Bab 2
Setelah memasuki toko itu, staf resepsionis membawaku ke sebuah ruangan. Dia memanggil 7 sampai 8 pria kekar yang hanya mengenakan celana pendek. Aku memilih salah satu dari mereka. Pria itu mengenakan celana dalam segitiga berwarna cokelat. Dia paling cocok dengan seleraku.
Sebenarnya, aku merasa kewalahan menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini adalah pertama kalinya aku berhubungan dengan pria asing. Seolah-olah bisa menebak kegelisahanku, pria itu mulai mencari topik, "Bu, mau bagaimana Anda melakukannya?"
Mendengar dia memanggilku "Bu", entah mengapa aku tiba-tiba teringat dengan postingan yang diunggah mantan suamiku. Aku menjawab dengan galak, "Terserah kamu saja!"
"Tenang saja, aku ini profesional. Dijamin Anda puas!" Dia berjalan ke belakangku, lalu melepaskan pakaiannya. "Bu, tubuhmu bagus sekali. Kulitmu juga putih ...."
Kemudian, dia membuka pakaian dalamku dengan perlahan sambil berkata, "Bra ini ukurannya agak kecil, sampai bagian belakangnya berbekas. Bikin sedih saja."
Sambil berbicara, dia mendekatkan wajahnya ke belakang telingaku. Ujung lidahnya yang hangat dan lembut menyentuh leherku, lalu bergerak ke bawah. Sentuhan hangat yang tiba-tiba itu membuatku tersentak.
Saat ini adalah momen ketika aku baru saja membuat keputusan dan saat hasratku sedang memuncak. Seketika itu pula, dadaku terasa kosong dan tak nyaman, bahkan tubuhku secara refleks mengejang sedikit.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik memprovokasinya, "Cuma segitu kemampuanmu?"
Pria itu tidak mengatakan apa pun. Sebaliknya, dia merangkul pinggangku dari belakang dan melepas rokku. Saat cermin di seberang memantulkan bayangan tubuhku yang telanjang, aku mendengar decak kagum dari pria itu.
Aku berpikir, mungkin dia telah melihat seluruh tubuhku. Namun, aku tidak peduli. Sebaliknya, aku malah berbalik untuk bertanya, "Selanjutnya mau gimana?"
Mendengar pertanyaanku, pria itu berjalan dua langkah, lalu menggendongku. "Bu, aku akan berikan sesi SPA untukmu."
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa suatu hari aku akan digendong seperti ini oleh pria asing dan bersandar di dadanya. Aroma maskulin yang kuat menyeruak, sehingga membuatku merasa pusing dan napasku jadi tidak teratur.
Dia menempatkanku di atas ranjang pijat dengan lembut, memposisikan tubuhku tengkurap, lalu mulai menuangkan minyak di punggungku.
Teknik pijat pria itu sangat ahli. Gerakannya lambat, tetapi sangat bertenaga. Dia memijat area tulang belikat dan punggung, kemudian meluncur ke pinggang. Setelah melewati lipatan pinggul, dia melanjutkan pijat ke bagian paha atas dan bawah, hingga kembali lagi ke antara kaki.
Tubuhku terasa lemas dan lunglai, rileks tapi juga geli. Pikiranku seakan-akan menjadi tumpul karena sensasi yang begitu nyaman.
Pada saat bersamaan, aku bisa merasakan otot perutnya menempel di bagian belakang pinggulku. Keras dan panas, seperti api yang membara.
Lalu, aku mendengarnya membuka tutup botol minyak esensial lagi. Dia menuangkan minyak di punggung bawahku, lalu menepuk lembut pinggulku sambil berkata, "Bu, tubuh Anda ini benar-benar indah."
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar pujian yang begitu blak-blakan dan kasar. Aku tidak bisa menahan diri untuk meliriknya diam-diam. Namun, yang kulihat adalah dia mengeluarkan sebuah benda berbentuk oval dan melumuri benda itu dengan minyak esensial, lalu mendekatkannya ke area belakangku.
Rasanya sangat aneh. Aku menarik napas dalam-dalam dan segera mencoba mengejangkan tubuhku untuk menghentikannya. "Apa ini?" tanyaku panik.
"Aku sedang memberikan pengobatan untuk Anda."
Bab 3
Aku ingin menolak. Namun, ketika kata-kata sudah sampai di ujung lidah, aku menyerah dan kembali melemaskan tubuhku, membiarkan dia melakukan apa pun pada tubuhku.
Dia seakan berbicara kepada pinggulku, "Tenang saja, Bu. Ini murni obat herbal tradisional. Nggak hanya meningkatkan gairah, tapi juga baik untuk tubuh, membantu detoksifikasi, dan mempercantik kulit."
Aku hanya menanggapi dengan singkat, lalu sedikit mengangkat pinggulku sesuai instruksinya. Rasanya agak hangat di belakang dan ada sensasi benda asing yang cukup kuat. Sensasi itu begitu aneh sehingga aku tidak bisa menahan diri untuk mengerang pelan.
Setelah itu, dia mulai memijat lagi sambil memuji setiap bagian tubuhku. Dada yang penuh, pinggang yang ramping, kaki yang panjang, hingga pinggul yang menonjol. Aku tidak menanggapinya, hanya menutup mata dan menikmati pelayanannya. Perasaan jengkel dalam hatiku perlahan menghilang tanpa kusadari.
Saat itu, sensasi dari supositoria mulai terasa semakin jelas. Awalnya, benda asing itu terasa menghilang, digantikan oleh sensasi hangat yang semakin dalam. Bahkan rasanya benda itu sedikit membesar di dalamku.
Perlahan, kehangatan itu menyebar bukan hanya di belakang, tetapi juga ke bagian depan. Sensasi itu menjalar hingga seluruh perut bagian bawahku terasa panas seperti terbakar. Tubuhku mulai berkeringat deras.
Efek dari supositoria yang luar biasa, ditambah dengan pijatan yang membuat rileks, menimbulkan rasa gatal yang sulit diabaikan di dalam diriku.
Tanpa memedulikan rasa malu lagi, aku pun sedikit memiringkan tubuhku dan menyilangkan kedua kakiku dengan lembut sambil memberikan tekanan ringan. Pinggulku seakan memiliki kesadaran, sehingga bergerak pelan dengan sendirinya.
Aku mencoba menggunakan cara lama untuk sedikit mengurangi rasa itu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun, jelas upayaku itu gagal total.
Aku baru saja menjepit sedikit, tiba-tiba pria itu langsung memegang pinggangku dengan kedua tangan. Dia mengangkatku dan menghentikan gerakannya, sehingga membuat seluruh tubuhku terasa seperti tercerai berai.
Aku tak bisa lagi berpura-pura tenang. Aku mengeluarkan suara desahan panjang dan mencoba menyampaikan rasa ketidakpuasanku.
Hembusan napas pria itu tiba-tiba terasa di bawah punggungku, dia menggigit ringan sambil berkata pelan, "Jangan terburu-buru, Bu."
Gigitan itu membuat pikiranku kacau. Tangan dan kakiku terasa lemas, tulang ekor dan tulang belakangku terasa sangat pegal hingga hampir tidak bisa menopang tubuhku di atas ranjang.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Tubuhku yang lemas hanya bisa terkulai, dengan kepala tertunduk di antara lenganku.
Saat itu, efek anggur yang diminum tadi sore sepertinya mulai terasa. Berbaring di ranjang membuatku merasa seperti terombang-ambing di atas kapal. Seiring dengan akumulasi sensasi aneh yang terus bertambah di belakangku, tubuhku menjadi semakin sensitif dan hasrat itu semakin memuncak tanpa kendali.
Namun, di tengah rasa tertekan dan gelisah, aku merasakan sesuatu di dalam perut bagian bawahku yang semakin hangat dan penuh. Tanpa sadar, aku menegakkan leherku, lalu memohon dengan kaki yang gemetaran, "Jangan permainkan aku lagi, lakukanlah."
Namun, dia tidak melakukannya, melainkan tetap menggoda dengan perlahan, "Bu, bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh apa?" tanyaku dengan napas tersengal-sengal.
Pria itu menggigit telingaku dengan lembut, "Kalau aku berhasil membuatmu merasa nyaman, tubuhmu ini, hari ini, akan sepenuhnya menjadi milikku ...."
Tanpa kusadari, seluruh ruangan menjadi hening. Yang terdengar hanya napasku sendiri dan detak jantungku yang berdebar-debar.
Aku ingin menolak, tetapi api di perut bagian bawahku semakin berkobar. Sensasi terbakar itu menjalar hingga ke kepalaku dan merampas kemampuanku untuk berpikir.
Panas itu membakar hingga kulit kepalaku terasa meremang, membuat semua kata penolakan yang hendak keluar berubah menjadi suara yang gemetaran. Aku berkata, "Semua terserah kamu, cepatlah, kumohon ...."