Bab 2

Dokter memeriksa nadiku, lalu membawa kabar yang sama sekali tidak pernah kami duga.

"Pak Johan, Nyonya sedang mengandung tiga bulan."

Mendengar kabar itu, semua orang di ruangan terkejut.

Aku telah menantikan kehadiran anak ini selama bertahun-tahun, tapi dia justru datang di saat seperti ini. Aku menatap mata Johan.

Berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya, tapi yang kutemukan hanyalah kasih sayang tulus kepadaku.

"Lina, kita akhirnya punya anak!"

Dia memelukku dengan gembira, lalu segera memerintahkan dokter untuk membuatkan program menjaga kehamilan. Setelah itu, Johan menginstruksikan para pelayan.

"Jaga Nyonya dengan baik, pastikan nggak ada hal buruk yang terjadi."

Semua orang menatapku dengan rasa iri. Selama ini, di mata mereka, Johan begitu mencintaiku.

"Sampaikan instruksi, setelah anak ini lahir, semua saham perusahaanku akan kuberikan padanya."

Sekretaris yang mendengar itu terperangah.

"Pak Johan, ini..."

Johan membentaknya.

"Jangan banyak bicara! Lakukan saja seperti yang kukatakan!"

Kemudian, dia menatapku dengan penuh perasaan dan berkata.

"Lina, aku pasti membuatmu dan anak kita menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini."

Aku menelan kepahitan dalam hati, lalu tersenyum mengangguk.

Malam harinya, Johan membatalkan semua pekerjaannya untuk menemaniku.

Dia menatapku hingga tertidur, saat dia pergi mandi, aku membuka mata lalu mulai mencari bukti.

Aku tahu betul ponsel Johan selalu menyala, tetapi aku tidak pernah menaruh curiga mengapa dia kerap keluar di tengah malam.

Dulu, aku mengira itu karena urusan perusahaan. Sekarang, jika kupikir-pikir lagi, urusan apa yang membuat seorang direktur harus selalu pergi di larut malam?

Aku memasukkan tanggal lahir Shenina sebagai kata sandi, dan ponselnya berhasil terbuka.

Yang kulihat adalah banyak pesan suara dari kontak bernama Sayang.

"Johan, aku sangat merindukanmu."

Suara itu tidak akan pernah kulupakan, itu adalah suara Shenina.

Waktu aku mengalami kecelakaan mobil dulu, dia juga pernah berkata dengan manis di sampingku bahwa dia sangat kasihan padaku.

Aku menggulir riwayat percakapan ke atas, dan yang terlihat hanyalah pesan-pesan yang dikirim Johan.

Sejak menikah dengan Johan, aku selalu merasa minder. Aku merasa, dengan status sebagai wanita yang pernah ditinggalkan tunangannya dan kini cacat, aku tidak layak mendampinginya.

Jadi, aku jarang mengirimkan dia pesan karena takut membebaninya.

Namun, kini aku sadar semuanya hanyalah perasaanku sendiri. Air mataku jatuh ke layar ponsel dan membasahi layarnya.

Saat mencoba menghapusnya dengan tisu, aku tanpa sengaja membuka sebuah pesan suara.

"Cari kesempatan untuk menggugurkan anak Lina. Sebaiknya lakukan diam-diam, jangan sampai dia tahu."

Itu adalah pesan dari Johan kepada sekretarisnya.

"Kamu bisa mencampurkan obat ke dalam makanan sehari-harinya. Anak itu nggak boleh ada. Aku takut kalau Shenina tahu, dia akan sedih."

Membaca pesan itu, aku tidak mampu lagi menahan tangis.

Ternyata, ketulusan dan kasih sayang seseorang bisa sepenuhnya dibuat-buat. Siang hari berkata begitu manis, tapi diam-diam menyuruh orang membunuh anakku.

Barulah sekarang aku mengerti, baginya aku dan anak ini hanyalah benda yang bisa dibuang kapan saja.

Anak yang begitu kucintai, di matanya hanyalah sampah yang akan membuat Shenina marah.

Saat kuletakkan ponsel itu, perutku tiba-tiba terasa nyeri.

Tidak kusangka, Johan bergerak secepat itu, tanpa memberiku kesempatan untuk bereaksi.

Aku memegangi perutku dengan kesakitan dan merasakan cairan hangat mengalir keluar.

Darah terus mengalir deras, membentuk genangan merah di bawah tubuhku. Dengan panik, aku berusaha mengambil ponsel untuk meminta tolong, tapi rasa kantuk yang berat menghantamku.

Itu adalah obat tidur yang Johan berikan padaku. Aku sama sekali tidak mampu melawan kantuk yang menyerang dan akhirnya pingsan.

Johan begitu teliti, dia tidak memberiku kesempatan sedikit pun.

Ketika aku kembali sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Ketika membuka selimut, yang kulihat hanyalah perutku yang kosong.

Bab 3

Mata Johan memerah, jelas terlihat bahwa dia baru saja menangis tersedu-sedu.

Melihat aku terbangun, dia segera memelukku dengan penuh rasa sayang dan berkata dengan terbata-bata.

"Maafkan aku, Lina, aku nggak bisa melindungi anak kita."

"Dokter bilang, anak kita memiliki cacat bawaan, makanya terjadi keguguran mendadak."

Johan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

"Lina, jangan terlalu sedih. Kita masih bisa memiliki anak lagi."

Setelah mengatakannya, aku merasakan bahuku menjadi basah, air mata Johan membasahi pakaianku.

Aku merasa linglung. Hanya dalam satu hari, aku mengalami kenyataan bahwa Johan adalah dalang di balik kecelakaan mobil yang kualami.

Johan pula yang membuatku tidak akan pernah bisa menari lagi seumur hidup. Kini, dia juga merenggut nyawa anakku dengan kejam.

Apakah dia benar-benar suamiku? Atau justru algojo yang perlahan membunuhku?

Rasa sakit itu hampir menenggelamkanku dan membuatku sulit bernapas.

"Lina, kamu kenapa?"

Johan buru-buru berlari keluar memanggil dokter.

Setelah memeriksaku, dokter hanya mengatakan bahwa tubuhku lemah setelah keguguran dan perlu banyak beristirahat.

Aku menutup mata untuk menahan air mataku. Johan di sampingku terus meminta maaf.

"Lina, ini semua salahku, membuatmu menderita seperti ini."

Aku mengabaikan permintaan maaf palsunya dan tetap diam.

Hatiku sudah mati sejak dia dengan sengaja membunuh anakku.

Ketika Johan hendak menghiburku lagi, ponselnya berdering.

Melihat nama penelepon, Johan segera keluar dari ruangan.

"Lina, ada urusan mendesak di perusahaan, aku pergi dulu."

Melihat punggungnya yang menjauh, aku membuka ponsel.

Saat Johan tertidur, aku telah menghubungkan ponselku dengan miliknya dan mengaktifkan pelacakan lokasi.

Sekarang, aku bisa melihat ke mana pun dia pergi.

Aku melihat kepergiannya, lokasi menunjukkan Johan berada di pintu masuk rumah sakit.

Awalnya, kukira dia akan pergi, tetapi kulihat Johan berhenti sejenak di pintu, lalu kembali masuk menuju bagian kebidanan dan kandungan.

Aku sedikit bingung, tetapi sedetik kemudian semuanya menjadi jelas.

Aku mendengar suara Shenina. Dia menggandeng lengan Johan dengan manja sambil berkata.

"Aku baru sampai di depan rumah sakit, tiba-tiba Alex bilang ada urusan mendadak di perusahaan dan nggak bisa menemaniku. Untung saja kamu datang menemaniku."

"Aku agak takut melakukan pemeriksaan sendirian."

Tidak kusangka, di depan mataku sendiri, Johan bisa bermesraan dengan Shenina.

Aku memang menempati kamar VIP tunggal yang letaknya jauh dari kamar pasien umum.

Kalau bukan karena pelacak yang kupasang, aku tidak akan pernah tahu semua ini.

"Shenina aku pernah bilang, anakmu juga anakku. Aku akan selalu menemanimu."

"Kak Johan, kamu memang yang terbaik."

"Kamu tunggu sebentar di sini, aku keluar untuk menjemput dokter kandungan terbaik di negeri ini. Aku sengaja memanggilnya untukmu."

Istrinya baru saja kehilangan anak, tetapi dia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menemani wanita lain melakukan pemeriksaan kehamilan.

Shenina menjawab dengan nada manis, "Oke." Kemudian, dia menunggu hingga Johan pergi cukup jauh sebelum melangkah masuk ke kamarku.

"Kak Lina, sudah lama nggak bertemu, ya."

Shenina mengenakan pakaian rancangan khusus, wajahnya tanpa sentuhan riasan, tetapi terlihat sehat dan berseri, jelas terlihat bahwa dia dirawat dengan sangat baik.

"Apa maumu?"

Shenina memegangi perutnya sambil tersenyum.

"Nggak ada, hanya saja aku dengar Kakak keguguran, jadi aku datang untuk menjengukmu."

"Lagi pula, hari ini adalah hari peringatan kematian ibumu. Aku khawatir kamu akan bersedih."

"Aku nggak butuh perhatianmu. Cepat pergi!"

Mendengar aku memarahinya, ekspresi Shenina langsung berubah.

"Kamu belum tahu, 'kan? Anakmu itu digugurkan karena Johan takut aku sedih, jadi dia sengaja mencampurkan obat penggugur kandungan ke dalam makananmu."

"Dokter bilang anak itu sudah berbentuk manusia, sayang sekali dia punya ibu sepertimu, jadi nggak bisa lahir ke dunia."

Tanganku mencengkeram sprei hingga berkerut, mataku hampir saja memerah karena amarah.

"Aku juga sedang hamil. Anak ini nggak ada hubungannya dengan Kak Johan, tapi dia selalu sibuk mengurusku setiap hari."

Jika ini terjadi di masa lalu, aku pasti tidak akan percaya dan bahkan akan bertengkar hebat dengannya.

Namun, entah mengapa, kini aku merasa sudah tidak peduli lagi pada Johan seperti sebelumnya.

Jadi, aku tidak memberikan respons apa pun dan hanya menatap Shenina dengan wajah datar, lalu berkata.

"Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah, silakan pergi."

Shenina awalnya mengira aku akan marah padanya, tetapi setelah melihatku tidak bereaksi, dia benar-benar panik.

Dia membuang sikap manisnya dan mulai memakiku.

"Lina, kamu pikir kamu ini siapa? Si pincang yang sok suci! Kalau bukan karena aku menahan diri, kamu pikir kamu masih bisa hidup sampai sekarang?"

Bab 4

Mendengar dia memanggilku pincang, aku tidak bisa lagi menahan diri.

Saat dia membanggakan bahwa Johan mencintainya, aku masih bisa memilih untuk tidak memedulikannya.

Namun, begitu dia mengejek kakiku, rasanya hatiku seperti disobek-sobek.

Aku membentak.

"Shenina, apa hakmu memanggilku pincang? Kalau bukan karena kamu, bagaimana mungkin aku kehilangan kesempatan untuk menari?"

"Selain itu, jangan pernah mengungkit soal ibuku!"

Saat Shenina hendak melanjutkan makiannya, suara Johan terdengar dari luar pintu.

Ternyata, setelah mencari Shenina ke mana-mana dan tidak menemukannya, dia justru datang ke sini.

Begitu mendengar suaranya, Shenina buru-buru berpura-pura lemah dan terjatuh ke lantai.

"Kak Johan, tolong aku!"

Mendengar seruan minta tolong itu, Johan langsung menerobos masuk. Melihat Shenina terjatuh di lantai dengan wajah penuh air mata, dia segera memanggil dokter.

"Kak Johan, untung kamu datang, kalau nggak aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana..."

Shenina menatap Johan dengan berlinang air mata, sambil terus memegangi perutnya.

"Aku benar-benar nggak tahu apa salahku pada Kak Lina, sampai dia mendorongku begitu keras. Kalau saja aku nggak melindungi perutku, entah apa yang akan terjadi..."

Mendengar itu, mata Johan langsung memerah. Bagi dia, Shenina tidak boleh terluka sedikitpun.

"Lina, kenapa kamu menyakiti Shenina? Dia itu gadis paling baik!"

Seolah ingin merenggut nyawaku, Johan mencengkeram leherku dengan kuat.

Aku merasa napasku makin berat, seolah akan tercekik.

Aku berusaha sekuat tenaga mendorongnya, tapi kekuatan kami terlalu timpang.

Aku mencabut infus yang menempel di tanganku dengan cepat, lalu menusukkannya ke tangan Johan.

Johan berteriak dan melepaskanku.

Aku terbatuk-batuk dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Saat itulah, aku benar-benar menyadari sesuatu.

Tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkanku. Mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalahku adalah mimpi kosong. Hanya aku sendiri yang bisa menyelamatkan diriku.

Setelah Johan pergi bersama Shenina, aku langsung menghubungi detektif swasta.

Selama bertahun-tahun bersama Johan, aku telah menabung cukup banyak uang untuk menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan yang terjadi dulu.

Hari ini adalah hari peringatan kematian ibuku, dan aku memutuskan untuk mengungkap semuanya hari ini, sebagai jawaban untuk ibuku.

Setelah menenangkan diri, aku menelepon guru yang dulu membimbingku.

"Guru, aku ingin kembali dan melanjutkan belajar di bawah bimbingan Anda."

Orang di ujung telepon terdiam sejenak saat mendengar suaraku, lalu segera menjawab.

"Kamu yakin? Kalau kembali dan belajar denganku, kamu harus menghapus semua jejakmu di dunia ini. Nggak akan ada lagi Lina Dixon."

Aku menjawab dengan tegas.

"Aku yakin."

"Baik, aku akan menunggumu."

Pernikahan Penuh Dusta

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya