Bab 1

Selama tujuh tahun aku menjalin hubungan tanpa status dengan Handi Wenas, dan dia juga tidak pernah berpikir untuk menikahiku. Kini, dia memutuskan untuk menikahi putri keluarga konglomerat Barata. Hanya ada satu syarat dari mereka, yaitu agar Handi melepaskan untaian gelang manik-manik cendana yang selalu dipakainya. Handi hanya terdiam tanpa ekspresi dan berkata dengan tenang, "Itu cuma benda biasa, aku juga sudah bosan memakainya." Lalu dengan santai dia melemparkannya dari balkon ke loteng di sebelah. Kebetulan, loteng itu terbakar, dan tidak ada yang menyangka aku akan nekat masuk untuk mengambil gelang manik-manik cendana itu. Kemudian, seorang netizen mengungkapkan bahwa gelang manik-manik cendana itu aku dapatkan dengan berlutut di Candi Dharma pada saat hujan deras.

Saat membawakan kopi ke balkon, aku mendengar Handi dan Chintia yang sedang mengobrol.

"Cuma sebuah gelang manik-manik cendana saja, kenapa kamu benci banget?"

Handi menyulut sebatang rokok sambil memicingkan matanya, melihat Chintia.

"Aku memang nggak suka barang-barang seperti itu. Aku nggak mau kalau nanti setelah menikah, aku lihat benda itu setiap hari."

Chintia memegang segelas anggur merah, mendekat sambil tersenyum tipis.

"Atau mungkin, calon suamiku tersayang, sebenarnya nggak rela?"

Aku terdiam, tanpa sadar aku menahan napas, menunggu reaksi Handi.

Bagaimana reaksinya, ya?

Sepertinya dia terpaku.

Alisnya berkerut, tangan kirinya tanpa sadar menyentuh pergelangan tangan kanannya.

Sejenak, aku kira dia akan menolaknya.

Ternyata dia hanya mengerutkan dahinya, lalu berkata dengan nada datar.

"Ini cuma barang biasa, aku juga sudah bosan."

Setelah itu, tanpa ragu dia melemparkan gelang itu ke arah loteng di samping balkon.

Aku menggigit bibir bawahku dengan keras, rasa perih mulai terasa dan bibirku berdarah.

Namun, yang aku rasakan hanya sakit hati yang begitu tajam, dan kepedihan yang mendalam menyiksa pikiranku.

Gelang manik-manik cendana itu adalah hadiah yang aku beri untuk Handi.

Tahun lalu, proyek properti yang diinvestasikan oleh perusahaan Handi bermasalah, dan para investornya kabur ke Asia Tenggara.

Demi perusahaan, Handi membawa orang untuk mengejar mereka ke Asia Tenggara, tetapi di sana dia malah dikhianati.

Selama tiga hari penuh, kami sama sekali tidak bisa menghubunginya.

Polisi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku panik, mencari cara di internet, sampai akhirnya aku menemukan informasi yang mengatakan bahwa berdoa di Candi Dharma itu sangat ampuh.

Aku buru-buru ke Tibera semalam, berjalan menaiki tiga ribu anak tangga batu menuju Candi Dharma, dan setiap langkahku diiringi dengan sembah sujud.

Waktu itu sedang musim hujan. Hujan turun deras, aku berdoa sepanjang malam di luar, dan keesokan harinya akhirnya aku mendapat kabar bahwa dia kembali dengan selamat.

Sebelum pergi, aku meminta seutas gelang manik-manik kayu cendana dari seorang penunggu di candi itu.

Katanya, gelang itu bisa melindungi seseorang agar tetap aman, sehat, dan segala urusannya lancar.

Setelah kembali, aku sendiri yang memakaikan gelang manik-manik itu di pergelangan tangan kanan Handi.

Sejak saat itu, dia tidak pernah melepasnya.

Saat itu, orang-orang di sekitar tidak tahu apa isi pikiranku.

Selama bertahun-tahun, Handi tidak pernah mengakui keberadaanku di depan umum. Orang-orang juga hanya tahu bahwa aku sekretaris utama yang mengurus segala hal kecil untuknya.

Melihat Handi melemparkan gelang manik-manik cendana itu tanpa ragu, Chintia tersenyum lebar.

Seketika, aku hampir tidak bisa bernapas.

Ternyata, doa yang dengan tulus aku panjatkan bisa begitu saja dibuang tanpa rasa beban?

Tiba-tiba, entah dari mana, tercium bau menyengat.

Secara spontan Handi berteriak memanggil seseorang.

Tak lama kemudian terdengar suara dari pengurus rumah tangga.

"Ada korsleting listrik di loteng, dan terjadi kebakaran kecil. Aku sudah menghubungi pemadam kebakaran. Keadaannya nggak parah, nggak apa-apa."

Kami yang ada di balkon langsung menengok ke arah loteng.

Ternyata benar, mulai terlihat ada asap.

Chintia menutup hidungnya sambil mengeluh.

"Kapan semuanya bisa beres? Bau banget!"

Tidak sempat bicara dengan mereka, aku buru-buru menuju loteng.

Chintia memandangi aku dengan tatapan bingung, kemudian bertanya kepada Handi.

Bab 2

"Handi, dia nggak akan pergi untuk padamkan api, 'kan?"

"Dia 'kan nggak bodoh."

Begitu Handi selesai berbicara ….

Aku langsung berlari ke arah loteng.

"Ah! Dia gila, ya?"

"Handi, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyenangkanmu, ya?"

Karena suara Chintia, aku jadi tidak memperhatikan Handi.

Ekspresinya terlihat panik, tangannya terulur, seolah-olah ingin memegang pergelangan tanganku, tetapi dia terlambat.

Aku menendang pintu loteng dengan keras.

Tidak ada banyak barang di dalam loteng, jadi aku bisa langsung melihat untaian gelang manik-manik cendana yang tadi dilemparkan melalui jendela.

Untungnya api tidak besar, jadi tidak sampai membakar tempat ini.

Aku berjalan mendekat, mengambil gelang manik-manik itu.

Aku menggosoknya pelan-pelan ke bajuku.

Dari luar terdengar suara Chintia.

"Handi, kalau aku nggak salah, dia itu wanita yang selama ini kamu simpan, 'kan?"

"Gelang manik-manik cendana itu, dia yang kasih untuk kamu, benar 'kan?"

"Kehadiranku bikin dia merasa terancam, makanya dia berani ambil risiko untuk dapatkan simpatimu!"

"Wanita ini benar-benar cerdas …."

Aku tersenyum tipis.

Selama gelang itu tidak terbakar, aku tidak peduli apa kata orang.

Ini adalah hasil jerih payahku, aku nggak akan biarkan gelang itu hancur terbakar begitu saja.

Namun, saat aku berbalik untuk pergi….

Lampu gantung di langit-langit bergoyang, lalu jatuh dan menimpa lenganku dengan keras.

Lampu itu menimbulkan luka sayatan panjang di kulitku.

Aku menahan sakit, menggigit bibirku dan perlahan-lahan mundur.

Saat aku keluar, ekspresi Handi terkejut.

Lalu dia berteriak marah padaku.

"Cuma demi manik-manik cendana ini, kamu sampai nggak peduli nyawamu, ya?"

Aku tidak menjawab, justru Chintia yang lebih dulu berbicara.

"Handi, apa dia sedang berusaha menahanmu?"

"Melihat hubungan kalian yang ribet ini, kayaknya kamu harus pikirkan lagi baik-baik soal pernikahan denganku."

Chintia mengatakannya dengan santai, sambil menatap Handi dengan sinis.

Handi menutup mata, lalu membukanya lagi sambil menghela napas berat.

Seperti sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Dia cuma mainan buatku, dan salah satu yang paling nggak berharga di antara banyak mainan."

"Sudah lama aku mau membuangnya, mana mungkin kamu bisa dibandingkan dengan dia."

Setelah itu, dia memeluk Chintia yang berdiri di sebelahnya dan turun ke bawah.

Sambil melewatiku, dia berkata dingin.

"Nggak perlu lagi susah-susah menyenangkan aku, bawa saja gelang sampah itu, dan menghilanglah dari duniaku."

Setelah mengatakan itu, dia menggandeng Chintia dan pergi.

Aku terdiam di tempat.

Suara sirene makin mendekat, empat hingga lima petugas pemadam kebakaran dengan peralatan lengkap bergegas naik ke balkon.

Aku tidak ingat bagaimana caranya aku kembali ke kamar.

Langit menjadi gelap, tetapi aku tidak menyalakan lampu, hanya duduk sendirian dalam kegelapan untuk waktu yang lama.

Aku sudah mengenal Handi sejak usia lima tahun.

Saat itu, dia dan ayahnya pergi ke panti asuhan untuk memilih anak asuh, sementara aku baru saja dibohongi bibiku dan dibawa ke panti asuhan.

Aku sering menangis di sudut sambil memeluk boneka beruang kecil berkaki pendek.

Setelah melihatku, Handi meminta ayahnya untuk memilihku sebagai anak asuh dan membiayai pendidikanku.

Dulu dia bilang mataku indah seperti bintang.

Mulai dari SD hingga SMA, aku selalu berada di dekat Handi. Saat kuliah, aku tetap memilih universitas yang sama dengannya, meskipun nilaiku jauh lebih tinggi dari batas kelulusan yang ditetapkan.

Bahkan setelah lulus kuliah, aku memenuhi permintaannya untuk tetap berada di sisinya selama tujuh tahun, hidup di bawah kuasanya.

Aku tidak tidur sepanjang malam, dan pagi-pagi sekali aku menerima telepon dari sahabatku.

Ternyata, Handi sudah meminta bagian humas untuk mengeluarkan pengumuman yang membantah gosip tentang kami.

Di bawah pengumuman itu ada video Handi yang diwawancarai oleh wartawan.

Bab 3

Dia bilang, bahwa antara aku dan dia tidak pernah ada hubungan di luar pekerjaan. Orang yang dia cintai adalah Chintia, dan selamanya dia hanya akan mencintai Chintia.

Setetes air mata jatuh dari mataku.

Aku tahu, sekarang waktunya aku harus mengambil keputusan.

Aku memikirkan banyak hal.

Terbayang kembali bagaimana Handi dulu sepertinya sangat memperhatikanku.

Saat aku dinas ke luar negeri, dia rela terbang setengah dunia untuk merayakan ulang tahunku.

Saat aku sakit demam, dia begadang semalaman tanpa tidur.

Namun sekarang, semua kebaikan itu sudah dia tarik kembali dan diberikan ke gadis lain.

Cinta atau tidak cinta, sebenarnya sangat jelas terlihat.

Kalau begitu, Handi, lebih baik kita berpisah baik-baik. Jangan saling menghubungi lagi di masa depan.

Aku pergi ke sebuah waduk dan melemparkan untaian gelang manik-manik cendana itu jauh ke dalam air.

Saat aku hendak pergi, tiba-tiba hujan turun dengan deras.

Sambil tersenyum tipis, aku menggunakan jaket untuk menutupi kepala, lalu berjalan menembus hujan.

Hujan deras dan angin kencang menerpa tubuhku dan membuatku merasa sangat kedinginan.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku.

Jendela mobil itu perlahan turun.

Tampaklah sebuah wajah dingin dengan ekspresi keras.

Itu adalah Jeffry Reswara, CEO grup properti terbesar di Kota Amandria.

Kabarnya, dia sempat kuliah di Amerikana dan baru-baru ini kembali ke negara ini.

Dia dikenal sebagai sosok yang tegas dan tanpa kompromi.

Sumber daya dan bisnisnya tidak kalah dari Grup Wenas.

Beberapa hari lalu, aku sempat melihatnya saat menemani Handi di sebuah acara.

"Naiklah, di tempat ini nggak ada taksi," katanya dengan nada santai.

Aku melihat aplikasi taksi di ponselku.

Memang tidak ada satu pun yang menerima pesananku.

Aku mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke mobilnya.

Jeffry melirikku dan melemparkan sebuah handuk kecil.

"Keringkan rambutmu," katanya singkat.

Dia berbicara santai sambil memegang setir dengan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang ponsel, seperti sedang mencari rute di navigasi.

"Mau diantar ke mana?"

Pertanyaan itu sebenarnya agak sulit untuk dijawab.

Selama ini aku tinggal di vila milik Handi.

Namun, semua barangku masih ada di sana. Kalau ingin benar-benar menyelesaikan semuanya, aku harus mengambil barang-barangku.

Aku berkata, "Barang-barangku belum kuambil. Tolong antar aku ke kompleks vila Pak Handi."

Tanpa berkata apa-apa, Jeffry mengemudikan mobil sampai tiba di depan vila Handi.

Saat aku bersiap turun, tiba-tiba dia memanggilku.

"Nona Verin, bagaimana kalau kita bekerja sama? Aku bisa membantumu lepas dari Handi, dan kamu juga bisa membantuku dengan satu hal."

Jeffry berbicara begitu santai, seolah-olah sedang membahas cuaca hari ini.

"Aku butuh pasangan untuk menikah agar bisa menghentikan omelan para orang tua di keluargaku."

Aku menatapnya dengan mata terbelalak.

Bahkan sesaat aku tidak bisa bereaksi.

"Pasangan untuk menikah?"

"Ya." Jeffry mengangguk mengonfirmasi.

Aku berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis. "Maaf, Pak Jeffry, sepertinya aku nggak cocok. Tanpa Handi, aku tetap bisa mengurus diri sendiri."

Setelah mengatakan itu, aku berniat untuk langsung membuka pintu dan turun.

Jeffry tidak melanjutkan pembicaraan, tetapi menyerahkan sebuah kartu nama.

"Kalau begitu, semoga sukses ya, Nona Verin."

"Kalaupun kerja sama kita tidak berhasil, kita masih bisa berteman. Ini kartu namaku. Kalau kamu butuh sesuatu, silakan hubungi aku kapan saja."

Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya menerima kartu namanya.

Setelah itu, aku turun dari mobil dan berjalan menuju vila Handi.

Di dalam vila itu, suasananya kosong dan sangat sunyi.

Sulit dipercaya bahwa tempat ini biasanya ramai dan penuh kegembiraan.

Ketika kepala pelayan melihatku, dia langsung berkata.

"Nona Verin, Anda kembali ...."

Aku mengangguk, tidak banyak bicara, dan langsung naik ke lantai dua menuju kamarku.

Namun, ketika pintu kamar dibuka, aku melihat Handi ada di sana.

Dia duduk di depan beberapa koper besar yang sudah kupersiapkan tadi pagi sebelum pergi, sambil memegang ponsel, seperti sedang menunggu pesan atau telepon dari seseorang.

Perjalanan Menuju Cinta Sejati

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya