Bab 1

Setelah pengasuh baru mengasuh anakku selama satu malam ....

Anakku mulai mengalami perubahan temperamen yang drastis. Entah kenapa, dia menolak pendekatan yang aku lakukan.

Menyadari ada yang tidak beres, aku mengusir pengasuh itu. Aku mengira semuanya akan kembali seperti semula.

Suatu hari, aku tidak sengaja menginjak sesuatu di bagian bawah tempat tidur saat ingin mengambil sesuatu.

Aku melihat mata merah pengasuh itu, serta wajah pucatnya yang menyedihkan, yang tengah menatap lurus ke arahku.

Setelah pengasuh baru mengasuh anakku selama satu malam ....

Anakku mulai mengalami perubahan temperamen yang drastis. Entah kenapa, dia menolak pendekatan yang aku lakukan.

Menyadari ada yang tidak beres, aku mengusir pengasuh itu. Aku mengira semuanya akan kembali seperti semula.

Suatu hari, aku secara tidak sengaja menginjak sesuatu di bagian bawah tempat tidur saat ingin mengambil sesuatu.

Aku melihat mata merah pengasuh itu, serta wajah pucatnya yang menyedihkan tengah menatap lurus ke arahku.

Suamiku merasa tidak tega kepadaku karena harus kelelahan setiap hari dalam mengurus anak. Jadi, dia mencarikan pengasuh untuk meringankan beban pekerjaanku.

Aku melihat pengasuh itu menatap ponselnya sambil melamun. Aku mendekat dan melihat foto bayi di sana. Wajahnya tidak terlihat jelas, sepertinya sedang tertidur.

"Apa ini anakmu? Lucu sekali." Aku memuji bayi itu.

"Ya, sayangnya dia sudah pergi ke tempat yang jauh."

Dalam pantulan lampu yang samar, ekspresinya terlihat tidak jelas.

Sekarang, akulah yang terdiam, berpikir bahwa aku sudah mengulik luka di hati seseorang. Aku pun langsung minta maaf.

Namun, dia menutup mulutnya dan tertawa, "Saya cuma bercanda, kok. Kenapa Ibu seserius itu? Anak saya ikut sama neneknya di rumah."

Setelah mendengar ini, aku langsung menghela napas lega dan dengan cepat mengganti topik pembicaraan, "Sebentar lagi liburan, kapan kamu mau pulang kampung buat bertemu dengannya?"

Dia menatap foto-foto di ponsel sambil bergumam, "Ya, sebentar lagi saya sudah bisa bertemu dengannya."

Tidak disangka, suamiku tiba-tiba batuk di malam hari dan tidak kunjung berhenti. Sepertinya dia sakit.

Aku menyeduh herbal penurun panas, menyempatkan untuk melirik anakku yang berumur tiga tahun di samping suamiku, Dikka. Karena takut akan tertular, jadi aku membawanya ke kamar pengasuh.

Sekarang sudah tengah malam, tetapi Mbak Rini tidak terlihat terkejut saat melihat kedatanganku. Dia dengan gesit mengambil Dikka dari gendonganku, seolah-olah sudah menunggu lama untuk momen ini. Aku juga sempat melihat kegembiraan yang tersembunyi di bagian bawah matanya.

Aku merasa bingung. Ketika aku mengedipkan mata beberapa kali, aku mendapati bahwa reaksinya sudah kembali normal.

Mungkin ini hanya ilusi, begitulah aku mencoba menenangkan diriku.

Beberapa hari kemudian, suamiku akhirnya sembuh. Aku berencana kembali membawa Dikka untuk tidur bersama kami.

Namun, dia tiba-tiba sangat menolak untuk bersentuhan denganku. Ketika aku mencoba mendekatinya, dia bersembunyi di belakang Mbak Rini tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mbak Rini menghiburku, mengatakan bahwa reaksi ini mungkin karena Dikka sudah tidur dengan Mbak Rini selama beberapa hari, jadi sedikit menolak keberadaan orang lain. Katanya, setelah beberapa hari reaksinya akan kembali seperti semula.

Dia juga pernah tidur dengan orang lain sebelumnya, tetapi tidak menunjukkan reaksi seperti ini. Kenapa hanya tidur beberapa hari dengan Mbak Rini, sikapnya jadi seperti tidak mengakuiku? Apalagi, emosi Dikka juga kurang baik dalam beberapa hari ini. Dia jadi lesu, nafsu makannya berkurang, bahkan porsi makannya hanya setengah dari porsi makannya sebelumnya.

Otakku terus-menerus muncul gambaran tentang pengasuh yang memberi anak obat secara diam-diam dan pengasuh yang melakukan pelecehan kepada anak. Aku tidak bisa mengawasi Dikka saat malam karena dia tidur dengan Mbak Rini.

Memikirkan hal ini, aku memiliki niat untuk mendatangi kamar Mbak Rini di tengah malam agar lebih tenang.

Malamnya, aku diam-diam mendatangi kamar Mbak Rini dan mendapati bahwa pintu kamar tidak bisa dibuka.

Ternyata pintu kamar Mbak Rini dikunci.

Jelas-jelas saat itu dia tidak menguncinya.

Hatiku menjadi lebih ragu. Tidak ingin membuatnya curiga, aku mencari kunci cadangan, ingin melihat situasi di dalam.

Setelah membuka pintu, kamar begitu gelap, sosok Mbak Rini dan Dikka pun tidak terlihat. Hanya ada benjolan tertutup selimut yang terlihat jelas.

Mungkinkah mereka ....

Aku langsung menyibak selimut dan melihat camilan, mainan dan ponsel yang masih memutar video kartun di atas kasur. Yang lebih menusuk mata adalah setengah bagian dada Mbak Rini terbuka, sementara dia memeluk putraku dengan erat.

Dia sepertinya tidak menyangka aku akan masuk di tengah malam, wajahnya penuh dengan kepanikan.

Aku tidak berani memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di sini.

"Kamu cabul sekali!" Aku menamparnya dengan keras.

Mbak Rini sedikit menyamping setelah mendapatkan tamparan dariku. Dikka lepas dari pelukannya dan jatuh ke tempat tidur sambil menangis.

Dengan hati yang begitu sakit, aku mengangkat Dikka dari tempat tidur sambil membujuknya dengan lembut.

Suamiku bergegas ke kamar ini, juga terkejut saat melihat keadaan kamar.

Bab 2

"Ini ...." Dia ingin bertanya kepadaku apa yang terjadi di sini.

Aku menoleh dan memelototinya. "Andreas! Itu pengasuh yang kamu pekerjakan! Suruh dia pergi dari sini!"

Namun, aku tidak menyangka Mbak Rini tiba-tiba berlutut di depanku. "Saya nggak bermaksud begitu. Anak saya ada di kampung, saya merindukannya, jadi ...."

Aku langsung menyela, "Merindukan anakmu dan kamu menganggap anakku sebagai anakmu? Aku mempekerjakanmu di sini buat bantu-bantu, bukan buat nambah masalah!"

Mendengarku masih tidak mau luluh, Mbak Rini terus memohon, "Ini salah saya, saya masih punya orang tua dan anak yang harus saya hidupi, tolong jangan pecat saya." Dia menarik celanaku, menangis dengan sangat menyedihkan.

Sayangnya, aku adalah orang yang tidak mudah luluh.

"Kalau kamu nggak pergi, aku akan telepon polisi!" Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sikap akan menelepon polisi.

Melihat hal ini, suamiku langsung melerai di antara kami, "Mbak Rini, istriku bukan orang yang nggak bisa diajak bicara baik-baik baik. Lebih baik kamu pulang dulu dan kami akan menghubungimu lagi kalau butuh sesuatu."

Mbak Rini mengangkat matanya untuk terakhir kalinya, melihatku dan Dikka dengan enggan sebelum pergi.

Ketika aku berpikir bahwa ini adalah akhir dari masalah ini, keesokan harinya aku dibuat tertegun saat melihat Dikka yang menatapku dengan tatapan kosong.

Aku menganggapnya masih belum sadar sepenuhnya karena baru bangun tidur, lalu bertanya sambil tersenyum, "Dikka, pagi ini mau makan apa?"

Setelah cukup lama, dia masih tidak menjawab, masih menatapku dengan tatapan kosong. Reaksinya membuatku panik.

Baru setelah aku menanyakannya sampai beberapa kali, dia menjawab dengan ocehan sesekali, seperti bayi yang baru belajar bicara.

Dia tidak bisa bicara?

Sebelum aku bisa mencerna situasi ini, aku mendengarnya bicara beberapa hal, lalu melihatnya bergerak-gerak di atas ranjang. Ternyata dia pipis di atas tempat tidur.

Aku sangat ketakutan dan langsung membawanya ke rumah sakit. setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa dia hanya kekurangan gizi dan bisa dirawat di rumah sakit untuk observasi jika aku masih khawatir.

Aku segera menjalani prosedur rawat inap dan memberi tahu suamiku tentang hal ini. Dia bilang malam ini akan lembur, jadi akan menyusul malam nanti.

Duduk di depan ranjang rumah sakit dan melihat wajah pucat Dikka, aku menyadari bahwa berat badannya turun drastis.

Tepatnya sejak kapan ....

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunanku.

Aku membuka pintu dan ternyata Mbak Rini lah yang datang. Bagaimana dia bisa tahu aku ada di rumah sakit?

Melihat tatapan bingungku, dia menjelaskan, "Saya dengar dari Pak Andreas. Katanya Bapak mau lembur dan nggak bisa datang kemari, jadi meminta saya untuk datang membantu."

Tanpa pikir panjang, aku langsung menolak dan hendak menutup pintu.

Pada saat ini, Dikka tiba-tiba mulai merengek. Aku langsung berjalan mendekat dan mencium aroma busuk. Ternyata dia buang air besar di ranjang!

Sebelum aku sempat bereaksi, Mbak Rini mengangkat selimut dan mulai membuang kotoran Dikka tanpa rasa jijik.

Suasana hatiku menjadi sedikit kacau. Kemarin aku sangat ingin Mbak Rini pergi, tetapi hari ini aku melihat dia merawat dan memperlakukan Dikka dengan tulus. Hal ini membuatku sedikit terharu.

Mungkin ... dia tidak seburuk yang aku kira.

Ketika Mbak Rini menyelesaikan semuanya, aku mengucapkan terima kasih dengan canggung.

Dia malah melambaikan tangannya dan mengatakan bahwa itu adalah tugas yang harus dia lakukan. Katanya, dia akan datang saat makan siang dan membawakan kami makanan. Kali ini, aku tidak menolaknya.

Tidak lama setelah Mbak Rini pergi, perawat datang untuk memeriksa keadaan Dikka. Kebetulan, mereka berpapasan.

Perawat dengan hati-hati bertanya kepadaku, "Apa Ibu kenal sama perempuan tadi? Bagaimana keadaannya sekarang?"

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab, "Baik, baik, kok."

Perawat itu menghela napas lega. "Syukurlah. Saat itu, bayinya dirawat di sini selama beberapa bulan. Sayangnya, bayi itu nggak bisa bertahan hidup."

"Nggak bisa bertahan hidup?" Mataku membelalak karena terkejut.

"Ya, waktu itu dia langsung pingsan saat mendengar kabar itu, jadi saya langsung membawanya ke ruang gawat darurat. Sekarang, saya lega setelah mengetahui bahwa keadaannya baik-baik saja."

Bab 3

Aku tidak tahu kapan perawat itu pergi.

Yang aku tahu, pikiranku langsung kosong setelah mengetahui apa yang dia bicarakan.

Kata-kata Mbak Rini dan perawat itu terus berkeliaran dengan liar di benakku.

Siapa yang sebenarnya berkata jujur dan siapa yang berbohong?

Perawat itu tidak perlu berbohong kepadaku, lalu kenapa Mbak Rini mencoba menyembunyikan hal ini dariku?

Tiba-tiba aku teringat tingkah aneh Mbak Rini tadi malam.

Mungkinkah dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah tiada, kemudian dia jadi gila?

Astaga! Kemungkinan itu sangat mungkin!

Aku segera menelepon sahabatku yang bernama Linda, memintanya untuk datang dan menemaniku. Kalau Mbak Rini tiba-tiba jadi gila, aku tidak bisa menahannya sendirian.

Seiring berjalannya waktu ....

Aku jadi makin panik. Aku mengambil ponsel, lalu meletakkannya lagi. Aku ragu-ragu saat ingin memberitahu Mbak Rini kalau dia tidak perlu datang, tetapi aku takut kalau sikapku ini akan membuatnya kesal.

Ketika aku akhirnya mengumpulkan cukup keberanian untuk menekan tombol panggil, Mbak Rini mendorong pintu dan melangkah masuk.

Aku panik dan mengunci layar, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Mbak Rini datang dengan membawa kotak makan siang dan berkata dengan sopan, "Saya sudah memasak beberapa hidangan, nggak tahu Ibu akan suka atau nggak. Tolong jangan keberatan."

"Nggak kok, kamu malah jadi repot." Aku tersenyum, tetapi di dalam hati aku merasa takut.

Mbak Rini mengeluarkan piring yang dibawanya satu per satu. Dia terlihat sama seperti biasa dan tidak terlihat ada yang berbeda dengan dirinya.

Makin dia seperti ini, entah kenapa aku makin merasa takut.

Karena tidak tenang, aku dengan susah payah menghabiskan makananku. Untung saja Mbak Rini menganggap nafsu makanku berkurang karena Dikka tengah sakit. Dia pun pergi setelah membereskan semuanya.

Begitu Mbak Rini pergi, Linda datang.

Aku memelototinya dengan kesal. "Kenapa lama sekali? Tahu nggak apa yang barusan aku alami?"

Linda hendak menimpali perkataanku, tetapi senyumnya membeku saat melihat Dikka.

"Apa belakangan Dikka berhubungan sama orang luar?" Dia bertanya dengan wajah serius.

Aku terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Setelah terdiam selama beberapa detik, aku menjawab, "Aku baru mau bilang. Ada pengasuh baru di rumah. Anehnya, dia ...."

Aku menceritakan semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Makin dia mendengarkan ceritaku, cemberut di wajahnya terlihat makin jelas.

"Kamu lagi diganggu," katanya sambil mengerutkan kening.

"Diganggu? Apa maksudmu?"

"Anakmu bukan manusia lagi, dia setengah manusia, setengah hantu!"

Aku langsung membeku saat mendengar ini dan membantah tanpa sadar, "Bagaimana mungkin, jangan bercanda!"

"Aku nggak bercanda. Apa kamu nggak lihat kalau wajahnya sudah sangat pucat?"

Aku mendongak, wajah Dikka memang seperti yang dia katakan, sangat pucat. Jelas-jelas sebelum makan malam keadaannya tidak seperti ini.

Mungkinkah ini ada hubungannya dengan makanan yang disajikan Mbak Rini?

"Anakmu sudah berubah." Dia kembali bergumam.

"Apa?"

Lina bercerita tentang teknik kuno yang menggunakan rambut janin atau tali pusar bayi yang sudah meninggal sebagai akta perkenalan. Teknik ini menggunakan jimat untuk menekan jiwa pemilik tubuh asli, kemudian mengoleskan abu dari janin yang sudah meninggal ke dahi pemilik tubuh asli untuk menarik jiwa tersebut ke dalam tubuh.

Pada akhirnya, air susu dari ibu bayi yang sudah meninggal itu digunakan sebagai media untuk memberi makan bayi hantu di dalam diri pemilik tubuh asli. Setelah menyusu selama tujuh puluh sembilan hari, bayi hantu akan mengambil alih tubuh asli itu dan dibangkitkan.

Setelah mendengarkan penjelasan Linda, aku ketakutan setengah mati sampai tidak bisa berdiri. Melihat ini, Linda pun langsung menopangku.

Ini tidak seperti sesuatu yang akan terjadi dalam hidup, tetapi potongan-potongan yang hilang dari tumpukan itu semuanya cocok satu sama lain.

Ketika aku menatap Linda lagi, mataku dipenuhi dengan permohonan. "Tolong selamatkan Dikka."

Linda melambaikan tangannya ke arahku. "Kita sudah berteman selama lebih dari sepuluh tahun, mana mungkin aku akan diam saja? Masih ada kesempatan untuk membalikkan semuanya seperti semula."

Mendengar itu mataku langsung berbinar. "Benarkah?"

Rahasia di Bawah Selimut

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya