Bab 5

Sony berdiri di depan pintu rumah Wira dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.

Wira yang melihatnya pun bertanya, “Ngapain kamu berdiri di sini?”

Danu dan Doddy langsung melangkah keluar untuk mengepung Sony.

Mereka merasa Sony yang pagi-pagi datang ke rumah Kak Wira pasti berniat jahat!

Sony langsung terkejut dan buru-buru mundur. Dia berkata, “A ... aku ingin makan ikan!”

Si Sony ini benar-benar tidak tahu malu. Wira menggeleng, lalu menjawab, “Kamu datang terlambat, ikannya sudah habis!”

Sony berkata dengan cemberut, “Nanti malam masih ada, ‘kan? Asal bisa makan ikan, aku nggak masalah harus ikut banu gali rumput seharian!”

Saat berkeliaran semalam, Sony menemukan bahwa keluarga Wira dan keluarga Hasan sudah makan ikan.

Saat berkeliaran pagi ini, dia menemukan keluarga Wira makan ikan lagi bersama Hasan dan kedua putranya.

Setelah memikirkan keuntungan yang dikatakan Wira kemarin, Sony akhirnya mengerti apa yang sudah dilewatkannya. Dia sudah kehilangan dua kesempatan untuk makan ikan!

Wira berpikir sejenak, lalu berkata, “Kalau gitu, kamu harus dapatkan dua telur ayam dulu!”

Di pedesaan, ada banyak orang yang beternak ayam. Namun, mereka biasanya akan menyimpan telur untuk dijual. Mendapatkan dua biji telur bukanlah hal yang mudah.

“Oke!”

Sony langsung berbalik untuk pergi.

Setelah Sony pergi, Hasan langsung mengingatkan Wira, “Wira, telur itu cuman alasan untuk mempersulit Sony, ‘kan? Tapi orang itu benar-benar nggak tahu malu, dia mungkin bisa mendapatkan telurnya. Kalau dia juga bergabung sama kita, aku takut dia bakal bocorin teknik rahasia menangkap ikan.”

Namun, Wira malah menjawab dengan tenang, “Paman Hasan, aku butuh telur untuk tangkap ikan. Kalau dia benar-benar bisa mendapatkannya, biarkan saja dia bergabung sama kita. Toh kalau banyak orang, kerjaannya juga bisa cepat selesai!”

Menangkap ikan hanyalah masa transisi, Wira tidak berharap untuk melakukan ini selamanya.

Setelah selesai berbicara, keempat orang itu pun berangkat kerja.

Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan perempuan dari rumah Surya, “Sony! Dasar gelandangan yang cuman tahu santai-santai! Aku sudah urus makan dan minummu tiap hari, tapi kamu malah berani curi telurku! Kalau kamu hebat, jangan pulang ke rumah ini lagi! Kalau nggak, aku bakal patahkan kakimu!”

“Hehe, telurnya sudah dapat! Kalau bisa bergabung sama grup penangkap ikan Wira, nanti malam aku sudah bisa makan ikan!”

Sony berlari ke luar Dusun Darmadi untuk mencari Wira sambil membawa telur yang dia curi.

Dengan mendapatkan dua biji telur itu, Sony pun secara resmi bergabung dengan grup penangkap ikan Wira.

Pekerjaan mereka hari ini dimulai dari menggali rumput. Hasan, Danu, Doddy dan Sony bertugas untuk menggali rumput. Sementara Wira bertugas untuk mencuci rumput, lalu menghaluskannya di lesung batu.

Berhubung kerja Wira sangat lambat, tugas itu pun diambil alih oleh Danu dan Doddy.

Saat mereka bekerja sampai setengah, ada banyak penduduk dusun yang mengerumuni mereka karena penasaran. Namun, mereka hanya menonton sebentar dan langsung pergi setelah bosan.

Makan siang mereka adalah serabi sisa sarapan tadi. Hal ini membuat Sony yang ingin makan ikan menjadi sedikit kecewa.

Setelah sibuk sampai sore, mereka berlima pun menjinjing sepuluh ember yang berisi serpihan rumput ke pinggir Sungai Jinggu.

Setelah mendapat wilayah perairan yang dalam dan mempunyai banyak ikan, Wira pun memecahkan telur ke dalam tepung kedelai. Setelah itu, dia mengaduk adonan hingga rata dan menuangkannya ke dalam sungai.

Hasan dan yang lainnya sangat menyayangkan bahan yang digunakan Wira. Mereka biasanya bahkan tidak rela memakan mi telur, sekarang adonan itu malah dibuang begitu saja ke dalam sungai. Wira memang benar-benar boros!

Namun, dengan adanya telur sebagai umpan, ikan yang berenang ke arah umpan pun menjadi makin banyak!

Danu dan Doddy mendengar perintah Wira untuk menuangkan seluruh serpihan rumput ke dalam sungai.

Tidak lama kemudian, seiring dengan serpihan rumput yang menyebar, seekor demi seekor ikan pun mengapung.

Keempat orang selain Wira langsung bersemangat dan kegirangan.

Ternyata teknik rahasia Wira menangkap ikan begitu mudah dan berguna.

“Cepat tangkap ikannya! Kalau biusnya sudah habis, mereka bisa berenang lagi!” ujar Wira dengan buru-buru.

Rumput yang digunakan Wira adalah rumput pembius ikan. Rumput ini mengandung racun yang bisa membius ikan apabila digunakan dalam jumlah banyak. Di Kerajaan Nuala, masih belum ada yang menyadari kegunaan rumput ini.

Penduduk desa yang mendapatkan rumput pembius ikan biasanya juga akan membuang rumput itu ke dalam air. Namun, rumput yang belum dihancurkan tidak bisa melepaskan racun dengan sempurna. Jika tingkat racunnya tidak cukup banyak, ikannya tidak akan terbius.

Setelah mendengar ucapan Wira, semua orang pun buru-buru menangkap ikan.

Hasil yang mereka peroleh sangat banyak. Ikan besar memenuhi sepuluh ember kayu, sedangkan ikan kecil diikat ke empat batang kayu panjang dengan tumbuhan merambat.

Wira pun mulai membagi hasil. “Paman Hasan, Danu, Doddy, Sony, aku bakal jual ikan besar untuk bayar utang. Ikan kecilnya untuk kalian. Gimana?”

Sony buru-buru mengangguk.

Jumlah ikan kecil yang mereka dapatkan hari ini setidaknya ada di atas 50 kilogram. Jika dibagi, satu orang bisa mendapatkan sekitar 10-15 kilogram. Penghasilan ini sangat besar.

Namun, Hasan malah menggeleng dan berkata, “Jangan, meski ikan kecil nggak bernilai, kamu juga bisa menghasilkan paling nggak 200-300 gabak dari ikan sebanyak ini. Utangmu itu 40 ribu gabak! Meski semua ikan besarnya terjual habis, belum tentu juga kamu bisa kumpul cukup uang!”

Doddy juga melambaikan tangannya dan berkata dengan bangga, “Kak Wira, jual saja ikan kecilnya. Dua ikan besar yang kamu kasih kemarin juga jual saja. Dengan cara menangkap ikan ini, kelak kita nggak perlu takut nggak dapat makan ikan lagi!”

Danu juga mengangguk setuju, lalu menatap Sony.

Sony mencibir, “Oke, tapi aku harus bawa dua ekor ikan pulang ke rumah. Tadi pagi aku sudah curi telur kakak iparku, kalau aku nggak bawa apa-apa pulang, dia bahkan nggak bakal kasih aku tidur di kandang sapi.”

Setelah mendengar ucapan Sony, Doddy tertawa terbahak-bahak. Hasan dan Danu juga menahan tawa mereka.

Sekarang, Sony tinggal di rumah Surya. Biasanya saat meminta makan, dia akan selalu direpeti kakak iparnya dulu. Malamnya, dia juga hanya bisa tidur di kandang sapi. Jadi gelandangan memang terlihat bebas, tetapi sebenarnya sangat menderita.

“Nggak masalah. Ikan yang tersisa juga sekalian dijual saja besok. Nanti aku pasti bagi-bagi penghasilannya!”

Wira tersenyum dan mengubah topiknya, “Tapi besok, aku harus nyusahin kalian buat jual ikannya bareng lagi!”

Dusun Darmadi berjarak sekitar 20 kilometer dari ibu kota provinsi, jalannya juga sangat tidak rata. Wira tidak mungkin sanggup membawa ikan yang beratnya puluhan kilogram ke kota sendirian.

Setelah mendengar ucapan Wira, Hasan mengerutkan keningnya dan berkata, “Kita itu toh kerabat, ngapain begitu sungkan. Nanti malam, aku pergi pinjam gerobak. Sebelum fajar, kita sudah harus berangkat biar bisa jual ikannya dengan harga yang bagus!”

Kemudian, Wira berkata lagi, “Untuk sementara, jangan kasih tahu orang lain dulu soal cara tangkap ikan ini. Aku sudah punya rencana.”

Hasan mengangguk. “Aku ngerti. Rumput dan ikan di sungai juga terbatas. Makin banyak yang tahu, ikan yang bisa kita tangkap juga bakal makin dikit dan sulit!”

Sony juga mengingatkan, “Paman Hasan, aku nggak bakal kasih tahu kakakku, tapi kamu juga jangan kasih tahu Bibi Hani. Kalau nggak, nanti kakakku kasih tahu kakak iparku, terus Bibi Hani juga bisa kasih tahu keluarganya. Dengan begitu, teknik rahasia ini pasti bakal cepat tersebar! Biarpun kita bisa tetap tangkap ikan, harganya juga nggak bakal tinggi lagi. Cara tangkap ikan ini nggak boleh tersebar! Kalau kita bisa kerja begini 2-3 tahun, kita sudah bisa kaya!”

Setelah mendengar ucapan Sony, mata Danu dan Doddy langsung berbinar.

Kalau sudah kaya, mereka sudah bisa menggaji orang untuk kerja. Lagi pula, mereka juga tidak perlu takut kelaparan lagi.

Hasan mengangguk. “Kita berlima boleh kerja sama. Tapi ini teknik rahasia yang diajari Wira. Jadi, dia harus dapat keuntungan yang lebih banyak dari kita!”

Sony mengangguk setuju.

Wira memang tidak begitu banyak bekerja, tetapi ini adalah teknik rahasianya. Tanpa teknik rahasia ini, kekuatan mereka berempat juga tidak akan berguna.

Hasan berkata lagi, “Habis jual ikannya dan bayar utang, kamu lanjut belajar saja! Jangan khawatir, kami bakal tetap kasih kamu keuntungan besar dari hasil tangkap ikan. Tapi, dengan jadi pejabat baru bisa menghormati leluhur!”

Danu, Doddy, dan Sony memandang Wira dengan kagum.

Dari beberapa dusun di sekitar, Wira adalah satu-satunya pelajar yang berpeluang menjadi pejabat.

Meskipun teknik rahasia menangkap ikan ini sangat menguntungkan, bertani tetap merupakan mata pencaharian utama mereka.

Setelah mendengar perkataan mereka, Wira hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun.

Kelima orang itu pun membawa ikan yang mereka tangkap kembali ke dusun.

Baru berjalan tidak lama, Wira sudah berhenti karena rasa sakit tak tertahankan yang datang dari kedua bahunya.

Doddy pun langsung mengangkat ember yang diangkat Wira sebelumnya. Dia bisa mengangkat empat ember sendirian dan tetap berjalan dengan cepat.

Setelah kelima orang itu sampai ke Dusun Darmadi, semua warga dusun pun gempar melihat bawaan mereka dan mulai mengerumuni mereka.

“Banyak banget ikannya?”

“Pasti bisa hasilkan banyak uang, ‘kan?”

“Rumah, istri dan tanah Wira sudah terselamatkan!”

“Belum tentu! Utangnya 40 ribu gabak. Cuman jual ikan-ikan ini saja belum tentu cukup!”

“Gimana cara kalian tangkap ikan sebanyak ini?”

Semua warga dusun sangat iri. Ada yang membicarakan soal utang Wira, ada juga yang mencari tahu tentang teknik rahasia menangkap ikan.

Cara menangkap ikan tradisional adalah dengan menjala atau memancing.

Jika menangkap ikan menggunakan jala, jala yang dibuat dari tali rami gampang rusak setelah lama terendam air. Jadi, para nelayan biasanya masih harus menghabiskan banyak waktu untuk mengeringkan jala sebelum bisa menggunakannya lagi. Mereka sudah merasa beruntung apabila bisa mendapatkan beberapa ekor ikan dalam sehari.

Sementara jika menangkap ikan dengan cara memancing, tali pancingnya kurang kuat. Saat memancing ikan besar, talinya mudah putus. Jadi, cara memancing hanya bisa digunakan untuk menangkap ikan kecil.

Dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan warga, kelima orang itu hanya tersenyum tanpa menjawab.

“Wira, kalau sudah dapat begitu banyak ikan, bagi-bagi ke warga dong! Sungai Jinggu itu sungai kita semua. Kamu nggak boleh egois!”

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berjalan mendekat dengan pelan.

Pria tua ini mempunyai pipi tirus, mata sipit dan juga berjenggot. Dia memakai jubah panjang berwarna putih dan topi kain. Penampilannya terlihat berbeda dari warga dusun lainnya, lebih mirip dengan seorang pelajar.

Pria tua ini adalah Agus Darmadi, pemimpin Dusun Darmadi. Dia merupakan orang kaya yang mempunyai sekitar 20 hektar tanah.

“Benar! Ayo bagi seekor ikan buat tiap keluarga!”

Setelah mendengar ucapan pria tua itu, ada beberapa warga dusun yang juga setuju meski tidak banyak.

Wira memang menangkap banyak ikan, tetapi dia juga mempunyai utang 40 ribu gabak. Uang dari penjualan semua ikan ini juga belum tentu cukup untuk membayar utang.

Wira menatap Agus sambil mengerutkan keningnya.

Agus sudah belajar selama 40 tahun, tetapi dia bahkan tidak lulus ujian menjadi pelajar. Sementara pemilik tubuh sebelumnya sudah lulus ujian menjadi pelajar pada umur 15 tahun. Hal ini sudah membuat Agus merasa malu.

Oleh karena itu, Agus selalu menjelek-jelekkan pemilik tubuh sebelumnya. Apalagi dalam tiga tahun terakhir, Agus sudah sering mengarang cerita untuk memfitnah pemilik tubuh sebelumnya.

Setelah mengamati suasananya, Hasan berbisik pada Wira, “Pak Agus memang suka ambil keuntungan. Kasih saja dia dua ekor ikan kecil supaya dia pergi. Jangan sampai dia menghasut semua orang dan kalian jadi ribut. Nanti reputasimu bisa hancur!”

Bab 6

Namun, Wira tidak memedulikan peringatan Hasan. Dia malah berkata sambil tersenyum, “Pak Agus, bisa saja aku bagi ikannya untukmu, tapi kamu juga harus tanggung sedikit utangku! Kalau nggak mau bantu aku tanggung utangnya, kamu boleh bagi sedikit tanahmu padaku. Soalnya, tanahku juga sudah dijadikan jaminan."

"Dasar anak tak tahu diri!”

Selesai berbicara, Agus pun pergi dengan marah.

Dia hanya menginginkan seekor ikan Wira, tetapi Wira malah menyuruhnya untuk bantu menanggung utang dan juga meminta tanahnya. Kenapa si Pemboros itu begitu tidak tahu malu!

“Pak Agus, jangan pergi! Aku cuman bercanda. Jangan marah, dong!” teriak Wira.

Ikan yang didapatkan Wira hari ini sangat banyak. Dia tidak akan menolak siapa pun yang meminta ikan padanya. Namun, dia tidak akan menerima orang yang menuntut sesuatu dengan alasan yang tidak masuk akal.

Agus sudah marah. Setelah mendengar ucapan Wira, dia juga tidak menoleh.

Warga yang mengerti maksud Wira pun tertawa terbahak-bahak.

Setelah itu, Wira pun berkata, “Para warga sekalian, kalian juga tahu soal masalahku. Aku harus menjual ikan-ikan ini untuk bayar utang. Jadi, aku nggak bisa bagi ikannya hari ini. Tapi habis aku lewati rintangan ini, aku pasti bakal bagi-bagi ikan buat kalian semua!”

Setelah mendengar ucapan Wira, semua warga pun bubar dengan perasaan gembira.

Meskipun mereka juga hidup susah, setidaknya mereka tidak mempunyai utang sebanyak 40 ribu gabak.

Selain orang yang berhati jahat, mana ada orang yang tega mengambil keuntungan dari Wira pada saat-saat seperti ini.

Setelah melihat tindakan Wira, Hasan juga mengangguk pelan.

Hubungan sesama warga sangat penting. Cara Wira menyelesaikan masalah ini sangat bagus. Meskipun tidak membagi ikan kepada para warga, dia juga tidak menyinggung mereka.

Setelah semua orang bubar, mereka berlima pun melanjutkan perjalanan ke rumah Wira.

“Ikannya banyak banget!”

Saat melihat sepuluh ember ikan yang dibawa pulang Wira, Wulan sangat terkejut. Dia menatap Wira dengan berlinang air mata.

Ternyata suaminya memang punya teknik rahasia menangkap ikan. Dia benar-benar punya cara untuk bayar utang.

“Gadis bodoh, untuk apa kamu nangis!”

Wira menyeka air mata di wajah Wulan, lalu berkata dengan lembut, “Cepat buat serabi lagi. Malam ini, kita masih bisa makan ikan.”

“Emm!”

Setelah menerima perlakuan lembut Wira, Wulan pun tersipu. Dia menjawab dengan suara kecil, lalu buru-buru berlari ke dapur.

Danu, Doddy dan Sony sangat iri. Di seluruh Kabupaten Uswal, tidak ada wanita yang bisa menandingi kecantikan istri Wira.

“Wira, kami sudah sarapan di rumahmu tadi pagi. Malam ini, kita makan di rumah saja.”

Selesai berbicara, Hasan menuangkan semua ikannya ke gentong air, lalu melambaikan tangan kepada kedua putranya.

Danu dan Doddy sebenarnya masih ingin makan ikan, tetapi mereka juga langsung pergi tanpa ragu. Mereka sudah puas bisa dapat makan ikan pagi tadi.

“Benar, ayo pulang!”

Sony juga malu untuk tinggal setelah melihat ketiga orang itu pergi.

Namun, Wira malah menghentikan mereka. “Jangan pergi dulu! Selain makan, masih ada kerjaan lain!”

Hasan pun menghentikan langkah kakinya. “Kerjaan apa?”

Wira berjalan ke depan gentong yang berisi ikan yang dia tangkap kemarin, lalu berkata, “Bantu aku ikat ikannya jadi begini!”

Begitu melihat ke dalam gentong air, keempat orang itu pun terkejut.

Kepala dan ekor ikan yang ada di dalam gentong air diikat membentuk busur dengan tali rami, sedangkan insang mereka mengapung di atas air. Namun, semua ikannya masih hidup!

Biasanya, ikan yang ditangkap dari sungai akan mati setelah dibiarkan selama beberapa jam. Akan tetapi, ikan yang ditangkap Wira kemarin malah masih hidup sampai sekarang.

Wulan yang berada di dapur juga penasaran.

Wira pun menjelaskan, “Ini namanya ‘Teknik Busur Ikan’. Kalau kepala dan ekornya diikat begini, oksigen yang dihirup insang bisa lebih banyak. Jadi, biarpun cuman ada sedikit air, ikannya juga nggak bakal mati karena kekurangan oksigen!”

‘Kekurangan oksigen?’

Keempat orang itu terlihat bingung, tetapi juga sangat gembira.

Mereka tidak mengerti arti oksigen, tetapi mereka mengetahui dengan jelas perbedaan harga ikan yang masih hidup dan yang sudah mati.

Hasan langsung menjawab sambil melambaikan tangannya, “Kalau gitu, kita langsung ikat saja sekarang. Nggak bakal lama kok, buat apa makan lagi!”

Wira berkata sambil tersenyum, “Teknik Busur Ikan harus dilakukan dua kali. Pertama-tama, kita ikat dulu ekornya. Setelah lewat dua jam, kotoran di dalam tubuh ikan bakal keluar. Habis itu, kita baru buka ikatan ekornya untuk ikat lubang pengeluarannya. Dengan begitu, daging ikannya bisa jadi lebih segar dan empuk.”

Keempat orang itu memperhatikan ekor ikan dengan saksama, ternyata memang ada bekas dua ikatan.

Doddy langsung berkata dengan kagum, “Kak Wira, kenapa kamu bisa mengerti begitu banyak teknik yang luar biasa?”

“Memangnya masih perlu tanya?” Sony langsung berkata dengan penuh percaya diri, “Wira itu seorang pelajar. Dia pasti belajar soal teknik rahasia menangkap ikan dan Teknik Busur Ikan dari buku. Wira, betul, ‘kan?”

Wira tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Kamu memang pintar!”

“Hehe!” Sony langsung merasa bangga karena dipuji seorang sarjana.

Saat mereka selesai mengikat ikan, makan malam mereka juga sudah siap.

Serabi yang hangat dan ikan goreng sudah disajikan di ruang utama.

Wulan tetap makan di dalam dapur. Pada zaman ini, wanita biasanya tidak makan dengan duduk di meja.

Setelah bekerja seharian, kelima pria itu pun menyantap makanan mereka dengan lahap.

Meskipun ini sudah ketiga kalinya Hasan, Danu dan Doddy menyantap ikan dalam dua hari ini, mereka masih terlihat sangat bersemangat.

Sony yang sudah ingin makan ikan selama dua hari juga makan dengan lahap. Namun, dia tiba-tiba menangis.

Wira pun buru-buru bertanya, “Sony, kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Kak Wira!”

Doddy berkata dengan terus terang, “Semalam, kami sekeluarga juga makan sambil nangis. Soalnya sudah lama banget kami nggak makan daging.”

Begitu mendengar ucapan Doddy, Hasan langsung memelototinya.

Doddy pun buru-buru menunduk dan lanjut memakan ikannya dalam diam.

“Aku teringat orang tuaku!” Sony menyeka air matanya, lalu lanjut berkata, “Sebelum mereka meninggal, aku tanya mereka pengin makan apa. Mereka bilang pengin makan daging. Soalnya mereka belum pernah benar-benar menikmati daging. Mereka pengin tahu gimana rasanya makan daging sampai kenyang! Awalnya, aku kira aku bakal seperti orang tuaku. Aku nggak nyangka hari ini aku bisa makan daging sampai puas .... Huhuhu!”

Sony menggigit serabi dan memasukkan sepotong besar ikan ke dalam mulutnya. Dia makan sambil menangis, seolah-olah sudah gila.

Hasan, Danu dan Doddy tidak menertawakannya. Ekspresi mereka juga terlihat sedih.

Warga desa tidak mempunyai banyak penghasilan, tetapi harus membayar pajak dan kerja rodi. Jangankan makan daging sampai kenyang, bahkan ada banyak warga desa yang tidak pernah makan kenyang seumur hidupnya.

Namun, hidup mereka akan berubah setelah mengetahui teknik rahasia menangkap ikan.

“Sudah dua jam, aku pergi ikat ikan dulu!”

Selesai berbicara, Hasan pun pergi mengikat ikan. Danu juga diam-diam mengikutinya.

“Malu-maluin saja!”

Sony menyeka air matanya sambil membereskan peralatan makan mereka. Doddy juga membantunya.

Saat melihat keempat orang yang sedang sibuk itu, Wira merasa sangat sedih.

Mereka adalah orang yang paling rajin di era ini, tetapi juga merupakan orang yang paling miskin dan menderita di era ini. Mereka sudah melakukan upaya yang sangat besar dan melakukan pekerjaan terberat di dunia ini, tetapi mereka tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar.

Setelah selesai mengikat ikan, mereka berempat pun pulang ke rumah masing-masing.

Sony pulang ke rumah Kak Surya dan mengetuk pintu.

Begitu membuka pintu, istri Kak Surya yang bernama Sinta itu berteriak sambil memegang sapu, “Dasar pecundang! Sudah curi telurku masih berani pu .... Ah!”

“Nih!”

Selama ini, Sony hanya bisa diam saat dimaki kakak iparnya. Sekarang, dia bisa dengan bangga melemparkan kedua ekor ikan kecil itu ke dalam rumah mereka.

Dua ekor ikan hidup yang beratnya masing-masing sekilo itu menggelepar di atas lantai.

Sinta buru-buru menangkap kedua ekor ikan itu, lalu sikapnya terhadap Sony juga langsung berubah. “Sony, kenapa malam banget pulangnya? Sudah makan belum? Sini kubuatin serabi.”

“Nggak usah, aku sudah kenyang makan daging!”

Setelah itu, Sony berjalan dengan lambat ke kandang sapi sambil berkata, “Keluarkan baju dan sepatu baru Kakak, besok aku mau ke kota. Kelak, selama ada aku di rumah, keluarga kita bisa makan daging tiap hari!”

“Apa?” Sinta langsung tercengang. Omong kosong apa yang sedang dibicarakan Sony? Bahkan pemimpin kabupaten juga belum tentu bisa makan daging setiap hari.

Sony berbaring di dalam kandang sapi dan menyelimuti dirinya denagn sebuah selimut yang sudah robek. Di sampingnya, ada seekor sapi tua yang sedang mengunyah rumput. Dia menatap bintang di langit sambil bergumam, “Ayah, Ibu, putra kalian sudah bangkit. Aku bakal jadi orang sukses! Kalian pantau saja aku dari langit! Tahun Baru nanti, aku bakal persembahkan daging untuk kalian!”

Di sisi lain, Wira dan Wulan sudah selesai mandi. Mereka sama-sama tidur di ranjang, tetapi tetap menggunakan selimut masing-masing.

Wira belum tidur, tetapi juga tidak memikirkan hal mesum. Dia hanya termenung sambil menatap langit-langit yang gelap.

Wulan bertanya dengan hati-hati, “Suamiku, kamu lagi sedih?”

“Sedikit!”

Wira bertanya, “Wulan, menurutmu dunia ini bisa berubah nggak? Berubah jadi dunia di mana semua orang bisa makan kenyang, punya baju, nggak ngidam daging lagi. Anak-anak juga bisa belajar, sedangkan orang yang sakit bisa berobat. Semua orang nggak perlu khawatir soal kekacauan lagi!”

“Nggak bisa!” Setelah terdiam sesaat, Wulan mengatakan alasannya, “Suamiku, yang kamu bilang itu persatuan dunia yang belum bisa tercapai sampai sekarang!”

Wira tersenyum masam dan menjawab, “Benar juga. Dengan teknologi dan produktivitas zaman ini, mana mungkin persatuan dunia bisa tercapai!”

‘Teknologi?’ Wulan sangat kebingungan. Dia tertegun sejenak, lalu berbisik, “Suamiku, kamu sudah berubah jadi kayak orang lain!”

Wira langsung terkejut, “Apanya yang berubah?”

Wulan menjawab dengan suara kecil, “Dulu, kamu sama sekali nggak peduli sama kerabat jauh seperti Paman Hasan, Danu, Doddy dan Sony. Sekarang, kamu malah begitu baik terhadap mereka dan sudah nggak merendahkan mereka lagi. Dulu, kamu juga memandang rendah kepala desa seperti Pak Budi, tapi malah takut banget sama mereka. Sekarang, kamu nggak peduli lagi sama mereka. Kamu sudah berubah. Sekarang, kamu memperlakukan orang sebagaimana mereka memperlakukanmu.”

Wira sangat terkejut akan pengamatan Wulan yang begitu cermat. Dia pun bertanya, “Apa kamu suka sama aku yang sekarang?”

“Emm!”

“Ayo masuk ke dalam selimutku!”

Bab 7

“Baik, suamiku!”

“Jangan panggil suamiku, panggil sayang saja!”

“Nggak bisa!”

“Kenapa?”

“Sayang itu panggilan yang terlalu mesra! Kamu baru berubah jadi baik sama aku dua hari belakangan, aku masih belum siap panggil kamu begitu.”

“Oh ....”

Berhubung takut membuat suaminya marah, Wulan pun mengalihkan pembicaraan, “Omong-omong, pernah ada seorang peramal yang datang ke rumahku waktu aku masih kecil. Dia bilang, aku bisa jadi istri pejabat ke depannya.”

“Istri pejabat?”

“Suamiku, jangan marah. Ramalan peramal itu pasti nggak tepat, mana mungkin aku bisa jadi istri pejabat! Selama kamu menginginkanku, aku bakal menemanimu seumur hidup.”

...

Keesokan dini hari, Hasan dan yang lainnya sudah sampai ke rumah Wira. Setelah menaruh seluruh ember berisi ikan ke atas gerobak, kelima orang itu pun berangkat ke ibu kota provinsi.

Sebelum mereka berangkat, Wulan menyerahkan sebuah kantong kain merah kepada Wira, “Suamiku, kalau uang menjual ikan nggak cukup, gadaikan saja gelang ini! Kalau masih nggak cukup, aku bakal cari kakakku. Dia nggak mungkin nggak peduli padaku.”

“Jaga rumah baik-baik, ya! Tunggu aku pulang!” Wira memasukkan gelang itu ke dalam sakunya. Setelah merapikan rambut Wulan, dia pun berpamitan dengan Wulan dan berangkat ke ibu kota provinsi.

Wulan memegang wajahnya yang tersentuh jari Wira sambil tersipu.

Semalam, kedua orang itu masih belum berhubungan. Mereka hanya berpelukan sambil mengobrol. Akan tetapi, dia sangat menyukai sifat suaminya sekarang.

Sekarang, Wira sangat lembut, perhatian dan baik hati. Meskipun mereka tidak berhubungan selamanya, Wulan sudah merasa senang bisa mempunyai suami seperti ini.

Danu dan Sony berjalan di depan untuk membawa jalan, sedangkan Hasan berjalan di tengah sambil menarik gerobak. Wira dan Doddy berjalan di paling belakang.

Di zaman ini, dunia masih belum aman. Apalagi di malam hari, ada banyak perampok dan bandit yang sering berkeliaran.

Jalanannya juga tidak rata dan berlubang. Jika tidak hati-hati, gerobak mereka bisa masuk ke lubang yang dalam.

Hasan sudah sering melakukan perjalanan di malam hari. Jadi, perjalanan mereka kali ini juga lancar-lancar saja.

Langit berangsur-angsur cerah, kota yang berada di kejauhan pun muncul di hadapan mereka.

Saat berjalan, Doddy tiba-tiba berbisik, “Kak Wira, bantu aku ganti nama, dong!”

Mendengar permintaan Doddy, Wira pun kebingungan.

Doddy mengeluh, “Di dusun kita, orang yang namanya Doddy terlalu banyak. Aku mau kayak Ayah, suruh orang bantu ganti nama. Dulu, nama ayah Wasan, sekarang sudah jadi Hasan. Lebih enak didengar, ‘kan? Kak Wira, kamu itu orang yang berpendidikan dan tahu banyak hal. Bantu aku ganti nama, dong!”

Di Dusun Darmadi memang ada banyak orang yang bernama Doddy. Wira pun tersenyum dan menjawab, “Kamu paling pengin buat apa?”

Setelah mengintip punggung ayahnya, Doddy menjawab dengan suara kecil, “Kak Wira, aku mau bergabung dengan militer. Aku mau basmi Bangsa Agrel biar bisa mendapatkan kembali tanah kita yang direbut mereka.”

Setelah mendengar jawaban Doddy, Wira pun terdiam.

Bangsa Agrel dan Kerajaan Nuala sudah berperang ratusan tahun. Mereka sudah berhasil merebut sepertiga tanah Kerajaan Nuala. Wira tidak menyangka Doddy yang hidup miskin malah mempunyai pemikiran seperti itu. Setelah tertegun sesaat, Wira pun menjawab, “Kalau gitu, Zabran saja!”

Doddy langsung panik, “Zabran? Kedengarannya kayak zebra. Zebra itu mangsa, bukan pemangsa. Nggak mau ah, kurang bagus. Kak Wira, ganti yang lebih enak didengar, dong!”

Setelah melihat reaksi Doddy, Wira pun merasa lucu. “Zabran itu artinya kuat dan mampu. Bukannya kamu mau membasmi musuh? Kamu harus kuat dan mampu, dong!”

“Ah, begitu!”

Doddy langsung berseru gembira, “Zabran, Zabran Darmadi! Keren juga, ya! Makasih, Kak Wira. Mulai sekarang namaku Zabran, bukan Doddy lagi! Yang manggil Doddy nggak bakal kusahut!”

Wira mengerjainya, “Doddy?”

Doddy langsung menoleh dan menjawab, “Ada apa, Kak Wira?”

Wira langsung tertawa terbahak-bahak, “Hahaha!”

Doddy masih belum mengerti kenapa Wira bereaksi seperti itu. Setelah sesaat, dia baru berkata dengan malu, “Selain Kak Wira, aku nggak bakal nyahut siapa pun yang panggil aku Doddy!”

Hasan yang berjalan di depan berseru, “Doddy, datang kemari dulu!”

“Oke!”

Doddy berjalan maju dengan muka masam sambil membatin, ‘Selain Kak Wira dan Ayah, aku nggak bakal nyahut siapa pun yang panggil aku Doddy!’

Danu berkata, “Doddy, kamu bantu Ayah tarik gerobaknya dulu. Aku saja yang temani Kak Wira!”

Doddy terdiam, lalu berkata dengan kesal, “Ya sudah, tambah satu orang lagi deh!”

Danu yang terlihat serius berjalan ke belakang gerobak, lalu berkata dengan malu, “Kak Wira, aku juga mau ganti nama.”

Wira berkata sambil tersenyum, “Kamu pengin buat apa?”

Danu berbisik, “Aku nggak mau masuk militer, tapi aku suka bela diri. Ayah bilang berlatih bela diri itu menghabiskan banyak energi, tubuhku nggak bakal tahan kalau kelaparan. Sementara dulu, kami selalu kurang makan. Jadi, aku nggak bisa latihan dengan baik!”

Mata Wira langsung berbinar setelah mendengarnya. “Kamu pernah berlatih bela diri? Siapa yang ajarin? Kamu bisa sekaligus hadapi berapa orang?”

Danu menggaruk kepalanya dan berkata dengan malu, “Ayah pernah ajari beberapa teknik militer. Aku juga cuman pernah mukul Doddy!”

Kakak yang memukul adiknya mana mungkin pakai kekuatan penuh. Wira pun bercanda, “Kalau berlatih bela diri, kamu harus berlatih sampai jadi yang paling kuat. Gimana kalau namamu ‘Satriya’ saja?”

Danu langsung terkejut, “Ah! Kak Wira, aku nggak sanggup terima nama yang artinya sedalam itu!”

Wira menepuk bahu Danu sambil berkata, “Percaya saja sama diri sendiri. Tetapkan tujuanmu, lalu berusaha capai tujuan itu. Ini bisa menyemangati dirimu sendiri!”

“Satriya Darmadi, Satriya. Emm!”

Setelah bergumam beberapa kali, Danu pun mengangguk. Semangat juang mulai memenuhi tatapannya!

Setelah beberapa saat, Sony juga mendekati Wira sambil menyeringai. “Kak Wira, nama Sony biasa banget. Aku juga mau ganti nama!”

Wira mendengus, “Arti namamu itu pembawa berkah, mana biasa?”

Setelah mendengar ucapan Wira, Sony pun menjadi bersemangat. “Habis dengar ucapan Kak Wira, aku jadi merasa namaku sudah berbeda. Kayak jadi lebih berkelas! Kak Wira memang berwawasan luas! Makasih!”

Biasanya, pemilik tubuh sebelumnya selalu naik kereta sapi untuk pergi ke ibu kota provinsi. Dia tidak pernah berjalan sejauh 20 kilometer.

Belum sampai setengah jalan, Wira sudah tidak sanggup berjalan lagi. Dia mau tak mau harus duduk di atas gerobak.

Namun, Hasan, Danu dan Doddy masih berjalan dengan lincah. Bahkan Sony juga masih terlihat energik. Energi mereka benar-benar di luar jangkauan orang dari era teknologi!

Setelah beberapa saat, mereka berlima pun tiba di ibu kota provinsi. Tembok kota mengelilingi sebuah menara yang tingginya sekitar tiga meter. Di atas menara, berdiri para prajurit yang bersenjata.

Di luar dan dalam tembok kota, terdapat dua baris prajurit yang bersenjata dan dua penjaga yang duduk di balik meja.

Danu, Doddy dan Sony memandang ke arah menara dengan wajah terkejut, sedangkan Hasan malah tidak menunjukkan reaksi apa pun.

“Gerobak menjual ikan harus bayar 100 gabak untuk masuk ke kota!” kata prajurit penjaga pintu setelah memeriksa gerobak mereka.

Wira pun membayar uang dengan terpaksa.

Pemilik tubuh sebelumnya sering datang ke ibu kota provinsi. Jadi, dia tahu harus membayar uang masuk apabila mau berjualan di kota. Biaya yang harus dibayar tergantung pada barang apa yang mereka bawa. Dulu, membawa masuk segerobak ikan hanya perlu membayar 50 gabak.

Bulan lalu, pemimpin kabupaten baru diganti. Biaya masuk kota pun meningkat hingga dua kali lipat.

Setelah menerima bayaran dari Wira, prajurit penjaga baru membiarkan mereka masuk.

Di dalam kota, ada beberapa rumah bertingkat dua yang terbuat dari batu bata.

Setelah melihatnya, Wira sedikit kecewa. Situasi di dalam kota bahkan lebih buruk dari desa di kehidupan lampaunya.

Namun, para penduduk kota memakai pakaian yang jauh lebih bagus dan bercorak daripada penduduk Dusun Darmadi.

Danu, Doddy dan Sony terlihat bersemangat, seolah-olah sudah memasuki dunia baru.

Ada banyak penduduk dusun yang mungkin tidak pernah keluar dari dusun seumur hidup mereka. Jangan ibu kota provinsi, mereka mungkin juga jarang pergi ke pusat desa atau kota kecil. Jadi, orang yang pernah datang ke ibu kota provinsi selalu merasa sangat bangga.

Kelima orang itu mendorong gerobak mereka ke pasar daging yang berada di sebelah timur kota.

Setelah sampai di depan pasar, Hasan berkata, “Aku nggak tahu harga pasaran ikan. Harus pergi cari tahu dulu nih.”

Wira menatap ke arah Danu, Doddy dan Sony. Doddy menggaruk kepalanya dengan kebingungan, sedangkan Danu juga terlihat sedikit takut.

Sony pun maju dengan percaya diri, “Serahkan hal ini padaku.”

Tidak lama kemudian, Sony kembali dan menjelaskan tentang pajak penjualan dan harga ikan dengan jelas.

Harga pajak penjualannya sepuluh persen. Seekor ikan kecil yang beratnya di bawah 500 gram harganya 20 gabak, yang beratnya sekitar sekilo harganya 30 gabak. Ikan yang beratnya di atas 1,5 kilogram bisa dijual 40 gabak, yang beratnya 1,5-4 kilogram bisa dijual 50 gabak, sedangkan yang beratnya di atas 4 kilogram bisa dijual 60 gabak.

Namun, itu adalah harga ikan yang sudah mati. Jika ikannya masih hidup, harganya bisa ditambah 20 gabak dari harga sebelumnya.

Kelima orang itu pun masuk ke Pasar Timur, lalu hendak mencari kios dan mulai berjualan.

Sebelum mereka sempat berjualan, empat orang yang terlihat galak tiba-tiba mengerumuni gerobak mereka.

Salah seorang dari mereka yang berbadan kekar dan berwajah galak menyilangkan tangannya lalu mencibir, “Sudah sampai Pasar Timur bukannya beri hormat ke pemilik tanah dulu sebelum berjualan. Berani banget kalian!”

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya