Bab 1
Seberapa nikmatnya seorang pria ketika punya uang? Dulu, istriku sering memarahi aku karena dianggap tidak berguna. Sekarang, demi mempertahankan hatiku, dia bahkan mengirim sahabat cantiknya ke kamarku. Dua wanita itu hampir membuatku kehabisan tenaga .…
Seberapa nikmatnya seorang pria ketika punya uang? Dulu, istriku sering memarahi aku karena dianggap tidak berguna. Sekarang, demi mempertahankan hatiku, dia bahkan mengirim sahabat cantiknya ke kamarku. Dua wanita itu hampir membuatku kehabisan tenaga .…
....
Tahun lalu aku dipecat dari perusahaan dan istriku bahkan sempat meminta cerai. Dengan tekad bulat, aku meminjam uang untuk mencoba bisnis sayuran. Siapa sangka, dalam beberapa bulan saja, aku berhasil menghasilkan miliaran rupiah.
Menjelang akhir tahun, ketika kembang api menghiasi langit, aku kembali meraup keuntungan besar. Sikap istriku yang sebelumnya dingin, kini berubah total. Sekarang, dia selalu memperhatikanku dengan penuh perhatian.
Beberapa hari yang lalu, dia bahkan mengundang sahabatnya yang bertubuh ramping dan berkaki panjang, Erina, untuk tinggal di rumah kami. Setiap hari, aku dimanjakan dengan pemandangan indah.
Istriku, Cecil, memang sudah cantik. Kulitnya putih, tubuhnya langsing, dan sangat menawan. Tapi sahabatnya, Erina, bahkan lebih menggoda!
Erina memiliki kecantikan yang setara dengan istriku. Sebagai seorang instruktur yoga, dia memiliki lekuk tubuh yang sempurna, kaki panjang yang ramping, dan pinggang yang kecil.
Terutama saat mereka berdua mengenakan pakaian yoga ketat untuk berlatih di ruang tamu. Aku benar-benar khawatir tidak bisa menahan diri dan melakukan sesuatu yang gila.
Aku bercanda dengan istriku, "Kamu membiarkan Erina tinggal di rumah kita, bukankah itu seperti mengantar kambing ke mulut harimau?"
Bukannya marah, istriku malah tersenyum sambil menggoda, "Kalau berani, coba saja makan dia! Aku rasa kamu cuma punya niat, tapi nggak ada nyali!"
Cecil bahkan menambahkan, "Oh ya, besok aku mau pulang ke rumah orang tuaku beberapa hari. Kamu manfaatkan saja kesempatan ini dengan baik!"
Aku hanya tersenyum canggung dan buru-buru menjelaskan kalau aku cuma bercanda. Bagaimanapun, dulu istriku selalu melarangku terlalu dekat dengan Erina karena khawatir aku tergoda olehnya.
Siapa tahu, kali ini dia sedang mengujiku?
Keesokan harinya, aku mengantar istriku ke stasiun kereta cepat. Meski sibuk dengan bisnis, aku menyempatkan diri menyiapkan banyak hadiah untuk dibawa ke rumah orang tuanya, sebagai bentuk penghormatan.
Sebelum pergi, istriku terus berpesan, "Erina baru saja putus cinta dan kehilangan pekerjaan. Aku benar-benar khawatir. Kalau sempat, hiburlah dia, jangan biarkan dia terlalu larut dalam kesedihan."
Aku terus mengangguk menyetujui, tapi dalam hati merasa sedikit cemas. Hanya kami berdua di rumah, seorang pria dan seorang wanita. Kalau tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi, apakah aku bisa menahannya?
Setelah sampai di rumah, Erina sedang berlatih yoga di ruang tamu. Keringat membasahi pakaian yoganya hingga melekat erat di tubuhnya dan mempertegas lekuk tubuhnya yang sempurna.
Tiba-tiba, dia melakukan pose berdiri terbalik dengan kaki terbuka lebar. Dua kakinya yang panjang mengarah tepat ke hadapanku .... Dampak visual yang luar biasa membuatku tanpa sadar menelan ludah.
Erina baru menyadari keberadaanku. "Kak Tandi, kamu sudah pulang? Aku latihan yoga nggak mengganggumu, 'kan?"
Aku cepat-cepat menggeleng. "Nggak ... nggak! Lanjutkan saja!"
Erina berhenti melakukan posenya dan mendekat sambil mengelap keringatnya. Aroma samar yang memikat tercium dari tubuhnya.
"Kak Tandi, kamu juga harus mulai olahraga! Gimana kalau aku ajarin kamu yoga? Yoga sebenarnya cukup sederhana dan aku lihat kondisi fisikmu lumayan bagus ...." Sambil bicara, dia menyentuh lenganku.
Namun, saat itu tubuhku malah memberikan reaksi tak terkendali. Aku tersenyum canggung dan mundur sedikit. "Ah, nggak usah, yoga kan biasanya dilakukan perempuan!"
Erina menutup mulutnya sambil tertawa kecil. "Kak Tandi, kamu salah, lho! Yoga itu bisa untuk laki-laki dan perempuan! Yoga pasangan punya banyak gerakan yang bukan hanya melatih tubuh, tapi juga membantu ...."
Saat mengatakan hal itu, wajahnya memerah. "Uhuk ... membantu keharmonisanmu sama Cecil!"
Melihat situasinya makin sulit dikendalikan, aku segera mencari alasan dan kembali ke kamar. Setelah berbaring di tempat tidur, aku menarik napas panjang.
Seharusnya tadi sebelum Cecil pergi, aku sudah menenangkan diri supaya tidak mempermalukan diri di depan Erina. Namun, semakin kupikirkan, rasanya malah semakin panas.
"Tolong ...!"
Tiba-tiba, aku mendengar suara Erina berteriak dari kamar mandi.
Seluruh tubuhku langsung bereaksi dan aku segera berlari ke sana. Belum sempat aku memahami situasinya, dia sudah panik dan langsung memelukku erat.
Di dalam kamar mandi, pancuran air masih menyala dan uap air memenuhi ruangan.
Bab 2
Tubuh Erina yang basah kuyup menempel erat di tubuhku.
Merasakan lekuk tubuhnya yang harum dan lembut, detak jantungku semakin berpacu. Aku mencoba mengangkat tanganku untuk mendorongnya menjauh karena khawatir akan membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ada ular ... ular! Kak Tandi, aku takut sekali ...."
Erina terlihat ketakutan saat memelukku. Tubuhnya terasa sangat lembut. Aku menelan ludah dengan susah payah.
"Di mana? Di mana ularnya? Jangan takut, ada aku di sini!"
Aku berusaha keras mengenyahkan pikiran-pikiran yang kacau di dalam hatiku, sambil mencoba menenangkan dia dan memeriksa setiap sudut kamar mandi.
"Hah ... Erina, kamu salah lihat. Itu cuma pipa air!"
Ternyata hanya alarm palsu.
Sisa pipa fleksibel yang sebelumnya kugunakan untuk memperbaiki saluran air, entah bagaimana jatuh dari lemari. Namun, karena Erina terlalu takut, dia tetap memelukku erat dan tidak mau melepaskan. Perasaanku campur aduk antara kesulitan menahan diri dan sedikit menikmati situasi ini.
"Uhuk ... Erina, tenanglah. Nggak ada ular di kamar mandi! Itu ... lagian, kamu sekarang belum pakai baju ...."
Mendengar ucapanku, Erina terkejut dan wajahnya langsung memerah. Dia buru-buru melepaskan pelukannya dan mencoba mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya dengan canggung.
Namun, karena panik, dia terpeleset dan tanpa sengaja tangannya mencoba berpegangan pada pinggangku.
"Ahh ...."
Walaupun dia tidak benar-benar mencengkeramku, sentuhannya tetap membuatku merasa nyeri luar biasa. Wajah Erina semakin merah dan setelah akhirnya berhasil mengenakan handuk, dia terus meminta maaf padaku.
Apa yang bisa kukatakan? Aku hanya mengangguk canggung dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Malam harinya, sebagai bentuk permintaan maaf, Erina memutuskan untuk memasak beberapa hidangan untukku.
Selain untuk meminta maaf, dia juga ingin berterima kasih karena aku dan Cecil telah menerimanya di saat-saat sulit.
Awalnya, suasana terasa canggung. Namun, karena dia sedang merasa sedikit tertekan, dia menuangkan beberapa gelas anggur merah untuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, wajahnya memerah dan matanya mulai terlihat sayu.
"Aku benar-benar iri sama Cecil, dia bisa menemukan pria sebaik kamu!" kata Erina dengan suara yang mulai terdengar mabuk.
Melihat keadaannya, aku segera mendekat untuk menyarankan agar dia berhenti minum. Namun, Erina malah meraih tanganku dan menatapku dengan mata yang tajam tapi memikat.
"Kak Tandi, Cecil pernah bilang kalau pria yang punya uang cenderung jadi nakal. Apa itu benar?"
Aku menjawab seadanya, "Itu tergantung sama sifat orangnya."
Saat aku berbicara, dia menggunakan tangan lainnya untuk menyentuhku dengan mata yang penuh godaan. "Lalu kamu sendiri bagaimana, Kak?" tanyanya sambil tersenyum manis.
"Jangan kira aku nggak tahu. Kamu sebenarnya punya niat sama aku, 'kan? Apalagi tadi di kamar mandi ...."
Aku buru-buru menggelengkan kepala. "Nggak, nggak .... Kamu salah paham ...."
Erina berkedip pelan, memiringkan tubuhnya dengan posisi yang sangat menggoda. "Kalau memang punya niat, kenapa nggak lebih berani saja? Kak, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu!"
Jujur, di momen itu, aku hampir tidak bisa menahan diri. Namun, ketika wajah istriku terlintas di benakku ....
"Erina, kamu sudah terlalu banyak minum! Kamu ini sahabat baik Cecil. Apa kamu nggak merasa bersalah sama dia?"
Erina tersenyum kecil, dengan sedikit rasa malu di matanya. "Justru karena aku sahabat baiknya, aku rela berbagi kamu sama dia."
"Daripada kamu bersenang-senang di luar dan menghabiskan uang untuk wanita lain, lebih baik untukku saja. Kita berdua bisa menjaga hatimu tetap di rumah ...."
Di saat itu, kepalaku terasa seperti dipenuhi dengungan. Apa benar ini semua sudah disetujui oleh Cecil? Melihat aku terdiam, Erina menjadi semakin berani dan mulai membuka kancing bajuku.
"Aku rasa, kekhawatiran Cecil memang ada benarnya!" katanya dengan nada manis. "Sebagai sahabat terbaiknya, tentu saja aku ingin membantunya mengikatmu erat-erat."
"Mulai sekarang, dengan adanya kami berdua melayanimu, kalaupun kamu mau berbuat nakal, kamu nggak akan punya kesempatan."
Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi kepalaku. Namun, tepat saat itu, suara ponselku tiba-tiba berbunyi dengan nyaring.
Malam-malam begini, kenapa mertuaku tiba-tiba menelepon?
Apa Cecil sedang dalam masalah? Atau mungkin Cecil mencurigai sesuatu dan menelepon untuk memeriksa? Memikirkan kemungkinan itu, keringat dingin langsung membanjiri tubuhku.
Bab 3
"Erina, kamu benar-benar sudah terlalu banyak minum! Jangan sentuh aku sembarangan, aku bukan orang seperti itu!"
Aku menarik napas dalam-dalam dan menolak Erina dengan tegas, lalu segera lari kembali ke kamar untuk menjawab telepon. Begitu tombol panggil kutekan, suara ribut dari seberang langsung terdengar.
"Menantuku yang baik, kirimkan aku uang .... Dua kartu! Aku ambil!" Aku mengernyitkan dahi. Mertuaku main kartu lagi?
"Baik, Bu, akan segera kutransfer!"
Di seberang telepon, aku bisa mendengar mertuaku memamerkanku dengan bangga kepada teman-temannya dan mengatakan menantunya sekarang sudah sukses.
Namun tiba-tiba, seseorang di latar belakang bergumam, "Orang kaya memang beda, lihat saja putrimu, sampai sibuk sekali nggak sempat pulang untuk menjengukmu ...."
Sebelum kalimat itu selesai, mertuaku buru-buru menutup telepon. Aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bukankah Cecil bilang dia pulang ke rumah orang tuanya? Kenapa ada yang mengatakan dia tidak sempat pulang?
Aku segera menelepon kembali.
"Bu, Cecil bukannya sudah pulang ke sana?" tanyaku dengan nada curiga.
Mertuaku terdengar gugup, "Ah ... iya, dia sudah pulang."
Namun ketika aku meminta untuk berbicara langsung dengan Cecil, mertua mencari alasan untuk menghindar. Telepon Cecil juga sama sekali tidak bisa dihubungi!
Kecurigaan semakin memenuhi pikiranku. Apakah Cecil sedang berbohong? Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Erina?
Hari-hari berikutnya, aku menjaga jarak dengan Erina sambil membawa rasa penasaran dan waspada dalam hati. Namun, Erina sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menghindariku. Sebaliknya, dia justru semakin agresif.
Saat berlatih yoga, dia selalu mengajakku ikut. Ketika mandi, dia meminta bantuanku mengambilkan handuk. Bahkan, tengah malam dia mengetuk pintuku dengan alasan ingin curhat.
Tiga hari kemudian, Cecil akhirnya pulang.
Aku sengaja datang lebih awal ke stasiun kereta, tapi ternyata Cecil keluar dari stasiun setengah jam lebih cepat dari waktu yang direncanakan!
Yang lebih mengejutkan lagi, dia keluar dengan menggandeng lengan seorang pria. Mereka terlihat bercakap-cakap sambil tertawa, dengan gerak-gerik yang sangat akrab! Amarahku langsung memuncak.
"Cecil, apa yang sedang kamu lakukan?"
Melihatku tiba-tiba muncul, wajah Cecil langsung panik. "Sayang, kamu ... kenapa datang secepat ini?"
Aku tersenyum dingin, lalu tanpa berpikir panjang, aku langsung menendang pria itu. "Kalau aku nggak datang lebih awal, mungkin aku nggak akan tahu tentang perselingkuhan kalian!"
Meskipun tinggi, pria itu bertubuh kurus. Dia terjatuh seketika karena tendanganku. Cecil langsung panik. "Hentikan! Berhenti sekarang! Tandi, kamu sudah gila?"
"Itu Aaron, sepupuku!" Kerumunan orang mulai berkumpul di sekitar kami, sementara pria itu buru-buru melepas maskernya.
"Kak Tandi, ini aku! Jangan salah paham!" Melihat wajah yang tidak asing, aku terdiam dan tercengang di tempat. "Kenapa malah kamu?"
Pria itu adalah Aaron, sepupu jauh Cecil, yang kebetulan kuliah di kota kami. Aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dia bahkan sempat tinggal di rumah kami selama dua minggu karena alasan tertentu.
Menurut penjelasan Cecil, dia kebetulan bertemu Aaron di kampung halamannya dan mereka memutuskan untuk naik kereta yang sama kembali ke kota.
Cecil marah padaku karena terlalu gegabah dan langsung bertindak tanpa memastikan situasi. Aaron pun terlihat sangat kecewa.
Merasa bersalah, aku meminta maaf kepada Aaron. Sebagai bentuk penyesalan, aku mengajak mereka makan siang mewah dan bahkan membelikannya sepasang sepatu olahraga baru. Namun, setelah sampai di rumah, Cecil tetap menunjukkan ekspresi dingin padaku.
Sebaliknya, Erina mencoba mendamaikan kami dengan sabar. Dia bahkan berusaha menenangkan Cecil dan menyuruhnya untuk tidak terlalu marah.
Cecil malah berkata dengan nada ketus, "Kalian berdua malah terlihat seperti satu keluarga. Aku malah merasa seperti orang luar!"
Ketika aku sedang memikirkan cara untuk meminta maaf pada Cecil, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku.
[ Kak Tandi, aku sudah selidiki. Istrimu ... memang nggak pulang ke rumah orang tuanya! ]
[ Dia pergi liburan sama seorang pria bernama Aaron Carter. Mereka berendam di pemandian air panas dan bahkan menyewa kamar yang sama .... ]