Bab 1

“Nggak enak banget!”

Wira Darmadi sedang mengunyah sesuap tiwul. Kemudian, dia meletakkan sendoknya karena merasa seperti makan gula saja.

Sekarang dia akan menampar siapa pun yang berani memberitahunya bahwa melewati dimensi adalah hal bagus.

Wira sudah melewati dimensi ke Kerajaan Nuala yang mirip dengan Kerajaan Atrana kuno.

Pemilik tubuh sebelumnya berasal dari keluarga kaya. Sewaktu orang tuanya masih hidup, dia selalu sarapan bubur. Makan siangnya adalah nasi dengan lauk, sedangkan makan malamnya adalah mi gandum dan roti pipih.

Berhubung harus bersekolah di ibu kota provinsi, dia baru pulang ke rumah setiap sepuluh hari sekali. Pada saat itu, dia pun bisa memuaskan nafsu makannya.

Rakyat biasa pada umumnya hanya makan sehari dua kali. Makanan mereka juga hanyalah bubur atau tiwul karena mereka tidak sanggup membeli daging. Hanya pada saat Tahun Baru dan punya uang berlebih, mereka baru bisa menikmati daging.

Biasanya, hanya orang kaya, bangsawan atau pejabat yang bisa menikmati mi dan nasi.

Saat memikirkan ayam, ikan, daging dan telur yang disia-siakan di dunia, Wira pun menjadi kesal.

Wira sedang tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang terdengar ketakutan. “Suamiku, maaf. Kita sudah kehabisan beras. Cendekiawan sepertimu jadi harus makan tiwul padahal baru sembuh.”

Saat melihat gadis cantik yang berdiri dengan takut di depan kamarnya, mata Wira langsung berbinar.

Gadis yang anggun dan cantik itu terlihat berusia sekitar 17-18 tahun. Perawakannya tinggi dan langsing, tingginya mungkin mencapai 1,7 meter.

Dia mengenakan baju merah yang dipadu dengan rok hijau dan sepatu kain bercorak. Pakaiannya sangat sederhana, wajahnya juga tidak dirias. Namun, dia terlihat sangat cantik dan juga lembut.

Hanya saja, wajahnya terlihat sangat pucat. Rambutnya juga sangat tipis dan kusam. Dia terlihat seperti orang yang kekurangan gizi saja.

Gadis itu bernama Wulan Linardi. Dia adalah istri pemilik tubuh sebelumnya dan merupakan wanita tercantik di Kabupaten Uswal. Awalnya, pemilik tubuh sebelumnya sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menikahinya.

Pada saat itu, Keluarga Linardi hampir dibantai. Jadi, mereka ingin menikahkan putri mereka agar tidak terlibat masalah.

Namun, tidak ada orang di kabupaten ini yang berani menikahinya selain pemilik tubuh sebelumnya yang keras kepala itu.

Pada hari pernikahan mereka, Keluarga Linardi mendapat kabar bahwa ayah Wulan berhasil memutarbalikkan situasinya. Keluarga Linardi pun hendak membatalkan pernikahan mereka.

Namun, Wulan menolaknya dengan tegas. Dia merasa suami istri harus melewati suka dan duka bersama sampai akhir hayat.

Entah karena emosi akibat Keluarga Linardi hendak membatalkan pernikahan atau ada yang salah dengan pemilik tubuh sebelumnya, mereka sudah menikah selama tiga tahun, tetapi masih belum berhasil berhubungan intim!

Kemarin, pemilik tubuh tiba-tiba sakit dan koma. Pagi ini, Wira sudah melewati dimensi dan menempati tubuh ini.

Saat melihat ada sesuatu di hidung mancung gadis itu, Wira pun bangkit dan mengulurkan tangannya.

“Ah!”

Wulan langsung berjongkok dan melindungi kepalanya sambil menangis. “Suamiku, jangan pukul aku! Semua mas kawin sudah benar-benar habis terjual!”

Tangan Wira pun berhenti di udara.

Berhubung pemilik tubuh sebelumnya memiliki disfungsi seksual, sifatnya pun berubah drastis.

Dia berhenti belajar untuk ikut ujian menjadi pejabat, dan hanya tahu bersenang-senang setiap hari. Oleh karena itu, keluarga mereka pun jatuh miskin.

Selain itu, pemilik tubuh sebelumnya juga menyiksa istrinya yang cantik ini. Bukan hanya mas kawin Wulan yang sudah habis dijualnya, dia juga memaksa Wulan meminjam uang dari Keluarga Linardi agar dia bisa berfoya-foya.

Namun, Wulan malah merasa dirinya berutang budi pada pemilik tubuh sebelumnya.

Wulan bukan hanya tidak meninggalkan suaminya, tetapi juga tetap melayani kebutuhan suaminya meskipun tubuhnya sudah terluka karena dipukuli suaminya.

“Suamiku, jangan pukul aku lagi! Aku bakal cari cara untuk dapat uang, lalu membelikanmu alkohol dan daging!”

Wulan mendongak dan memohon sambil menangis tersedu-sedu.

“Aku nggak minum alkohol, juga nggak makan daging. Ada kotoran di hidungmu, aku cuman mau bantu kamu menyekanya!”

Wira memapah Wulan yang gemetaran, lalu menyeka abu hitam di ujung hidungnya dengan lengan bajunya.

Namun, Wulan malah menjadi lebih takut lagi.

Dalam tiga tahun ini, suaminya bukan hanya memukul dan memakinya saja. Kadang-kadang, suaminya juga bisa bersikap lembut. Namun, dia melakukannya supaya Wulan menggadaikan mas kawinnya atau meminjam uang dari Keluarga Linardi.

Oleh karena itu, Wulan berpikir bahwa suaminya bersikap lembut hari ini karena mau meminta uang kepadanya.

Wira meminta maaf dengan suara lembut, “Dulu, aku yang salah. Kelak, aku nggak bakal pukul kamu lagi!”

“Huhuhu!”

Wulan langsung menangis dan berkata, “Suamiku, kamu pinjam berapa banyak uang lagi di luar sana? Waktu terakhir kali aku pulang ke rumah, kakakku sudah bilang kalau dia nggak bakal pinjamin aku uang lagi!”

Wira tersenyum masam. “Aku nggak pinjam uang dari luar. Aku juga nggak bakal suruh kamu pulang untuk pinjam uang lagi!”

Wulan tidak sepenuhnya percaya pada kata-kata Wira. “Serius?”

Wira mengangguk. “Percayalah padaku!”

Gadis sebaik ini sangat sulit dicari, kenapa pemilik tubuh sebelumnya tidak menghargainya?

“A ... aku bakal percaya sama kamu sekali lagi!” jawab Wulan dengan takut.

Setiap kali dia percaya pada kata-kata manis suaminya, dia selalu terluka lebih dalam lagi.

Wulan berharap semoga kali ini dia benar-benar bisa memercayai suaminya.

Brak!

Pintu kayu rumah mereka tiba-tiba didobrak.

Seorang pria paruh baya berjalan masuk. Pria itu bertopi hitam, mengenakan pakaian hitam yang dipadu dengan ikat pinggang merah dan sepatu bot kain.

Saat melihat Wulan, mata pria paruh baya itu langsung berbinar. Setelah itu, dia melirik tuwil yang ada di meja dan berkata sambil tersenyum, “Wah! Tuan Wira, kamu sudah bosan makan nasi, ya? Benar juga, kalau makan nasi sehari tiga kali, kamu juga bakal susah buang air besar karena terlalu nggak berserat.”

Di zaman dahulu, sanggup makan nasi sudah merupakan hal yang sangat dibanggakan.

Wira merasa pria paruh baya itu tidak asing, tetapi dia tidak bisa mengingat apa hubungan pria ini dengan pemilik tubuh sebelumnya.

“Pak Budi, kalau mau pamer kekayaan, balik saja ke Dusun Silali. Jangan pamer di Dusun Darmadi!”

Wulan berdiri di depan Wira dengan ekspresi galak, seolah-olah mau melindunginya.

Setelah mendengar namanya, Wira pun teringat siapa pria ini.

Budi Silali adalah seorang pejabat kecil di ibu kota provinsi. Dia juga merupakan kepala desa dari Desa Pimola dan orang kaya dari Dusun Silali yang lokasinya tidak jauh dari Dusun Darmadi.

Dia bertanggung jawab atas pajak penghasilan, pajak tanah dan pajak lain-lain penduduk Desa Pimola. Dia juga punya kerja sampingan sebagai rentenir.

Budi akan pergi ke rumah siapa pun yang anggota keluarganya sakit dan tidak bisa membayar pajak, lalu meminjamkan uang kepada mereka.

Dengan cara ini, dia sudah mendapatkan tanah sebanyak 20 hektar dan menjadi lumayan kaya.

“Rumah kalian? Ini rumahku. Bahkan kamu juga bakal segera jadi milikku. Buka matamu dan lihat baik-baik!”

Kemudian, Budi mengeluarkan selembar bukti pinjaman dari kantong bajunya dan membukanya dengan sombong.

“Wira Darmadi, pelajar dari Dusun Darmadi meminjam uang dari Budi Silali dari Dusun Silali sebesar 30 ribu gabak. Dalam satu bulan, Wira akan membayar utang beserta bunga sebanyak 40 ribu gabak. Jaminannya adalah tempat tinggal, setengah hektar tanah di sebelah timur desa dan Wulan Linardi, istrinya ....”

Setelah melihat cap jarinya, beberapa ingatan pun muncul di benak Wira. Wira pun langsung murka.

Pemilik tubuh sebelumnya pernah mabuk dan ditarik Budi pergi berjudi di ibu kota provinsi. Setelah kalah telak, dia pun membuat perjanjian ini.

Baru saja Wira bersumpah pada Wulan, perbuatan keji pemilik tubuh sebelumnya sudah terbongkar lagi.

Penduduk Provinsi Jawali sangat miskin. Seorang buruh paling banyak juga hanya akan menghasilkan tiga sampai empat gabak sehari.

Untuk membayar utang 30 ribu gabak tanpa bunga, seorang buruh juga harus bekerja paling sedikit tiga tahun. Itu masih belum termasuk biaya kehidupan, biaya pajak yang tinggi dan kerja rodi.

Bahkan Wira yang punya gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material pun kewalahan untuk menghasilkan uang sebanyak itu.

Budi menatap Wulan dengan penuh hasrat dan berkata, “Cantik, kalau kamu ikut aku, aku jamin kamu bakal hidup enak. Kamu nggak perlu hidup menderita lagi dengan si Pemboros ini!”

Wulan menoleh ke arah Wira, air mata sudah membasahi pipinya dan menetes ke lantai.

Ternyata dia memang salah karena sudah memercayai suaminya!

Wulan bisa menerima penyiksaan apa pun dari suaminya, tetapi dia tidak menyangka suaminya akan menggunakan dirinya sebagai jaminan!

Pada saat ini, hatinya benar-benar hancur.

Wira tidak tahu harus bagaimana menghibur Wulan. Dia pun menatap Budi yang sombong dan berkata, “Bawa pergi surat perjanjianmu itu!”

“Berengsek! Kamu nggak mau bayar utang?”

Budi langsung murka. “Aku bisa pulang ke Dusun Silali dan suruh ratusan orang untuk datang dan memukulmu sampai cacat! Pemimpin daerah juga bakal kasih aku rumah, tanah dan istrimu padaku! Sudah ada bukti masih berani mengelak. Kamu sudah bosan hidup, ya!”

Wulan menarik lengan baju Wira dan berkata, “Suamiku, kita harus bayar utang. Aku bakal pulang ke rumah untuk pinjam uang!”

Jika tidak membayar utang, suaminya akan ditarik ke pengadilan daerah dan dipukul.

“Wulan, kamu nggak perlu pinjam uang sama keluargamu. Aku bisa selesaikan masalah ini!”

Wira tertegun sejenak. Dia tidak menyangka Wulan masih bersedia membantu pemilik tubuh sebelumnya padahal dirinya sudah digunakan sebagai jaminan.

Budi menatap Wira tatapan meremehkan. “Kamu cuman tahu foya-foya, gimana kamu mau selesaikan masalah ini! Kalau kamu nggak bayar 40 ribu gabak itu hari ini, aku nggak bakal pergi.”

Wira menunjuk ke tanggal surat perjanjian dibuat dan berkata, “Buka matamu lebar-lebar! Memangnya sudah sebulan?”

Budi langsung terkejut. Dia datang menagih utang karena mendapat kabar bahwa Wira sakit keras. Begitu mereka ribut, dia pun lupa bahwa masih tersisa tiga hari sebelum Wira harus membayar utang. Budi pun menjawab dengan kesal, “Aku nggak percaya kamu bisa dapat 40 ribu gabak dalam tiga hari!”

Bab 2

Wira bertanya balik, “Gimana kalau bisa?”

Budi langsung menunjukkan ekspresi licik. “Kalau kamu bisa, aku nggak bakal terima bunganya! Tapi kalau nggak bisa, kamu harus jual diri untuk jadi budakku. Gimana?”

Wulan langsung terkejut dan mencegahnya. “Suamiku, kamu nggak boleh setuju!”

Budi sangat licik. Dia ingin Wira menjual diri menjadi budaknya. Namun, William sudah murka. Dia pun menuliskan dua surat perjanjian dan mengeluarkan tinta merah. “Cepat tanda tangan!”

“Oke!”

Setelah tanda tangan dan menempelkan cap jari, Budi pun pergi dengan puas.

Budi yakin dengan koneksi dan karakter Wira selama ini, dia tidak mungkin bisa menghasilkan 40 ribu gabak dalam tiga hari.

Meskipun keluarga Wulan kaya, mereka tidak mungkin meminjamkan uang kepada Wira. Sebab, mereka ingin Wulan meninggalkan Wira.

Dengan taruhan ini, Budi bukan hanya bisa mendapatkan budak muda, tetapi juga bisa menjualnya dan mendapatkan puluhan ribu gabak lagi.

Selain itu, dia juga sudah selangkah lebih dekat untuk mengumpulkan 70 hektar tanah.

Di dalam rumah, sepasang suami istri itu saling memandang.

“Wulan!”

Wira ingin menghibur Wulan, tetapi Wulan malah langsung menyeka air matanya dan masuk ke dalam kamar.

Wira tahu Wulan sudah terluka.

“Suamiku!”

Tidak lama kemudian, Wulan berlari keluar dari kamarnya. Dia membuka sebuah tas kecil dengan ekspresi tidak rela dan berkata, “Ayo kita pergi ke ibu kota provinsi untuk gadai gelang ini. Habis itu, aku bakal mohon ke Kakak untuk pinjamkan kita uang. Kita pasti bisa kumpulkan 40 ribu gabak!”

Wira menggeleng. “Aku saja yang cari cara untuk dapatkan 40 ribu gabak ini!”

Gelang giok putih ini adalah warisan dari ibu Wulan.

Pemilik tubuh sebelumnya sudah pernah memukul Wulan hingga batuk darah demi gelang ini, tetapi Wulan tetap tidak mengeluarkannya.

Hari ini, Wulan malah mengeluarkannya untuk membayar utang pemilik tubuh sebelumnya.

Wulan langsung terisak. “Kamu punya cara apa? Jumlahnya 40 ribu gabak, bukan 400 gabak!”

Wira pun langsung mencari ingatan pemilik tubuh sebelumnya. “Aku pikir dulu!”

Bagi para petani, 40 ribu gabak adalah utang yang tidak mungkin bisa dibayar seumur hidup mereka.

Namun, Wira mempunyai gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material. Selain itu, dia juga memiliki pengalaman dan pengetahuan yang melampaui orang-orang di era ini.

“Dulu, aku nggak kasih gelang ini ke kamu karena gelang ini adalah peninggalan Ibu!”

Wulan lanjut terisak. “Tapi kamu sudah nggak punya jalan keluar. Aku nggak bisa biarkan kamu menjual diri menjadi budak. Hidup seorang budak sangat sulit dan bahkan nggak sebagus gelandangan!”

Di Kerajaan Nuala, masyarakat dibagi dalam beberapa golongan. Orang yang tidak mempunyai rumah maupun tanah akan dianggap gelandangan oleh pemerintah. Statusnya lebih rendah dari rakyat jelata. Sementara status budak bahkan lebih rendah dari gelandangan lagi.

Wira tidak memperhatikan apa yang dikatakan Wulan. Dia sedang berusaha keras untuk mencari ingatan pemilik tubuh sebelumnya.

Teknologi di Kerajaan Nuala mirip dengan Dinasti Songada Negara Atrana.

Wira yang mempunyai gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material pasti bisa menciptakan sesuatu yang baru.

Namun, desa kecil ini bahkan tidak mempunyai toko besi. Oang yang sangat berbakat sekali pun tidak akan bisa maju di desa ini.

“Tapi ini benar-benar yang terakhir kali, ya. Kelak, Kakak pasti nggak bakal bantu kita lagi.”

Wulan menyeka air matanya, lalu mendongak. “Kalau kamu pinjam uang dari luar lagi, aku benar-benar sudah nggak bisa bantu! Kalau kamu jadi gelandangan, aku bakal temani kamu jadi gelandangan.”

“Eh, ketemu cara!”

Mata Wira langsung berbinar. Dia mengambil sebungkus tepung kedelai, lesung batu dan cangkul, lalu keluar dari rumah dengan menjinjing keranjang bambu.

“Suamiku?”

Wulan sangat heran.

Biasanya, Wulan yang selalu bercocok tanam. Suaminya tidak pernah melakukan hal itu.

Lagi pula, musim panen sudah berakhir. Untuk apa suaminya mengambil alat bertani?

...

Dusun Darmadi mempunyai tanah yang datar. Di luar desa, ada Sungai Jinggu yang jauhnya 500 meter dan gunung yang jauhnya 15 kilometer.

Di dusun ini, ada empat puluh keluarga yang semuanya bermarga Darmadi. Mereka semua berasal dari leluhur yang sama.

Setelah musim panen berakhir, penduduk harus membayar pajak penghasilan dan pajak tanah. Para bandit juga akan datang untuk meminta hasil panen mereka. Bahan pangan yang disimpan para penduduk biasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, apalagi harus bertahan sampai musim panen berikutnya.

Jadi, tidak ada penduduk yang menganggur. Jika tidak pergi bekerja, mereka akan menjahit di rumah atau mengumpulkan sayuran liar.

Begitu sampai di tanah kosong di luar dusun, Wira pun mulai mencangkul. Dia mengambil sehelai rumput, mencucinya di air dalam ember, lalu mulai mengunyahnya.

“Bukannya itu Wira? Kenapa dia makan rumput?”

“Pasti rumahnya sudah kehabisan makanan. Dengar-dengar, dia berutang 40 ribu gabak sama Pak Budi. Kalau dia tidak bisa bayar tiga hari lagi, rumah, istri dan tanahnya bakal jadi milik Pak Budi!”

“Dasar Pemboros! Padahal ayahnya sudah tinggalkan begitu banyak harta buat dia, tapi semuanya sudah habis difoya-foya. Sekarang dia sampai harus makan rumput lantaran kelaparan. Mampus!”

Saat melihat Wira yang mengunyah rumput, beberapa wanita yang keluar untuk memetik sayuran liar pun menghujatnya. Wira pun memuntahkan rumput yang dia kunyah, lalu mulai mencangkul.

Pemilik tubuh sebelumnya tidak bekerja dan jarang berolahraga. Jadi, staminanya sangat buruk.

Setelah menggali sesaat, Wira pun bersandar pada cangkulnya sambil terengah-engah.

“Wira, rumahmu sudah nggak ada makanan, ya? Kok makan rumput? Rumput ini nggak bisa dimakan lho. Ngemis saja sama warga dusun! Kamu toh seorang pelajar, orang-orang pasti bakal kasih kamu makan kok.”

Seorang pemuda yang terlihat seperti preman berjalan mendekati Wira.

Pakaiannya terlihat kotor, sepatu kainnya juga sudah robek. Dia menatap Wira sambil melipat tangannya di depan dada.

“Sony, bantu aku gali rumput ini dulu. Nanti aku pasti bagi hasilnya ke kamu!”

Wira memohon dengan terengah-engah.

Sony Darmadi adalah gelandangan di dusun mereka. Dia tidak bekerja dan hanya suka berkeliaran.

Dulu, asalkan bertemu dengan pemilik tubuh sebelumnya, Sony selalu menyanjungnya. Bagaimanapun juga, pemilik tubuh sebelumya adalah seorang pelajar yang mungkin menjadi pejabat.

Sejak pemilik tubuh sebelumnya jatuh miskin, Sony bukan hanya tidak menyanjungnya lagi, tetapi malah mengejeknya.

Setelah mendengar permintaan Wira, Sony langsung memelototinya. “Asal kamu tahu, aku nggak bakal kelaparan ke mana pun aku pergi. Memangnya aku perlu dikasihanimu?”

“Yang mau kubagi kasih kamu itu bukan rumputnya!”

Jika bukan karena badannya terlalu lelah, Wira juga tidak ingin menghiraukan Sony.

Sony memang tidak akan kelaparan karena dia sangat tidak tahu malu.

“Kamu nggak perlu jelasin lagi! Aku tahu situasimu, kok. Jangan gali lagi, pergi saja ke rumah mertuamu dan minta maaf. Sebenarnya, harga diri itu bukan apa-apa. Kalau sudah jadi gelandangan, kamu bakal nyesal!”

Sony yang sudah berpengalaman memberi nasihat kepada Wira.

Melihat Sony yang tidak mau membantunya, Wira pun tidak menghiraukannya lagi dan terus menggali.

Berhubung Wira tidak mau mendengar nasihatnya, Sony juga langsung pergi. Sebelum pergi, dia berkata, “Kalau nggak mau dengar nasihat orang, yang rugi juga kamu sendiri!”

“Wira, rumput itu nggak bisa dimakan. Ayo ikut aku! Aku kasih kamu sedikit makanan dulu!”

Saat menjelang siang, seorang pria paruh baya menghampiri Wira.

Pria ini berperawakan tinggi dan kurus. Dia mengenakan baju lengan pendek dan bertelanjang kaki. Matanya memancarkan keramahan.

Wira menggeleng sambil tersenyum. “Paman Hasan, aku gali rumput ini bukan untuk makan!”

Hasan Darmadi dulunya bernama Wasan Darmadi. Dia mengubah namanya setelah masuk militer.

Lima tahun yang lalu, dia sudah kembali dari militer. Hasan juga merupakan kerabat jauh Wira.

Sebelum masuk militer, Hasan sudah mempunyai dua putra. Sepulang dari militer, mereka dikaruniai tiga putri lagi.

Berhubung tanah rumah mereka tidak cukup besar, Hasan menyewa dua hektar tanah lagi untuk bertani. Keuangan mereka juga tidak terlalu bagus.

Jika Wira menerima pemberian Hasan, keluarga Hasan akan jadi kekurangan.

“Memangnya kenapa kalau makan rumput! Semua senior di dusun juga pernah hidup susah!” ujar Hasan.

Hasan mengira Wira malu untuk mengakui bahwa keluarga mereka sudah kehabisan makanan karena dia adalah seorang pelajar.

Wira pun menjawab sambil tersenyum, “Paman Hasan, tenagaku sudah habis. Boleh bantu aku gali bentar nggak?”

“Kamu lemah banget! Cuman gali rumput ini saja sudah begitu capek. Kamu harus banyak olahraga!” ucap Hasan sambil menggeleng.

Kemudian, dia meraih cangkul Wira dan mulai menggali.

Satu jam kemudian, sebidang besar tanah sudah kosong karena digali. Ember dan keranjang bambu Wira juga sudah terisi penuh dengan rumput.

Wira langsung kegirangan.

‘Dulu, anak ini cuman tahu foya-foya. Sekarang sudah miskin, rumput pun jadi kayak harta!’

Hasan menatap Wira dengan kasihan, lalu meletakkan cangkulnya dan pergi.

Bab 3

Pekerjaan yang tersisa sudah tidak terlalu sulit. Wira hanya perlu membersihkan rumputnya, lalu menghaluskannya dalam lesung batu.

Setelah bekerja hingga seluruh badannya sakit, Wira baru mengumpulkan seember rumput yang sudah dihaluskan.

Dia pun menjinjing ember itu sampai ke Sungai Jinggu sambil sesekali beristirahat selama perjalanan.

Wira memilih tempat yang ada banyak ikan, lalu menabur tepung kedelai ke dalam sungai.

Setelah ada umpan, ikannya menjadi semakin banyak. Wira pun menuangkan serpihan rumput ke dalam sungai dengan hati-hati.

Seiring dengan serpihan rumput yang menyebar, satu demi satu ikan pun mulai mengapung.

...

Tidak lama kemudian, Wira sudah berhasil menangkap delapan ekor ikan besar dan lima belas ekor ikan kecil.

Ikan yang besar beratnya di atas dua kilogram, sedangkan yang kecil beratnya di atas 250 gram. Wira melepaskan ikan yang lebih kecil dari itu.

Setelah matahari terbenam, Wira pun pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, Wira melewati sebuah gubuk jerami di ujung timur dusun. Di depan gubuk jerami itu, ada sebuah kandang sapi dan halaman kecil yang dibatasi dengan pagar bambu.

“Paman Hasan!” teriak Wira.

Tiga gadis cilik berlari keluar dari rumah. Mereka menatap Wira dengan penasaran, tetapi juga takut.

“Wira, ya? Pamanmu baru keluar. Ada apa?”

Seorang wanita paruh baya berjalan keluar dari rumah. Dia menatap Wira dengan waspada.

“Bibi Hani, siang tadi Paman Hasan sudah membantuku. Jadi, aku bawain beberapa ekor ikan untuk kalian!”

Wira menaruh dua ekor ikan besar dan enam ekor ikan kecil di depan rumah mereka. Setelah itu, Wira pun pergi.

“Ah! Ini sudah terlalu banyak! Wira, kamu bawa pulang saja!”

Bibi Hani yang awalnya terlihat waspada pun tercengang.

Pada zaman ini, semua orang hidup miskin. Kerabat yang membantu biasanya juga hanya memberi sedikit bahan pangan sebagai balasan, mana ada orang yang langsung memberikan begitu banyak ikan.

Bahkan kepala dusun yang paling kaya pun tidak rela membeli begitu banyak ikan pada saat Tahun Baru.

Jika ikan yang diberi Wira dijual, mereka sudah bisa menghasilkan beberapa ratus gabak. Bagi Hani, hadiah ini terlalu berharga.

Hani tidak mengerti kenapa si Pemboros itu memberikan begitu banyak ikan untuk mereka.

“Aku masih ada kok!”

Wira sama sekali tidak menoleh dan langsung pergi.

“Ikan! Ikan!”

Tiga gadis cilik itu langsung mengelilingi delapan ekor ikan dengan bersemangat.

Hani sangat kebingungan. Dia ingin memasak ikan itu untuk anaknya, tetapi juga merasa sayang dan takut.

Tidak lama kemudian, Hasan dan kedua putranya kembali.

Hani pun berkata dengan cemas, “Hasan, Wira bilang kamu sudah bantu dia. Jadi, tadi dia bawakan begitu banyak ikan untuk kita. Sebenarnya kamu bantu dia ngapain? Kenapa dia kasih kita begitu banyak ikan?”

“Aku cuman bantu dia gali rumput sebentar. Dari mana dia dapat begitu banyak ikan?”

Hasan menatap delapan ekor ikan itu dengan heran, lalu bertanya, “Kamu nggak salah lihat? Memang Wira yang kasih?”

Untuk mendapatkan ikan sebanyak ini, para nelayan juga harus melaut selama beberapa hari.

Kenapa Wira yang begitu lemah bisa menangkap begitu banyak ikan?

“Aku toh nggak buta, masa bisa salah mengenali Wira!” ujar Hani sambil memelototi Hasan.

Namun, Hani sudah tenang karena Hasan memang sudah menolong Wira. Dia pun menyimpan ikan itu dan berencana memasak seekor untuk dinikmati mereka sekeluarga.

Ikan yang tersisa akan dia jual untuk membeli kain. Sudah mau Tahun Baru, Hani mau membuat pakaian untuk anak-anaknya.

“Nggak bisa, kita nggak boleh terima. Aku nggak tahu dari mana dia dapatkan ikan ini, tapi dia berutang begitu banyak pada Pak Budi. Dia bisa menjual ikan-ikan ini untuk bayar utang.”

Hasan memasukkan ikan-ikan itu ke ember kayu, lalu hendak membawanya pergi.

“Hasan!” Hani memohon, “Balikin saja ikan yang besar ke Wira. Kita boleh masak ikan yang kecil untuk anak-anak. Mereka sudah lama nggak makan daging. Lagian, ikan kecil juga nggak begitu bernilai.”

Saat melihat kelima anaknya yang menelan ludah, Hasan pun meninggalkan enam ikan kecil dan membawa dua ikan besar itu pergi.

“Paman Hasan, dari mana kamu tangkap ikan sebesar itu! Satu ekor ini beratnya ada sekitar 2-3 kilo, ‘kan?”

Sony yang sedang berkeliaran di dusun menghampiri Hasan. Saat melihat dua ekor ikan yang dibawa Hasan, dia pun langsung menelan ludah. Dia sudah lama tidak makan enak.

Hasan menjawab, “Dua ekor ikan ini punya Wira, aku mau balikin ke dia!”

“Punya Wira?”

Sony tidak percaya.

Siang tadi, si Kutu Buku itu masih menggali rumput. Kenapa bisa tiba-tiba ada dua ikan besar?

Tubuh Wira sangat lemah, sedangkan ikan yang ditangkapnya sangat berat. Berhubung Wira terus berhenti untuk istirahat di sepanjang jalan, Hasan sudah menyusulnya sebelum dia sampai ke rumah.

Hasan mau mengembalikan ikannya, tetapi Wira tidak mau menerimanya. “Paman, kamu ngapain sih? Aku sudah bilang itu untukmu, kenapa dibalikin lagi?”

“Wira, Paman sudah terima ikan kecilnya. Kamu jual saja ikan yang besar untuk bayar utang.”

Hasan langsung memasukkan ikan itu ke keranjang bambu Wira.

“Paman, harga dua ikan ini juga nggak cukup bayar utang.”

Wira mengeluarkan ikannya lagi. “Kalau kamu merasa nggak enak, suruh saja Danu dan Doddy untuk bantuin aku besok. Aku jamin kelak kalian pasti bisa makan daging tiap hari!”

‘Makan daging tiap hari?’

Hasan sangat kaget.

Dia toh bukan pejabat, mana mungkin dia bisa makan daging setiap hari? Sudah bagus apabila mereka tidak kelaparan.

Namun, setelah melihat begitu banyak ikan yang Wira tangkap hari ini, Hasan pun sedikit menantikannya.

...

“Wira ke mana? Kenapa masih belum pulang? Jangan-jangan dia kabur?”

Wulan menunggu di depan pintu dengan gelisah.

Tepat pada saat hatinya kacau, dia melihat seseorang berjalan perlahan ke depan pintu.

Wulan langsung berlari menghampirinya. Saat melihat keranjang bambu yang dipenuhi ikan, Wulan langsung terkejut. Dia mengulurkan tangannya dengan maksud untuk membantu Wira. “Suamiku, kok kamu bisa punya begitu banyak ikan?”

Wira mencegah Wulan yang ingin membantunya mengangkat keranjang bambu itu, lalu berkata, “Ini terlalu berat, aku saja yang angkat!”

Wulan sangat kebingungan. Siapa yang memberi suaminya begitu banyak ikan?

Wira berkata lagi, “Malam ini, kumasakkan ikan buatmu ya!”

Wulan memaksakan seulas senyum. “Suamiku, kamu saja yang makan. Aku minum supnya saja. Besok, kita bisa bawa sisanya ke ibu kota provinsi untuk dijual!”

Wira memilih dua ekor ikan yang beratnya sekilo, lalu berkata, “Aku sudah punya cara untuk bayar utang. Nanti malam, kamu harus banyak makan. Kamu sudah terlalu kurus!”

Wulan menjadi sangat gelisah.

Suaminya bermulut manis lagi. Jadi, ikan-ikan ini pasti didapat dengan cara ilegal!

Wira membunuh dan membersihkan ikan yang akan dimasaknya. Wulan mau membantunya, tetapi Wira menyuruhnya untuk istirahat.

Tidak lama kemudian, Wira membawa dua ekor ikan yang sudah dia bersihkan ke dapur.

Namanya saja dapur, sebenarnya tempat ini hanyalah sebuah gubuk jerami yang diisi dengan kayu bakar, panci dan tungku api.

Di dalam sebuah lemari kayu, terdapat dua stoples yang berisi minyak dan garam kasar. Selain itu, juga ada lima buah mangkuk dan empat buah piring.

Di sampingnya, ada sebuah gentong besar berisi air. Di atas gentong, terletak sebuah gayung dan talenan.

Kesederhanaan tempat ini benar-benar mengejutkan Wira!

“Suamiku, kamu itu seorang pelajar. Aku saja yang masak!”

Wulan datang dengan membawa lampu minyak. Dapur yang tadinya gelap pun menjadi sedikit lebih terang.

“Nggak masalah, aku cuman mau cepat-cepat makan. Ayo nyalakan apinya!”

Wulan pun memanaskan pancinya. Kemudian, Wira menuangkan dua sendok besar minyak ke dalam panci.

“Suamiku, minyaknya terlalu banyak! Kalau begitu, minyak kita bakal cepat habis!”

Wulan sangat menyayangkan minyak yang digunakan Wira. Dua sendok besar minyak sudah cukup digunakan untuk setengah bulan.

“Kalau mau goreng ikan, minyaknya harus banyak. Gimana kalau gosong?”

Wira memasukkan kedua ekor ikan itu ke dalam panci. Suara gemericik begitu ikan masuk ke minyak panas pun terdengar. Aroma menggoreng ikan langsung menyerbak ke udara.

Gluk!

Wulan langsung menelan ludahnya.

Aroma ikan goreng yang harum juga menyerbak keluar dari dapur.

“Ikan! Keluarga Wira makan ikan! Makanan mereka bahkan lebih enak dari makanan kita waktu Tahun Baru!”

“Harum banget! Mereka pasti pakai banyak minyak!”

“Dia sudah berutang begitu banyak, kenapa masih berani makan ikan? Mana pakai begitu banyak minyak lagi! Dia memang boros banget!”

Saat mencium aroma ikan goreng yang harum, para penduduk yang melewati rumah Wira pun terlena.

Sony datang ke rumah Wira untuk mengecek apa yang dimakan Wira. Begitu mencium aroma yang harum, Sony pun kehilangan selera untuk memakan tiwul di piringnya.

Setelah menggoreng selama lima belas menit, Wira mengeluarkan garam untuk menaruh rasa.

Garam yang mereka pakai adalah garam yang belum dimurnikan. Warnanya masih sedikit kekuningan dan bercampur dengan kotoran.

Meskipun harganya tidak mahal, hanya sekitar 50 gabak untuk setegah kilogram, ada banyak penduduk yang tidak mampu membelinya.

Setelah ikannya matang, Wira menaruhnya ke piring, lalu menaburkan sedikit serpihan sayuran liar. Kemudian, dia membawanya ke meja makan.

Wira meletakkan sebuah piring berisi ikan di hadapan Wulan, lalu berkata, “Cepat makan! Nanti nggak enak kalau sudah dingin!”

Kruyuk!

Wulan sebenarnya sudah lapar, tetapi dia tetap tidak menyentuh ikan itu. Dia malah bertanya dengan berlinang air mata, “Suamiku, jujurlah padaku. Dari mana kamu dapat ikannya?”

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya