Bab 1
Pernikahanku dengan ketua mafia, Lorenzo Corsica, selalu terhenti tepat sebelum langkah terakhir.
Kami telah bertunangan selama lima tahun dan mengadakan upacara pernikahan sebanyak 32 kali, tetapi setiap kali selalu berakhir dengan kecelakaan di tengah jalan.
Hingga upacara yang ke-33, saat prosesi baru berjalan setengah, dinding luar gereja tiba-tiba runtuh dan aku tertimpa hingga masuk ruang perawatan intensif.
Tulang tengkorakku retak, aku mengalami gegar otak parah, dan telah menerima lebih dari sepuluh surat pemberitahuan kondisi kritis...
Aku berjuang di ambang kematian selama dua bulan sebelum akhirnya berhasil bertahan hidup.
Namun, pada hari aku keluar dari rumah sakit, tanpa sengaja aku mendengar percakapan antara Lorenzo dan orang kepercayaannya.
"Tuan Muda, jika Anda benar-benar jatuh cinta pada gadis miskin itu, Anda bisa langsung membatalkan pertunangan dengan Nona Chiara. Kekuatan Keluarga Corsica cukup besar untuk membungkam segala gosip. Mengapa Anda harus berulang kali menciptakan kecelakaan seperti ini?"
"Dia hampir saja mati." Suara orang kepercayaannya penuh ketidaksetujuan.
Lorenzo terdiam lama sebelum akhirnya berkata, "Aku juga nggak punya pilihan... Sepuluh tahun lalu, Tuan dan Nyonya Moreto menyelamatkanku dengan nyawa mereka. Aku hanya bisa membalas budi melalui pertunangan."
"Tapi aku mencintai Sophia. Selain dia, aku nggak ingin menikahi siapa pun."
Aku menatap bekas luka yang memenuhi tubuhku dan menangis tanpa suara.
Ternyata semua penderitaan yang kualami bukan karena nasib yang kejam, melainkan hasil perhitungan matang dari pria yang kucintai.
Jika dia tidak sanggup membuat pilihan, aku yang akan mengakhiri semua ini untuknya.
"Kamu ingin membatalkan pertunangan?"
Ibu Lorenzo, Elisa, Nyonya Keluarga Corsica, terlihat sangat terkejut.
Selama ini, dialah yang paling tahu betapa dalam cintaku kepada Lorenzo.
"Chiara, pikirkan lagi. Begitu kalian menikah, kamu akan menjadi Nyonya Keluarga Corsica di masa depan. Nggak akan ada seorang pun yang berani menyakitimu."
Aku tersenyum pahit, lalu dengan tenang memutar rekaman suara di ponselku.
Percakapan antara Lorenzo dan orang kepercayaannya terdengar sangat jelas. Semua kata yang hendak diucapkan Elisa terhenti di tenggorokannya, wajahnya seketika memucat.
"Selama lima tahun, tiga puluh tiga kali. Setiap kali kami pergi ke gereja keluarga, selalu terjadi kecelakaan. Semua itu adalah rekayasa yang Lorenzo rancang sendiri, hanya agar aku membatalkan pertunangan kami."
Aku meletakkan setumpuk laporan medis dan surat pemberitahuan kondisi kritis di atas meja dengan tenang.
"Kalau dia merasa pernikahan ini adalah belenggu, aku juga nggak akan memaksanya. Membatalkan pertunangan adalah yang terbaik bagi kami berdua."
Nyonya Elisa gemetar karena marah. Dia masih mengingat dengan jelas segala insiden yang kualami selama bertahun-tahun setiap kali menghadiri upacara pernikahan.
Pertama kali, iring-iringan mobil kami diserang penembak jitu di depan gereja. Aku tertembak empat kali dan nyaris mati di atas tangga batu yang dingin. Kedua kalinya, sebuah truk yang kehilangan kendali menabrak mobilku, membuat tulang telapak tanganku remuk. Ketiga kalinya, hotel tempat kami menginap sebelum keberangkatan meledak. Aku terjebak dalam kobaran api selama tiga jam.
Mata Elisa berkaca-kaca, dia mengelus bekas luka mengerikan di lenganku, lalu akhirnya mengangguk dengan berat hati.
"Sebelum meninggal, orang tuamu menitipkanmu kepada kami... Tapi ternyata Lorenzo memperlakukan putri penyelamatnya seperti ini."
"Keluarga Corsica telah mengecewakanmu, juga mengkhianati kebaikan Keluarga Moreto."
Ujung hidungku terasa panas, aku berusaha menahan isak tangisku.
Saat melangkah keluar dari gerbang besar rumah utama Keluarga Corsica, sebuah mobil Maybach hitam langsung berhenti di depanku.
Kaca jendela perlahan turun, menampakkan wajah Lorenzo yang tegas, tetapi penuh ketidaksenangan.
Dia menatapku dengan sinis dan berkata, "Datang lagi untuk mengadu? Kalau kamu begitu ingin masuk ke keluarga ini, ayo kita ke gereja sekarang dan tanda tangani janji pernikahan."
Aku tidak menjawab dan hanya melirik ke kursi penumpang depan.
Sophia Camora duduk di sana dengan mata memerah, seolah baru saja menanggung luka hati yang luar biasa. Saat mendengar Lorenzo menyebut kata tanda tangan, tubuhnya bergetar pelan.
Lorenzo turun dari mobil dan berdiri di depanku, menghalangi pandanganku pada Sophia.
Tatapannya menajam dan keningnya berkerut sedikit.
"Aku akui, aku memang punya perasaan pada Sophia. Tapi tenang saja, aku akan tetap menunaikan tanggung jawabku padamu."
"Jangan khawatir soal pertunangan ini."
Tanggung jawab. Dua kata itu terasa seperti belati beracun yang menancap dalam di dadaku.
Aku menahan tawa getir dan berkata pelan, "Aku ada urusan hari ini. Lain kali saja. Lagi pula sudah tertunda lima tahun, menunggu beberapa hari lagi bukan masalah."
Sekilas keterkejutan melintas di mata Lorenzo.
Selama lima tahun terakhir, setiap kali luka-lukaku baru saja sembuh, hal pertama yang kulakukan adalah mendesaknya untuk pergi ke gereja.
Aku mengabaikan ekspresi herannya dan berbalik hendak pergi.
Namun, Sophia tiba-tiba turun dari mobil dan meraih lenganku.
"Lorenzo adalah pria yang sangat tepat janji. Selama ini aku banyak menerima kebaikannya. Setelah kalian menikah nanti, perlakukanlah dia dengan baik."
Nada suaranya terdengar lembut dan menyedihkan, tetapi tatapannya dipenuhi rasa iri. Kukunya menancap kuat ke kulitku.
Aku menahan sakit dan melepaskan genggamannya. Namun, Sophia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke belakang dan menampar dirinya sendiri dengan keras.
Dari sudut pandang Lorenzo, seolah-olah akulah yang menamparnya.
Lorenzo langsung memeluk Sophia, memeriksa pipinya yang mulai memerah dan bengkak. Saat kembali menatapku, matanya dipenuhi amarah.
"Katanya nggak terburu-buru, tapi kenapa justru melampiaskan amarahmu pada orang nggak bersalah?"
Ketika Lorenzo membawa Sophia pergi, langkahnya terhenti sejenak.
Dia menoleh, lalu berkata dingin, "Chiara, kalau orang tuamu yang telah tiada melihat betapa kejam dirimu sekarang, mereka pasti sangat kecewa."
Kata-kata penjelasan yang ingin keluar dari bibirku akhirnya tertahan di tenggorokan.
Aku terpaku di tempat, menatap debu yang beterbangan akibat roda mobilnya hingga mengaburkan pandanganku.
Hingga suara notifikasi ponsel berbunyi, barulah aku perlahan sadar.
[Nona Chiara, hasil CT scan otak lanjutan sudah keluar. Keadaannya tidak terlalu baik. Mohon segera datang ke rumah sakit.]
Bab 2
Keluar dari ruang dokter utama, aku memegang erat hasil diagnosis di tanganku.
Kanker otak, stadium tiga.
"Jika segera dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi dan terapi target, mungkin masih ada sedikit harapan hidup."
Kata-kata dokter itu terus terngiang di kepalaku.
Sepuluh tahun lalu, dalam rangkaian pembunuhan yang ditujukan kepada Ketua Mafia Corsica, orang tuaku tewas demi melindungi Lorenzo yang saat itu masih remaja.
Bisnis Keluarga Moreto pun ikut hancur dan bangkrut seketika.
Aku bisa bertahan hidup dan diadopsi oleh Keluarga Corsica, semata-mata karena Nyonya Elisa memegang teguh prinsip mafia, membalas darah dengan darah, melindungi nyawa dengan nyawa.
Kini, semua tabunganku sama sekali tidak cukup untuk membayar biaya operasi dan perawatan lanjutan yang selangit.
Setelah berpikir lama, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke perusahaan Lorenzo.
Pintu ruang kerja Lorenzo terbuka lebar. Sophia sedang menata bunga iris ungu di vas di atas mejanya, sementara Lorenzo menatapnya lembut dengan senyum yang hangat di wajahnya.
Langkahku terhenti sejenak.
Selama bersamanya, aku tahu Lorenzo tidak pernah menyukai bunga.
Namun tampaknya, selama itu pemberian Sophia, Lorenzo bisa mengubah kesukaannya.
Begitu Lorenzo mengangkat kepalanya dan melihatku, dia sedikit menegakkan badan. Ekspresi hangat di wajahnya segera memudar.
"Untuk apa kamu ke sini?"
"Bisakah kamu meminjamkan aku sedikit uang? Akan aku kembalikan nanti." Aku tidak menyembunyikan tujuanku, karena aku masih ingin hidup.
"Nona Chiara, katanya setelah orang tuamu meninggal, kamu diasuh oleh keluarga Lorenzo, semua kebutuhanmu ditanggung oleh keluarganya."
"Sekarang, kamu masih mau meminjam uang, apa kamu nggak punya malu? Mungkinkah kamu menikahi Lorenzo hanya demi uang?"
Suara Sophia terdengar tidak senang, pandangannya padaku penuh provokasi.
Aku mengabaikan perkataan Sophia dan menatap lurus ke arah Lorenzo.
Lorenzo sengaja menghindari tatapanku, suaranya menjadi dingin.
"Sophia benar."
"Masalah uang, kamu atasi sendiri. Setelah kita menikah nanti, utang budi orang tuamu padaku akan lunas sepenuhnya."
Genggaman tanganku perlahan terlepas. Sikapnya membuat dadaku terasa dingin.
Di bawah meja kerja, jari-jari Lorenzo dan Sophia saling bertaut erat.
Di jarinya masih terpasang cincin yang ditinggalkan ayahku sebelum meninggal.
"Nggak perlu menunggu sampai menikah."
Suaraku serak dan bergetar.
Ekspresi Lorenzo sempat berubah bingung, tetapi dia dengan cepat memahami maksudku.
"Selain menggunakan hal itu untuk mengancamku, apa lagi yang bisa kamu lakukan? Orang tuamu memang menyelamatkanku, tapi apakah itu berarti aku harus mengorbankan hidupku untuk membalasnya?" Kesabaran Lorenzo benar-benar habis. Dia memerintahkan pengawal untuk mengusirku keluar.
Seolah ingin membuatku marah, tepat setelah aku dibawa pergi, Lorenzo memerintahkan asistennya membeli kapal pesiar mewah seharga enam belas triliun untuk Sophia.
Enam belas triliun, jumlah yang cukup untuk membayar semua biaya pengobatanku.
Aku tersenyum getir. Pandanganku mulai kabur karena air mata.
Tidak apa-apa. Setidaknya, aku dan Lorenzo sama-sama bebas.
Bab 3
Hampir sebulan lamanya, Lorenzo tidak menghubungiku.
Dia seolah mengabdikan seluruh waktunya untuk Sophia.
Akun Facebook yang biasanya tidak pernah aktif, mulai sering memunculkan jejak mereka berdua.
Mereka seperti pasangan biasa, menonton opera, pergi ke pulau pribadi, melakukan semua hal yang dulu Lorenzo anggap tidak berarti.
Unggahan terakhirnya adalah foto pernikahan yang diambil bersama Sophia, di mana dia tampak mengenakan setelan jas khusus.
Keterangannya: [Ingin sekali melihat wanita yang kucintai mengenakan gaun pengantin.]
Aku tersenyum miris dan menekan tombol suka.
Kemudian, mematikan ponsel.
Keesokan harinya.
Lorenzo meneleponku dengan nada kesal. Suaranya terdengar enggan.
"Chiara, bawa dokumen identitasmu. Satu jam lagi, temui aku di gereja tua."
Belum sempat aku menjawab, sambungan sudah diputus.
Selama lima tahun, untuk pertama kalinya, Lorenzo sendiri yang meminta untuk pergi ke gereja.
Aku hendak menulis pesan penolakan, tiba-tiba aku teringat cincin peninggalan ayahku masih ada padanya.
Sebelum pergi, aku harus mengambilnya kembali.
Aku pun menuju ke gereja tua keluarga itu. Jalanan di sekitarnya terasa begitu familier, selama lima tahun ini, aku telah melaluinya entah berapa kali.
Untuk pertama kalinya, tidak terjadi apa pun di sepanjang perjalanan.
Di bawah pilar batu gereja yang dipenuhi bekas peluru, aku menunggu Lorenzo selama satu jam, hingga akhirnya sosoknya muncul di hadapanku.
Lingkar hitam di bawah matanya begitu jelas, dan aroma tembakau dari tubuhnya makin pekat.
Setelah bertahun-tahun bersama, aku tahu, dia hanya merokok saat hatinya sedang kacau.
Setelah sebulan tidak bertemu, dia terlihat terkejut saat melihatku.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Hanya dalam sebulan, rasa sakit akibat penyakit dan efek kemoterapi telah membuatku begitu kurus.
Tanpa dia mengatakannya pun aku tahu, penampilanku sekarang pasti sangat buruk.
Melihatku tidak menjawab, Lorenzo berkerut kesal. "Hari ini, hari kita menandatangani akta pernikahan. Kamu yakin mau tampil seperti ini di foto pernikahan kita?"
"Aku bukan datang untuk mengikat janji pernikahan. Aku hanya ingin mengambil cincin peninggalan ayahku," ujarku datar sambil mengulurkan tangan padanya.
Lorenzo menatapku dengan heran, seolah menganggapku sedang membuat ulah.
Kemudian, dia tertawa sinis, lalu meraih pergelangan tanganku dan menarikku masuk ke gereja tanpa memberi aku kesempatan menolak.
"Nggak perlu memainkan siasat tarik-ulur di depanku. Apa kamu pikir, aku akhirnya akan menyerah pada hutang budi ini dan menikahimu?"
"Baik, aku akui kamu menang. Ayo masuk dan selesaikan upacaranya, lalu tentukan waktu untuk mengadakan pernikahan." Lorenzo berkata dengan nada nyaris putus asa.
Ketika melihat kami datang, pastor di gereja dengan sigap menyiapkan dokumen dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara pernikahan.
"Mohon kalian berdua menunjukkan identitas dan menandatangani surat permohonan pernikahan."
Lorenzo mengeluarkan cincin berukir lambang keluarganya. Saat dia menyerahkannya, ujung lengan bajunya tersingkap sedikit, memperlihatkan sebuah tato baru di bagian dalam pergelangan tangannya.
Itu adalah inisial nama Sophia, dengan setangkai mawar merah yang melilit di atasnya.
Pastor yang tidak memahami situasinya, berusaha mencairkan suasana.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi, sampai menato nama pasangan di tubuh sendiri. Kelihatan sekali kalian begitu bahagia."
Lorenzo sempat tertegun, lalu dengan canggung menarik kembali lengan bajunya.
Tanpa sadar, dia menoleh ke arahku. Melihat aku masih berdiri tanpa ekspresi, nada suaranya menjadi penuh sindiran.
"Kenapa? Takut di jalan terjadi insiden lagi sampai kamu lupa membawa dokumen identitasmu?"
Melihat sikapnya yang seperti itu, aku menarik napas dalam-dalam. "Aku sudah bilang, aku datang bukan untuk menikah. Tolong kembalikan cincin..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, telepon satelit Lorenzo berdering nyaring.
Begitu tersambung, dari seberang terdengar suara anak buahnya yang panik.
"Ketua! Gawat! Nona Sophia menelan banyak pil tidur di vila, sepertinya keadaannya kritis!"
"Selain itu... kami menemukan surat wasiat. Di dalamnya tertulis... tertulis bahwa Nona Chiara yang memaksanya!"