Bab 1

Suamiku, seorang hakim, demi menyelamatkan cinta pertamanya yang menderita gagal ginjal, diam-diam dia memutuskan untuk mengambil salah satu ginjalku dan memberikannya padanya.

Aku mencoba menjelaskan kepadanya bahwa aku sendiri mengidap gagal ginjal, dan jika satu ginjalku lagi diambil, aku pasti akan mati. Namun, suamiku justru berteriak penuh kebencian,

“Lolly sudah sakit parah, tapi kau masih saja cemburu dan berebut perhatian! Apa kau nggak punya hati?!”

Di bawah keputusan sepihaknya, aku dipaksa menjalani operasi transplantasi ginjal. Pada akhirnya, kondisiku semakin memburuk. Aku menghembuskan napas terakhirku di sudut rumah sakit yang sepi, sendirian, tanpa ada yang peduli.

Saat Andrew menemani Lolly di luar ruang perawatan, aku justru terbaring di atas meja operasi yang dingin, menunggu kematian dengan penuh keputusasaan.

Tubuhku dipenuhi selang dan alat-alat medis, suara mesin terdengar seperti panggilan maut, seolah-olah mengingatkanku bahwa waktuku sudah habis.

Hingga garis pada monitor detak jantungku berubah menjadi lurus, kabar keberhasilan operasi Lolly pun tersebar. Lampu darurat di ruang operasi perlahan redup, dan mataku pun tertutup selamanya.

Mungkin karena aku menyimpan terlalu banyak dendam sebelum mati, jiwaku justru melayang ke sisi Andrew.

Melihatnya memeluk Lolly yang baru saja lolos dari maut dengan mata memerah karena haru, hatiku terasa tenggelam semakin dalam.

Aku ingin bertanya padanya, saat kami berdua didorong masuk ke ruang operasi, apakah ia pernah, walau hanya sesaat, mengkhawatirkan hidup dan matiku?

Jawabannya jelas tidak.

Lagipula, demi kesembuhan Lolly, Andrew telah menggugatku ke pengadilan. Ia menyewa pengacara paling terkenal di bidangnya, dan pada akhirnya, aku tetap kalah dalam persidangan.

Saat ginjalku diambil, rasa sakitnya begitu menyiksa hingga keringat membasahi punggungku. Dengan sisa tenaga, aku meneleponnya, suaraku penuh kepasrahan dan memohon.

“Suamiku, aku salah... tolong jangan ambil ginjalku. Ini benar-benar sakit... Aku akan mati...”

Selama ini, aku tidak pernah menundukkan kepala di hadapan Andrew. Namun kali ini, aku berpikir, jika aku menyerah, mengakui semua kesalahan yang tak pernah kulakukan, apakah Andrew akan mengingat lima tahun kebersamaan kami dan mengampuni nyawaku?

Tapi yang kudapatkan hanyalah tawa dinginnya di telepon.

“Mengakui kesalahan adalah hal yang seharusnya kau lakukan. Bisa menyelamatkan nyawa Lolly adalah keberuntunganmu. Jangan pikir kau bisa lolos begitu saja. Jangan kira dengan memberikan ginjalmu untuk Lolly, kau nggak perlu meminta maaf. Semua luka yang kau berikan padanya selama ini, satu per satu akan kuhitung setelah dia sembuh.”

“Mau mati? Setidaknya, minta maaf dulu pada Lolly sebelum itu!”

Aku berusaha membuka mulutku yang kering dan pecah-pecah, ingin menyangkal bahwa semua tuduhan itu bukan perbuatanku. Tapi tenagaku sudah habis.

Seolah masih belum puas, Andrew menatapku dengan penuh kebencian dan melontarkan kata-kata yang menghantamku tanpa ampun.

“Melihat kau seperti ini benar-benar membuatku muak!”

Begitu telepon terputus, hatiku tenggelam ke dalam jurang yang tak berdasar.

Bersamaan dengan itu, perasaan yang kupupuk selama lima tahun untuk Andrew pun lenyap begitu saja, seperti asap yang tertiup angin.

Andrew bilang aku menjijikkan.

Tapi dulu, saat dia menikahiku, dia menatapku dengan penuh kasih, berjanji akan mencintaiku seumur hidup. Aku adalah pilihannya, satu-satunya pengecualian, dan cinta yang paling dia istimewakan.

Namun, setelah Lolly muncul, dia dengan mudah melupakan istri sahnya sendiri.

Aku melihatnya membelai wajah Lolly dengan penuh kelembutan, seakan sedang menyentuh porselen berharga yang rapuh dan tak ternilai.

“Syukurlah… Kau masih hidup… Syukurlah…”

Suara seraknya yang bergetar dan matanya yang dipenuhi urat merah sudah cukup memberitahuku, Andrew tidak tidur semalaman karena mengkhawatirkan Lolly.

Tapi di saat dia sibuk memikirkan Lolly, apakah dia sempat teringat bahwa aku… sudah mati?

Lolly dengan susah payah menarik sudut bibirnya yang pucat, berusaha tersenyum.

"Kak Andrew, maaf sudah membuatmu khawatir… Kak Laura di mana? Apa dia masih marah padaku? Aku akan segera meminta maaf padanya."

Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi kepalsuannya terlalu mencolok. Siapa pun bisa melihatnya… kecuali Andrew.

Seperti yang kuduga, Andrew dengan lembut menekan bahunya, mencegahnya bangun. Tangannya terulur, mengusap kepala Lolly penuh kasih sayang.

“Bodoh, yang seharusnya meminta maaf itu Laura. Kau nggak salah apa-apa. Kau selalu terlalu baik, sampai-sampai mudah disakiti.”

Seorang perawat yang melihat mereka tak kuasa menahan komentar sambil tersenyum menggoda.

“Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi.”

Perawat itu kemudian menoleh ke arah Lolly.

“Saat operasi berlangsung, suamimu menunggu di lorong sepanjang malam. Dia nggak beranjak sedetik pun.”

Wajah Lolly seketika merona malu. Namun, Andrew hanya terdiam sejenak tanpa berniat menjelaskan kesalahpahaman itu.

Tak lama, perawat itu menghela napas panjang, suaranya dipenuhi iba.

“Nggak seperti pasien di meja operasi sebelah… Dia datang seorang diri, dan saat meninggal pun tak ada satu pun keluarga yang datang untuk mengurusnya. Sungguh menyedihkan.”

Raut wajah Andrew tampak sedikit berubah. Sebuah harapan kecil pun menyala dalam hatiku. Jika Andrew bisa menyadari bahwa pasien malang yang dimaksud adalah aku, mungkinkah dia akan berbaik hati dan setidaknya mengurus jasadku?

Aku menunggu… lama sekali…

Namun, pada akhirnya, yang kudengar hanyalah helaan napasnya.

“Memang menyedihkan.”

Cahaya dalam mataku perlahan meredup. Aku tertawa pahit.

Bagaimana bisa aku berharap pada pria yang kini hanya peduli pada Lolly?

Bagaimana mungkin dia akan mengingatku?

Andrew tidak melanjutkan pembicaraan itu. Dia hanya mengikuti perawat, mendorong ranjang Lolly menuju kamar rawat.

Saat melewati ruang operasi tempat tubuhku terbujur kaku, langkah Andrew sempat terhenti. Sekilas, dia melongok ke dalam.

Jasadku masih terbaring di sana, dingin dan sunyi. Namun, karena posisiku menghadap pintu, wajahku tidak terlihat.

Tapi… kalau saja dia mau melihat lebih dekat, dia pasti akan melihat luka di pergelangan kakiku, bekas luka yang kudapat saat menyelamatkannya dulu.

Bab 2

Setelah Andrew dan Lolly masuk ke dalam kamar rawat, Ethan berlari masuk dari luar, melewati Andrew tanpa sempat menghentikannya.

Dengan tangan gemetar, Ethan meraih tanganku yang sudah membeku. Suaranya bergetar dan penuh dengan kepedihan.

Dia ingin mengusap rambutku, namun saat ujung jarinya menyentuh dahiku yang sedingin es, air matanya mengalir begitu saja, jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Bodoh… Andai saja dulu kau mau menikah denganku, kau nggak akan berakhir seperti ini… Bahkan setelah mati pun, nggak ada yang peduli padamu.”

Melihat Ethan yang datang dengan napas tersengal dan wajah penuh debu perjalanan, hidungku terasa sedikit perih. Sepertinya dia baru saja kembali dari luar kota.

Sejak aku menikah, Ethan memang meninggalkan kota ini. Saat itu, alasan yang ia berikan kepadaku sederhana, Andrew tak akan pernah membiarkan keberadaannya, dan dia juga tak ingin membawa masalah padaku. Pergi adalah pilihan terbaik.

Aku adalah seorang yatim piatu. Saat berusia tujuh tahun, Keluarga Baskoro mengadopsiku, dan Ethan menjadi kakak angkatku.

Awalnya, dia tidak terlalu menyukaiku. Tapi seiring waktu berlalu, perlahan, sikapnya terhadapku berubah. Dia semakin baik… semakin peduli.

Dulu, aku memutus hubungan dengan orang tua angkatku demi Andrew. Alasannya sangat sederhana yaitu mereka ingin aku menikah dengan keluarga kaya. Aku tahu sejak awal bahwa mereka mengadopsiku bukan karena menyayangiku, melainkan hanya untuk dijadikan alat pernikahan politik.

Ethan membantuku melarikan diri dari Keluarga Baskoro.

Perasaan Ethan padaku? Aku sudah mengetahuinya sejak lama.

Namun dibandingkan menikahi Andrew, aku justru lebih tidak mungkin menikahi Ethan. Setidaknya, orang tua angkatku pasti tak akan pernah mengizinkannya.

Ethan membawa pergi jasadku, membawaku menjauh dari tempat ini.

Sementara itu, di saat yang sama, Andrew baru saja melangkah keluar dari rumah sakit untuk membeli makanan bagi Lolly.

Hanya karena Lolly tiba-tiba berkata bahwa dia ingin makan kue dari toko yang berjarak tiga puluh mil dari sini, Andrew tanpa ragu langsung beranjak pergi.

Dulu, aku hanya ingin makan onigiri dari toko di lantai bawah dan meminta Andrew membawakannya sepulang kerja. Namun, bahkan untuk sekedar berbelok sebentar, dia enggan melakukannya.

Saat Ethan dan Andrew berpapasan di pintu rumah sakit, tubuhku sudah tertutup kain putih.

Tatapan mereka bertemu. Andrew mengenali Ethan.

“Minggir.”

Nada suara Ethan tak ramah, dan itu wajar. Bagaimana mungkin dia bersikap sopan kepada orang yang telah membunuhku?

Andrew menatapnya dengan ekspresi rumit, lalu melangkah mundur selangkah. Bagaimanapun juga, orang yang sudah mati patut dihormati.

Namun, saat Ethan hendak berbalik, tatapan Andrew tanpa sadar jatuh pada pergelangan kakiku.

“Tunggu!”

Andrew tampak seperti baru teringat sesuatu. Dia buru-buru mengejar Ethan.

“Orang yang meninggal itu… siapa dia bagimu?”

Aku langsung menahan napas. Aku takut Ethan akan langsung mengungkapkan bahwa akulah yang telah meninggal. Tapi di sisi lain, aku juga takut dia tidak mengatakannya.

Bagaimanapun, aku ingin tahu bagaimana reaksi Andrew setelah mengetahui kematianku.

Ethan terdiam cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.

“Dia istriku.”

Aku terkejut. Andrew juga membeku di tempat.

Andrew tahu semua tentang keadaanku, termasuk fakta bahwa Ethan menyukaiku.

“Kapan kalian menikah?”

Andrew refleks melontarkan pertanyaan itu. Namun, begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia sendiri pun tampak terkejut.

Ethan menanggapi dengan tawa dingin, balasannya pun tidak sopan sama sekali.

“Menurutku, ini bukan urusanmu, bukan?”

Andrew terdiam sejenak, lalu tersenyum sinis.

“Dulu kau selalu bilang mencintai Laura. Aku lihat kau juga sama saja.”

Langkah Ethan yang sudah hendak pergi tiba-tiba terhenti. Dia menoleh ke arah Andrew, hanya menyisakan satu kalimat sebelum benar-benar pergi.

“Setidaknya, aku masih lebih baik dari kau.”

Sindiran yang begitu gamblang, aku yakin Andrew pasti mengerti maksudnya.

Aku mengikuti Ethan pergi. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, aku menoleh sekali lagi ke arah Andrew.

Entah kenapa, aku merasa aku tak lagi mencintainya seperti dulu.

Bab 3

Setelah sebulan dirawat di rumah sakit, Lolly akhirnya dipulangkan, dan Andrew lah yang menjemputnya. Sementara aku sudah mati dengan hanya Ethan yang ada di sampingku, suasana di kamar Lolly begitu ramai. Keluarga dan teman-temannya memenuhi ruang itu, dan begitu Andrew datang, suasana langsung menjadi riuh.

“Andrew, kapan kalian menikah? Melihat betapa cemasnya kau terhadap Lolly, dia pasti sangat beruntung.”

Lolly menundukkan kepalanya dengan malu, suaranya begitu kecil, hampir seperti suara nyamuk.

“Jangan begitu, Kak Andrew sudah menikah. Aku nggak mau membuat Kak Laura salah paham, aku juga nggak mau jadi orang ketiga. Kalau nggak, dia pasti akan menyulitkan aku lagi.”

Salah satu temannya mencibir,

“Perempuan cemburuan dan picik seperti itu apa bagusnya? Yang dicintai oleh Andrew itu kau, Lolly! Justru yang nggak dicintai itulah orang ketiga! Selain menyakitimu, apa lagi yang bisa dia lakukan? Kalau aku sih, sudah lama aku ceraikan dia!”

Mendengar ucapan itu, aku hanya merasa geli. Jadi akulah yang dianggap sebagai orang ketiga, ya?

Lolly memang selalu seperti ini. Dia selalu mengarahkan segalanya agar terlihat seolah-olah akulah yang bersalah.

Namun yang paling membuatku kecewa adalah sikap Andrew. Dia sama sekali tidak membela atau menyangkal ucapan itu. Dia hanya diam, sibuk membantu Lolly berkemas, sementara semua orang di ruangan itu tak ada yang ikut membantunya.

Aku teringat hari-hari setelah menikah dengan Andrew. Dia selalu berkata akan mencintaiku selamanya, tapi semua pekerjaan rumah tangga tetap aku yang mengerjakan. Semua penderitaan juga aku yang menanggung. Aku pernah mengira dia akan melindungiku dari badai kehidupan, tapi ternyata, semua badai itu justru berasal darinya.

“Andrew, Lolly sudah sendiri selama bertahun-tahun hanya demi menunggumu. Kau nggak boleh mengecewakannya!”

Orang yang paling bersemangat bicara tadi langsung menarik lengan Andrew, berusaha keras menjodohkan mereka berdua.

Hatiku terasa pahit. Jadi, begini cara mereka membicarakanku di belakang? Seolah-olah aku adalah seseorang yang tak terampuni, seseorang yang seharusnya tak pernah ada.

Andrew tak langsung menjawab. Tapi dari diamnya, aku bisa menebak, mungkin dia juga berpikir seperti mereka.

Lolly akhirnya dibawa ke apartemen pribadi Andrew. Tempat itu adalah wilayah pribadinya setelah pertengkaran kami, tempat yang tak pernah sekalipun ia izinkan aku untuk kumasuki.

Aku seharusnya sudah menyadarinya sejak awal. Lolly adalah pengecualian dalam hidup Andrew. Segala prinsip yang pernah ia pegang, semuanya bisa berubah hanya demi dia.

Andrew dengan rapi menata barang-barang Lolly. Saat dia membungkuk, Lolly tiba-tiba melangkah maju dan memeluk pinggangnya dari belakang.

Dadaku terasa sesak. Aku bahkan belum lama meninggal, tapi mereka sudah sedekat ini. Suasana di antara mereka seolah-olah pernikahanku dengan Andrew tak pernah ada.

Tubuh Andrew menegang. Dia tampak ingin menghindar, tapi Lolly justru semakin mengeratkan pelukannya. Dia menyandarkan kepalanya ke punggung Andrew, suaranya lirih penuh harapan.

“Kak Andrew, kasih aku satu kesempatan lagi, ya? Aku nggak pernah sengaja meninggalkanmu dulu. Kalau bukan karena ibuku sakit, aku nggak akan menerima uang dari Om Gunawan dan pergi darimu…”

Oh, jadi semuanya karena uang untuk menyelamatkan nyawa, lalu berakhir dengan takdir yang tragis. Klise, tapi cukup untuk membuat Andrew mengingatnya selama ini.

Andrew tertawa, entah mencemooh atau meratapi.

“Kalau saja dulu kau berkata jujur, kita nggak perlu berakhir seperti ini. Kalau ayahku bisa memberimu uang, apa kau pikir aku nggak bisa?”

Lolly terdiam, kehilangan kata-kata.

Namun, dia cukup cerdas. Dia tahu bahwa Andrew kini membenciku, jadi dia segera mengalihkan pembicaraan ke arahku.

“Jadi karena kau membenciku, kau memilih untuk diam saat Laura menyiksaku? Dia menyebarkan rumor buruk tentangku di kantor, bahkan menyuruh preman hampir memperkosaku. Saat aku sakit, dia juga menolak mendonorkan ginjalnya untukku! Apa ini caramu membalas dendam?”

Bohong!

Lolly sedang berbohong! Semua yang dia katakan adalah dusta belaka. Aku bahkan tak tahu di mana kantornya, apalagi punya kuasa untuk menyuruh preman menyerangnya.

Siapa aku? Aku hanyalah seorang yatim piatu. Dari mana aku bisa mendapatkan pengaruh sebesar itu?

Seandainya ada yang mau menyelidiki sedikit saja, tuduhan Lolly akan segera runtuh. Tapi Andrew? Dia mempercayainya bulat-bulat tanpa ragu sedikit pun.

Dan semua tuduhan bahwa Andrew tak peduli padanya? Omong kosong! Begitu dia mendengar cerita Lolly, dia langsung menyeretku keluar dari kantor di hadapan semua rekan kerja. Wajahnya penuh amarah, seakan aku telah melakukan dosa yang tak terampuni.

Lalu dia benar-benar mencari sekelompok preman dan membiarkan mereka menghancurkanku.

Aku terpuruk di sudut ruangan, menggigil ketakutan, sementara mereka mengangkat ponsel, merekam tubuhku yang dipermalukan.

Andrew hanya duduk di sana, menonton.

Pada akhirnya, dia mengangkat ponselnya, mengayunkannya di depan wajahku, dengan seringai penuh ancaman.

“Kalau kau berani menyakiti Lolly lagi, aku nggak akan ragu untuk mengunggah video ini ke internet. Ini akan menjadi aib yang menghantuimu seumur hidup.”

Aku sudah mengatakan berkali-kali bahwa itu bukan aku, tapi Andrew seolah tuli. Dia tak pernah percaya.

Sekarang, Lolly mengungkit kembali kejadian itu. Tapi Andrew? Dia tak mengakui sedikit pun bagaimana dia telah menyiksaku hanya karena satu tuduhan palsu dari Lolly.

Betapa ironisnya.

Aku tak pernah mengerti. Jika dia tak mencintaiku, mengapa dia menikahiku?

Seandainya Waktu Bisa Kembali

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya