Bab 2
“Nak, apa kamu benar-benar sudah mempertimbangkannya?” Masih terdengar rasa tidak percaya dari suara orang tua kandungku.
Tiga tahun silam, aku memberi tahu mereka dengan tegas bahwa aku tidak bersedia memiliki pernikahan tanpa perasaan. Seandainya aku kembali ke Kediaman Keluarga Gunadi, aku pun akan mengorbankan kebahagiaanku sendiri.
Menikah dengan pasangan hasil pilihan terbaik dari keluarga adalah pilihan terbaik bagi kedua keluarga.
Icha menghela napas, lalu berkata dengan sangat serius, “Tenang saja, meskipun pernikahan ini adalah perjanjian pernikahan antar keluarga konglomerat, kamu itu juga anak Papa dan Mama.”
Aku melihat langit yang mulai menggelap di luar jendela sembari mengusap air mataku. “Papa, Mama, aku masih butuh sekitar satu minggu untuk menyelesaikan masalah di sini.”
“Oke, kamu juga berpamitan dulu dengan kakak-kakakmu. Mengenai masalah pernikahan, kamu nggak usah memikirkannya. Kami akan membantumu untuk mengatur semuanya. Apa pun ceritanya, selamanya Keluarga Gunadi akan menjadi sandaranmu.”
Mataku memerah. Sebelumnya, Lucas dan Jivan juga berbicara seperti ini.
“Feli, jangan takut. Kelak kita akan sekeluarga. Kami akan selamanya berpihak di sisimu.” Kepala panti asuhan, Bianca, menatap mereka dengan tersenyum. “Kalian para kakak mesti menjaga adik kalian dengan baik. Kalian itu anak laki-laki, mesti menepati janji kalian.”
Jivan menatapku dengan wajah merona. “Aku nggak mau jadi kakaknya. Kelak aku ingin menikahi Feli!”
Sejak saat itu, aku terharu dengan ketulusan hati mereka.
Lucas merawatku seperti seorang abang, sementara apa pun barang bagus yang dimiliki Jivan, dia selalu langsung membawanya kepadaku.
Mereka adalah keluargaku, orang-orang yang kucintai.
Bahkan ketika orang tua kandungku menemukanku, aku pun tidak memberi tahu mereka.
Sungguh sulit mendapatkan ketulusan di keluarga konglomerat, yang ada hanyalah intrik dan konflik.
Kebahagiaan yang sederhana dan hangat seperti ini membuatku enggan meninggalkan mereka.
Namun, setelah kemunculan Rosa, aku sadar betapa besar kesalahanku. Rosa adalah putri dari Bibi Erna, pembantu keluarga, yang sudah kehilangan orang tuanya sejak kecil. Bibi Erna meninggal pada tahun lalu akibat sakit.
Saat perayaan Hari Raya, lantaran merasa kasihan dengan Rosa yang sebatang kara, kami mengundangnya untuk merayakan hari raya di rumah kami.
Sejak saat itu, Rosa mulai menempel dengan keluarga kami. Bahkan, hubungannya dengan kakakku dan tunanganku semakin dekat.
Aku menemui Rosa, lalu mengingatkannya dengan halus bahwa aku akan segera menikah dengan Jivan, bermaksud untuk memberinya isyarat agar menjaga jarak.
Namun tidak kusangka, Rosa justru meninggalkan sepucuk surat dan pergi ke luar negeri sendirian.
Isi dari surat itu dipenuhi dengan ungkapan rasa iri padaku, serta kesedihan karena harus berpisah dari semua orang.
Jivan langsung memasang wajah dingin padaku. “Apa kamu nggak bisa toleransi sama sekali?”
Lucas yang selalu menyayangiku sejak kecil juga menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
“Felicia, kamu benar-benar terlalu egois!”
Mereka dengan yakin beranggapan bahwa Rosa lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan aku. Jadi, mereka memberikan semua rasa cinta mereka yang seharusnya diberikan kepadaku untuk Rosa.
Pernikahan ini adalah harapanku sejak kecil. Cincin pernikahan bahkan desain untuk undangan pernikahan juga didesain langsung olehku.
Aku terpaksa memejamkan mataku untuk menghadapi pandangan semua orang. Ketegaran dan ketenangan akhirnya runtuh sepenuhnya saat ini.
“Ada apa ini? Ini pertama kalinya aku melihat pernikahan dibatalkan di tengah jalan!”
“Apa pengantin pria kabur dari pernikahan?”
“Kenapa bahkan anggota keluarga pengantin wanita juga pergi?”
“Siapa juga yang tahu. Bahkan anggota keluarganya sendiri juga nggak berpihak sama dia. Dia pasti sudah melakukan hal yang memalukan atau melakukan kesalahan!”
“Coba kamu lihat wajahnya. Memang kelihatannya bukan anak baik-baik!”
Fitnahan datang menerjangku.
Kedua pria yang berjanji akan melindungku untuk selamanya malah telah menjadi dua bilah pisau yang menusuk hatiku.
Bab 3
Setelah mengatasi masalah ini, aku kembali ke rumahku bersama Jivan. Baru saja pintu dibuka, aku pun merasa syok dengan keberadaan seseorang di dalam rumah!
“Kak Feli, lama nggak berjumpa!”
Rosa mengenakan piama yang tipis memamerkan tubuh indahnya. Dia berjalan keluar dari kamar pengantinku dan Jivan dengan ekspresi bersalah dan provokasi.
“Kak Lucas dan Jivan cemasin aku. Mereka suruh aku tinggal di sini.”
Aku melihat kamar pengantin yang kudekorasi dengan susah payah itu dimasuki oleh Rosa. Semua barang rumah tangga yang berpasangan telah dibuang sembarangan oleh Rosa ke dalam ruang kerja. Sebagai gantinya, barang-barang pribadinya memenuhi ruangan itu.
“Kata Jivan, pencahayaan di ruangan ini nyaman. Aku baru saja selesai operasi di luar negeri dan butuh pemulihan.”
Tersembunyi rasa muram di dalam tatapanku. Ruangan yang dia tempati itu sebenarnya adalah kamar pengantin milikku dan Jivan.
Saat ini, pintu kembali dibuka. Lucas dan Jivan memasuki rumah dengan membawa kue tar dan bunga segar. Terlihat tatapan tidak puas dalam tatapan mereka.
“Apa yang mau kamu lakukan? Rosa sudah pernah diusir sekali sama kamu,” ucap Jivan dengan tidak puas sembari melihatku.
“Sekarang Rosa adalah anggota keluarga kami. Rumah ini juga adalah rumahnya,” ujar Lucas dengan dingin sembari menatapku.
Aku mengamati vila kecil ini. Vila ini adalah hadiah dari Lucas untukku. Katanya, selamanya dia adalah anggota keluargaku. Selama ada dia, aku pun akan selalu memiliki rumah. Namun selanjutnya, Rosa tinggal di sini.
Lantaran mengingat hubungan dengan Erna, aku pun setuju membiarkan Rosa menumpang tinggal di sini. Setelah menemukan rumah, dia pun mesti segera meninggalkan rumah ini.
Hanya saja, Rosa semakin tidak tahu batasan. Dia bukan hanya mengambil barangku, bahkan juga berpelukan di atas ranjang dengan Jivan yang sedang mabuk.
Aku tidak bisa bersabar lagi dan langsung menampar Rosa. Aku pun didorong Jivan. “Rosa sudah kehilangan keluarganya. Dia hanya menganggapku sebagai kakaknya saja. Sejak kecil, kamu sudah didampingi oleh kami. Rosa berbeda sama kamu. Dia sudah mengalami banyak cobaan! Kamu lebih besar daripada dia. Apa kamu nggak bisa menjaganya seperti menjaga seorang adik?”
Aku melihat telapak tangan yang terluka akibat terkena pecahan kaca. Itu pertama kalinya aku merasa asing dengan diri Jivan.
Sekarang Rosa kembali lagi dan menguasai kamar pengantinnya, bersikap seperti nyonya rumah di sini.
“Felicia, selama beberapa tahun ini, aku yang menghidupimu. Aku sudah membesarkanmu hingga segede ini. Seharusnya kamu tahu berterima kasih! Sekarang, Rosa itu adikku! Kamu nggak berhak untuk menyuruhnya pergi! Kalau bukan karena kamu mengusirnya ke luar negeri, kondisi penyakitmu juga nggak akan bertambah parah.”
“Kamu tinggal di ruang baca saja. Kita bicarakan lagi setelah kondisi penyakit Rosa membaik,” peringatkan Lucas.
“Rosa butuh dijaga selama beberapa waktu ini. Lagi pula, kami juga belum mendaftarkan pernikahan kita. Kalau kamu berulah lagi, kita nggak usah menikah lagi!”
Jivan menatapku dengan ekspresi waspada. Sementara, aku menatap mereka dengan tatapan penuh hinaan.
Jika Felicia adalah Felicia yang dulu, mungkin dia akan merasa sakit hati. Namun, Felicia yang sekarang hanya merasa kecewa.
Tempat ini tidak menyambutku lagi. Sudah saatnya juga aku kembali ke keluargaku. Berhubung aku sudah memutuskan untuk pergi, aku pun tidak membalas ucapannya, langsung berjalan ke ruang baca.
Barang-barangku dilempar sembarangan ke dalam ruang kerja. Semua itu adalah hasil desain dan pilihanku sendiri. Barang-barang itu adalah bentuk dari impian dan harapanku terhadap masa depanku.
Aku diam-diam membuang barang pengantin yang dirusak Rosa ke tempat sampah.
Pada saat ini, Jivan baru mengangguk dengan puas. “Barang-barang itu nggak bernilai. Nanti baru dibeli lagi saat akan menjalankan pernikahan.”
Terlintas sedikit rasa muram di dalam tatapanku. Barang yang tidak bernilai bukan hanya barang-barang ini saja. Tidak ada lagi masa depan. Tempat ini bukan lagi tempatku untuk berlindung.
Bab 4
Sebelum pergi, aku hanya ingin berpamitan dengan seseorang.
Setelah berpamitan, aku pun tidak akan merasa terikat lagi.
“Nak, kamu datang mengunjungi Bu Bianca lagi,” sapa pengurus kuburan yang mengenaliku.
Setiap tahunnya, aku akan datang untuk mengunjungi kepala panti asuhan. Dia meletakkan sebuket bunga krisan putih di depan kuburan Bianca.
“Mama Bianca, aku sudah mau pergi.”
Angin lembut berembus. Bianca yang di atas foto masih kelihatan begitu lembut.
Aku berjalan meninggalkan kuburan, lalu berjalan santai di jalan raya. Saat melewati depan toko kue, aku tercium aroma manis dan wangi dari dalam.
Tiba-tiba aku kepikiran masa-masa dulu, momen Lucas dan Jivan membelikan kue tar untukku. Meskipun hanya krim murahan saja, aku malah merasa sangat manis.
Ponselku terus bergetar.
[ Selamat ulang tahun. ]
Pesan itu dikirim dari Keluarga Gunadi. Disusul dengan dikirim uang nominal besar ke dalam rekeningku. Meskipun aku tidak bersedia untuk kembali ke Kediaman Keluarga Gunadi, setiap kalinya mereka tetap mengirimkan ucapan selamat secara rutin.
Dua jam yang lalu, Rosa baru mengunggah postingan yang berisi tiga tiket film terbaru.
Tanpa sadar, aku justru berjalan sampai ke depan gerbang panti asuhan tempatku dulu tinggal.
Tempat ini sudah dirombak menjadi taman hiburan, bahkan telah malam, tempat ini tetap ramai.
“Kak Feli!” Rosa melihatku dan berlari ke arahku dengan sedikit senyuman di matanya.
“Kamu juga lagi di sini, ya? Hari ini suasana hatiku lagi nggak bagus. Kak Lucas dan Jivan bersikeras bawa aku main di luar.”
Kedekatan Rosa yang tiba-tiba membuatku merasa tidak nyaman.
Namun, tiba-tiba terlihat senyuman aneh di wajah Rosa. Dia tiba-tiba menggenggam tanganku dan jatuh ke belakang.
Sebuah sepeda listrik melaju kencang dan menabrak kami hingga terpental.
Dari sudut pandang Lucas dan Jivan, kelihatannya seperti aku yang telah mendorong Rosa ke sisi kendaraan.
Sepanjang perjalanan, raut wajah Lucas dan Jivan menjadi sangat muram. Darah terus mengalir di dahi dan kaki Rosa. Mereka tidak memedulikan diriku yang berwajah pucat. Telapak tangan kananku digilas oleh sepeda listrik. Aku merasa tanganku itu seperti bukan milikku lagi.
Saat kami diantar ke rumah sakit, suster memberi tahu Lucas bahwa hari ini hanya ada satu dokter yang bertugas.
“Lakukan operasi untuk Rosa dulu! Nggak boleh ada bekas luka di tubuh wanita!” jerit Jivan begitu sampai di rumah sakit.
Luka di kaki dan dahi Rosa tampak mengerikan, tapi kenyataannya, siapa pun yang punya sedikit pengetahuan medis tahu luka itu hanya luka luar.
Seorang suster di samping melihat tanganku yang terkilir, lalu berkata, “Tuan Jivan, luka Nona Rosa juga bisa kami tangani, tapi luka Nona ini lebih serius. Kalau nggak segera ditangani, tangan kanannya ….”
“Prioritaskan operasi untuk Rosa dulu!” Sikap Lucas dan Jivan sangat tegas.
Wajahku sudah pucat pasi. Jika aku kehilangan tangan ini, aku tidak bisa memegang kuas lagi.
“Kak, Jivan ... boleh nggak aku yang dioperasi dulu .... Tanganku sakit sekali!”
“Felicia, kenapa kamu selalu menyulitkan Rosa!”
“Jangan lupa, kamu itu cuma seorang anak yatim piatu! Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kamu pasti sudah mati kelaparan di jalanan!”
“Mulai hari ini, Rosa itu adikku! Jangan harap kamu bisa menyakitinya lagi!”
“Kalau bukan karena kamu, Rosa juga nggak akan terluka!”
“Kamu bahkan nggak terluka! Kenapa malah bersandiwara!”
Aku ditampar hingga terjatuh ke tanah. Dalam seketika, wajahku semakin pucat saja.
Saat tanganku terkulai lemas di tanah dengan posisi yang aneh, dia menyadari ada yang tidak beres.
“Feli ... apa kamu baik-baik saja?”