Bab 3
“Nggak apa-apa, kamu tinggal di sini saja malam ini. Besok pagi aku bakal periksa ke rumahmu. Pakai ini, jangan sampai masuk angin.”
Tatapan Tira padaku pun berubah, tampak sedikit menantang.
Dia menggigit bibir bawahnya dan berkata, “Kak Ella, kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pergi. Jangan sampai marah dengan Pak Richard gara-gara aku.”
Wajah Richard tampak kesal, “Dia sudah seperti ini, kamu masih mau mempersulitnya? Dia hanya gadis kecil dan baru juga bercerai, kamu nggak bisa lebih toleransi padanya?”
Tubuhku rasanya sudah tak kuat berdiri. Nyeri di perut bagian bawah terasa begitu menyiksa sampai-sampai aku tak bisa dengar jelas apa yang Richard katakan.
“Terserah kalian.”
Ujarku, lalu berbalik masuk ke kamar tidur.
Richard sempat terdiam sedetik, lalu mengantar Tira ke kamar tamu.
Semangkuk air gula merah itu pun ikut terbawa ke sana.
Malam itu, Richard tidak kembali ke kamar. Bisa ditebak, dia berada di mana.
Aku dan Richard sudah berpacaran sejak kuliah.
Pernah suatu malam, sepulang kencan saat berjalan kembali ke kampus, kami bertemu sekelompok preman.
Mereka berkata kasar padaku dan mencoba menyentuhku. Richard langsung berdiri di depanku, melindungiku, tapi lawannya tiga pria dewasa.
Diam-diam, aku pun menelepon polisi. Saat polisi datang, Richard sudah tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.
Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.
Bagaimana bisa hubungan kami jadi seperti ini?
Keesokan paginya, hanya tersisa aku seorang diri di rumah.
Aku mulai berkemas, meski barang-barangku memang tak banyak. Semua yang pernah diberi Richard, kutinggalkan. Tak kusentuh, tetap di tempat semula.
Pintu kamar tamu terbuka dan aku langsung melihat sepotong bra sexy tergeletak di ujung ranjang.
Aku berjalan mendekat, mengambil ponsel dan memotret benda itu.
Baru saja hendak pergi, aku bertemu orang tua Richard.
Mereka tampak senang dan langsung menarikku, bilang ingin pilih restoran untuk syukuran kelahiran bayi nanti dan cari tempat perawatan pasca melahirkan.
Dadaku terasa sesak. Dengan getir, aku pun menjawab, “Masih terlalu dini.”
Namun, mereka tetap antusias, bahkan menelepon Richard.
“Halo, ada apa ayah ibu?”
Suara Richard terdengar, disusul suara perempuan yang tak bisa diabaikan.
“Richard, sepertinya braku ketinggalan di rumahmu. Bagaimana ini? Mungkin nggak dia melihatnya?”
Orang tua Richard yang tadinya ingin bicara langsung terdiam, lalu buru-buru mematikan penguat suara.
“Dasar kamu! Cepat pulang! Suruh wanita nakal itu pergi jauh-jauh! Kamu mau pancing emosi aku dan ibumu?!”
Aku mengambil tas, tak ingin ikut menyaksikan drama ini lebih lama. Aku pun berpamitan, “Ayah, ibu, aku ada urusan, harus pergi dulu.”
Mereka seperti ingin bicara, tapi akhirnya hanya diam.
Aku pun naik taksi menuju kantor.
Dulu, setelah lulus kuliah, ayah ingin aku pulang dan belajar mengelola perusahaan keluarga.
Namun, aku bersikeras membuka kantor pengacara bersama Richard. Karena bukan lulusan hukum, aku hanya bisa bantu-bantu administrasi.
Sesampainya di kantor, aku langsung menuju mejaku dan mulai membereskan barang-barang.
Dari pantry, terdengar bisik-bisik.
“Perempuan memang kasihan, sudah susah payah bantu bangun bisnis dari nol, tapi ujung-ujungnya tetap seperti itu.”
“Kamu nggak lihat wanita yang datang kemarin itu? Manja sekali, nggak paham kenapa bos bisa suka. Bahkan gara-gara dia, satu klien besar kita kabur. Tapi, bos sama sekali nggak marah!”
Tanganku sempat terhenti, lalu kembali melanjutkan beres-beres.
Ponsel di meja terus-terusan berbunyi, menampilkan pesan-pesan baru. Aku pun membalikkan layar ponselnya.
Tak lama kemudian, Richard datang. Melihat tindakanku, wajahnya langsung muram, “Kamu apain?”
Dengan ekspresi datar, aku menjawab, “Nggak mau kerja lagi. Aku mau fokus kehamilanku saja di rumah.”
Bab 4
Richard diam-diam menghela napas lega, lalu mulai mencoba menjelaskan,
“Jangan marah, aku benaran nggak tahu kalau Tira meninggalkan branya di sana. Aku tidur di ruang tamu semalam, kalau nggak percaya, kamu bisa cek CCTV.”
Aku menutup koperku dan menjawab, “Aku percaya.”
Sikapku yang terlalu tenang membuat alis Richard mengernyit. Dia pun melembutkan nada bicaranya, “Sayang, jangan marah. Percayalah padaku, aku dan dia benaran nggak ada apa-apa.”
“Kalau nggak percaya, aku bisa telepon dia sekarang.”
Entah apa yang dikatakan orang tuanya padanya, Richard benar-benar mengeluarkan ponselnya dan menelepon.
“Tira, apa maksudmu? Kenapa sengaja tinggalkan bra di rumahku? Mau buat istriku salah paham?”
Aku menatapnya dan sungguh ingin bilang, aktingmu jelek sekali.
Aku hanya tersenyum dan tak berkata apapun.
Kalau dia mau akting, biarkan sajalah. Bagaimanapun, besok kami sudah tidak ada hubungan lagi.
Richard juga tersenyum, lalu memelukku seperti masa-masa kami masih pacaran. Dia pun menghiburku, “Asal kamu nggak marah, aku bakal menuruti semua kata-katamu. Aku janji nggak akan bertemu Tira lagi.”
Senyumannya menusuk pandanganku, aku pun sengaja memalingkan wajah.
Semuanya sudah berubah. Richard yang dulu mencintaiku sepenuh hati, entah sejak kapan telah berubah.
“Nanti malam aku ajak kamu makan di restoran kesukaanmu. Aku juga punya hadiah untukmu.”
Aku bakal pergi besok. Biar tak menimbulkan masalah lain, aku pun hanya mengangguk.
Malamnya, aku menatap meja penuh makanan, tapi rasanya sama sekali tak berselera.
Aku tidak suka makanan pedas, tapi demi menyesuaikan selera Richard, aku selalu masak dengan banyak cabai.
“Sayang, ayo makan. Ini semua makanan kesukaanmu. Aku tahu kamu nggak bisa hidup tanpa yang pedas.”
“Oh iya, sayang, aku sudah belikan reksa dana untuk putri kita, buat dia sampai umur 18 tahun. Aku juga sudah siapkan banyak baju bayi. Aku benar-benar penasaran, bakal mirip siapa ya dia.”
Aku menunduk pelan dan menjawab, “Nggak lama lagi.”
Tiba-tiba, ponsel Richard berdering. Dia melihat sebentar dan menolak panggilan itu.
Namun, panggilan itu terus masuk berkali-kali.
Richard menatapku sejenak, lalu mengangkat telepon itu.
Usai dia bicara telepon, aku menatapnya datar, “Tira?”
Richard buru-buru menjelaskan,
“Dia diikuti mantan suaminya. Kamu juga tahu mantannya itu kasar, dulu kalah di pengadilan, jadi dendam sama dia. Aku takut terjadi apa-apa….”
Usai dia bicara, aku pun mengangguk pengertian, “Pergi saja.”
Richard menatapku penuh rasa terima kasih, lalu segera pergi.
Aku memesan semangkuk bubur lagi, sementara hidangan di meja tak kusentuh sama sekali.
Sesampainya di rumah, aku pun tidur nyenyak sampai pagi.
Sebelum pergi, aku meletakkan hasil keguguran dan Salinan USG janin di atas meja makan, bersama selembar surat kecil.