Bab 3
Aku tidak tahu kapan perawat itu pergi.
Yang aku tahu, pikiranku langsung kosong setelah mengetahui apa yang dia bicarakan.
Kata-kata Mbak Rini dan perawat itu terus berkeliaran dengan liar di benakku.
Siapa yang sebenarnya berkata jujur dan siapa yang berbohong?
Perawat itu tidak perlu berbohong kepadaku, lalu kenapa Mbak Rini mencoba menyembunyikan hal ini dariku?
Tiba-tiba aku teringat tingkah aneh Mbak Rini tadi malam.
Mungkinkah dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah tiada, kemudian dia jadi gila?
Astaga! Kemungkinan itu sangat mungkin!
Aku segera menelepon sahabatku yang bernama Linda, memintanya untuk datang dan menemaniku. Kalau Mbak Rini tiba-tiba jadi gila, aku tidak bisa menahannya sendirian.
Seiring berjalannya waktu ....
Aku jadi makin panik. Aku mengambil ponsel, lalu meletakkannya lagi. Aku ragu-ragu saat ingin memberitahu Mbak Rini kalau dia tidak perlu datang, tetapi aku takut kalau sikapku ini akan membuatnya kesal.
Ketika aku akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk menekan tombol panggil, Mbak Rini mendorong pintu dan melangkah masuk.
Aku panik dan mengunci layar, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Mbak Rini datang dengan membawa kotak makan siang dan berkata dengan sopan, "Saya sudah memasak beberapa hidangan, nggak tahu Ibu akan suka atau nggak. Tolong jangan keberatan."
"Nggak kok, kamu malah jadi repot." Aku tersenyum, tetapi di dalam hati aku merasa takut.
Mbak Rini mengeluarkan piring yang dibawanya satu per satu. Dia terlihat sama seperti biasa dan tidak terlihat ada yang berbeda dengan dirinya.
Makin dia seperti ini, entah kenapa aku makin merasa takut.
Karena tidak tenang, aku dengan susah payah menghabiskan makananku. Untung saja Mbak Rini menganggap nafsu makanku berkurang karena Dikka tengah sakit. Dia pun pergi setelah membereskan semuanya.
Begitu Mbak Rini pergi, Linda datang.
Aku memelototinya dengan kesal. "Kenapa lama sekali? Tahu nggak apa yang barusan aku alami?"
Linda hendak menimpali perkataanku, tetapi senyumnya membeku saat melihat Dikka.
"Apa belakangan Dikka berhubungan sama orang luar?" Dia bertanya dengan wajah serius.
Aku terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Setelah terdiam selama beberapa detik, aku menjawab, "Aku baru mau bilang. Ada pengasuh baru di rumah. Anehnya, dia ...."
Aku menceritakan semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
Makin dia mendengarkan ceritaku, cemberut di wajahnya terlihat makin jelas.
"Kamu lagi diganggu," katanya sambil mengerutkan kening.
"Diganggu? Apa maksudmu?"
"Anakmu bukan manusia lagi, dia setengah manusia, setengah hantu!"
Aku langsung membeku saat mendengar ini dan membantah tanpa sadar, "Bagaimana mungkin, jangan bercanda!"
"Aku nggak bercanda. Apa kamu nggak lihat kalau wajahnya sudah sangat pucat?"
Aku mendongak, wajah Dikka memang seperti yang dia katakan, sangat pucat. Jelas-jelas sebelum makan malam keadaannya tidak seperti ini.
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan makanan yang disajikan Mbak Rini?
"Anakmu sudah berubah." Dia kembali bergumam.
"Apa?"
Lina bercerita tentang teknik kuno yang menggunakan rambut janin atau tali pusar bayi yang sudah meninggal sebagai akta perkenalan. Teknik ini menggunakan jimat untuk menekan jiwa pemilik tubuh asli, kemudian mengoleskan abu dari janin yang sudah meninggal ke dahi pemilik tubuh asli untuk menarik jiwa tersebut ke dalam tubuh.
Pada akhirnya, air susu dari ibu bayi yang sudah meninggal itu digunakan sebagai media untuk memberi makan bayi hantu di dalam diri pemilik tubuh asli. Setelah menyusu selama tujuh puluh sembilan hari, bayi hantu akan mengambil alih tubuh asli itu dan dibangkitkan.
Setelah mendengarkan penjelasan Linda, aku ketakutan setengah mati sampai tidak bisa berdiri. Melihat ini, Linda pun langsung menopangku.
Ini tidak seperti sesuatu yang akan terjadi dalam hidup, tetapi potongan-potongan yang hilang dari tumpukan itu semuanya cocok satu sama lain.
Ketika aku menatap Linda lagi, mataku dipenuhi dengan permohonan. "Tolong selamatkan Dikka."
Linda melambaikan tangannya ke arahku. "Kita sudah berteman selama lebih dari sepuluh tahun, mana mungkin aku akan diam saja? Masih ada kesempatan untuk membalikkan semuanya seperti semula."
Mendengar itu mataku langsung berbinar. "Benarkah?"
Bab 4
Linda mengangguk. "Dari apa yang kamu katakan, bayi hantu itu baru berusia beberapa bulan, jadi tubuh jiwanya seharusnya lebih lemah daripada anakmu. Dia membutuhkan ibunya untuk menenangkannya atau dia akan merasa nggak nyaman. Ini akan berpengaruh pada kelemahan tubuh jiwanya."
"Pantas saja ...."
Aku langsung teringat dengan semua makanan ringan dan mainan di bawah selimut tadi malam. Ternyata itu adalah taktik Mbak Rini untuk menyogok Dikka agar dia bisa membuat Dikka dekat dengannya.
"Jadi maksudmu, semuanya akan baik-baik saja kalau mereka nggak saling berhubungan?"
Linda mengusap pelipisnya. "Kamu terlalu menganggap enteng masalah ini. Menjauhkan mereka hanyalah langkah pertama, yang terpenting adalah menemukan abu bayi hantu itu."
"Abu?"
"Ya. Meskipun Dikka sudah diubah olehnya dan menunjukkan reaksi tubuh seorang bayi, selama kita menemukan abu bayi hantu itu terlebih dahulu, setelah hantunya masuk kembali ke dalam roda reinkarnasi, Dikka akan kembali normal juga."
Kata-kata Linda benar-benar membuatku berpikir keras.
"Tapi, karena dia berani menggunakan cara seperti ini, abunya pasti disembunyikan di tempat yang sangat tersembunyi. Menurut waktu dia datang ke rumahmu, kita hanya punya waktu lima hari lagi.”
"Bagaimana kalau ... kalau abunya nggak bisa ditemukan dalam waktu lima hari?" tanyaku dengan tubuh gemetar karena ketakutan dengan pertanyaanku sendiri.
"Kalau abunya nggak ketemu, jiwa hantu itu nggak akan bisa masuk kembali ke dalam roda reinkarnasi dan akan tetap melekat pada putramu. Ini akan memunculkan situasi satu tubuh dengan dua jiwa tanpa adanya air susu ibu yang memberinya makan."
Harapan yang baru saja berkobar di dalam hatiku seketika sirna.
Lima hari, hanya lima hari ....
Melihat ekspresi khawatir di wajahku, Linda menepuk pundakku dan membujukku, "Jangan terlalu khawatir, aku akan memikirkan caranya."
"Lalu, apa yang bisa aku lakukan sekarang?” Aku meraih tangannya, sangat ingin berkontribusi untuk menyelesaikan masalah ini.
"Beri dia makan dulu. Fisiknya sudah berubah, apa yang Mbak Rini berikan bukanlah makanan yang dimakan oleh makhluk hidup. Kalau terus seperti ini, cepat atau lambat tubuhnya nggak akan sanggup menanggungnya. Simpan jimat ini. Ini bisa menstabilkan jiwa putramu untuk sementara waktu."
"Yang paling penting sekarang adalah menemukan abu bayi hantu itu. Aku harus minta mantra kepada guruku, Mbah Rama agar bisa mendeteksi keberadaan abu itu. Kamu jangan sampai membuatnya curiga dan waspada."
Aku menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa aku akan mengingatnya. Setelah mengatakan itu, Linda pergi dengan tergesa-gesa.
Saat malam tiba, Mbak Rini masih datang untuk mengantarkan makanan, yang awalnya lezat, tetapi sekarang tampak agak mengerikan.
Dia selesai menata makanan dan hendak menyuapi Dikka. Tiba-tiba aku bangun dan mengulurkan tangan untuk menghentikannya.
"Mbak Rini, dokter baru memasang jarum infus Dikka. Katanya, dokter akan memantau keadaannya untuk satu jam dan dia nggak boleh makan dulu. Aku lupa bilang, maaf." Aku tersenyum padanya dengan sedikit meminta maaf.
"Nggak apa-apa. Makanan ini akan tetap hangat, jadi saya akan meninggalkannya di sini. Ibu bisa memberinya makan nanti. Dia sangat lemah, jadi jangan sampai nggak makan."
Meskipun sedang berbicara denganku, mata Mbak Rini tetap tertuju pada Dikka.
"Eh, sepertinya kamu juga belum makan, jadi kamu bawa pulang saja buat dimakan. Nanti, aku bisa beli yang baru."
"Nggak bisa!" Suara Mbak Rini sedikit meninggi. Setelah menyadari ada yang tidak beres, dia meredam nadanya dan berkata, "Makanan di luar nggak bersih, lebih baik buat sendiri saja."
Aku mengiakan berulang kali. Setelah bicara beberapa hal dengannya, dia akhirnya bersedia untuk pergi.
Tampaknya memang ada masalah dengan makanan ini.