Bab 7
“Baik, suamiku!”
“Jangan panggil suamiku, panggil sayang saja!”
“Nggak bisa!”
“Kenapa?”
“Sayang itu panggilan yang terlalu mesra! Kamu baru berubah jadi baik sama aku dua hari belakangan, aku masih belum siap panggil kamu begitu.”
“Oh ....”
Berhubung takut membuat suaminya marah, Wulan pun mengalihkan pembicaraan, “Omong-omong, pernah ada seorang peramal yang datang ke rumahku waktu aku masih kecil. Dia bilang, aku bisa jadi istri pejabat ke depannya.”
“Istri pejabat?”
“Suamiku, jangan marah. Ramalan peramal itu pasti nggak tepat, mana mungkin aku bisa jadi istri pejabat! Selama kamu menginginkanku, aku bakal menemanimu seumur hidup.”
...
Keesokan dini hari, Hasan dan yang lainnya sudah sampai ke rumah Wira. Setelah menaruh seluruh ember berisi ikan ke atas gerobak, kelima orang itu pun berangkat ke ibu kota provinsi.
Sebelum mereka berangkat, Wulan menyerahkan sebuah kantong kain merah kepada Wira, “Suamiku, kalau uang menjual ikan nggak cukup, gadaikan saja gelang ini! Kalau masih nggak cukup, aku bakal cari kakakku. Dia nggak mungkin nggak peduli padaku.”
“Jaga rumah baik-baik, ya! Tunggu aku pulang!” Wira memasukkan gelang itu ke dalam sakunya. Setelah merapikan rambut Wulan, dia pun berpamitan dengan Wulan dan berangkat ke ibu kota provinsi.
Wulan memegang wajahnya yang tersentuh jari Wira sambil tersipu.
Semalam, kedua orang itu masih belum berhubungan. Mereka hanya berpelukan sambil mengobrol. Akan tetapi, dia sangat menyukai sifat suaminya sekarang.
Sekarang, Wira sangat lembut, perhatian dan baik hati. Meskipun mereka tidak berhubungan selamanya, Wulan sudah merasa senang bisa mempunyai suami seperti ini.
Danu dan Sony berjalan di depan untuk membawa jalan, sedangkan Hasan berjalan di tengah sambil menarik gerobak. Wira dan Doddy berjalan di paling belakang.
Di zaman ini, dunia masih belum aman. Apalagi di malam hari, ada banyak perampok dan bandit yang sering berkeliaran.
Jalanannya juga tidak rata dan berlubang. Jika tidak hati-hati, gerobak mereka bisa masuk ke lubang yang dalam.
Hasan sudah sering melakukan perjalanan di malam hari. Jadi, perjalanan mereka kali ini juga lancar-lancar saja.
Langit berangsur-angsur cerah, kota yang berada di kejauhan pun muncul di hadapan mereka.
Saat berjalan, Doddy tiba-tiba berbisik, “Kak Wira, bantu aku ganti nama, dong!”
Mendengar permintaan Doddy, Wira pun kebingungan.
Doddy mengeluh, “Di dusun kita, orang yang namanya Doddy terlalu banyak. Aku mau kayak Ayah, suruh orang bantu ganti nama. Dulu, nama ayah Wasan, sekarang sudah jadi Hasan. Lebih enak didengar, ‘kan? Kak Wira, kamu itu orang yang berpendidikan dan tahu banyak hal. Bantu aku ganti nama, dong!”
Di Dusun Darmadi memang ada banyak orang yang bernama Doddy. Wira pun tersenyum dan menjawab, “Kamu paling pengin buat apa?”
Setelah mengintip punggung ayahnya, Doddy menjawab dengan suara kecil, “Kak Wira, aku mau bergabung dengan militer. Aku mau basmi Bangsa Agrel biar bisa mendapatkan kembali tanah kita yang direbut mereka.”
Setelah mendengar jawaban Doddy, Wira pun terdiam.
Bangsa Agrel dan Kerajaan Nuala sudah berperang ratusan tahun. Mereka sudah berhasil merebut sepertiga tanah Kerajaan Nuala. Wira tidak menyangka Doddy yang hidup miskin malah mempunyai pemikiran seperti itu. Setelah tertegun sesaat, Wira pun menjawab, “Kalau gitu, Zabran saja!”
Doddy langsung panik, “Zabran? Kedengarannya kayak zebra. Zebra itu mangsa, bukan pemangsa. Nggak mau ah, kurang bagus. Kak Wira, ganti yang lebih enak didengar, dong!”
Setelah melihat reaksi Doddy, Wira pun merasa lucu. “Zabran itu artinya kuat dan mampu. Bukannya kamu mau membasmi musuh? Kamu harus kuat dan mampu, dong!”
“Ah, begitu!”
Doddy langsung berseru gembira, “Zabran, Zabran Darmadi! Keren juga, ya! Makasih, Kak Wira. Mulai sekarang namaku Zabran, bukan Doddy lagi! Yang manggil Doddy nggak bakal kusahut!”
Wira mengerjainya, “Doddy?”
Doddy langsung menoleh dan menjawab, “Ada apa, Kak Wira?”
Wira langsung tertawa terbahak-bahak, “Hahaha!”
Doddy masih belum mengerti kenapa Wira bereaksi seperti itu. Setelah sesaat, dia baru berkata dengan malu, “Selain Kak Wira, aku nggak bakal nyahut siapa pun yang panggil aku Doddy!”
Hasan yang berjalan di depan berseru, “Doddy, datang kemari dulu!”
“Oke!”
Doddy berjalan maju dengan muka masam sambil membatin, ‘Selain Kak Wira dan Ayah, aku nggak bakal nyahut siapa pun yang panggil aku Doddy!’
Danu berkata, “Doddy, kamu bantu Ayah tarik gerobaknya dulu. Aku saja yang temani Kak Wira!”
Doddy terdiam, lalu berkata dengan kesal, “Ya sudah, tambah satu orang lagi deh!”
Danu yang terlihat serius berjalan ke belakang gerobak, lalu berkata dengan malu, “Kak Wira, aku juga mau ganti nama.”
Wira berkata sambil tersenyum, “Kamu pengin buat apa?”
Danu berbisik, “Aku nggak mau masuk militer, tapi aku suka bela diri. Ayah bilang berlatih bela diri itu menghabiskan banyak energi, tubuhku nggak bakal tahan kalau kelaparan. Sementara dulu, kami selalu kurang makan. Jadi, aku nggak bisa latihan dengan baik!”
Mata Wira langsung berbinar setelah mendengarnya. “Kamu pernah berlatih bela diri? Siapa yang ajarin? Kamu bisa sekaligus hadapi berapa orang?”
Danu menggaruk kepalanya dan berkata dengan malu, “Ayah pernah ajari beberapa teknik militer. Aku juga cuman pernah mukul Doddy!”
Kakak yang memukul adiknya mana mungkin pakai kekuatan penuh. Wira pun bercanda, “Kalau berlatih bela diri, kamu harus berlatih sampai jadi yang paling kuat. Gimana kalau namamu ‘Satriya’ saja?”
Danu langsung terkejut, “Ah! Kak Wira, aku nggak sanggup terima nama yang artinya sedalam itu!”
Wira menepuk bahu Danu sambil berkata, “Percaya saja sama diri sendiri. Tetapkan tujuanmu, lalu berusaha capai tujuan itu. Ini bisa menyemangati dirimu sendiri!”
“Satriya Darmadi, Satriya. Emm!”
Setelah bergumam beberapa kali, Danu pun mengangguk. Semangat juang mulai memenuhi tatapannya!
Setelah beberapa saat, Sony juga mendekati Wira sambil menyeringai. “Kak Wira, nama Sony biasa banget. Aku juga mau ganti nama!”
Wira mendengus, “Arti namamu itu pembawa berkah, mana biasa?”
Setelah mendengar ucapan Wira, Sony pun menjadi bersemangat. “Habis dengar ucapan Kak Wira, aku jadi merasa namaku sudah berbeda. Kayak jadi lebih berkelas! Kak Wira memang berwawasan luas! Makasih!”
Biasanya, pemilik tubuh sebelumnya selalu naik kereta sapi untuk pergi ke ibu kota provinsi. Dia tidak pernah berjalan sejauh 20 kilometer.
Belum sampai setengah jalan, Wira sudah tidak sanggup berjalan lagi. Dia mau tak mau harus duduk di atas gerobak.
Namun, Hasan, Danu dan Doddy masih berjalan dengan lincah. Bahkan Sony juga masih terlihat energik. Energi mereka benar-benar di luar jangkauan orang dari era teknologi!
Setelah beberapa saat, mereka berlima pun tiba di ibu kota provinsi. Tembok kota mengelilingi sebuah menara yang tingginya sekitar tiga meter. Di atas menara, berdiri para prajurit yang bersenjata.
Di luar dan dalam tembok kota, terdapat dua baris prajurit yang bersenjata dan dua penjaga yang duduk di balik meja.
Danu, Doddy dan Sony memandang ke arah menara dengan wajah terkejut, sedangkan Hasan malah tidak menunjukkan reaksi apa pun.
“Gerobak menjual ikan harus bayar 100 gabak untuk masuk ke kota!” kata prajurit penjaga pintu setelah memeriksa gerobak mereka.
Wira pun membayar uang dengan terpaksa.
Pemilik tubuh sebelumnya sering datang ke ibu kota provinsi. Jadi, dia tahu harus membayar uang masuk apabila mau berjualan di kota. Biaya yang harus dibayar tergantung pada barang apa yang mereka bawa. Dulu, membawa masuk segerobak ikan hanya perlu membayar 50 gabak.
Bulan lalu, pemimpin kabupaten baru diganti. Biaya masuk kota pun meningkat hingga dua kali lipat.
Setelah menerima bayaran dari Wira, prajurit penjaga baru membiarkan mereka masuk.
Di dalam kota, ada beberapa rumah bertingkat dua yang terbuat dari batu bata.
Setelah melihatnya, Wira sedikit kecewa. Situasi di dalam kota bahkan lebih buruk dari desa di kehidupan lampaunya.
Namun, para penduduk kota memakai pakaian yang jauh lebih bagus dan bercorak daripada penduduk Dusun Darmadi.
Danu, Doddy dan Sony terlihat bersemangat, seolah-olah sudah memasuki dunia baru.
Ada banyak penduduk dusun yang mungkin tidak pernah keluar dari dusun seumur hidup mereka. Jangan ibu kota provinsi, mereka mungkin juga jarang pergi ke pusat desa atau kota kecil. Jadi, orang yang pernah datang ke ibu kota provinsi selalu merasa sangat bangga.
Kelima orang itu mendorong gerobak mereka ke pasar daging yang berada di sebelah timur kota.
Setelah sampai di depan pasar, Hasan berkata, “Aku nggak tahu harga pasaran ikan. Harus pergi cari tahu dulu nih.”
Wira menatap ke arah Danu, Doddy dan Sony. Doddy menggaruk kepalanya dengan kebingungan, sedangkan Danu juga terlihat sedikit takut.
Sony pun maju dengan percaya diri, “Serahkan hal ini padaku.”
Tidak lama kemudian, Sony kembali dan menjelaskan tentang pajak penjualan dan harga ikan dengan jelas.
Harga pajak penjualannya sepuluh persen. Seekor ikan kecil yang beratnya di bawah 500 gram harganya 20 gabak, yang beratnya sekitar sekilo harganya 30 gabak. Ikan yang beratnya di atas 1,5 kilogram bisa dijual 40 gabak, yang beratnya 1,5-4 kilogram bisa dijual 50 gabak, sedangkan yang beratnya di atas 4 kilogram bisa dijual 60 gabak.
Namun, itu adalah harga ikan yang sudah mati. Jika ikannya masih hidup, harganya bisa ditambah 20 gabak dari harga sebelumnya.
Kelima orang itu pun masuk ke Pasar Timur, lalu hendak mencari kios dan mulai berjualan.
Sebelum mereka sempat berjualan, empat orang yang terlihat galak tiba-tiba mengerumuni gerobak mereka.
Salah seorang dari mereka yang berbadan kekar dan berwajah galak menyilangkan tangannya lalu mencibir, “Sudah sampai Pasar Timur bukannya beri hormat ke pemilik tanah dulu sebelum berjualan. Berani banget kalian!”
Bab 8
“Beri hormat ke pemilik tanah?”
Setelah melihat postur sekelompok orang ini, Wira baru tersadar. “Kalian datang buat minta biaya perlindungan?”
Danu dan Doddy mengepalkan tangannya dengan marah. Hasan yang berdiri di belakang Wira juga mengerutkan keningnya.
Sony buru-buru berbisik pada Wira, “Wira, aku lupa kasih tahu. Dia itu bos ikan Pasar Timur, namanya Iwan Projo. Dia punya julukan ‘si Perusuh’. Anak buahnya kira-kira ada sekitar belasan orang. Dia selalu ambil keuntungan 20% dari siapa pun yang mau jual ikan di Pasar Timur.”
“Dua puluh persen?”
Wira langsung naik pitam. “Kalian ambil keuntungan yang lebih banyak daripada pemerintah?”
Mereka sudah bersusah payah untuk menangkap ikan selama dua hari dan harus berjalan kaki ke ibu kota provinsi untuk menjual ikan. Pemerintah hanya meminta keuntungan 10%, tetapi preman-preman ini malah minta 20%?
Setelah mendengarnya, Doddy langsung marah. Bahkan Danu yang biasanya sangat tenang juga mengepalkan tangannya erat-erat.
Preman-preman ini bahkan lebih kejam daripada pemerintah.
Melihat reaksi kedua putranya, Hasan langsung memelototi mereka dan menggeleng.
“Kalau mau jualan ikan di Pasar Timur, kalian harus kasih aku keuntungan 20%. Ini adalah aturan yang kubuat. Kalau nggak mau, silakan tinggalkan ikannya dan pergi!” ujar Iwan sambil melambaikan tangannya dengan galak.
Delapan pria yang terlihat seperti berandalan langsung berjalan maju. Ada yang mengepalkan tangan, ada yang memegang tongkat kayu, ada juga yang bermain dengan belati di tangan mereka. Tatapan mereka semua terlihat sangat garang.
Wira mempertimbangkan baik-baik situasinya saat ini.
Kelompok Iwan totalnya ada sembilan orang. Mereka juga mempunyai senjata dan terlihat seperti preman yang sudah sering berkelahi.
Selain Hasan yang merupakan pensiunan tantara, mereka berempat hanyalah petani. Apalagi Wira, dia sama sekali tidak mungkin bisa menang dalam berkelahi.
Iwan juga merupakan penguasa lokal Pasar Timur. Kalau mereka benar-benar berkelahi, dia mungkin bisa mendapatkan bala bantuan.
Namun, Wira juga tidak rela menyerahkan 20% keuntungan penjualannya.
“Kita juga nggak bakal berpangku tangan kok!” Iwan melambaikan tangannya, lalu seorang bawahannya mendekat dengan membawa sebuah timbangan, “Waktu kalian jual ikan, kami bakal bantu timbang beratnya. Jadi kalian nggak perlu terlalu capek.”
“Membantu?” dengus Wira.
Wira tahu maksud Iwan. Mereka akan menimbang ikannya dan menyimpan uang lebih dari pembeli. Pembeli yang merasa tertipu akan melapor ke pengadilan daerah. Kemudian, preman-preman ini akan mengatakan bahwa mereka menerima komisi untuk melakukannya.
“Setuju apa nggak? Aku nggak mau buang-buang waktu sama kalian!”
Begitu Iwan menjentikkan jarinya, delapan orang preman langsung maju.
Danu dan Doddy mengepalkan tinju mereka, tetapi Hasan memelototi mereka dan menggeleng lagi.
Akal sehat Wira menyuruhnya untuk tunduk pada sekelompok preman ini, tetapi mulutnya malah berkata, “Aku nggak takut sama kamu!”
Sony buru-buru membujuk Wira, lalu meminta maaf pada Iwan, “Kak Iwan, jangan marah. Kita semua toh teman. Kami bakal serahkan uangnya. Tapi temanku ini harus bayar utang besar. Bisa nggak kasih potongan harga dulu untuk sementara. Kalau utang temanku ini sudah lunas, kami bakal lunasi kekurangannya.”
“Teman?” Iwan langsung terlihat bersemangat dan menggerakkan jarinya untuk menyuruh Sony mendekat. Saat Sony sudah sampai di hadapannya, Iwan langsung menampar dan menendang Sony hingga terpental. Kemudian, dia memaki, “Dasar anak sialan! Kamu itu siapa? Siapa temanmu? Patahkan sebelah kakinya, lalu usir dia dari Pasar Timur!”
Empat preman langsung maju dan mulai menghajar Sony.
Iwan menatap Wira, lalu berkata sambil tersenyum sinis, “Nak, kamu nggak mau nurut ya?”
Bagi Iwan, orang yang tidak menuruti kata-katanya harus dihajar supaya mereka takut. Jika tidak, akan makin banyak orang di Pasar Timur yang membantahnya.
Wira merasa terancam lagi setelah melihat Sony yang dipukul. Doddy dan Danu juga sangat marah dan ingin bertindak, tetapi Hasan masih melarang mereka meskipun dia sendiri juga sudah kesal.
“Dasar berengsek!”
Wira yang awalnya sudah siap untuk mengalah pun menjadi murka. Dia berbalik dan mengeluarkan sebatang kayu dari gerobak, lalu langsung menghantamkannya ke kepala Iwan. Dia juga menyerang keempat preman yang menghajar Sony sambil berteriak, “Paman Hasan, Danu, Doddy, cepat pergi lapor ke pihak berwajib!”
Wira rela membayar keuntungan 20%, tetapi dia tidak bisa terima Sony dihajar.
Sony sudah menemaninya datang menjual ikan, tetapi malah dipukuli lagi setelah membantunya berbicara. Wira tidak bisa tinggal diam.
Wira memukul keempat orang yang sedang menghajar Sony, lalu menarik Sony dan hendak kabur.
Semua orang di Pasar Timur langsung tercengang setelah melihat kejadian ini!
Tidak ada orang yang menyangka bahwa Wira berani memukul Iwan.
“Ayah!”
“Ayah!”
Danu dan Doddy sudah murka, mereka pun langsung menatap ke arah Hasan lagi dan berteriak pada saat yang bersamaan.
“Haish, lakukanlah!”
Hasan pun terpaksa setuju setelah melihat situasinya.
Danu dan Doddy langsung gembira dan menyerang sekelompok orang itu.
“Ah .... Beraninya kamu memukulku!” Iwan menutup kepalanya sambil berteriak kesakitan, lalu berdiri dengan terhuyung-huyung. Saat melihat tangannya dilumuri darah, dia pun berteriak dengan marah, “Hajar mereka habis-habisan, terutama si Bajingan itu!”
“Beraninya kalian memukul Kak Iwan! Sudah bosan hidup, ya!”
Kedelapan preman yang terlihat garang itu langsung berpencar. Mereka menyerang kelompok Wira dengan tongkat kayu dan belati mereka.
“Sony, cepat pergi!”
Wira mendorong Sony sambil mengayunkan tongkat kayu di tangannya dengan sembarangan.
“Nggak, aku nggak mau pergi!”
Meskipun Sony sudah ketakutan, dia tetap memberanikan diri untuk mengadang di depan Wira.
“Mau kabur? Jangan harap kalian bisa kabur! Patahkan tangan dan kaki mereka!” teriak Iwan dengan kesal.
Jika dia tidak memberi pelajaran pada kelima orang ini, tidak ada orang di Pasar Timur yang akan tunduk padanya lagi.
Begitu kedelapan preman itu mau bertindak, Danu dan Doddy langsung menyerbu mereka.
Danu menarik tangan Wira dan Sony, lalu langsung berlari keluar dari pengepungan para preman.
Kedelapan orang itu pun langsung menyerang Doddy!
“Selama ada aku, Zabran Darmadi, kalian nggak bakal bisa memukul Kak Wira!”
Doddy langsung berjongkok dan menyandung kaki para preman itu hingga jatuh. Begitu berdiri, mereka langsung ditinju Doddy lagi.
Dalam sekejap, mereka semua langsung tersungkur di lantai sambil berteriak kesakitan. Tidak ada seorang pun yang bisa berdiri lagi!
“Dia berlatih bela diri!”
Iwan yang sudah menyaksikan aksi Doddy pun buru-buru kabur.
Namun, sebelum dia sempat kabur jauh, Doddy sudah menendang punggungnya.
Teriakan kesakitan Iwan pun menggema di seluruh Pasar Timur.
Semua pedagang dan penduduk di Pasar Timur langsung tercengang. Mereka memandang Doddy dan mengingat nama ‘Zabran Darmadi’ yang diteriakkannya tadi.
Doddy menyeret Iwan ke hadapan Wira, lalu berkata dengan bangga, “Kak Wira, sudah kubilang kalau aku jago berkelahi!”
Wira membatin, ‘Aku nggak tahu kalau kamu bisa langsung lawan sepuluh orang sendirian! Kalau tahu kamu begitu hebat, buat apa tadi aku bersabar!’
Gubrak!
Setelah melemparkan Iwan ke hadapan Wira, Doddy berkata dengan santai, “Kak Wira, kamu mau gimana hukum orang ini?”
“Aku sudah hantam dia sekali kok!”
Setelah itu, Wira menarik Sony dan berkata, “Sony, tadi dia sudah menampar dan menendangmu. Sekarang, giliranmu balas dendam!”
“Ah, nggak perlu!”
Meskipun Doddy memang kuat, Sony tetap tidak berani memukul preman besar itu.
Setelah mendengar penolakan Sony, Wira berkata dengan serius, “Kita nggak cari masalah, tapi kita juga nggak takut dapat masalah. Kamu harus pukul dia balik supaya kelak dia nggak berani cari masalah sama kamu lagi. Kalau kamu sopan sama dia, dia pasti kira kamu takut sama dia dan bakal menindasmu lagi! Cepat pukul dia! Kalau nggak, jangan ikut aku lagi!”
Para pedagang ikan yang sebelumnya sudah dirugikan pun tergerak hatinya.
“Baik!”
Setelah memikirkan tamparan dan tendangan yang diterimanya tadi, amarah Sony pun melonjak.
Saat dia baru mengangkat tangannya, Iwan malah berkata dengan dingin, “Nak, kamu tahu aku siapa? Aku ini bawahan petugas patroli dari pengadilan daerah. Kalau kamu berani pukul aku, jangan harap kamu bisa keluar dari tempat ini!”
Setelah mendengar ucapan Iwan, amarah Sony langsung sirna. Dia pun menurunkan kembali tangannya.
Namun, Wira berkata dengan serius, “Pukul saja! Aku bakal lindungi kamu!”
Masalahnya sudah menjadi seperti ini. Meskipun Sony tidak memukulnya, Iwan juga tidak akan melepaskan mereka.
Mereka harus membuat Iwan kehilangan wibawanya agar dia tidak bisa bertindak seenaknya lagi di Pasar Timur.
Wira akan memikirkan konsekuensinya lagi nanti.
Setelah melihat tatapan mata Wira yang tegas, Sony pun memberanikan diri untuk menampar dan menendang Iwan. Setelah itu, kemuraman dalam hatinya langsung sirna.
“Ah!” Iwan berteriak kesakitan sambil meringkuk.
Saat melihat Iwan yang diperlakukan seperti itu, ketakutan di dalam mata para pedagang ikan di Pasar Timur pun berubah menjadi amarah.
“Patroli sudah datang!”
Setelah mendengar hal itu, semua orang pun gempar.
Bab 9
Seorang pria paruh baya berjalan mendekat dari kejauhan.
Dia mengenakan topi hitam dan seragam biru yang dipadu dengan rompi merah. Di bagian tengah rompi itu terdapat tulisan ‘Patroli’. Dia mengenakan sepatu bot, di pinggangnya juga bergantung sebilah golok.
Pria itu tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak pendek. Dia terlihat seperti orang cerdik pada umumnya.
Namun, kemunculannya langsung membuat seluruh Pasar Timur menjadi hening.
Semua amarah yang terukir di wajah setiap pedagang langsung sirna dan digantikan dengan seulas senyum menyanjung.
Pria paruh baya itu adalah petugas patroli Pasar Timur. Namanya Eko Makmur.
Status seorang petugas patroli tidak termasuk tinggi di ibu kota provinsi. Akan tetapi, para penduduk juga tidak berani menyinggungnya.
Di ibu kota provinsi, jabatan yang berpangkat tinggi adalah patih, pejabat sipil dan jenderal militer. Selebihnya yang tidak berpangkat adalah hakim, patroli, panitera dan sebagainya. Mereka biasanya disebut ‘pejabat’.
Meskipun para pejabat ini tidak berpangkat, mereka termasuk bagian pemerintahan dan bergaji tinggi. Posisi mereka biasanya dilanjutkan oleh anak-anak mereka.
Setiap pejabat memiliki puluhan bawahan yang membantu mereka menangani tugas dari pemerintah.
Para pejabat tidak memberi imbalan kepada anak buah mereka. Jadi, para bawahan ini harus mendapatkan keuntungan sendiri pada saat menjalankan tugas.
Keuntungan besar yang didapatkan para bawahan ini harus dibagikan kepada ‘pejabat’, sedangkan keuntungan kecil dapat dibagi oleh mereka sendiri.
Iwan adalah bawahan Eko. Tujuh puluh persen keuntungan yang didapatkan Iwan dari pedagang ikan akan dibagikan kepada Eko. Sementara 30% sisanya akan dibagi Iwan dengan delapan anak buahnya.
Saat melihat bawahannya tersungkur di lantai, Eko tidak langsung datang menghampiri mereka. Dia berdiri di tempat untuk mengamati mereka terlebih dahulu, lalu baru berjalan ke depan gerobak.
Tadi, Danu dan Doddy tidak merasa takut saat menghadapi sembilan preman. Namun, mereka malah langsung ketakutan saat melihat Eko.
Sony juga takut hingga gemetaran, sedangkan Hasan hanya mengerutkan keningnya tanpa mengatakan apa pun.
Wira mengerti kenapa mereka berempat bereaksi seperti itu.
Di mata para penduduk desa, mereka tidak mampu menyinggung hakim, patroli dan pejabat-pejabat kecil lain yang berhubungan dengan kantor pemerintahan daerah.
“Pak Eko!”
Begitu melihat bosnya datang, Iwan buru-buru mengadu, “Kamu harus membantuku menegakkan keadilan. Aku datang ke Pasar Timur untuk membeli ikan, tapi kelima orang ini malah memukuliku sampai begini. Cepat tangkap mereka ke pengadilan daerah!”
“Sembarangan!”
Doddy yang tidak sabaran sudah tidak bisa menahan diri. Dia langsung berkata, “Jelas-jelas kami yang datang untuk menjual ikan, tapi kamu malah mau memeras kami dengan meminta 20% keuntungan. Itu sudah lebih tinggi 10% dari pajak yang harus kami bayar! Sekarang, kamu malah fitnah kami lagi! Sepertinya aku harus menghabisimu hari ini!”
Begitu mendengar ucapan Doddy, Iwan langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Eko. Dia sudah merasakan kehebatan Doddy tadi.
Sebelum Doddy sempat bertindak, Danu pun menahannya.
Saat melihat situasi ini, tidak ada orang yang berani bersuara. Mereka hanya menatap Eko dalam diam.
Eko mengamati Wira, lalu bertanya, “Kamu itu pelajar?”
Wira mengangguk.
Eko pun bertanya lagi, “Kamu punya prestasi?”
Wira melaporkan nilanya, “Waktu di Tahun Makmur kedua, aku dapat peringkat ketiga!”
Lima tahun yang lalu, raja baru Kerajaan Nuala naik jabatan. Tahun jabatannya disebut ‘Tahun Makmur’.
Dua tahun setelah raja baru menjabat, pemilik tubuh sebelumnya mengikuti ujian sarjana yang menerima 20 orang pelajar dari provinsi kecil. Pemilik tubuh sebelumnya menduduki peringkat ketiga dalam ujian itu. Pada zaman ini, pelajar yang berprestasi memiliki beberapa hak istimewa.
“Ternyata kamu itu seorang cendekiawan. Aku Eko Makmur, petugas patroli dari pengadilan daerah.”
Eko yang tadinya terlihat serius pun tersenyum dan menyanjung Wira. Kemudian, dia langsung berbalik dan menampar Iwan.
Iwan langsung tercengang hingga tidak merasakan darah yang mengalir dari sudut mulutnya.
“Dasar preman! Beraninya kamu menindas seorang cendekiawan! Hari ini, aku bakal bawa kamu ke pengadilan daerah supaya kamu dihukum!”
Eko pun langsung menyeret Iwan pergi. Preman-preman lainnya juga mengikuti mereka dengan patuh.
“Bukannya Iwan itu bawahan Eko? Kenapa Eko malah menangkapnya?”
“Soalnya yang Iwan ganggu itu seorang cendekiawan. Eko pasti takut cendekiawan itu menghukum keluarga mereka habis jadi pejabat tinggi. Jadi, dia pura-pura menghukum Iwan dulu!”
“Ah! Ternyata pemuda itu seorang cendekiawan! Tapi kenapa dia jadi pedagang?”
“Memangnya tadi kamu nggak dengar? Dia punya utang!”
Begitu Eko pergi, suasana di Pasar Timur menjadi ramai kembali.
Wira masih sedikit tertegun. Dia tidak menyangka ternyata reputasinya sebagai seorang pelajar cukup berguna juga.
Setelah tersadar dari keterkejutan, mereka berlima pun mulai menjual ikan.
Eko menyeret Iwan keluar dari Pasar Timur. Setelah keluar dari Pasar Timur, dia pun menendang Iwan lagi.
Iwan langsung berdiri dan buru-buru menyanjung Eko, “Pak Eko, dia cuman seorang pelajar, masih belum jadi sarjana. Perjalanannya untuk menjadi pejabat masih jauh! Kenapa kita harus takut padanya ....”
Sebelum Iwan menyelesaikan kalimatnya, Eko menamparnya lagi. “Dasar tolol! Dia sudah terpilih menjadi pelajar di usia 15 tahun, itu berarti dia sangat berbakat! Orang seperti ini cepat atau lambat pasti bakal jadi sarjana. Kalau sudah jadi pejabat besar, dia pasti bisa dengan gampang menghukummu! Orang paling mengerikan di dunia ini adalah cendekiawan! Cuman orang bodoh kayak kalian yang merasa cendekiawan itu mudah ditindas!”
Anak yang tidak sabaran itu bisa menghajar sembilan orang sendirian. Dia jelas adalah orang yang berlatih bela diri. Orang yang menarik anak yang tidak sabaran itu juga pasti jauh lebih hebat darinya.
Orang yang paling mengerikan adalah pria paruh baya yang memiliki tatapan tajam itu. Aura yang dipancarkannya bahkan lebih mengerikan dari seorang algojo. Dia pasti juga bukan orang biasa.
Jika Eko ingin menghadapi ketiga orang itu, dia juga belum tentu berhasil bahkan dengan mengerahkan seluruh anak buahnya. Bisa gawat jika masalah ini jadi besar dan diketahui pemimpin kabupaten.
Sebagai pejabat kecil, Eko paling jelas orang seperti apa yang bisa ataupun tidak bisa disinggung.
Setelah mendengar ucapan Eko, Iwan buru-buru berkata sambil tersenyum, “Pak Eko benar! Tapi gimana kalau kelak mereka masih terus berjualan ikan di Pasar Timur? Kita nggak boleh kehilangan keuntungan sebesar ini!”
“Tentu saja nggak boleh!”
Eko memicingkan matanya, lalu berkata, “Hari ini, kamu sudah dikalahkan mereka, kamu nggak bakal bisa menekan para pedagang itu lagi. Untuk sementara, ganti bos saja dulu. Nanti kalau ada kesempatan, kamu boleh menjabat lagi. Nggak perlu ambil keuntungan dari kelompok cendekiawan itu, tapi suruh mereka jangan umbar-umbar hal ini ke orang lainnya.”
Eko merasa orang-orang ini pasti sudah berusaha keras untuk menangkap segerobak ikan itu.
Lagi pula, cuacanya sudah makin dingin, ikan juga akan makin sulit ditangkap. Jadi, Eko merasa tidak mengambil keuntungan dari mereka juga tidak akan merugikan dirinya.
“Baik, Pak Eko!”
Iwan menunduk dengan tidak rela. Bos yang sudah turun pangkat mana mungkin bisa naik pangkat lagi.
Lagi pula, bos pengganti juga tidak begitu mudah dicari.
...
“Tiga belas ribu tujuh ratus enam puluh gabak!”
Ikan yang masih hidup sangat mudah dijual. Belum sampai dua jam, ikan di gerobak mereka hanya tersisa dua ekor yang besar dan sepuluh ekor yang kecil. Itu juga merupakan penghasilan bersih yang mereka dapat setelah membayar pajak.
Ini adalah pertama kalinya Sony, Danu dan Doddy melihat uang yang begitu banyak dalam hidup mereka. Mata mereka langsung berbinar.
Namun, Hasan malah menggeleng sambil mengerutkan keningnya. “Jumlah yang kita dapat ini masih belum setengah dari 40 ribu gabak!”
Ketiga orang itu langsung tersadar dan berkata dengan cemas, “Jadi gimana? Kita sudah nggak sempat tangkap ikan lagi. Hari ini hari terakhir bayar utang!”
Wira juga tersenyum masam. Dia awalnya mengira penjualan ikan yang masih hidup paling tidak bisa menghasilkan 20-30 ribu gabak. Alhasil, harga penjualan di Kerajaan Nuala masih belum mencapai harapannya.
“Cuman bisa pinjam uang dulu!” Hasan menghela napas, lalu berkata, “Aku masih punya 3.000 gabak. Kalau kita pinjam sama para kerabat, seharusnya bisa terkumpul sepuluh ribu gabak!”
Penduduk desa sangat miskin, tidak banyak orang yang bisa mengumpulkan 3.000 gabak.
Sony berkata sambil menggertakkan giginya, “Coba aku cari Kak Surya buat pinjam uang. Sekarang, kita sudah punya teknik rahasia tangkap ikan. Biarpun kita nggak kasih tahu mereka caranya, asalkan kita bisa menjanjikan sedikit keuntungan, dia mungkin bisa pinjamin sekitar 5.000-6.000 gabak!”
“Dengan begitu juga masih kurang 10 ribu gabak!”
Danu menatap Wira dan berkata, “Kak Wira, gadai saja gelang Kakak Ipar! Kita sudah punya teknik rahasia tangkap ikan. Kita bisa dapatkan kembali gelangnya dalam beberapa hari dengan membayar tambahan sedikit bunga.”
“Nggak perlu, aku masih punya cara lain!”
Wira menggeleng, lalu lanjut berkata, “Sekarang, kalian ke Pasar Selatan dan beli barang-barang yang kusuruh kalian beli pakai uang ini. Habis itu, pergi ke ‘Toko Besi Keluarga Salim’ di Pasar Utara untuk cari aku.”
Dari awal, Wira memang tahu dia tidak bisa mendapatkan 40 ribu gabak dari hasil menangkap ikan sehari.
Setelah mendengar Wira ingin membeli barang, keempat orang itu langsung terkejut.
Sony berkata dengan bingung, “Paman Hasan, lihat! Uang membayar utang sudah nggak cukup, tapi Wira malah mau belanja lagi. Apalagi semua yang dia suruh beli itu makanan, pakaian dan barang sekunder lain yang nggak penting. Dia mulai boros lagi!”
Ucapan Sony membuat Doddy marah. “Sony! Dasar nggak punya hati nurani! Kak Wira sudah membelikanmu dan Kakak pakaian dan sepatu, tapi kamu malah mengatainya!”
Sony mengeluh, “Aku cuman khawatir dia nggak bisa bayar utang!”
Danu yang dewasa pun berkata, “Ayah, kenapa Kak Wira membelikanku dan Sony pakaian yang serupa?”
Hasan menjawab, “Ikuti saja kata Wira. Dia itu orang yang punya banyak ide. Dia menyuruh kita melakukan ini pasti ada artinya. Patuhi saja perintahnya!”