Bab 3
Setelah sebulan dirawat di rumah sakit, Lolly akhirnya dipulangkan, dan Andrew lah yang menjemputnya. Sementara aku sudah mati dengan hanya Ethan yang ada di sampingku, suasana di kamar Lolly begitu ramai. Keluarga dan teman-temannya memenuhi ruang itu, dan begitu Andrew datang, suasana langsung menjadi riuh.
“Andrew, kapan kalian menikah? Melihat betapa cemasnya kau terhadap Lolly, dia pasti sangat beruntung.”
Lolly menundukkan kepalanya dengan malu, suaranya begitu kecil, hampir seperti suara nyamuk.
“Jangan begitu, Kak Andrew sudah menikah. Aku nggak mau membuat Kak Laura salah paham, aku juga nggak mau jadi orang ketiga. Kalau nggak, dia pasti akan menyulitkan aku lagi.”
Salah satu temannya mencibir,
“Perempuan cemburuan dan picik seperti itu apa bagusnya? Yang dicintai oleh Andrew itu kau, Lolly! Justru yang nggak dicintai itulah orang ketiga! Selain menyakitimu, apa lagi yang bisa dia lakukan? Kalau aku sih, sudah lama aku ceraikan dia!”
Mendengar ucapan itu, aku hanya merasa geli. Jadi akulah yang dianggap sebagai orang ketiga, ya?
Lolly memang selalu seperti ini. Dia selalu mengarahkan segalanya agar terlihat seolah-olah akulah yang bersalah.
Namun yang paling membuatku kecewa adalah sikap Andrew. Dia sama sekali tidak membela atau menyangkal ucapan itu. Dia hanya diam, sibuk membantu Lolly berkemas, sementara semua orang di ruangan itu tak ada yang ikut membantunya.
Aku teringat hari-hari setelah menikah dengan Andrew. Dia selalu berkata akan mencintaiku selamanya, tapi semua pekerjaan rumah tangga tetap aku yang mengerjakan. Semua penderitaan juga aku yang menanggung. Aku pernah mengira dia akan melindungiku dari badai kehidupan, tapi ternyata, semua badai itu justru berasal darinya.
“Andrew, Lolly sudah sendiri selama bertahun-tahun hanya demi menunggumu. Kau nggak boleh mengecewakannya!”
Orang yang paling bersemangat bicara tadi langsung menarik lengan Andrew, berusaha keras menjodohkan mereka berdua.
Hatiku terasa pahit. Jadi, begini cara mereka membicarakanku di belakang? Seolah-olah aku adalah seseorang yang tak terampuni, seseorang yang seharusnya tak pernah ada.
Andrew tak langsung menjawab. Tapi dari diamnya, aku bisa menebak, mungkin dia juga berpikir seperti mereka.
Lolly akhirnya dibawa ke apartemen pribadi Andrew. Tempat itu adalah wilayah pribadinya setelah pertengkaran kami, tempat yang tak pernah sekalipun ia izinkan aku untuk kumasuki.
Aku seharusnya sudah menyadarinya sejak awal. Lolly adalah pengecualian dalam hidup Andrew. Segala prinsip yang pernah ia pegang, semuanya bisa berubah hanya demi dia.
Andrew dengan rapi menata barang-barang Lolly. Saat dia membungkuk, Lolly tiba-tiba melangkah maju dan memeluk pinggangnya dari belakang.
Dadaku terasa sesak. Aku bahkan belum lama meninggal, tapi mereka sudah sedekat ini. Suasana di antara mereka seolah-olah pernikahanku dengan Andrew tak pernah ada.
Tubuh Andrew menegang. Dia tampak ingin menghindar, tapi Lolly justru semakin mengeratkan pelukannya. Dia menyandarkan kepalanya ke punggung Andrew, suaranya lirih penuh harapan.
“Kak Andrew, kasih aku satu kesempatan lagi, ya? Aku nggak pernah sengaja meninggalkanmu dulu. Kalau bukan karena ibuku sakit, aku nggak akan menerima uang dari Om Gunawan dan pergi darimu…”
Oh, jadi semuanya karena uang untuk menyelamatkan nyawa, lalu berakhir dengan takdir yang tragis. Klise, tapi cukup untuk membuat Andrew mengingatnya selama ini.
Andrew tertawa, entah mencemooh atau meratapi.
“Kalau saja dulu kau berkata jujur, kita nggak perlu berakhir seperti ini. Kalau ayahku bisa memberimu uang, apa kau pikir aku nggak bisa?”
Lolly terdiam, kehilangan kata-kata.
Namun, dia cukup cerdas. Dia tahu bahwa Andrew kini membenciku, jadi dia segera mengalihkan pembicaraan ke arahku.
“Jadi karena kau membenciku, kau memilih untuk diam saat Laura menyiksaku? Dia menyebarkan rumor buruk tentangku di kantor, bahkan menyuruh preman hampir memperkosaku. Saat aku sakit, dia juga menolak mendonorkan ginjalnya untukku! Apa ini caramu membalas dendam?”
Bohong!
Lolly sedang berbohong! Semua yang dia katakan adalah dusta belaka. Aku bahkan tak tahu di mana kantornya, apalagi punya kuasa untuk menyuruh preman menyerangnya.
Siapa aku? Aku hanyalah seorang yatim piatu. Dari mana aku bisa mendapatkan pengaruh sebesar itu?
Seandainya ada yang mau menyelidiki sedikit saja, tuduhan Lolly akan segera runtuh. Tapi Andrew? Dia mempercayainya bulat-bulat tanpa ragu sedikit pun.
Dan semua tuduhan bahwa Andrew tak peduli padanya? Omong kosong! Begitu dia mendengar cerita Lolly, dia langsung menyeretku keluar dari kantor di hadapan semua rekan kerja. Wajahnya penuh amarah, seakan aku telah melakukan dosa yang tak terampuni.
Lalu dia benar-benar mencari sekelompok preman dan membiarkan mereka menghancurkanku.
Aku terpuruk di sudut ruangan, menggigil ketakutan, sementara mereka mengangkat ponsel, merekam tubuhku yang dipermalukan.
Andrew hanya duduk di sana, menonton.
Pada akhirnya, dia mengangkat ponselnya, mengayunkannya di depan wajahku, dengan seringai penuh ancaman.
“Kalau kau berani menyakiti Lolly lagi, aku nggak akan ragu untuk mengunggah video ini ke internet. Ini akan menjadi aib yang menghantuimu seumur hidup.”
Aku sudah mengatakan berkali-kali bahwa itu bukan aku, tapi Andrew seolah tuli. Dia tak pernah percaya.
Sekarang, Lolly mengungkit kembali kejadian itu. Tapi Andrew? Dia tak mengakui sedikit pun bagaimana dia telah menyiksaku hanya karena satu tuduhan palsu dari Lolly.
Betapa ironisnya.
Aku tak pernah mengerti. Jika dia tak mencintaiku, mengapa dia menikahiku?
Bab 4
“Kak Andrew, ayo kita mulai lagi dari awal. Anggap saja kau nggak pernah menikah, dan aku nggak pernah mengkhianatimu. Aku sungguh mencintaimu.”
Lolly melihat wajah Andrew semakin tegang, maka nada suaranya melunak.
Dalam hal membujuk Andrew, Lolly memang ahli. Dan Andrew, seperti biasa, selalu luluh olehnya.
Sementara aku? Saat Andrew marah, sekalipun aku berusaha mati-matian, dia bahkan tak sudi memberiku seulas senyuman.
Cinta dan ketidakcintaan begitu jelas, tapi aku justru sebodoh itu dan baru menyadarinya setelah aku mati.
Pria yang selalu dingin padaku, di hadapan wanita lain bisa begitu lembut. Batasannya bisa ia turunkan berkali-kali hanya demi Lolly.
Hatiku penuh dengan luka yang menyakitkan. Tapi sekarang, aku tak lagi peduli bagaimana Lolly memfitnahku atau seberapa besar kebencian Andrew terhadapku.
“Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Lebih baik kau istirahat lebih awal,” katanya.
Andrew mendorong Lolly menjauh. Dia tak langsung menjawab pertanyaannya, hanya berbalik dan pergi begitu saja.
Begitu Andrew menghilang di ambang pintu, Lolly menghentakkan kakinya kesal.
Sementara itu, Andrew sudah sampai di lantai bawah. Dia mendongak, menatap balkon rumah kami yang gelap gulita.
Dulu, aku selalu meninggalkan satu lampu untuknya. Tak peduli seberapa larut dia pulang, lampu itu selalu menyinari langkah kakinya.
Andrew tertegun sejenak.
Saat tiba di rumah, dia membuka pintu. Rumah yang tak dihuni selama lebih dari sebulan itu terasa dingin dan sunyi. Dia mengernyitkan dahi.
“Laura, sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Aku hanya menggugatmu ke pengadilan, itu saja. Kalau bukan karena kesalahanmu pada Lolly, aku nggak akan memperlakukanmu seperti itu.”
Andrew berteriak ke arah kamar, suaranya penuh kebencian dan keluhan.
Aku mengikuti di belakangnya, hanya tertawa dingin.
Lima tahun kebersamaan, ternyata tak sebanding dengan beberapa kata dari orang lain.
Untung aku sudah mati. Kalau tidak, hari-hari seperti ini pasti akan terus berlanjut.
Hari ini, Andrew bisa mengambil nyawaku demi Lolly.
Siapa yang tahu, besok dia akan melakukan apa lagi?
Andrew mencari-cari aku di seluruh rumah.
Di atas meja, masih ada hidangan yang kusiapkan sebelum pergi ke rumah sakit. Namun, semuanya sudah berjamur, tak lagi bisa dikenali bentuk aslinya.
Hari itu seharusnya menjadi peringatan lima tahun pernikahan kami. Aku menunggu dan terus menunggu, tapi yang datang justru surat perintah eksekusi dari pengadilan.
Aku tak perlu bertanya. Aku tahu, pada hari yang seharusnya menjadi milik kami, Andrew pasti sedang menemani Lolly, menenangkannya menjelang kelahiran hidup barunya.
Lolly takut operasi, dan Andrew akan menggenggam tangannya erat, meyakinkannya agar tak takut.
Sementara aku? Aku menghadapi kematian. Saat aku paling membutuhkannya, Andrew malah berharap orang lain yang bisa bertahan hidup.
Andrew mengerutkan kening, menatap meja makan yang berantakan. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya dan meneleponku.
Satu kali. Dua kali. Aku bahkan tak tahu sudah berapa kali panggilannya masuk.
Andrew jarang sekeras kepala ini. Atau lebih tepatnya, selama ini, kalau tak ada hal penting, dia tak pernah meneleponku lebih dulu.
Hari ini, dia tampaknya lebih sabar dari biasanya.
Hanya saja, panggilan itu… sudah tak ada lagi yang bisa menjawabnya.
Setelah beberapa kali gagal menelepon, Andrew mengirimiku pesan Whatsapp. Dia langsung mengirim pesan suara dengan nada dingin dan penuh emosi.
“Laura, kau belum puas ngamuk, ya? Lihat rumah ini, sudah berantakan seperti apa? Aku belum sempat menuntut kau, malah kau yang kabur duluan. Aku kasih waktu satu jam! Kalau kau nggak pulang, kita cerai!”
Cerai?
Bagus sekali.
Seandainya dulu Andrew mengatakan ini padaku, mungkin aku akan langsung menyetujuinya. Dengan begitu, aku tak perlu berakhir seperti ini.
Tak lama, ponsel Andrew bergetar. Ekspresinya langsung berubah, matanya tampak berbinar. Namun, saat melihat siapa pengirimnya, Lolly. Sorot matanya seketika meredup.
Aku tak tahu… apakah itu hanya perasaanku saja.
[Kak Andrew, aku ketinggalan sesuatu di rumah sakit. Bisa tolong ambilkan untukku?]
Andrew dengan cepat membalas.
[Oke].
Saat mengenakan jaketnya, dia sempat berhenti sejenak di depan pintu. Menoleh ke dalam rumah, sorot matanya sulit diartikan.
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Sekarang sudah larut malam, tapi Andrew tetap bergegas untuk Lolly. Dulu, saat aku terbangun di tengah malam karena sakit perut dan memintanya mengantarku ke rumah sakit, dia malah menggerutu soal jarak yang terlalu jauh.
Tapi sekarang? Rumah sakit itu tak terasa jauh lagi, ya?
Andrew mengendarai mobil menuju rumah sakit dan langsung ke kamar tempat Lolly sebelumnya dirawat. Namun, begitu tiba, dia malah berpapasan dengan seorang perawat.
Aku mengenal perawat itu.
Dia ada di sana saat operasi berlangsung. Dia juga menyaksikan siaran langsung persidanganku di TV dan tampaknya cukup bersimpati padaku.
Begitu melihat Andrew, perawat itu mendengus kecil, lalu tersenyum mengejek.
“Kenapa? Baru sekarang kau ingat istrimu yang mati di meja operasi?”
Langkah Andrew terhenti. Dia menatap perawat itu dengan mata penuh ketidakpercayaan.
“Apa yang kau katakan? Siapa yang mati?”
Perawat itu menatapnya seperti melihat orang bodoh.
“Istrimu, Laura! Aku benar-benar nggak ngerti gimana kau bisa disebut sebagai suami. Istrimu mengalami gagal ginjal, dan kau masih memaksanya untuk mendonorkan ginjal? Bukankah itu sama saja membunuhnya?”