Bab 1
Acara pernikahan telah tiba pada sesi pertukaran cincin. Calon suamiku masih belum mengatakan dirinya bersedia untuk menikah. Alasannya karena cinta pertamanya tiba-tiba mengumumkan putus hubungan dengan kekasihnya pada satu jam lalu.
Terdapat juga selembar tiket pesawat dengan jam tiba pada satu jam kemudian. Tiba-tiba abang berjalan maju, lalu memberi tahu semua orang bahwa pernikahan diundur.
Mereka berdua dengan kompak meninggalkanku di tempat, membuatku menjadi bahan tawaan semua orang di tempat.
Aku mengatasi semua ini dengan tenang. Aku melihat cinta pertamanya mengunggah postingan baru. Di dalam foto, abangku dan calon suamimu mengerumuni sisinya, lalu menyerahkan semua yang terbaik di hadapannya.
Aku menghubungi orang tua kandungku dengan tersenyum getir. “Papa, Mama, aku bersedia pulang untuk melakukan pernikahan bisnis demi Keluarga Gunadi.”
Setelah panggilan diakhiri, aku spontan merasa terhina ketika dekorasi pernikahan yang memenuhi isi hotel.
Para tamu telah membubarkan diri. Lucas Hikara dan Jivan Anggara masih belum kembali.
Pada lima tahun silam, aku ditemukan oleh orang tua kandungku. Hasil tes DNA menyatakan bahwa aku adalah putri dari Keluarga Gunadi di ibu kota.
“Maaf, Nak, sudah membuatmu hidup susah selama beberapa tahun ini.” Ibu kandungku, Icha, melihatku dengan tatapan lembut.
“Kami akan menjadikanmu sebagai penerus yang unggul, menciptakan masa depan yang cemerlang untukmu.”
“Apa kamu bersedia bersama kami pulang ke Kediaman Keluarga Gunadi?”
Aku menatap kedua orang tua kandungku dengan tatapan rumit. Selama beberapa tahun ini, aku memang tumbuh besar di panti asuhan, tetapi aku tidak merasa kekurangan kasih sayang. Aku ditemani oleh Lucas dan Jivan. Itulah sebabnya aku dengan tegas menolak saran mereka untuk kembali ke Kediaman Keluarga Gunadi.
Hidup di keluarga konglomerat tidaklah bebas. Apalagi aku tidak ingin menjadi penerus yang penuh dengan intrik, apalagi menjadi korban pernikahan antar keluarga.
“Nak, aku tahu kamu merasa sangat keberatan.”
“Kami menghormati pilihanmu. Kami juga berharap kamu bisa hidup dengan gembira.”
“Waktu itu, kakekmu sudah menetapkan perjodohan sejak kecil dengan Kakek Keluarga Limardi. Seandainya Keluarga Gunadi punya anak perempuan … mesti seperti ini.”
“Tentu saja, kalau kamu bersedia untuk pulang dan bersedia menjadi bagian dari kami, bersama-sama menanggung tanggung jawab keluarga, pintu Kediaman Keluarga Gunadi akan terbuka setiap saat untukmu.”
Selama ini, aku menganggap Lucas yang satu panti asuhan denganku sebagai abang kandung dan anggota keluargaku. Mana mungkin aku mencampakkannya seorang diri?
Keluarga Gunadi terpaksa pergi dengan menyesal. Bagaimanapun, aku adalah darah daging mereka. Selama beberapa tahun ini, Grup Hikara bisa berkembang juga tidak luput dari bantuan belakang Keluarga Gunadi.
Namun, keluarga dan pasangan yang aku pilih itu malah mencampakkanku pada momen paling penting dalam hidupku.
Detik demi detik berlalu. Berbagai jenis pandangan diarahkan ke diriku. Mereka malah masih belum kembali.
Aku berkali-kali menelepon mereka. Pada akhirnya, panggilan telah diangkat. Terdengar suara gusar Jivan. “Felicia, pernikahan bisa diadakan kapan saja. Kondisi tubuh Rosa lagi nggak bagus. Saat ke luar negeri kali ini, kondisi penyakitnya semakin memburuk. Apa kamu nggak bisa mengalah?”
Baru saja aku ingin bersuara, Lucas malah langsung merebut ponsel itu. “Feli, jangan beronar lagi! Rosa berbeda sama kamu. Satu-satunya anggota keluarganya juga sudah meninggalkannya, meninggalkan dia seorang diri di dunia ini! Sekarang dia lagi sakit. Dia butuh dampingan keluarganya. Pernikahan kali ini dibatalkan. Kita laksanakan lagi di kemudian hari.”
Di bawah pandangan semua orang, aku pun menyelesaikan masalah sendiri. Tidak lama kemudian, Rosa mengunggah postingan baru.
[ Sampai kapan pun dan di mana pun, kalian akan selalu berlari ke sisiku. Selamanya aku akan menjadi tuan putri kesayangan kalian. ]
Cincin nikah dan gaun yang aku persiapkan untuk kukenakan saat mendaftarkan pernikahan diberikan Lucas dan Jivan kepada Rosa sebagai hadiah kembali dari luar negeri.
Pada saat ini, aku tidak bisa menenangkan diriku lagi, hatiku sudah sepenuhnya mati.
Bab 2
“Nak, apa kamu benar-benar sudah mempertimbangkannya?” Masih terdengar rasa tidak percaya dari suara orang tua kandungku.
Tiga tahun silam, aku memberi tahu mereka dengan tegas bahwa aku tidak bersedia memiliki pernikahan tanpa perasaan. Seandainya aku kembali ke Kediaman Keluarga Gunadi, aku pun akan mengorbankan kebahagiaanku sendiri.
Menikah dengan pasangan hasil pilihan terbaik dari keluarga adalah pilihan terbaik bagi kedua keluarga.
Icha menghela napas, lalu berkata dengan sangat serius, “Tenang saja, meskipun pernikahan ini adalah perjanjian pernikahan antar keluarga konglomerat, kamu itu juga anak Papa dan Mama.”
Aku melihat langit yang mulai menggelap di luar jendela sembari mengusap air mataku. “Papa, Mama, aku masih butuh sekitar satu minggu untuk menyelesaikan masalah di sini.”
“Oke, kamu juga berpamitan dulu dengan kakak-kakakmu. Mengenai masalah pernikahan, kamu nggak usah memikirkannya. Kami akan membantumu untuk mengatur semuanya. Apa pun ceritanya, selamanya Keluarga Gunadi akan menjadi sandaranmu.”
Mataku memerah. Sebelumnya, Lucas dan Jivan juga berbicara seperti ini.
“Feli, jangan takut. Kelak kita akan sekeluarga. Kami akan selamanya berpihak di sisimu.” Kepala panti asuhan, Bianca, menatap mereka dengan tersenyum. “Kalian para kakak mesti menjaga adik kalian dengan baik. Kalian itu anak laki-laki, mesti menepati janji kalian.”
Jivan menatapku dengan wajah merona. “Aku nggak mau jadi kakaknya. Kelak aku ingin menikahi Feli!”
Sejak saat itu, aku terharu dengan ketulusan hati mereka.
Lucas merawatku seperti seorang abang, sementara apa pun barang bagus yang dimiliki Jivan, dia selalu langsung membawanya kepadaku.
Mereka adalah keluargaku, orang-orang yang kucintai.
Bahkan ketika orang tua kandungku menemukanku, aku pun tidak memberi tahu mereka.
Sungguh sulit mendapatkan ketulusan di keluarga konglomerat, yang ada hanyalah intrik dan konflik.
Kebahagiaan yang sederhana dan hangat seperti ini membuatku enggan meninggalkan mereka.
Namun, setelah kemunculan Rosa, aku sadar betapa besar kesalahanku. Rosa adalah putri dari Bibi Erna, pembantu keluarga, yang sudah kehilangan orang tuanya sejak kecil. Bibi Erna meninggal pada tahun lalu akibat sakit.
Saat perayaan Hari Raya, lantaran merasa kasihan dengan Rosa yang sebatang kara, kami mengundangnya untuk merayakan hari raya di rumah kami.
Sejak saat itu, Rosa mulai menempel dengan keluarga kami. Bahkan, hubungannya dengan kakakku dan tunanganku semakin dekat.
Aku menemui Rosa, lalu mengingatkannya dengan halus bahwa aku akan segera menikah dengan Jivan, bermaksud untuk memberinya isyarat agar menjaga jarak.
Namun tidak kusangka, Rosa justru meninggalkan sepucuk surat dan pergi ke luar negeri sendirian.
Isi dari surat itu dipenuhi dengan ungkapan rasa iri padaku, serta kesedihan karena harus berpisah dari semua orang.
Jivan langsung memasang wajah dingin padaku. “Apa kamu nggak bisa toleransi sama sekali?”
Lucas yang selalu menyayangiku sejak kecil juga menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
“Felicia, kamu benar-benar terlalu egois!”
Mereka dengan yakin beranggapan bahwa Rosa lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan aku. Jadi, mereka memberikan semua rasa cinta mereka yang seharusnya diberikan kepadaku untuk Rosa.
Pernikahan ini adalah harapanku sejak kecil. Cincin pernikahan bahkan desain untuk undangan pernikahan juga didesain langsung olehku.
Aku terpaksa memejamkan mataku untuk menghadapi pandangan semua orang. Ketegaran dan ketenangan akhirnya runtuh sepenuhnya saat ini.
“Ada apa ini? Ini pertama kalinya aku melihat pernikahan dibatalkan di tengah jalan!”
“Apa pengantin pria kabur dari pernikahan?”
“Kenapa bahkan anggota keluarga pengantin wanita juga pergi?”
“Siapa juga yang tahu. Bahkan anggota keluarganya sendiri juga nggak berpihak sama dia. Dia pasti sudah melakukan hal yang memalukan atau melakukan kesalahan!”
“Coba kamu lihat wajahnya. Memang kelihatannya bukan anak baik-baik!”
Fitnahan datang menerjangku.
Kedua pria yang berjanji akan melindungku untuk selamanya malah telah menjadi dua bilah pisau yang menusuk hatiku.
Bab 3
Setelah mengatasi masalah ini, aku kembali ke rumahku bersama Jivan. Baru saja pintu dibuka, aku pun merasa syok dengan keberadaan seseorang di dalam rumah!
“Kak Feli, lama nggak berjumpa!”
Rosa mengenakan piama yang tipis memamerkan tubuh indahnya. Dia berjalan keluar dari kamar pengantinku dan Jivan dengan ekspresi bersalah dan provokasi.
“Kak Lucas dan Jivan cemasin aku. Mereka suruh aku tinggal di sini.”
Aku melihat kamar pengantin yang kudekorasi dengan susah payah itu dimasuki oleh Rosa. Semua barang rumah tangga yang berpasangan telah dibuang sembarangan oleh Rosa ke dalam ruang kerja. Sebagai gantinya, barang-barang pribadinya memenuhi ruangan itu.
“Kata Jivan, pencahayaan di ruangan ini nyaman. Aku baru saja selesai operasi di luar negeri dan butuh pemulihan.”
Tersembunyi rasa muram di dalam tatapanku. Ruangan yang dia tempati itu sebenarnya adalah kamar pengantin milikku dan Jivan.
Saat ini, pintu kembali dibuka. Lucas dan Jivan memasuki rumah dengan membawa kue tar dan bunga segar. Terlihat tatapan tidak puas dalam tatapan mereka.
“Apa yang mau kamu lakukan? Rosa sudah pernah diusir sekali sama kamu,” ucap Jivan dengan tidak puas sembari melihatku.
“Sekarang Rosa adalah anggota keluarga kami. Rumah ini juga adalah rumahnya,” ujar Lucas dengan dingin sembari menatapku.
Aku mengamati vila kecil ini. Vila ini adalah hadiah dari Lucas untukku. Katanya, selamanya dia adalah anggota keluargaku. Selama ada dia, aku pun akan selalu memiliki rumah. Namun selanjutnya, Rosa tinggal di sini.
Lantaran mengingat hubungan dengan Erna, aku pun setuju membiarkan Rosa menumpang tinggal di sini. Setelah menemukan rumah, dia pun mesti segera meninggalkan rumah ini.
Hanya saja, Rosa semakin tidak tahu batasan. Dia bukan hanya mengambil barangku, bahkan juga berpelukan di atas ranjang dengan Jivan yang sedang mabuk.
Aku tidak bisa bersabar lagi dan langsung menampar Rosa. Aku pun didorong Jivan. “Rosa sudah kehilangan keluarganya. Dia hanya menganggapku sebagai kakaknya saja. Sejak kecil, kamu sudah didampingi oleh kami. Rosa berbeda sama kamu. Dia sudah mengalami banyak cobaan! Kamu lebih besar daripada dia. Apa kamu nggak bisa menjaganya seperti menjaga seorang adik?”
Aku melihat telapak tangan yang terluka akibat terkena pecahan kaca. Itu pertama kalinya aku merasa asing dengan diri Jivan.
Sekarang Rosa kembali lagi dan menguasai kamar pengantinnya, bersikap seperti nyonya rumah di sini.
“Felicia, selama beberapa tahun ini, aku yang menghidupimu. Aku sudah membesarkanmu hingga segede ini. Seharusnya kamu tahu berterima kasih! Sekarang, Rosa itu adikku! Kamu nggak berhak untuk menyuruhnya pergi! Kalau bukan karena kamu mengusirnya ke luar negeri, kondisi penyakitmu juga nggak akan bertambah parah.”
“Kamu tinggal di ruang baca saja. Kita bicarakan lagi setelah kondisi penyakit Rosa membaik,” peringatkan Lucas.
“Rosa butuh dijaga selama beberapa waktu ini. Lagi pula, kami juga belum mendaftarkan pernikahan kita. Kalau kamu berulah lagi, kita nggak usah menikah lagi!”
Jivan menatapku dengan ekspresi waspada. Sementara, aku menatap mereka dengan tatapan penuh hinaan.
Jika Felicia adalah Felicia yang dulu, mungkin dia akan merasa sakit hati. Namun, Felicia yang sekarang hanya merasa kecewa.
Tempat ini tidak menyambutku lagi. Sudah saatnya juga aku kembali ke keluargaku. Berhubung aku sudah memutuskan untuk pergi, aku pun tidak membalas ucapannya, langsung berjalan ke ruang baca.
Barang-barangku dilempar sembarangan ke dalam ruang kerja. Semua itu adalah hasil desain dan pilihanku sendiri. Barang-barang itu adalah bentuk dari impian dan harapanku terhadap masa depanku.
Aku diam-diam membuang barang pengantin yang dirusak Rosa ke tempat sampah.
Pada saat ini, Jivan baru mengangguk dengan puas. “Barang-barang itu nggak bernilai. Nanti baru dibeli lagi saat akan menjalankan pernikahan.”
Terlintas sedikit rasa muram di dalam tatapanku. Barang yang tidak bernilai bukan hanya barang-barang ini saja. Tidak ada lagi masa depan. Tempat ini bukan lagi tempatku untuk berlindung.