Bab 3
Suara Reina begitu tenang dan ringan.
Seolah perceraian ini hanya hal sepele.
Pupil mata Maxime menegang.
"Apa katamu?"
Selama pernikahan mereka, seketerlaluan apa pun perlakuan Maxime padanya, Reina tidak pernah menyebut kata 'cerai'.
Sebenarnya Maxime paham betul betapa Reina sangat mencintainya.
Tatapan Reina yang awalnya kosong saat ini berubah menjadi sangat tajam.
"Pak Maxime, selama ini aku sudah menjadi penghalangmu."
"Kita cerai saja."
Maxime meremas tinjunya kuat-kuat.
"Kamu dengar pembicaraanku barusan, 'kan? Keluarga Andara sudah berada di ujung jurang, apa bedanya menikah denganku atau menikah dengan orang lain?"
"Apa tujuanmu bercerai? Kamu mau anak atau mau uang? Atau mau mengancamku supaya aku nggak melakukan apa pun pada Keluarga Andara?" Maxime bertanya dengan dingin.
"Jangan lupa, aku sama sekali nggak mencintaimu, ancamanmu nggak berguna untukku!"
Sosok Maxime di mata Reina tiba-tiba menjadi kabur. Reina merasa tenggorokannya tercekat dan telinganya sakit. Bahkan dengan alat bantu dengar, dia tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Maxime selanjutnya.
Jadi, Reina hanya bisa menjawab pertanyaan Maxime, "Aku nggak mau apa-apa."
Takut Maxime menyadari ada yang janggal, Reina pun buru-buru meninggalkan ruang kerja.
Maxime menatap punggung Reina, entah kenapa dia belum pernah sekesal ini.
Dia tidak pernah mengendalikan emosinya demi orang lain, jadi dia langsung membalikkan meja di depannya.
Sup yang dimasak Reina pun tumpah ....
...
Reina kembali ke kamar dan menegak banyak obat.
Dia menyentuh telinganya dan mendapati jarinya terlumuri darah segar.
Mungkin karena efek obat, saat matahari baru saja terbit di ufuk timur, pendengaran Reina sudah pulih.
Reina melamun sambil memandangi sinar matahari yang menembus dari celah jendelanya.
"Hujan sudah berhenti."
Hari ini, Maxime tidak pergi ke mana-mana.
Sedari pagi dia hanya duduk di sofa dan menunggu Reina yang menyesal datang minta maaf padanya.
Selama tiga tahun pernikahan, ada kalanya amarah Reina meledak.
Namun, setiap kali setelah selesai marah dan meluapkannya dalam tangisan, tidak berapa lama Reina pasti akan datang minta maaf.
Maxime pikir kali ini pasti sama saja.
Maxime melihat Reina yang bersiap pergi setelah selesai mandi. Seperti biasa wanita itu mengenakan pakaian berwarna gelap, tetapi kali ini sambil menyeret koper dan ada sebuah dokumen di tangannya.
Ketika Reina menyerahkan dokumen itu pada Maxime, barulah dia menyadari kalau itu adalah dokumen persetujuan perceraian.
"Max, telepon aku kalau sudah ada waktu."
Reina mengucapkan kalimat ini dengan santai dan tanpa ekspresi apa pun, lalu keluar dari rumah sambil menyeret kopernya.
Setelah hujan berlalu, cuaca begitu cerah.
Seketika, Reina merasa seperti terlahir kembali.
Maxime hanya berdiri mematung sambil meremas dokumen perceraian itu.
Setelah beberapa lama, barulah Maxime tersadar dari lamunannya.
Hari ini adalah hari terakhir perayaan hari ziarah makam.
Di hari seperti ini tahun-tahun sebelumnya, Maxime biasanya membawa Reina pulang ke kediaman utama untuk berdoa untuk para leluhur.
Tentu semua kerabat Keluarga Sunandar memperlakukan Reina dengan berbeda.
Hari ini, Maxime sendirian.
Maxime sangat gembira.
Di kediaman utama.
Joanna Debrista, ibu Maxime, juga kerabat lain bingung saat melihat Maxime datang sendirian.
Biasanya di saat seperti ini, Reina sebagai cucu menantu tertua akan datang paling awal dan pulang paling terakhir untuk mengambil hati kerabat lainnya.
Apa hari ini dia tidak datang?
Joanna mengernyit dan bertanya pada putranya, "Max, mana Reina?"
Tatapan Maxime menjadi dingin saat mendengar pertanyaan ini.
"Dia minta cerai, lalu kabur dari rumah."
Semua orang tercengang dan suasana sontak menjadi sunyi. Tidak ada yang memercayainya.
Joanna juga sangat terkejut.
Di dunia ini, selain orang tuanya sendiri, tidak ada yang lebih mencintai Maxime selain Reina.
Tujuh tahun lalu, Maxime terluka parah dan Reina-lah yang menyelamatkannya.
Empat tahun lalu, keduanya sudah bertunangan. Suatu hari Maxime pergi ke Kota Debai untuk keperluan bisnis, malangnya terjadi sesuatu masalah.
Semua orang mengatakan Maxime sudah mati, hanya Reina yang tidak mau memercayainya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia langsung pergi ke Kota Debai.
Di kota yang ada di negara asing itu dia berjuang sendirian mencari Maxime selama tiga hari penuh.
Begitu pula setelah menikah, Reina selalu sangat berhati-hati dalam mengurus urusan rumah tangga dan memperlakukan orang-orang di sekitar Maxime termasuk sekretarisnya dengan baik.
Bagaimana bisa Reina yang seolah tidak bisa hidup tanpa Maxime minta cerai?
Kenapa?
Joanna tidak paham, tetapi dia senang wanita itu sudah melepaskan putranya.
"Mau diusahakan seperti apa pun, wanita sepertinya nggak bisa naik kelas untuk sederajat dengan kita. Baguslah kalau cerai."
"Dia sama sekali nggak pantas untukmu."
Begitu ibu Maxime berkomentar, yang lain pun ikut menimpali.
"Ya, benar itu. Kak Max masih muda dan tampan, apalagi sekarang sedang berada di puncak kejayaan, sayang Reina sudah menjadi penghalang selama ini."
Acara yang harusnya diisi dengan mendoakan para leluhur berubah jadi gosip yang menghina Reina.
Mereka semua membuat sosok Reina seperti orang jahat.
Anehnya, Maxime harusnya ikut merasa senang, 'kan? Namun, kenapa ejekan orang-orang itu membuatnya kesal?
Maxime pun pulang lebih awal.
Langit mulai gelap saat dia sampai di Vila Magenta.
Maxime membuka pintu dan melangkah masuk, dirinya langsung diselimuti oleh kegelapan dan membuatnya sadar bahwa Reina sudah benar-benar pergi.
Maxime melepas sepatunya, lalu melemparkan mantelnya ke mesin cuci.
Entah mengapa hari ini rasanya dia begitu lelah.
Maxime berniat mengambil sebotol anggur dari tempat penyimpanan anggur untuk merayakan kepergian Reina.
Namun, dia baru sadar bahwa tempat itu terkunci dan dia tidak punya kuncinya.
Maxime tidak suka keberadaan ada orang luar, sehingga tidak ada pembantu di vila ini.
Selama ini, Reina-lah yang sudah mengurus semuanya.
Maxime akhirnya hanya bisa kembali ke kamar dan membuka ponselnya. Tidak ada notifikasi lain selain urusan pekerjaan, sudah sehari berlalu dan Reina masih belum menelepon atau mengiriminya pesan.
"Cih! Aku mau lihat sampai berapa lama kamu tahan?"
Maxime membuang asal ponselnya, lalu berjalan menuju dapur.
Dia langsung tercengang begitu membuka kulkas.
Karena ternyata selain makanan, banyak sekali berbagai macam obat tradisional.
Maxime mengambil salah satu bungkus itu dan membaca nama obatnya, "Sehari lima bungkus, ramuan khusus kesuburan."
Obat kesuburan ....
Maxime bisa mencium bau tidak sedap dari obat-obatan itu.
Ah, akhirnya dia tahu dari mana bau tidak sedap tubuh Reina yang tercium olehnya dulu.
Maxime mencibir, seberapa banyak pun Reina minum obat, dia tidak mungkin hamil karena mereka berdua tidak pernah berhubungan intim.
...
Di sisi lain, di sebuah motel kecil di jalan yang gelap.
Reina yang lemah membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat sakit dan lingkungan di sekitarnya sangat sunyi.
Dia tahu kondisinya semakin buruk.
Biasanya, dia tetap bisa mendengar sedikit suara meski tanpa alat bantu dengar.
Reina berdiri dengan meraba-raba, mengambil obat dari meja di samping tempat tidur dan menjejalkannya ke dalam mulut dengan paksa. Rasa obat itu sangat pahit dan sepat.
Kemarin, Reina pergi dari Vila Magenta yang sudah ditinggalinya selama tiga tahun.
Dia pulang ke rumah orang tuanya.
Namun, baru saja sampai di depan pintu, dia mendengar ibu dan adiknya, Diego Andara sedang berdiskusi akan menikahkannya dengan kakek tua berusia 80-an tahun setelah Keluarga Sunandar mendepaknya ....
Reina memandang pintu dengan tatapan kosong, dia sadar sekarang dia sudah tidak punya rumah.
Meski belum makan apa pun selama dua hari, Reina tidak merasa lapar.
Hanya saja dunianya terasa begitu hening, begitu sunyi.
Sepertinya tahun ini Kota Simaliki lebih sering diguyur hujan dibanding tahun-tahun kemarin.
Reina memandangi para pejalan kaki yang bergegas mencari tempat berteduh di luar sana, kebanyakan mereka bersama orang lain, baik berdua atau bertiga, hanya Reina yang sendirian.
Reina yang sudah tidak tahan lagi pun membeli tiket ke luar kota, dia pergi ke sebuah desa untuk mendatangi orang yang sudah mengasuhnya dari kecil, Lyann Kintara.
Reina sampai di tempat tujuan sekitar jam sembilan malam.
Waktu Lyann melihat Reina, wajah ramahnya terlihat sangat terkejut.
"Nana ...."
Melihat dirinya disambut dengan senyum ramah Lyann, hidung Reina terasa masam. Dia mengulurkan tangan untuk memeluknya, "Bu Lyann ..."
Karena alasan kesehatan, Lyann tidak pernah menikah dan tentunya tidak punya anak kandung.
Bagi Reina, Lyann sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
Malamnya. Reina bersandar di pelukan Lyann, seolah kembali ke masa kecilnya dulu.
Lyann memeluknya dan menyadari tubuh Reina sangat kurus, bahkan sudah seperti tulang yang terbungkus kulit.
Tangan Lyann yang ada di punggung kurus Reina tidak bisa berhenti gemetar. Dia berusaha menenangkan Reina. Dia bertanya dengan hati-hati, "Nana, apakah Max memperlakukanmu dengan baik?"
Reina tercekat waktu mendengar nama Maxime, awalnya dia ingin membohongi Lyann dan mengatakan semuanya baik-baik saja ....
Namun, dia tahu Lyann bukan wanita bodoh.
Kini setelah Reina memutuskan untuk pergi, dia tidak ingin lagi membohongi dirinya sendiri atau orang lain yang mencintainya.
"Wanita yang dia cintai sudah kembali. Aku akan melepaskannya dan menceraikannya."
Lyann tertegun tidak percaya.
Bukan hanya sekali Reina mengatakan padanya kalau dia ingin menghabisi hari tua bersama Maxime.
Lyann tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya dia hanya menghibur Reina dengan mengatakan bahwa ada begitu banyak orang di dunia ini, pasti ada seseorang yang akan mencintainya dengan tulus.
Reina mengangguk dalam diam, dengungan di telinganya menutupi suara Lyann yang menenangkan.
Jarang sekali Reina bisa tidur nyenyak, tetapi malam itu dia terbangun dan sangat terkejut waktu melihat noda darah di seprai bermotif bunga kasurnya.
Reina menyentuh telinga kanannya dan merasa ada sesuatu yang lengket.
Reina membuka jarinya dan melihat ada noda darah ....
Bab 4
Alat bantu dengarnya terselimuti darah ....
Pupil mata Reina bergetar, dia buru-buru menyeka telinganya dengan tisu, melepas seprai dan mencucinya.
Reina takut akan ketahuan karena Lyann pasti mengkhawatirkan kondisinya. Jadi, dia diam-diam mengemasi semua barangnya lalu membuat alasan asal dan berpamitan pada Lyann.
Sebelum pergi, diam-diam Reina meninggalkan sebagian uang tabungannya di meja di samping tempat tidur.
Lyann mengantar Reina ke stasiun sambil melambaikan tangan dengan enggan.
Lyann sangat mengkhawatirkan Reina yang sangat kurus, jadi dia menghubungi orang dalam Grup Sunandar.
Sekretaris Maxime langsung melapor begitu tahu pengasuh Reina yang menelepon.
Hari ini adalah hari ketiga sejak kepergian Reina.
Ini juga pertama kalinya Maxime menerima telepon yang berhubungan dengan Reina.
Maxime sedang duduk di kantornya dan begitu mendapat kabar ini, dia sangat senang. Benar 'kan perkiraannya, wanita itu tidak akan bertahan lebih dari tiga hari.
Suara Lyann pun terdengar dari ujung telepon.
"Pak Maxime, saya adalah pengasuh Reina sedari kecil. Saya mohon, bisakah Anda bermurah hati dan memperlakukan Reina dengan lebih baik?"
"Dia nggak sekuat kelihatannya. Waktu baru lahir, Nyonya Treya langsung membuangnya dan menyerahkannya padaku karena dikira tuli."
"Dia baru boleh pulang ke rumah setelah menginjak usia masuk sekolah. Tapi di rumahnya sendiri, hanya Tuan Besar Anthony yang menyayanginya sedangkan yang lain memperlakukannya seperti pembantu ...."
"Pak Maxime dan Tuan Besar Anthony adalah orang yang paling dia sayangi, anggap saja saya memohon pada Anda, tolong perlakukan dia dengan baik ...."
Maxime merasa tertekan saat mendengar suara Lyann yang mulai terisak di ujung telepon.
"Hmph, kenapa bukan dia sendiri yang ngomong padaku? Nggak berani? Sampai perlu orang sepertimu yang mengatakannya padaku."
Maxime menjawab dengan nada dingin, "Mau Reina jadi apa lah, nggak ada hubungannya denganku!"
"Dia pantas hidup seperti itu!"
Setelah itu, Maxime langsung menutup telepon.
Lyann hanya tahu Maxime itu pria yang baik karena Reina memang menceritakannya seperti itu.
Baru sekarang akhirnya Lyann sadar ternyata pria ini begitu kejam dan sama sekali tidak pantas untuk Reina.
...
Reina sedang duduk di mobil dalam perjalanan pulang ke kota.
Ponsel Reina tiba-tiba bergetar, dia membukanya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Maxime.
"Bukannya kamu minta cerai? Sampai ketemu besok jam 10 pagi."
Reina menatap kosong pesan itu dan membalas singkat, "Oke."
Sepatah kata itu rasanya menusuk mata Maxime.
Sepanjang hari Maxime tidak bisa fokus.
Akhirnya dia mengajak teman-temannya minum-minum di sebuah kelab.
Marshanda juga datang.
"Hari ini kalau belum mabuk, aku nggak akan pulang."
Jovan duduk di samping Maxime dan bertanya tentang Reina, "Bagaimana kabar si tuli?"
Maxime mengangkat alisnya.
"Nggak perlu menyebutkan namanya lagi, besok kami akan urus surat cerai."
Jovan tercengang tidak percaya. "Serius?"
Mata indah Marshanda berbinar, lalu menuangkan anggur ke gelas Maxime. "Max, aku bersulang untuk hidupmu yang baru."
Malam ini Maxime minum gila-gilaan.
Marshanda ingin mengantarnya pulang, tetapi Maxime menolak.
"Nggak usah, nggak pantas."
Karena besok mereka akan bercerai, mungkin Reina akan pulang malam ini.
Marshanda tidak senang atas penolakan ini, dia pun bertanya, "Kenapa? Toh kalian sudah pasti cerai, apanya yang nggak pantas?"
"Kamu takut hubungan kita ketahuan?"
Hubungan mereka?
Maxime memicingkan mata.
"Jangan berpikir macam-macam."
Setelah masuk mobil, Maxime tetap menyuruh orang untuk mengantar Marshanda pulang.
Sepanjang perjalanan.
Maxime terus melirik ponselnya untuk melihat apa Reina ada mengirimkan pesan untuknya.
Nihil ....
Sesampainya di pintu Vila Magenta, Maxime kembali disambut oleh suasana gelap gulita.
Maxime terlihat kesal, dia masuk rumah dan menyalakan lampu, tetap tidak ada sosok Reina di sana.
Dia tidak pulang ....
Kondisi rumah sama persis seperti saat ditinggalkan Reina.
Efek anggur yang tadi Maxime minum sangat kuat. Dia duduk di sofa dan merasa tidak nyaman, tetapi setelah beberapa saat dia pun tertidur dan mimpi buruk.
Dalam mimpi, dia melihat Reina yang berlumuran darah tersenyum padanya dan berkata, "Max, aku sudah nggak mencintaimu."
Maxime langsung terbangun karena kaget dan mendapati matahari sudah terbit.
Maxime memijit pelipisnya, lalu pergi mandi. Setelah itu dia berganti pakaian memakai setelan jas dan pergi ke kantor sipil.
Di pintu masuk kantor sipil.
Maxime melihat Reina yang mengenakan pakaian berwarna gelap sedang berdiri di bawah pohon besar yang tidak jauh dari situ.
Di bawah gerimis hujan dan dilihat dari jauh, Reina terlihat kurus kering sampai seakan ditiup angin pun bisa terbang.
Maxime teringat sosok Reina waktu mereka baru saja menikah. Wanita itu terlihat sangat ceria dan menawan seperti gadis muda. Beda jauh dengan penampilannya sekarang yang begitu sendu, sudah seperti tanaman hidup segan mati tak mau.
Maxime berjalan lurus menghampiri Reina sambil memegang payung.
Butuh waktu lama sampai Reina menyadari kehadirannya.
Selama tiga tahun ini Maxime tidak banyak berubah, dia tetap tampan, berkarisma, hanya lebih dewasa dan terampil dari sebelumnya.
Sesaat, Reina tenggelam dalam lamunannya. Entah kenapa tiga tahun terakhir yang rasanya berlalu dalam sekejap mata membuatnya merasa seperti sudah menghabiskan seluruh waktu hidupnya.
Maxime mendatangi Reina dan menatapnya dengan dingin, dia sedang menunggu Reina minta maaf.
Sudah cukup 'kan marah selama tiga hari?
Tidak disangka, Reina malah berkata seperti ini padanya, "Maaf sudah mengganggu waktu kerjamu, ayo kita masuk."
Maxime tertegun, tetapi langsung kembali tenang.
"Jangan sampai menyesal."
Setelah itu, Maxime berjalan masuk ke kantor sipil.
Reina menatap punggung Maxime dengan hati pilu.
Apa dia akan menyesal?
Entahlah.
Di loket pengurusan perceraian.
Petugas bertanya pada keduanya apa mereka sudah mantap untuk bercerai, Reina berkata dengan tegas, "Ya."
Tatapan tegas Reina membuat Maxime merasa tertekan.
Setelah selesai mengurus administrasi, mereka diberikan masa tenang dan harus kembali sebulan lagi.
Kalau mereka tidak datang, maka permohonan cerai mereka otomatis batal.
Setelah keluar dari kantor sipil, Reina menatap Maxime dengan tenang dan berkata, "Sampai jumpa bulan depan. Jaga dirimu baik-baik."
Setelah itu, Reina berjalan menerobos hujan dan mencegat sebuah taksi.
Maxime mematung di tempat sambil menatap taksi yang pergi, ada sebuah rasa tak terjelaskan yang timbul di hatinya.
Mungkin ... rasa lega?
Karena Maxime tidak perlu lagi berurusan dengan Reina, dia tidak lagi akan ditertawakan orang lain karena mempunyai istri yang cacat.
...
Reina bersandar di jendela taksi, dia melamun sambil mengamati tetesan air hujan yang meluncur ke bagian bawah jendela.
Si sopir melirik kaca spion dan melihat ada darah mengalir dari telinga Reina, sopir pun berteriak kaget.
"Nona, Nona!"
Sopir sudah berteriak beberapa kali tetapi Reina tidak menjawab.
Sopir pun buru-buru menghentikan mobilnya.
Reina bingung, kenapa mobilnya berhenti padahal dia belum sampai tujuan.
Reina menatap sopir dan mendapati mulut si sopir membuka tutup seolah sedang bicara dengannya, Reina sadar saat ini dia tidak dapat mendengar.
"Maaf Pak, ada apa? Aku nggak bisa dengar."
Sopir pun mengetik di ponselnya untuk memberi tahu Reina kondisi telinganya.
Reina mengulurkan tangannya perlahan dan merasakan sentuhan hangat di ujung jarinya.
Sepertinya dia sudah terbiasa.
"Nggak apa-apa, aku sudah terbiasa, nggak masalah."
Pendengaran Reina memang lemah, tetapi awalnya tidak sampai berdarah seperti ini.
Ini semua bermula saat dua tahun lalu, sahabat Maxime, Jovan mendorongnya ke kolam renang.
Reina tidak bisa berenang sehingga dia hampir tenggelam dan gendang telinganya bengkak, waktu itu dia hampir saja mati.
Setelah dirawat di rumah sakit, gendang telinganya membaik.
Jelas-jelas sebelumnya sudah sembuh, tetapi belakangan entah mengapa kambuh lagi.
Si sopir khawatir dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Reina mengucapkan terima kasih, lalu turun mobil dan pergi menemui dokter sendirian.
Reina pergi ke dokter langganannya.
"Dokter Vino, sepertinya ingatanku belakangan ini sangat buruk, aku sering lupa apa yang sedang aku lakukan," jelas Reina.
Kejadian ini terjadi lagi pagi ini. Tadi pagi waktu bangun, dia butuh waktu cukup lama untuk mengingat bahwa hari ini dia punya jadwal mengurus perceraian dengan Maxime.
Dokter tampak sedih dan khawatir saat membaca laporan diagnosis terbaru Reina.
"Nona Reina, saya sarankan Anda melakukan tes lain seperti tes psikologi."
Tes psikologi ....
Reina mengikuti saran dokter dan memeriksakan kondisi psikologisnya.
Hasilnya, dia didiagnosis menderita depresi.
Pasien yang menderita depresi berat bisa kehilangan ingatan.
Sebelum pulang ke hotel, Reina membeli buku catatan dan sebuah pulpen. Dia mencatat semua hal yang terjadi beberapa hari belakangan dan meletakkan buku itu di samping tempat tidurnya. Esok pagi saat bangun, Reina akan membaca catatannya untuk mengingat kembali cerita hidupnya.
Semua orang heboh saat mendengar kabar perceraiannya dengan Maxime.
Malam itu, Treya meneleponnya berkali-kali, tetapi Reina tidak mendengarnya.
Keesokan paginya, barulah Reina melihat tumpukan pesan dari Treya.
"Sekarang kamu ada di mana?"
"Kamu pikir kamu ini siapa? Bahkan kalau mau bercerai, harusnya Maxime yang menceraikanmu!"
"Benar-benar lintah nggak berguna! Waktu kamu menikah, ayahmu kecelakaan, sekarang setelah bercerai, kamu ingin Keluarga Andara bangkrut?"
Reina sudah terbiasa dengan pesan kasar ini.
Reina membalas.
"Bu, mulai sekarang kita harus mandiri, jangan terlalu bergantung pada orang lain."
Tidak lama kemudian, Treya membalas pesannya.
"Dasar wanita licik nggak berperasaan! Harusnya aku nggak melahirkanmu!"
Reina tidak membalas lagi dan meletakkan ponselnya di samping.
Reina sudah membayangkan, sebulan lagi dia sudah resmi bercerai dengan Maxime, setelah itu dia akan meninggalkan Kota Simaliki dan memulai hidup baru.
...
Hari terus berlalu, kesehatan Reina semakin memburuk dari hari ke hari.
Frekuensinya menjadi tuli semakin sering dan terkadang butuh waktu lama untuk pulih.
Daya ingatnya juga menurun drastis.
Mungkin kecacatan pendengarannya tidak bisa sembuh, tetapi depresi bisa.
Jadi, Reina ingin membahagiakan dirinya sendiri dengan menyibukkan diri.
Dia mendaftar menjadi relawan untuk merawat para lansia dan yatim piatu.
Ternyata kehadirannya cukup membantu, Reina seakan menemukan arti hidup.
Beberapa hari kemudian, di suatu pagi ....
Setelah bangun, Reina langsung membaca buku catatannya, lalu bersiap pergi ke panti asuhan.
Namun, begitu melihat ponselnya, Reina mendapati ada tumpukan pesan yang belum dibaca.
Pesan pertama dari Treya.
Selanjutnya dari adiknya, Diego.
Terakhir dari Marshanda ....
Reina membacanya satu per satu.
Pesan dari Treya: "Selamat, semua terjadi seperti rencanamu. Keluarga Andara bangkrut."
Pesan dari Diego: "Sembunyi saja sana, aku belum pernah melihat kakak yang begitu kejam dan pengecut sepertimu."
Pesan dari Marshanda: "Reina, turut berbela sungkawa ya. Sebenarnya bagus sih, karena Grup Andara pasti bisa lebih maju di tangan Max."
Pesan dari Marshanda: "Karena dulu Keluarga Andara sudah membantuku, katakan saja kalau ada yang bisa kubantu, kalau aku bisa, pasti akan kutolong."
Reina yang sudah hampir memutus koneksi dengan dunia luar masih belum mengerti apa yang terjadi.
Tidak berapa lama, berita hangat tersaji di hadapannya.
Bab 5
Reina membuka berita dan melihat konferensi yang diadakan Grup Sunandar, beritanya Maxime telah berhasil mengakuisisi Grup Andara.
Mulai sekarang, Grup Andara sudah punah dari dunia ini ....
...
Kehidupan Maxime akhir-akhir ini sangat menyenangkan.
Setelah berhasil mengakuisisi Grup Andara, balas dendam yang sudah ditunggu-tunggu Maxime pun terbalaskan.
Jovan tersenyum seraya berkata, "Akhirnya Keluarga Andara kena karma karena sudah menipumu tiga tahun yang lalu."
Jovan mengganti topik pembicaraan dan bertanya pada Maxime yang sedang bekerja, "Kak Max, apa si tuli itu datang memohon padamu?"
Tangan Maxime yang sedang menandatangani dokumen berhenti bergerak.
Entah mengapa belakangan ini selalu saja ada orang yang menyebut nama Reina.
"Nggak."
Maxime menjawab dengan dingin.
Jovan tercengang, setelah masalah sebesar ini terjadi di Keluarga Andara, Reina tetap diam?
Dia melanjutkan, "Jangan-jangan dia sudah sadar akan semua perbuatannya?"
"Katanya ibu dan adiknya sedang mencarinya ke mana-mana, mereka nggak tahu di mana si tuli bersembunyi."
Jovan terus mengoceh.
Maxime mengernyit, tiba-tiba dia merasa kesal.
"Keluar sana!"
Jovan tercengang.
Dia melirik Maxime dan mendapati ternyata pria itu marah. Dia tidak berani berkata apa-apalagi dan buru-buru meninggalkan kantor CEO.
Di luar ruangan, Jovan mengeluarkan ponselnya dan menelepon, "Reina sudah ketemu?"
"Sudah, dia ada di motel di Jalan Gandaria."
Jovan meminta asistennya mengirimkan titik lokasi, lalu menuju ke sana.
Reina sudah menjadi penghalang Maxime dan Marshanda selama tiga tahun, meski sekarang dia sudah setuju bercerai, Jovan tidak akan membiarkan hal ini begitu saja.
Bagaimanapun, Marshanda adalah penolongnya.
Di luar sedang hujan.
Setelah selesai dengan tugas relawannya, Reina pergi ke rumah sakit untuk menebus obat, lalu berjalan menuju motel sambil memegang payung.
Hanya ada segelintir orang di jalan.
Sambil menyetir, tatapan Jovan terpaku pada punggung kurus Reina.
Dia sengaja menambah kecepatan dan melewati Reina.
Tubuh Reina jadi terciprat genangan air.
Reina menoleh dengan tatapan kosong.
Jovan melirik Reina dari kaca spionnya.
Mobil Bugatti abu-abu .... Reina kenal mobil mewah ini. Ya, ini mobil Jovan.
Reina buang muka dan pura-pura tidak melihatnya.
Jovan tentu tidak pergi begitu saja, dia memperlambat laju mobilnya dan mengikutinya dari dekat, "Hei tuli, sekarang sudah jadi orang yang tahu diri? Kamu nggak menyapaku?"
"Bukannya dulu kamu suka sekali menyapa dengan riang setiap kali melihatku? Bukannya dulu kamu suka menjilatku?"
Reina mendengarkan semua penghinaan itu tanpa ekspresi.
Karena cintanya pada Maxime, Reina selalu berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan semua orang di sekitar Maxime, termasuk teman-temannya.
Pikirnya, suatu hari nanti keluarga dan teman-teman Maxime akan menerimanya.
Reina terlalu polos, dia tidak tahu kejamnya dunia.
Suatu hari di sebuah pesta, Jovan memberi tahu Reina secara blak-blakan bahwa dia adalah teman Marshanda.
Untuk membela Marshanda, dia bahkan melepaskan martabat sebagai seorang anak orang kaya dan memaki Reina yang tidak tahu malu.
Setelah itu, dia bahkan ingin membunuh Reina dengan mendorongnya ke kolam renang.
Sejak saat itu, Reina menghindarinya.
Jovan melihat Reina mengabaikannya dan tidak menyahut sepatah kata pun. Dia menghentikan mobil, membuka pintu, melangkah menuju Reina dan menarik lengannya.
"Trik apalagi yang kamu mainkan kali ini?"
Lengan Reina terasa sakit, dia menyahut, "Aku nggak paham maksudmu."
Reina ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman Jovan, tetapi pria itu sudah lebih dulu menepisnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!"
Reina yang tersentak langsung mundur beberapa langkah dan akhirnya terjatuh.
Jovan berdiri diam dan agak terkejut.
Dasar wanita jalang, sekarang dia bisa bersandiwara?
Disentak pelan begitu saja bisa jatuh?
Beberapa pejalan kaki pun menoleh ke arahnya saat melihat kejadian ini, Jovan yang merasa tidak nyaman langsung kembali ke dalam mobil dan memperingatkannya sebelum pergi.
"Reina, jangan menindas Marsha hanya karena kamu cacat. Dia berbeda darimu, dia sudah berusaha begitu keras untuk mencapai posisinya saat ini. Sebaiknya kamu berhenti mengganggu hubungannya dengan Kak Max."
Jovan pun pergi lalu dengan teganya memberi tahu Keluarga Andara di mana Reina tinggal saat ini.
Karena terjatuh tadi, tangan dan lutut Reina jadi memar. Rasa sakit yang cukup menusuk membuatnya butuh waktu lama untuk kembali berdiri.
Sebenarnya, Reina sangat tidak paham kenapa Jovan memperlakukannya seperti ini.
Reina ingat dengan jelas. Empat tahun yang lalu, Jovan mengalami kecelakaan dan terjebak di mobil yang akan segera meledak. Waktu itu Reina tanpa ragu langsung menyeretnya keluar mobil tanpa memedulikan bahaya yang mengancam.
Wajah Jovan penuh dengan darah, meski tidak bisa membuka matanya, dia berujar dengan lembut, "Terima kasih, aku pasti akan membalas kebaikanmu."
Apa ini balasan yang pria itu maksud?
Sesampainya di motel, Reina mandi dan mengobati lukanya.
Reina menjatuhkan diri ke kasur dengan tatapan kosong.
Setelah kejadian hari ini, dia semakin bertekad untuk meninggalkan Maxime.
Saat Reina terbangun, langit sudah cerah.
Reina keluar kamar dan mendapati ibunya sedang duduk di ruang tamu dengan mengenakan gaun berwarna merah.
Treya yang melihat Reina sudah bangun pun langsung menyerahkan sebuah amplop ke hadapan Reina. Treya terlihat tidak peduli sama sekali dengan kondisi putrinya.
"Baca baik-baik, ini jalan keluar yang Ibu pilihkan untukmu."
Reina mengambil dokumen itu dan melihat judulnya "Perjanjian Pranikah".
Lalu, dia membaca berkas itu.
"Nona Reina dengan sukarela menikahi Pak Jeremy dan sebagai istri akan terus merawat suaminya sampai tua ...."
"Pak Jeremy akan menafkahi Keluarga Andara dan memberi uang 600 miliar sebagai maskawin."
Jeremy Latief adalah seorang pengusaha generasi tua di Kota Simaliki yang saat ini berusia 78 tahun.
Reina tercekat.
Treya kembali melanjutkan, "Pak Jeremy bilang dia nggak keberatan menikahi kamu yang sudah pernah menikah. Asal kamu mau menikah dengannya, dia akan membantu Keluarga Andara bangkit lagi."
"Reina anak yang baik, kamu nggak mungkin mengecewakan ibu dan adikmu, 'kan?"
Seketika, wajah Reina jadi pucat.
"Aku nggak mau."
Treya jadi marah, dia tidak menyangka Reina akan langsung menolaknya.
"Punya hak apa kamu menolak? Aku yang melahirkanmu!"
Reina menatap ibunya lekat-lekat, lalu menyahut, "Kalau begitu apa utangku bisa dianggap lunas setelah kukembalikan nyawaku padamu?"
Treya tercengang.
"Apa katamu?"
Reina kembali berujar dengan bibir yang pucat pasi itu, "Kalau aku mengembalikan nyawaku padamu yang sudah melahirkanku, apa artinya kamu bukan lagi ibuku dan aku nggak lagi berutang padamu?"
Treya yang tidak percaya Reina berani berbuat nekat pun mencibir, "Oke! Kalau kamu mati, aku nggak akan memaksamu."
"Tapi, memangnya kamu berani?"
Reina menjawab dengan tegas seolah sudah membuat keputusan, "Beri aku waktu sebulan."
Treya merasa Reina sudah gila.
"Jangan pikir kamu bisa mengancamku dengan bilang mau mati. Aku nggak mengakuimu, mati ya mati saja sana. Kalau kamu nggak berani mati, lebih baik tanda tangan perjanjian ini."
Reina merasa sangat tertekan, dia ingin mencari tempat untuk melepas penatnya.
Di sebuah bar.
Reina duduk melamun di pojokan bar, menonton orang lain di sekitarnya menari, tertawa lepas dan bersenang-senang.
Seorang pria tampan dengan mata yang indah melihat sosok Reina yang seorang diri, dia pun menghampirinya.
"Eh? Reina?"
Reina balas menatap pria itu, tetapi dia tidak mengenalinya. Reina bertanya dengan tatapan kosong, "Apa kamu tahu cara supaya bisa bahagia?"
Pria itu bingung dan balas bertanya, "Apa katamu?"
Reina menegak anggurnya, lalu menjawab, "Dokter bilang aku sakit dan harus membuat diriku senang, tapi ... aku nggak bisa merasa senang ...."
Revin Lander merasa muram saat mendengar jawaban Reina.
Apa Reina tidak mengenali dirinya?
Selain itu, sakit apa dia sampai harus menyenangkan diri sendiri?
"Nona, kalau mau merasa senang harusnya kamu bukan datang ke tempat seperti ini."
"Ayo, kuantar pulang." Revin mengajaknya dengan lembut.
Reina menatapnya sambil tersenyum, "Kamu orang yang baik."
Revin menatap senyum pahit Reina dengan perasaan campur aduk, sebenarnya apa yang terjadi pada Reina belakangan ini?
Kenapa dia terlihat begitu menyedihkan?
Di sisi lain, ternyata Maxime juga berada di bar yang sama.
Sejak mengurus perceraian, setiap hari Maxime selalu pergi bersenang-senang dan sudah lama tidak pulang ke Vila Magenta.
Sekarang sudah larut malam, Maxime dan rombongannya bersiap untuk pulang.
Saat itulah Marshanda melihat sosok yang dikenalnya berada di pojok bar.
Marshanda yang terkejut pun memekik, "Eh? Itu 'kan Nona Reina?"
Maxime menoleh ke arah yang Marshanda tunjuk dan melihat seorang pria duduk di depan Reina sambil mengobrol dan tertawa bersamanya.
Wajah tampan Maxime seketika menjadi dingin.
Ternyata Reina mabuk-mabukkan dan menggoda pria lain?
Cih! Maxime sudah salah menilai Reina.
"Max, apa mau kamu samperin dulu?" tanya Marshanda.
"Nggak usah."
Maxime menjawab dengan dingin lalu langsung beranjak pergi.
Reina menolak tawaran Revin dan menjawab, "Terima kasih, aku bisa pulang sendiri, nggak perlu merepotkanmu."
Reina beranjak pergi, Revin yang mengkhawatirkannya langsung mengejarnya.
"Reina, kamu ... nggak ingat aku?"
Reina kembali menatap pria itu. Siapa pria ini?
"Aku si gendut! Kamu udah lupa?" Revin mengingatkan.
Ah, sekarang Reina ingat. Dulu waktu masih kecil, dia tinggal dengan Lyann di kampung, di sana Reina punya seorang teman baik yang dijuluki si gendut.
Waktu itu Revin dijuluki seperti itu karena memang tubuhnya sangat gendut. Sekarang pria yang berada di hadapannya ini bertubuh tinggi 190 cm dan terlihat tampan.
"Ah, aku ingat. Wah kamu beda banget dibanding waktu kecil dulu, aku sampai nggak kenal."
Bisa bertemu kenalan di tempat asing tentu adalah hal yang menyenangkan.
Reina tersenyum tipis, entah perasaan apa yang timbul di hati Revin.
"Ayo, kuantar pulang."
Revin mendapati ternyata Reina tinggal di sebuah motel bobrok.
Reina jadi sungkan dan berkata, "Ah, ketahuan deh. Jadi malu aku."
"Kamu jangan bilang ke Bu Lyann ya kalau aku tinggal di sini, takutnya dia jadi khawatir."
Revin mengangguk.
Sekarang sudah larut malam.
Tidak baik bagi Revin untuk tinggal lama-lama.
Revin pun pergi setelah memberi tahu Reina kalau dia akan menemuinya lagi besok pagi.
Karena gelap gulita, Revin tidak menyadari ada sebuah mobil Maybach berwarna hitam yang terparkir di dekat pintu hotel.
Revin sudah pulang.
Karena minum terlalu banyak, Reina merasa sakit perut dan pusing.
"Dok! Dok!"
Pintu kamar Reina digedor.
Reina kira Revin datang kembali, dia pun membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, pergelangan tangan Reina langsung dicengkeram Maxime.
Reina yang ringkih tentu tidak sepadan dengan tenaga pria kekar seperti Max, cengkeraman Maxime membuat pergelangan tangan Reina rasanya mau patah.
"Reina! Hebat juga ya kamu!"
Maxime menutup pintu dengan punggung tangannya lalu mendorong Reina ke sofa.
"Ternyata kamu sudah memilih mangsamu selanjutnya, pantas saja kamu mau melepaskanku!" cibir Maxime.
Perkataan Maxime seperti pisau yang menyayat hatinya.
Entah bangaimana Maxime bisa mengetahui keberadaannya di sini dan bertemu dengan Revin.
Reina tertegun, dia tidak membela diri dan hanya menatap Maxime. "Kenapa? Kita 'kan sama saja."
Keluarga Andara sudah menipu Maxime dalam pernikahan ini.
Maxime memperlakukan Reina dengan dingin, bahkan dia yang berstatus suami Reina masih mempertahankan hubungannya dengan Marshanda, cinta pertamanya.
Mereka berdua sama, tidak ada yang berhak membenarkan diri.
Hari ini Maxime juga minum-minum, tubuhnya bau alkohol.
Maxime menjepit dagu Reina dan berujar dengan suara yang dalam.
"Siapa dia?"
"Sejak kapan kalian kenal?"
Ini adalah pertama kalinya Reina melihat Maxime yang seperti ini, dia pun tersenyum.
"Kamu cemburu?"
Maxime memicingkan mata lalu mendengus dingin, "Kamu pikir siapa kamu?"
Reina tercekat.
Maxime menindih tubuh Reina dan berbisik di telinga wanita itu.
"Dia sudah menyentuhmu, 'kan?"
Setelah menikah, Reina berhenti bekerja karena dilarang oleh Keluarga Sunandar. Kadang teman-temannya suka mengajaknya bertemu, tetapi selalu Reina tolak.
Sekarang bisa-bisanya Maxime masih mencurigainya.
Namun, Reina merasa agak lega.
"Menurutmu?" Reina balik bertanya.
Maxime jadi sangat kesal, tangannya pun langsung menggerayangi tubuh Reina.