Bab 2

Tubuh Erina yang basah kuyup menempel erat di tubuhku.

Merasakan lekuk tubuhnya yang harum dan lembut, detak jantungku semakin berpacu. Aku mencoba mengangkat tanganku untuk mendorongnya menjauh karena khawatir akan membuatnya merasa tidak nyaman.

"Ada ular ... ular! Kak Tandi, aku takut sekali ...."

Erina terlihat ketakutan saat memelukku. Tubuhnya terasa sangat lembut. Aku menelan ludah dengan susah payah.

"Di mana? Di mana ularnya? Jangan takut, ada aku di sini!"

Aku berusaha keras mengenyahkan pikiran-pikiran yang kacau di dalam hatiku, sambil mencoba menenangkan dia dan memeriksa setiap sudut kamar mandi.

"Hah ... Erina, kamu salah lihat. Itu cuma pipa air!"

Ternyata hanya alarm palsu.

Sisa pipa fleksibel yang sebelumnya kugunakan untuk memperbaiki saluran air, entah bagaimana jatuh dari lemari. Namun, karena Erina terlalu takut, dia tetap memelukku erat dan tidak mau melepaskan. Perasaanku campur aduk antara kesulitan menahan diri dan sedikit menikmati situasi ini.

"Uhuk ... Erina, tenanglah. Nggak ada ular di kamar mandi! Itu ... lagian, kamu sekarang belum pakai baju ...."

Mendengar ucapanku, Erina terkejut dan wajahnya langsung memerah. Dia buru-buru melepaskan pelukannya dan mencoba mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya dengan canggung.

Namun, karena panik, dia terpeleset dan tanpa sengaja tangannya mencoba berpegangan pada pinggangku.

"Ahh ...."

Walaupun dia tidak benar-benar mencengkeramku, sentuhannya tetap membuatku merasa nyeri luar biasa. Wajah Erina semakin merah dan setelah akhirnya berhasil mengenakan handuk, dia terus meminta maaf padaku.

Apa yang bisa kukatakan? Aku hanya mengangguk canggung dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Malam harinya, sebagai bentuk permintaan maaf, Erina memutuskan untuk memasak beberapa hidangan untukku.

Selain untuk meminta maaf, dia juga ingin berterima kasih karena aku dan Cecil telah menerimanya di saat-saat sulit.

Awalnya, suasana terasa canggung. Namun, karena dia sedang merasa sedikit tertekan, dia menuangkan beberapa gelas anggur merah untuk dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, wajahnya memerah dan matanya mulai terlihat sayu.

"Aku benar-benar iri sama Cecil, dia bisa menemukan pria sebaik kamu!" kata Erina dengan suara yang mulai terdengar mabuk.

Melihat keadaannya, aku segera mendekat untuk menyarankan agar dia berhenti minum. Namun, Erina malah meraih tanganku dan menatapku dengan mata yang tajam tapi memikat.

"Kak Tandi, Cecil pernah bilang kalau pria yang punya uang cenderung jadi nakal. Apa itu benar?"

Aku menjawab seadanya, "Itu tergantung sama sifat orangnya."

Saat aku berbicara, dia menggunakan tangan lainnya untuk menyentuhku dengan mata yang penuh godaan. "Lalu kamu sendiri bagaimana, Kak?" tanyanya sambil tersenyum manis.

"Jangan kira aku nggak tahu. Kamu sebenarnya punya niat sama aku, 'kan? Apalagi tadi di kamar mandi ...."

Aku buru-buru menggelengkan kepala. "Nggak, nggak .... Kamu salah paham ...."

Erina berkedip pelan, memiringkan tubuhnya dengan posisi yang sangat menggoda. "Kalau memang punya niat, kenapa nggak lebih berani saja? Kak, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu!"

Jujur, di momen itu, aku hampir tidak bisa menahan diri. Namun, ketika wajah istriku terlintas di benakku ....

"Erina, kamu sudah terlalu banyak minum! Kamu ini sahabat baik Cecil. Apa kamu nggak merasa bersalah sama dia?"

Erina tersenyum kecil, dengan sedikit rasa malu di matanya. "Justru karena aku sahabat baiknya, aku rela berbagi kamu sama dia."

"Daripada kamu bersenang-senang di luar dan menghabiskan uang untuk wanita lain, lebih baik untukku saja. Kita berdua bisa menjaga hatimu tetap di rumah ...."

Di saat itu, kepalaku terasa seperti dipenuhi dengungan. Apa benar ini semua sudah disetujui oleh Cecil? Melihat aku terdiam, Erina menjadi semakin berani dan mulai membuka kancing bajuku.

"Aku rasa, kekhawatiran Cecil memang ada benarnya!" katanya dengan nada manis. "Sebagai sahabat terbaiknya, tentu saja aku ingin membantunya mengikatmu erat-erat."

"Mulai sekarang, dengan adanya kami berdua melayanimu, kalaupun kamu mau berbuat nakal, kamu nggak akan punya kesempatan."

Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi kepalaku. Namun, tepat saat itu, suara ponselku tiba-tiba berbunyi dengan nyaring.

Malam-malam begini, kenapa mertuaku tiba-tiba menelepon?

Apa Cecil sedang dalam masalah? Atau mungkin Cecil mencurigai sesuatu dan menelepon untuk memeriksa? Memikirkan kemungkinan itu, keringat dingin langsung membanjiri tubuhku.

Bab 3

"Erina, kamu benar-benar sudah terlalu banyak minum! Jangan sentuh aku sembarangan, aku bukan orang seperti itu!"

Aku menarik napas dalam-dalam dan menolak Erina dengan tegas, lalu segera lari kembali ke kamar untuk menjawab telepon. Begitu tombol panggil kutekan, suara ribut dari seberang langsung terdengar.

"Menantuku yang baik, kirimkan aku uang .... Dua kartu! Aku ambil!" Aku mengernyitkan dahi. Mertuaku main kartu lagi?

"Baik, Bu, akan segera kutransfer!"

Di seberang telepon, aku bisa mendengar mertuaku memamerkanku dengan bangga kepada teman-temannya dan mengatakan menantunya sekarang sudah sukses.

Namun tiba-tiba, seseorang di latar belakang bergumam, "Orang kaya memang beda, lihat saja putrimu, sampai sibuk sekali nggak sempat pulang untuk menjengukmu ...."

Sebelum kalimat itu selesai, mertuaku buru-buru menutup telepon. Aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bukankah Cecil bilang dia pulang ke rumah orang tuanya? Kenapa ada yang mengatakan dia tidak sempat pulang?

Aku segera menelepon kembali.

"Bu, Cecil bukannya sudah pulang ke sana?" tanyaku dengan nada curiga.

Mertuaku terdengar gugup, "Ah ... iya, dia sudah pulang."

Namun ketika aku meminta untuk berbicara langsung dengan Cecil, mertua mencari alasan untuk menghindar. Telepon Cecil juga sama sekali tidak bisa dihubungi!

Kecurigaan semakin memenuhi pikiranku. Apakah Cecil sedang berbohong? Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Erina?

Hari-hari berikutnya, aku menjaga jarak dengan Erina sambil membawa rasa penasaran dan waspada dalam hati. Namun, Erina sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menghindariku. Sebaliknya, dia justru semakin agresif.

Saat berlatih yoga, dia selalu mengajakku ikut. Ketika mandi, dia meminta bantuanku mengambilkan handuk. Bahkan, tengah malam dia mengetuk pintuku dengan alasan ingin curhat.

Tiga hari kemudian, Cecil akhirnya pulang.

Aku sengaja datang lebih awal ke stasiun kereta, tapi ternyata Cecil keluar dari stasiun setengah jam lebih cepat dari waktu yang direncanakan!

Yang lebih mengejutkan lagi, dia keluar dengan menggandeng lengan seorang pria. Mereka terlihat bercakap-cakap sambil tertawa, dengan gerak-gerik yang sangat akrab! Amarahku langsung memuncak.

"Cecil, apa yang sedang kamu lakukan?"

Melihatku tiba-tiba muncul, wajah Cecil langsung panik. "Sayang, kamu ... kenapa datang secepat ini?"

Aku tersenyum dingin, lalu tanpa berpikir panjang, aku langsung menendang pria itu. "Kalau aku nggak datang lebih awal, mungkin aku nggak akan tahu tentang perselingkuhan kalian!"

Meskipun tinggi, pria itu bertubuh kurus. Dia terjatuh seketika karena tendanganku. Cecil langsung panik. "Hentikan! Berhenti sekarang! Tandi, kamu sudah gila?"

"Itu Aaron, sepupuku!" Kerumunan orang mulai berkumpul di sekitar kami, sementara pria itu buru-buru melepas maskernya.

"Kak Tandi, ini aku! Jangan salah paham!" Melihat wajah yang tidak asing, aku terdiam dan tercengang di tempat. "Kenapa malah kamu?"

Pria itu adalah Aaron, sepupu jauh Cecil, yang kebetulan kuliah di kota kami. Aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dia bahkan sempat tinggal di rumah kami selama dua minggu karena alasan tertentu.

Menurut penjelasan Cecil, dia kebetulan bertemu Aaron di kampung halamannya dan mereka memutuskan untuk naik kereta yang sama kembali ke kota.

Cecil marah padaku karena terlalu gegabah dan langsung bertindak tanpa memastikan situasi. Aaron pun terlihat sangat kecewa.

Merasa bersalah, aku meminta maaf kepada Aaron. Sebagai bentuk penyesalan, aku mengajak mereka makan siang mewah dan bahkan membelikannya sepasang sepatu olahraga baru. Namun, setelah sampai di rumah, Cecil tetap menunjukkan ekspresi dingin padaku.

Sebaliknya, Erina mencoba mendamaikan kami dengan sabar. Dia bahkan berusaha menenangkan Cecil dan menyuruhnya untuk tidak terlalu marah.

Cecil malah berkata dengan nada ketus, "Kalian berdua malah terlihat seperti satu keluarga. Aku malah merasa seperti orang luar!"

Ketika aku sedang memikirkan cara untuk meminta maaf pada Cecil, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku.

[ Kak Tandi, aku sudah selidiki. Istrimu ... memang nggak pulang ke rumah orang tuanya! ]

[ Dia pergi liburan sama seorang pria bernama Aaron Carter. Mereka berendam di pemandian air panas dan bahkan menyewa kamar yang sama .... ]

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B96469" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B96469
Salin

Sahabat Istriku, Untukku

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya