Bab 3

Saat itu juga, Chelsea mulai sedikit percaya pada kemampuan medis Bradford. Sikapnya pun langsung berubah dan dia berkata dengan hormat, "Dokter Clayden, maafkan kelancanganku tadi. Tolong periksa Keenan."

Bradford mengangguk, lalu membuka tas ransel yang dibawanya. Dari dalam, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana berwarna ungu. Begitu dibuka, di dalamnya berbaris rapi jarum-jarum perak berbagai ukuran.

Dia berjalan ke sisi ranjang, lalu membuka baju Keenan dengan cekatan. Kemudian, jemarinya bergerak lincah menancapkan jarum ke tubuh Keenan dengan kecepatan luar biasa.

Sambil melakukan akupunktur, Bradford masih sempat menjelaskan pada Chelsea dan Kimmy, "Tubuh manusia memiliki tiga jiwa dan tujuh roh. Bila jiwa utama hilang, orang akan jatuh koma. Dalam pandangan kedokteran barat, kondisi Keenan dianggap sebagai mati otak, tetapi sesungguhnya ini karena jiwa utamanya lepas."

"Menurutku, dua hari lalu dia pasti pernah mengalami sebuah kejutan besar. Karena jiwanya lemah, dia bisa lenyap kalau berada di luar tubuh terlalu lama. Sekarang, aku bisa memanggil jiwanya kembali dengan akupunktur."

Hanya dalam beberapa menit, Bradford sudah menancapkan 36 jarum di tubuh Keenan. Gerakannya begitu cepat dan terampil, menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Andai saja ada tabib tua berpengalaman hadir, pasti akan terperanjat melihat tekniknya. Tanpa latihan keras puluhan tahun, mustahil seseorang bisa mencapai tingkat itu.

Jika ada yang mengenali metode jarum tersebut, matanya pasti akan terbelalak tak percaya. Pasalnya, teknik yang digunakan Bradford adalah "Teknik 36 Jarum Yin Yang". Ini adalah sebuah metode akupunktur kuno yang sudah lama hilang. Konon, teknik ini bahkan mampu membangkitkan orang mati dan menyembuhkan luka parah.

Meski Chelsea dan Kimmy tidak mengerti ilmu pengobatan tradisional, mereka tetap bisa melihat betapa luar biasanya keterampilan Bradford. Rasa percaya di hati mereka pun semakin kuat.

Namun, Teknik 36 Jarum Yin Yang ini bukan teknik biasa. Setelah menyelesaikan semua tusukan, dahi Bradford berkeringat deras dan napasnya agak terengah-engah.

"Sudah. Paling lama sepuluh menit lagi, jiwa pasien akan kembali dan dia akan sadar. Sampai aku kembali nanti, jangan ada yang menyentuh jarum-jarum itu."

Setelah itu, Bradford menarik tangannya dan berkata pada Kimmy, "Antarkan aku ke toilet sebentar."

Kimmy segera membawa Bradford keluar kamar menuju toilet untuk mencuci muka dan mengelap keringatnya. Namun tepat saat Bradford meninggalkan ruangan, Wallace bersama tim medisnya kembali dari ruang kerja tempat mereka berdiskusi.

"Nyonya Chelsea, kami sudah menentukan rencana medis. Sebentar lagi kami akan segera memberi penanganan pada Pak Keenan ...."

Belum sempat Wallace menyelesaikan ucapannya, matanya langsung membelalak melihat tubuh Keenan dipenuhi jarum perak!

Wajah Wallace langsung berubah tegang. Dia melangkah cepat mendekati ranjang. "Apa-apaan ini?!"

Chelsea buru-buru menjelaskan, "Tadi Dokter Clayden yang melakukan akupunktur. Dia bilang Keenan pingsan karena kehilangan satu jiwanya, dan dia bisa memanggilkannya kembali lewat jarum ini ...."

"Apa?! Dokter Clayden apaan! Nyonya Chelsea, kenapa kamu bisa percaya sama omongan penipu begini? Apanya yang jiwa keluar dari tubuh? Omong kosong begini saja kamu bisa percaya?"

Wallace membentak, "Kalau akupunktur bisa menyembuhkan penyakit Pak Keenan, lalu untuk apa masih ada pakar seperti kami?"

Chelsea mengernyit. "Tapi tadi aku lihat sendiri, keterampilannya memang luar biasa. Aku rasa dia memang punya kemampuan."

"Astaga, Nyonya Chelsea, kamu benar-benar ceroboh! Penipu memang paling pintar memainkan trik dan membuat keluarga pasien percaya, lalu menciptakan cerita palsu penuh takhayul. Jarum-jarum ini bukan cuma nggak akan menyembuhkan Pak Keenan, malah bisa memperparah kondisinya!"

Perkataan Wallace membuat Chelsea jadi ketakutan. "Kalau begitu ... bagaimana sekarang?"

"Aku akan segera mencabutnya!"

Tanpa banyak bicara, Wallace langsung mengulurkan tangan untuk menarik salah satu jarum.

Namun baru saja satu jarum tercabut, Keenan yang tadinya koma tanpa gerakan, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan mulutnya sampai berbusa!

Situasi ini benar-benar tak terduga. Bukan hanya Chelsea yang terkejut ketakutan, bahkan Wallace sendiri pun terperanjat!

"Apa yang terjadi?!" teriak Chelsea ketakutan. Dia menekan tubuh Keenan dan menoleh pada Wallace.

"Aku ... aku juga nggak tahu .... Oh iya! Pasti jarum-jarum dari penipu itu yang memperburuk kondisi Pak Keenan!"

Begitu ucapannya dilontarkan, tiba-tiba tubuh Keenan tak lagi bergerak. Alat monitor jantung di samping ranjang berbunyi dengan cepat. Tampak jelas, detak jantung Keenan berhenti!

"Celaka! Pak Keenan nggak ada detak jantung!"

"Pak Keenan sudah meninggal!"

Beberapa dokter langsung menjerit panik.

Wallace juga kehilangan akal, sehingga wajahnya pucat ketakutan. "Ini gara-gara penipu itu! Dialah yang membunuh Pak Keenan!"

"Omong kosong! Tadi Keenan masih baik-baik saja. Justru karena kamu cabut jarumnya, dia jadi begini! Dokter Clayden jelas-jelas sudah bilang padaku, jangan ada yang menyentuh jarumnya sebelum dia kembali!"

Chelsea yang dilanda duka, menatap tajam Wallace lalu menampar keras wajahnya! Mana mungkin dia tidak tahu bahwa Wallace hanya sedang berusaha melemparkan kesalahan?

Wallace memegangi pipinya dengan ekspresi terkejut dan marah, tetapi dia tidak berani membalas. Siapa yang berani menyinggung keluarga besar seperti Keluarga Taulany ini?

Kegaduhan itu membuat Bradford dan Kimmy segera berlari masuk. Begitu melihat keadaannya, Bradford membentak dengan marah, "Siapa yang cabut jarumnya?!"

"Dia!" Chelsea langsung menunjuk ke arah Wallace.

Wallace jelas tidak mau menanggung tuduhan membunuh Keenan. Dengan suara berat, dia berkata, "Ya, aku yang cabut. Lalu kenapa? Yang menyebabkan Pak Keenan mati tetaplah anak muda ini!"

"Semua orang di Kota Herburt tahu keahlianku. Keenan adalah pasienku. Bocah ini berani sembarangan menusuk jarum tanpa seizinku, itu yang membuat Pak Keenan mati. Aku nggak mau disalahkan!"

"Pasien sudah dalam kondisi gawat, kamu sebagai dokter bukannya berusaha menyelamatkan, malah sibuk mencari kambing hitam. Heh, memalukan!"

Bradford menatap Wallace, lalu tertawa dingin.

Wallace berteriak marah, "Pasien sudah nggak ada detak jantung, mana mungkin bisa diselamatkan? Dia memang sudah mati otak, sekarang ditambah lagi nggak ada detak jantung. Sekalipun dilakukan resusitasi jantung paru, apa gunanya? Anak muda, kamu nggak tahu apa-apa, jangan sok pintar di sini!"

"Kalau nggak mampu, minggir saja!"

Bradford malas membuang-buang waktu dengan berdebat. Dia langsung mendorong Wallace ke samping, lalu kembali ke sisi ranjang. Jarum yang tadi dicabut Wallace segera dia tusukkan lagi. Kemudian dengan kedua jarinya yang dirapatkan, dia mengetuk beberapa titik di tubuh Keenan!

"Hidup kembali!" Terakhir, Bradford menekan tepat di jantung Keenan sambil berseru tegas.

Detik berikutnya, sebuah pemandangan yang mengejutkan semua orang pun terjadi! Detak jantung Keenan muncul lagi di monitor, napasnya juga berangsur-angsur kembali.

"Detak jantungnya kembali!"

"Ya Tuhan!"

"Ilmu apaan itu barusan?!"

Chelsea, Kimmy, dan bahkan para dokter yang dibawa Wallace, semuanya membelalak tak percaya. Suara teriakan takjub memenuhi ruangan.

Sementara itu Wallace sendiri langsung tampak pucat dan bergumam dengan bibir gemetaran, "Ini ... ini ... bagaimana mungkin?"

Bradford menoleh padanya dan bertanya, "Kamu mau bilang apa lagi?"

Wallace berusaha menenangkan keterkejutannya, lalu menyeringai sinis. "Meski kamu bisa mengembalikan detak jantung Pak Keenan, apa gunanya? Dia sudah mati otak. Tadi kami masih punya peluang menanganinya, tapi karena ulahmu, dia nggak akan pernah sadar lagi seumur hidup. Kamu tetaplah biang keladi yang membunuhnya!"

Bradford hanya mendengus pelan. Tepat di saat itu, matanya menangkap pemandangan tak kasat mata. Seberkas cahaya jiwa telah melayang masuk ke dalam ruangan itu perlahan-lahan. Cahaya itu adalah jiwa utama Keenan. Hanya Bradford yang bisa melihatnya.

Bradford mengulurkan tangan dan menyentuh kening Keenan, lalu berkata dengan perlahan, "Kembalilah."

Sesaat kemudian, jari Keenan bergerak. Matanya pun perlahan terbuka.

"Keenan!"

"Ayah!"

Chelsea dan Kimmy bersorak penuh sukacita, mata mereka berkaca-kaca karena gembira.

Para dokter lain juga merasa hal itu benar-benar di luar nalar. Mereka semua terbelalak menatap Bradford seolah-olah sedang melihat sosok dewa.

Setelah terkejut sejenak, Wallace buru-buru kembali sadar. Dia langsung maju ke sisi ranjang dan berkata dengan tebal muka, "Lihatlah, di bawah perawatanku, Pak Keenan akhirnya sadar. Ini benar-benar kabar yang luar biasa!"

Saat itu, dia hanya terus memikirkan harus bagaimana mengklaim jasa ini adalah miliknya. Sebab, Keluarga Taulany sebelumnya telah berjanji, siapa pun yang bisa menyelamatkan Keenan akan menerima bayaran honor dokter sebesar 16 miliar!

"Dasar tua bangka nggak tahu malu! Minggir!"

Kimmy yang sedari tadi sudah muak dengan Wallace, langsung murka saat melihat Wallace berani mengaku-ngaku dirinya yang berjasa. Dengan penuh emosi, dia menampar keras wajah Wallaca. Cara tamparan dan kekuatan tangannya, nyaris sama persis seperti tamparan ibunya tadi.

Para dokter yang ikut bersama Wallace hanya bisa mengernyit malu. Wajah mereka merah padam menahan rasa terhina. Siapa yang menyangka, Wallace yang biasanya terlihat berwibawa dan dihormati, ternyata bisa setidak tahu malu itu?

Wallace yang merasa malu sekaligus marah, akhirnya tak sanggup bertahan lebih lama. Dia mendengus dingin, lalu berbalik pergi. Dokter-dokter lainnya pun saling memandang sejenak, kemudian ikut pergi dengan wajah tertunduk.

Saat itu, Keenan akhirnya benar-benar siuman. Bradford lalu mencabut 36 jarum yang dipasangnya satu per satu. Sementara itu, Chelsea dan Kimmy bergantian menceritakan secara singkat apa yang terjadi selama dua hari terakhir saat Keenan tak sadarkan diri dengan mata memerah.

Keenan kemudian menoleh ke arah Bradford untuk mengucapkan terima kasih. "Dokter Clayden, kali ini benar-benar sudah merepotkanmu. Kamu adalah penyelamat hidupku. Nanti aku pasti akan memberimu bayaran yang sangat besar sebagai tanda terima kasih."

Meski merasa bersyukur, Keenan tetap mempertahankan wibawa seorang penguasa. Seolah baginya, selama dia memberikan sejumlah uang yang besar pada Bradford, itu sudah cukup untuk mewakili rasa terima kasihnya.

Namun, Bradford hanya menggeleng pelan. Dia membereskan jarum-jarumnya tanpa banyak bicara, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu cendana dan menyimpannya ke ransel.

Di sampingnya, Kimmy buru-buru menjelaskan, "Ayah, Dokter Clayden nggak pernah menerima bayaran atas pengobatan. Itu pesan khusus dari Pak Marva padaku."

"Nggak menerima bayaran? Kenapa begitu?"

Keenan tertegun.

Sebagai seorang pebisnis, apalagi seorang konglomerat dengan aset triliunan, dia terbiasa menyelesaikan semua urusan dengan uang. Baginya, kalau masalah bisa diselesaikan dengan uang, maka itu bukan masalah.

Namun jika Bradford tidak menerima bayaran, berarti dia harus menanggung utang budi pada Bradford. Sedangkan utang budi ... justru adalah yang paling sulit untuk dilunasi. Keenan jelas tidak ingin berutang pada orang lain.

Kimmy pun menjelaskan, "Dokter Clayden punya aturan sendiri dalam menolong orang. Itu yang disampaikan Pak Marva padaku."

"Apa aturannya? Katakan," tanya Keenan seraya mengernyit.

Bab 4

Kimmy melirik ke arah Bradford. Melihat dia tidak mencegah, barulah Kimmy berkata, "Aturannya adalah, Dokter Clayden menolong orang tanpa menerima bayaran. Sebagai gantinya, kalau suatu saat dia membutuhkan bantuan, kita wajib menolongnya. Itu pesan Pak Marva."

"Pak Marva bilang, begitu Dokter Clayden turun tangan, berarti keluarga kita berutang nyawa padanya. Kalau suatu hari Dokter Clayden punya permintaan, kita harus membantu sepenuh hati. Kalau nggak ...."

Keenan langsung bertanya, "Kalau nggak, bagaimana?"

Kimmy memaksakan senyum tipis dan mencoba terdengar santai, "Kalau nggak, Pak Marva akan membuat keluarga kita bangkrut dalam sehari."

"Apa! Marva benar-benar bilang begitu?!" Keenan terkejut sampai langsung bangkit dari ranjang dan menatap putrinya dengan wajah pucat.

Kimmy mengangguk mantap.

Keenan lalu menoleh penuh rasa ragu dan takut pada Bradford. Tanpa sadar, sikapnya pun berubah. Sebagai sahabat lama Marva, Keenan sangat paham betapa besar dan menakutkannya pengaruh orang itu. Jika Marva bisa begitu menghormati Bradford, jelas menunjukkan betapa luar biasanya pria muda ini.

Dalam sekejap, Keenan menyingkirkan semua kesombongan. Dia berjalan mendekat dengan penuh hormat, lalu berkata sambil tersenyum ramah, "Dokter Clayden, tenanglah. Aku pasti akan mematuhi aturanmu. Nanti kalau ada yang perlu, cukup beri tahu aku saja. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawa, aku tetap nggak akan mundur."

Bradford menanggapinya dengan datar, "Kalian berdua nggak perlu tegang. Memang benar aku punya aturan itu. Tapi jujur saja, selama ini aku jarang meminta bantuan siapa pun."

Usai bicara, dia menyampirkan ranselnya di bahu, lalu berkata pada Kimmy, "Antarkan aku sebentar."

Melihat dia hendak pergi, Keenan sekeluarga serentak menahannya dan memohon agar dia mau tinggal untuk makan bersama.

Mereka adalah orang-orang bisnis yang terbiasa bergaul, sehingga sangat memahami sopan santun. Bradford sudah menyelamatkan nyawa Keenan, tidak menerima bayaran saja sudah membuat mereka merasa sungkan. Kalau Bradford bahkan menolak jamuan makan dari mereka dan pergi begitu saja, Marva pasti tidak akan mengampuni mereka.

Terlebih lagi, dengan kemampuan medis sehebat itu ditambah penghormatan tinggi dari Marva, Keluarga Taulany tentu harus mencari cara menjalin hubungan baik dengan Bradford.

Melihat mereka sungguh-sungguh menahannya, Bradford pun berpikir sejenak. Dia sadar bahwa dirinya kini sudah bercerai dan bahkan tidak punya rumah untuk kembali. Untuk sesaat, dia memang tidak tahu harus ke mana. Jadi, dia pun mengangguk setuju.

Bradford berkata, "Biar Kimmy saja yang menemaniku makan. Pak Keenan baru saja pulih, tubuhmu masih sangat lemah. Dua hari ini sebaiknya jangan keluar rumah, cukup istirahat di sini."

"Bagus juga kalau begitu. Biar Kimmy yang mewakili keluarga menemanimu. Anak muda biasanya lebih mudah nyambung bicaranya," ujar Keenan sambil tersenyum tipis. Dia juga merasa tubuhnya masih lemah, tidak cocok untuk berkeliaran. Setelah itu, dia pun berpesan pada putrinya agar benar-benar menjaga dan menemani Bradford dengan baik.

Kimmy tentu langsung menyanggupi. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, dia mempersilakan Bradford naik mobil, lalu berkata pada sopir, "Pergi ke Restoran Hardara."

"Kita mau makan di Restoran Hardara?" Bradford sempat terkejut.

Restoran Hardara adalah restoran setengah privat paling mewah di Kota Herburt dalam dua tahun terakhir. Konon, tanpa kartu keanggotaan, orang biasanya tidak akan bisa masuk. Bahkan kartu keanggotaan paling dasar, yaitu kartu perak saja memerlukan biaya pendaftaran 200 juta.

Karena bisnis Elaine berkembang pesat dalam dua tahun terakhir, dia pun membuat kartu di sana. Kadang-kadang, dia mengundang klien makan di tempat itu. Namun, Bradford sendiri belum pernah masuk ke sana sekali pun.

"Restorannya memang nyaman. Kalau Dokter Clayden nggak berkenan, kita bisa ganti tempat lain," kata Kimmy dengan hati-hati karena takut pilihan itu tidak sesuai selera.

"Nggak perlu, kita ke sana saja." Bradford menggeleng, menunjukkan bahwa dia tidak keberatan.

Setelah jeda sejenak, dia berkata lagi, "Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi memanggilku Dokter Clayden. Cukup panggil aku Clayden, atau Pak Clayden."

"Kalau begitu, aku panggil Pak Clayden saja."

Meskipun Bradford terlihat tidak jauh lebih tua darinya, Kimmy tetap tidak berani sembarangan menyebut namanya begitu saja. Tentu saja, yang tidak dia ketahui adalah nama Clayden sebenarnya bukan nama asli Bradford, melainkan alias yang diberikan gurunya di masa lalu.

Tak lama kemudian, Bentley hitam itu pun tiba di Restoran Hardara.

Sebelum mereka sempat turun dari mobil, tampak seorang pria muda berpakaian mewah bergegas mendekat dengan wajah penuh kejutan. "Kimmy, kebetulan sekali!"

Pria itu menghampiri mobil mereka. Awalnya dia menyapa Kimmy dengan senyum lebar. Namun begitu matanya menangkap Bradford yang duduk di samping Kimmy, senyumnya lenyap seketika dan ekspresinya berubah dingin.

Dia mengetuk keras kaca mobil, lalu menunjuk ke arah Bradford sambil memaki, "Dasar sampah! Siapa kamu? Apa hakmu duduk di samping Kimmy? Cepat turun dari mobil!"

Kimmy langsung marah. Dia turun dari mobil dan membentak, "Arden, tolong tunjukkan sedikit rasa hormat! Pak Clayden ini adalah tamu undanganku!"

"Tamu? Hah! Lihat saja pakaiannya, harganya bahkan nggak sampai 2 juta! Kamu bercanda, 'kan?" Arden menatap Bradford dari atas ke bawah dengan penuh rasa meremehkan.

Dia beranggapan bahwa dengan status Kimmy sekarang, tamu yang dia bawa pasti orang-orang kaya raya atau pejabat besar. Bagaimana mungkin pria sederhana seperti Bradford bisa masuk hitungan?

Sambil berkata demikian, dia pun langsung mengulurkan tangan hendak menarik Bradford keluar dari mobil!

Kimmy sontak kaget dan marah melihat ulahnya.

Arden ini memang salah satu playboy papan atas di Kota Herburt. Kakeknya adalah pendiri Crown Group, perusahaan yang menempati posisi lima besar di kota itu, sejajar dengan Galaxy Group milik Keluarga Taulany.

Yang lebih penting, ayah Arden yang bernama Aaron, adalah teman lama Keenan sejak kuliah. Saat Kimmy dan Arden masih kecil, kedua orang tua mereka bahkan pernah bercanda soal menjodohkan mereka berdua.

Meskipun setelah itu tidak pernah ada yang benar-benar menyinggung soal perjodohan, Arden selalu menyimpannya dalam hati. Dia terus mengejar Kimmy dan menganggap Kimmy sebagai tunangannya.

Karena itulah, begitu melihat Bradford duduk di mobil bersama Kimmy, dia langsung bereaksi berlebihan dan tanpa ragu bertindak kasar.

"Arden, kamu gila? Jangan sentuh Pak Clayden!"

Kimmy memang segera berteriak untuk menghentikan, tetapi tangan Arden sudah lebih dulu mencengkeram pakaian Bradford. "Dasar sampah, cepat turun dari mobil!"

Wajah Arden yang biasanya cukup tampan, kini penuh amarah dan memerah karena emosi. Dia menarik sekuat tenaga, tetapi Bradford sama sekali tidak bergerak.

"Lepaskan," perintah Bradford sambil menatap dingin ke arahnya.

"Berengsek! Berani-beraninya menatapku begitu. Akan kupukul kamu sampai babak belur hari ini!"

Sejak kecil, Arden hidup dengan bergelimang harta dan terbiasa dihormati semua orang. Bahkan para senior di keluarganya pun jarang memarahinya.

Kini dia sedang terbakar amarah dan sangat yakin bahwa Bradford hanyalah orang biasa yang hidup miskin. Jadi, mana mungkin dia bisa menerima sikap Bradford seperti ini terhadapnya?

Tanpa berpikir panjang, dia mengayunkan tinju ke wajah Bradford!

Bradford mendengus pelan, lalu langsung menangkap tangan Arden. Dengan sekali cengkeraman kuat, terdengar bunyi derakan. Pergelangan tangan Arden remuk!

Kemudian dengan sekali dorongan dari Bradford, Arden langsung terhuyung ke belakang dan menjerit kesakitan, lalu jatuh tersungkur di tanah.

Bradford membuka pintu mobil dan turun dengan tenang. Dia melirik Kimmy sekilas, lalu bertanya dengan nada tidak senang, "Dari mana kamu kenal orang gila seperti ini?"

Kimmy masih melongo dan terpukau dengan kehebatan Bradford. Namun, sikap dingin Bradford membuat jantungnya berdebar cemas. Dia buru-buru menjelaskan, "Pak Clayden, maafkan aku ... aku benar-benar nggak menyangka hal ini akan terjadi."

"Aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Cuma ingin mengingatkan, sebaiknya jangan punya hubungan sama orang seperti itu."

Setelah mengucapkan kata itu dengan tenang, Bradford lalu berjalan menuju pintu utama Restoran Hardara tanpa menoleh pada Arden sama sekali.

Kimmy melirik Arden sekilas dan mendengus kesal, lalu bergegas menyusul Bradford.

Arden yang pergelangan tangannya patah, sempat berpikir Kimmy akan menanyakan kondisinya. Tak disangka, Kimmy tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya bisa melihat Kimmy pergi begitu saja.

"Dasar jalang! Kita tumbuh dewasa sama-sama sejak kecil, tapi kamu tega mengabaikanku! Si sampah itu juga sama saja! Berani-beraninya dia mematahkan tanganku. Aku akan menuntut nyawanya!"

Wajah Arden tampak penuh kebencian. Sambil meringis menahan sakit, dia mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang masih utuh.

"Pak Clayden, silakan lewat sini."

Kimmy segera menyusul langkah Bradford, lalu mempersilakannya masuk ke dalam restoran bergaya tradisional dengan penuh hormat. Di dalamnya terdapat paviliun, jembatan kecil, aliran sungai, dan rumpun bambu yang menambah nuansa khas.

Namun baru saja mereka melangkah masuk, seseorang langsung mengenali Bradford di sudut restoran.

"Ibu, lihat! Itu Kakak Ipar! Dia lagi sama seorang wanita asing!"

Seorang gadis muda yang berwajah mirip Elaine dan berusia sekitar 20-an, menunjuk ke arah Bradford sambil berkata pada wanita paruh baya di sampingnya. Wanita itu menoleh dan ikut terperanjat. Wajahnya lalu memerah karena marah.

"Bradford, dasar bajingan! Berani-beraninya kamu selingkuh?!"

Bab 5

Orang yang mengenali Bradford saat itu bukan orang lain. Mereka adalah Ferona, ibu mertua Bradford, dan Ellie, adik iparnya.

Hari itu, Ferona dan Ellie sedang berbelanja pakaian. Kemudian, dengan membawa kartu anggota milik Elaine, mereka mampir ke Restoran Hardara untuk makan. Tak disangka, mereka malah bertemu Bradford di sana.

Ferona dan Ellie sama sekali belum tahu tentang perceraian Elaine dengan Bradford. Begitu melihat Bradford berjalan bersama seorang wanita seksi dan cantik, amarah Ferona langsung meluap. Dia berdiri dan siap melabrak Bradford di tempat!

"Ibu, tunggu dulu!"

Ellie buru-buru menarik tangan Ferona dan menurunkan suaranya. "Kalau mau pergokin dia, harus ada buktinya. Kalau sekarang Ibu langsung ke sana, nanti Kakak Ipar pasti membantah. Gimana kalau dia menyangkal?"

Ferona mendengus kesal. "Lalu menurutmu gimana? Anak itu kelihatannya memang kalem, nggak nyangka ternyata muka tembok juga. Bisa menikah sama kakakmu saja sudah rezekinya, malah nggak tahu diri sampai berani selingkuh. Bikin emosi saja!"

Ellie membujuk, "Jangan emosi dulu. Kita ikuti diam-diam, paling bagus kalau bisa memotret bukti dia bermesraan dengan wanita itu. Setelah itu kita telepon Kakak, biar dia langsung ceraikan saja!"

Ucapan Ellie membuat Ferona sedikit tenang. Dia pun mengangguk. "Kamu benar. Kita lakukan sesuai rencanamu. Aku memang sudah nggak suka sama Bradford sejak dulu. Dia sama sekali nggak pantas untuk kakakmu. Begitu kita dapat bukti perselingkuhannya, biar kakakmu usir dia saja. Satu sen pun jangan sampai dia bawa dari keluarga kita!"

Keduanya pun sepakat, lalu diam-diam mengeluarkan ponsel dan mulai membuntuti Bradford. Mereka terus-menerus mengambil foto secara sembunyi-sembunyi.

Di dalam Restoran Hardara, semua pelayan wanita mengenakan rok ketat yang elegan, penampilan mereka tak kalah dengan pramugari kelas atas.

Dengan dipimpin oleh seorang pelayan yang cantik, Bradford dan Kimmy tiba di sebuah meja yang suasananya sangat indah dan tenang.

"Nona Kimmy, ini adalah meja yang sudah kalian pesan."

Aula utama restoran itu dipenuhi tanaman hijau mewah yang ditata dengan sangat rapi. Tanaman-tanaman itu berfungsi sebagai sekat alami, membuat setiap meja makan seolah-olah menjadi ruang privat. Jarak antar meja juga cukup jauh, sehingga privasi para tamu benar-benar terjaga.

Setelah duduk bersama Bradford, Kimmy menanyakan seleranya lebih dulu, lalu memesan dua paket menu seharga 60 juta.

Di restoran ini tidak ada menu ala carte. Semua sistemnya paket per orang. Paket termurah saja dimulai dari 6 juta.

Menu yang dipesan Kimmy adalah Paket Istimewa dengan harga 60 juta. Namun, itu bukanlah paket yang paling mahal. Paket paling mewah di sini adalah Paket Royal, dengan harga mencapai ratusan juta.

Namun, Paket Royal tidak bisa dipesan hanya dengan kartu anggota biasa. Paket ini hanya boleh dinikmati oleh tamu yang memiliki kartu anggota royal.

Kartu ini pun bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang, melainkan hanya diberikan langsung oleh pemilik restoran kepada kalangan bangsawan dan tokoh berpengaruh, sebagai sarana menjalin hubungan.

Kabarnya, baru tiga kartu yang pernah dibagikan sejak restoran ini didirikan. Bahkan Kimmy pun tidak memiliki kualifikasi untuk memesan Paket Royal itu.

"Katanya kalau pesan Paket Royal, akan ada pertunjukan tari istana. Para tamu yang memesan juga akan dipersilakan makan di tempat khusus, yaitu paviliun megah di tengah danau itu."

Sambil menunggu hidangan, Kimmy menjelaskan hal-hal menarik tentang Restoran Hardara pada Bradford. Saat membicarakan Paket Royal, dia menunjuk ke arah sebuah danau buatan besar di tengah aula.

Di atas danau itu berdiri sebuah paviliun megah berlapis emas, bernama Paviliun Keraton.

Bradford melirik sekilas ke arah paviliun itu. Elaine juga pernah bercerita kepadanya tentang Paket Royal dan Paviliun Keraton ini. Tahun lalu ketika Elaine menjamu mitra bisnis di sini, kebetulan dia sempat menyaksikan ada tamu yang makan di Paviliun Keraton dan menonton tari istana. Pertunjukannya benar-benar membuat orang terpesona.

Bradford masih teringat, malam itu Elaine pernah berkata padanya, suatu saat ketika dia bisa mendapat kiriman kartu anggota royal dari pemilik Restoran Hardara, lalu makan di Paviliun Keraton, barulah dia dianggap benar-benar menjadi tokoh besar di Kota Herburt.

Bradford menyesap secangkir teh hijau yang harum, lalu bertanya santai, "Sepertinya pemilik di balik Restoran Hardara ini bukan orang biasa, ya?"

"Memang bukan orang biasa."

Kimmy mengangguk. "Aku nggak tahu Pak Clayden pernah dengar atau belum tentang sosok Kakek Hardara?"

Bradford mengangkat alis sedikit, lalu menggeleng. "Belum pernah."

Kimmy pun mencondongkan tubuh ke depan. Separuh tubuhnya bertumpu di meja, membuat lekuk tubuhnya makin terlihat jelas dan menggoda.

Dengan suara pelan, dia melanjutkan, "Pemilik sebenarnya dari Restoran Hardara adalah Kakek Hardara itu. Jarang ada yang tahu soal ini, aku pun baru belakangan ini dengar langsung dari ayahku."

"Banyak orang mengira restoran ini milik seorang pengusaha asal Honka. Padahal, orang itu hanyalah boneka yang dipasang Kakek Hardara untuk tampil di depan umum."

"Oh." Bradford hanya mengangguk datar. Wajahnya tetap tenang, meski pandangannya refleks melirik ke arah tubuh Kimmy beberapa kali.

Tak bisa dipungkiri, lekuk tubuh Kimmy memang begitu menonjol dan jauh lebih berisi dibanding Elaine yang tampak lebih mungil.

Merasakan tatapan Bradford, wajah Kimmy langsung memerah. Dia buru-buru duduk tegak, lalu berusaha menutupi rasa malunya.

Namun, adegan itu justru tertangkap jelas oleh Ellie yang sedang mengintai dari sudut ruangan. Dia menemukan sudut paling sempurna untuk memotret dan berhasil menangkap momen itu dengan kamera ponselnya.

"Cewek genit! Bisik-bisik sama kakak iparku sedekat itu, jelas sekali mau goda orang. Malah sok malu-malu lagi, dasar cewek murahan!" Ellie mendengus kesal sambil terus mengambil foto diam-diam.

Dengan wajah yang punya kemiripan dengan Elaine, Ellie sendiri sebenarnya juga seorang gadis cantik.

Selain itu, karena usianya baru sekitar awal 20-an dan bahkan belum lulus kuliah, Ellie memiliki kecantikan yang segar dan polos, berbeda jauh dengan pesona dewasa yang dimiliki Kimmy maupun Elaine yang sudah lama terjun di dunia bisnis.

Di sampingnya, Ferona mendesak dengan penuh amarah, "Kamu harus motret baik-baik, ambil sebanyak mungkin! Hari ini kita harus punya cukup bukti, biar kakakmu bisa segera ceraikan dia!"

Saat itu, beberapa pelayan cantik datang dengan membawa piring-piring mewah. Mereka menghampiri meja Bradford dan Kimmy untuk menyajikan hidangan.

"Nama hidangan ini, Naga dan Foniks."

"Nama hidangan ini, Pasangan Abadi Menyatukan Hati."

"Kalau yang ini, Rezeki Langit. Silakan dinikmati."

Tiga hidangan langsung disajikan di depan mereka berdua. Nama-namanya terdengar megah, tampilannya juga indah dan mewah. Namun porsinya tidak banyak, setiap hidangan hanya cukup untuk satu-dua suap saja. Yang ditonjolkan adalah kesan eksklusif dan elegan.

Lagi pula, satu paket lengkap berisi 88 hidangan. Kalau setiap hidangan mereka cicipi satu suap saja, dijamin sudah cukup kenyang.

Bradford menunduk memperhatikan makanan itu. Ternyata hidangan bernama "Naga dan Foniks" hanyalah sup ayam dengan sayap burung. "Pasangan Abadi Menyatukan Hati" adalah pastel kari dan kacang merah, dan "Rezeki Langit" sebenarnya adalah tumisan asparagus dengan bunga bakung segar.

Selain tiga hidangan itu, mereka juga mendapat sebotol anggur edisi koleksi, yang termasuk dalam paket makan.

Pelayan menuangkan anggur ke gelas masing-masing. Kimmy pun mengangkat gelasnya sambil tersenyum manis. "Pak Clayden, gelas ini untukmu, sebagai ungkapan terima kasihku karena sudah menyelamatkan ayahku."

"Nggak perlu sungkan."

Bradford hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat gelasnya. Mereka pun bersulang, kemudian sama-sama menenggak habis anggur itu.

"Ayo makan, coba cicipi seperti apa rasanya."

Setelah meletakkan gelas, Kimmy langsung mempersilakan Bradford mencicipi hidangan yang sudah tersaji.

Bradford baru saja mengambil sepotong lauk, tiba-tiba alisnya berkerut. Dia menoleh pada pelayan di sampingnya dan bertanya, "Apakah dapur restoran kalian mengalami sesuatu yang aneh dalam dua hari ini?"

Kimmy tertegun, tidak mengerti mengapa Bradford tiba-tiba berkata demikian. Namun, dia refleks menaruh kembali makanan yang hampir saja masuk ke mulutnya.

Pelayan yang ditanya pun ikut terkejut. Wajahnya tampak panik dan hanya bisa terbata-bata tanpa memberi jawaban jelas.

Tepat pada saat itu, serombongan orang lewat di dekat meja mereka.

Di barisan paling depan, seorang lelaki tua berpakaian batik dan berwajah serius kebetulan mendengar ucapan Bradford. Matanya langsung berubah tajam dan langkahnya pun terhenti.

Di sampingnya, seorang pria paruh baya mengenakan jas rapi dan kacamata juga ikut mengernyit, lalu membisikkan pelan, "Tuan ...."

Namun, lelaki tua itu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar dia diam. Dia lalu melangkah mendekati Bradford dan bertanya dengan suara berat, "Anak muda, kenapa kamu bisa tahu kalau dapur restoran ini memang sedang ada kejadian aneh?"

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya