Bab 5
"Nona Verin, tenang saja. Aku memang bukan pria baik-baik, tapi aku juga nggak sekejam itu."
Aku menggeleng dan mengikuti Jeffry masuk ke dalam.
Rumahnya sangat besar, juga sangat bersih, sampai terasa agak dingin dan tidak berjiwa.
Kami berdua seperti tidak punya bahan pembicaraan.
Dia pergi ke dapur, sementara aku duduk dengan canggung di sofa. Tiba-tiba aku melihat sebuah album di rak dekat lemari. Album itu terlihat sangat familier.
Album kenangan kelulusan SMA Amandria.
Aku dan Handi sama-sama lulusan dari SMA Amandria, dan ini adalah tahun kelulusan kami.
Jadi, mungkinkah di sini ada fotoku dan foto Handi juga?
Aku sudah berniat membuka album itu diam-diam ketika Jeffry muncul dari belakang.
Dia meletakkan dua botol air mineral di lemari, lalu menekan album itu dengan satu tangan, menghentikan tindakanku.
"Nggak ada yang perlu dilihat."
Ya, benar juga, kenapa aku harus menyentuh barang milik orang lain?
Aku merasa kesal pada diriku sendiri, jadi aku mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya, terima kasih sudah membantu aku dan kakakku. Uang itu nanti akan kucicil untuk melunasinya."
Jeffry tidak mengangguk. Namun tiba-tiba, dengan tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku, dia menundukkan kepalanya sedikit dan berkata.
"Sebenarnya, kamu nggak perlu melunasi uangnya. Sebagai gantinya, bantu aku dengan permintaan yang pernah kubicarakan sebelumnya."
Menikah?
Aku kembali terdiam di tempat.
Jeffry tampaknya menyadari kebingunganku dan melanjutkan penjelasannya.
"Mungkin Nona Verin belum tahu. Perusahaan keluargaku cukup besar. Apa yang diketahui publik sekarang hanyalah sebagian kecilnya. Sebagian besar masih dikendalikan oleh kakekku."
"Menurut Kakek, aku harus menikah dulu baru dia akan berikan sebagian besar kendali perusahaan kepadaku."
Sambil menunjuk diriku sendiri, aku berkata, "Tapi, Pak Jeffry, pasti banyak wanita yang suka padamu, 'kan?"
Dia menatapku. "Bukankah itu malah lebih merepotkan? Setelah permainan ini selesai, kalau mereka masih terus mengejarku, justru jadi masalah."
Aku terdiam.
Tidak heran dia mendekatiku.
Jeffry tahu soal hubunganku dengan Handi.
Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, dan dia juga tidak akan mencintaiku.
Hubungan kami murni saling memanfaatkan.
Mengingat kakakku yang terbaring di rumah sakit, aku pun segera menjawab, "Baiklah."
Jeffry tersenyum.
Dia mengulurkan tangan ke arahku. "Semoga kerja sama kita menyenangkan, Nona Verin."
Aku menginap semalam di rumah Jeffry.
Tidur di kamar tamu.
Keesokan paginya, berita tentang Handi dan Chintia yang akan menikah langsung menjadi topik hangat di media sosial.
Saat membuka Instagram, semua yang diunggah di bagian atas adalah video mereka sedang bergandengan tangan menghadiri konferensi pers.
Namun, beberapa netizen bermata tajam tetap saja mencari-cari masalah di kolom komentar bawah video.
"Eh, kalian sadar nggak, di dua konferensi pers terakhir ini, di pergelangan tangan kanan Pak Handi nggak ada lagi gelang manik-manik cendana itu."
"Bukankah gelang Pak Handi itu sangat berharga? Katanya dia nggak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya dan selalu dia pakai. Kok tiba-tiba nggak dipakai, ya? Hmm, pasti ada cerita di balik ini!"
"Aku baru saja mencari-cari animasi lama Pak Handi. Kayaknya gelang itu dia dapat dari Candi Dharma, 'kan? Katanya ada seseorang yang sangat spesial yang meminta gelang itu khusus untuk dia. Kalau sekarang dia mau menikah dengan orang lain, wajarlah kalau gelang itu dilepas."
"Bener sekali komen yang di atas! Gara-gara kamu ngomong itu, aku jadi ingat. Beberapa tahun lalu aku pernah lihat sekretaris Pak Handi, Verin Lianto, ada di Candi Dharma. Aku bahkan sempat ambil beberapa foto. Sebentar, aku cari dulu ...."
"Ya ampun, waktu itu hujan turun deras sekali, tapi dia tetap berlutut dengan sangat khusyuk."
"Ya, aku juga melihat langsung. Tiga ribu anak tangga, dia naiki satu demi satu sambil bersujud."
"Penasaran, seberapa dekatnya orang itu sampai Nona Verin rela memohon seperti itu?"
Bab 6
Diskusi di Instagram mulai beralih topik, fokusnya bergeser ke diriku.
Netizen yang pernah bertemu denganku mengunggah beberapa foto dan sebuah video.
Di tengah hujan lebat, aku terlihat berlutut di tangga batu dengan kedua tangan tergenggam, menghadap ke arah candi.
Aku merasa, setelah Handi sebelumnya mengeluarkan pernyataan klarifikasi, seharusnya tidak ada yang mengira aku melakukannya demi dia.
Bahkan jika ada yang curiga, mereka tidak akan punya bukti.
Aku tidak ingin melihat lebih jauh lagi, lalu mematikan ponsel dan bersiap-siap untuk pergi ke Perusahaan Wenas untuk mengurus pengunduran diri.
Ketika aku sampai di sana, Handi sedang tidak ada di kantor.
Baguslah, jadi tidak perlu terlibat lebih jauh dengannya.
Saat aku sedang membawa barang-barang keluar dari kantor Wenas, sahabatku menelepon.
"Verin, cepat lihat...!"
"Berita tentang kejadianmu waktu itu langsung tersebar di internet!"
Aku meletakkan barang-barang dan mengeluarkan ponselku.
Aku menemukan topik trend pertama.
#Verin-Handi, Gelang Manik-manik Cendana#
Aku pikir jika aku tidak peduli dengan omongan itu, otomatis perhatian publik akan berkurang.
Rupanya, ada penggemar yang menggunakan kaca pembesar untuk memeriksa foto-foto dan video itu.
Mereka menemukan bahwa gelang manik-manik cendana yang aku dapatkan di Candi Dharma saat hujan lebat itu adalah gelang yang sama dengan yang biasa dipakai Handi di pergelangan tangannya.
Suasana media sosial langsung heboh.
Topik ini segera meroket menjadi sorotan.
Dengan cepat, warganet dan akun-akun marketing mengungkap lebih banyak bukti.
Waktu Handi diculik dua tahun yang lalu, ternyata bersamaan dengan tanggal aku pergi ke Candi Dharma untuk berdoa.
Dan masih ada banyak foto kami yang tampaknya diambil dalam satu acara bersama.
Bahkan, bisa ditelusuri sampai foto-foto lebih dari sepuluh tahun lalu.
Hampir semua komentar di bawah mendukungku.
Banyak yang mengecam Handi, menyalahkannya karena meninggalkan aku begitu saja.
Ketika Jeffry menjemputku pulang ke vila miliknya, dia menyalakan televisi, dan segera muncul siaran langsung di mana Handi dan Chintia dikelilingi wartawan.
Jeffry tidak mematikan TV, malah berdiri di sampingku, dan kami menontonnya bersama.
Di layar TV, terdengar komentar dari seorang jurnalis.
"Sekarang kami berada di depan kantor Perusahaan Wenas .... Pak Handi baru saja kembali bersama Nona Chintia dari luar, sepertinya dia belum melihat pembicaraan di internet. Pas sekali, kami akan wawancarai dia ...."
Dengan suara keras, wartawan langsung menyerbu dan mengerumuni mereka.
Mereka berusaha maju ke depan, menyerahkan mikrofon ke Handi dan mulai bertanya.
"Pak Handi, apakah benar gelang manik-manik cendana yang kamu pakai selama ini, yang baru-baru ini kamu lepas, adalah hadiah dari sekretarismu, Verin?"
Handi terkejut dan terdiam.
Chintia yang ada di sampingnya juga tampak tidak senang.
Handi mengernyitkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian, Chintia langsung mengambil alih pembicaraan.
"Oh, itu urusan pribadi Pak Handi, menurutku kalian nggak perlu terlalu mengurusi hal itu."
Dalam siaran langsung, terlihat petugas keamanan dari Perusahaan Wenas berusaha menghentikan wawancara.
Namun, para wartawan tidak mudah dibungkam begitu saja dengan satu atau dua kalimat dari Chintia.
Seorang wartawan perempuan yang mengenakan topi bisbol berdiri di belakang.
Dia mengangkat suaranya dan berteriak.
"Gelang manik-manik cendana itu kamu dapatkan saat hilang di Asia Tenggara, dan Verin berdoa untuk keselamatanmu. Dia menaiki tiga ribu anak tangga di Candi Dharma untuk mendapatkannya. Sekarang kamu malah dengan mudah melepaskannya untuk menikahi Chintia. Apa nggak ada yang ingin kamu katakan?"
"Apa?"
Handi tiba-tiba berbalik.
Suaranya rendah dan wajahnya gelap penuh kemarahan.