Bab 2

"Handi, dia nggak akan pergi untuk padamkan api, 'kan?"

"Dia 'kan nggak bodoh."

Begitu Handi selesai berbicara ….

Aku langsung berlari ke arah loteng.

"Ah! Dia gila, ya?"

"Handi, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyenangkanmu, ya?"

Karena suara Chintia, aku jadi tidak memperhatikan Handi.

Ekspresinya terlihat panik, tangannya terulur, seolah-olah ingin memegang pergelangan tanganku, tetapi dia terlambat.

Aku menendang pintu loteng dengan keras.

Tidak ada banyak barang di dalam loteng, jadi aku bisa langsung melihat untaian gelang manik-manik cendana yang tadi dilemparkan melalui jendela.

Untungnya api tidak besar, jadi tidak sampai membakar tempat ini.

Aku berjalan mendekat, mengambil gelang manik-manik itu.

Aku menggosoknya pelan-pelan ke bajuku.

Dari luar terdengar suara Chintia.

"Handi, kalau aku nggak salah, dia itu wanita yang selama ini kamu simpan, 'kan?"

"Gelang manik-manik cendana itu, dia yang kasih untuk kamu, benar 'kan?"

"Kehadiranku bikin dia merasa terancam, makanya dia berani ambil risiko untuk dapatkan simpatimu!"

"Wanita ini benar-benar cerdas …."

Aku tersenyum tipis.

Selama gelang itu tidak terbakar, aku tidak peduli apa kata orang.

Ini adalah hasil jerih payahku, aku nggak akan biarkan gelang itu hancur terbakar begitu saja.

Namun, saat aku berbalik untuk pergi….

Lampu gantung di langit-langit bergoyang, lalu jatuh dan menimpa lenganku dengan keras.

Lampu itu menimbulkan luka sayatan panjang di kulitku.

Aku menahan sakit, menggigit bibirku dan perlahan-lahan mundur.

Saat aku keluar, ekspresi Handi terkejut.

Lalu dia berteriak marah padaku.

"Cuma demi manik-manik cendana ini, kamu sampai nggak peduli nyawamu, ya?"

Aku tidak menjawab, justru Chintia yang lebih dulu berbicara.

"Handi, apa dia sedang berusaha menahanmu?"

"Melihat hubungan kalian yang ribet ini, kayaknya kamu harus pikirkan lagi baik-baik soal pernikahan denganku."

Chintia mengatakannya dengan santai, sambil menatap Handi dengan sinis.

Handi menutup mata, lalu membukanya lagi sambil menghela napas berat.

Seperti sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Dia cuma mainan buatku, dan salah satu yang paling nggak berharga di antara banyak mainan."

"Sudah lama aku mau membuangnya, mana mungkin kamu bisa dibandingkan dengan dia."

Setelah itu, dia memeluk Chintia yang berdiri di sebelahnya dan turun ke bawah.

Sambil melewatiku, dia berkata dingin.

"Nggak perlu lagi susah-susah menyenangkan aku, bawa saja gelang sampah itu, dan menghilanglah dari duniaku."

Setelah mengatakan itu, dia menggandeng Chintia dan pergi.

Aku terdiam di tempat.

Suara sirene makin mendekat, empat hingga lima petugas pemadam kebakaran dengan peralatan lengkap bergegas naik ke balkon.

Aku tidak ingat bagaimana caranya aku kembali ke kamar.

Langit menjadi gelap, tetapi aku tidak menyalakan lampu, hanya duduk sendirian dalam kegelapan untuk waktu yang lama.

Aku sudah mengenal Handi sejak usia lima tahun.

Saat itu, dia dan ayahnya pergi ke panti asuhan untuk memilih anak asuh, sementara aku baru saja dibohongi bibiku dan dibawa ke panti asuhan.

Aku sering menangis di sudut sambil memeluk boneka beruang kecil berkaki pendek.

Setelah melihatku, Handi meminta ayahnya untuk memilihku sebagai anak asuh dan membiayai pendidikanku.

Dulu dia bilang mataku indah seperti bintang.

Mulai dari SD hingga SMA, aku selalu berada di dekat Handi. Saat kuliah, aku tetap memilih universitas yang sama dengannya, meskipun nilaiku jauh lebih tinggi dari batas kelulusan yang ditetapkan.

Bahkan setelah lulus kuliah, aku memenuhi permintaannya untuk tetap berada di sisinya selama tujuh tahun, hidup di bawah kuasanya.

Aku tidak tidur sepanjang malam, dan pagi-pagi sekali aku menerima telepon dari sahabatku.

Ternyata, Handi sudah meminta bagian humas untuk mengeluarkan pengumuman yang membantah gosip tentang kami.

Di bawah pengumuman itu ada video Handi yang diwawancarai oleh wartawan.

Bab 3

Dia bilang, bahwa antara aku dan dia tidak pernah ada hubungan di luar pekerjaan. Orang yang dia cintai adalah Chintia, dan selamanya dia hanya akan mencintai Chintia.

Setetes air mata jatuh dari mataku.

Aku tahu, sekarang waktunya aku harus mengambil keputusan.

Aku memikirkan banyak hal.

Terbayang kembali bagaimana Handi dulu sepertinya sangat memperhatikanku.

Saat aku dinas ke luar negeri, dia rela terbang setengah dunia untuk merayakan ulang tahunku.

Saat aku sakit demam, dia begadang semalaman tanpa tidur.

Namun sekarang, semua kebaikan itu sudah dia tarik kembali dan diberikan ke gadis lain.

Cinta atau tidak cinta, sebenarnya sangat jelas terlihat.

Kalau begitu, Handi, lebih baik kita berpisah baik-baik. Jangan saling menghubungi lagi di masa depan.

Aku pergi ke sebuah waduk dan melemparkan untaian gelang manik-manik cendana itu jauh ke dalam air.

Saat aku hendak pergi, tiba-tiba hujan turun dengan deras.

Sambil tersenyum tipis, aku menggunakan jaket untuk menutupi kepala, lalu berjalan menembus hujan.

Hujan deras dan angin kencang menerpa tubuhku dan membuatku merasa sangat kedinginan.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku.

Jendela mobil itu perlahan turun.

Tampaklah sebuah wajah dingin dengan ekspresi keras.

Itu adalah Jeffry Reswara, CEO grup properti terbesar di Kota Amandria.

Kabarnya, dia sempat kuliah di Amerikana dan baru-baru ini kembali ke negara ini.

Dia dikenal sebagai sosok yang tegas dan tanpa kompromi.

Sumber daya dan bisnisnya tidak kalah dari Grup Wenas.

Beberapa hari lalu, aku sempat melihatnya saat menemani Handi di sebuah acara.

"Naiklah, di tempat ini nggak ada taksi," katanya dengan nada santai.

Aku melihat aplikasi taksi di ponselku.

Memang tidak ada satu pun yang menerima pesananku.

Aku mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke mobilnya.

Jeffry melirikku dan melemparkan sebuah handuk kecil.

"Keringkan rambutmu," katanya singkat.

Dia berbicara santai sambil memegang setir dengan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang ponsel, seperti sedang mencari rute di navigasi.

"Mau diantar ke mana?"

Pertanyaan itu sebenarnya agak sulit untuk dijawab.

Selama ini aku tinggal di vila milik Handi.

Namun, semua barangku masih ada di sana. Kalau ingin benar-benar menyelesaikan semuanya, aku harus mengambil barang-barangku.

Aku berkata, "Barang-barangku belum kuambil. Tolong antar aku ke kompleks vila Pak Handi."

Tanpa berkata apa-apa, Jeffry mengemudikan mobil sampai tiba di depan vila Handi.

Saat aku bersiap turun, tiba-tiba dia memanggilku.

"Nona Verin, bagaimana kalau kita bekerja sama? Aku bisa membantumu lepas dari Handi, dan kamu juga bisa membantuku dengan satu hal."

Jeffry berbicara begitu santai, seolah-olah sedang membahas cuaca hari ini.

"Aku butuh pasangan untuk menikah agar bisa menghentikan omelan para orang tua di keluargaku."

Aku menatapnya dengan mata terbelalak.

Bahkan sesaat aku tidak bisa bereaksi.

"Pasangan untuk menikah?"

"Ya." Jeffry mengangguk mengonfirmasi.

Aku berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis. "Maaf, Pak Jeffry, sepertinya aku nggak cocok. Tanpa Handi, aku tetap bisa mengurus diri sendiri."

Setelah mengatakan itu, aku berniat untuk langsung membuka pintu dan turun.

Jeffry tidak melanjutkan pembicaraan, tetapi menyerahkan sebuah kartu nama.

"Kalau begitu, semoga sukses ya, Nona Verin."

"Kalaupun kerja sama kita tidak berhasil, kita masih bisa berteman. Ini kartu namaku. Kalau kamu butuh sesuatu, silakan hubungi aku kapan saja."

Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya menerima kartu namanya.

Setelah itu, aku turun dari mobil dan berjalan menuju vila Handi.

Di dalam vila itu, suasananya kosong dan sangat sunyi.

Sulit dipercaya bahwa tempat ini biasanya ramai dan penuh kegembiraan.

Ketika kepala pelayan melihatku, dia langsung berkata.

"Nona Verin, Anda kembali ...."

Aku mengangguk, tidak banyak bicara, dan langsung naik ke lantai dua menuju kamarku.

Namun, ketika pintu kamar dibuka, aku melihat Handi ada di sana.

Dia duduk di depan beberapa koper besar yang sudah kupersiapkan tadi pagi sebelum pergi, sambil memegang ponsel, seperti sedang menunggu pesan atau telepon dari seseorang.

Bab 4

Udara di dalam kamar terasa pengap, sepertinya dia sudah banyak merokok lagi.

Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat wajahnya, matanya menatap ke arahku.

"Verin, kamu mau pindah?"

Aku mengabaikannya dan langsung berjalan ke lemari. Aku membuka laci, mengambil dokumen dan dompetku, lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Sedang apa kamu?"

Nada suara Handi jelas terdengar panik, dan suaranya serak.

"Untuk apa kamu bawa semua itu?"

Aku menjawab dengan datar, "Kamu akan segera menikah dengan Cinthia. Pagi tadi kalian sudah mengumumkannya, bukan? Kalau aku terus tinggal di sini, tentu nggak baik untuk kita semua."

Ketika aku hendak mengangkat koper di lantai, Handi mencengkeram pergelangan tanganku.

"Kamu tahu 'kan, masalah aliran dana perusahaan? Hanya keluarga Barata yang bisa membantu."

"Kamu pasti juga tahu, semua ini hanya sandiwara."

"Jangan begini, Verina."

Matanya memerah, dia menatapku lekat-lekat.

"Kita kembali seperti dulu, ya?"

Seperti dulu? Menjadi burung dalam sangkar, tanpa nama dan tanpa status.

Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat koper yang ada di lantai.

Di depan pintu kamar, aku menggelengkan kepala ke arahnya.

"Handi, kita sudah selesai. Aku nggak berutang padamu, dan kamu juga nggak ada utang padaku."

"Mulai sekarang, kita nggak perlu lagi saling berhubungan."

Aku melangkah pergi, tetapi tiba-tiba di belakangku terdengar suara kaca pecah karena ditendang.

"Verin." Handi memanggilku dengan suara tertahan.

"Ingat ini, kalau kamu pergi hari ini, aku akan langsung menghentikan pengobatan kakakmu."

"Dengan kondisimu sekarang, kamu nggak akan sanggup menanggung biaya yang sebesar itu sendirian."

Langkahku terhenti, dan aku membeku di tempat.

Ya, tujuh tahun lalu, saat aku hampir lulus kuliah, kakakku menemukan aku.

Selama ini aku mengira dia bersama Ayah dan Ibu telah meninggal dalam kecelakaan di luar kota.

Namun ternyata, selama ini dia terus mencariku.

Setelah aku pindah bersama keluarga Handi ke Kota Amandria, aku benar-benar putus kontak dengan orang-orang yang kukenal sebelumnya.

Kakakku akhirnya berhasil menemukanku, tetapi saat itu dia sudah menderita penyakit ginjal yang parah.

Dengan bantuan Handi, dia menjalani transplantasi ginjal. Namun, terjadi komplikasi selama operasi yang membuatnya berada dalam kondisi koma dan seumur hidup bergantung pada obat.

Semua obatnya adalah obat impor dan sangat mahal. Saat itu, sebagai seorang mahasiswa yang baru lulus, aku tidak mampu membiayainya. Tidak ada pilihan lain, aku pun menerima syarat Handi.

Yaitu menjadi wanitanya, mendampingi dia.

Dan itu berlangsung selama tujuh tahun.

Aku pikir suatu hari dia akan menikahiku, tetapi akhirnya aku sadar, di matanya aku hanyalah mainan yang bisa dipakai dan dibuang sesuka hatinya.

Bahkan mainan yang paling tidak berharga.

Aku menggigit bibir, lalu melangkah pergi.

Kali ini, apa pun yang terjadi, aku harus mencoba untuk membuat perubahan.

Namun, kenyataannya sangat kejam. Baru saja aku menaruh koper di hotel, aku menerima telepon dari rumah sakit.

Ternyata Handi benar-benar menghentikan obat dan infus kakakku.

Tanpa infus, tanda-tanda vital kakakku langsung mengalami masalah.

Aku tidak ingin kembali dan memohon pada Handi. Dalam keputusasaan, aku teringat pada Jeffry.

Aku menelepon nomor di kartu nama yang dia berikan padaku.

Jeffry langsung memindahkan kakakku ke rumah sakit lain dan mencari dokter terbaik di seluruh Amandria untuk memeriksanya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Jeffry membawaku ke rumahnya di Kota Norda.

Ekspresi ragu di wajahku mungkin sudah cukup menunjukkan isi hatiku saat itu.

Jeffry membuka pintu dengan sidik jarinya, lalu memandangku. Suaranya dingin tanpa emosi sedikit pun.

Perjalanan Menuju Cinta Sejati

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya