Bab 5
Reina membuka berita dan melihat konferensi yang diadakan Grup Sunandar, beritanya Maxime telah berhasil mengakuisisi Grup Andara.
Mulai sekarang, Grup Andara sudah punah dari dunia ini ....
...
Kehidupan Maxime akhir-akhir ini sangat menyenangkan.
Setelah berhasil mengakuisisi Grup Andara, balas dendam yang sudah ditunggu-tunggu Maxime pun terbalaskan.
Jovan tersenyum seraya berkata, "Akhirnya Keluarga Andara kena karma karena sudah menipumu tiga tahun yang lalu."
Jovan mengganti topik pembicaraan dan bertanya pada Maxime yang sedang bekerja, "Kak Max, apa si tuli itu datang memohon padamu?"
Tangan Maxime yang sedang menandatangani dokumen berhenti bergerak.
Entah mengapa belakangan ini selalu saja ada orang yang menyebut nama Reina.
"Nggak."
Maxime menjawab dengan dingin.
Jovan tercengang, setelah masalah sebesar ini terjadi di Keluarga Andara, Reina tetap diam?
Dia melanjutkan, "Jangan-jangan dia sudah sadar akan semua perbuatannya?"
"Katanya ibu dan adiknya sedang mencarinya ke mana-mana, mereka nggak tahu di mana si tuli bersembunyi."
Jovan terus mengoceh.
Maxime mengernyit, tiba-tiba dia merasa kesal.
"Keluar sana!"
Jovan tercengang.
Dia melirik Maxime dan mendapati ternyata pria itu marah. Dia tidak berani berkata apa-apalagi dan buru-buru meninggalkan kantor CEO.
Di luar ruangan, Jovan mengeluarkan ponselnya dan menelepon, "Reina sudah ketemu?"
"Sudah, dia ada di motel di Jalan Gandaria."
Jovan meminta asistennya mengirimkan titik lokasi, lalu menuju ke sana.
Reina sudah menjadi penghalang Maxime dan Marshanda selama tiga tahun, meski sekarang dia sudah setuju bercerai, Jovan tidak akan membiarkan hal ini begitu saja.
Bagaimanapun, Marshanda adalah penolongnya.
Di luar sedang hujan.
Setelah selesai dengan tugas relawannya, Reina pergi ke rumah sakit untuk menebus obat, lalu berjalan menuju motel sambil memegang payung.
Hanya ada segelintir orang di jalan.
Sambil menyetir, tatapan Jovan terpaku pada punggung kurus Reina.
Dia sengaja menambah kecepatan dan melewati Reina.
Tubuh Reina jadi terciprat genangan air.
Reina menoleh dengan tatapan kosong.
Jovan melirik Reina dari kaca spionnya.
Mobil Bugatti abu-abu .... Reina kenal mobil mewah ini. Ya, ini mobil Jovan.
Reina buang muka dan pura-pura tidak melihatnya.
Jovan tentu tidak pergi begitu saja, dia memperlambat laju mobilnya dan mengikutinya dari dekat, "Hei tuli, sekarang sudah jadi orang yang tahu diri? Kamu nggak menyapaku?"
"Bukannya dulu kamu suka sekali menyapa dengan riang setiap kali melihatku? Bukannya dulu kamu suka menjilatku?"
Reina mendengarkan semua penghinaan itu tanpa ekspresi.
Karena cintanya pada Maxime, Reina selalu berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan semua orang di sekitar Maxime, termasuk teman-temannya.
Pikirnya, suatu hari nanti keluarga dan teman-teman Maxime akan menerimanya.
Reina terlalu polos, dia tidak tahu kejamnya dunia.
Suatu hari di sebuah pesta, Jovan memberi tahu Reina secara blak-blakan bahwa dia adalah teman Marshanda.
Untuk membela Marshanda, dia bahkan melepaskan martabat sebagai seorang anak orang kaya dan memaki Reina yang tidak tahu malu.
Setelah itu, dia bahkan ingin membunuh Reina dengan mendorongnya ke kolam renang.
Sejak saat itu, Reina menghindarinya.
Jovan melihat Reina mengabaikannya dan tidak menyahut sepatah kata pun. Dia menghentikan mobil, membuka pintu, melangkah menuju Reina dan menarik lengannya.
"Trik apalagi yang kamu mainkan kali ini?"
Lengan Reina terasa sakit, dia menyahut, "Aku nggak paham maksudmu."
Reina ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman Jovan, tetapi pria itu sudah lebih dulu menepisnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!"
Reina yang tersentak langsung mundur beberapa langkah dan akhirnya terjatuh.
Jovan berdiri diam dan agak terkejut.
Dasar wanita jalang, sekarang dia bisa bersandiwara?
Disentak pelan begitu saja bisa jatuh?
Beberapa pejalan kaki pun menoleh ke arahnya saat melihat kejadian ini, Jovan yang merasa tidak nyaman langsung kembali ke dalam mobil dan memperingatkannya sebelum pergi.
"Reina, jangan menindas Marsha hanya karena kamu cacat. Dia berbeda darimu, dia sudah berusaha begitu keras untuk mencapai posisinya saat ini. Sebaiknya kamu berhenti mengganggu hubungannya dengan Kak Max."
Jovan pun pergi lalu dengan teganya memberi tahu Keluarga Andara di mana Reina tinggal saat ini.
Karena terjatuh tadi, tangan dan lutut Reina jadi memar. Rasa sakit yang cukup menusuk membuatnya butuh waktu lama untuk kembali berdiri.
Sebenarnya, Reina sangat tidak paham kenapa Jovan memperlakukannya seperti ini.
Reina ingat dengan jelas. Empat tahun yang lalu, Jovan mengalami kecelakaan dan terjebak di mobil yang akan segera meledak. Waktu itu Reina tanpa ragu langsung menyeretnya keluar mobil tanpa memedulikan bahaya yang mengancam.
Wajah Jovan penuh dengan darah, meski tidak bisa membuka matanya, dia berujar dengan lembut, "Terima kasih, aku pasti akan membalas kebaikanmu."
Apa ini balasan yang pria itu maksud?
Sesampainya di motel, Reina mandi dan mengobati lukanya.
Reina menjatuhkan diri ke kasur dengan tatapan kosong.
Setelah kejadian hari ini, dia semakin bertekad untuk meninggalkan Maxime.
Saat Reina terbangun, langit sudah cerah.
Reina keluar kamar dan mendapati ibunya sedang duduk di ruang tamu dengan mengenakan gaun berwarna merah.
Treya yang melihat Reina sudah bangun pun langsung menyerahkan sebuah amplop ke hadapan Reina. Treya terlihat tidak peduli sama sekali dengan kondisi putrinya.
"Baca baik-baik, ini jalan keluar yang Ibu pilihkan untukmu."
Reina mengambil dokumen itu dan melihat judulnya "Perjanjian Pranikah".
Lalu, dia membaca berkas itu.
"Nona Reina dengan sukarela menikahi Pak Jeremy dan sebagai istri akan terus merawat suaminya sampai tua ...."
"Pak Jeremy akan menafkahi Keluarga Andara dan memberi uang 600 miliar sebagai maskawin."
Jeremy Latief adalah seorang pengusaha generasi tua di Kota Simaliki yang saat ini berusia 78 tahun.
Reina tercekat.
Treya kembali melanjutkan, "Pak Jeremy bilang dia nggak keberatan menikahi kamu yang sudah pernah menikah. Asal kamu mau menikah dengannya, dia akan membantu Keluarga Andara bangkit lagi."
"Reina anak yang baik, kamu nggak mungkin mengecewakan ibu dan adikmu, 'kan?"
Seketika, wajah Reina jadi pucat.
"Aku nggak mau."
Treya jadi marah, dia tidak menyangka Reina akan langsung menolaknya.
"Punya hak apa kamu menolak? Aku yang melahirkanmu!"
Reina menatap ibunya lekat-lekat, lalu menyahut, "Kalau begitu apa utangku bisa dianggap lunas setelah kukembalikan nyawaku padamu?"
Treya tercengang.
"Apa katamu?"
Reina kembali berujar dengan bibir yang pucat pasi itu, "Kalau aku mengembalikan nyawaku padamu yang sudah melahirkanku, apa artinya kamu bukan lagi ibuku dan aku nggak lagi berutang padamu?"
Treya yang tidak percaya Reina berani berbuat nekat pun mencibir, "Oke! Kalau kamu mati, aku nggak akan memaksamu."
"Tapi, memangnya kamu berani?"
Reina menjawab dengan tegas seolah sudah membuat keputusan, "Beri aku waktu sebulan."
Treya merasa Reina sudah gila.
"Jangan pikir kamu bisa mengancamku dengan bilang mau mati. Aku nggak mengakuimu, mati ya mati saja sana. Kalau kamu nggak berani mati, lebih baik tanda tangan perjanjian ini."
Reina merasa sangat tertekan, dia ingin mencari tempat untuk melepas penatnya.
Di sebuah bar.
Reina duduk melamun di pojokan bar, menonton orang lain di sekitarnya menari, tertawa lepas dan bersenang-senang.
Seorang pria tampan dengan mata yang indah melihat sosok Reina yang seorang diri, dia pun menghampirinya.
"Eh? Reina?"
Reina balas menatap pria itu, tetapi dia tidak mengenalinya. Reina bertanya dengan tatapan kosong, "Apa kamu tahu cara supaya bisa bahagia?"
Pria itu bingung dan balas bertanya, "Apa katamu?"
Reina menegak anggurnya, lalu menjawab, "Dokter bilang aku sakit dan harus membuat diriku senang, tapi ... aku nggak bisa merasa senang ...."
Revin Lander merasa muram saat mendengar jawaban Reina.
Apa Reina tidak mengenali dirinya?
Selain itu, sakit apa dia sampai harus menyenangkan diri sendiri?
"Nona, kalau mau merasa senang harusnya kamu bukan datang ke tempat seperti ini."
"Ayo, kuantar pulang." Revin mengajaknya dengan lembut.
Reina menatapnya sambil tersenyum, "Kamu orang yang baik."
Revin menatap senyum pahit Reina dengan perasaan campur aduk, sebenarnya apa yang terjadi pada Reina belakangan ini?
Kenapa dia terlihat begitu menyedihkan?
Di sisi lain, ternyata Maxime juga berada di bar yang sama.
Sejak mengurus perceraian, setiap hari Maxime selalu pergi bersenang-senang dan sudah lama tidak pulang ke Vila Magenta.
Sekarang sudah larut malam, Maxime dan rombongannya bersiap untuk pulang.
Saat itulah Marshanda melihat sosok yang dikenalnya berada di pojok bar.
Marshanda yang terkejut pun memekik, "Eh? Itu 'kan Nona Reina?"
Maxime menoleh ke arah yang Marshanda tunjuk dan melihat seorang pria duduk di depan Reina sambil mengobrol dan tertawa bersamanya.
Wajah tampan Maxime seketika menjadi dingin.
Ternyata Reina mabuk-mabukkan dan menggoda pria lain?
Cih! Maxime sudah salah menilai Reina.
"Max, apa mau kamu samperin dulu?" tanya Marshanda.
"Nggak usah."
Maxime menjawab dengan dingin lalu langsung beranjak pergi.
Reina menolak tawaran Revin dan menjawab, "Terima kasih, aku bisa pulang sendiri, nggak perlu merepotkanmu."
Reina beranjak pergi, Revin yang mengkhawatirkannya langsung mengejarnya.
"Reina, kamu ... nggak ingat aku?"
Reina kembali menatap pria itu. Siapa pria ini?
"Aku si gendut! Kamu udah lupa?" Revin mengingatkan.
Ah, sekarang Reina ingat. Dulu waktu masih kecil, dia tinggal dengan Lyann di kampung, di sana Reina punya seorang teman baik yang dijuluki si gendut.
Waktu itu Revin dijuluki seperti itu karena memang tubuhnya sangat gendut. Sekarang pria yang berada di hadapannya ini bertubuh tinggi 190 cm dan terlihat tampan.
"Ah, aku ingat. Wah kamu beda banget dibanding waktu kecil dulu, aku sampai nggak kenal."
Bisa bertemu kenalan di tempat asing tentu adalah hal yang menyenangkan.
Reina tersenyum tipis, entah perasaan apa yang timbul di hati Revin.
"Ayo, kuantar pulang."
Revin mendapati ternyata Reina tinggal di sebuah motel bobrok.
Reina jadi sungkan dan berkata, "Ah, ketahuan deh. Jadi malu aku."
"Kamu jangan bilang ke Bu Lyann ya kalau aku tinggal di sini, takutnya dia jadi khawatir."
Revin mengangguk.
Sekarang sudah larut malam.
Tidak baik bagi Revin untuk tinggal lama-lama.
Revin pun pergi setelah memberi tahu Reina kalau dia akan menemuinya lagi besok pagi.
Karena gelap gulita, Revin tidak menyadari ada sebuah mobil Maybach berwarna hitam yang terparkir di dekat pintu hotel.
Revin sudah pulang.
Karena minum terlalu banyak, Reina merasa sakit perut dan pusing.
"Dok! Dok!"
Pintu kamar Reina digedor.
Reina kira Revin datang kembali, dia pun membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, pergelangan tangan Reina langsung dicengkeram Maxime.
Reina yang ringkih tentu tidak sepadan dengan tenaga pria kekar seperti Max, cengkeraman Maxime membuat pergelangan tangan Reina rasanya mau patah.
"Reina! Hebat juga ya kamu!"
Maxime menutup pintu dengan punggung tangannya lalu mendorong Reina ke sofa.
"Ternyata kamu sudah memilih mangsamu selanjutnya, pantas saja kamu mau melepaskanku!" cibir Maxime.
Perkataan Maxime seperti pisau yang menyayat hatinya.
Entah bangaimana Maxime bisa mengetahui keberadaannya di sini dan bertemu dengan Revin.
Reina tertegun, dia tidak membela diri dan hanya menatap Maxime. "Kenapa? Kita 'kan sama saja."
Keluarga Andara sudah menipu Maxime dalam pernikahan ini.
Maxime memperlakukan Reina dengan dingin, bahkan dia yang berstatus suami Reina masih mempertahankan hubungannya dengan Marshanda, cinta pertamanya.
Mereka berdua sama, tidak ada yang berhak membenarkan diri.
Hari ini Maxime juga minum-minum, tubuhnya bau alkohol.
Maxime menjepit dagu Reina dan berujar dengan suara yang dalam.
"Siapa dia?"
"Sejak kapan kalian kenal?"
Ini adalah pertama kalinya Reina melihat Maxime yang seperti ini, dia pun tersenyum.
"Kamu cemburu?"
Maxime memicingkan mata lalu mendengus dingin, "Kamu pikir siapa kamu?"
Reina tercekat.
Maxime menindih tubuh Reina dan berbisik di telinga wanita itu.
"Dia sudah menyentuhmu, 'kan?"
Setelah menikah, Reina berhenti bekerja karena dilarang oleh Keluarga Sunandar. Kadang teman-temannya suka mengajaknya bertemu, tetapi selalu Reina tolak.
Sekarang bisa-bisanya Maxime masih mencurigainya.
Namun, Reina merasa agak lega.
"Menurutmu?" Reina balik bertanya.
Maxime jadi sangat kesal, tangannya pun langsung menggerayangi tubuh Reina.
Bab 6
Reina mematung dan tidak bisa berkutik, dia tidak percaya semua hal ini terjadi.
Reina berusaha meronta dan menolak, tetapi usahanya sia-sia.
Maxime baru kembali tenang setelah mencapai puncak kepuasan.
Di luar, langit sudah mulai terang.
Maxime melirik tubuh Reina yang ringkih, lalu mendapati ada noda merah di kasur. Maxime merasakan sesuatu, tetapi dia tidak bisa menjelaskannya.
"Plak!"
Reina mengangkat tangannya dan menampar wajah Maxime kuat-kuat.
Tamparan ini sekaligus mematahkan semua ilusinya tentang cinta.
Telinga Reina kembali berdengung, dia tidak bisa mendengar apa yang Maxime katakan dan langsung membentaknya, "Keluar!"
Maxime pun pergi.
Adegan semalam terus berputar di benaknya.
Maxime kembali ke mobilnya dan berkata pada Ekki, asistennya, "Selidiki pria mana saja yang Reina kenal."
Ekki bingung.
Mana mungkin ada pria lain? Setelah menikah setiap hari Reina hanya mencintai Pak Maxime, mana mungkin ada pria lain?
...
Di motel, setelah Maxime pergi.
Reina mandi dan menggosok dirinya berulang kali.
Mendekati perceraian mereka baru melakukan hubungan suami istri? Benar-benar konyol dan juga ... miris ....
Jam 9 pagi, Revin datang membawa sarapan tetapi tidak menyadari ada yang aneh dari Reina.
"Ah, semalam aku lupa kasih tahu. Kebetulan aku punya apartemen kosong, bagaimana kalau kamu tinggal di sana?"
"Nggak aman seorang gadis sepertimu tinggal di motel sendirian."
Reina menggeleng dan menolak.
Balas budi adalah hal yang paling sulit dilakukan, Reina tidak ingin utang budi pada orang lain.
Revin sudah menduga Reina akan menolaknya, dia pun membujuk, "Sudah, nggak apa-apa, kamu tinggal saja di sana. Lagian, aku akan menagih biaya sewa."
"Tapi paling aku hanya akan tinggal selama sebulan."
"Nggak masalah, lebih baik daripada kamar itu kosong sebulan."
Sebenarnya Revin tidak paham kenapa Reina bilang dia hanya akan tinggal selama sebulan, karena baginya waktu mereka bersama masih sangat panjang.
Revin mengantar Reina ke sana.
Reina hanya membawa sebuah koper, tidak ada barang lain.
Setelah masuk ke mobil, Revin mengobrol dengan Reina tentang masa kecil mereka, lalu Revin menceritakan seperti apa hidupnya setelah mereka berpisah.
Revin pergi ke luar negeri setelah lulus SMA dan bekerja keras untuk membiayai pendidikannya di luar negeri. Di umur 20 tahun, dia berhasil mendirikan perusahaan sendiri dan sekarang dia bisa dibilang sudah jadi seorang bos.
Reina kagum mendengar pencapaian Revin yang luar biasa, lalu berkaca pada dirinya sendiri.
Setelah lulus, dia menikah dengan Maxime dan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Reina menatap Revin dengan kagum, "Kamu hebat banget."
"Kamu juga hebat! Setelah kamu pergi dari kampung, aku masih mencari berita tentangmu. Kamu pernah masuk berita karena meraih juara satu sebagai pianis muda, 'kan? Waktu itu kamu adalah idolaku ...."
Revin tidak memberi tahu Reina.
Di awal ceritanya mengadu nasib di luar negeri, sebenarnya hidup Revin sangat susah, dia banyak belajar hal buruk bahkan sampai ingin menyerah terhadap diri sendiri.
Sampai suatu hari, dia melihat sosok Reina di berita internasional. Waktu itu Reina terlihat seperti cahaya yang mendorong Revin untuk bangkit dan kembali berjuang.
Revin memuji kehebatan Reina dan Reina mendengarkan dengan saksama, karena dia sendiri hampir melupakan masa-masa itu.
Akhirnya mereka sampai.
Sebelum masuk ke dalam, Reina berujar, "Terima kasih ya, bahkan aku hampir lupa seperti apa diriku yang dulu."
Reina tinggal di tempat Revin.
Masih ada belasan hari sebelum tanggal 15 Mei tiba, hari di mana Reina dan Maxime akan resmi bercerai.
Tiba-tiba, dia teringat janjinya pada Treya.
Suatu pagi, Reina pergi membeli guci abu.
Kemudian, dia pergi ke sebuah studio foto. Semua staf studio itu menatap Reina dengan bingung karena dia meminta foto dirinya dicetak hitam putih.
Reina pulang setelah semua urusannya selesai.
Di rumah, Reina melamun sembari menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba ponsel Reina berdering.
"Nana, siapa yang menyuruhmu memberiku uang? Aku nggak butuh uang itu, kamu simpan saja untuk nanti, mungkin kamu mau berbisnis atau ada keperluan lain ...."
Selama ini, Reina memang diam-diam sering memberi uang pada Lyann.
Lyann tinggal di kampung sehingga tidak butuh banyak uang, jadi selama ini dia selalu menyimpan uang pemberian Reina.
Air mata mulai membasahi wajah kuyu Reina saat dia mendengar omelan Lyann yang sangat menyayanginya.
"Bu Lyann, apa Ibu mau menjemputku sama seperti waktu kecil dulu?"
Lyann bingung.
Reina melanjutkan, "Tanggal 15 nanti, aku mau Bu Lyann menjemputku pulang ke rumah kita."
Lyann tidak mengerti, ada apa dengan tanggal 15?
"Oke, Ibu jemput kamu ya tanggal 15 nanti."
Belakangan ini pihak rumah sakit sering mengiriminya pesan dan memintanya melakukan pemeriksaan kesehatan, tetapi semua ini ditolak dengan sopan oleh Reina.
Bagaimanapun, dia sudah memutuskan untuk pergi dari dunia ini, tidak ada gunanya membuang uang untuk pengobatan.
Reina membuka buku tabungannya dan melihat masih ada uang dua ratusan juta, Reina berencana memberikan uang ini pada Lyann untuk biaya masa tuanya.
Dalam beberapa hari terakhir, Kota Simaliki terus diguyur hujan.
Revin sering mengunjunginya dan selalu mendapati Reina sedang duduk melamun sendirian di teras.
Revin juga menyadari pendengaran Reina semakin memburuk karena meski Revin sudah berkali-kali mengetuk pintu, Reina tetap tidak mendengarnya.
Di sisi lain, di Grup Sunandar.
Setelah selesai bekerja, Maxime terbiasa melirik ponselnya untuk melihat apa ada pesan dari Reina atau tidak. Setiap kali mendapati tidak ada pesan dari Reina, tatapan Maxime sontak berubah menjadi suram.
Saat ini, Ekki masuk ke ruangannya.
"Pak Maxime, kami sudah tahu siapa pria itu. Namanya Revin, dia adalah teman masa kecil Reina."
Apa yang Maxime ketahui sama dengan berita yang beredar. Itu adalah teman masa kecil Reina, Revin Lander.
Ekki melaporkan, Revin adalah pria yang Reina kenal sewaktu di kampung dulu.
Artinya, Reina mengenal Revin lebih dulu dibanding mengenal Maxime.
Maxime mengernyit kesal begitu mengingat pria bermata genit itu.
"Pak Maxime, Pak Jovan masih menunggumu di luar."
Maxime menjawab, "Bilang padanya hari ini aku masih ada kerjaan."
Ekki terkejut.
Beberapa hari belakangan, Pak Maxime selalu pergi bersenang-senang dengan para anak orang kaya itu setelah selesai bekerja, ada apa hari ini? Tumben?
Maxime turun ke bawah dengan lift khusus untuknya dan naik ke mobilnya di garasi, kemudian melajukan mobilnya ke motel tempat Reina menginap.
Namun, sesampainya di sana, Maxime baru tahu kalau Reina sudah pindah beberapa hari yang lalu.
Seketika, Maxime merasa kesal. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Reina.
Baru saja Maxime memutuskan akan meneleponnya, masuklah telepon dari Marshanda.
"Ada apa?"
"Max, kata Ibu Reina, Reina sedang bersiap menikah."
Maxime tercekat.
Marshanda pergi menemui ibu dan adik Reina.
Dari keduanya-lah Marshanda tahu bahwa Reina akan menikahi seorang kakek tua demi uang 600 miliar.
Melihat Maxime hanya diam saja, Marshanda kembali mengompori.
"Kata ibunya, Reina yang minta mahar sebesar 600 miliar. Nggak kusangka ternyata dia seperti itu."
"Dia juga bilang karena belum melewati masa tenang, dia nggak enak mengadakan pesta, jadi dia berencana menikah secara sipil dulu."
...
Padahal faktanya, Reina tidak tahu menahu rencana ibu dan adiknya yang sedang mempersiapkan pesta pernikahan untuknya. Reina sendiri tidak menganggap serius pembicaraannya dengan Treya waktu itu.
Hari ini, Reina baru mendapat pesan dari ibunya, "Pak Jeremy sudah menentukan hari pernikahanmu, tanggal 15 bulan ini."
"Masih ada empat hari lagi, siapkan dirimu dengan baik. Kali ini, kamu harus bisa menjaga perasaan Pak Jeremy, ngerti?"
Entah bagaimana Reina harus menjelaskan perasaan yang timbul di hatinya ini.
Tanggal 15 ....
Hari yang penuh kegembiraan ....
Hari di mana dia dan Maxime akan bercerai.
Hari dia dipaksa menikah dengan kakek tua ....
Juga hari di mana dia sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia ini ....
Reina takut melupakan semua hal penting ini, jadi dia mencatatnya di buku catatannya.
Setelah selesai mencatat, Reina menulis surat wasiat.
Reina menggenggam pulpennya untuk waktu yang cukup lama, dia tidak tahu mau menulis apa. Akhirnya, dia menulis surat untuk Lyann dan Revin.
Surat itu dia selipkan di bawah bantal.
Tiga hari kemudian.
Hari ini tanggal 14 dan hujan turun dengan sangat deras.
Ponsel Reina yang ada di atas meja terus berdering.
Treya meneleponnya tanpa henti dan menanyakan keberadaannya.
Karena besok Reina akan menikah, Treya menyuruh Reina pulang supaya bisa menyiapkan pernikahan dengan baik.
Reina tidak mengangkat telepon atau membalas pesan Treya. Hari ini dia memakai gaun panjang berwarna merah muda cerah dan merias wajahnya.
Meski pada dasarnya dia sudah cantik, tubuhnya saat ini terlalu kurus dan wajahnya terlalu pucat.
Reina menatap pantulan dirinya yang cantik di cermin, saat ini dia seolah kembali seperti sebelum menikah dengan Maxime.
Setelah itu, Reina naik taksi dan pergi menuju sebuah pemakaman.
Reina turun dari taksi sambil memegang payung, lalu berjalan perlahan menuju batu nisan ayahnya dan meletakkan buket bunga aster putih.
"Ayah."
Angin dingin menderu mengiringi butiran air hujan yang jatuh di atas payung.
"Maaf .... Awalnya aku nggak mau datang ke sini, tapi sekarang aku benar-benar nggak punya tempat tujuan. "
"Aku mengaku, aku itu pengecut dan takut berjalan sendirian. Itu sebabnya aku memutuskan untuk datang ke sini ...."
"Kalau Ayah mau marah, marahi saja aku."
Reina berujar pelan, lalu duduk di samping batu nisan dan memeluk dirinya sendiri.
Dia kembali menyalakan ponselnya dan mendengar pesan suara Treya satu per satu.
"Reina! Kamu pikir kamu bisa kabur dengan bersembunyi?"
"Adikmu sudah mengambil uang itu. Pak Jeremy juga punya mata-mata di mana-mana, kamu pikir dia akan melepaskanmu?"
"Coba kamu pikir, lebih baik menikah baik-baik daripada diseret di hari pernikahanmu sendiri, 'kan?"
"Kamu harus tahu diri, sekarang ini ...."
Reina membaca semua pesan itu dalam hati.
Setelah itu, dia mengetik balasan, "Aku nggak mau pulang. Besok, kalian bisa menjemputku di pinggir barat kota. Kutunggu kalian di depan batu nisan Ayah."
Treya tidak berpikir macam-macam saat membaca pesan Reina, karena sudah mendapat balasan, Treya pun tidak lagi mengganggu Reina.
Reina menikmati saat-saat damai seperti ini.
Dia akan duduk di sini sepanjang hari.
Waktu malam tiba, dia mengeluarkan patung kayu kecil yang diukir ayahnya untuknya ketika dia masih kecil. Reina memegangnya dengan hati-hati, menggunakan tubuhnya untuk melindungi patung itu dari malam yang gelap dan hujan lebat.
Waktu berlalu menit demi menit, sampai akhirnya tepat pukul 12 malam.
Tanggal 15 pun tiba.
Reina menatap langit gelap yang tak berujung, hatinya penuh kepahitan.
Pukul tiga dini hari.
Dengan tangan gemetar, Reina mengeluarkan sebotol obat dari tasnya ....
Bab 7
Saat ini, di Vila Magenta.
Waktu pulang, Maxime langsung duduk di sofa di ruang tamu tanpa menyalakan lampu.
Saking lelahnya, Maxime memijit pelipisnya lalu tertidur, tetapi tidak berapa lama dia kembali terbangun.
Aneh sekali.
Lagi-lagi dia mimpi buruk tentang Reina.
Dalam mimpinya, dia melihat Reina sudah mati dan hal itu terasa sangat nyata ....
Maxime melirik ponselnya, sekarang baru jam empat pagi.
Maxime sadar hari ini adalah hari terakhir masa tenang dan mereka sepakat untuk bercerai.
Maxime pun tidak menahan diri dan mengirimkan sebuah pesan pada Reina, "Jangan lupa, hari ini kita harus urus perceraian."
Reina sudah mulai tidak sadar saat menerima pesan Maxime, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk mengetik pesan balasan.
"Maaf ... sepertinya aku nggak bisa datang."
"Tapi, kamu nggak usah khawatir. Perceraian kita akan tetap berjalan ...."
Kalau Reina meninggal, tentu pernikahan mereka tidak lagi berlaku.
Maxime merasa lega setelah mendengarkan pesan suara Reina.
Sudah Maxime duga, mana mungkin wanita itu mati?
Reina tidak mungkin mati dan tidak mungkin rela bercerai darinya.
Maxime pun menelepon Reina.
Selama ini, sebenarnya Reina hampir tidak pernah menerima telepon dari Maxime.
Maxime jarang sekali bicara basa-basi dengannya, komunikasi mereka hanya melalui pesan.
Reina mengangkat panggilan itu, tetapi sebelum dia sempat menyahut, perkataan dingin Maxime sudah lebih dulu mendarat di telinganya.
"Reina, kesabaranku juga ada batasnya. Bukannya kamu yang mau bercerai?"
"Sekarang kamu menyesal karena aku nggak memberimu uang?"
"Kamu mau menikah dengan orang lain, memangnya uang 600 miliar nggak cukup?"
Reina tercekat.
Tiba-tiba dia tidak bisa mendengar apa pun.
Namun, Reina tidak mau disalahkan untuk hal yang tidak dia lakukan, jadi dia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menjawab.
"Max ... aku menikahimu ... sama sekali bukan karena uang."
"Sekarang aku ingin bercerai ... juga bukan demi uang ...."
"Mungkin kamu nggak akan percaya, tapi aku cuma mau bilang ... aku sama sekali nggak tahu ... masalah tentang ibu dan adikku yang melanggar perjanjian."
"Sekarang, aku juga nggak akan ... menikahi orang lain hanya demi uang 600 miliar ...."
Suara Reina putus-putus.
Maxime bisa mendengar angin yang menderu kencang dan suara hujan di ujung telepon.
"Kamu ada di mana sekarang?"
Reina tidak bisa mendengar suara Maxime, dia meremas erat ponselnya dan terus menjelaskan.
"Kalau ... aku tahu ibu dan adikku akan berbuat seperti itu, aku pasti ... nggak akan mau menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... hanya ada Marshanda di hatimu ... aku nggak akan menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... ayahku akan kecelakaan di hari pernikahanku, aku juga nggak akan ... menikah denganmu."
Tidak akan! Tidak akan menikah dengan Maxime!
Dari kata-kata Reina, Maxime bisa mendengar kepahitan yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
Maxime juga mendengar Reina sangat menyesal sudah menikah dengannya ....
Maxime tercekat, rasanya ada bola yang mengganjal tenggorokannya.
"Apa hakmu menyesal? 'Kan kamu yang dulu merengek untuk menikah denganku?"
Suara berat Maxime terdengar agak serak.
Di ujung telepon, suara Reina yang terus melemah pun semakin tidak terdengar.
"Reina! Kamu ada di mana sekarang?"
Sampai akhir, Maxime tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, dia hanya mendengar kata-kata terakhir Reina.
"Sebenarnya .... Aku selalu berharap supaya kamu bahagia. "
"Buk!"
Ponsel Reina jatuh dari tangannya.
Hujan membasahi ponsel itu dan lambat laun layarnya menjadi gelap.
...
Di Vila Magenta.
Maxime jadi panik waktu panggilannya terputus.
Dia menelepon kembali, tetapi langsung disambut jawaban operator, "Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi ...."
Maxime berdiri, mengenakan mantelnya dan bersiap pergi.
Namun, langkahnya terhenti di depan pintu.
Reina pasti sedang bermain tarik ulur.
Mereka berdua akan segera resmi bercerai, Reina tidak ada hubungannya dengan Maxime.
Maxime pun kembali ke kamar, tetapi entah mengapa dia tidak bisa tidur.
Perkataan Reina terus terngiang di benaknya.
"Kalau ... aku tahu ibu dan adikku akan berbuat seperti itu, aku pasti ... nggak akan mau menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... hanya ada Marshanda di hatimu ... aku nggak akan menikah denganmu."
"Kalau aku tahu ... ayahku akan kecelakaan di hari pernikahanku, aku juga nggak akan ... menikah denganmu."
Maxime bangun lagi dan tanpa sadar berjalan ke kamar Reina.
Sudah sebulan Reina meninggalkan tempat ini.
Maxime membuka pintu kamar dan mendapati kamar itu gelap, suasananya sangat muram.
Maxime menyalakan lampu, kamar Reina sangat kosong, tidak ada barang pribadi yang tersisa.
Maxime duduk di kasur dan membuka laci meja di sampingnya, di dalam ada sebuah buku catatan kecil.
Hanya ada satu kalimat yang tertulis di sana.
"Menurutku orang yang memilih untuk pergi adalah yang paling menderita karena dia sudah melewati berbagai macam pergumulan batin sebelum akhirnya mengambil keputusan."
Maxime mencibir saat membacanya, "Menderita?"
"Kamu pikir aku nggak menderita selama bersamamu?"
Maxime membuang buku itu ke tempat sampah.
Namun, sesaat sebelum meninggalkan kamar Reina, dia kembali meletakkan buku catatan itu di atas meja.
Setelahnya, Maxime tetap tidak bisa tidur.
...
Di sisi lain.
Revin juga tidak bisa tidur nyenyak, dia merasa ada yang tidak beres dengan Reina dalam dua hari terakhir, tetapi dia tidak tahu apa yang janggal.
Sekitar pukul empat pagi, Lyann meneleponnya.
"Vin, apa kamu bisa membantuku? Coba jenguk Reina, barusan aku mimpi aneh."
Revin pun duduk di kasur, "Mimpi apa?"
"Aku mimpi sesuatu terjadi pada Nana. Dia datang padaku dalam kondisi basah kuyup dan memintaku jangan sampai lupa menjemputnya pulang."
Tangis Lyann pun pecah. "Aku takut terjadi sesuatu padanya, teleponnya nggak diangkat dari tadi."
"Beberapa hari yang lalu, dia menyuruhku untuk menjemputnya di tanggal 15."
"Aku merasa ada yang nggak beres ...."
Revin mendengarkan cerita Lyann sampai selesai lalu menggabungkannya dengan sikap Reina belakangan ini. Revin pun langsung ganti baju.
"Jangan khawatir, aku akan mencarinya sekarang."
Rumahnya sangat dekat dengan apartemen tempat Reina tinggal.
Revin sampai sepuluh menit kemudian dan langsung membuka pintu kamar, tetapi yang menyambutnya adalah suasana sunyi.
Pintu kamar tidur Reina terbuka dan di dalamnya kosong.
Reina tidak ada di rumah.
Pergi ke mana wanita itu?
Revin melihat ada dua buah amplop di dekat bantal, dia mengambil dan membukanya. Setelah dibaca sedikit, barulah dia sadar kalau itu adalah surat wasiat.
Salah satunya adalah pesan untuk Revin.
"Revin, uang sewa kamar ini sudah aku transfer ke rekeningmu, ya. Terima kasih sudah menjagaku belakangan ini."
"Kamu tahu nggak, aku itu nggak punya teman sejak datang ke Kota Simaliki. Sebelum akhirnya bertemu denganmu, kukira aku ini orang yang nggak berguna sampai nggak ada yang mau berteman denganku."
"Untungnya, kita bisa bertemu. Kamu membuatku sadar kalau ternyata aku nggak sejelek itu. Terima kasih banyak, ya .... Kamu nggak boleh sedih, aku cuma mau ketemu ayah, dia pasti akan menjagaku."
Surat wasiat lainnya ditulis untuk Lyann.
Revin membuka surat itu dan membaca isi suratnya. Di baris terakhir surat, dia menemukan sebuah alamat untuk Lyann.
Revin bergegas pergi.
Alamat yang berada di pinggir barat kota itu tidak jauh dari posisinya sekarang, bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan mobil.
Namun, bagi Revin sekarang, tempat itu terasa sangat jauh.
Dia tidak mengerti bagaimana seseorang yang dulunya begitu cemerlang dan punya masa depan yang cerah bisa-bisanya memilih untuk mati.
Di saat bersamaan, Treya juga menuju pinggir barat kota.
Hanya saja, Treya datang menjemput Reina yang akan dijualnya seharga 600 miliar pada kakek tua.
Di Heaven Stair, sebuah taman makam di pinggir barat Kota Simaliki.
Hujan turun begitu deras.
Reina terkulai di depan batu nisan ayahnya. Hujan deras membuat tubuhnya basah kuyup, rupanya saat ini seperti setangkai bunga layu di pinggir jalan yang bisa menghilang dari dunia dalam sekejap.
Revin menerobos hujan dan berlari menghampiri Reina.
"Reina!!"
Hanya suara angin dan hujan yang menjawab teriakan Revin, tidak ada respons apa pun dari Reina. Saat Revin memeluknya, barulah dia sadar ada sebotol obat kosong di samping Reina.
Revin mengangkat tubuh Reina dengan tangan gemetar.
Ringan sekali tubuhnya?
"Reina, bangun!"
"Reina, sadarlah!"
Revin terus memanggil Reina sambil menggotongnya ke mobil.
...
"Nyonya, kita sudah sampai," kata sopir.
Treya melihat ke luar jendela dan melihat seorang pria asing sedang menggendong ... Reina.
"Bagus sekali ya kelakuanmu, Reina!"
Trenya mengernyit dan turun dari mobil.
Hari ini, Treya mengenakan gaun berwarna merah meriah, percikan air hujan membasahi gaunnya.
Treya bergegas menghampiri untuk memarahi Reina.
Namun, saat Treya baru saja mau buka mulut, dia mendapati Reina bersandar lemas di pelukan Revin, wajahnya pucat dan matanya terpejam ....
Treya mematung.
"Reina ...."
Treya baru akan bertanya apa yang terjadi saat matanya tertuju pada botol obat yang tertiup angin.
Treya buru-buru mengambil botol obat itu dan membaca labelnya, "Obat Tidur."
Treya jadi teringat perkataan Reina beberapa hari yang lalu.
"Kalau aku mengembalikan nyawaku padamu yang sudah melahirkanku, apa artinya kamu bukan lagi ibuku dan aku nggak lagi berutang padamu?"
Payung di tangan Treya jatuh ke tanah.
Treya meremas botol obat di tangannya sambil menatap Reina tidak percaya, entah matanya basah karena hujan atau air mata.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini!"
"Nyawamu itu milikku!"
Bibir merah merona Treya bergetar.
Diego tidak ikut turun, dia tetap di mobil dan jadi bertanya-tanya kenapa ibunya berdiri lama sekali di tengah kuburan.
Diego pun menyusul dan langsung terhenyak begitu tahu kondisinya.
Dia tidak menyangka kakaknya benar-benar berani bunuh diri ....
Diego yang sadar dari lamunannya pun jadi panik, "Bu, bagaimana ini? Uang Pak Jeremy sudah kupakai untuk membuka perusahaan baru."
Sekarang akhirnya Revin mengerti kenapa Reina yang awalnya ceria dan kuat berubah menjadi seperti ini!
Treya mengepalkan tinjunya, sorot matanya terlihat murka. Dia berteriak, "Kenapa kamu nggak mati setelah menikah saja? Kenapa!"
Revin tidak sanggup mendengarkan ucapan ibu dan adik berhati kejam ini.
"Pergi!"
"Jangan sampai aku mengulangi perkataanku."
Treya dan Diego baru menyadari ternyata pria di hadapan mereka cukup berkarisma, sama seperti Maxime.
"Siapa kamu?" Diego melangkah maju. "Dia itu kakakku, apa hakmu mengusir kami?"
Setelah itu, Diego berujar pada Treya, "Bu, orang-orang Pak Jeremy sudah mendesak kita, katanya kalau nggak segera mengantar Reina, mereka akan menghajar kita."
Treya menenangkan diri lalu berujar dengan kejam, "Masukkan dia ke mobil, dalam kondisi mati pun dia harus menyelesaikan prosedur pernikahannya dulu."