Bab 1
Saat aku paling mencintai Stevan Nicolas, dia mencintai wanita lain. Hujan turun sangat deras dan aku menggigil kedinginan di bawah selimut semalaman, sedangkan dia memeluk wanita lain dan memberikan wanita itu kehangatan. Katanya, aku sangat manja, jadi dia tidak ingin melihatku lagi. Namun, dia tidak tahu bahwa aku akan segera meninggal dan dia tidak akan bisa melihatku lagi.
Stevan Nicolas sudah tidak pulang selama tiga hari, tanpa meninggalkan pesan apa pun padaku.
Cuaca malam ini sangat dingin, dengan tetesan air hujan di luar terus membasahi jendela. Aku meringkuk di bawah selimut sambil menggigil kedinginan.
Aku sedang demam. Tangan dan kakiku seperti membeku, tetapi wajahku panas membara.
Aku memegang ponselku sambil membaca ulang semua pesan yang aku kirimkan padanya.
"Stevan, hari ini kamu pulang, nggak?"
"Stevan, kamu ke mana?"
"Stevan, kenapa nggak dibalas?"
"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu."
...
Aku membaca kembali riwayat obrolan kami sebelumnya. Dia sama sekali tidak pernah mengabaikan pesanku seperti ini.
Mataku sudah lelah, kepalaku juga sangat pusing. Pada saat ini, ponselku tiba-tiba bergetar. Aku bergegas membuka mataku, tetapi itu bukan Stevan.
Ada sebuah notifikasi baru.
Aku membukanya dan melihat seseorang dengan foto profil seorang wanita menambahkanku sebagai temannya. Dengan perasaan aneh, aku membukanya.
Wanita itu meninggalkan pesan berisi: "Stevan lagi di sini."
Aku seketika tercengang. Rasa panik juga tiba-tiba menyelimuti diriku. Aku tidak ingin menambahkan seorang orang asing sebagai temanku, aku juga ingin memercayai Stevan. Namun, tanpa disadari, aku sudah menerima pesan wanita itu.
Baru saja aku ingin menanyakan identitas wanita itu, dia malah langsung mengirimkan sebuah pesan padaku.
Pesan itu berisi selembar foto.
Aku pun melihat sosok Stevan yang sudah menghilang selama tiga hari. Pada saat ini, dia sedang berbaring di ranjang yang jelas-jelas milik seorang wanita dengan matanya yang terpejam dan dalam keadaan telanjang dada.
Aku menatap foto itu dengan tidak percaya dan terus memperbesar foto itu untuk mencari bukti bahwa orang di foto itu bukan Stevan.
Namun, aku tidak bisa menemukannya.
Layaknya menggila, aku mengirimkan pesan pada wanita itu, menanyakan siapa dia dan mengapa Stevan bisa berada di tempatnya.
Namun, tidak ada yang membalas pesanku.
Malam ini, aku hanya bisa duduk bengong di atas ranjang selama semalaman.
Saat fajar menyingsing, aku baru terlelap. Kepalaku benar-benar sakit, bibirku kering dan pecah-pecah, sehingga aku tidur dengan sangat tidak nyaman.
Dalam tidurku, aku mimpi buruk. Aku melihat Stevan memeluk wanita lain. Wanita itu bersandar dalam pelukan Stevan dengan genit, sedangkan Stevan menunduk sambil tersenyum pada wanita itu, dengan tatapan yang sangat lembut. Aku berdiri di hadapan mereka dan berlari menghampiri mereka, seperti orang yang sudah menggila. Aku ingin memisahkan mereka, tetapi Stevan malah mendorongku dengan kejam.
Dia membuatku terjatuh di lantai dan menatapku dengan tatapan jijik.
"Dasar nggak tahu malu!" katanya.
Aku seketika terbangun. Rasa sedih itu masih berbekas dalam hatiku. Aku menyentuh wajahku dan menyadari bahwa wajahku basah.
Aku menangis, tetapi Stevan tidak akan datang untuk menghiburku lagi.
Pada saat ini, aku menerima sebuah pesan lagi dari wanita itu.
Dia lagi-lagi mengirimkan foto, bukan hanya selembar.
Aku membuka foto-foto itu selembar demi selembar, seakan-akan aku ingin menyakiti diriku sendiri.
Aku pun melihat Stevan yang mengenakan kemeja yang berantakan sedang bersandar pada wanita itu. Wanita itu sangat cantik, dia menatap ke arah kamera sambil tersenyum lebar.
Aku melihat foto lainnya di mana Stevan berdiri di sisi wanita itu sambil merangkul pinggang wanita itu.
Aku juga melihat foto Stevan yang memakai celemek sambil mencuci sayuran di tangannya dengan ekspresi serius.
Dia hendak memasak untuk wanita itu, padahal sebelumnya, dia pernah berjanji padaku bahwa dia hanya akan memasak untukku.
Aku langsung mengetikkan pesan untuk wanita itu, layaknya menggila. Aku melampiaskan kebencian yang tidak bisa aku kendalikan padanya.
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Dia suamiku, tahukah kamu kalau kamu hanya wanita simpanan?"
"Kalian lagi di mana? Kenapa dia nggak pulang?"
"Dasar wanita jalang! Kamu merebut suami orang lain!"
Bab 2
Saat aku mengirimkan pesan terakhir itu, tanganku bergetar hebat, perasaan yang tidak bisa dijelaskan juga meluap dalam hatiku.
Aku sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada satu hari di mana aku akan mengirimkan pesan-pesan seperti ini pada seorang wanita asing.
Wanita itu membalas: "Kalau kamu mau tahu kebenarannya, datanglah ke Royal Garden."
Begitu aku membaca pesan ini, aku langsung bangun dan bersiap-siap. Kemudian, aku mengambil setelan pakaian acak dari lemari baju dan berganti pakaian, lalu bergegas menuju ke Royal Garden.
Di sepanjang perjalanan, aku merasa sangat gelisah. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan di tempat itu.
Aku mungkin ingin bergegas mendapatkan sebuah jawaban karena aku takut Stevan mengkhianatiku.
Baru saja aku turun dari taksi, aku langsung melihat seorang wanita yang berjalan keluar sambil merangkul lengan Stevan.
Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang bagus, wajahnya yang cantik terlihat sangat muda, sekujur tubuhnya juga memancarkan energi muda.
Stevan yang berada di sampingnya mengucapkan sesuatu, sehingga wanita itu tersenyum dengan genit.
Bagiku, adegan ini benar-benar sangat mengganggu.
Aku menerjang ke arah mereka dan membentangkan kedua tanganku untuk menghalangi jalan mereka.
Aku seharusnya langsung menginterogasi Stevan, tetapi suaraku malah bergetar. "Kalian lagi ngapain?!"
Stevan yang jalannya dihalangi pun mengernyit. Saat dia melihatku, tatapannya penuh akan keterkejutan ... bercampur dengan kejengkelan.
Sedangkan wanita di sisinya mengangkat alisnya dengan provokatif.
Stevan menarik wanita itu ke belakangnya dan bertanya dengan nada kesal, "Kenapa kamu bisa datang ke sini?"
Namun, aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan berseru, "Dia siapa?"
Tanpa menjawab pertanyaanku, Stevan malah mendorongku dengan sangat kesal.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Kamu nggak seharusnya berada ke sini," katanya.
Aku hampir menggila karena Stevan mendorongku, sehingga aku juga langsung mendorongnya.
"Kutanya, dia siapa?!"
Aku berteriak dengan sekuat tenaga, hingga kata terakhir yang keluar dari mulutku melengking. Sedangkan Stevan juga terhuyung-huyung karena doronganku.
Dia berkata, "Kamu sudah gila, ya? Lihatlah dirimu sekarang. Kamu nggak tahu malu, ya?!"
Aku tercengang dan hanya bisa menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Namun, dia sama sekali tidak melihatku.
Tanpa ragu-ragu, Stevan menggenggam tangan wanita itu dan pergi ke mobilnya. Setelah menunggu wanita itu duduk dengan baik di jok penumpang, dia menyalakan mesin mobil dan pergi begitu saja.
Aku berdiri diam di tempat. Aku hanya merasa seakan-akan darah dalam sekujur tubuhku membeku.
Aku mengeluarkan ponselku dan terkejut melihat wajahku yang lelah, sepasang mataku yang hampa dan rambutku yang berantakan karena tidak tidur semalaman.
Aku berjalan pulang dengan linglung. Setibanya di rumah, Stevan masih belum pulang.
Kepalaku pusing. Setelah berjalan sangat lama, telapak kakiku melepuh. Kakiku, begitu pula dengan sekujur tubuhku, semuanya terasa sangat sakit.
Aku meringkuk di atas sofa dan melihat ke depan. Tanaman hijau di atas meja pun menarik perhatianku.
Stevan-lah yang membeli tanaman itu untuk menyenangkan hatiku. Dia berkata, "Tanaman sukulen sangat kuat, seperti kamu yang tumbuh besar dengan kuat."
Setelah tidak disiram selama beberapa hari, tanaman ini sudah agak layu dan mulai menunjukkan tanda-tanda kematian.
Karena rasa sakit ini, aku tiba-tiba merindukan ibuku.
Pada masa kecilku, saat aku tidak bisa tidur, ibuku akan memelukku dan menceritakan kisah-kisah padaku. Dalam pelukan ibuku, aku selalu bisa tidur dengan lelap.
Aku merindukan pelukan ibuku.
Aku pun mengirimkan pesan pada ibuku untuk bertanya apakah Ibu bisa pulang untuk beberapa hari. Aku tidak ingin tinggal di tempatnya Stevan lagi.
Pesan itu segera dibalas. Aku membuka pesan dari ibuku dengan senang hati dan membacanya dengan perlahan, dengan bantuan cahaya yang menyinari ruang tamu melalui celah tirai jendela. Namun, kesenanganku berubah menjadi kekecewaan dan senyuman di wajahku perlahan menjadi datar.
Ibuku menyuruhku untuk bersikap patuh. Kata Ibu, Stevan tampan dan andal, juga terlalu baik untukku. Jadi, Ibu menyuruhku untuk menjaga sikapku dan menjaga keluargaku dengan baik.
Ibuku menyuruhku untuk menjaga sikapku. Jika ada perselisihan dengan Stevan, kami harus membicarakannya dengan baik. "Namanya saja hidup, nggak mungkin nggak berantem," kata Ibu.
Ibu juga berkata, jika Stevan membuatku marah, aku harus lebih bermurah hati karena semua lelaki tetap akan melakukan kesalahan.
Bab 3
Namun, Ibu sudah lupa. Dulu, saat aku menikah, Ibu menggenggam tanganku sambil mengingatkanku agar aku memberitahunya jika aku dianiaya. Ibu berkata bahwa Ibu pasti akan membela diriku.
'Ibu, aku benar-benar sangat sedih ....' pikirku.
'Bagaimana aku harus bermurah hati dan memaafkan kesalahan Stevan?'
Aku memeluk diriku sendiri dan akhirnya terlelap.
Saat aku bangun tidur, hari sudah malam, ruang tamu ini gelap gulita.
Sheila Norman, sahabatku, tiba-tiba menghubungiku. Aku tercengang sejenak sebelum menerima panggilan itu.
"Halo? Nana, kamu lagi di mana?"
Begitu aku menerima panggilannya, aku langsung mendengar suara Sheila.
Aku menjawab dengan pelan, "Di rumah."
"Stevan nggak di rumah, ya?" tanya Sheila.
"Iya."
Suara Sheila tiba-tiba melengking. "Tahukah kamu siapa yang aku lihat barusan?!"
Sebelum aku bisa menjawab, dia langsung berseru, "Aku melihat Stevan!"
"Dia sedang bersama seorang wanita muda. Tapi, yang terpenting adalah, dia menghabiskan banyak uang dan membelikan banyak barang untuk wanita itu!"
"Jangan-jangan dia selingkuh?!"
Menghabiskan banyak uang? Aku tiba-tiba teringat bahwa Stevan sudah lama sekali tidak membelikan apa pun untukku.
"Iya," jawabku.
Suaraku sangat pelan, sedangkan Sheila terus berteriak dengan terkejut.
"Apa?! Dasar bajingan! Kalian baru menikah, tapi dia malah berani-beraninya selingkuh! Biar kuhajar dia!"
Mendengar napas Sheila yang kasar karena amarahnya, aku hanya tertawa sambil berpikir, 'Syukurlah, di dunia ini, masih ada yang menyayangiku.'
Aku pun berkata, "Jangan, jangan cari dia. Aku akan cari waktu untuk bercerai dengannya."
"Nana, kamu pasti sangat sedih, 'kan? Bagaimana kalau aku pergi menemanimu?" tanya Sheila.
Aku pun menghibur Sheila dengan tenang. "Jangan datang, sudah malam. Cepat pergi istirahat, deh."
Sebenarnya, bagaimana mungkin aku tidak ingin ditemani oleh orang lain?
Hanya saja, sekarang, sahabatku sudah berkeluarga, anaknya juga baru sebulan, aku tidak mungkin menyuruhnya untuk meninggalkan anaknya dan menemaniku untuk satu malam.
"Aku baru tanya suamiku, wanita selingkuhan itu muridnya Stevan!" seru Sheila lagi.
"Dasar mesum, bisa-bisanya dia menggoda muridnya sendiri!"
Suaminya Sheila adalah teman dekatnya Stevan, jadi wajar saja jika dia mengetahui hal ini. Namun, aku tidak menyangka bahwa Stevan akan berselingkuh dengan muridnya sendiri.
Stevan bekerja sebagai seorang profesor di universitas. Karena ketampanannya, ada banyak murid yang menyatakan perasaan mereka padanya. Namun, dia selalu memisahkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaannya dengan sangat jelas, dia tidak pernah berhubungan dekat dengan muridnya. Tak disangka, dia akhirnya melanggar prinsipnya sendiri.
"Namanya Rachel Lowie, dia lumayan terkenal di kelas mereka ...."
Sheila masih terus melaporkan informasi yang dia dapatkan padaku, tetapi aku tidak ingin mendengarnya lagi.
Pada saat ini, notifikasi pembayaran mulai bermunculan di ponselku. Melihat jumlah pengeluaran itu, aku mengernyit karena totalnya sudah setara dengan pengeluaran tahunan kami.
Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku pun menghubungi Stevan.
Setelah sekian lama, hingga aku sudah mengira bahwa Stevan tidak akan menerima panggilanku lagi, dia menerimanya.
Dari ujung telepon lainnya, dia bertanya dengan dingin, "Halo? Ada apa?"
Aku menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Kamu beli barang untuknya dengan uang kita?"
Dia terdiam sejenak, lalu menjawab dengan cuek, "Iya."
Aku pun mengernyit dan berkata dengan kesal, "Atas dasar apa kamu beli barang untuk wanita lain dengan uangku? Stevan, kamu tahu, nggak, kamu sekarang suami siapa?"
"Uangmu? Sudah berapa lama kamu nggak kerja? Bukankah harus aku yang menghidupimu, ya? Jadi, terserah aku mau beli barang untuk siapa pun dengan uangku sendiri," kata Stevan.
Dengan suara bergetar, aku berkata, "Kita sudah menikah. Sekarang, seluruh harta kita milik bersama."
Awal tahun ini, kinerja perusahaan tempat aku bekerja kurang bagus. Bosku selalu melakukan eksploitasi tenaga kerja. Satu orang dari kami dipekerjakan layaknya tiga orang dan sering bekerja lembur, tanpa sedikit pun kenaikan gaji. Aku bertahan selama sebulan sebelum akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan.