Bab 1

Saat aku mengalami pendarahan hebat karena kehamilan, Richard malah meninggalkanku di depan rumah sakit dan pergi menjemput klien wanitanya. Akibatnya, aku keguguran.

Di saat tubuhku masih sangat lemah, dia malah sengaja memegang perutku dengan tangan dinginnya..

Tengah malam, klien wanita menginap di kamar sebelahku bersama Richard, bahkan meninggalkan pakaian dalamnya di sana.

Orang tua Richard datang menjenguk cucu mereka, tapi mereka tak tahu kalau bayi itu sudah tiada.

Richard berpura-pura meminta maaf, tapi di makan malam terakhir kami, dia tetap pergi begitu saja saat klien wanitanya menelepon.

Setelah aku pergi, barulah dia tahu bahwa aku telah keguguran. Dia sangat terpukul dan datang meminta maaf, tapi aku tidak memaafkannya.

Akhirnya, kami pun bercerai.

Kemudian, saat mereka tahu aku ternyata adalah pemilik perusahaan, mereka semua kena tamparan kenyataan.

Akhirnya, Richard menjadi manusia vegetatif, meninggalkan utang besar untuk wanita itu. Sementara aku sudah punya kekasih baru.

Di depan rumah sakit, Richard meninggalkan aku yang sedang mengalami pendarahan hebat, demi mengantar pulang klien wanitanya yang sedang dalam proses perceraian.

Darah terus mengalir di kedua kakiku, tapi dia tetap pergi dengan panik tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

Tengah malam, saat seharusnya dia menemaniku di rumah sakit, ternyata wajahnya justru muncul di unggahan facebook klien wanita itu.

Captionnya, [Untung ada pengacara hebatku. Beruntungnya aku, sudah mabuk, masih diseduhkan teh madu!]

Aku tak bisa tidur semalaman.

Keesokan harinya, aku pun menelepon dengan suara tenang.

“Ayah, aku sudah pikirkan baik-baik. Tiga hari lagi aku bakal pulang untuk ambil alih perusahaan.”

Di balik telepon, ayah terdiam beberapa detik, lalu menarik napas panjang.

“Baguslah, ayah menunggumu di rumah.”

Mendengar suara ayah, aku menahan sesak di dada dan menutup telepon.

Setelah itu, aku menyentuh perutku yang kini sudah rata dan air mata langsung menetes tanpa bisa dikendalikan.

Kata dokter janinnya baru saja terbentuk. Kalau aku datang sedikit lebih awal, mungkin hasilnya akan berbeda….

Nak, maaf, ibu nggak bisa melindungimu… maaf….

Aku menangis sejadi-jadinya.

Perawat yang sedang keliling masuk ke ruanganku. Meski sudah terbiasa dengan kejadian semacam ini, dia tetap tak bisa menyembunyikan rasa simpatinya.

“Keguguran itu masalah besar, kok kamu sendirian? Di mana suamimu? Kok dia nggak menemanimu?”

Aku hanya diam mendengar perhatian perawat.

Aku keguguran dan dirawat di rumah sakit, tapi satu-satunya yang peduli padaku hanyalah seorang perawat asing yang bahkan tidak mengenalku.

Sementara suamiku, kemungkinan besar saat ini baru saja bangun dari pelukan wanita lain.

Tangisanku perlahan mereda. Dengan getir, aku menjawab, “Dia sudah meninggal….”

Perawat itu terlihat terkejut, sorot matanya pun jadi penuh simpati.

Aku tidak peduli dengan larangan dokter, tetap bersikeras untuk pulang.

Melihat laporan keguguran di tanganku, tubuhku hampir tak kuat berdiri.

Janin yang kukandung, kini hanya tersisa di selembar kertas.

Namun, rasa sakit ini tidak seharusnya kutanggung sendiri.

Aku pulang ke rumah.

Begitu membuka pintu, rumah kosong. Seperti dugaanku, Richard tidak pulang semalam.

Pria dan wanita berada dalam satu ruangan di tengah malam, kalau bilang tak terjadi apa-apa, siapa yang bisa percaya?

Jika ini terjadi dulu, aku mungkin sudah meneleponnya berkali-kali.

Namun sekarang, aku hanya merasa sangat lelah.

Ponselku berdering, panggilan dari Richard.

Begitu kuangkat, langsung terdengar suaranya yang sangat perhatian.

“Ella, kamu nggak apa-apa, ‘kan? Tira lagi ada masalah dan mabuk semalam, pagi ini juga demam, aku lagi antar dia ke rumah sakit….”

Usai dia bicara, aku pun menjawab dengan datar, “Kalian bersama semalam.”

Nada suaraku sangat tenang. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Richard terdiam beberapa detik, lalu suaranya berubah menjadi marah.

“Ella, kok pikiranmu kotor sekali? Tira itu klienku! Dia mabuk dan aku menjaganya sebentar, itu hal yang wajar!”

“Tira lagi ada di sampingku sekarang. Dia baru cerai, suasana hatinya lagi buruk, sekarang malah sakit juga. Bisa nggak kamu jangan berpikiran kotor seperti itu? Jangan buat dia tambah stress!”

Mendengar suamiku begitu perhatian sama wanita lain, aku pun bertanya datar, “Kemarin waktu kamu tinggalin aku, kamu sempat kepikiran kalau kondisiku juga nggak baik?”

Richard sempat terdiam, lalu suara kesalnya kembali terdengar,

“Kamu bahkan sudah sampai rumah sakit, bakal terjadi apa emangnya?! Bisa nggak jangan cari gara-gara? Dengarkan aku, minta maaflah ke Tira, masalah ini bakal dianggap selesai.”

Mendengar ucapannya, tiba-tiba aku tertawa.

Mendengar suara tawaku, Richard mengira aku tidak marah lagi, dia pun berkata, “Baguslah, aku bakal ajak dia makan nanti, biar kamu bisa minta maaf dengan dia.”

Begitu menutup teleponnya, aku langsung memblokir semua kontak Richard.

Lalu memesan tiket pesawat paling pagi, tiga hari dari sekarang.

Aku dan Richard dulunya teman kuliah. Kami pacaran tiga tahun dan sudah menikah tiga tahun juga.

Belum sampai ke masa tujuh tahun jenuh, rumah tangga kami sudah lebih dulu retak.

Setiap pertengkaran kami pasti karena Tira.

Di hari ulang tahun pernikahan kami, katanya pipa air rumah Tira bocor.

Di hari ulang tahunku, katanya tangan Tira kena air panas.

Setiap kali, Richard selalu pergi begitu saja hanya karena satu telepon darinya.

Bahkan saat aku keguguran, dia tetap tak menjalankan tanggung jawab sebagai suami, apalagi calon ayah….

Bab 2

Tubuhku masih terasa lemas, aku tertidur dengan kepala berat hingga tengah malam.

Sampai akhirnya, Richard pulang dan menyalakan lampu kamar.

Wajahnya tampak kesal, “Ella, kok kamu memblokirku?”

Melihat aku tak menjawab, dia malah mendekat dan dengan kasar menyelipkan tangan dinginnya ke dalam baju tidurku, menempel di perutku.

Tubuhku yang sudah tidak enak malah jadi semakin tersiksa.

Richard menarik tangannya kembali, lalu melanjutkan, “Ini akibatnya kamu suka ngambek. Sudah kubilang, aku dan dia hanya hubungan pengacara dan klien. Aku membantunya hanya karena kasihan saja.”

Perutku makin nyeri, benar-benar tak punya tenaga untuk berdebat dengannya.

Richard menghela napas, “Sudahlah, jangan marah lagi. Aku salah soal kemarin, aku bakal berubah ke depannya, ya?”

Ucapan basa-basinya itu sudah terlalu sering kudengar. Tapi nyatanya, hanya aku yang selalu menganggap semuanya serius.

Memikirkan semua itu membuat hatiku terasa getir.

Melihat wajahku yang pucat, Richard langsung menawarkan diri untuk membuatkan air gula merah.

“Kamu lagi datang bulan? Kamu itu nggak pernah jaga kesehatan. Kubuatkan air gula merah, ya. Aku begitu baik padamu, tapi kamu malah selalu membuatku kesal saja.”

Perhatian Richard itu membuatku tertegun sejenak. Perempuan yang sedang hamil tak akan datang bulan. Ternyata Richard memang tak pernah benar-benar peduli padaku.

Saat sibuk di dapur, dia lupa membawa ponselnya.

Layar ponselnya menyala, ada pesan dari seseorang bernama ‘Tira Si Menyebalkan’.

Aku mengalihkan pandangan, lalu meraih tangan untuk mengambil air hangat di atas nakas.

Entah sejak kapan Richard kembali, tapi dia bergerak cepat dan langsung mengambil ponselnya.

Dia tak sengaja menyenggol gelasku, air panas tumpah ke punggung tanganku. Seketika, tanganku langsung memerah karena panas.

“Kamu ini maunya apa sih?! Sudah kubilang, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Tira, kok kamu malah diam-diam mengintip ponselku pas aku nggak ada. Bisa nggak sih kamu jangan begitu sensitif?!”

Aku menatap sorot mata paniknya, lalu menjawab datar,

“Aku hanya mau minum air.”

Sikapku membuat Richard sedikit tercengang, sepertinya dia sadar kalau reaksinya tadi terlalu berlebihan. Dia pun berkata, “Masih nggak mengaku. Tanganmu kena air panas, ‘kan? Sini, biar kulihat.”

Dia menarik tanganku dan meniupnya pelan-pelan

“Aku ini suamimu, kalau kamu saja nggak percaya padaku, siapa lagi yang percaya padaku? Yang paling penting dalam pernikahan itu kepercayaan….”

“Oh begitu?”

Aku memotong ucapannya dan menatap matanya lekat-lekat.

Seolah dengan begitu aku bisa melihat isi hatinya yang terdalam.

“Tentu saja.”

“Bayi kita sudah besar sekarang, pasti sudah nggak apa-apa, ‘kan?”

Dia sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan sambil bicara, dia mendekat seolah ingin menunjukkan keintiman. Aku sedikit memiringkan kepala, menghindari gerakannya.

Wajahnya terlihat agak kesal, seperti ingin mengatakan sesuatu.

Namun, tiba-tiba ada orang yang datang.

Itu adalah Tira. Dia berdiri di ruang tamu dengan lingerie renda yang sexy, rambutnya berantakan dan matanya memerah.

Richard reflek ingin menghampirinya, tapi sempat melirik ke arahku dulu, lalu berpura-pura tenang dan berkata,

“Kenapa kamu datang ke sini tengah malam begini?”

Aku menatap mereka dengan datar dan bertanya, “Kok dia bisa tahu kata sandi pintu rumah kita?”

Richard tampak agak canggung, menjawab, “Waktu mengurus perkara kemarin, dia sempat ketinggalan barang di sini. Karena kita nggak ada di rumah, jadi aku menyuruhnya ambil sendiri.”

Tira meringkuk ketakutan dan menjawab, “Kak Ella, yang dibilang Pak Richard itu benar. Maaf sudah merepotkan kalian, rumahku tiba-tiba mati lampu, aku takut sendirian, jadi….”

Richard melangkah maju dan menyelimuti tubuhnya dengan jaket, menatapnya dengan sorot mata penuh iba.

Bab 3

“Nggak apa-apa, kamu tinggal di sini saja malam ini. Besok pagi aku bakal periksa ke rumahmu. Pakai ini, jangan sampai masuk angin.”

Tatapan Tira padaku pun berubah, tampak sedikit menantang.

Dia menggigit bibir bawahnya dan berkata, “Kak Ella, kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pergi. Jangan sampai marah dengan Pak Richard gara-gara aku.”

Wajah Richard tampak kesal, “Dia sudah seperti ini, kamu masih mau mempersulitnya? Dia hanya gadis kecil dan baru juga bercerai, kamu nggak bisa lebih toleransi padanya?”

Tubuhku rasanya sudah tak kuat berdiri. Nyeri di perut bagian bawah terasa begitu menyiksa sampai-sampai aku tak bisa dengar jelas apa yang Richard katakan.

“Terserah kalian.”

Ujarku, lalu berbalik masuk ke kamar tidur.

Richard sempat terdiam sedetik, lalu mengantar Tira ke kamar tamu.

Semangkuk air gula merah itu pun ikut terbawa ke sana.

Malam itu, Richard tidak kembali ke kamar. Bisa ditebak, dia berada di mana.

Aku dan Richard sudah berpacaran sejak kuliah.

Pernah suatu malam, sepulang kencan saat berjalan kembali ke kampus, kami bertemu sekelompok preman.

Mereka berkata kasar padaku dan mencoba menyentuhku. Richard langsung berdiri di depanku, melindungiku, tapi lawannya tiga pria dewasa.

Diam-diam, aku pun menelepon polisi. Saat polisi datang, Richard sudah tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.

Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.

Bagaimana bisa hubungan kami jadi seperti ini?

Keesokan paginya, hanya tersisa aku seorang diri di rumah.

Aku mulai berkemas, meski barang-barangku memang tak banyak. Semua yang pernah diberi Richard, kutinggalkan. Tak kusentuh, tetap di tempat semula.

Pintu kamar tamu terbuka dan aku langsung melihat sepotong bra sexy tergeletak di ujung ranjang.

Aku berjalan mendekat, mengambil ponsel dan memotret benda itu.

Baru saja hendak pergi, aku bertemu orang tua Richard.

Mereka tampak senang dan langsung menarikku, bilang ingin pilih restoran untuk syukuran kelahiran bayi nanti dan cari tempat perawatan pasca melahirkan.

Dadaku terasa sesak. Dengan getir, aku pun menjawab, “Masih terlalu dini.”

Namun, mereka tetap antusias, bahkan menelepon Richard.

“Halo, ada apa ayah ibu?”

Suara Richard terdengar, disusul suara perempuan yang tak bisa diabaikan.

“Richard, sepertinya braku ketinggalan di rumahmu. Bagaimana ini? Mungkin nggak dia melihatnya?”

Orang tua Richard yang tadinya ingin bicara langsung terdiam, lalu buru-buru mematikan penguat suara.

“Dasar kamu! Cepat pulang! Suruh wanita nakal itu pergi jauh-jauh! Kamu mau pancing emosi aku dan ibumu?!”

Aku mengambil tas, tak ingin ikut menyaksikan drama ini lebih lama. Aku pun berpamitan, “Ayah, ibu, aku ada urusan, harus pergi dulu.”

Mereka seperti ingin bicara, tapi akhirnya hanya diam.

Aku pun naik taksi menuju kantor.

Dulu, setelah lulus kuliah, ayah ingin aku pulang dan belajar mengelola perusahaan keluarga.

Namun, aku bersikeras membuka kantor pengacara bersama Richard. Karena bukan lulusan hukum, aku hanya bisa bantu-bantu administrasi.

Sesampainya di kantor, aku langsung menuju mejaku dan mulai membereskan barang-barang.

Dari pantry, terdengar bisik-bisik.

“Perempuan memang kasihan, sudah susah payah bantu bangun bisnis dari nol, tapi ujung-ujungnya tetap seperti itu.”

“Kamu nggak lihat wanita yang datang kemarin itu? Manja sekali, nggak paham kenapa bos bisa suka. Bahkan gara-gara dia, satu klien besar kita kabur. Tapi, bos sama sekali nggak marah!”

Tanganku sempat terhenti, lalu kembali melanjutkan beres-beres.

Ponsel di meja terus-terusan berbunyi, menampilkan pesan-pesan baru. Aku pun membalikkan layar ponselnya.

Tak lama kemudian, Richard datang. Melihat tindakanku, wajahnya langsung muram, “Kamu apain?”

Dengan ekspresi datar, aku menjawab, “Nggak mau kerja lagi. Aku mau fokus kehamilanku saja di rumah.”

Saat Hati Menyesal

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya