Bab 6
Reina mematung dan tidak bisa berkutik, dia tidak percaya semua hal ini terjadi.
Reina berusaha meronta dan menolak, tetapi usahanya sia-sia.
Maxime baru kembali tenang setelah mencapai puncak kepuasan.
Di luar, langit sudah mulai terang.
Maxime melirik tubuh Reina yang ringkih, lalu mendapati ada noda merah di kasur. Maxime merasakan sesuatu, tetapi dia tidak bisa menjelaskannya.
"Plak!"
Reina mengangkat tangannya dan menampar wajah Maxime kuat-kuat.
Tamparan ini sekaligus mematahkan semua ilusinya tentang cinta.
Telinga Reina kembali berdengung, dia tidak bisa mendengar apa yang Maxime katakan dan langsung membentaknya, "Keluar!"
Maxime pun pergi.
Adegan semalam terus berputar di benaknya.
Maxime kembali ke mobilnya dan berkata pada Ekki, asistennya, "Selidiki pria mana saja yang Reina kenal."
Ekki bingung.
Mana mungkin ada pria lain? Setelah menikah setiap hari Reina hanya mencintai Pak Maxime, mana mungkin ada pria lain?
...
Di motel, setelah Maxime pergi.
Reina mandi dan menggosok dirinya berulang kali.
Mendekati perceraian mereka baru melakukan hubungan suami istri? Benar-benar konyol dan juga ... miris ....
Jam 9 pagi, Revin datang membawa sarapan tetapi tidak menyadari ada yang aneh dari Reina.
"Ah, semalam aku lupa kasih tahu. Kebetulan aku punya apartemen kosong, bagaimana kalau kamu tinggal di sana?"
"Nggak aman seorang gadis sepertimu tinggal di motel sendirian."
Reina menggeleng dan menolak.
Balas budi adalah hal yang paling sulit dilakukan, Reina tidak ingin utang budi pada orang lain.
Revin sudah menduga Reina akan menolaknya, dia pun membujuk, "Sudah, nggak apa-apa, kamu tinggal saja di sana. Lagian, aku akan menagih biaya sewa."
"Tapi paling aku hanya akan tinggal selama sebulan."
"Nggak masalah, lebih baik daripada kamar itu kosong sebulan."
Sebenarnya Revin tidak paham kenapa Reina bilang dia hanya akan tinggal selama sebulan, karena baginya waktu mereka bersama masih sangat panjang.
Revin mengantar Reina ke sana.
Reina hanya membawa sebuah koper, tidak ada barang lain.
Setelah masuk ke mobil, Revin mengobrol dengan Reina tentang masa kecil mereka, lalu Revin menceritakan seperti apa hidupnya setelah mereka berpisah.
Revin pergi ke luar negeri setelah lulus SMA dan bekerja keras untuk membiayai pendidikannya di luar negeri. Di umur 20 tahun, dia berhasil mendirikan perusahaan sendiri dan sekarang dia bisa dibilang sudah jadi seorang bos.
Reina kagum mendengar pencapaian Revin yang luar biasa, lalu berkaca pada dirinya sendiri.
Setelah lulus, dia menikah dengan Maxime dan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Reina menatap Revin dengan kagum, "Kamu hebat banget."
"Kamu juga hebat! Setelah kamu pergi dari kampung, aku masih mencari berita tentangmu. Kamu pernah masuk berita karena meraih juara satu sebagai pianis muda, 'kan? Waktu itu kamu adalah idolaku ...."
Revin tidak memberi tahu Reina.
Di awal ceritanya mengadu nasib di luar negeri, sebenarnya hidup Revin sangat susah, dia banyak belajar hal buruk bahkan sampai ingin menyerah terhadap diri sendiri.
Sampai suatu hari, dia melihat sosok Reina di berita internasional. Waktu itu Reina terlihat seperti cahaya yang mendorong Revin untuk bangkit dan kembali berjuang.
Revin memuji kehebatan Reina dan Reina mendengarkan dengan saksama, karena dia sendiri hampir melupakan masa-masa itu.
Akhirnya mereka sampai.
Sebelum masuk ke dalam, Reina berujar, "Terima kasih ya, bahkan aku hampir lupa seperti apa diriku yang dulu."
Reina tinggal di tempat Revin.
Masih ada belasan hari sebelum tanggal 15 Mei tiba, hari di mana Reina dan Maxime akan resmi bercerai.
Tiba-tiba, dia teringat janjinya pada Treya.
Suatu pagi, Reina pergi membeli guci abu.
Kemudian, dia pergi ke sebuah studio foto. Semua staf studio itu menatap Reina dengan bingung karena dia meminta foto dirinya dicetak hitam putih.
Reina pulang setelah semua urusannya selesai.
Di rumah, Reina melamun sembari menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba ponsel Reina berdering.
"Nana, siapa yang menyuruhmu memberiku uang? Aku nggak butuh uang itu, kamu simpan saja untuk nanti, mungkin kamu mau berbisnis atau ada keperluan lain ...."
Selama ini, Reina memang diam-diam sering memberi uang pada Lyann.
Lyann tinggal di kampung sehingga tidak butuh banyak uang, jadi selama ini dia selalu menyimpan uang pemberian Reina.
Air mata mulai membasahi wajah kuyu Reina saat dia mendengar omelan Lyann yang sangat menyayanginya.
"Bu Lyann, apa Ibu mau menjemputku sama seperti waktu kecil dulu?"
Lyann bingung.
Reina melanjutkan, "Tanggal 15 nanti, aku mau Bu Lyann menjemputku pulang ke rumah kita."
Lyann tidak mengerti, ada apa dengan tanggal 15?
"Oke, Ibu jemput kamu ya tanggal 15 nanti."
Belakangan ini pihak rumah sakit sering mengiriminya pesan dan memintanya melakukan pemeriksaan kesehatan, tetapi semua ini ditolak dengan sopan oleh Reina.
Bagaimanapun, dia sudah memutuskan untuk pergi dari dunia ini, tidak ada gunanya membuang uang untuk pengobatan.
Reina membuka buku tabungannya dan melihat masih ada uang dua ratusan juta, Reina berencana memberikan uang ini pada Lyann untuk biaya masa tuanya.
Dalam beberapa hari terakhir, Kota Simaliki terus diguyur hujan.
Revin sering mengunjunginya dan selalu mendapati Reina sedang duduk melamun sendirian di teras.
Revin juga menyadari pendengaran Reina semakin memburuk karena meski Revin sudah berkali-kali mengetuk pintu, Reina tetap tidak mendengarnya.
Di sisi lain, di Grup Sunandar.
Setelah selesai bekerja, Maxime terbiasa melirik ponselnya untuk melihat apa ada pesan dari Reina atau tidak. Setiap kali mendapati tidak ada pesan dari Reina, tatapan Maxime sontak berubah menjadi suram.
Saat ini, Ekki masuk ke ruangannya.
"Pak Maxime, kami sudah tahu siapa pria itu. Namanya Revin, dia adalah teman masa kecil Reina."
Apa yang Maxime ketahui sama dengan berita yang beredar. Itu adalah teman masa kecil Reina, Revin Lander.
Ekki melaporkan, Revin adalah pria yang Reina kenal sewaktu di kampung dulu.
Artinya, Reina mengenal Revin lebih dulu dibanding mengenal Maxime.
Maxime mengernyit kesal begitu mengingat pria bermata genit itu.
"Pak Maxime, Pak Jovan masih menunggumu di luar."
Maxime menjawab, "Bilang padanya hari ini aku masih ada kerjaan."
Ekki terkejut.
Beberapa hari belakangan, Pak Maxime selalu pergi bersenang-senang dengan para anak orang kaya itu setelah selesai bekerja, ada apa hari ini? Tumben?
Maxime turun ke bawah dengan lift khusus untuknya dan naik ke mobilnya di garasi, kemudian melajukan mobilnya ke motel tempat Reina menginap.
Namun, sesampainya di sana, Maxime baru tahu kalau Reina sudah pindah beberapa hari yang lalu.
Seketika, Maxime merasa kesal. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Reina.
Baru saja Maxime memutuskan akan meneleponnya, masuklah telepon dari Marshanda.
"Ada apa?"
"Max, kata Ibu Reina, Reina sedang bersiap menikah."
Maxime tercekat.
Marshanda pergi menemui ibu dan adik Reina.
Dari keduanya-lah Marshanda tahu bahwa Reina akan menikahi seorang kakek tua demi uang 600 miliar.
Melihat Maxime hanya diam saja, Marshanda kembali mengompori.
"Kata ibunya, Reina yang minta mahar sebesar 600 miliar. Nggak kusangka ternyata dia seperti itu."
"Dia juga bilang karena belum melewati masa tenang, dia nggak enak mengadakan pesta, jadi dia berencana menikah secara sipil dulu."
...
Padahal faktanya, Reina tidak tahu menahu rencana ibu dan adiknya yang sedang mempersiapkan pesta pernikahan untuknya. Reina sendiri tidak menganggap serius pembicaraannya dengan Treya waktu itu.
Hari ini, Reina baru mendapat pesan dari ibunya, "Pak Jeremy sudah menentukan hari pernikahanmu, tanggal 15 bulan ini."
"Masih ada empat hari lagi, siapkan dirimu dengan baik. Kali ini, kamu harus bisa menjaga perasaan Pak Jeremy, ngerti?"
Entah bagaimana Reina harus menjelaskan perasaan yang timbul di hatinya ini.
Tanggal 15 ....
Hari yang penuh kegembiraan ....
Hari di mana dia dan Maxime akan bercerai.
Hari dia dipaksa menikah dengan kakek tua ....
Juga hari di mana dia sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia ini ....
Reina takut melupakan semua hal penting ini, jadi dia mencatatnya di buku catatannya.
Setelah selesai mencatat, Reina menulis surat wasiat.
Reina menggenggam pulpennya untuk waktu yang cukup lama, dia tidak tahu mau menulis apa. Akhirnya, dia menulis surat untuk Lyann dan Revin.
Surat itu dia selipkan di bawah bantal.
Tiga hari kemudian.
Hari ini tanggal 14 dan hujan turun dengan sangat deras.
Ponsel Reina yang ada di atas meja terus berdering.
Treya meneleponnya tanpa henti dan menanyakan keberadaannya.
Karena besok Reina akan menikah, Treya menyuruh Reina pulang supaya bisa menyiapkan pernikahan dengan baik.
Reina tidak mengangkat telepon atau membalas pesan Treya. Hari ini dia memakai gaun panjang berwarna merah muda cerah dan merias wajahnya.
Meski pada dasarnya dia sudah cantik, tubuhnya saat ini terlalu kurus dan wajahnya terlalu pucat.
Reina menatap pantulan dirinya yang cantik di cermin, saat ini dia seolah kembali seperti sebelum menikah dengan Maxime.
Setelah itu, Reina naik taksi dan pergi menuju sebuah pemakaman.
Reina turun dari taksi sambil memegang payung, lalu berjalan perlahan menuju batu nisan ayahnya dan meletakkan buket bunga aster putih.
"Ayah."
Angin dingin menderu mengiringi butiran air hujan yang jatuh di atas payung.
"Maaf .... Awalnya aku nggak mau datang ke sini, tapi sekarang aku benar-benar nggak punya tempat tujuan. "
"Aku mengaku, aku itu pengecut dan takut berjalan sendirian. Itu sebabnya aku memutuskan untuk datang ke sini ...."
"Kalau Ayah mau marah, marahi saja aku."
Reina berujar pelan, lalu duduk di samping batu nisan dan memeluk dirinya sendiri.
Dia kembali menyalakan ponselnya dan mendengar pesan suara Treya satu per satu.
"Reina! Kamu pikir kamu bisa kabur dengan bersembunyi?"
"Adikmu sudah mengambil uang itu. Pak Jeremy juga punya mata-mata di mana-mana, kamu pikir dia akan melepaskanmu?"
"Coba kamu pikir, lebih baik menikah baik-baik daripada diseret di hari pernikahanmu sendiri, 'kan?"
"Kamu harus tahu diri, sekarang ini ...."
Reina membaca semua pesan itu dalam hati.
Setelah itu, dia mengetik balasan, "Aku nggak mau pulang. Besok, kalian bisa menjemputku di pinggir barat kota. Kutunggu kalian di depan batu nisan Ayah."
Treya tidak berpikir macam-macam saat membaca pesan Reina, karena sudah mendapat balasan, Treya pun tidak lagi mengganggu Reina.
Reina menikmati saat-saat damai seperti ini.
Dia akan duduk di sini sepanjang hari.
Waktu malam tiba, dia mengeluarkan patung kayu kecil yang diukir ayahnya untuknya ketika dia masih kecil. Reina memegangnya dengan hati-hati, menggunakan tubuhnya untuk melindungi patung itu dari malam yang gelap dan hujan lebat.
Waktu berlalu menit demi menit, sampai akhirnya tepat pukul 12 malam.
Tanggal 15 pun tiba.
Reina menatap langit gelap yang tak berujung, hatinya penuh kepahitan.
Pukul tiga dini hari.
Dengan tangan gemetar, Reina mengeluarkan sebotol obat dari tasnya ....
Bab 7
Saat ini, di Vila Magenta.
Waktu pulang, Maxime langsung duduk di sofa di ruang tamu tanpa menyalakan lampu.
Saking lelahnya, Maxime memijit pelipisnya lalu tertidur, tetapi tidak berapa lama dia kembali terbangun.
Aneh sekali.
Lagi-lagi dia mimpi buruk tentang Reina.
Dalam mimpinya, dia melihat Reina sudah mati dan hal itu terasa sangat nyata ....
Maxime melirik ponselnya, sekarang baru jam empat pagi.
Maxime sadar hari ini adalah hari terakhir masa tenang dan mereka sepakat untuk bercerai.
Maxime pun tidak menahan diri dan mengirimkan sebuah pesan pada Reina, "Jangan lupa, hari ini kita harus urus perceraian."
Reina sudah mulai tidak sadar saat menerima pesan Maxime, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk mengetik pesan balasan.
"Maaf ... sepertinya aku nggak bisa datang."
"Tapi, kamu nggak usah khawatir. Perceraian kita akan tetap berjalan ...."
Kalau Reina meninggal, tentu pernikahan mereka tidak lagi berlaku.
Maxime merasa lega setelah mendengarkan pesan suara Reina.
Sudah Maxime duga, mana mungkin wanita itu mati?
Reina tidak mungkin mati dan tidak mungkin rela bercerai darinya.
Maxime pun menelepon Reina.
Selama ini, sebenarnya Reina hampir tidak pernah menerima telepon dari Maxime.
Maxime jarang sekali bicara basa-basi dengannya, komunikasi mereka hanya melalui pesan.
Reina mengangkat panggilan itu, tetapi sebelum dia sempat menyahut, perkataan dingin Maxime sudah lebih dulu mendarat di telinganya.
"Reina, kesabaranku juga ada batasnya. Bukannya kamu yang mau bercerai?"
"Sekarang kamu menyesal karena aku nggak memberimu uang?"
"Kamu mau menikah dengan orang lain, memangnya uang 600 miliar nggak cukup?"
Reina tercekat.
Tiba-tiba dia tidak bisa mendengar apa pun.
Namun, Reina tidak mau disalahkan untuk hal yang tidak dia lakukan, jadi dia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menjawab.
"Max ... aku menikahimu ... sama sekali bukan karena uang."
"Sekarang aku ingin bercerai ... juga bukan demi uang ...."
"Mungkin kamu nggak akan percaya, tapi aku cuma mau bilang ... aku sama sekali nggak tahu ... masalah tentang ibu dan adikku yang melanggar perjanjian."
"Sekarang, aku juga nggak akan ... menikahi orang lain hanya demi uang 600 miliar ...."
Suara Reina putus-putus.
Maxime bisa mendengar angin yang menderu kencang dan suara hujan di ujung telepon.
"Kamu ada di mana sekarang?"
Reina tidak bisa mendengar suara Maxime, dia meremas erat ponselnya dan terus menjelaskan.
"Kalau ... aku tahu ibu dan adikku akan berbuat seperti itu, aku pasti ... nggak akan mau menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... hanya ada Marshanda di hatimu ... aku nggak akan menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... ayahku akan kecelakaan di hari pernikahanku, aku juga nggak akan ... menikah denganmu."
Tidak akan! Tidak akan menikah dengan Maxime!
Dari kata-kata Reina, Maxime bisa mendengar kepahitan yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
Maxime juga mendengar Reina sangat menyesal sudah menikah dengannya ....
Maxime tercekat, rasanya ada bola yang mengganjal tenggorokannya.
"Apa hakmu menyesal? 'Kan kamu yang dulu merengek untuk menikah denganku?"
Suara berat Maxime terdengar agak serak.
Di ujung telepon, suara Reina yang terus melemah pun semakin tidak terdengar.
"Reina! Kamu ada di mana sekarang?"
Sampai akhir, Maxime tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, dia hanya mendengar kata-kata terakhir Reina.
"Sebenarnya .... Aku selalu berharap supaya kamu bahagia. "
"Buk!"
Ponsel Reina jatuh dari tangannya.
Hujan membasahi ponsel itu dan lambat laun layarnya menjadi gelap.
...
Di Vila Magenta.
Maxime jadi panik waktu panggilannya terputus.
Dia menelepon kembali, tetapi langsung disambut jawaban operator, "Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi ...."
Maxime berdiri, mengenakan mantelnya dan bersiap pergi.
Namun, langkahnya terhenti di depan pintu.
Reina pasti sedang bermain tarik ulur.
Mereka berdua akan segera resmi bercerai, Reina tidak ada hubungannya dengan Maxime.
Maxime pun kembali ke kamar, tetapi entah mengapa dia tidak bisa tidur.
Perkataan Reina terus terngiang di benaknya.
"Kalau ... aku tahu ibu dan adikku akan berbuat seperti itu, aku pasti ... nggak akan mau menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... hanya ada Marshanda di hatimu ... aku nggak akan menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... ayahku akan kecelakaan di hari pernikahanku, aku juga nggak akan ... menikah denganmu."
Maxime bangun lagi dan tanpa sadar berjalan ke kamar Reina.
Sudah sebulan Reina meninggalkan tempat ini.
Maxime membuka pintu kamar dan mendapati kamar itu gelap, suasananya sangat muram.
Maxime menyalakan lampu, kamar Reina sangat kosong, tidak ada barang pribadi yang tersisa.
Maxime duduk di kasur dan membuka laci meja di sampingnya, di dalam ada sebuah buku catatan kecil.
Hanya ada satu kalimat yang tertulis di sana.
"Menurutku orang yang memilih untuk pergi adalah yang paling menderita karena dia sudah melewati berbagai macam pergumulan batin sebelum akhirnya mengambil keputusan."
Maxime mencibir saat membacanya, "Menderita?"
"Kamu pikir aku nggak menderita selama bersamamu?"
Maxime membuang buku itu ke tempat sampah.
Namun, sesaat sebelum meninggalkan kamar Reina, dia kembali meletakkan buku catatan itu di atas meja.
Setelahnya, Maxime tetap tidak bisa tidur.
...
Di sisi lain.
Revin juga tidak bisa tidur nyenyak, dia merasa ada yang tidak beres dengan Reina dalam dua hari terakhir, tetapi dia tidak tahu apa yang janggal.
Sekitar pukul empat pagi, Lyann meneleponnya.
"Vin, apa kamu bisa membantuku? Coba jenguk Reina, barusan aku mimpi aneh."
Revin pun duduk di kasur, "Mimpi apa?"
"Aku mimpi sesuatu terjadi pada Nana. Dia datang padaku dalam kondisi basah kuyup dan memintaku jangan sampai lupa menjemputnya pulang."
Tangis Lyann pun pecah. "Aku takut terjadi sesuatu padanya, teleponnya nggak diangkat dari tadi."
"Beberapa hari yang lalu, dia menyuruhku untuk menjemputnya di tanggal 15."
"Aku merasa ada yang nggak beres ...."
Revin mendengarkan cerita Lyann sampai selesai lalu menggabungkannya dengan sikap Reina belakangan ini. Revin pun langsung ganti baju.
"Jangan khawatir, aku akan mencarinya sekarang."
Rumahnya sangat dekat dengan apartemen tempat Reina tinggal.
Revin sampai sepuluh menit kemudian dan langsung membuka pintu kamar, tetapi yang menyambutnya adalah suasana sunyi.
Pintu kamar tidur Reina terbuka dan di dalamnya kosong.
Reina tidak ada di rumah.
Pergi ke mana wanita itu?
Revin melihat ada dua buah amplop di dekat bantal, dia mengambil dan membukanya. Setelah dibaca sedikit, barulah dia sadar kalau itu adalah surat wasiat.
Salah satunya adalah pesan untuk Revin.
"Revin, uang sewa kamar ini sudah aku transfer ke rekeningmu, ya. Terima kasih sudah menjagaku belakangan ini."
"Kamu tahu nggak, aku itu nggak punya teman sejak datang ke Kota Simaliki. Sebelum akhirnya bertemu denganmu, kukira aku ini orang yang nggak berguna sampai nggak ada yang mau berteman denganku."
"Untungnya, kita bisa bertemu. Kamu membuatku sadar kalau ternyata aku nggak sejelek itu. Terima kasih banyak, ya .... Kamu nggak boleh sedih, aku cuma mau ketemu ayah, dia pasti akan menjagaku."
Surat wasiat lainnya ditulis untuk Lyann.
Revin membuka surat itu dan membaca isi suratnya. Di baris terakhir surat, dia menemukan sebuah alamat untuk Lyann.
Revin bergegas pergi.
Alamat yang berada di pinggir barat kota itu tidak jauh dari posisinya sekarang, bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan mobil.
Namun, bagi Revin sekarang, tempat itu terasa sangat jauh.
Dia tidak mengerti bagaimana seseorang yang dulunya begitu cemerlang dan punya masa depan yang cerah bisa-bisanya memilih untuk mati.
Di saat bersamaan, Treya juga menuju pinggir barat kota.
Hanya saja, Treya datang menjemput Reina yang akan dijualnya seharga 600 miliar pada kakek tua.
Di Heaven Stair, sebuah taman makam di pinggir barat Kota Simaliki.
Hujan turun begitu deras.
Reina terkulai di depan batu nisan ayahnya. Hujan deras membuat tubuhnya basah kuyup, rupanya saat ini seperti setangkai bunga layu di pinggir jalan yang bisa menghilang dari dunia dalam sekejap.
Revin menerobos hujan dan berlari menghampiri Reina.
"Reina!!"
Hanya suara angin dan hujan yang menjawab teriakan Revin, tidak ada respons apa pun dari Reina. Saat Revin memeluknya, barulah dia sadar ada sebotol obat kosong di samping Reina.
Revin mengangkat tubuh Reina dengan tangan gemetar.
Ringan sekali tubuhnya?
"Reina, bangun!"
"Reina, sadarlah!"
Revin terus memanggil Reina sambil menggotongnya ke mobil.
...
"Nyonya, kita sudah sampai," kata sopir.
Treya melihat ke luar jendela dan melihat seorang pria asing sedang menggendong ... Reina.
"Bagus sekali ya kelakuanmu, Reina!"
Trenya mengernyit dan turun dari mobil.
Hari ini, Treya mengenakan gaun berwarna merah meriah, percikan air hujan membasahi gaunnya.
Treya bergegas menghampiri untuk memarahi Reina.
Namun, saat Treya baru saja mau buka mulut, dia mendapati Reina bersandar lemas di pelukan Revin, wajahnya pucat dan matanya terpejam ....
Treya mematung.
"Reina ...."
Treya baru akan bertanya apa yang terjadi saat matanya tertuju pada botol obat yang tertiup angin.
Treya buru-buru mengambil botol obat itu dan membaca labelnya, "Obat Tidur."
Treya jadi teringat perkataan Reina beberapa hari yang lalu.
"Kalau aku mengembalikan nyawaku padamu yang sudah melahirkanku, apa artinya kamu bukan lagi ibuku dan aku nggak lagi berutang padamu?"
Payung di tangan Treya jatuh ke tanah.
Treya meremas botol obat di tangannya sambil menatap Reina tidak percaya, entah matanya basah karena hujan atau air mata.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini!"
"Nyawamu itu milikku!"
Bibir merah merona Treya bergetar.
Diego tidak ikut turun, dia tetap di mobil dan jadi bertanya-tanya kenapa ibunya berdiri lama sekali di tengah kuburan.
Diego pun menyusul dan langsung terhenyak begitu tahu kondisinya.
Dia tidak menyangka kakaknya benar-benar berani bunuh diri ....
Diego yang sadar dari lamunannya pun jadi panik, "Bu, bagaimana ini? Uang Pak Jeremy sudah kupakai untuk membuka perusahaan baru."
Sekarang akhirnya Revin mengerti kenapa Reina yang awalnya ceria dan kuat berubah menjadi seperti ini!
Treya mengepalkan tinjunya, sorot matanya terlihat murka. Dia berteriak, "Kenapa kamu nggak mati setelah menikah saja? Kenapa!"
Revin tidak sanggup mendengarkan ucapan ibu dan adik berhati kejam ini.
"Pergi!"
"Jangan sampai aku mengulangi perkataanku."
Treya dan Diego baru menyadari ternyata pria di hadapan mereka cukup berkarisma, sama seperti Maxime.
"Siapa kamu?" Diego melangkah maju. "Dia itu kakakku, apa hakmu mengusir kami?"
Setelah itu, Diego berujar pada Treya, "Bu, orang-orang Pak Jeremy sudah mendesak kita, katanya kalau nggak segera mengantar Reina, mereka akan menghajar kita."
Treya menenangkan diri lalu berujar dengan kejam, "Masukkan dia ke mobil, dalam kondisi mati pun dia harus menyelesaikan prosedur pernikahannya dulu."
Bab 8
"Oke!"
Diego berjalan mendekat, bersiap bertarung dengan Revin untuk merebut Reina.
Tidak disangka, Diego baru saja menjulurkan tangan, tubuhnya sudah lebih dulu dihajar dan ditendang Revin.
"Buak!" Diego sampai terlempar beberapa meter ke belakang, dia menangkupi dadanya dan tidak bisa berkata-kata.
Treya langsung membantu Diego berdiri, lalu menatap Revin dengan marah, "Berani sekali kamu menendang anakku!"
Revin menggendong Reina sambil menatap kedua orang itu dengan dingin.
Buliran air hujan menetes dari ujung rambut Revin.
Dia berjalan menghampiri Treya dan Diego, selangkah demi selangkah. Sosoknya sangat berbeda, dia terlihat tegas dan garang.
"Kalian cari mati?"
Treya dan Diego ketakutan dengan sosok Revin, seketika mereka diam membisu.
Sambil membopong Reina, Revin tidak lupa mengingatkan Treya.
"Dalam surat wasiatnya, Nana bilang dia punya rekaman di mana kamu berjanji untuk memutuskan hubungan dengannya, kamu nggak lupa, 'kan?"
Reina tidak mau jadi putrinya lagi ....
Reina tahu sebenarnya rekaman itu tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak bisa memutuskan hubungan ibu-anak di antara mereka.
Namun, Reina paham betul sifat Treya.
Treya adalah orang yang gila hormat.
Kalau rekaman ini sampai terungkap ke publik, dia akan dicap sebagai ibu yang sudah mencelakai putrinya.
Setelah diancam oleh Revin, Treya dan Diego pun pergi.
Dari kaca spion mobil, Treya melirik putrinya yang terlihat sudah tidak bernyawa dalam pelukan Revin, dia mengepalkan tinjunya kuat-kuat.
"Jangan salahkan Ibu, ini semua salahmu sendiri yang nggak berguna dan nggak mampu merebut hati Maxime."
"Kamu yang membawa semua petaka ini pada dirimu sendiri."
Treya merasa sedih, tetapi hanya sesaat.
Dibanding dengan kematian putrinya, dia lebih peduli bagaimana caranya menjelaskan situasi ini pada Pak Jeremy.
Revin membawa Reina ke rumah sakit terdekat.
Reina dibawa masuk ke ruang operasi.
Lampu ruangan operasi menyala terang dan membuat hati Revin menegang, dia sangat gelisah.
Dokter yang menangani Nana keluar ruangan dan memanggil pihak keluarga, "Kondisi pasien kurang optimis, di mana anggota keluarganya?"
Revin tercekat.
"Dia ... kenapa?"
"Apa Anda adalah anggota keluarga pasien? Silakan tanda tangani surat keterangan sakit kritis. Pasien mungkin nggak bisa diselamatkan," jawab dokter.
Revin tercekat. Dia yang tidak bisa menerima fakta ini langsung bertindak kasar dan mencengkeram kerah dokter.
"Nggak ada yang namanya sakit kritis. Kalau dia nggak selamat, aku akan menguburkan kalian semua di rumah sakit ini bersamanya!"
Revin menyingkirkan dokter itu ke samping.
Sebelum dokter itu sempat merespon, sekelompok ahli medis terkenal Kota Simaliki berjas putih bergegas menghampiri.
Mereka semua membungkuk hormat waktu melihat Revin. "Pak Revin."
Revin memerintah, "Selamatkan dia."
"Baik."
Dokter tadi baru sadar kalau ternyata mereka kedatangan orang penting.
Saat ini di Grup Sunandar.
Maxime tidak bisa fokus bekerja.
Jovan yang ingat hari ini hari apa pun bertanya-tanya, "Katanya hari ini kalian mau menyelesaikan prosedur perceraian?"
Maxime mengernyit dan tangannya yang sedang membolak-balikkan dokumen terhenti sejenak.
"Nggak jadi."
"Kenapa?"
Jovan ingin tahu kebenarannya.
Maxime tidak suka hati, tetapi tetap menjawab santai, "Reina menyesal, tadi pagi dia bilang dia nggak jadi pergi."
Jovan yang sedang duduk di sofa merentangkan tangannya dan mencibir.
"Sudah kuduga nggak gampang menyingkirkan si tuli. Dia ini sedang bermain tarik ulur dan di saat terdesak dia mengajukan gugatan cerai ...."
Jovan menghina Reina.