dengan celotehan yang langsung membanjiri telingaku. Ia tertawa renyah, meski aku merasa sedikit disindir.

Aku turun dari mobil, membawa ransel yang terasa berat di pundak, bukan karena isinya, melainkan beban ekspektasi yang kubawa. Aku menyalami Bu Ratih, tangan wanita itu terasa hangat dan sedikit kasar.

"Ini toh, calon penghuni kos saya? Namanya Dens Bagus, kan? Wah, gagah sekali anaknya. Tapi kok pucat begitu, Nak? Ndak apa-apa?" Bu Ratih menatapku lekat, kepalanya sedikit dimiringkan.

Aku tersenyum canggung, merasakan pipiku memerah. "I-iya, Bu. Dens, Bu."

"Dens? Panggil saja Ibu Ratih, ya. Jangan sungkan-sungkan. Di sini semua saya anggap anak sendiri. Tapi kalau ada aturan yang dilanggar, jangan harap bisa tidur nyenyak!"

candanya, lalu tertawa lagi, kali ini disusul oleh ayahku. Aku hanya ikut tersenyum hambar, mencoba mencerna rentetan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Ia seperti gelombang yang tak berhenti.

"Mari masuk, Pak, Nak Dens. Saya tunjukkan kamarnya." Bu Ratih berbalik, langkahnya cekatan memasuki ruang tamu yang luas. Wangi pewangi ruangan dan sedikit aroma masakan tercium samar, memberikan kesan hangat sekaligus asing.

Ruang tamu itu lapang, diisi sofa jati ukir dan beberapa tanaman hias dalam pot. Aku mengikuti Bu Ratih dan ayahku menyusuri koridor panjang di sisi kanan, dindingnya dicat kuning gading yang mulai pudar di beberapa bagian.

Beberapa pintu berjajar rapi. Aku melirik setiap pintu yang kami lewati, sebagian tertutup rapat, sebagian sedikit terbuka, menampakkan samar-samar isi di dalamnya. Sebuah gitar tergeletak di lantai, tumpukan buku di meja, dan gantungan baju di balik pintu.

Ketika kami melewati sebuah pintu dengan stiker band metal, sebuah kepala menyembul keluar. Seorang pemuda berambut gondrong, kaus hitam lusuh, dan mata merah, sepertinya baru bangun tidur. Dia hanya mengangguk tipis ke arah kami, lalu buru-buru menutup kembali pintunya. Aku menelan ludah. Wajahnya terlihat lelah dan penuh beban.

Tidak jauh dari sana, ada suara gesekan pensil di atas kertas. Sebuah pintu terbuka sedikit, menampakkan seorang gadis berambut panjang yang fokus menunduk, tangannya sibuk menggoreskan sesuatu di atas sketchbook. Ia tak menyadari kehadiran kami. Di sampingnya, seorang gadis lain yang lebih ceria, dengan rambut sebahu dan mata yang berbinar, melambaikan tangan ke arah kami sambil tersenyum lebar.

"Hai! Anak baru, ya?" sapanya ramah, suaranya ceria sekali.

Aku hanya bisa membalas dengan senyum tipis, terlalu malu untuk bicara. Ayahku mengangguk, "Iya, Nak. Anak saya, Dens."

"Mei Lin!" gadis itu memperkenalkan diri. "Itu adikku, Li Hua. Dia lagi asyik menggambar, jangan diganggu. Selamat datang, ya!"

Bu Ratih menoleh sedikit ke belakang. "Mei Lin, jangan berisik. Nanti Pak Bagus jadi sungkan!" tegurnya, namun ada nada sayang dalam suaranya.

Mei Lin hanya nyengir, lalu kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan kami dengan kesan pertama yang ramah tapi juga sedikit mengintimidasi bagiku.

Akhirnya, kami berhenti di sebuah pintu cokelat tua, yang paling ujung di koridor. Di daun pintunya, sebuah plat nomor kecil bertuliskan angka '7' terpaku.

Pintu itu terlihat sama dengan pintu-pintu lain, namun entah mengapa, mataku terpaku pada goresan-goresan samar di permukaannya, seolah menyimpan cerita yang tak terucapkan.

"Nah, ini kamarmu, Dens. Kamar nomor tujuh. Sudah saya bersihkan. Ada kipas angin, lemari kecil, dan meja belajar," Bu Ratih membuka pintu dengan kunci yang ia keluarkan dari saku daster.

Sebuah kamar sederhana menyambutku. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung satu kasur busa tipis, sebuah lemari kayu dua pintu yang sudah termakan usia, dan meja belajar yang tampak kokoh di sudut.

Jendela kecil menghadap ke halaman belakang, ditutupi tirai kain motif bunga yang lusuh. Udara di dalam kamar terasa pengap, meski ada sedikit angin yang masuk dari jendela. Aku meletakkan ransel di lantai, menatap sekeliling.

Tempat inilah yang akan menjadi duniaku untuk beberapa waktu ke depan.

"Bersih, kan? Nanti kalau kurang apa-apa bilang saja, ya. Tapi jangan minta yang aneh-aneh," Bu Ratih menunjuk ke berbagai sudut kamar dengan telunjuknya. "Kalau mau mandi, kamar mandinya di ujung sana. Ada tiga. Bebas pakai yang mana saja, asal jangan lama-lama. Airnya juga harus dihemat, ya!"

Ayah meletakkan koperku di samping lemari. "Terima kasih banyak, Bu Ratih. Maaf merepotkan."

"Ah, tidak apa-apa, Pak. Sudah kewajiban saya. Yang penting anaknya betah dan tidak nakal," sahut Bu Ratih, lalu melirikku dengan senyum menggoda.

"Dens, kalau lapar atau butuh apa-apa, jangan sungkan tanya. Tapi kalau malam jangan keluyuran. Jam sepuluh gerbang kos sudah saya kunci."

Aku hanya mengangguk, berusaha memasang senyum terbaikku, meskipun batinku bergejolak. Rasa cemas dan rindu rumah semakin menusuk. Bagaimana aku akan melewati hari-hari di tempat baru ini? Sendirian, tanpa siapa-siapa yang kukenal.

Ayah menepuk pundakku. "Jaga diri baik-baik, Nak. Belajar yang rajin. Jangan lupa sholat. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah atau Ibu."

Mataku berkaca-kaca mendengar kata-kata ayah. Aku memeluknya erat, mencium tangannya. "Iya, Yah. Ayah hati-hati di jalan."

Ayah pergi tak lama setelah itu, diantar Bu Ratih sampai ke gerbang. Aku berdiri di ambang pintu kamar nomor tujuh, mengawasinya hingga mobilnya menghilang di tikungan jalan. Meninggalkanku sendirian di dalam labirin ketidakpastian ini.

Kembali masuk ke kamar, aku menutup pintu. Aku duduk di tepi kasur busa, merasakan permukaannya yang empuk namun asing. Keheningan tiba-tiba terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara detak jam dinding di kamar sebelah atau deru kendaraan yang samar dari jalan raya.

Aku menatap keluar jendela, ke arah langit Solo yang mulai meredup.

Aku adalah Dens Bagus, seorang pemuda dari kota kecil yang polos dan canggung, kini terdampar di tengah kota yang sibuk, sendirian. Di kamar nomor tujuh, aku merasakan desakan untuk berteriak, untuk lari pulang ke rumah. Namun, tekad untuk mandiri menahanku.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan. Aku terlonjak. Siapa? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Perasaan takut dan penasaran berbaur, membuat jantungku kembali berdegup kencang.

Apakah ini Bu Ratih dengan aturan barunya? Atau Mei Lin yang ramah tapi sedikit mengejutkan? Atau malah pemuda berambut gondrong dengan mata merah itu? Aku menatap pintu cokelat di depanku, bertanya-tanya apa yang menanti di baliknya, dan apa pula yang akan terjadi pada petualangan baruku.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Ayo Bercerai!!
Ayo Bercerai!!
Dalam Ayo Bercerai!!, Adeline bertekad mengakhiri pernikahan dengan Devon, seorang billionaire yang dingin. Menghadapi dominasi sang suami, ia harus memilih antara bertahan atau bebas. Baca romance novel ini di web novel gratis untuk mengikuti perjuangan Adeline lepas dari jeratan cinta yang beracun.
Dangerous Feeling
Dangerous Feeling
Dalam Dangerous Feeling, Elaine terjebak antara cinta lama Damian dan obsesi kakak tirinya, Saga Revander. Sebagai romance novel modern, kisah ini menguji loyalitas Elaine saat obsesi keluarga menjadi ancaman. Baca web novel ini untuk melihat pilihan sulit Elaine demi masa depannya.
Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
Ditinggalkan di altar karena dianggap gadis desa, Chelsea bangkit mengungkap identitasnya sebagai pewaris triliunan rupiah dalam romance novel ini. Di tengah intrik dunia billionaire, ia harus melawan musuh yang iri sementara Nicholas mendukungnya. Baca webnovel seru ini sekarang.
Ketagihan Menjadi Penguntit
Ketagihan Menjadi Penguntit
Dalam novel romantis misteri Ketagihan Menjadi Penguntit, seorang wanita menyadari dirinya diawasi pria asing di kendaraan umum. Langkah demi langkah, ia justru terjebak masuk ke dalam perangkap misterius. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap kelanjutan kisahnya.
Matahari di Atas Benua
Matahari di Atas Benua
Dalam Matahari di Atas Benua, Bella mengejar mimpi penulisnya ke Swiss dan bertemu Alex. Di tengah genre adventure dan modern novel ini, mereka harus memilih antara tekanan keluarga dan masa lalu kelam demi cinta sejati. Baca romance stories ini untuk melihat perjuangan mereka di Alpen.
Melahirkan Anak Mantan
Melahirkan Anak Mantan
Dalam Melahirkan Anak Mantan, Rania harus menghadapi Devano setelah enam tahun menghilang demi rahasia besar. Pertemuan ini mengungkap kebenaran di balik masa lalu mereka. Baca romance novel ini untuk mengikuti kisah cinta dan takdir dalam salah satu fiction books terbaik di platform kami.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

[Dijuluki] Dulu Dibuang, Sekarang Diminta Kembali
[Dijuluki] Dulu Dibuang, Sekarang Diminta Kembali
Bocah malang itu berusaha keras untuk menyenangkan keluarganya, tetapi ditelantarkan dan diracuni hingga meninggal. Ia secara tidak sengaja terlahir kembali 10 tahun yang lalu dan memutuskan hubungan dengan keluarganya. Dengan ingatan akan kehidupan masa lalunya, ia menghasilkan ratusan miliar dan menjadi orang terkaya, membuat semua orang yang memandang rendah dirinya tak terjangkau!
Anak Petani Itu Ikan Koi
Anak Petani Itu Ikan Koi
Gadis imut bernama Yuyun adalah dewa keberuntungan dari langit, dia dikirim oleh Kaisar Langit ke dunia untuk menyelamatkan bencana kekeringan. Dia turun ke dunia menjadi anak desa yang malang. Tapi jangan takut, tubuhnya yang kecil terdapat kekuatan yang luar biasa. Dengan melambaikan tangan, dia membuat seekor kambing tua melahirkan; dengan menghentakkan kaki, dia membuat sumur kering menyemburkan mata air yang manis! Tapi bibinya yang jahat memanggilnya "Pembawa Sial". Setelah itu, dapur bibi jahat pun meledak! Bagaimana dengan kakak sepupu Yuyun yang melempar batu dan menindasnya?
Angin Bulan Punya Rasa, Rindu Tak Pernah Padam
Angin Bulan Punya Rasa, Rindu Tak Pernah Padam
Sepuluh tahun lalu, Iwan diselamatin Wiya. Sepuluh tahun kemudian, demi nolong Iwan, Wiya keturunan dewa ular nikah masuk keluarga Iwan dan melahirkan tiga telur. Tapi Iwan salah kira penyelamatnya itu Aisyah, adik angkatnya. Dia sama Aisyah malah maksa Wiya ikut main tebak telur.
Cermin Dosa (Sulih Suara)
Cermin Dosa (Sulih Suara)
Hanah naik bus untuk menghadiri pesta pertunangan kakaknya. Tanpa disangka, dia bertemu dengan pasangan lansia yang tidak sopan, memaksa Hanah untuk memberikan tempat duduknya. Hanah menolak dengan alasan tidak enak badan. Tanpa diduga, itu langsung menyebabkan konflik antara keduanya. Kemudian, putri lansia itu, Sinta, tiba di tempat kejadian. Ternyata, Sinta adalah tunangan kakak Hanah. Pada akhirnya, pernikahan dibatalkan, dan Sinta sangat menyesal.
Dewa Penempa Pedang
Dewa Penempa Pedang
Doni Hidayat, sang Dewa Penempa Pedang, hidup menyendiri di pedesaan sebagai menantu yang nggak mencolok, berharap menjalani hidup dengan tenang. Namun, Rina Saputra dari Aliran Langit Abadi datang untuk merampas tambang. Untuk mempertahankan tambang, Aliran Pedang terpaksa mengadu ilmu tempa dengan mereka. Dalam situasi terjepit, Doni akhirnya bertindak dan memenangkan pertarungan, menyelamatkan tambang.​​
Mawar Putih dan Kisah Masa Lalu
Mawar Putih dan Kisah Masa Lalu
Saat mengantar makanan, Vera memergoki suami "miskin" yang dicintainya selama tujuh tahun, Samuel, ternyata adalah Pangeran Jamanta yang kaya raya. Samuel tertangkap basah memberikan perhiasan mewah pada Sheryl dan malah meremehkan Vera. Mengira Vera akan memohon untuk tetap bersamanya, Samuel justru terkejut saat Vera melempar surat cerai dan memilih pergi, meninggalkan suami yang telah menipunya demi harga diri.