Bab 6
Dokter muda itu ketakutan, buru-buru minta maaf dan keluar dari kamar.
Ricky berjalan mendekati Amanda dengan wajah dingin, nada suaranya sedikit tak senang, "Lain kali kalau ada orang seperti itu, langsung bilang kamu sudah punya pacar. Memangnya susah bilang begitu?"
Amanda menatapnya, merasa semuanya begitu konyol.
Katanya dia seumur hidup tidak akan suka sama padanya, tapi rasa memiliki yang tiba-tiba ini maksudnya apa?
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Ricky tiba-tiba mengajak Amanda ikut reuni teman sekolah.
Amanda tahu Ricky biasanya tidak ikut acara semacam ini, jadi waktu dia yang mengusulkan, jelas ada maksud lain.
Benar saja, sampai di tempat reuni, Amanda langsung melihat Luna.
Ricky kelihatannya bersikap dingin dan menjaga jarak dengan Luna, seolah-olah tidak terlalu akrab.
Tapi kalau benar-benar suka seseorang, itu tidak bisa disembunyikan.
Di tengah acara, Amanda pergi ke toilet.
Saat kembali, semua orang sedang bermain truth or dare.
Luna kalah dan harus menjawab pertanyaan pribadi.
Wajahnya canggung, baru mau bicara, Ricky tiba-tiba mengambil kartu dan berkata dingin, "Biar aku saja yang mewakili hukumannya."
Pertanyaannya adalah, "Siapa objek fantasi seksualmu? Sebutkan inisial namanya."
Semua orang mulai menggoda, "Soal begini gampang buat dia! Dia sudah punya pacar, pasti jawabannya pacar!"
Ricky terdiam sejenak, lalu berkata datar, "L."
Jantung Amanda terasa seperti jatuh ke jurang dan tangannya mulai gemetar.
L … Luna.
Dia tidak tahan lagi dan bergegas keluar dari tempat itu.
Sesampainya di luar, Amanda mengirim pesan ke Ricky.
[Aku tidak enak badan, jadi pulang duluan.]
Amanda berdiri di pinggir jalan, baru saja mengangkat tangan untuk memanggil taksi, suara yang familier terdengar dari belakangnya.
"Amanda!"
Dia terpaku sejenak, lalu menoleh. Ricky sedang berjalan cepat ke arahnya.
"Kamu kenapa keluar?" tanya Amanda.
Kening Ricky berkerut, matanya terlihat sedikit cemas, "Kamu bilang tidak enak badan. Sakit apa? Aku antar ke rumah sakit."
Amanda menatapnya, perasaannya campur aduk.
Dia menggeleng pelan, "Tidak serius, hanya pusing sedikit. Kamu tidak main lagi?"
"Kamu pacarku. Kalau pacarku bilang tidak enak badan dan pergi, untuk apa aku masih di sana?"
Lalu dia mengulurkan tangan, menyentuh kening Amanda, seolah memastikan apakah dia demam.
Amanda menatapnya, makin bingung dengan sikapnya.
Bukankah tadi dia datang hanya untuk bertemu Luna? Kenapa sekarang malah pergi gara-gara pesannya?
Tapi Amanda tidak bertanya, juga tidak merasa perlu lagi untuk bertanya.
Barusan, orang tuanya mengirim pesan, mengatakan semua dokumen sudah hampir selesai. Dua hari lagi, dia bisa pergi dari sini dan benar-benar meninggalkan semuanya.
Ricky melihat kening Amanda tidak panas, akhirnya lega, dan tidak bertanya lagi.
Dengan suara pelan, dia berkata, "Ayo pulang."
…
Tengah malam, Amanda tidur dalam keadaan setengah sadar dan samar-samar mendengar suara dari balkon.
Dia membuka mata, berjalan pelan-pelan ke arah balkon dan melihat Ricky sedang merokok di luar.
Ponselnya diletakkan di pagar, dalam mode speaker. Suaranya kecil, tapi kalau mendekat, masih bisa didengar jelas.
"kak Ricky, untuk balas dendam ke-99. Kali ini kita harus bikin yang kejam! Bukankah lusa hari peringatan kalian? Bilang aja ke Amanda kalau kamu mau kasih kejutan, lalu tutup matanya dan bawa dia ke vila kosong milikku. Setelah sampai, kamu cari alasan buat keluar dan kita bakar tempat itu dari luar! Kunci pintunya, biar dia tidak bisa keluar!"
"Wah, ide bagus! Dia pasti panik dan memukul pintu!"
"Benar! Biar dia tahu rasanya putus asa!"
Terdengar suara tawa ramai dari seberang, semua orang tampaknya menganggap ide itu sangat bagus.
Membayangkan kejadian itu, urat di pelipis Ricky mulai menegang, lalu dia berkata dengan marah, "Tidak bisa. Aku tidak setuju."
Bab 7
"Kenapa tidak setuju lagi? Kak Ricky, bukannya kamu yang paling ingin segera mengakhiri permainan balas dendam ini? Tenang aja, kami pastikan tidak bakal ada yang mati! Saat dia sudah tidak tahan, kita langsung buka pintunya."
Suara Ricky tetap dingin dan keras, "Tidak bisa, terlalu berisiko. Dia tidak boleh kenapa-kenapa."
Suara di ujung telepon terdengar heran, "Serius, Kak Ricky? Hari ini aku dengar kamu meninggalkan Luna, mengejar Amanda! Luna sampai menangis semalaman, kamu juga membujuknya sangat lama. Biar dia tidak pikir aneh-aneh, makanya kita langsung diskusi cari cara buat rencana balas dendam ke-99. Kenapa semuanya ditolak? Kamu masih ingat tidak siapa sebenarnya yang kamu suka? Cepat putus dengan Amanda, lalu balik ke Luna. Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?"
Napas Ricky mendadak jadi berat, seakan ingin membantah, tapi saat itu juga, suara Luna tiba-tiba muncul dari telepon.
"Ricky, aku dengar semuanya barusan. Sekarang aku hanya mau tanya, kalau aku bersikeras memakai cara itu untuk balas dendam ke Amanda, kamu setuju atau tidak?"
Ricky terdiam.
Suara Luna terdengar bergetar, hampir menangis, "Kamu dulu janji sama aku, kamu akan lakukan apa pun demi aku!"
Akhirnya Ricky membuka mulut, suaranya serak, "Setuju. Aku turuti kamu."
Luna langsung tertawa, sementara yang lain bersorak, "Baguslah! Tidak sabar menunggu hari itu datang!"
Ricky tetap mengingatkan, "Jangan sampai ada yang celaka."
Amanda berdiri diam di dalam bayangan. Dadanya seperti diremas tangan tak kasat mata, sakitnya bikin dia nyaris tidak bisa bernapas.
Dia kembali ke kamar tanpa suara, mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan.
…
Hari peringatan tiga tahun mereka, Ricky mengikuti rencana dan berkata, "Amanda, hari ini aku sudah siapkan kejutan. Tutup matamu dulu, aku bawa kamu ke satu tempat."
Amanda menatapnya lama sekali, lalu menutup matanya tanpa perlawanan.
Ricky tersenyum kecil, menutup matanya dengan sehelai pita, lalu menggandengnya masuk ke mobil.
Setelah mobil berhenti, Ricky memapahnya masuk ke dalam vila dan berkata pelan, "Tunggu di sini sebentar, aku mau ambil hadiahnya, sebentar saja."
Amanda berdiri di tempat, mendengarkan suara langkahnya menjauh.
Tepat sebelum pintu ditutup, Amanda tiba-tiba memanggilnya.
"Ricky, kamu tahu tidak? Aku benar-benar sangat menyukaimu."
Langkah Ricky terhenti dan mendengar suaranya perlahan mengalir.
"Aku sudah lama suka padamu. Waktu kamu akhirnya mau jadian sama aku, aku sangat senang, aku pikir akhirnya keinginanku terkabul. Malam itu aku tidak bisa tidur, menangis senang sampai membasahi bantal. Bukankah aku sangat bodoh?"
Ricky tetap diam, tapi napasnya mulai menjadi cepat.
Amanda berkata pelan, "Hari ini hari jadi kita yang ketiga dan ini pertama kalinya kamu menyiapkan hadiah untukku. Aku benar-benar sangat mengharapkannya."
Tenggorokan Ricky terasa kering. Setelah beberapa saat, dia berkata pelan, "Tunggu sebentar. Aku segera kembali."
Pintu tertutup.
Saat itulah Amanda melepas penutup matanya dan langsung mencium bau bensin yang menyengat di udara.
Dia tersenyum kecil, berjalan ke sudut ruangan, menarik keluar mayat palsu yang sudah dia siapkan.
Sejak dia mendengar telepon hari itu, replika tubuhnya dibuat persis seperti ukuran dan bentuknya. Begitu terbakar, semua orang akan mengira itu dia.
Dia meletakkan sebuah alat perekam suara di atas meja, yang sudah berisi rekaman suaranya meminta tolong.
"Ricky, kamu sudah mengerjai aku 98 kali. Kali ini, yang ke-99, giliranku yang mengerjai kamu."
Dia berkata pelan, lalu menekan tombol play.
Segera, vila itu bergema oleh suaranya yang direkam, "Tolong! Buka pintunya! Ricky, tolong aku!"
Tanpa menoleh, Amanda melangkah ke pintu belakang, keluar dari vila, lalu naik taksi langsung ke bandara.
Dari kejauhan, api membumbung tinggi, menerangi langit malam.