Bab 2

Saat aku mengirimkan pesan terakhir itu, tanganku bergetar hebat, perasaan yang tidak bisa dijelaskan juga meluap dalam hatiku.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada satu hari di mana aku akan mengirimkan pesan-pesan seperti ini pada seorang wanita asing.

Wanita itu membalas: "Kalau kamu mau tahu kebenarannya, datanglah ke Royal Garden."

Begitu aku membaca pesan ini, aku langsung bangun dan bersiap-siap. Kemudian, aku mengambil setelan pakaian acak dari lemari baju dan berganti pakaian, lalu bergegas menuju ke Royal Garden.

Di sepanjang perjalanan, aku merasa sangat gelisah. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan di tempat itu.

Aku mungkin ingin bergegas mendapatkan sebuah jawaban karena aku takut Stevan mengkhianatiku.

Baru saja aku turun dari taksi, aku langsung melihat seorang wanita yang berjalan keluar sambil merangkul lengan Stevan.

Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang bagus, wajahnya yang cantik terlihat sangat muda, sekujur tubuhnya juga memancarkan energi muda.

Stevan yang berada di sampingnya mengucapkan sesuatu, sehingga wanita itu tersenyum dengan genit.

Bagiku, adegan ini benar-benar sangat mengganggu.

Aku menerjang ke arah mereka dan membentangkan kedua tanganku untuk menghalangi jalan mereka.

Aku seharusnya langsung menginterogasi Stevan, tetapi suaraku malah bergetar. "Kalian lagi ngapain?!"

Stevan yang jalannya dihalangi pun mengernyit. Saat dia melihatku, tatapannya penuh akan keterkejutan ... bercampur dengan kejengkelan.

Sedangkan wanita di sisinya mengangkat alisnya dengan provokatif.

Stevan menarik wanita itu ke belakangnya dan bertanya dengan nada kesal, "Kenapa kamu bisa datang ke sini?"

Namun, aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan berseru, "Dia siapa?"

Tanpa menjawab pertanyaanku, Stevan malah mendorongku dengan sangat kesal.

"Untuk apa kamu datang ke sini? Kamu nggak seharusnya berada ke sini," katanya.

Aku hampir menggila karena Stevan mendorongku, sehingga aku juga langsung mendorongnya.

"Kutanya, dia siapa?!"

Aku berteriak dengan sekuat tenaga, hingga kata terakhir yang keluar dari mulutku melengking. Sedangkan Stevan juga terhuyung-huyung karena doronganku.

Dia berkata, "Kamu sudah gila, ya? Lihatlah dirimu sekarang. Kamu nggak tahu malu, ya?!"

Aku tercengang dan hanya bisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Namun, dia sama sekali tidak melihatku.

Tanpa ragu-ragu, Stevan menggenggam tangan wanita itu dan pergi ke mobilnya. Setelah menunggu wanita itu duduk dengan baik di jok penumpang, dia menyalakan mesin mobil dan pergi begitu saja.

Aku berdiri diam di tempat. Aku hanya merasa seakan-akan darah dalam sekujur tubuhku membeku.

Aku mengeluarkan ponselku dan terkejut melihat wajahku yang lelah, sepasang mataku yang hampa dan rambutku yang berantakan karena tidak tidur semalaman.

Aku berjalan pulang dengan linglung. Setibanya di rumah, Stevan masih belum pulang.

Kepalaku pusing. Setelah berjalan sangat lama, telapak kakiku melepuh. Kakiku, begitu pula dengan sekujur tubuhku, semuanya terasa sangat sakit.

Aku meringkuk di atas sofa dan melihat ke depan. Tanaman hijau di atas meja pun menarik perhatianku.

Stevan-lah yang membeli tanaman itu untuk menyenangkan hatiku. Dia berkata, "Tanaman sukulen sangat kuat, seperti kamu yang tumbuh besar dengan kuat."

Setelah tidak disiram selama beberapa hari, tanaman ini sudah agak layu dan mulai menunjukkan tanda-tanda kematian.

Karena rasa sakit ini, aku tiba-tiba merindukan ibuku.

Pada masa kecilku, saat aku tidak bisa tidur, ibuku akan memelukku dan menceritakan kisah-kisah padaku. Dalam pelukan ibuku, aku selalu bisa tidur dengan lelap.

Aku merindukan pelukan ibuku.

Aku pun mengirimkan pesan pada ibuku untuk bertanya apakah Ibu bisa pulang untuk beberapa hari. Aku tidak ingin tinggal di tempatnya Stevan lagi.

Pesan itu segera dibalas. Aku membuka pesan dari ibuku dengan senang hati dan membacanya dengan perlahan, dengan bantuan cahaya yang menyinari ruang tamu melalui celah tirai jendela. Namun, kesenanganku berubah menjadi kekecewaan dan senyuman di wajahku perlahan menjadi datar.

Ibuku menyuruhku untuk bersikap patuh. Kata Ibu, Stevan tampan dan andal, juga terlalu baik untukku. Jadi, Ibu menyuruhku untuk menjaga sikapku dan menjaga keluargaku dengan baik.

Ibuku menyuruhku untuk menjaga sikapku. Jika ada perselisihan dengan Stevan, kami harus membicarakannya dengan baik. "Namanya saja hidup, nggak mungkin nggak berantem," kata Ibu.

Ibu juga berkata, jika Stevan membuatku marah, aku harus lebih bermurah hati karena semua lelaki tetap akan melakukan kesalahan.

Bab 3

Namun, Ibu sudah lupa. Dulu, saat aku menikah, Ibu menggenggam tanganku sambil mengingatkanku agar aku memberitahunya jika aku dianiaya. Ibu berkata bahwa Ibu pasti akan membela diriku.

'Ibu, aku benar-benar sangat sedih ....' pikirku.

'Bagaimana aku harus bermurah hati dan memaafkan kesalahan Stevan?'

Aku memeluk diriku sendiri dan akhirnya terlelap.

Saat aku bangun tidur, hari sudah malam, ruang tamu ini gelap gulita.

Sheila Norman, sahabatku, tiba-tiba menghubungiku. Aku tercengang sejenak sebelum menerima panggilan itu.

"Halo? Nana, kamu lagi di mana?"

Begitu aku menerima panggilannya, aku langsung mendengar suara Sheila.

Aku menjawab dengan pelan, "Di rumah."

"Stevan nggak di rumah, ya?" tanya Sheila.

"Iya."

Suara Sheila tiba-tiba melengking. "Tahukah kamu siapa yang aku lihat barusan?!"

Sebelum aku bisa menjawab, dia langsung berseru, "Aku melihat Stevan!"

"Dia sedang bersama seorang wanita muda. Tapi, yang terpenting adalah, dia menghabiskan banyak uang dan membelikan banyak barang untuk wanita itu!"

"Jangan-jangan dia selingkuh?!"

Menghabiskan banyak uang? Aku tiba-tiba teringat bahwa Stevan sudah lama sekali tidak membelikan apa pun untukku.

"Iya," jawabku.

Suaraku sangat pelan, sedangkan Sheila terus berteriak dengan terkejut.

"Apa?! Dasar bajingan! Kalian baru menikah, tapi dia malah berani-beraninya selingkuh! Biar kuhajar dia!"

Mendengar napas Sheila yang kasar karena amarahnya, aku hanya tertawa sambil berpikir, 'Syukurlah, di dunia ini, masih ada yang menyayangiku.'

Aku pun berkata, "Jangan, jangan cari dia. Aku akan cari waktu untuk bercerai dengannya."

"Nana, kamu pasti sangat sedih, 'kan? Bagaimana kalau aku pergi menemanimu?" tanya Sheila.

Aku pun menghibur Sheila dengan tenang. "Jangan datang, sudah malam. Cepat pergi istirahat, deh."

Sebenarnya, bagaimana mungkin aku tidak ingin ditemani oleh orang lain?

Hanya saja, sekarang, sahabatku sudah berkeluarga, anaknya juga baru sebulan, aku tidak mungkin menyuruhnya untuk meninggalkan anaknya dan menemaniku untuk satu malam.

"Aku baru tanya suamiku, wanita selingkuhan itu muridnya Stevan!" seru Sheila lagi.

"Dasar mesum, bisa-bisanya dia menggoda muridnya sendiri!"

Suaminya Sheila adalah teman dekatnya Stevan, jadi wajar saja jika dia mengetahui hal ini. Namun, aku tidak menyangka bahwa Stevan akan berselingkuh dengan muridnya sendiri.

Stevan bekerja sebagai seorang profesor di universitas. Karena ketampanannya, ada banyak murid yang menyatakan perasaan mereka padanya. Namun, dia selalu memisahkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaannya dengan sangat jelas, dia tidak pernah berhubungan dekat dengan muridnya. Tak disangka, dia akhirnya melanggar prinsipnya sendiri.

"Namanya Rachel Lowie, dia lumayan terkenal di kelas mereka ...."

Sheila masih terus melaporkan informasi yang dia dapatkan padaku, tetapi aku tidak ingin mendengarnya lagi.

Pada saat ini, notifikasi pembayaran mulai bermunculan di ponselku. Melihat jumlah pengeluaran itu, aku mengernyit karena totalnya sudah setara dengan pengeluaran tahunan kami.

Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku pun menghubungi Stevan.

Setelah sekian lama, hingga aku sudah mengira bahwa Stevan tidak akan menerima panggilanku lagi, dia menerimanya.

Dari ujung telepon lainnya, dia bertanya dengan dingin, "Halo? Ada apa?"

Aku menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Kamu beli barang untuknya dengan uang kita?"

Dia terdiam sejenak, lalu menjawab dengan cuek, "Iya."

Aku pun mengernyit dan berkata dengan kesal, "Atas dasar apa kamu beli barang untuk wanita lain dengan uangku? Stevan, kamu tahu, nggak, kamu sekarang suami siapa?"

"Uangmu? Sudah berapa lama kamu nggak kerja? Bukankah harus aku yang menghidupimu, ya? Jadi, terserah aku mau beli barang untuk siapa pun dengan uangku sendiri," kata Stevan.

Dengan suara bergetar, aku berkata, "Kita sudah menikah. Sekarang, seluruh harta kita milik bersama."

Awal tahun ini, kinerja perusahaan tempat aku bekerja kurang bagus. Bosku selalu melakukan eksploitasi tenaga kerja. Satu orang dari kami dipekerjakan layaknya tiga orang dan sering bekerja lembur, tanpa sedikit pun kenaikan gaji. Aku bertahan selama sebulan sebelum akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan.

Bab 4

Aku masih ingat, saat aku mengundurkan diri, aku merasa sangat gelisah karena aku tidak lagi memiliki sumber penghasilan apa pun, jumlah tabunganku pun tidak banyak.

Melihatku seperti itu, Stevan memelukku dan mengelus kepalaku dengan lembut.

Dia berkata, "Jangan lakukan pekerjaan yang membuatmu nggak senang. Jangan bersedih, ya. Aku suamimu, jadi milikku adalah milikmu. Aku akan berusaha keras untuk mendapatkan uang dan menghidupi keluarga kita. Aku akan menjadi pendukung terkuatmu selamanya."

Pada saat itu, aku sangat memercayainya sehingga aku merasa lebih tenang. Aku menjaganya dan memasakkan sarapan untuknya setiap hari.

Namun, sekarang, perihal pengangguranku menjadi senjata baginya untuk menyerangku.

Dari ujung telepon lainnya, dia berkata dengan kesal, "Kalau begitu, ayo bercerai."

Aku seketika tersentak. Ponselku terlepas dari tanganku dan terjatuh ke lantai, mengeluarkan suara teredam.

Aku sama sekali tidak pernah memikirkan perceraian dengan Stevan ....

Setelah perpisahan yang buruk itu, aku tidak lagi saling menghubungi dengan Stevan.

Dia memblokirku dari rekening bank itu.

Sedangkan kondisi kesehatanku memburuk. Rambutku terus-menerus rontok. Aku merasa sangat lelah, tetapi aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Jadi, aku mengira bahwa aku mungkin terkena flu.

Aku pun pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan rontgen. Namun, dokter malah menyuruhku untuk melakukan pemeriksaan otak dengan CT Scan. Aku merasa sangat panik dan kebingungan.

Setengah jam kemudian, hasilnya keluar. Setelah mengambil hasil itu dan pergi ke lantai atas untuk mencari dokter, aku malah bertemu dengan Rachel.

Pada saat ini, dia berpakaian longgar. Dia sedang berjalan keluar dari ruangan dokter kandungan sambil memegang perutnya. Sedangkan Stevan mengikutinya dari belakang.

Aku melihatnya memegang perutnya dengan senang, Stevan yang berada di belakangnya terus mengawasinya dengan dekat, seperti takut dia akan terjatuh. Keduanya terlihat seperti pasangan suami istri yang saling mencintai.

Aku memegang hasil pemeriksaan di tanganku dengan erat dan hendak berbalik untuk turun ke lantai bawah.

Pada saat ini, Rachel malah melihatku. "Kak Ivanna!"

Aku pun berbalik dengan kaku. Namun, dia masih saja bertanya dengan ramah, "Kenapa kamu datang ke rumah sakit? Nggak enak badan, ya?"

Sambil mengucapkan kata-kata ini, dia masih terus merangkul lengan Stevan erat-erat.

Aku tidak ingin menghiraukannya, jadi aku ingin berjalan melewati mereka. Namun, kakiku disandung sesuatu.

Sebelum aku terjatuh, aku menginjak benda yang membuatku tersandung dengan kuat.

Aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku di lantai, sehingga tanganku lecet dan berdarah. Hasil pemeriksaan itu juga terlempar.

Rachel bergegas berjongkok sambil memegang kakinya dan berseru, "Aduh! Kak Ivanna, kenapa kamu nggak lihat jalan, sih? Stevan, sakit sekali."

Stevan langsung berjongkok untuk memeriksa kondisi kakinya Rachel. Setelah dia memastikan bahwa Rachel baik-baik saja, dia baru berdiri lagi.

Dia menatapku dengan tatapan jijik dan berkata, "Ivanna, bisa, nggak, kamu nggak berulah terus?"

Dia langsung menuduhku tanpa ragu, sama sekali tidak memedulikan bahwa aku juga terjatuh.

Aku pun berkata, "Kamu benar-benar nggak tahu kenapa aku bisa terjatuh?"

Stevan seperti baru menyadari bahwa tanganku yang memegang lantai lecet, hingga darahnya sudah merembes ke lantai. Dia pun mengalihkan tatapannya dengan sedikit perasaan bersalah.

Aku bangkit untuk duduk dan mengeluarkan tisu dari saku bajuku, lalu mengelap darah di lantai sebelum berdiri secara perlahan.

Setelah melihat ke sekeliling dan menemukan hasil pemeriksaanku, aku pergi untuk memungutnya. Namun, Rachel malah menunduk dan langsung menginjak hasil pemeriksaan itu.

Aku berjongkok dan menariknya dengan kuat, tetapi aku sama sekali tidak bisa menarik hasil pemeriksaan itu.

Aku pun mulai marah. Atas dasar apa seorang selingkuhan sepertinya memprovokasi diriku yang merupakan istri sahnya Stevan?!

Oleh karena itu, aku mengangkat tanganku dan menamparnya dengan kuat.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B44243" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B44243
Salin

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya