Bab 1
Setelah mendengar kabar Ricky Mandos mengalami kecelakaan parah saat balapan liar dan kehilangan banyak darah, Amanda Hilman segera bergegas ke rumah sakit dan mendonorkan darah sebanyak 1000 cc untuknya.
Semua saudaranya menasihatinya pulang dan segera beristirahat, jadi Amanda terpaksa menyetujuinya. Tapi baru saja sampai di pintu, dia kembali lagi karena terlalu khawatir. Begitu berbalik, dia langsung melihat perawat menuangkan kelima kantong darah yang baru saja diambil darinya ke dalam tempat sampah!
Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara tawa mengejek kencang dari salah satu kamar pasien di sebelah.
"Haha, si bodoh Amanda tertipu lagi oleh kita!"
Amanda tertegun dan menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka dan seketika melihat sosok pria berpakaian pasien di tengah kerumunan.
Ricky bersandar santai di kepala ranjang, menunduk sambil bermain ponsel, sebagian wajahnya tertutup oleh seseorang, tapi hidungnya yang mancung dan tulang alis yang dalam tetap terlihat jelas ....
Sama sekali tidak tampak seperti orang yang terluka parah!
Amanda mengedipkan mata, mengira semua ini cuma halusinasi karena dirinya terlalu terpukul.
"Saudara-saudara, coba kita hitung, ini sudah keberapa kalinya kita membalas dendam?"
"Pertama, kita bohongi dia kalau kalung yang akan diberikan Kak Ricky padanya hilang. Akhirnya, dia berlari ke tengah salju dan mencari semalaman, demam tinggi sampai 40 derajat tapi tetap tidak mau istirahat."
"Kedua, kita bohong kalau Kak Ricky koma dan dia berlutut menaiki 999 anak tangga semalaman hanya demi mendapatkan jimat keselamatan. Tapi jimat itu sudah lama dibuang Kak Ricky ke seekor anjing."
"Ketiga, kita memfitnah dia curang sampai kelulusannya dibatalkan. Cara dia mati-matian membuktikan dirinya waktu itu, sampai sekarang masih membuatku ingin tertawa."
"Kali ini kita bohongi dia untuk mendonorkan lima kantong darah, ini sudah yang ke-96 kali, bukan? Tinggal tiga kali lagi, permainan balas dendam kita bisa selesai. Sungguh tidak mudah, Kak Ricky sudah menderita selama beberapa tahun"
"Apa boleh buat, siapa suruh dia tidak tahu diri, merebut gelar juara dansa dari Luna sampai membuat Luna menangis semalaman. Luna adalah wanita idaman Kak Ricky, satu-satunya yang dia simpan di hati. Dia bahkan berani membuatnya menangis, mana mungkin Kak Ricky akan melepaskannya? Makanya memutuskan pacaran dengan Amanda, untuk membalasnya 99 kali. Sayang sekali, setelah semuanya selesai, Kak Ricky akan meninggalkannya dan kita akan kehilangan permainan seru."
…
Telinga Amanda berdengung, seolah ada petir yang meledak di atas kepalanya.
Hatinya seperti disayat dan dia menekan dadanya dengan kuat sambil membungkuk dan bernapas terengah-engah, nyaris tidak bisa bernapas karena sakitnya.
Dia benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia lebih tidak percaya lagi kalau Ricky pacaran dengannya hanya untuk balas dendam!
Padahal Ricky tahu betul seberapa besar perasaan dirinya padanya ….
Ricky, pria idaman Kota Junowa, cerdas, latar belakang yang bagus, dan tampan. Waktu itu bahkan ada yang bilang, semua gadis yang pernah bertemu dengannya akan menyukainya.
Dirinya cuma satu dari sekian banyak gadis yang jatuh hati padanya.
Dia membuang semua harga dirinya dan mengejar Ricky selama tiga tahun, tapi Ricky tetap dingin. Sampai suatu hari, dia akhirnya menerima cintanya.
Amanda sempat mengira keinginannya sudah terwujud, tapi ternyata, semua itu cuma bagian dari rencana balas dendam yang kejam.
Ternyata alasan Ricky menolaknya dulu, karena sudah ada orang lain di hatinya.
Lalu alasan dia menerimanya, cuma karena Amanda merebut gelar juara dari Luna Monopo sehingga membuatnya menangis.
Demi balas dendam, Ricky baru bersedia bersamanya. Lalu memakai 99 kebohongan untuk mendorongnya ke dalam jurang.
Air mata Amanda tidak bisa dibendung lagi. Tenggorokannya seperti tersumbat, bahkan bernapas pun jadi susah.
Dia melihat orang-orang yang tertawa kencang di kamar pasien, melihat wajah Ricky yang dingin dan tiba-tiba merasa dirinya seperti lelucon.
Dia memberikan hatinya dengan tulus, tapi dia menghancurkannya tanpa ampun, membuangnya ke tong sampah.
Pada saat ini, orang-orang di kamar pasien seperti menyadari sesuatu dan menoleh ke arah pintu.
Amanda buru-buru berbalik dan segera pergi.
Langkahnya makin lama makin cepat dan akhirnya hampir berlari.
Dia tidak tahu harus ke mana, hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Menjauh dari Ricky, melarikan diri dari mimpi buruk yang menyakitkan ini.
Sampai akhirnya dia tidak sanggup berlari lagi, barulah dia berjongkok dan air matanya jatuh seperti bendungan jebol.
Dia menutup wajahnya, suara tangis tertahan keluar dari tenggorokannya, seolah ingin mengeluarkan semua rasa sakit dan kesedihannya.
Betapa bodohnya dirimu, Amanda, benar-benar bodoh.
Entah setelah berapa lama, ponsel di pelukannya tiba-tiba berdering.
Dengan tangan gemetar, dia menjawab panggilan itu. Suara lembut ibunya terdengar dari seberang sana.
"Amanda, aku dan ayahmu sebentar lagi akan pindah ke luar negeri. Kamu yakin tidak mau ikut?"
Beberapa waktu lalu, orang tuanya memang mendapat penempatan kerja di luar negeri. Awalnya mereka ingin pindah sekeluarga, tapi Amanda enggan meninggalkan Ricky. Jadi, terus ditunda. Dia bahkan sempat berpikir akan tetap tinggal di ibu kota demi Ricky.
Namun sekarang, dia merasa sangat ironis.
"Tidak."
Dia menghapus semua air mata di pipinya dan menarik napas dalam-dalam. Suaranya serak, tapi tegas, "Ayah, Ibu, aku akan pergi bersama kalian."
Bab 2
Terdengar suara ibu Amanda yang girang di telinga, "Bagus sekali, Amanda. Kalau begitu, kita akan pergi mengurus dokumennya. Setelah itu, tidak boleh menyesal lagi."
Dia menggenggam ponselnya erat, ujung jarinya sedikit gemetar, tapi dia tetap menjawab dengan mantap, "Aku tidak akan menyesal."
Ibu Amanda hendak menutup telepon, tapi seolah teringat sesuatu, lalu bertanya dengan hati-hati, "Oh iya, bagaimana dengan pacarmu itu? Bukankah kamu mengejarnya lama sekali dan sangat menyukainya?"
Kata pacar seperti duri tajam yang menusuk hatinya.
Di benak Amanda, seketika terlintas suara tawa yang menyakitkan di ruang rumah sakit, Ricky yang bersandar santai di ranjang sambil bermain ponsel, tawa mengejek dari orang-orang di sekitarnya dan teringat betapa kejamnya dia yang demi Luna, rela menghabiskan waktu tiga tahun hanya untuk membalas dendam.
Jantungnya terasa mengerut, seolah ada tangan tak terlihat yang menggenggamnya dengan kuat, membuatnya tidak bisa bernapas karena sakit.
"Sudah tidak suka lagi. Aku tidak akan suka dia lagi untuk selamanya." Dia mendengar suaranya sendiri, serak namun tenang.
Setelah menutup telepon, Amanda berdiri di pinggir jalan, membiarkan angin dingin mengacak rambutnya. Dia mendongak menatap langit yang kelabu, menghela napas dalam-dalam, lalu berbalik dan melangkah ke arah yang dia sebut rumah.
Begitu membuka pintu, aroma yang familier langsung menyambutnya.
Amanda berdiri di ambang pintu, memandangi tatanan ruang tamu yang begitu dikenalnya dan hatinya terasa linglung.
Ini rumah Ricky, rumah yang kuncinya dia berikan setelah menerima pernyataan cinta Amanda.
Hari itu, Ricky bersandar di pintu dan berkata dengan santai, "Ayo tinggal bersama."
Waktu itu, dia malu-malu tapi sangat bahagia dan berpikir itu awal kisah cinta mereka.
Dia bahkan diam-diam membayangkan, suatu hari nanti mereka akan menikah, punya anak, dan menjalani hidup bersama di rumah ini.
Namun sekarang, semua itu hanya terasa seperti sebuah lelucon.
Tinggal bersama? Itu semua agar dia bisa lebih mudah membalas dendam.
Amanda tidak tahu seberapa dalam cinta Ricky pada Luna, sampai dia rela menghabiskan tiga tahun bersamanya dan tinggal serumah, bahkan … tidur dengannya berkali-kali.
Semua itu hanya agar Amanda percaya kalau dia benar-benar mencintainya.
Selama tiga hari berikutnya, Amanda tidak sekalipun mengunjungi Ricky di rumah sakit.
Dia mengurung diri di rumah, mulai merapikan semua barang yang berkaitan dengan Ricky.
Dia mengambil buku hariannya yang ditulis saat dia diam-diam menyukai Ricky, sebuah buku tebal, setiap halamannya penuh dengan isi hatinya.
"Hari ini aku bertemu dia lagi di perpustakaan. Dia memakai kemeja putih, sangat tampan."
"Hari ini dia bicara denganku, walaupun hanya minta tolong ambil barang dengan sopan, tapi aku tetap senang seharian."
"Dia setuju bersama denganku. Apakah aku sedang mimpi?"
Amanda membalik halaman demi halaman, air mata jatuh tanpa suara.
Dia melempar buku harian itu ke dalam kantong sampah, seolah perlahan-lahan melepaskan perasaannya pada Ricky.
Lalu, semua hadiah yang pernah dia berikan pada Ricky.
Sebuah kalung, sebuah jam tangan, sebuah jaket … semuanya penuh dengan kebahagiaan dan harapan yang pernah dia miliki.
Terakhir, foto-foto Ricky yang dia ambil diam-diam.
Di atas panggung saat berpidato, sedang main basket, bersandar di lorong sambil mengobrol, setiap foto pernah membuat hatinya berdebar.
Dia melempar semua itu ke tempat sampah, seolah sedang mengucapkan selamat tinggal pada dirinya yang dulu.
Sore hari ketiga, Amanda akhirnya selesai membereskan barang terakhir.
Dia berdiri di tengah ruang tamu, memandangi rumah yang kini kosong dan merasa lega seperti baru terbebas.
Saat itulah, Ricky mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Pandangan matanya menyapu ruangan yang tampak lebih kosong dan keningnya berkerut, "Kamu buang apa?"
Amanda mengangkat kepala dan menatapnya dengan tenang, "Tidak, hanya barang-barang yang tidak penting."
Ricky melangkah mendekat, nada suaranya terdengar sedikit tidak senang, "Aku terluka parah, kenapa kamu tidak datang menjengukku sama sekali?"
Amanda tersenyum tipis, nadanya dingin, "Bukannya kamu sudah keluar rumah sakit? Kalau luka parah, bisa secepat itu pulang?"
Ricky terdiam sejenak, lalu buru-buru menjelaskan, "Aku dengar kamu mendonorkan banyak darah untukku, aku khawatir, jadi pulang melihatmu."
Setelah selesai bicara, matanya tertuju pada lengan Amanda, nadanya terdengar lembut, "Sakit tidak?"
Amanda menarik tangan dan menjawab dengan datar, "Tidak."
Ricky menyadari sikap dinginnya, wajahnya makin tegang, "Sebenarnya ada apa? Aku baru dirawat sebentar, tapi kamu sudah berubah?"
Amanda tersenyum datar, "Apa yang berubah?"
Ricky tidak menjawab, tapi mereka berdua tahu betul.
Dulu, Amanda menatapnya dengan penuh cinta. Meski Ricky hanya flu ringan, dia akan sangat panik dan sangat ingin terus berada di sampingnya.
Namun sekarang, Ricky dirawat tiga hari, dia bahkan tidak meneleponnya sekalipun.
Ricky menatap wajahnya sejenak, seperti mencoba membaca pikirannya.
Lalu tiba-tiba dia bicara, suaranya pelan dan lembut, "Apakah kamu kelelahan belakangan ini? Mereka mengadakan pesta penyambutan untukku. Pergi bersamaku, ya?"
Bab 3
Amanda belum sempat menolak, Ricky sudah menarik tangannya dan membawanya masuk ke mobil.
Mobil berhenti di depan sebuah klub mewah. Setelah turun, Ricky berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Amanda.
Amanda menatapnya sejenak, tidak berkata apa-apa, hanya diam dan turun dari mobil.
Begitu masuk ke dalam klub, mata Amanda langsung tertuju pada satu sosok yang sangat dikenalnya.
Luna.
Dia mengenakan gaun putih, rambut panjang terurai, tersenyum lembut, berdiri di tengah kerumunan, tertawa dan mengobrol santai dengan beberapa temannya.
Luna adalah teman masa kecil Ricky. Meski mereka tumbuh besar bersama, selama bertahun-tahun menjalin hubungan, Amanda tidak pernah merasa mereka memiliki kedekatan apa pun.
Jadi dia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau ternyata Ricky menyukai Luna.
Ketika Luna melihat mereka datang sambil bergandengan tangan, sorot matanya yang mengandung senyum ambigu seolah mengatakan, dia tahu tentang 99 kali balas dendam itu.
Amanda tiba-tiba merasa sulit bernapas.
Ricky tampaknya juga menyadari keberadaan Luna. Jari-jarinya menegang sesaat, lalu perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Amanda.
Dia memiringkan tubuhnya dan berbisik pada Amanda, "Aku keluar sebentar untuk telepon. Kamu nikmati saja acaranya dulu, nanti aku kembali."
Amanda hanya berdiri di tempat, memandangi punggung Ricky yang menjauh dan dingin menjalar di dadanya.
Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Luna sudah melangkah anggun, mengikuti jejak Ricky dari belakang.
Dua bayangan itu, satu di depan dan satu di belakang, menghilang di tikungan lorong klub.
Amanda tidak sempat memikirkan apa yang mereka lakukan di luar, karena tidak lama kemudian, dia dikerumuni oleh beberapa teman Ricky.
"Kakak Ipar, mari minum!" seru mereka sambil menyodorkan segelas minuman padanya dengan senyum lebar.
Amanda menggeleng, "Aku tidak bisa minum."
"Jangan bikin suasana jadi canggung, cuma satu gelas, tidak apa-apa!" Tanpa memberinya kesempatan menolak, mereka menyelipkan gelas itu ke tangannya, lalu mendorongnya ke depan.
Amanda mencoba melepaskan diri dan menjauh, tapi salah satu dari mereka tiba-tiba mendorongnya cukup keras.
"Ah!"
Amanda berteriak, kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kolam renang di sebelahnya.
Air yang dingin menenggelamkan tubuhnya.
Dia tidak bisa berenang. Tangan dan kakinya bergerak panik, namun semakin tenggelam.
Air masuk ke hidung dan mulutnya, membuatnya tersedak dan hampir tidak bisa bernapas.
Kesadarannya mulai memudar, pandangannya menggelap dan akhirnya pingsan.
…
Saat Amanda membuka mata lagi, dia mendapati dirinya terbaring di kamar yang familier. Kepalanya terasa berat, tubuhnya panas seperti terbakar.
Dengan susah payah, dia membuka mata dan melihat Ricky duduk di tepi ranjang, membawa segelas air dan beberapa butir obat.
"Kamu demam, minum obat dulu." Suara Ricky terdengar dalam dan penuh perhatian.
Amanda yang masih setengah sadar, mengambil obat itu dan menelannya.
Sebelum sempat berpikir banyak, dia merasa tenggorokannya kering dan tubuhnya seperti kehilangan seluruh energi.
Dia memejamkan mata, berniat tidur lagi, tapi suhu tubuhnya justru makin tinggi, seperti ada yang menyala dari dalam.
Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya dia terbangun lagi dan menyadari Ricky sudah tidak ada di kamar.
Dengan sekuat tenaga, Amanda duduk dan meraba dahinya, tubuhnya sangat panasnya.
Dia tahu, dia tidak bisa menunda lagi dan harus ke rumah sakit.Dengan tubuh lemas dan berat, Amanda memaksakan diri pergi ke rumah sakit.
Setelah diberi infus, demamnya baru sedikit mereda.
Setelah memeriksa kondisinya, dokter pun berkata dengan ekspresi serius, "Untung kamu datang lebih cepat. Kalau terlambat sedikit lagi, bisa jadi kamu terkena pneumonia."
Amanda bersandar lemah di ranjang, suaranya serak, "Dokter, aku sudah minum obat. Kenapa malah semakin parah?"
Dokter tampak terkejut, lalu bertanya, "Obat apa yang kamu minum?"
Amanda mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan menyerahkannya pada dokter, "Obat anti radang dari pacarku."
Dokter membuka botol itu dan wajahnya langsung berubah serius, "Ini bukan obat anti radang. Botolnya memang botol obat anti radang, tapi isinya cuma permen, tidak punya efek apa-apa. Justru bisa membahayakan karena bikin kamu terlambat ditangani."
Jantung Amanda bergetar, ujung jari-jarinya mulai gemetar.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat.
Dengan sisa tenaga, dia mengangkat dan melihat layar.
Serangkaian pesan masuk dari teman-teman Ricky.
[Hahaha, balas dendam ke-97 berhasil!]
[Ide dari siapa itu, benar-benar jenius banget. Pertama, kita tidak sengaja mendorongnya ke kolam, terus Kak Ricky mengganti obatnya. Sekarang dia pasti sangat menderita.]
Lalu satu pesan panik menyusul.
[Sial! Kamu salah kirim grup! Amanda juga ada di grup ini!]