Bab 1
Setelah bercerai dengan suamiku, aku mencoba pijat dengan terapis pria untuk menghilangkan kesedihan dalam hatiku. Namun, tidak kusangka terapis pria itu ternyata seorang ahli dalam "menggoda" wanita. Dia membuatku benar-benar "terbawa suasana" hingga seluruh tubuhku terasa melayang ....
Kamar redup itu membuat suasana semakin mencekam. Aku terbaring di atas ranjang pijat, tubuhku lemas dan tak berdaya. Tubuhku yang tanpa sehelai benang pun terasa sepenuhnya dalam kendali terapis pria yang berotot di sampingku.
Dia membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telingaku, lalu berbisik dengan suara rendah yang membuatku bergetar, "Bu, mau cari teman untuk main bersama?"
Rasa malu dan gelisah memenuhi diriku, tetapi bersamaan dengan itu muncul juga rasa antisipasi yang sulit dijelaskan. Tubuhku mulai gemetaran. Dengan suara yang hampir tidak terdengar, aku menjawab, "Kalau begitu ... ayo kita coba."
Namaku adalah Risa, seorang wanita yang baru saja bercerai. Alasan perceraianku cukup unik. Aku memiliki kadar estrogen yang sangat tinggi sejak kecil, sehingga aku harus mengonsumsi pil KB untuk menekan gejalanya.
Beberapa waktu lalu, ibu mertuaku mendesak kami untuk segera memiliki anak. Aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya, aku disarankan berhenti mengonsumsi pil KB selama satu tahun sebelum mulai program kehamilan.
Namun, begitu aku berhenti minum pil, segalanya berubah total. Hasratku menjadi tidak terkendali. Pikiran tentang pria terus menghantui pikiranku setiap hari.
Aku sering kehilangan fokus, bahkan harus mengganti pakaian dalam setidaknya dua kali sehari. Jika tidak menggunakan tampon, aku bisa menghadapi situasi yang sangat memalukan.
Minggu lalu, aku pergi ke gym untuk latihan. Saat sedang latihan pinggul, pelatih pria yang bertubuh kekar membantuku dengan gerakan tertentu. Melihat otot perutnya yang terbentuk sempurna, pikiranku mulai melayang.
Aku mulai membayangkan, 'Gimana kalau aku menjilat telinganya? Mungkin dia akan sensitif.' Pikiran-pikiran liar itu memenuhi kepalaku, sampai aku tidak bisa menyelesaikan satu set latihan. Aku buru-buru kabur ke kamar mandi untuk mengganti tamponku.
Seharusnya, di saat seperti ini, suamiku yang kuat dan bugar bisa menjadi penolongku. Namun, hal yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Suamiku, seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya, memutuskan untuk menceraikanku demi mempercepat keinginan ibunya memiliki cucu.
Rumah diberikan untukku, sedangkan tabungan menjadi miliknya. Aku seperti berjalan dalam mimpi ketika keluar dari kantor catatan sipil dengan membawa sertifikat perceraian di tanganku.
Saat sampai di rumah, aku melihat sertifikat itu sekali lagi, lalu memandangi foto pernikahan kami di meja dekat tempat tidur. Semuanya terasa sangat tidak nyata.
Aku duduk di ruang tamu sepanjang sore, tidak makan apa pun. Aku hanya terus meminum anggur. Semakin banyak aku minum, semakin sesak rasa di dadaku. Ketika tersadar dari kekacauan pikiranku, aku menyadari bahwa aku sudah melepas gaunku.
Mungkin karena kadar estrogenku yang tinggi, sejak SMP aku selalu memiliki dorongan hasrat yang kuat. Setiap kali merasa gugup atau sedih, aku akan diam-diam mencari cara untuk memuaskan diri.
Saat ujian, aku sering menyilangkan kaki dan menggoyangkannya perlahan. Gerakan itu begitu halus sehingga tidak ada yang memperhatikan, tetapi efeknya sangat memuaskan. Terutama di tengah keramaian, ketika aku bisa merasakan ketegangan dan relaksasi otot paha yang terjadi berulang kali, ada semacam kenikmatan yang tak tertandingi.
Namun hari ini, metode yang selalu ampuh itu tidak bekerja.
Aku mencoba memuaskan diri di dalam kamar yang kosong ini, berusaha keras mencari sedikit kebahagiaan. Namun, semuanya sia-sia.
Percikan kenikmatan yang kecil itu terlalu lemah untuk mengatasi rasa kecewa yang begitu mendalam. Dengan perasaan hampa, aku mengambil ponselku. Aku membuka media sosial dan melihat postingan mantan suamiku.
Dia memamerkan dua tiket pesawat ke luar negeri di samping seorang gadis cantik yang tersenyum ceria. Melihat foto itu, hatiku merasa tidak puas.
Tiba-tiba, aku ingin mencari seorang pria.
Aku ingin seorang pria yang bisa memperlakukanku dengan kasar, membuatku melupakan segalanya. Jika satu pria tidak cukup, aku akan mencari beberapa pria. Semakin banyak semakin baik, semakin kuat semakin sempurna.
Aku butuh sebuah pelarian untuk melupakan semua ini. Tanpa berpikir panjang, aku mencari informasi di internet dan menemukan sebuah spa yang menawarkan pijat dengan terapis pria.
Bab 2
Setelah memasuki toko itu, staf resepsionis membawaku ke sebuah ruangan. Dia memanggil 7 sampai 8 pria kekar yang hanya mengenakan celana pendek. Aku memilih salah satu dari mereka. Pria itu mengenakan celana dalam segitiga berwarna cokelat. Dia paling cocok dengan seleraku.
Sebenarnya, aku merasa kewalahan menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini adalah pertama kalinya aku berhubungan dengan pria asing. Seolah-olah bisa menebak kegelisahanku, pria itu mulai mencari topik, "Bu, mau bagaimana Anda melakukannya?"
Mendengar dia memanggilku "Bu", entah mengapa aku tiba-tiba teringat dengan postingan yang diunggah mantan suamiku. Aku menjawab dengan galak, "Terserah kamu saja!"
"Tenang saja, aku ini profesional. Dijamin Anda puas!" Dia berjalan ke belakangku, lalu melepaskan pakaiannya. "Bu, tubuhmu bagus sekali. Kulitmu juga putih ...."
Kemudian, dia membuka pakaian dalamku dengan perlahan sambil berkata, "Bra ini ukurannya agak kecil, sampai bagian belakangnya berbekas. Bikin sedih saja."
Sambil berbicara, dia mendekatkan wajahnya ke belakang telingaku. Ujung lidahnya yang hangat dan lembut menyentuh leherku, lalu bergerak ke bawah. Sentuhan hangat yang tiba-tiba itu membuatku tersentak.
Saat ini adalah momen ketika aku baru saja membuat keputusan dan saat hasratku sedang memuncak. Seketika itu pula, dadaku terasa kosong dan tak nyaman, bahkan tubuhku secara refleks mengejang sedikit.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik memprovokasinya, "Cuma segitu kemampuanmu?"
Pria itu tidak mengatakan apa pun. Sebaliknya, dia merangkul pinggangku dari belakang dan melepas rokku. Saat cermin di seberang memantulkan bayangan tubuhku yang telanjang, aku mendengar decak kagum dari pria itu.
Aku berpikir, mungkin dia telah melihat seluruh tubuhku. Namun, aku tidak peduli. Sebaliknya, aku malah berbalik untuk bertanya, "Selanjutnya mau gimana?"
Mendengar pertanyaanku, pria itu berjalan dua langkah, lalu menggendongku. "Bu, aku akan berikan sesi SPA untukmu."
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa suatu hari aku akan digendong seperti ini oleh pria asing dan bersandar di dadanya. Aroma maskulin yang kuat menyeruak, sehingga membuatku merasa pusing dan napasku jadi tidak teratur.
Dia menempatkanku di atas ranjang pijat dengan lembut, memposisikan tubuhku tengkurap, lalu mulai menuangkan minyak di punggungku.
Teknik pijat pria itu sangat ahli. Gerakannya lambat, tetapi sangat bertenaga. Dia memijat area tulang belikat dan punggung, kemudian meluncur ke pinggang. Setelah melewati lipatan pinggul, dia melanjutkan pijat ke bagian paha atas dan bawah, hingga kembali lagi ke antara kaki.
Tubuhku terasa lemas dan lunglai, rileks tapi juga geli. Pikiranku seakan-akan menjadi tumpul karena sensasi yang begitu nyaman.
Pada saat bersamaan, aku bisa merasakan otot perutnya menempel di bagian belakang pinggulku. Keras dan panas, seperti api yang membara.
Lalu, aku mendengarnya membuka tutup botol minyak esensial lagi. Dia menuangkan minyak di punggung bawahku, lalu menepuk lembut pinggulku sambil berkata, "Bu, tubuh Anda ini benar-benar indah."
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar pujian yang begitu blak-blakan dan kasar. Aku tidak bisa menahan diri untuk meliriknya diam-diam. Namun, yang kulihat adalah dia mengeluarkan sebuah benda berbentuk oval dan melumuri benda itu dengan minyak esensial, lalu mendekatkannya ke area belakangku.
Rasanya sangat aneh. Aku menarik napas dalam-dalam dan segera mencoba mengejangkan tubuhku untuk menghentikannya. "Apa ini?" tanyaku panik.
"Aku sedang memberikan pengobatan untuk Anda."
Bab 3
Aku ingin menolak. Namun, ketika kata-kata sudah sampai di ujung lidah, aku menyerah dan kembali melemaskan tubuhku, membiarkan dia melakukan apa pun pada tubuhku.
Dia seakan berbicara kepada pinggulku, "Tenang saja, Bu. Ini murni obat herbal tradisional. Nggak hanya meningkatkan gairah, tapi juga baik untuk tubuh, membantu detoksifikasi, dan mempercantik kulit."
Aku hanya menanggapi dengan singkat, lalu sedikit mengangkat pinggulku sesuai instruksinya. Rasanya agak hangat di belakang dan ada sensasi benda asing yang cukup kuat. Sensasi itu begitu aneh sehingga aku tidak bisa menahan diri untuk mengerang pelan.
Setelah itu, dia mulai memijat lagi sambil memuji setiap bagian tubuhku. Dada yang penuh, pinggang yang ramping, kaki yang panjang, hingga pinggul yang menonjol. Aku tidak menanggapinya, hanya menutup mata dan menikmati pelayanannya. Perasaan jengkel dalam hatiku perlahan menghilang tanpa kusadari.
Saat itu, sensasi dari supositoria mulai terasa semakin jelas. Awalnya, benda asing itu terasa menghilang, digantikan oleh sensasi hangat yang semakin dalam. Bahkan rasanya benda itu sedikit membesar di dalamku.
Perlahan, kehangatan itu menyebar bukan hanya di belakang, tetapi juga ke bagian depan. Sensasi itu menjalar hingga seluruh perut bagian bawahku terasa panas seperti terbakar. Tubuhku mulai berkeringat deras.
Efek dari supositoria yang luar biasa, ditambah dengan pijatan yang membuat rileks, menimbulkan rasa gatal yang sulit diabaikan di dalam diriku.
Tanpa memedulikan rasa malu lagi, aku pun sedikit memiringkan tubuhku dan menyilangkan kedua kakiku dengan lembut sambil memberikan tekanan ringan. Pinggulku seakan memiliki kesadaran, sehingga bergerak pelan dengan sendirinya.
Aku mencoba menggunakan cara lama untuk sedikit mengurangi rasa itu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun, jelas upayaku itu gagal total.
Aku baru saja menjepit sedikit, tiba-tiba pria itu langsung memegang pinggangku dengan kedua tangan. Dia mengangkatku dan menghentikan gerakannya, sehingga membuat seluruh tubuhku terasa seperti tercerai berai.
Aku tak bisa lagi berpura-pura tenang. Aku mengeluarkan suara desahan panjang dan mencoba menyampaikan rasa ketidakpuasanku.
Hembusan napas pria itu tiba-tiba terasa di bawah punggungku, dia menggigit ringan sambil berkata pelan, "Jangan terburu-buru, Bu."
Gigitan itu membuat pikiranku kacau. Tangan dan kakiku terasa lemas, tulang ekor dan tulang belakangku terasa sangat pegal hingga hampir tidak bisa menopang tubuhku di atas ranjang.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Tubuhku yang lemas hanya bisa terkulai, dengan kepala tertunduk di antara lenganku.
Saat itu, efek anggur yang diminum tadi sore sepertinya mulai terasa. Berbaring di ranjang membuatku merasa seperti terombang-ambing di atas kapal. Seiring dengan akumulasi sensasi aneh yang terus bertambah di belakangku, tubuhku menjadi semakin sensitif dan hasrat itu semakin memuncak tanpa kendali.
Namun, di tengah rasa tertekan dan gelisah, aku merasakan sesuatu di dalam perut bagian bawahku yang semakin hangat dan penuh. Tanpa sadar, aku menegakkan leherku, lalu memohon dengan kaki yang gemetaran, "Jangan permainkan aku lagi, lakukanlah."
Namun, dia tidak melakukannya, melainkan tetap menggoda dengan perlahan, "Bu, bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh apa?" tanyaku dengan napas tersengal-sengal.
Pria itu menggigit telingaku dengan lembut, "Kalau aku berhasil membuatmu merasa nyaman, tubuhmu ini, hari ini, akan sepenuhnya menjadi milikku ...."
Tanpa kusadari, seluruh ruangan menjadi hening. Yang terdengar hanya napasku sendiri dan detak jantungku yang berdebar-debar.
Aku ingin menolak, tetapi api di perut bagian bawahku semakin berkobar. Sensasi terbakar itu menjalar hingga ke kepalaku dan merampas kemampuanku untuk berpikir.
Panas itu membakar hingga kulit kepalaku terasa meremang, membuat semua kata penolakan yang hendak keluar berubah menjadi suara yang gemetaran. Aku berkata, "Semua terserah kamu, cepatlah, kumohon ...."