Bab 1
Menjelang hari pernikahan, aku mengalami kecelakaan mobil hingga terluka parah dan koma. Tunanganku langsung membatalkan pernikahan dan menikahi sahabat masa kecilnya.
Ibuku mencari tunanganku untuk menuntut keadilan, tapi di tengah jalan dia mengalami kecelakaan dan meninggal dengan tragis.
Di saat genting, teman masa kecilku berlutut dengan satu kaki di depan pintu rumah sakit, memberikan uang dua miliar sebagai mas kawin dan mengurus pemakaman ibuku.
Aku berhasil dioperasi, meskipun harus mengalami cacat seumur hidup. Namun, teman masa kecilku berjanji akan merawatku seumur hidup.
Tersentuh oleh ketulusannya, aku pun menikah dengannya. Namun, lima tahun kemudian, aku mendengar percakapannya dengan sang sekretaris.
"Pak Johan demi membuat Nona Shenina bisa menikahi pria yang dia cintai, Anda menyuruh orang menabrak Nyonya hingga cacat seumur hidup. Anda nggak takut dia akan mengetahuinya?"
"Demi Shenina, apa yang nggak bisa kulakukan? Aku sudah menyerahkan sisa hidupku untuk menebus Lina, masih belum cukupkah?"
Aku menutup mulut dan menahan isak tangis.
Barulah sekarang aku mengerti, ternyata pernikahan kami selama ini hanyalah sebuah kebohongan.
Jika seperti itu, lebih baik aku menghilang dan menyerahkan tempatku kepada wanita yang dia cintai.
Di ruang kerja, Johan Scott menatap foto Shenina Hansel dengan penuh kasih dan penyesalan.
"Melihat Shenina sekarang hidup bahagia, aku sudah merasa puas."
Sekretaris di sampingnya bertanya dengan nada tidak berdaya.
"Pak Johan, Anda nggak takut Nyonya mengetahui bahwa Anda yang menyuruh orang membuat kecelakaan mobil itu?"
"Lagi pula, saat itu kaki Nyonya sebenarnya nggak apa-apa. Demi membuat Nona Shenina bisa meraih medali emas tari, Anda menyuntikkan obat ke Nyonya hingga kakinya menjadi pincang."
Johan tertegun sejenak, lalu tersenyum pahit.
"Semua itu sudah berlalu. Aku akan menggunakan sisa hidupku untuk merawat Lina."
Sang sekretaris kembali bertanya dengan rasa heran.
"Anda sendiri yang menyerahkan Nona Shen kepada orang lain, bahkan memikul dosa atas kematian seorang sopir. Apakah itu sepadan?"
"Lagi pula, beberapa hari ini adalah hari peringatan kematian ibu Nyonya. Apakah Anda nggak mau..."
"Cukup! Jangan bicara lagi!"
Johan memotongnya dengan marah.
Tubuhku bergetar tanpa bisa kucegah. Cangkir kopi di tanganku terlepas dan pecah berkeping-keping di lantai dengan bunyi keras.
Mendengar suara itu, Johan segera menghentikan percakapannya dengan sang sekretaris dan cepat-cepat membuka pintu.
Melihat aku berdiri di sana, raut wajahnya langsung berubah. Dia membungkuk untuk menolongku.
"Lina, kenapa kamu di sini? Kamu nggak terluka, 'kan?"
Dengan wajah panik, Johan mengambil pecahan gelas dari tanganku, khawatir aku akan terluka.
Melihat ekspresinya yang begitu khawatir, sulit bagiku untuk percaya bahwa dialah yang baru saja mengucapkan kata-kata itu.
Johan kemudian membentak pelayan di samping.
"Bagaimana kalian merawat nyonya! Secangkir kopi saja harus dia yang mengantarkan. Apa gunanya kalian di sini? Kalau sampai dia terluka, kalian akan menanggung akibatnya!"
Para pelayan segera meminta maaf berkali-kali dan buru-buru membersihkan pecahan di lantai.
Semua orang tahu betapa Johan memanjakanku. Apa pun yang kuminta selalu dia penuhi, bahkan ketika aku sekadar bercanda.
Ketika aku mengatakan ingin memiliki bintang di langit, Johan benar-benar membelikan sebuah asteroid dan menamainya sesuai tanggal lahirku.
Johan juga mendirikan yayasan amal untuk difabel atas namaku, serta mendaftarkan banyak properti atas namaku.
Aku melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja. Johan dengan hati-hati membantuku duduk.
"Cepat panggilkan dokter keluarga!"
Aku menunduk menatap kedua kakiku yang pincang, air mataku tanpa sadar mengalir keluar.
Medali emas tari itu seharusnya menjadi milikku. Selama ini, aku selalu mengira kecelakaan mobil yang membuatku cacat.
Tidak disangka, orang yang telah kucintai dan hidup bersamaku selama ini, justru menjadi penyebab kakiku cacat.
Memikirkan itu membuat dadaku sesak. Aku terus memukul kakiku sendiri dengan marah, membenci diriku karena tidak menyadarinya lebih awal.
Itu adalah karier tari yang kucintai sepenuh hati dan kuperjuangkan dengan segenap tenaga.
Melihat air mataku, Johan mengira aku terluka oleh pecahan kaca.
Dengan hati-hati dia memelukku erat, menepuk-nepuk punggungku seperti menenangkan anak kecil.
Saat aku baru sadar dari kecelakaan, aku sering bermimpi buruk. Johan selalu setia menemaniku siang dan malam di samping tempat tidur.
Setiap kali aku terjaga karena ketakutan, dia selalu menenangkanku dengan lembut.
Saat itu, aku merasa dialah sandaran paling hangat dalam hidupku.
Namun, sekarang, aku hanya merasa merinding ketakutan.
Ternyata, sejak awal, semua ini hanyalah sebuah konspirasi, sementara aku seperti orang bodoh yang terus terperangkap dalam kebohongan cinta yang dia rajut untukku.
Bab 2
Dokter memeriksa nadiku, lalu membawa kabar yang sama sekali tidak pernah kami duga.
"Pak Johan, Nyonya sedang mengandung tiga bulan."
Mendengar kabar itu, semua orang di ruangan terkejut.
Aku telah menantikan kehadiran anak ini selama bertahun-tahun, tapi dia justru datang di saat seperti ini. Aku menatap mata Johan.
Berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya, tapi yang kutemukan hanyalah kasih sayang tulus kepadaku.
"Lina, kita akhirnya punya anak!"
Dia memelukku dengan gembira, lalu segera memerintahkan dokter untuk membuatkan program menjaga kehamilan. Setelah itu, Johan menginstruksikan para pelayan.
"Jaga Nyonya dengan baik, pastikan nggak ada hal buruk yang terjadi."
Semua orang menatapku dengan rasa iri. Selama ini, di mata mereka, Johan begitu mencintaiku.
"Sampaikan instruksi, setelah anak ini lahir, semua saham perusahaanku akan kuberikan padanya."
Sekretaris yang mendengar itu terperangah.
"Pak Johan, ini..."
Johan membentaknya.
"Jangan banyak bicara! Lakukan saja seperti yang kukatakan!"
Kemudian, dia menatapku dengan penuh perasaan dan berkata.
"Lina, aku pasti membuatmu dan anak kita menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini."
Aku menelan kepahitan dalam hati, lalu tersenyum mengangguk.
Malam harinya, Johan membatalkan semua pekerjaannya untuk menemaniku.
Dia menatapku hingga tertidur, saat dia pergi mandi, aku membuka mata lalu mulai mencari bukti.
Aku tahu betul ponsel Johan selalu menyala, tetapi aku tidak pernah menaruh curiga mengapa dia kerap keluar di tengah malam.
Dulu, aku mengira itu karena urusan perusahaan. Sekarang, jika kupikir-pikir lagi, urusan apa yang membuat seorang direktur harus selalu pergi di larut malam?
Aku memasukkan tanggal lahir Shenina sebagai kata sandi, dan ponselnya berhasil terbuka.
Yang kulihat adalah banyak pesan suara dari kontak bernama Sayang.
"Johan, aku sangat merindukanmu."
Suara itu tidak akan pernah kulupakan, itu adalah suara Shenina.
Waktu aku mengalami kecelakaan mobil dulu, dia juga pernah berkata dengan manis di sampingku bahwa dia sangat kasihan padaku.
Aku menggulir riwayat percakapan ke atas, dan yang terlihat hanyalah pesan-pesan yang dikirim Johan.
Sejak menikah dengan Johan, aku selalu merasa minder. Aku merasa, dengan status sebagai wanita yang pernah ditinggalkan tunangannya dan kini cacat, aku tidak layak mendampinginya.
Jadi, aku jarang mengirimkan dia pesan karena takut membebaninya.
Namun, kini aku sadar semuanya hanyalah perasaanku sendiri. Air mataku jatuh ke layar ponsel dan membasahi layarnya.
Saat mencoba menghapusnya dengan tisu, aku tanpa sengaja membuka sebuah pesan suara.
"Cari kesempatan untuk menggugurkan anak Lina. Sebaiknya lakukan diam-diam, jangan sampai dia tahu."
Itu adalah pesan dari Johan kepada sekretarisnya.
"Kamu bisa mencampurkan obat ke dalam makanan sehari-harinya. Anak itu nggak boleh ada. Aku takut kalau Shenina tahu, dia akan sedih."
Membaca pesan itu, aku tidak mampu lagi menahan tangis.
Ternyata, ketulusan dan kasih sayang seseorang bisa sepenuhnya dibuat-buat. Siang hari berkata begitu manis, tapi diam-diam menyuruh orang membunuh anakku.
Barulah sekarang aku mengerti, baginya aku dan anak ini hanyalah benda yang bisa dibuang kapan saja.
Anak yang begitu kucintai, di matanya hanyalah sampah yang akan membuat Shenina marah.
Saat kuletakkan ponsel itu, perutku tiba-tiba terasa nyeri.
Tidak kusangka, Johan bergerak secepat itu, tanpa memberiku kesempatan untuk bereaksi.
Aku memegangi perutku dengan kesakitan dan merasakan cairan hangat mengalir keluar.
Darah terus mengalir deras, membentuk genangan merah di bawah tubuhku. Dengan panik, aku berusaha mengambil ponsel untuk meminta tolong, tapi rasa kantuk yang berat menghantamku.
Itu adalah obat tidur yang Johan berikan padaku. Aku sama sekali tidak mampu melawan kantuk yang menyerang dan akhirnya pingsan.
Johan begitu teliti, dia tidak memberiku kesempatan sedikit pun.
Ketika aku kembali sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Ketika membuka selimut, yang kulihat hanyalah perutku yang kosong.
Bab 3
Mata Johan memerah, jelas terlihat bahwa dia baru saja menangis tersedu-sedu.
Melihat aku terbangun, dia segera memelukku dengan penuh rasa sayang dan berkata dengan terbata-bata.
"Maafkan aku, Lina, aku nggak bisa melindungi anak kita."
"Dokter bilang, anak kita memiliki cacat bawaan, makanya terjadi keguguran mendadak."
Johan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.
"Lina, jangan terlalu sedih. Kita masih bisa memiliki anak lagi."
Setelah mengatakannya, aku merasakan bahuku menjadi basah, air mata Johan membasahi pakaianku.
Aku merasa linglung. Hanya dalam satu hari, aku mengalami kenyataan bahwa Johan adalah dalang di balik kecelakaan mobil yang kualami.
Johan pula yang membuatku tidak akan pernah bisa menari lagi seumur hidup. Kini, dia juga merenggut nyawa anakku dengan kejam.
Apakah dia benar-benar suamiku? Atau justru algojo yang perlahan membunuhku?
Rasa sakit itu hampir menenggelamkanku dan membuatku sulit bernapas.
"Lina, kamu kenapa?"
Johan buru-buru berlari keluar memanggil dokter.
Setelah memeriksaku, dokter hanya mengatakan bahwa tubuhku lemah setelah keguguran dan perlu banyak beristirahat.
Aku menutup mata untuk menahan air mataku. Johan di sampingku terus meminta maaf.
"Lina, ini semua salahku, membuatmu menderita seperti ini."
Aku mengabaikan permintaan maaf palsunya dan tetap diam.
Hatiku sudah mati sejak dia dengan sengaja membunuh anakku.
Ketika Johan hendak menghiburku lagi, ponselnya berdering.
Melihat nama penelepon, Johan segera keluar dari ruangan.
"Lina, ada urusan mendesak di perusahaan, aku pergi dulu."
Melihat punggungnya yang menjauh, aku membuka ponsel.
Saat Johan tertidur, aku telah menghubungkan ponselku dengan miliknya dan mengaktifkan pelacakan lokasi.
Sekarang, aku bisa melihat ke mana pun dia pergi.
Aku melihat kepergiannya, lokasi menunjukkan Johan berada di pintu masuk rumah sakit.
Awalnya, kukira dia akan pergi, tetapi kulihat Johan berhenti sejenak di pintu, lalu kembali masuk menuju bagian kebidanan dan kandungan.
Aku sedikit bingung, tetapi sedetik kemudian semuanya menjadi jelas.
Aku mendengar suara Shenina. Dia menggandeng lengan Johan dengan manja sambil berkata.
"Aku baru sampai di depan rumah sakit, tiba-tiba Alex bilang ada urusan mendadak di perusahaan dan nggak bisa menemaniku. Untung saja kamu datang menemaniku."
"Aku agak takut melakukan pemeriksaan sendirian."
Tidak kusangka, di depan mataku sendiri, Johan bisa bermesraan dengan Shenina.
Aku memang menempati kamar VIP tunggal yang letaknya jauh dari kamar pasien umum.
Kalau bukan karena pelacak yang kupasang, aku tidak akan pernah tahu semua ini.
"Shenina aku pernah bilang, anakmu juga anakku. Aku akan selalu menemanimu."
"Kak Johan, kamu memang yang terbaik."
"Kamu tunggu sebentar di sini, aku keluar untuk menjemput dokter kandungan terbaik di negeri ini. Aku sengaja memanggilnya untukmu."
Istrinya baru saja kehilangan anak, tetapi dia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menemani wanita lain melakukan pemeriksaan kehamilan.
Shenina menjawab dengan nada manis, "Oke." Kemudian, dia menunggu hingga Johan pergi cukup jauh sebelum melangkah masuk ke kamarku.
"Kak Lina, sudah lama nggak bertemu, ya."
Shenina mengenakan pakaian rancangan khusus, wajahnya tanpa sentuhan riasan, tetapi terlihat sehat dan berseri, jelas terlihat bahwa dia dirawat dengan sangat baik.
"Apa maumu?"
Shenina memegangi perutnya sambil tersenyum.
"Nggak ada, hanya saja aku dengar Kakak keguguran, jadi aku datang untuk menjengukmu."
"Lagi pula, hari ini adalah hari peringatan kematian ibumu. Aku khawatir kamu akan bersedih."
"Aku nggak butuh perhatianmu. Cepat pergi!"
Mendengar aku memarahinya, ekspresi Shenina langsung berubah.
"Kamu belum tahu, 'kan? Anakmu itu digugurkan karena Johan takut aku sedih, jadi dia sengaja mencampurkan obat penggugur kandungan ke dalam makananmu."
"Dokter bilang anak itu sudah berbentuk manusia, sayang sekali dia punya ibu sepertimu, jadi nggak bisa lahir ke dunia."
Tanganku mencengkeram sprei hingga berkerut, mataku hampir saja memerah karena amarah.
"Aku juga sedang hamil. Anak ini nggak ada hubungannya dengan Kak Johan, tapi dia selalu sibuk mengurusku setiap hari."
Jika ini terjadi di masa lalu, aku pasti tidak akan percaya dan bahkan akan bertengkar hebat dengannya.
Namun, entah mengapa, kini aku merasa sudah tidak peduli lagi pada Johan seperti sebelumnya.
Jadi, aku tidak memberikan respons apa pun dan hanya menatap Shenina dengan wajah datar, lalu berkata.
"Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah, silakan pergi."
Shenina awalnya mengira aku akan marah padanya, tetapi setelah melihatku tidak bereaksi, dia benar-benar panik.
Dia membuang sikap manisnya dan mulai memakiku.
"Lina, kamu pikir kamu ini siapa? Si pincang yang sok suci! Kalau bukan karena aku menahan diri, kamu pikir kamu masih bisa hidup sampai sekarang?"