Bab 1

Bradford, yang juga dikenal sebagai Clayden Ardhanesa, pernah menjadi pria yang berdiri di puncak dunia. Demi wanita yang dicintainya, dia rela melepaskan segalanya dan menikahi wanita itu, serta diam-diam melindunginya dari belakang. Namun setelah wanita itu meraih kejayaan, dia malah menganggap Clayden tak berguna dan mengajukan perceraian.

Ketika nama Clayden kembali menggema hingga ke seluruh penjuru dunia, pada akhirnya wanita itu hanya bisa berlutut menyesal dan menangis tanpa henti ....

Ding dong ....

Mendengar bel pintu berbunyi, Bradford buru-buru mengusap tangannya pada celemek, lalu bergegas keluar dari dapur. Dia membuka pintu sambil tersenyum dan berkata, "Elaine, kenapa hari ini pulang lebih cepat ...."

Belum sempat Bradford menyelesaikan kalimatnya, suaranya mendadak terhenti. Sebab, orang yang berdiri di depan pintu bukanlah istrinya yang cantik, Elaine, melainkan sekretaris Elaine yang bernama Tasya.

"Tasya, kenapa kamu datang?" Bradford segera mempersilakan Tasya masuk ke rumah.

"Pak Bradford, hari ini saya mewakili Bu Elaine datang untuk membicarakan sesuatu dengan Anda." Tasya melirik sekilas ke arah Bradford dengan ekspresi sangat dingin. Dia langsung berjalan menuju sofa dan duduk, lalu mengeluarkan dua lembar dokumen dari tas kerjanya.

Bradford ikut mendekat dan menunduk, lalu seketika ekspresinya berubah. Sebab, yang diserahkan Tasya adalah selembar perjanjian perceraian!

Tertulis jelas nama dari kedua pihak: Bradford dan Elaine!

"Tasya, apa maksudnya ini?" tanya Bradford dengan suara berat.

"Pak Bradford, kita sama-sama orang dewasa. Anda pasti paham maksudnya. Bu Elaine sudah menandatangani dokumen ini. Dia memberi kuasa kepada saya untuk menyampaikan pada Anda. Di bagian syarat kompensasi masih kosong. Anda boleh mengisinya sesuka hati. Asalkan Anda menandatangani dan menyetujui perceraian, itu sudah cukup."

Tasya menyampaikan semuanya dengan nada datar, sambil mengeluarkan sebuah pena dan mendorongnya ke depan Bradford.

Bradford melihat tanda tangan di lembaran itu, memang benar tulisan tangan Elaine. Sedangkan kolom angka untuk kompensasi benar-benar masih kosong.

Perasaan di hati Bradford bercampur aduk. Dia kemudian mengejek dengan sinis, "Kalau kutulis 20 triliun, dia bakal setuju nggak ya?"

"Pak Bradford, tolong gunakan akal sehat dan punya sedikit kesadaran diri!" Tasya melirik sinis ke arahnya, lalu berkata dengan tanpa segan-segan, "Bu Elaine cuma mau menghargai tiga tahun pernikahan ini, makanya dia rela memberikan kompensasi yang sangat baik. Harap Anda bisa menulis angka yang lebih masuk akal."

Bradford menegaskan dengan suara berat, "Bilang sama Elaine, aku nggak mau kompensasi. Aku nggak setuju bercerai."

Mereka sudah menikah tiga tahun dan ikatan perasaan di antara mereka sangat mendalam. Walaupun setahun terakhir Elaine semakin sibuk karena bisnis Alliance Group yang berkembang pesat, waktu pulang ke rumah dan bersama dengannya pun semakin sedikit.

Namun, Bradford tidak merasa kalau hubungan mereka punya masalah yang tidak bisa didamaikan, apalagi harus diselesaikan dengan perceraian.

Terlebih lagi, pernikahan ini adalah urusan antara dirinya dan Elaine. Kalau Elaine sendiri tidak mau muncul dan hanya seenaknya mengutus seorang sekretaris untuk bicara, mana mungkin dia mau menyetujuinya?

Soal kompensasi yang katanya boleh diisi sesuka hati ... Bradford tentu percaya Elaine mampu membayarnya.

Bagaimanapun, sebagai wanita yang dalam dua tahun terakhir menjadi presdir nomor satu di Kota Herburt, Elaine sudah memiliki kekayaan bernilai ratusan miliar. Selama angka yang diisi Bradford tidak berlebihan, nominal miliaran atau bahkan puluhan miliar pun pasti bukan masalah.

Akan tetapi, Bradford tidak peduli soal uang. Kalau memang dia peduli, tentu selama tiga tahun ini dia tidak akan mengurus rumah tangga dengan rapi dan menjadi pria di balik kesuksesan Elaine. Yang dia hargai hanyalah hubungan ini.

"Pak Bradford, sampai sekarang Anda masih nggak mengerti situasi?"

Melihat Bradford tidak terpengaruh sedikit pun, Tasya mendadak berdiri dan mendengus marah, lalu berkata lantang, "Bu Elaine sekarang adalah pengusaha terkenal di Kota Herburt. Alliance Group yang berada di bawah kepemimpinannya sudah jadi perusahaan papan atas baru di kota ini."

"Sedangkan Anda ... cuma pria rumah tangga yang nggak berguna, sama sekali nggak pantas untuknya. Bu Elaine masih menghargai masa lalu, makanya dia memberi Anda syarat kompensasi sebaik itu. Itu sudah seperti keberuntungan besar untuk Anda. Jangan nggak tahu diri!"

"Aku nggak pantas untuknya?" Ekspresi Bradford tampak aneh, dia balik bertanya, "Tasya, kamu tentu tahu bagaimana kondisi Elaine tiga tahun lalu saat pertama kali bertemu denganku."

"Waktu itu, Alliance Group bahkan sudah nyaris bangkrut dan benar-benar di ujung tanduk! Siapa yang menemaninya melewati masa itu? Siapa yang selalu diam-diam mendukungnya dari belakang?"

Tasya terdiam sejenak, lalu berkata, "Pak Bradford, sekarang sudah berbeda dengan dulu. Tolong hadapi kenyataan. Aku datang ke sini baik-baik cuma karena dulu kamu memang pernah membantu Bu Elaine."

"Kalau bukan karena itu, dengan kemampuan Bu Elaine, dia nggak perlu repot menandatangani perjanjian ini. Satu gugatan saja cukup untuk membuatmu keluar dari rumah tanpa sepeser pun."

Bradford menarik napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Elaine.

"Bu Elaine sedang sangat sibuk, jangan telepon dia!" Melihat gerakannya, Tasya berusaha menghentikan Bradford.

Namun pada saat itu, Elaine sudah menjawab telepon. Hanya dengan sebuah tatapan tajam, Bradford berhasil mendesak Tasya untuk mundur.

Tasya sendiri tidak mengerti mengapa Bradford yang biasanya pendiam, bisa menunjukkan tatapan setajam itu. Jantungnya berdetak kencang karena ketakutan. Bradford menarik kembali pandangannya, lalu berkata ke ponsel, "Elaine, Tasya barusan datang ke rumah. Kamu tahu soal ini?"

Di kantor Ketua Dewan Alliance Group.

Elaine mengenakan setelan kerja yang rapi. Dengan rambut tergerai dan paras yang menawan, dia berdiri di depan jendela besar. Tangan halusnya memegang ponsel sambil menatap gedung-gedung pencakar langit di seberang, lalu berkata dengan perlahan, "Bradford, kita cerai saja."

Mendengar Elaine mengucapkan kata-kata itu sendiri, hati Bradford seketika terasa dingin.

"Kenapa? Paling nggak, berikan aku satu alasan, 'kan?"

Bibir Elaine sedikit terbuka, lalu berkata perlahan, "Nggak ada hal yang kekal di dunia ini."

"Selama setahun ini, waktu aku pulang kerja, frekuensi kita ngobrol semakin sedikit. Sikapku sama kamu juga makin dingin. Alasan utamanya adalah karena kesenjangan kelas di antara kita sudah semakin besar."

"Kamu cuma tahunya makan enak dan bersenang-senang, nggak pernah punya ambisi sedikit pun untuk maju. Obrolan kita juga sudah semakin nggak nyambung."

"Sekarang karierku sedang naik, aku nggak ingin kamu terus jadi beban yang menahanku untuk berkembang. Dan aku sendiri juga ingin cari seorang pasangan yang bisa mengobrol dan berdiri sejajar denganku selama sisa hidup ini."

Setelah mengatakan semua ini, Elaine menghela napas panjang. Kata-kata ini sebenarnya sudah lama ingin dia ucapkan. Setelah mengungkapkan semuanya sekarang, dia langsung merasa lega dan suaranya menjadi lebih tenang.

"Jadi, kita cerai saja."

Bradford mengepalkan tinjunya, dia masih bisa merelakan semua ini. "Tiga tahun lalu, waktu mobilmu terjun dari tebing, akulah yang menyelamatkanmu. Waktu menikah, kamu pernah bilang aku adalah takdirmu, kamu akan mencintaiku seumur hidup, dan akan setia bersamaku ...."

....

"Apa kamu sudah lupa semua itu?"

Elaine menutup mata dengan sedikit rasa bersalah, lalu menggertakkan giginya dan berkata, "Aku sudah bilang! Nggak ada hal yang abadi di dunia ini! Cerai saja. Tulis angka berapa pun yang kamu mau di perjanjian itu. Aku bisa memberimu uang dalam jumlah besar."

"Cukup untukmu menikah lagi dan hidup tanpa kekurangan di sisa hidupmu. Itu balasan dan kompensasi dariku untukmu."

"Mungkin uang berarti segalanya bagimu, tapi bagiku, uang itu nggak ada nilainya." Bradford tertawa sinis, lalu bertanya, "Aku cuma tanya satu hal terakhir. Apa alasanmu mau bercerai ini ada hubungannya sama Gunther?"

Elaine terdiam sejenak, lalu menjawab, "Ada."

"Oke, aku mengerti. Kalau begitu, semoga kamu bahagia." Wajah Bradford menjadi sangat muram saat menutup telepon. Dia melepas celemek yang dikenakan, lalu melemparkannya ke lantai.

Entah mengapa, Tasya merasa Bradford tampak begitu menakutkan saat itu. Bradford menoleh sekilas padanya, lalu berjalan mendekat. Tasya merasa ketakutan hingga mundur beberapa langkah.

Namun, Bradford tidak berbuat apa-apa padanya. Dia hanya mengambil pena, lalu menorehkan namanya di atas perjanjian perceraian, kemudian melemparkan pena itu kembali ke meja.

"Pak Bradford, Anda belum menulis angka di bagian kompensasi," Tasya mengingatkan.

"Aku nggak butuh." Bradford menjawab singkat, lalu berbalik masuk ke kamar.

Tak lama kemudian, dia telah mengganti baju rumahnya dan keluar dengan pakaian santai. "Ini kunci rumah, aku taruh di sini. Tolong serahkan sama Elaine nanti." Dia meletakkan seikat kunci di atas rak sepatu dan mengenakan sepatunya, lalu hanya membawa sebuah tas punggung sebelum membuka pintu dan pergi.

Tasya menatap melalui jendela, melihat Bradford turun dan meninggalkan kompleks perumahan. Dia segera mengeluarkan ponsel dan menelepon Elaine untuk melaporkan. "Bu Elaine, Pak Bradford sudah tanda tangan. Dia meninggalkan kunci rumah, lalu pergi."

Mendengar bahwa Bradford sudah menandatanganinya, Elaine menghela napas panjang dan bertanya, "Lalu, berapa uang yang dia tulis di bagian kompensasi?"

"Dia nggak tulis," jawab Tasya.

"Nggak tulis?" Elaine terkejut.

"Ya, dia bilang dia nggak perlu. Bu Elaine, selamat ya, akhirnya Anda berhasil bercerai sesuai harapan. Yang lebih penting lagi, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Pak Bradford memilih pergi dengan tangan kosong." Tasya tersenyum senang sambil memberi ucapan selamat.

Namun mendengar kabar itu, Elaine malah sama sekali tidak merasa gembira. Sebaliknya, muncul perasaan bersalah yang sulit diungkapkan.

Elaine menarik napas panjang, lalu berkata, "Sudahlah, jangan bahas soal ini dulu. Cepat kembali, tadi ada kabar dari Galaxy Group. Mereka sudah memasukkan kita ke dalam daftar calon mitra. Sore nanti ada pertemuan tatap muka, kamu ikut aku hadir!"

"Benarkah? Bagus sekali! Kalau kita berhasil jadi mitra baru Galaxy Group, skala perusahaan kita pasti bisa berkembang pesat!" Tasya kaget bercampur gembira. Dia segera menutup telepon, lalu bersiap-siap menuju kantor pusat Alliance Group.

Sementara itu, Bradford yang baru saja meninggalkan kompleks tempat tinggalnya selama tiga tahun, ponselnya berdering. Dia mengerutkan kening sambil mengeluarkan ponsel.

Setelah melihat nama penelepon, dia lalu menjawab dengan nada penuh wibawa, "Aku lagi nggak mood sekarang. Kalau nggak ada urusan penting, jangan ganggu aku."

"Maaf, Pak Clayden, salah satu teman saya mendadak terserang penyakit parah, nggak ada seorang pun yang bisa menolong. Karena itu, saya terpaksa menelepon Anda, saya benar-benar nggak tahu Anda sedang dalam suasana hati buruk hari ini ...." Suara di seberang terdengar begitu rendah hati dan ketakutan.

Mendengar bahwa masalah ini menyangkut nyawa seseorang, Bradford menekan perasaan kesalnya dan bertanya, "Orangnya siapa, ada di mana?"

"Dia ada di Kota Herburt, dia adalah Ketua Dewan Galaxy Group, Keenan."

Bradford mengesampingkan pikiran tentang perceraian yang membuatnya kesal, lalu berkata perlahan, "Aku bisa menolongnya, tapi kamu seharusnya tahu aturanku."

"Mengerti, mengerti!"

Orang di seberang telepon itu menghela napas panjang dan berkata dengan nada penuh hormat, "Tuan Clayden sang Penyelamat, menolong nyawa tanpa memungut biaya, utang budi dibalas dengan jasa."

"Pak Clayden tenang saja. Keenan ini peringkat tiga teratas orang terkaya di Kota Herburt. Kalau Anda menolongnya, Anda akan menjadi penyelamat yang tak terlupakan baginya. Kalau kelak Pak Clayden butuh bantuan, dia pasti akan berusaha keras membantu Anda."

"Kalau dia lupa budi dan nggak tahu berterima kasih, aku bisa membuatnya bangkrut dalam waktu sehari!"

"Oke, karena ada jaminan dari Pak Marva selaku Ketua Kamar Dagang Hardara, aku akan menolongnya. Nanti aku kirimkan alamat, kamu suruh seseorang untuk jemput aku."

Bab 2

Di gerbang Kompleks Mayora, Bradford menoleh menatap kawasan itu dengan perasaan campur aduk. Dulu dia sempat mengira akan bisa hidup berdampingan dengan Elaine di sini seumur hidup. Tak pernah terpikir akhirnya harus berakhir dengan perceraian.

Tak lama kemudian, sebuah Bentley hitam berhenti tidak jauh di depannya. Mobil mewah senilai miliaran, ditambah pelat nomor lokal dengan deretan angka 7, langsung menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan.

Begitu mobil berhenti, seorang wanita cantik berwajah segar dan bertubuh seksi segera turun. Tingginya lebih dari 170 cm. Dia mengenakan mantel merah, celana jins ketat, dan sepatu hak tinggi hitam yang elegan. Auranya sangat kuat bak seorang ratu.

Hanya saja, wajahnya tampak sedikit gelisah. Begitu turun, dia langsung mengeluarkan ponsel dan menatap sekeliling dengan mata indahnya.

Tring ... tring ....

Ponsel Bradford yang berdiri di depannya berdering.

Wanita itu terkejut, lalu segera menurunkan ponselnya. Dia melangkah cepat ke arah Bradford dan bertanya, "Anda Dokter Clayden?"

Bradford mengangguk. "Ya, aku. Apa hubunganmu sama Pak Keenan?"

"Dokter Clayden, salam kenal. Aku Kimmy, putri Keenan. Panggil saja aku Kimmy!"

Kimmy menunduk hormat di hadapan Bradford. Sebelum datang, dia sudah diingatkan khusus oleh Marva. Menghadapi Clayden, sikapnya harus penuh hormat.

Marva bukan hanya sahabat Keenan, tapi juga Ketua Kamar Dagang Hardara dan salah satu konglomerat top di negeri ini. Jadi, mana berani Kimmy mengabaikan nasihat dari orang seperti itu?

Bradford mengangguk ringan. "Selamatkan nyawa orang lebih penting. Ayo naik mobil."

Meskipun Kimmy adalah wanita cantik yang benar-benar menggoda, bahkan tidak kalah sedikit pun dari Elaine, Bradford tetap tidak merasa goyah sedikit pun ketika menghadapinya.

"Dokter Clayden, silakan."

Kimmy membuka pintu mobil dengan penuh hormat, mempersilakan Bradford naik. Setelah itu, dia berlari ke sisi lain dan duduk di kursi belakang.

Tepat saat itu, Tasya yang mengendarai Mercedes-Benz seri E milik perusahaan, keluar dari gerbang Kompleks Mayora. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan Bradford yang duduk di kursi belakang Bentley.

Tasya tertegun.

'Kenapa Bradford bisa duduk di mobil mewah sekelas Bentley?! Lalu di sampingnya ... ada seorang wanita cantik yang sangat menawan!'

Bradford hanya melirik sekilas ke arah Tasya, lalu menoleh kembali. Mobil Bentley itu pun melaju menjauh dengan anggun.

"Hebat kamu ya, Bradford! Jadi kamu sudah punya wanita di luar, ya? Pasti kamu jadi simpanan orang kaya. Baru saja cerai dari Elaine, sudah nggak sabaran jalan sama perempuan lain!"

Tasya menggertakkan gigi sambil menatap kesal belakang mobil Bentley yang semakin jauh. Dengan hati penuh amarah, dia buru-buru mengendarai mobilnya kembali ke kantor Alliance Group, lalu menceritakan kejadian itu pada Elaine dengan menambah-nambah bumbu.

"Apa? Bradford ada wanita lain? Malah seorang wanita cantik yang mengendarai Bentley?"

Elaine yang sedang merapikan berkas untuk pertemuan sore, langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya yang manis berubah menjadi dingin.

"Iya! Aku lihat dengan mata kepala sendiri!" Tasya mengangguk dengan kuat.

"Elaine, untung kamu sudah cerai. Kalau nggak, kamu pasti masih dibohongi. Aku sekarang mengerti kenapa dia menolak menulis angka kompensasi dalam perjanjian perceraian. Rupanya dia sudah jadi simpanan perempuan kaya, jadi sama sekali nggak peduli sama kompensasi dari kamu!"

Mata Elaine memancarkan kilatan dingin.

Awalnya saat mengajukan perceraian dengan Bradford, dia sempat merasa sedikit bersalah. Namun sekarang, dia sadar kalau rasa bersalah itu ternyata sangat konyol.

"Dulu aku mengira, dia cuma nggak punya ambisi. Tapi setidaknya masih jujur dan sederhana ...."

"Nggak nyangka, ternyata selama masih berstatus suami-istri sama dia, dia sudah melakukan hal menjijikkan seperti berselingkuh. Tapi bagus juga kalau begitu, setidaknya aku nggak perlu merasa bersalah lagi cerai sama dia."

Selesai berkata dengan suara dingin, Elaine menoleh pada Tasya. "Sebarkan pemberitahuan. Sepuluh menit lagi adakan rapat pimpinan Alliance Group untuk mempersiapkan pertemuan dengan Galaxy Group sore ini."

Tasya segera mengiakan, lalu beranjak keluar.

Saat kantor hanya tersisa dirinya seorang, Elaine membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah foto. Itu adalah foto prewedding dirinya bersama Bradford yang dulu menjadi favoritnya.

Selama dua tahun pertama, foto itu selalu dia pajang di atas meja kerjanya. Namun setahun terakhir, karena berbagai alasan, dia hanya menyimpannya di laci. Meski begitu, di dalam hatinya, selalu masih ada ruang yang dia sisakan untuk Bradford.

Namun sekarang, setelah tahu Bradford ternyata sudah berselingkuh duluan, perasaan itu akhirnya benar-benar kandas.

Elaine menatap foto itu sejenak, lalu membuka bingkai dengan tenang. Dia menarik foto itu keluar dan merobeknya tepat di antara sosok mereka berdua. Kemudian, dia melemparkannya ke tempat sampah bersama bingkainya.

"Mulai sekarang, kita jalani hidup kita masing-masing. Kita nggak saling berutang lagi."

....

Kawasan Vila Hillside, nomor 8.

Di situlah rumah Keenan.

Sebagai pendiri sekaligus Ketua Galaxy Group yang memiliki aset sebesar puluhan triliun, nama Keenan sudah menjadi legenda di Kota Herburt. Dia adalah salah satu dari tiga taipan terkaya di kota besar itu.

Namun kini, sosok yang dulu penuh wibawa itu terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan tak sadarkan diri. Tubuhnya tampak lemah seolah nyawanya bisa melayang kapan saja.

Di kamar tidur yang mewah itu, terlihat Keenan yang terbaring lemah. Di sekelilingnya berdiri beberapa dokter. Orang-orang itu tidak lain adalah para profesor medis ternama di Kota Herburt.

Masing-masing dari mereka adalah pakar di rumah sakit kelas atas. Bagi orang awam, bahkan untuk sekadar mendaftar konsultasi dengan mereka saja sudah sangat sulit.

"Profesor Wallace, gimana kondisi Keenan? Apa kalian ada cara untuk menanganinya?"

Seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun dan mewah akhirnya tak kuasa menahan cemas. Pasalnya, para profesor itu sudah memeriksa cukup lama, tetapi tetap belum menemukan jalan keluar.

Wanita itu tak lain adalah Chelsea, istri sah Keenan, sekaligus salah satu sosialita papan atas di Kota Herburt.

Profesor Wallace yang merupakan sosok paling dihormati di antara rombongan dokter itu, adalah seorang pria tua bernama asli Wallace Kartono. Dia menjabat sebagai wakil rektor Universitas Kedokteran Herburt, sekaligus wakil direktur rumah sakit afiliasi pertama universitas tersebut, serta kepala departemen bedah saraf.

Bisa dibilang, dialah pakar paling berotoritas di bidang bedah saraf di Kota Herburt.

Wallace melirik Chelsea sejenak lalu berkata, "Nyonya Chelsea jangan khawatir, kami akan keluar sebentar untuk rapat dan menyusun rencana perawatan. Nggak lama lagi kami akan memberikan jawaban."

Selesai bicara, dia pun membawa tim medisnya keluar dari kamar menuju ruang kerja sebelah untuk berdiskusi.

Chelsea hanya bisa mondar-mandir di kamar dengan hati gusar.

Tak lama kemudian, Kimmy bergegas masuk sambil membawa Bradford. "Bu, aku sudah bawa Dokter Clayden yang direkomendasikan Ketua Marva!"

Kimmy segera memperkenalkan Bradford pada Chelsea, berharap dia bisa memeriksa kondisi Keenan.

Namun, ketika Chelsea melihat Bradford yang masih muda dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang dokter sakti, alisnya langsung mengernyit. Dia menghalangi sambil berkata, "Kimmy, kamu yakin anak muda ini benar-benar seorang dokter sakti? Jangan-jangan dia penipu?"

Kimmy menunduk dan berbisik, "Sepertinya nggak, Bu. Dia direkomendasikan sama Pak Marva, masa iya penipu?"

"Marva juga bukan dewa. Dia bisa saja keliru. Kalau ternyata dia ini cuma penipu, lalu membuat kondisi ayahmu tambah parah, gimana dong?"

"Ini ...."

Kimmy sempat ragu sejenak.

Di tengah percakapan ibu dan anak itu, mata Bradford berkilat. Dia menoleh pada Keenan yang terbaring di ranjang, seolah bisa memahami penyakit yang dideritanya hanya dengan sekilas melihatnya.

Bradford berkata, "Kondisi pasien sudah sangat kritis. Kalau nggak segera ditangani, nyawanya akan melayang. Aku datang ke sini hanya demi menghormati Pak Marva. Kalau kalian nggak ingin aku mengobati, aku bisa langsung pergi sekarang."

"Dokter Clayden, jangan marah!"

Kimmy langsung ketakutan dan buru-buru meraih tangan Bradford. Kemudian, dia menoleh pada Chelsea. "Bu, biarkan Dokter Clayden mencoba. Aku percaya dia!"

Chelsea menarik napas panjang, lalu berkata dingin, "Sepertinya kamu bisa langsung tahu penyakit Keenan cuma dengan lihat sekilas? Kalau memang sehebat itu, coba lihat tubuhku. Kalau kamu bisa menyebutkan penyakitku dengan tepat, aku baru percaya kamu memang dokter sakti dan aku akan biarkan kamu mengobatinya."

Telapak tangan Kimmy yang putih mungil, langsung menggenggam erat tangan Bradford. Karena terlalu cemas memikirkan kondisi ayahnya, keringatnya membasahi tangan hingga terasa lengket.

Bradford melihat betapa tulusnya Kimmy mengkhawatirkan sang ayah. Jadi, meski merasa sikap Chelsea tidak sopan, dia tetap berkata dengan tenang, "Kamu sering batuk kering, mulut terasa panas, ada lapisan kuning di lidah, juga kerap terkena sariawan. Itu tandanya ada inflamasi di paru."

"Selain itu, energi ginjalmu juga lemah, ditandai dengan keputihan berlebihan, menstruasi nggak teratur, dan insomnia menahun ...."

Chelsea langsung terperanjat!

Apa yang disebutkan Bradford semuanya tepat. Semua itu memang masalah kesehatan yang telah lama mengganggunya selama bertahun-tahun.

Mungkinkah anak muda ini benar-benar seorang dokter sakti?

Bab 3

Saat itu juga, Chelsea mulai sedikit percaya pada kemampuan medis Bradford. Sikapnya pun langsung berubah dan dia berkata dengan hormat, "Dokter Clayden, maafkan kelancanganku tadi. Tolong periksa Keenan."

Bradford mengangguk, lalu membuka tas ransel yang dibawanya. Dari dalam, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana berwarna ungu. Begitu dibuka, di dalamnya berbaris rapi jarum-jarum perak berbagai ukuran.

Dia berjalan ke sisi ranjang, lalu membuka baju Keenan dengan cekatan. Kemudian, jemarinya bergerak lincah menancapkan jarum ke tubuh Keenan dengan kecepatan luar biasa.

Sambil melakukan akupunktur, Bradford masih sempat menjelaskan pada Chelsea dan Kimmy, "Tubuh manusia memiliki tiga jiwa dan tujuh roh. Bila jiwa utama hilang, orang akan jatuh koma. Dalam pandangan kedokteran barat, kondisi Keenan dianggap sebagai mati otak, tetapi sesungguhnya ini karena jiwa utamanya lepas."

"Menurutku, dua hari lalu dia pasti pernah mengalami sebuah kejutan besar. Karena jiwanya lemah, dia bisa lenyap kalau berada di luar tubuh terlalu lama. Sekarang, aku bisa memanggil jiwanya kembali dengan akupunktur."

Hanya dalam beberapa menit, Bradford sudah menancapkan 36 jarum di tubuh Keenan. Gerakannya begitu cepat dan terampil, menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Andai saja ada tabib tua berpengalaman hadir, pasti akan terperanjat melihat tekniknya. Tanpa latihan keras puluhan tahun, mustahil seseorang bisa mencapai tingkat itu.

Jika ada yang mengenali metode jarum tersebut, matanya pasti akan terbelalak tak percaya. Pasalnya, teknik yang digunakan Bradford adalah "Teknik 36 Jarum Yin Yang". Ini adalah sebuah metode akupunktur kuno yang sudah lama hilang. Konon, teknik ini bahkan mampu membangkitkan orang mati dan menyembuhkan luka parah.

Meski Chelsea dan Kimmy tidak mengerti ilmu pengobatan tradisional, mereka tetap bisa melihat betapa luar biasanya keterampilan Bradford. Rasa percaya di hati mereka pun semakin kuat.

Namun, Teknik 36 Jarum Yin Yang ini bukan teknik biasa. Setelah menyelesaikan semua tusukan, dahi Bradford berkeringat deras dan napasnya agak terengah-engah.

"Sudah. Paling lama sepuluh menit lagi, jiwa pasien akan kembali dan dia akan sadar. Sampai aku kembali nanti, jangan ada yang menyentuh jarum-jarum itu."

Setelah itu, Bradford menarik tangannya dan berkata pada Kimmy, "Antarkan aku ke toilet sebentar."

Kimmy segera membawa Bradford keluar kamar menuju toilet untuk mencuci muka dan mengelap keringatnya. Namun tepat saat Bradford meninggalkan ruangan, Wallace bersama tim medisnya kembali dari ruang kerja tempat mereka berdiskusi.

"Nyonya Chelsea, kami sudah menentukan rencana medis. Sebentar lagi kami akan segera memberi penanganan pada Pak Keenan ...."

Belum sempat Wallace menyelesaikan ucapannya, matanya langsung membelalak melihat tubuh Keenan dipenuhi jarum perak!

Wajah Wallace langsung berubah tegang. Dia melangkah cepat mendekati ranjang. "Apa-apaan ini?!"

Chelsea buru-buru menjelaskan, "Tadi Dokter Clayden yang melakukan akupunktur. Dia bilang Keenan pingsan karena kehilangan satu jiwanya, dan dia bisa memanggilkannya kembali lewat jarum ini ...."

"Apa?! Dokter Clayden apaan! Nyonya Chelsea, kenapa kamu bisa percaya sama omongan penipu begini? Apanya yang jiwa keluar dari tubuh? Omong kosong begini saja kamu bisa percaya?"

Wallace membentak, "Kalau akupunktur bisa menyembuhkan penyakit Pak Keenan, lalu untuk apa masih ada pakar seperti kami?"

Chelsea mengernyit. "Tapi tadi aku lihat sendiri, keterampilannya memang luar biasa. Aku rasa dia memang punya kemampuan."

"Astaga, Nyonya Chelsea, kamu benar-benar ceroboh! Penipu memang paling pintar memainkan trik dan membuat keluarga pasien percaya, lalu menciptakan cerita palsu penuh takhayul. Jarum-jarum ini bukan cuma nggak akan menyembuhkan Pak Keenan, malah bisa memperparah kondisinya!"

Perkataan Wallace membuat Chelsea jadi ketakutan. "Kalau begitu ... bagaimana sekarang?"

"Aku akan segera mencabutnya!"

Tanpa banyak bicara, Wallace langsung mengulurkan tangan untuk menarik salah satu jarum.

Namun baru saja satu jarum tercabut, Keenan yang tadinya koma tanpa gerakan, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan mulutnya sampai berbusa!

Situasi ini benar-benar tak terduga. Bukan hanya Chelsea yang terkejut ketakutan, bahkan Wallace sendiri pun terperanjat!

"Apa yang terjadi?!" teriak Chelsea ketakutan. Dia menekan tubuh Keenan dan menoleh pada Wallace.

"Aku ... aku juga nggak tahu .... Oh iya! Pasti jarum-jarum dari penipu itu yang memperburuk kondisi Pak Keenan!"

Begitu ucapannya dilontarkan, tiba-tiba tubuh Keenan tak lagi bergerak. Alat monitor jantung di samping ranjang berbunyi dengan cepat. Tampak jelas, detak jantung Keenan berhenti!

"Celaka! Pak Keenan nggak ada detak jantung!"

"Pak Keenan sudah meninggal!"

Beberapa dokter langsung menjerit panik.

Wallace juga kehilangan akal, sehingga wajahnya pucat ketakutan. "Ini gara-gara penipu itu! Dialah yang membunuh Pak Keenan!"

"Omong kosong! Tadi Keenan masih baik-baik saja. Justru karena kamu cabut jarumnya, dia jadi begini! Dokter Clayden jelas-jelas sudah bilang padaku, jangan ada yang menyentuh jarumnya sebelum dia kembali!"

Chelsea yang dilanda duka, menatap tajam Wallace lalu menampar keras wajahnya! Mana mungkin dia tidak tahu bahwa Wallace hanya sedang berusaha melemparkan kesalahan?

Wallace memegangi pipinya dengan ekspresi terkejut dan marah, tetapi dia tidak berani membalas. Siapa yang berani menyinggung keluarga besar seperti Keluarga Taulany ini?

Kegaduhan itu membuat Bradford dan Kimmy segera berlari masuk. Begitu melihat keadaannya, Bradford membentak dengan marah, "Siapa yang cabut jarumnya?!"

"Dia!" Chelsea langsung menunjuk ke arah Wallace.

Wallace jelas tidak mau menanggung tuduhan membunuh Keenan. Dengan suara berat, dia berkata, "Ya, aku yang cabut. Lalu kenapa? Yang menyebabkan Pak Keenan mati tetaplah anak muda ini!"

"Semua orang di Kota Herburt tahu keahlianku. Keenan adalah pasienku. Bocah ini berani sembarangan menusuk jarum tanpa seizinku, itu yang membuat Pak Keenan mati. Aku nggak mau disalahkan!"

"Pasien sudah dalam kondisi gawat, kamu sebagai dokter bukannya berusaha menyelamatkan, malah sibuk mencari kambing hitam. Heh, memalukan!"

Bradford menatap Wallace, lalu tertawa dingin.

Wallace berteriak marah, "Pasien sudah nggak ada detak jantung, mana mungkin bisa diselamatkan? Dia memang sudah mati otak, sekarang ditambah lagi nggak ada detak jantung. Sekalipun dilakukan resusitasi jantung paru, apa gunanya? Anak muda, kamu nggak tahu apa-apa, jangan sok pintar di sini!"

"Kalau nggak mampu, minggir saja!"

Bradford malas membuang-buang waktu dengan berdebat. Dia langsung mendorong Wallace ke samping, lalu kembali ke sisi ranjang. Jarum yang tadi dicabut Wallace segera dia tusukkan lagi. Kemudian dengan kedua jarinya yang dirapatkan, dia mengetuk beberapa titik di tubuh Keenan!

"Hidup kembali!" Terakhir, Bradford menekan tepat di jantung Keenan sambil berseru tegas.

Detik berikutnya, sebuah pemandangan yang mengejutkan semua orang pun terjadi! Detak jantung Keenan muncul lagi di monitor, napasnya juga berangsur-angsur kembali.

"Detak jantungnya kembali!"

"Ya Tuhan!"

"Ilmu apaan itu barusan?!"

Chelsea, Kimmy, dan bahkan para dokter yang dibawa Wallace, semuanya membelalak tak percaya. Suara teriakan takjub memenuhi ruangan.

Sementara itu Wallace sendiri langsung tampak pucat dan bergumam dengan bibir gemetaran, "Ini ... ini ... bagaimana mungkin?"

Bradford menoleh padanya dan bertanya, "Kamu mau bilang apa lagi?"

Wallace berusaha menenangkan keterkejutannya, lalu menyeringai sinis. "Meski kamu bisa mengembalikan detak jantung Pak Keenan, apa gunanya? Dia sudah mati otak. Tadi kami masih punya peluang menanganinya, tapi karena ulahmu, dia nggak akan pernah sadar lagi seumur hidup. Kamu tetaplah biang keladi yang membunuhnya!"

Bradford hanya mendengus pelan. Tepat di saat itu, matanya menangkap pemandangan tak kasat mata. Seberkas cahaya jiwa telah melayang masuk ke dalam ruangan itu perlahan-lahan. Cahaya itu adalah jiwa utama Keenan. Hanya Bradford yang bisa melihatnya.

Bradford mengulurkan tangan dan menyentuh kening Keenan, lalu berkata dengan perlahan, "Kembalilah."

Sesaat kemudian, jari Keenan bergerak. Matanya pun perlahan terbuka.

"Keenan!"

"Ayah!"

Chelsea dan Kimmy bersorak penuh sukacita, mata mereka berkaca-kaca karena gembira.

Para dokter lain juga merasa hal itu benar-benar di luar nalar. Mereka semua terbelalak menatap Bradford seolah-olah sedang melihat sosok dewa.

Setelah terkejut sejenak, Wallace buru-buru kembali sadar. Dia langsung maju ke sisi ranjang dan berkata dengan tebal muka, "Lihatlah, di bawah perawatanku, Pak Keenan akhirnya sadar. Ini benar-benar kabar yang luar biasa!"

Saat itu, dia hanya terus memikirkan harus bagaimana mengklaim jasa ini adalah miliknya. Sebab, Keluarga Taulany sebelumnya telah berjanji, siapa pun yang bisa menyelamatkan Keenan akan menerima bayaran honor dokter sebesar 16 miliar!

"Dasar tua bangka nggak tahu malu! Minggir!"

Kimmy yang sedari tadi sudah muak dengan Wallace, langsung murka saat melihat Wallace berani mengaku-ngaku dirinya yang berjasa. Dengan penuh emosi, dia menampar keras wajah Wallaca. Cara tamparan dan kekuatan tangannya, nyaris sama persis seperti tamparan ibunya tadi.

Para dokter yang ikut bersama Wallace hanya bisa mengernyit malu. Wajah mereka merah padam menahan rasa terhina. Siapa yang menyangka, Wallace yang biasanya terlihat berwibawa dan dihormati, ternyata bisa setidak tahu malu itu?

Wallace yang merasa malu sekaligus marah, akhirnya tak sanggup bertahan lebih lama. Dia mendengus dingin, lalu berbalik pergi. Dokter-dokter lainnya pun saling memandang sejenak, kemudian ikut pergi dengan wajah tertunduk.

Saat itu, Keenan akhirnya benar-benar siuman. Bradford lalu mencabut 36 jarum yang dipasangnya satu per satu. Sementara itu, Chelsea dan Kimmy bergantian menceritakan secara singkat apa yang terjadi selama dua hari terakhir saat Keenan tak sadarkan diri dengan mata memerah.

Keenan kemudian menoleh ke arah Bradford untuk mengucapkan terima kasih. "Dokter Clayden, kali ini benar-benar sudah merepotkanmu. Kamu adalah penyelamat hidupku. Nanti aku pasti akan memberimu bayaran yang sangat besar sebagai tanda terima kasih."

Meski merasa bersyukur, Keenan tetap mempertahankan wibawa seorang penguasa. Seolah baginya, selama dia memberikan sejumlah uang yang besar pada Bradford, itu sudah cukup untuk mewakili rasa terima kasihnya.

Namun, Bradford hanya menggeleng pelan. Dia membereskan jarum-jarumnya tanpa banyak bicara, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu cendana dan menyimpannya ke ransel.

Di sampingnya, Kimmy buru-buru menjelaskan, "Ayah, Dokter Clayden nggak pernah menerima bayaran atas pengobatan. Itu pesan khusus dari Pak Marva padaku."

"Nggak menerima bayaran? Kenapa begitu?"

Keenan tertegun.

Sebagai seorang pebisnis, apalagi seorang konglomerat dengan aset triliunan, dia terbiasa menyelesaikan semua urusan dengan uang. Baginya, kalau masalah bisa diselesaikan dengan uang, maka itu bukan masalah.

Namun jika Bradford tidak menerima bayaran, berarti dia harus menanggung utang budi pada Bradford. Sedangkan utang budi ... justru adalah yang paling sulit untuk dilunasi. Keenan jelas tidak ingin berutang pada orang lain.

Kimmy pun menjelaskan, "Dokter Clayden punya aturan sendiri dalam menolong orang. Itu yang disampaikan Pak Marva padaku."

"Apa aturannya? Katakan," tanya Keenan seraya mengernyit.

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya