Bab 1
Hujan turun dengan deras di hari ziarah makam.
Saat ini, di pintu masuk rumah sakit.
Reina yang bertubuh kurus sedang memegang laporan tes kehamilan dari rumah sakit, di kertas itu tertera sebuah kata yang tercetak tebal.
"Negatif."
"Sudah tiga tahun menikah belum hamil juga?"
"Astaga, bisa-bisanya ada wanita yang begitu nggak berguna seperti kamu. Kalau nggak cepat hamil, kamu pasti akan didepak keluar dari Keluarga Sunandar, lalu bagaimana dengan Keluarga Andara?"
Treya Libera yang berpakaian anggun mengentakkan sepatu hak tingginya. Dia menunjuk Reina dan terlihat sangat kecewa.
Reina menatap kosong, begitu banyak kalimat yang ingin dia ungkapkan, tetapi pada akhirnya hanya terucap sebuah kata.
"Maaf."
"Aku nggak butuh maaf. Aku mau kamu hamil anak Maxime, ngerti?"
Reina tercekat, tidak tahu harus menjawab apa.
Reina dan Maxime sudah menikah selama tiga tahun, tetapi Maxime tidak pernah sekalipun menyentuhnya.
Mana mungkin dia bisa hamil?
Treya kembali melirik Reina yang terlihat lemah tidak berdaya, putrinya ini sama sekali tidak mirip dengan dirinya.
Akhirnya, dia berujar dengan nada dingin.
"Kalau kamu nggak bisa hamil, cari wanita lain yang mau hamil anak Maxime. Dengan begitu setidaknya Maxime bisa mengingat kebaikanmu."
Reina menatap kosong sosok ibunya yang beranjak pergi, dia sungguh tidak percaya.
Bagaimana bisa ibu kandungnya sendiri begitu tega dan memintanya mencarikan wanita lain untuk suaminya.
Embusan angin yang dingin seketika membekukan hatinya.
...
Reina duduk diam di mobil selama perjalanan pulang.
Perkataan ibunya terus terngiang di benaknya dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh di telinganya.
Reina sadar penyakitnya semakin parah.
Tiba-tiba ponselnya berdenting, tanda ada sebuah pesan masuk.
Ternyata itu adalah pesan dari Maxime yang jarang sekali bicara dengannya: "Malam ini nggak pulang."
Selama tiga tahun menikah, Maxime tidak pernah bermalam di rumah.
Dia juga tidak pernah menyentuh Reina.
Reina masih ingat jelas perkataan Maxime di malam pernikahan mereka tiga tahun lalu.
"Lancang sekali Keluarga Andara menipuku. Bersiaplah, kamu akan kesepian sampai mati nanti."
Mati kesepian ....
Tiga tahun lalu, Keluarga Andara dan Keluarga Sunandar bersatu untuk kepentingan bisnis.
Semua sudah sepakat, pernikahan ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
Namun, di hari pernikahan, Keluarga Andara tiba-tiba berubah pikiran dan mentransfer semua aset mereka, termasuk uang ratusan miliar pemberian Maxime sebagai maskawin dengan Reina.
Pandangan Reina meredup begitu teringat akan hal ini, tetapi dia tetap membalas pesan itu: "Oke."
Laporan tes kehamilan di tangannya tanpa disadari sudah menjadi bola kertas.
Sesampainya di rumah, Reina langsung membuang bola kertas itu ke tong sampah.
Setiap bulan di tanggal yang sama, dia merasa sangat lelah.
Karena tidak perlu menyiapkan makan malam, Reina bersandar sejenak di sofa dan setengah tertidur.
Suara gemuruh selalu terdengar di telinganya.
Inilah yang dibenci Maxime dari Reina. Di mata keluarga kaya, Reina sama saja dengan orang cacat.
Jadi, mana mungkin Maxime sudi membiarkan Reina hamil anaknya?
Jam dinding bergaya Eston berdentang.
Saat ini pukul lima pagi.
Maxime akan pulang satu jam lagi.
Reina baru sadar ternyata semalam dia tidur di sofa.
Dia buru-buru bangun dan menyiapkan sarapan untuk Maxime, Reina takut akan dimarahi karena telat menyiapkan sarapan.
Maxime adalah orang yang sangat teliti dalam setiap pekerjaannya sehingga dia sangat menuntut orang-orang di sekitarnya tepat waktu.
Benar saja, Maxime tiba tepat pukul enam pagi.
Tubuh tinggi Maxime terbalut oleh setelan jas bergaya barat, dia terlihat berkarisma, tampan dan maskulin.
Hanya saja, di mata Reina sosok Maxime terasa dingin dan seperti orang asing.
Tanpa melirik Reina sedikit pun, Maxime langsung berjalan melewatinya, melihat sarapan di atas meja dan berkata dengan sinis, "Setiap hari selalu seperti ini, sudah seperti pembantu saja."
Sudah tiga tahun .... Setiap hari, Reina selalu melakukan hal yang sama, mengenakan baju berwarna abu-abu yang sama, bahkan selalu membalas pesannya dengan kata yang sama: 'Oke'.
Sejujurnya, kalau bukan karena kepentingan bisnis, kalau bukan karena sudah ditipu oleh Keluarga Andara ....
Pembantu?
Suara gemuruh kembali terdengar di telinga Reina, dia tercekat. Namun, entah datang keberanian dari mana, dia bertanya, "Max, apa ada wanita yang kamu cintai?"
Pertanyaan ini sontak membuat ekspresi Maxime berubah. "Maksudnya?"
Reina menatap pria di hadapannya ini dan menahan rasa sakit yang mencekat tenggorokannya, lalu berujar dengan pelan, "Kalau ada yang kamu cintai, kamu boleh menikahinya ...."
Maxime langsung menyela Reina.
"Orang gila."
...
Maxime sudah pergi lagi, sedangkan Reina duduk sendirian di teras sambil menatap kosong tetesan hujan yang masih terus turun di luar.
Suara hujan kadang terdengar jelas, kadang terdengar samar-samar.
Reina melepas alat bantu dengarnya, dunia pun menjadi sunyi.
Sebulan yang lalu, dokter yang memeriksanya berkata, "Nona Reina, saraf dan pusat pendengaran Anda sudah rusak sehingga pendengaran Anda kembali menurun. Kalau terus memburuk, lama-lama Anda bisa benar-benar tuli."
Reina tidak terbiasa dengan dunia yang begitu sunyi, jadi dia pergi ke ruang tamu, menyalakan TV dan menyetel volume sampai batas maksimal. Meski begitu, suara yang sampai di telinga Reina terdengar begitu jauh.
Entah hanya sebuah kebetulan atau tidak, saat ini acara TV yang diputarnya sedang menayangkan wawancara dengan ratu penyanyi internasional, Marshanda Tanuyahya yang kembali ke tanah air.
Tangan Reina yang memegang remot TV gemetar.
Marshanda adalah cinta pertama Maxime.
Setelah bertahun-tahun tidak terlihat, Marshanda tetap cantik seperti biasa, dia terlihat tenang dan lembut di depan kamera. Marshanda bukan lagi Cinderella yang pemalu dan rendah diri seperti dulu saat dia meminta bantuan dari Keluarga Andara.
Ketika wartawan bertanya alasan dirinya kembali ke tanah air, dia menjawab dengan penuh percaya diri dan lantang.
Remot TV di tangan Reina jatuh ke lantai.
Jantung Reina berdebar kencang.
Hujan di luar sepertinya kembali deras.
Reina jadi sangat panik, dia langsung mematikan TV dan pergi membereskan sarapan di atas meja yang belum tersentuh.
Sesampainya di dapur, dia sadar ternyata ponsel Maxime ketinggalan.
Reina mengambil ponsel itu dan tidak sengaja melihat notifikasi pesan yang belum dibaca.
"Kak Max belakangan ini sangat nggak bahagia ya?"
"Aku tahu kamu nggak mencintainya, ayo kita ketemu malam ini, aku kangen banget sama Kak Max."
Layar ponsel meredup, tapi Reina masih tenggelam dalam lamunannya.
Reina memutuskan untuk naik taksi dan pergi ke kantor Maxime.
Selama perjalanan, Reina melihat ke luar jendela, rintik hujan sepertinya tidak pernah berhenti.
Maxime tidak suka Reina datang ke kantornya, jadi setiap kali datang, Reina selalu menggunakan lift barang di pintu belakang.
Ekki Permana, asisten pribadi Maxime melihat kedatangan Reina dan hanya menyapa dengan dingin, "Nona Reina."
Tidak ada seorang pun di sekitar Maxime yang menganggapnya sebagai Nyonya Sunandar.
Keberadaannya hanya dianggap angin lalu.
Maxime mengernyit saat melihat Reina membawakan ponselnya.
Reina selalu seperti ini. Makan siang, dokumen, pakaian, payung atau benda apa pun yang ketinggalan pasti akan Reina bawakan.
"Bukannya sudah kubilang kamu nggak perlu sengaja datang mengantarkan barang-barangku?"
Reina tercengang.
"Maaf, aku lupa."
Sejak kapan daya ingatnya juga ikut memburuk?
Mungkin karena tadi dia begitu ketakutan saat melihat SMS dari Marshanda.
Dia takut Maxime akan tiba-tiba menghilang begitu saja ....
Sebelum pergi, Reina kembali menatap Maxime dan akhirnya menanyakan hal yang tidak bisa dia pendam dalam hatinya, "Max, kamu masih mencintai Marshanda?"
Maxime melihat tingkah Reina akhir-akhir ini sangat aneh.
Bukan hanya sering lupa, tetapi juga suka menanyakan beberapa pertanyaan aneh.
Bagaimana wanita seperti ini pantas menjadi Nyonya Sunandar?
Maxime menjawab dengan kesal, "Kalau nggak ada kerjaan, cari kerja saja sana."
Dulu Reina sudah pernah mencari kerja, tetapi ibunya Maxime, Joanna Debrista, langsung melarang, "Kamu sengaja memberi tahu semua orang di dunia kalau Max punya istri yang cacat?"
Jadi akhirnya, Reina tidak punya pilihan selain melepaskan pekerjaannya, tinggal di Vila Magenta dan menjadi wanita yang memegang gelar Nyonya Sunandar, tetapi tidak pernah dianggap keberadaannya.
Sesampainya di rumah, Reina duduk sendirian di ruang tamu sampai gelap.
Dia tidak bisa tidur.
Ponsel di samping kasurnya berdering.
Dia mendapat telepon dari nomor tidak dikenal.
Reina mengangkatnya dan mendengar suara manis seorang wanita yang selalu membuat Reina panik.
Ya, siapa lagi kalau bukan ... Marshanda.
"Halo? Nana? Apa bisa jemput Max, dia mabuk berat."
Di sebuah kelab mewah bernama Sobernica.
Reina bergegas ke ruang privat tempat Max berada. Sesampainya di sana, dia langsung mendengar canda dan tawa dari sekelompok anak muda yang pastinya semua berasal dari keluarga kaya.
"Marsha, kali ini kamu pulang untuk mengejar Max, CEO kita ini, 'kan? Sekarang waktu yang tepat, ayo cepat nyatakan cintamu!"
Marshanda memiliki paras yang manis dan cantik, juga sangat populer. Apalagi dia adalah cinta pertama Maxime, tentu semua teman-teman Maxime bersedia menjodohkan mereka.
Marshanda tidak ragu-ragu dan langsung berkata pada Maxime, "Max, aku menyukaimu. Ayo kita balikan."
Reina yang saat ini berada di luar pintu privat kebetulan mendengar perkataan ini.
Mereka yang ada di dalam mulai meledek Maxime, terutama Jovan Tambolo, sahabat Maxime.
"Kak Max, ayo terima. Kamu 'kan juga sudah menunggu Marsha selama tiga tahun ini, sekarang dia sudah pulang, ayo tunggu apalagi."
Reina mematung di depan pintu, jantungnya berdebar kencang. Tiba-tiba, pintu ruangan itu dibuka oleh seorang pria dari dalam.
"Nona Reina?"
Bab 2
Semua orang yang ada di ruangan itu menengok ke arah pintu.
Sontak, suasana jadi hening.
Reina melirik Maxime, tatapan pria itu begitu jernih, jelas dia sama sekali tidak mabuk.
Reina sadar dia sudah ditipu Marshanda.
Saat Maxime melihat sosok Reina, bola matanya yang gelap pun menegang.
Sedangkan Jovan dan yang lainnya yang barusan mendukung Maxime untuk menerima perasaan Marshanda, semua tersenyum canggung.
Harusnya Reina tidak datang.
"Nana, jangan salah paham. Jovan cuma bercanda, sekarang Max dan aku hanya teman biasa."
Marshanda-lah yang pertama kali memecah ketenangan.
Sebelum Reina sempat menjawab, Maxime yang kehilangan kesabaran sudah berdiri lebih dulu.
"Nggak perlu menjelaskan apa pun padanya."
Setelah itu, Maxime berjalan ke depan muka Reina dan bertanya, "Mau apa ke sini?"
"Kupikir kamu mabuk, jadi aku datang untuk menjemputmu pulang," jawab Reina jujur.
Maxime mencibir, "Sepertinya kamu nggak ingat sepatah kata pun yang kukatakan, ya."
Maxime mengecilkan suaranya sehingga ucapannya hanya bisa didengar Reina dan Maxime.
"Kamu datang untuk mengingatkan semua orang bahwa tiga tahun lalu aku sudah ditipu olehmu? Kamu pikir mereka sudah lupa kejadian itu?"
Reina terhenyak.
Maxime menatap dengan dingin, "Nggak usah menampakkan diri untuk membuat orang lain sadar akan keberadaanmu, sikapmu ini hanya membuatku semakin membencimu!"
Setelah berkata demikian, Maxime pun balik badan dan pergi meninggalkan Reina.
Reina menatap kosong sosok Maxime dari belakang untuk waktu yang cukup lama.
Para anak orang kaya yang ada di ruang privat itu menatap Reina yang dicampakkan Maxime tanpa simpati sedikit pun.
Jovan yang doyan memprovokasi pun tidak menahan diri dan berkata pada Marshanda yang pura-pura terlihat sedih, "Marsha, kamu ini jadi orang jangan terlalu baik. Apa yang perlu dijelaskan?"
"Kalau bukan karena ditipu Reina, Kak Max pasti akan menikahimu. Kamu jadi nggak perlu pergi jauh ke negara lain dan menjalani kehidupan yang sulit."
Telinga Reina berdengung, tetapi semua perkataan itu terdengar jelas di telinganya.
Reina yang paling mengerti situasi ini.
Terlepas dari Maxime akan menikah dengannya atau tidak, yang jelas dia tidak akan menikahi Marshanda yang tidak berasal dari keluarga mana pun.
Marshanda juga sadar akan fakta ini, itulah sebabnya dia memutuskan untuk putus dengan Maxime dan mengadu nasib di negeri orang.
Namun, kenapa akhirnya semua ini jadi salah Reina?
Sambil membawa payung, Reina berjalan keluar dari Sobernica dan merasa dirinya diselimuti kegelapan.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik menghampirinya .... Itu Marshanda!
Malam ini Marshanda sangat cantik, dia mengenakan sepatu hak tinggi dan terlihat sangat bangga.
"Malam ini dingin banget, ya. Bagaimana rasanya datang mencari Max, eh malah diejek olehnya?"
Reina mendengar perkataan Marshanda, tetapi tidak menjawab.
Marshanda juga tidak peduli dan terus bicara.
"Kamu ini kasihan sekali. Sampai sekarang kamu nggak pernah merasa dicintai, 'kan? Apa kamu tahu, dulu waktu Max bersamaku, dia mau memasak untukku bahkan langsung bergegas menemaniku di rumah sakit waktu aku sakit ...."
"Reina, apa Max pernah bilang dia mencintaimu? Haha, padahal waktu denganku dulu, setiap hari dia bilang dia mencintaiku."
Reina mendengarkan dalam diam sembari mengingat kembali waktu tiga tahun yang dia habiskan bersama Maxime.
Maxime tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di dapur.
Waktu Reina sakit, tidak ada sepatah kata perhatian yang terlontar dari mulut Maxime.
Apalagi kata 'cinta', tentu tidak ada kata ini di kamus Maxime.
Malamnya, Reina tidak bisa tidur.
Ternyata pria yang dicintainya selama 12 tahun ini pernah sangat mencintai wanita lain dengan tulus.
Di saat seperti ini, Reina rasanya ingin menyerah saja.
Keesokan harinya ....
Maxime akhirnya pulang dan menatap Reina dengan sangat dingin.
"Ternyata seenggan itu kamu berpisah dengan uang Keluarga Sunandar? Kamu nggak mau sampai kehilangan aku, Maxime si mesin penghasil uang ini, 'kan!"
Reina tertegun dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada Maxime hari ini. Reina pun menjelaskan, "Aku nggak pernah minta uang ke kamu."
Yang ada di mata Reina adalah sosok Maxime seorang, bukan hartanya.
Maxime tersenyum menghina.
"Lalu, kenapa pagi-pagi sekali ibumu datang ke kantorku dan memohon padaku supaya kamu bisa hamil?"
Reina bingung.
Dia menatap bola mata hitam Maxime yang begitu dingin, barulah Reina sadar kalau pria ini bukan memperkarakan masalah semalam.
Maxime tidak ingin buang waktu lebih lama dan langsung pergi setelah berkata, "Reina, kalau kamu mau tetap menjadi anggota Keluarga Sunandar dan Keluarga Andara nggak bangkrut, suruh ibumu tenang sedikit."
...
Reina baru saja mau pergi mencari ibunya, ternyata ibunya sudah mendatangi Reina duluan.
Tidak seperti biasanya, Treya yang sedari dulu terlihat dingin kali ini datang dengan cemas. Dia langsung menggenggam tangan Reina dan berujar dengan lembut, "Nana, cepat pergi memohon pada Max supaya dia mau punya anak denganmu. Lewat prosedur bayi tabung juga nggak apa-apa."
Bayi tabung?
Reina menatap ibunya dengan tatapan kosong dan mendengarkan ocehan ibunya.
"Marshanda sudah memberitahuku, ternyata selama ini Max sama sekali nggak pernah menyentuhmu?"
Kalimat ini rasanya langsung menelan habis perasaan yang tersisa di hati Reina.
Reina tidak paham untuk apa Maxime memberi tahu Marshanda tentang hal ini.
Mungkin karena pria itu benar-benar mencintainya ....
Begitu terpikir akan hal ini, tiba-tiba Reina merasa lega.
"Bu, sudahlah."
Treya tertegun dan mengernyit, "Apa?"
"Aku lelah, aku mau bercerai saja ...."
"Plak!"
Sebelum Reina selesai bicara, Treya sudah lebih dulu menampar wajah Reina dengan keras.
Citranya sebagai seorang ibu yang penuh kasih sudah sirna, dia menunjuk Reina dan berkata, "Berani sekali kamu minta cerai? Memangnya kamu siapa? Kamu mau meninggalkan Keluarga Sunandar? Kamu pikir siapa pria bodoh yang akan menikahi wanita cacat dan bekas sepertimu?"
Tubuh Reina terasa mati rasa.
Sejak kecil, Treya memang tidak pernah menyayangi putrinya.
Treya adalah seorang penari terkenal.
Namun, Reina yang terlahir dengan gangguan pendengaran adalah momok dalam hidupnya.
Oleh karena itu, Treya tega membiarkan putrinya tumbuh dalam perawatan seorang pengasuh. Dia baru memanggil Reina pulang ke Keluarga Andara waktu Reina cukup umur untuk masuk sekolah.
Dulu kata orang, seorang ibu tidak mungkin tidak menyayangi anak-anaknya.
Jadi, Reina berjuang keras untuk menjadi yang terbaik sehingga bisa menyenangkan ibunya.
Meski memiliki gangguan pendengaran, di sekolah Reina menduduki peringkat atas dalam pelajaran tari, seni musik, sastra dan bahasa, seni lukis, serta pelajaran lainnya.
Namun, sepintar apa pun Reina di sekolah, ibunya tidak pernah menyayanginya.
Seperti kata Treya tadi, Reina adalah orang cacat.
Yang cacat bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam urusan keluarga dan percintaan ....
Setelah Treya pergi, Reina menutupi bekas telapak tangan merah yang terjiplak di wajahnya dengan bedak, lalu mengemasi barang-barang pribadinya dalam diam.
Selama tiga tahun pernikahan, harta pribadinya hanya barang-barang di koper ini.
Setelah selesai, Reina mengumpulkan keberanian dan mengirim pesan pada Maxime.
"Apa malam ini ada waktu? Ada yang mau kubicarakan."
Maxime tidak membalas pesannya.
Tatapan Reina meredup, dia tahu sekarang Maxime bahkan tidak sudi membalas pesannya.
Akhirnya, Reina hanya bisa menunggu Maxime pulang.
Dia pikir malam ini Maxime tidak akan kembali.
Namun, tepat pukul 12 malam, pria itu pulang.
Reina tidak tidur, dia menghampiri Maxime dan dengan terampil membantu sang suami melepaskan mantel dan membawakan tasnya.
Serangkaian tindakannya ini sangat mirip dengan pasangan pada umumnya.
"Lain kali, jangan sembarangan mengirimiku pesan."
Suara dingin Maxime memecah keheningan.
Tangan Reina gemetar saat dia menggantungkan mantel Maxime, lalu dia bergumam, "Oke, nggak lagi."
Maxime tidak menyadari ada yang salah dalam nada bicara Reina, dia langsung pergi ke ruang kerja.
Selama ini, setiap kali pulang Maxime selalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya.
Mungkin dalam persepsi Maxime, dunia orang tuli itu sunyi.
Atau mungkin dia sama sekali tidak peduli pada Reina.
Oleh karena itu, sesampainya di ruang kerja, Maxime lanjut bekerja dan mendiskusikan urusan bisnis termasuk tentang cara mengakuisisi Grup Andara ....
Seperti biasa, Reina membawakannya semangkuk sup. Dia bisa mendengar Maxime yang sangat antusias mendiskusikan cara untuk mengakuisisi perusahaan ayahnya. Perasaanya tidak bisa dijelaskan.
Reina sadar adiknya itu tidak berguna dan suatu hari nanti Grup Andara pasti akan diambil alih seseorang. Hanya saja, dia tidak menyangka orang yang paling cepat bertindak adalah suaminya sendiri.
"Max."
Sebuah suara menginterupsi diskusi Maxime.
Maxime tertegun. Entah karena merasa bersalah atau alasan lain, dia langsung menutup telepon dan laptopnya.
Reina pura-pura tidak memperhatikan gerak-gerik Maxime. Dia masuk dan meletakkan sup itu di hadapan Maxime.
"Max, cepat istirahat setelah minum sup ini. Kesehatan lebih penting."
Entah kenapa, hati Maxime yang awalnya tegang menjadi rileks saat dia mendengarkan suara lembut Reina.
Sepertinya Reina tidak mendengar rencananya tadi.
Mungkin karena merasa bersalah, Maxime menghentikan Reina yang beranjak pergi.
"Tadi katanya ada yang mau kamu bicarakan? Ada apa?"
Reina pun menoleh dan berujar dengan lembut, "Aku mau tanya apa siang nanti ada waktu? Aku mau mengurus surat perceraian."
Bab 3
Suara Reina begitu tenang dan ringan.
Seolah perceraian ini hanya hal sepele.
Pupil mata Maxime menegang.
"Apa katamu?"
Selama pernikahan mereka, seketerlaluan apa pun perlakuan Maxime padanya, Reina tidak pernah menyebut kata 'cerai'.
Sebenarnya Maxime paham betul betapa Reina sangat mencintainya.
Tatapan Reina yang awalnya kosong saat ini berubah menjadi sangat tajam.
"Pak Maxime, selama ini aku sudah menjadi penghalangmu."
"Kita cerai saja."
Maxime meremas tinjunya kuat-kuat.
"Kamu dengar pembicaraanku barusan, 'kan? Keluarga Andara sudah berada di ujung jurang, apa bedanya menikah denganku atau menikah dengan orang lain?"
"Apa tujuanmu bercerai? Kamu mau anak atau mau uang? Atau mau mengancamku supaya aku nggak melakukan apa pun pada Keluarga Andara?" Maxime bertanya dengan dingin.
"Jangan lupa, aku sama sekali nggak mencintaimu, ancamanmu nggak berguna untukku!"
Sosok Maxime di mata Reina tiba-tiba menjadi kabur. Reina merasa tenggorokannya tercekat dan telinganya sakit. Bahkan dengan alat bantu dengar, dia tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Maxime selanjutnya.
Jadi, Reina hanya bisa menjawab pertanyaan Maxime, "Aku nggak mau apa-apa."
Takut Maxime menyadari ada yang janggal, Reina pun buru-buru meninggalkan ruang kerja.
Maxime menatap punggung Reina, entah kenapa dia belum pernah sekesal ini.
Dia tidak pernah mengendalikan emosinya demi orang lain, jadi dia langsung membalikkan meja di depannya.
Sup yang dimasak Reina pun tumpah ....
...
Reina kembali ke kamar dan menegak banyak obat.
Dia menyentuh telinganya dan mendapati jarinya terlumuri darah segar.
Mungkin karena efek obat, saat matahari baru saja terbit di ufuk timur, pendengaran Reina sudah pulih.
Reina melamun sambil memandangi sinar matahari yang menembus dari celah jendelanya.
"Hujan sudah berhenti."
Hari ini, Maxime tidak pergi ke mana-mana.
Sedari pagi dia hanya duduk di sofa dan menunggu Reina yang menyesal datang minta maaf padanya.
Selama tiga tahun pernikahan, ada kalanya amarah Reina meledak.
Namun, setiap kali setelah selesai marah dan meluapkannya dalam tangisan, tidak berapa lama Reina pasti akan datang minta maaf.
Maxime pikir kali ini pasti sama saja.
Maxime melihat Reina yang bersiap pergi setelah selesai mandi. Seperti biasa wanita itu mengenakan pakaian berwarna gelap, tetapi kali ini sambil menyeret koper dan ada sebuah dokumen di tangannya.
Ketika Reina menyerahkan dokumen itu pada Maxime, barulah dia menyadari kalau itu adalah dokumen persetujuan perceraian.
"Max, telepon aku kalau sudah ada waktu."
Reina mengucapkan kalimat ini dengan santai dan tanpa ekspresi apa pun, lalu keluar dari rumah sambil menyeret kopernya.
Setelah hujan berlalu, cuaca begitu cerah.
Seketika, Reina merasa seperti terlahir kembali.
Maxime hanya berdiri mematung sambil meremas dokumen perceraian itu.
Setelah beberapa lama, barulah Maxime tersadar dari lamunannya.
Hari ini adalah hari terakhir perayaan hari ziarah makam.
Di hari seperti ini tahun-tahun sebelumnya, Maxime biasanya membawa Reina pulang ke kediaman utama untuk berdoa untuk para leluhur.
Tentu semua kerabat Keluarga Sunandar memperlakukan Reina dengan berbeda.
Hari ini, Maxime sendirian.
Maxime sangat gembira.
Di kediaman utama.
Joanna Debrista, ibu Maxime, juga kerabat lain bingung saat melihat Maxime datang sendirian.
Biasanya di saat seperti ini, Reina sebagai cucu menantu tertua akan datang paling awal dan pulang paling terakhir untuk mengambil hati kerabat lainnya.
Apa hari ini dia tidak datang?
Joanna mengernyit dan bertanya pada putranya, "Max, mana Reina?"
Tatapan Maxime menjadi dingin saat mendengar pertanyaan ini.
"Dia minta cerai, lalu kabur dari rumah."
Semua orang tercengang dan suasana sontak menjadi sunyi. Tidak ada yang memercayainya.
Joanna juga sangat terkejut.
Di dunia ini, selain orang tuanya sendiri, tidak ada yang lebih mencintai Maxime selain Reina.
Tujuh tahun lalu, Maxime terluka parah dan Reina-lah yang menyelamatkannya.
Empat tahun lalu, keduanya sudah bertunangan. Suatu hari Maxime pergi ke Kota Debai untuk keperluan bisnis, malangnya terjadi sesuatu masalah.
Semua orang mengatakan Maxime sudah mati, hanya Reina yang tidak mau memercayainya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia langsung pergi ke Kota Debai.
Di kota yang ada di negara asing itu dia berjuang sendirian mencari Maxime selama tiga hari penuh.
Begitu pula setelah menikah, Reina selalu sangat berhati-hati dalam mengurus urusan rumah tangga dan memperlakukan orang-orang di sekitar Maxime termasuk sekretarisnya dengan baik.
Bagaimana bisa Reina yang seolah tidak bisa hidup tanpa Maxime minta cerai?
Kenapa?
Joanna tidak paham, tetapi dia senang wanita itu sudah melepaskan putranya.
"Mau diusahakan seperti apa pun, wanita sepertinya nggak bisa naik kelas untuk sederajat dengan kita. Baguslah kalau cerai."
"Dia sama sekali nggak pantas untukmu."
Begitu ibu Maxime berkomentar, yang lain pun ikut menimpali.
"Ya, benar itu. Kak Max masih muda dan tampan, apalagi sekarang sedang berada di puncak kejayaan, sayang Reina sudah menjadi penghalang selama ini."
Acara yang harusnya diisi dengan mendoakan para leluhur berubah jadi gosip yang menghina Reina.
Mereka semua membuat sosok Reina seperti orang jahat.
Anehnya, Maxime harusnya ikut merasa senang, 'kan? Namun, kenapa ejekan orang-orang itu membuatnya kesal?
Maxime pun pulang lebih awal.
Langit mulai gelap saat dia sampai di Vila Magenta.
Maxime membuka pintu dan melangkah masuk, dirinya langsung diselimuti oleh kegelapan dan membuatnya sadar bahwa Reina sudah benar-benar pergi.
Maxime melepas sepatunya, lalu melemparkan mantelnya ke mesin cuci.
Entah mengapa hari ini rasanya dia begitu lelah.
Maxime berniat mengambil sebotol anggur dari tempat penyimpanan anggur untuk merayakan kepergian Reina.
Namun, dia baru sadar bahwa tempat itu terkunci dan dia tidak punya kuncinya.
Maxime tidak suka keberadaan ada orang luar, sehingga tidak ada pembantu di vila ini.
Selama ini, Reina-lah yang sudah mengurus semuanya.
Maxime akhirnya hanya bisa kembali ke kamar dan membuka ponselnya. Tidak ada notifikasi lain selain urusan pekerjaan, sudah sehari berlalu dan Reina masih belum menelepon atau mengiriminya pesan.
"Cih! Aku mau lihat sampai berapa lama kamu tahan?"
Maxime membuang asal ponselnya, lalu berjalan menuju dapur.
Dia langsung tercengang begitu membuka kulkas.
Karena ternyata selain makanan, banyak sekali berbagai macam obat tradisional.
Maxime mengambil salah satu bungkus itu dan membaca nama obatnya, "Sehari lima bungkus, ramuan khusus kesuburan."
Obat kesuburan ....
Maxime bisa mencium bau tidak sedap dari obat-obatan itu.
Ah, akhirnya dia tahu dari mana bau tidak sedap tubuh Reina yang tercium olehnya dulu.
Maxime mencibir, seberapa banyak pun Reina minum obat, dia tidak mungkin hamil karena mereka berdua tidak pernah berhubungan intim.
...
Di sisi lain, di sebuah motel kecil di jalan yang gelap.
Reina yang lemah membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat sakit dan lingkungan di sekitarnya sangat sunyi.
Dia tahu kondisinya semakin buruk.
Biasanya, dia tetap bisa mendengar sedikit suara meski tanpa alat bantu dengar.
Reina berdiri dengan meraba-raba, mengambil obat dari meja di samping tempat tidur dan menjejalkannya ke dalam mulut dengan paksa. Rasa obat itu sangat pahit dan sepat.
Kemarin, Reina pergi dari Vila Magenta yang sudah ditinggalinya selama tiga tahun.
Dia pulang ke rumah orang tuanya.
Namun, baru saja sampai di depan pintu, dia mendengar ibu dan adiknya, Diego Andara sedang berdiskusi akan menikahkannya dengan kakek tua berusia 80-an tahun setelah Keluarga Sunandar mendepaknya ....
Reina memandang pintu dengan tatapan kosong, dia sadar sekarang dia sudah tidak punya rumah.
Meski belum makan apa pun selama dua hari, Reina tidak merasa lapar.
Hanya saja dunianya terasa begitu hening, begitu sunyi.
Sepertinya tahun ini Kota Simaliki lebih sering diguyur hujan dibanding tahun-tahun kemarin.
Reina memandangi para pejalan kaki yang bergegas mencari tempat berteduh di luar sana, kebanyakan mereka bersama orang lain, baik berdua atau bertiga, hanya Reina yang sendirian.
Reina yang sudah tidak tahan lagi pun membeli tiket ke luar kota, dia pergi ke sebuah desa untuk mendatangi orang yang sudah mengasuhnya dari kecil, Lyann Kintara.
Reina sampai di tempat tujuan sekitar jam sembilan malam.
Waktu Lyann melihat Reina, wajah ramahnya terlihat sangat terkejut.
"Nana ...."
Melihat dirinya disambut dengan senyum ramah Lyann, hidung Reina terasa masam. Dia mengulurkan tangan untuk memeluknya, "Bu Lyann ..."
Karena alasan kesehatan, Lyann tidak pernah menikah dan tentunya tidak punya anak kandung.
Bagi Reina, Lyann sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Malamnya. Reina bersandar di pelukan Lyann, seolah kembali ke masa kecilnya dulu.
Lyann memeluknya dan menyadari tubuh Reina sangat kurus, bahkan sudah seperti tulang yang terbungkus kulit.
Tangan Lyann yang ada di punggung kurus Reina tidak bisa berhenti gemetar. Dia berusaha menenangkan Reina. Dia bertanya dengan hati-hati, "Nana, apakah Max memperlakukanmu dengan baik?"
Reina tercekat waktu mendengar nama Maxime, awalnya dia ingin membohongi Lyann dan mengatakan semuanya baik-baik saja ....
Namun, dia tahu Lyann bukan wanita bodoh.
Kini setelah Reina memutuskan untuk pergi, dia tidak ingin lagi membohongi dirinya sendiri atau orang lain yang mencintainya.
"Wanita yang dia cintai sudah kembali. Aku akan melepaskannya dan menceraikannya."
Lyann tertegun tidak percaya.
Bukan hanya sekali Reina mengatakan padanya kalau dia ingin menghabisi hari tua bersama Maxime.
Lyann tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya dia hanya menghibur Reina dengan mengatakan bahwa ada begitu banyak orang di dunia ini, pasti ada seseorang yang akan mencintainya dengan tulus.
Reina mengangguk dalam diam, dengungan di telinganya menutupi suara Lyann yang menenangkan.
Jarang sekali Reina bisa tidur nyenyak, tetapi malam itu dia terbangun dan sangat terkejut waktu melihat noda darah di seprai bermotif bunga kasurnya.
Reina menyentuh telinga kanannya dan merasa ada sesuatu yang lengket.
Reina membuka jarinya dan melihat ada noda darah ....