Bab 2
Keluar dari ruang dokter utama, aku memegang erat hasil diagnosis di tanganku.
Kanker otak, stadium tiga.
"Jika segera dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi dan terapi target, mungkin masih ada sedikit harapan hidup."
Kata-kata dokter itu terus terngiang di kepalaku.
Sepuluh tahun lalu, dalam rangkaian pembunuhan yang ditujukan kepada Ketua Mafia Corsica, orang tuaku tewas demi melindungi Lorenzo yang saat itu masih remaja.
Bisnis Keluarga Moreto pun ikut hancur dan bangkrut seketika.
Aku bisa bertahan hidup dan diadopsi oleh Keluarga Corsica, semata-mata karena Nyonya Elisa memegang teguh prinsip mafia, membalas darah dengan darah, melindungi nyawa dengan nyawa.
Kini, semua tabunganku sama sekali tidak cukup untuk membayar biaya operasi dan perawatan lanjutan yang selangit.
Setelah berpikir lama, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perusahaan Lorenzo.
Pintu ruang kerja Lorenzo terbuka lebar. Sophia sedang menata bunga iris ungu di vas di atas mejanya, sementara Lorenzo menatapnya lembut dengan senyum yang hangat di wajahnya.
Langkahku terhenti sejenak.
Selama bersamanya, aku tahu Lorenzo tidak pernah menyukai bunga.
Namun tampaknya, selama itu pemberian Sophia, Lorenzo bisa mengubah kesukaannya.
Begitu Lorenzo mengangkat kepalanya dan melihatku, dia sedikit menegakkan badan. Ekspresi hangat di wajahnya segera memudar.
"Untuk apa kamu ke sini?"
"Bisakah kamu meminjamkan aku sedikit uang? Akan aku kembalikan nanti." Aku tidak menyembunyikan tujuanku, karena aku masih ingin hidup.
"Nona Chiara, katanya setelah orang tuamu meninggal, kamu diasuh oleh keluarga Lorenzo, semua kebutuhanmu ditanggung oleh keluarganya."
"Sekarang, kamu masih mau meminjam uang, apa kamu nggak punya malu? Mungkinkah kamu menikahi Lorenzo hanya demi uang?"
Suara Sophia terdengar tidak senang, pandangannya padaku penuh provokasi.
Aku mengabaikan perkataan Sophia dan menatap lurus ke arah Lorenzo.
Lorenzo sengaja menghindari tatapanku, suaranya menjadi dingin.
"Sophia benar."
"Masalah uang, kamu atasi sendiri. Setelah kita menikah nanti, utang budi orang tuamu padaku akan lunas sepenuhnya."
Genggaman tanganku perlahan terlepas. Sikapnya membuat dadaku terasa dingin.
Di bawah meja kerja, jari-jari Lorenzo dan Sophia saling bertaut erat.
Di jarinya masih terpasang cincin yang ditinggalkan ayahku sebelum meninggal.
"Nggak perlu menunggu sampai menikah."
Suaraku serak dan bergetar.
Ekspresi Lorenzo sempat berubah bingung, tetapi dia dengan cepat memahami maksudku.
"Selain menggunakan hal itu untuk mengancamku, apa lagi yang bisa kamu lakukan? Orang tuamu memang menyelamatkanku, tapi apakah itu berarti aku harus mengorbankan hidupku untuk membalasnya?" Kesabaran Lorenzo benar-benar habis. Dia memerintahkan pengawal untuk mengusirku keluar.
Seolah ingin membuatku marah, tepat setelah aku dibawa pergi, Lorenzo memerintahkan asistennya membeli kapal pesiar mewah seharga enam belas triliun untuk Sophia.
Enam belas triliun, jumlah yang cukup untuk membayar semua biaya pengobatanku.
Aku tersenyum getir. Pandanganku mulai kabur karena air mata.
Tidak apa-apa. Setidaknya, aku dan Lorenzo sama-sama bebas.
Bab 3
Hampir sebulan lamanya, Lorenzo tidak menghubungiku.
Dia seolah mengabdikan seluruh waktunya untuk Sophia.
Akun Facebook yang biasanya tidak pernah aktif, mulai sering memunculkan jejak mereka berdua.
Mereka seperti pasangan biasa, menonton opera, pergi ke pulau pribadi, melakukan semua hal yang dulu Lorenzo anggap tidak berarti.
Unggahan terakhirnya adalah foto pernikahan yang diambil bersama Sophia, di mana dia tampak mengenakan setelan jas khusus.
Keterangannya: [Ingin sekali melihat wanita yang kucintai mengenakan gaun pengantin.]
Aku tersenyum miris dan menekan tombol suka.
Kemudian, mematikan ponsel.
Keesokan harinya.
Lorenzo meneleponku dengan nada kesal. Suaranya terdengar enggan.
"Chiara, bawa dokumen identitasmu. Satu jam lagi, temui aku di gereja tua."
Belum sempat aku menjawab, sambungan sudah diputus.
Selama lima tahun, untuk pertama kalinya, Lorenzo sendiri yang meminta untuk pergi ke gereja.
Aku hendak menulis pesan penolakan, tiba-tiba aku teringat cincin peninggalan ayahku masih ada padanya.
Sebelum pergi, aku harus mengambilnya kembali.
Aku pun menuju ke gereja tua keluarga itu. Jalanan di sekitarnya terasa begitu familier, selama lima tahun ini, aku telah melaluinya entah berapa kali.
Untuk pertama kalinya, tidak terjadi apa pun di sepanjang perjalanan.
Di bawah pilar batu gereja yang dipenuhi bekas peluru, aku menunggu Lorenzo selama satu jam, hingga akhirnya sosoknya muncul di hadapanku.
Lingkar hitam di bawah matanya begitu jelas, dan aroma tembakau dari tubuhnya makin pekat.
Setelah bertahun-tahun bersama, aku tahu, dia hanya merokok saat hatinya sedang kacau.
Setelah sebulan tidak bertemu, dia terlihat terkejut saat melihatku.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Hanya dalam sebulan, rasa sakit akibat penyakit dan efek kemoterapi telah membuatku begitu kurus.
Tanpa dia mengatakannya pun aku tahu, penampilanku sekarang pasti sangat buruk.
Melihatku tidak menjawab, Lorenzo berkerut kesal. "Hari ini, hari kita menandatangani akta pernikahan. Kamu yakin mau tampil seperti ini di foto pernikahan kita?"
"Aku bukan datang untuk mengikat janji pernikahan. Aku hanya ingin mengambil cincin peninggalan ayahku," ujarku datar sambil mengulurkan tangan padanya.
Lorenzo menatapku dengan heran, seolah menganggapku sedang membuat ulah.
Kemudian, dia tertawa sinis, lalu meraih pergelangan tanganku dan menarikku masuk ke gereja tanpa memberi aku kesempatan menolak.
"Nggak perlu memainkan siasat tarik-ulur di depanku. Apa kamu pikir, aku akhirnya akan menyerah pada hutang budi ini dan menikahimu?"
"Baik, aku akui kamu menang. Ayo masuk dan selesaikan upacaranya, lalu tentukan waktu untuk mengadakan pernikahan." Lorenzo berkata dengan nada nyaris putus asa.
Ketika melihat kami datang, pastor di gereja dengan sigap menyiapkan dokumen dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara pernikahan.
"Mohon kalian berdua menunjukkan identitas dan menandatangani surat permohonan pernikahan."
Lorenzo mengeluarkan cincin berukir lambang keluarganya. Saat dia menyerahkannya, ujung lengan bajunya tersingkap sedikit, memperlihatkan sebuah tato baru di bagian dalam pergelangan tangannya.
Itu adalah inisial nama Sophia, dengan setangkai mawar merah yang melilit di atasnya.
Pastor yang tidak memahami situasinya, berusaha mencairkan suasana.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi, sampai menato nama pasangan di tubuh sendiri. Kelihatan sekali kalian begitu bahagia."
Lorenzo sempat tertegun, lalu dengan canggung menarik kembali lengan bajunya.
Tanpa sadar, dia menoleh ke arahku. Melihat aku masih berdiri tanpa ekspresi, nada suaranya menjadi penuh sindiran.
"Kenapa? Takut di jalan terjadi insiden lagi sampai kamu lupa membawa dokumen identitasmu?"
Melihat sikapnya yang seperti itu, aku menarik napas dalam-dalam. "Aku sudah bilang, aku datang bukan untuk menikah. Tolong kembalikan cincin..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, telepon satelit Lorenzo berdering nyaring.
Begitu tersambung, dari seberang terdengar suara anak buahnya yang panik.
"Ketua! Gawat! Nona Sophia menelan banyak pil tidur di vila, sepertinya keadaannya kritis!"
"Selain itu... kami menemukan surat wasiat. Di dalamnya tertulis... tertulis bahwa Nona Chiara yang memaksanya!"
Bab 4
Begitu anak buahnya selesai berbicara, Lorenzo tiba-tiba berdiri.
Seluruh akal sehatnya lenyap tanpa jejak, menyisakan kepanikan di wajahnya.
"Chiara! Berani-beraninya kamu...!"
Dia menatapku dengan rahang mengeras.
Meskipun telah mengenalnya bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat Lorenzo kehilangan kendali seperti itu.
Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa pun, Lorenzo langsung memberi isyarat kepada para pengawal di belakangnya untuk menyeretku dengan kasar ke dalam mobil dan membawaku ke kediaman Sophia.
Di dalam vila begitu berantakan. Semua foto dirinya bersama Lorenzo pecah dan berserakan di lantai.
Sophia terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat pasi, tanpa tanda-tanda kehidupan. Dada yang nyaris tidak bergerak menunjukkan betapa lemah napasnya.
Kedua kaki Lorenzo melemas. Dia hampir terjatuh saat berlari ke arah Sophia. Dengan tangan bergetar, dia menggenggam erat tangan Sophia yang dingin.
"Sophia! Lihat aku! Aku nggak akan menikah lagi! Bukalah matamu dan lihat aku!"
Di samping tangan Sophia tergeletak sebotol obat tidur yang telah dibuka, serta sepucuk surat wasiat yang berlumuran darah.
Dalam surat itu, penuh kata-kata yang menuduhku. Dia menimpakan seluruh kesalahan atas kematiannya padaku.
Pupil Lorenzo menyempit karena amarah yang meluap. Dia berbalik dan mencengkeram leherku dengan kuat.
Lorenzo sama sekali tidak menyadari bahwa lebih dari setengah isi botol obat tidur itu masih tersisa. Sophia sebenarnya hanya meminumnya sedikit.
Seperti binatang buas yang kehilangan kendali, Lorenzo menghardikku.
"Chiara! Kenapa kamu melakukan ini? Kamu ingin menikah denganku, aku sudah menyetujuinya! Mengapa kamu masih harus memaksanya sampai mati?"
"Apa salahnya?"
Tatapan penuh kebencian itu menembus jantungku seperti sebilah es yang tajam.
Lorenzo, dia tidak pernah percaya padaku.
"Aku nggak memaksanya bunuh diri. Aku juga nggak ingin menikah denganmu. Aku hanya ikut bersamamu untuk mengambil kembali cincin ayahku."
Kata-kata itu keluar dengan susah payah dari bibirku, sementara rasa sesak menyerangku.
Aku tahu, apa pun yang kukatakan, dia tidak akan percaya.
Detik berikutnya, Lorenzo melepaskanku.
Plak!
Pandanganku mendadak gelap. Rasa nyeri yang hebat menyergap.
Lorenzo menamparku sekuat tenaga.
Dengan mata memerah, dia menarik cincin di jarinya dengan kasar.
Lalu, menjatuhkannya di depanku.
Cincin itu menghantam lantai dan pecah berkeping-keping.
Barang terakhir peninggalan ayahku di dunia ini, kini telah hancur berkeping-keping.
Aku menatap kosong pada pecahan cincin di kakiku, bibirku bergetar tanpa bisa dikendalikan.
"Kalau kamu menginginkannya, aku akan mengembalikannya padamu."
"Kamu pikir aku berterima kasih karena orang tuamu menyelamatkanku sepuluh tahun lalu? Kalau aku tahu aku harus membayarnya dengan pernikahan dan kebebasanku, aku lebih rela mati di malam penyerangan itu!"
"Kematian orang tuamu adalah pilihan mereka sendiri! Mengapa aku harus menanggung belenggu ini seumur hidup?
Nada suara Lorenzo dipenuhi kebencian dan dendam yang terpendam selama sepuluh tahun. Bunuh diri Sophia sepenuhnya menghancurkan kewarasannya.
Tatapan matanya padaku makin dingin.
Dia memungut botol obat tidur yang tergeletak di lantai.
Atas isyaratnya, pengawal di sampingnya memukul bagian belakang lututku dengan keras hingga aku tidak berdaya dan jatuh berlutut di lantai.
"Lorenzo! Kamu sudah gila?"
Lorenzo mencengkeram daguku, lalu dengan kasar memaksa semua obat tidur yang tersisa dalam botol masuk ke tenggorokanku!
Pil-pil obat itu menggores tenggorokanku, menimbulkan rasa perih yang menusuk dan sesak yang mencekik.
"Ketika Sophia menelan obat itu, pasti jauh lebih menyakitkan dari ini. Sekarang, kamu rasakan sendiri bagaimana rasanya!"
Aku berusaha memuntahkan obat itu, tapi pengawalnya menutup mulutku rapat-rapat dan mencengkeram leherku agar aku menelannya.
Rasa sesak yang hebat menyerang, kesadaranku mulai memudar.
Sebelum semuanya benar-benar gelap, Lorenzo menunduk dan memandangku dari atas, tatapannya hanya menyisakan keteguhan yang dingin tanpa sedikit pun belas kasih.
"Chiara, aku akan meminta ibuku membatalkan pertunangan kita. Aku salah. Seharusnya sejak awal aku memilih Sophia."
Air mata mengalir dari sudut mataku.
Mereka pergi tanpa menghiraukanku, membiarkanku tergeletak di atas karpet. Tubuhku menggeliat kesakitan, sementara kesadaranku perlahan tenggelam ke dalam kegelapan yang tidak berujung.
Lorenzo menyesali keputusannya yang terpaksa menepati janji pernikahan itu.
Namun, untungnya, aku sudah lebih dulu membuat pilihan untuknya...
...
Di sisi Lorenzo.
"Tanda-tanda vital pasien stabil. Dosis yang diminum tidak cukup untuk menyebabkan kematian, dia akan segera sadar."
Mendengar konfirmasi dari dokter pribadinya, Lorenzo perlahan menghembuskan napas lega.
Kepalanya masih berdengung karena ketakutan dan amarah yang tadi meledak.
Semuanya terjadi terlalu cepat. Saat melihat Sophia terbaring tanpa tanda-tanda kehidupan di atas ranjang, rasa takut benar-benar membuatnya kalut.
Setelah tenang sejenak, napas Lorenzo tiba-tiba tertahan.
Dia tiba-tiba teringat pada Chiara yang juga dipaksa menelan obat tidur dalam jumlah besar. Penyesalan yang kuat langsung menyergapnya.
Tadi seluruh pikirannya hanya tertuju pada Sophia, hingga dia benar-benar melupakan Chiara!
Dia segera menoleh dan menatap anak buahnya di belakang. "Di mana Chiara? Kalian sudah membawanya ke rumah sakit, 'kan? Cepat panggil dokter untuk mencuci lambungnya! Masalah ini ... cukup sampai di sini!"
Beberapa anak buah saling berpandangan, lalu menjawab dengan ragu.
"Ketua ... Anda tidak memerintahkan kami untuk membawa Nona Chiara ke rumah sakit... Kami ... kami hanya mengikuti perintah Anda, membiarkannya tetap di sana..."