Bab 2
Di gerbang Kompleks Mayora, Bradford menoleh menatap kawasan itu dengan perasaan campur aduk. Dulu dia sempat mengira akan bisa hidup berdampingan dengan Elaine di sini seumur hidup. Tak pernah terpikir akhirnya harus berakhir dengan perceraian.
Tak lama kemudian, sebuah Bentley hitam berhenti tidak jauh di depannya. Mobil mewah senilai miliaran, ditambah pelat nomor lokal dengan deretan angka 7, langsung menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan.
Begitu mobil berhenti, seorang wanita cantik berwajah segar dan bertubuh seksi segera turun. Tingginya lebih dari 170 cm. Dia mengenakan mantel merah, celana jins ketat, dan sepatu hak tinggi hitam yang elegan. Auranya sangat kuat bak seorang ratu.
Hanya saja, wajahnya tampak sedikit gelisah. Begitu turun, dia langsung mengeluarkan ponsel dan menatap sekeliling dengan mata indahnya.
Tring ... tring ....
Ponsel Bradford yang berdiri di depannya berdering.
Wanita itu terkejut, lalu segera menurunkan ponselnya. Dia melangkah cepat ke arah Bradford dan bertanya, "Anda Dokter Clayden?"
Bradford mengangguk. "Ya, aku. Apa hubunganmu sama Pak Keenan?"
"Dokter Clayden, salam kenal. Aku Kimmy, putri Keenan. Panggil saja aku Kimmy!"
Kimmy menunduk hormat di hadapan Bradford. Sebelum datang, dia sudah diingatkan khusus oleh Marva. Menghadapi Clayden, sikapnya harus penuh hormat.
Marva bukan hanya sahabat Keenan, tapi juga Ketua Kamar Dagang Hardara dan salah satu konglomerat top di negeri ini. Jadi, mana berani Kimmy mengabaikan nasihat dari orang seperti itu?
Bradford mengangguk ringan. "Selamatkan nyawa orang lebih penting. Ayo naik mobil."
Meskipun Kimmy adalah wanita cantik yang benar-benar menggoda, bahkan tidak kalah sedikit pun dari Elaine, Bradford tetap tidak merasa goyah sedikit pun ketika menghadapinya.
"Dokter Clayden, silakan."
Kimmy membuka pintu mobil dengan penuh hormat, mempersilakan Bradford naik. Setelah itu, dia berlari ke sisi lain dan duduk di kursi belakang.
Tepat saat itu, Tasya yang mengendarai Mercedes-Benz seri E milik perusahaan, keluar dari gerbang Kompleks Mayora. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan Bradford yang duduk di kursi belakang Bentley.
Tasya tertegun.
'Kenapa Bradford bisa duduk di mobil mewah sekelas Bentley?! Lalu di sampingnya ... ada seorang wanita cantik yang sangat menawan!'
Bradford hanya melirik sekilas ke arah Tasya, lalu menoleh kembali. Mobil Bentley itu pun melaju menjauh dengan anggun.
"Hebat kamu ya, Bradford! Jadi kamu sudah punya wanita di luar, ya? Pasti kamu jadi simpanan orang kaya. Baru saja cerai dari Elaine, sudah nggak sabaran jalan sama perempuan lain!"
Tasya menggertakkan gigi sambil menatap kesal belakang mobil Bentley yang semakin jauh. Dengan hati penuh amarah, dia buru-buru mengendarai mobilnya kembali ke kantor Alliance Group, lalu menceritakan kejadian itu pada Elaine dengan menambah-nambah bumbu.
"Apa? Bradford ada wanita lain? Malah seorang wanita cantik yang mengendarai Bentley?"
Elaine yang sedang merapikan berkas untuk pertemuan sore, langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya yang manis berubah menjadi dingin.
"Iya! Aku lihat dengan mata kepala sendiri!" Tasya mengangguk dengan kuat.
"Elaine, untung kamu sudah cerai. Kalau nggak, kamu pasti masih dibohongi. Aku sekarang mengerti kenapa dia menolak menulis angka kompensasi dalam perjanjian perceraian. Rupanya dia sudah jadi simpanan perempuan kaya, jadi sama sekali nggak peduli sama kompensasi dari kamu!"
Mata Elaine memancarkan kilatan dingin.
Awalnya saat mengajukan perceraian dengan Bradford, dia sempat merasa sedikit bersalah. Namun sekarang, dia sadar kalau rasa bersalah itu ternyata sangat konyol.
"Dulu aku mengira, dia cuma nggak punya ambisi. Tapi setidaknya masih jujur dan sederhana ...."
"Nggak nyangka, ternyata selama masih berstatus suami-istri sama dia, dia sudah melakukan hal menjijikkan seperti berselingkuh. Tapi bagus juga kalau begitu, setidaknya aku nggak perlu merasa bersalah lagi cerai sama dia."
Selesai berkata dengan suara dingin, Elaine menoleh pada Tasya. "Sebarkan pemberitahuan. Sepuluh menit lagi adakan rapat pimpinan Alliance Group untuk mempersiapkan pertemuan dengan Galaxy Group sore ini."
Tasya segera mengiakan, lalu beranjak keluar.
Saat kantor hanya tersisa dirinya seorang, Elaine membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah foto. Itu adalah foto prewedding dirinya bersama Bradford yang dulu menjadi favoritnya.
Selama dua tahun pertama, foto itu selalu dia pajang di atas meja kerjanya. Namun setahun terakhir, karena berbagai alasan, dia hanya menyimpannya di laci. Meski begitu, di dalam hatinya, selalu masih ada ruang yang dia sisakan untuk Bradford.
Namun sekarang, setelah tahu Bradford ternyata sudah berselingkuh duluan, perasaan itu akhirnya benar-benar kandas.
Elaine menatap foto itu sejenak, lalu membuka bingkai dengan tenang. Dia menarik foto itu keluar dan merobeknya tepat di antara sosok mereka berdua. Kemudian, dia melemparkannya ke tempat sampah bersama bingkainya.
"Mulai sekarang, kita jalani hidup kita masing-masing. Kita nggak saling berutang lagi."
....
Kawasan Vila Hillside, nomor 8.
Di situlah rumah Keenan.
Sebagai pendiri sekaligus Ketua Galaxy Group yang memiliki aset sebesar puluhan triliun, nama Keenan sudah menjadi legenda di Kota Herburt. Dia adalah salah satu dari tiga taipan terkaya di kota besar itu.
Namun kini, sosok yang dulu penuh wibawa itu terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan tak sadarkan diri. Tubuhnya tampak lemah seolah nyawanya bisa melayang kapan saja.
Di kamar tidur yang mewah itu, terlihat Keenan yang terbaring lemah. Di sekelilingnya berdiri beberapa dokter. Orang-orang itu tidak lain adalah para profesor medis ternama di Kota Herburt.
Masing-masing dari mereka adalah pakar di rumah sakit kelas atas. Bagi orang awam, bahkan untuk sekadar mendaftar konsultasi dengan mereka saja sudah sangat sulit.
"Profesor Wallace, gimana kondisi Keenan? Apa kalian ada cara untuk menanganinya?"
Seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun dan mewah akhirnya tak kuasa menahan cemas. Pasalnya, para profesor itu sudah memeriksa cukup lama, tetapi tetap belum menemukan jalan keluar.
Wanita itu tak lain adalah Chelsea, istri sah Keenan, sekaligus salah satu sosialita papan atas di Kota Herburt.
Profesor Wallace yang merupakan sosok paling dihormati di antara rombongan dokter itu, adalah seorang pria tua bernama asli Wallace Kartono. Dia menjabat sebagai wakil rektor Universitas Kedokteran Herburt, sekaligus wakil direktur rumah sakit afiliasi pertama universitas tersebut, serta kepala departemen bedah saraf.
Bisa dibilang, dialah pakar paling berotoritas di bidang bedah saraf di Kota Herburt.
Wallace melirik Chelsea sejenak lalu berkata, "Nyonya Chelsea jangan khawatir, kami akan keluar sebentar untuk rapat dan menyusun rencana perawatan. Nggak lama lagi kami akan memberikan jawaban."
Selesai bicara, dia pun membawa tim medisnya keluar dari kamar menuju ruang kerja sebelah untuk berdiskusi.
Chelsea hanya bisa mondar-mandir di kamar dengan hati gusar.
Tak lama kemudian, Kimmy bergegas masuk sambil membawa Bradford. "Bu, aku sudah bawa Dokter Clayden yang direkomendasikan Ketua Marva!"
Kimmy segera memperkenalkan Bradford pada Chelsea, berharap dia bisa memeriksa kondisi Keenan.
Namun, ketika Chelsea melihat Bradford yang masih muda dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang dokter sakti, alisnya langsung mengernyit. Dia menghalangi sambil berkata, "Kimmy, kamu yakin anak muda ini benar-benar seorang dokter sakti? Jangan-jangan dia penipu?"
Kimmy menunduk dan berbisik, "Sepertinya nggak, Bu. Dia direkomendasikan sama Pak Marva, masa iya penipu?"
"Marva juga bukan dewa. Dia bisa saja keliru. Kalau ternyata dia ini cuma penipu, lalu membuat kondisi ayahmu tambah parah, gimana dong?"
"Ini ...."
Kimmy sempat ragu sejenak.
Di tengah percakapan ibu dan anak itu, mata Bradford berkilat. Dia menoleh pada Keenan yang terbaring di ranjang, seolah bisa memahami penyakit yang dideritanya hanya dengan sekilas melihatnya.
Bradford berkata, "Kondisi pasien sudah sangat kritis. Kalau nggak segera ditangani, nyawanya akan melayang. Aku datang ke sini hanya demi menghormati Pak Marva. Kalau kalian nggak ingin aku mengobati, aku bisa langsung pergi sekarang."
"Dokter Clayden, jangan marah!"
Kimmy langsung ketakutan dan buru-buru meraih tangan Bradford. Kemudian, dia menoleh pada Chelsea. "Bu, biarkan Dokter Clayden mencoba. Aku percaya dia!"
Chelsea menarik napas panjang, lalu berkata dingin, "Sepertinya kamu bisa langsung tahu penyakit Keenan cuma dengan lihat sekilas? Kalau memang sehebat itu, coba lihat tubuhku. Kalau kamu bisa menyebutkan penyakitku dengan tepat, aku baru percaya kamu memang dokter sakti dan aku akan biarkan kamu mengobatinya."
Telapak tangan Kimmy yang putih mungil, langsung menggenggam erat tangan Bradford. Karena terlalu cemas memikirkan kondisi ayahnya, keringatnya membasahi tangan hingga terasa lengket.
Bradford melihat betapa tulusnya Kimmy mengkhawatirkan sang ayah. Jadi, meski merasa sikap Chelsea tidak sopan, dia tetap berkata dengan tenang, "Kamu sering batuk kering, mulut terasa panas, ada lapisan kuning di lidah, juga kerap terkena sariawan. Itu tandanya ada inflamasi di paru."
"Selain itu, energi ginjalmu juga lemah, ditandai dengan keputihan berlebihan, menstruasi nggak teratur, dan insomnia menahun ...."
Chelsea langsung terperanjat!
Apa yang disebutkan Bradford semuanya tepat. Semua itu memang masalah kesehatan yang telah lama mengganggunya selama bertahun-tahun.
Mungkinkah anak muda ini benar-benar seorang dokter sakti?
Bab 3
Saat itu juga, Chelsea mulai sedikit percaya pada kemampuan medis Bradford. Sikapnya pun langsung berubah dan dia berkata dengan hormat, "Dokter Clayden, maafkan kelancanganku tadi. Tolong periksa Keenan."
Bradford mengangguk, lalu membuka tas ransel yang dibawanya. Dari dalam, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana berwarna ungu. Begitu dibuka, di dalamnya berbaris rapi jarum-jarum perak berbagai ukuran.
Dia berjalan ke sisi ranjang, lalu membuka baju Keenan dengan cekatan. Kemudian, jemarinya bergerak lincah menancapkan jarum ke tubuh Keenan dengan kecepatan luar biasa.
Sambil melakukan akupunktur, Bradford masih sempat menjelaskan pada Chelsea dan Kimmy, "Tubuh manusia memiliki tiga jiwa dan tujuh roh. Bila jiwa utama hilang, orang akan jatuh koma. Dalam pandangan kedokteran barat, kondisi Keenan dianggap sebagai mati otak, tetapi sesungguhnya ini karena jiwa utamanya lepas."
"Menurutku, dua hari lalu dia pasti pernah mengalami sebuah kejutan besar. Karena jiwanya lemah, dia bisa lenyap kalau berada di luar tubuh terlalu lama. Sekarang, aku bisa memanggil jiwanya kembali dengan akupunktur."
Hanya dalam beberapa menit, Bradford sudah menancapkan 36 jarum di tubuh Keenan. Gerakannya begitu cepat dan terampil, menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Andai saja ada tabib tua berpengalaman hadir, pasti akan terperanjat melihat tekniknya. Tanpa latihan keras puluhan tahun, mustahil seseorang bisa mencapai tingkat itu.
Jika ada yang mengenali metode jarum tersebut, matanya pasti akan terbelalak tak percaya. Pasalnya, teknik yang digunakan Bradford adalah "Teknik 36 Jarum Yin Yang". Ini adalah sebuah metode akupunktur kuno yang sudah lama hilang. Konon, teknik ini bahkan mampu membangkitkan orang mati dan menyembuhkan luka parah.
Meski Chelsea dan Kimmy tidak mengerti ilmu pengobatan tradisional, mereka tetap bisa melihat betapa luar biasanya keterampilan Bradford. Rasa percaya di hati mereka pun semakin kuat.
Namun, Teknik 36 Jarum Yin Yang ini bukan teknik biasa. Setelah menyelesaikan semua tusukan, dahi Bradford berkeringat deras dan napasnya agak terengah-engah.
"Sudah. Paling lama sepuluh menit lagi, jiwa pasien akan kembali dan dia akan sadar. Sampai aku kembali nanti, jangan ada yang menyentuh jarum-jarum itu."
Setelah itu, Bradford menarik tangannya dan berkata pada Kimmy, "Antarkan aku ke toilet sebentar."
Kimmy segera membawa Bradford keluar kamar menuju toilet untuk mencuci muka dan mengelap keringatnya. Namun tepat saat Bradford meninggalkan ruangan, Wallace bersama tim medisnya kembali dari ruang kerja tempat mereka berdiskusi.
"Nyonya Chelsea, kami sudah menentukan rencana medis. Sebentar lagi kami akan segera memberi penanganan pada Pak Keenan ...."
Belum sempat Wallace menyelesaikan ucapannya, matanya langsung membelalak melihat tubuh Keenan dipenuhi jarum perak!
Wajah Wallace langsung berubah tegang. Dia melangkah cepat mendekati ranjang. "Apa-apaan ini?!"
Chelsea buru-buru menjelaskan, "Tadi Dokter Clayden yang melakukan akupunktur. Dia bilang Keenan pingsan karena kehilangan satu jiwanya, dan dia bisa memanggilkannya kembali lewat jarum ini ...."
"Apa?! Dokter Clayden apaan! Nyonya Chelsea, kenapa kamu bisa percaya sama omongan penipu begini? Apanya yang jiwa keluar dari tubuh? Omong kosong begini saja kamu bisa percaya?"
Wallace membentak, "Kalau akupunktur bisa menyembuhkan penyakit Pak Keenan, lalu untuk apa masih ada pakar seperti kami?"
Chelsea mengernyit. "Tapi tadi aku lihat sendiri, keterampilannya memang luar biasa. Aku rasa dia memang punya kemampuan."
"Astaga, Nyonya Chelsea, kamu benar-benar ceroboh! Penipu memang paling pintar memainkan trik dan membuat keluarga pasien percaya, lalu menciptakan cerita palsu penuh takhayul. Jarum-jarum ini bukan cuma nggak akan menyembuhkan Pak Keenan, malah bisa memperparah kondisinya!"
Perkataan Wallace membuat Chelsea jadi ketakutan. "Kalau begitu ... bagaimana sekarang?"
"Aku akan segera mencabutnya!"
Tanpa banyak bicara, Wallace langsung mengulurkan tangan untuk menarik salah satu jarum.
Namun baru saja satu jarum tercabut, Keenan yang tadinya koma tanpa gerakan, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan mulutnya sampai berbusa!
Situasi ini benar-benar tak terduga. Bukan hanya Chelsea yang terkejut ketakutan, bahkan Wallace sendiri pun terperanjat!
"Apa yang terjadi?!" teriak Chelsea ketakutan. Dia menekan tubuh Keenan dan menoleh pada Wallace.
"Aku ... aku juga nggak tahu .... Oh iya! Pasti jarum-jarum dari penipu itu yang memperburuk kondisi Pak Keenan!"
Begitu ucapannya dilontarkan, tiba-tiba tubuh Keenan tak lagi bergerak. Alat monitor jantung di samping ranjang berbunyi dengan cepat. Tampak jelas, detak jantung Keenan berhenti!
"Celaka! Pak Keenan nggak ada detak jantung!"
"Pak Keenan sudah meninggal!"
Beberapa dokter langsung menjerit panik.
Wallace juga kehilangan akal, sehingga wajahnya pucat ketakutan. "Ini gara-gara penipu itu! Dialah yang membunuh Pak Keenan!"
"Omong kosong! Tadi Keenan masih baik-baik saja. Justru karena kamu cabut jarumnya, dia jadi begini! Dokter Clayden jelas-jelas sudah bilang padaku, jangan ada yang menyentuh jarumnya sebelum dia kembali!"
Chelsea yang dilanda duka, menatap tajam Wallace lalu menampar keras wajahnya! Mana mungkin dia tidak tahu bahwa Wallace hanya sedang berusaha melemparkan kesalahan?
Wallace memegangi pipinya dengan ekspresi terkejut dan marah, tetapi dia tidak berani membalas. Siapa yang berani menyinggung keluarga besar seperti Keluarga Taulany ini?
Kegaduhan itu membuat Bradford dan Kimmy segera berlari masuk. Begitu melihat keadaannya, Bradford membentak dengan marah, "Siapa yang cabut jarumnya?!"
"Dia!" Chelsea langsung menunjuk ke arah Wallace.
Wallace jelas tidak mau menanggung tuduhan membunuh Keenan. Dengan suara berat, dia berkata, "Ya, aku yang cabut. Lalu kenapa? Yang menyebabkan Pak Keenan mati tetaplah anak muda ini!"
"Semua orang di Kota Herburt tahu keahlianku. Keenan adalah pasienku. Bocah ini berani sembarangan menusuk jarum tanpa seizinku, itu yang membuat Pak Keenan mati. Aku nggak mau disalahkan!"
"Pasien sudah dalam kondisi gawat, kamu sebagai dokter bukannya berusaha menyelamatkan, malah sibuk mencari kambing hitam. Heh, memalukan!"
Bradford menatap Wallace, lalu tertawa dingin.
Wallace berteriak marah, "Pasien sudah nggak ada detak jantung, mana mungkin bisa diselamatkan? Dia memang sudah mati otak, sekarang ditambah lagi nggak ada detak jantung. Sekalipun dilakukan resusitasi jantung paru, apa gunanya? Anak muda, kamu nggak tahu apa-apa, jangan sok pintar di sini!"
"Kalau nggak mampu, minggir saja!"
Bradford malas membuang-buang waktu dengan berdebat. Dia langsung mendorong Wallace ke samping, lalu kembali ke sisi ranjang. Jarum yang tadi dicabut Wallace segera dia tusukkan lagi. Kemudian dengan kedua jarinya yang dirapatkan, dia mengetuk beberapa titik di tubuh Keenan!
"Hidup kembali!" Terakhir, Bradford menekan tepat di jantung Keenan sambil berseru tegas.
Detik berikutnya, sebuah pemandangan yang mengejutkan semua orang pun terjadi! Detak jantung Keenan muncul lagi di monitor, napasnya juga berangsur-angsur kembali.
"Detak jantungnya kembali!"
"Ya Tuhan!"
"Ilmu apaan itu barusan?!"
Chelsea, Kimmy, dan bahkan para dokter yang dibawa Wallace, semuanya membelalak tak percaya. Suara teriakan takjub memenuhi ruangan.
Sementara itu Wallace sendiri langsung tampak pucat dan bergumam dengan bibir gemetaran, "Ini ... ini ... bagaimana mungkin?"
Bradford menoleh padanya dan bertanya, "Kamu mau bilang apa lagi?"
Wallace berusaha menenangkan keterkejutannya, lalu menyeringai sinis. "Meski kamu bisa mengembalikan detak jantung Pak Keenan, apa gunanya? Dia sudah mati otak. Tadi kami masih punya peluang menanganinya, tapi karena ulahmu, dia nggak akan pernah sadar lagi seumur hidup. Kamu tetaplah biang keladi yang membunuhnya!"
Bradford hanya mendengus pelan. Tepat di saat itu, matanya menangkap pemandangan tak kasat mata. Seberkas cahaya jiwa telah melayang masuk ke dalam ruangan itu perlahan-lahan. Cahaya itu adalah jiwa utama Keenan. Hanya Bradford yang bisa melihatnya.
Bradford mengulurkan tangan dan menyentuh kening Keenan, lalu berkata dengan perlahan, "Kembalilah."
Sesaat kemudian, jari Keenan bergerak. Matanya pun perlahan terbuka.
"Keenan!"
"Ayah!"
Chelsea dan Kimmy bersorak penuh sukacita, mata mereka berkaca-kaca karena gembira.
Para dokter lain juga merasa hal itu benar-benar di luar nalar. Mereka semua terbelalak menatap Bradford seolah-olah sedang melihat sosok dewa.
Setelah terkejut sejenak, Wallace buru-buru kembali sadar. Dia langsung maju ke sisi ranjang dan berkata dengan tebal muka, "Lihatlah, di bawah perawatanku, Pak Keenan akhirnya sadar. Ini benar-benar kabar yang luar biasa!"
Saat itu, dia hanya terus memikirkan harus bagaimana mengklaim jasa ini adalah miliknya. Sebab, Keluarga Taulany sebelumnya telah berjanji, siapa pun yang bisa menyelamatkan Keenan akan menerima bayaran honor dokter sebesar 16 miliar!
"Dasar tua bangka nggak tahu malu! Minggir!"
Kimmy yang sedari tadi sudah muak dengan Wallace, langsung murka saat melihat Wallace berani mengaku-ngaku dirinya yang berjasa. Dengan penuh emosi, dia menampar keras wajah Wallaca. Cara tamparan dan kekuatan tangannya, nyaris sama persis seperti tamparan ibunya tadi.
Para dokter yang ikut bersama Wallace hanya bisa mengernyit malu. Wajah mereka merah padam menahan rasa terhina. Siapa yang menyangka, Wallace yang biasanya terlihat berwibawa dan dihormati, ternyata bisa setidak tahu malu itu?
Wallace yang merasa malu sekaligus marah, akhirnya tak sanggup bertahan lebih lama. Dia mendengus dingin, lalu berbalik pergi. Dokter-dokter lainnya pun saling memandang sejenak, kemudian ikut pergi dengan wajah tertunduk.
Saat itu, Keenan akhirnya benar-benar siuman. Bradford lalu mencabut 36 jarum yang dipasangnya satu per satu. Sementara itu, Chelsea dan Kimmy bergantian menceritakan secara singkat apa yang terjadi selama dua hari terakhir saat Keenan tak sadarkan diri dengan mata memerah.
Keenan kemudian menoleh ke arah Bradford untuk mengucapkan terima kasih. "Dokter Clayden, kali ini benar-benar sudah merepotkanmu. Kamu adalah penyelamat hidupku. Nanti aku pasti akan memberimu bayaran yang sangat besar sebagai tanda terima kasih."
Meski merasa bersyukur, Keenan tetap mempertahankan wibawa seorang penguasa. Seolah baginya, selama dia memberikan sejumlah uang yang besar pada Bradford, itu sudah cukup untuk mewakili rasa terima kasihnya.
Namun, Bradford hanya menggeleng pelan. Dia membereskan jarum-jarumnya tanpa banyak bicara, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu cendana dan menyimpannya ke ransel.
Di sampingnya, Kimmy buru-buru menjelaskan, "Ayah, Dokter Clayden nggak pernah menerima bayaran atas pengobatan. Itu pesan khusus dari Pak Marva padaku."
"Nggak menerima bayaran? Kenapa begitu?"
Keenan tertegun.
Sebagai seorang pebisnis, apalagi seorang konglomerat dengan aset triliunan, dia terbiasa menyelesaikan semua urusan dengan uang. Baginya, kalau masalah bisa diselesaikan dengan uang, maka itu bukan masalah.
Namun jika Bradford tidak menerima bayaran, berarti dia harus menanggung utang budi pada Bradford. Sedangkan utang budi ... justru adalah yang paling sulit untuk dilunasi. Keenan jelas tidak ingin berutang pada orang lain.
Kimmy pun menjelaskan, "Dokter Clayden punya aturan sendiri dalam menolong orang. Itu yang disampaikan Pak Marva padaku."
"Apa aturannya? Katakan," tanya Keenan seraya mengernyit.
Bab 4
Kimmy melirik ke arah Bradford. Melihat dia tidak mencegah, barulah Kimmy berkata, "Aturannya adalah, Dokter Clayden menolong orang tanpa menerima bayaran. Sebagai gantinya, kalau suatu saat dia membutuhkan bantuan, kita wajib menolongnya. Itu pesan Pak Marva."
"Pak Marva bilang, begitu Dokter Clayden turun tangan, berarti keluarga kita berutang nyawa padanya. Kalau suatu hari Dokter Clayden punya permintaan, kita harus membantu sepenuh hati. Kalau nggak ...."
Keenan langsung bertanya, "Kalau nggak, bagaimana?"
Kimmy memaksakan senyum tipis dan mencoba terdengar santai, "Kalau nggak, Pak Marva akan membuat keluarga kita bangkrut dalam sehari."
"Apa! Marva benar-benar bilang begitu?!" Keenan terkejut sampai langsung bangkit dari ranjang dan menatap putrinya dengan wajah pucat.
Kimmy mengangguk mantap.
Keenan lalu menoleh penuh rasa ragu dan takut pada Bradford. Tanpa sadar, sikapnya pun berubah. Sebagai sahabat lama Marva, Keenan sangat paham betapa besar dan menakutkannya pengaruh orang itu. Jika Marva bisa begitu menghormati Bradford, jelas menunjukkan betapa luar biasanya pria muda ini.
Dalam sekejap, Keenan menyingkirkan semua kesombongan. Dia berjalan mendekat dengan penuh hormat, lalu berkata sambil tersenyum ramah, "Dokter Clayden, tenanglah. Aku pasti akan mematuhi aturanmu. Nanti kalau ada yang perlu, cukup beri tahu aku saja. Sekalipun harus mempertaruhkan nyawa, aku tetap nggak akan mundur."
Bradford menanggapinya dengan datar, "Kalian berdua nggak perlu tegang. Memang benar aku punya aturan itu. Tapi jujur saja, selama ini aku jarang meminta bantuan siapa pun."
Usai bicara, dia menyampirkan ranselnya di bahu, lalu berkata pada Kimmy, "Antarkan aku sebentar."
Melihat dia hendak pergi, Keenan sekeluarga serentak menahannya dan memohon agar dia mau tinggal untuk makan bersama.
Mereka adalah orang-orang bisnis yang terbiasa bergaul, sehingga sangat memahami sopan santun. Bradford sudah menyelamatkan nyawa Keenan, tidak menerima bayaran saja sudah membuat mereka merasa sungkan. Kalau Bradford bahkan menolak jamuan makan dari mereka dan pergi begitu saja, Marva pasti tidak akan mengampuni mereka.
Terlebih lagi, dengan kemampuan medis sehebat itu ditambah penghormatan tinggi dari Marva, Keluarga Taulany tentu harus mencari cara menjalin hubungan baik dengan Bradford.
Melihat mereka sungguh-sungguh menahannya, Bradford pun berpikir sejenak. Dia sadar bahwa dirinya kini sudah bercerai dan bahkan tidak punya rumah untuk kembali. Untuk sesaat, dia memang tidak tahu harus ke mana. Jadi, dia pun mengangguk setuju.
Bradford berkata, "Biar Kimmy saja yang menemaniku makan. Pak Keenan baru saja pulih, tubuhmu masih sangat lemah. Dua hari ini sebaiknya jangan keluar rumah, cukup istirahat di sini."
"Bagus juga kalau begitu. Biar Kimmy yang mewakili keluarga menemanimu. Anak muda biasanya lebih mudah nyambung bicaranya," ujar Keenan sambil tersenyum tipis. Dia juga merasa tubuhnya masih lemah, tidak cocok untuk berkeliaran. Setelah itu, dia pun berpesan pada putrinya agar benar-benar menjaga dan menemani Bradford dengan baik.
Kimmy tentu langsung menyanggupi. Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, dia mempersilakan Bradford naik mobil, lalu berkata pada sopir, "Pergi ke Restoran Hardara."
"Kita mau makan di Restoran Hardara?" Bradford sempat terkejut.
Restoran Hardara adalah restoran setengah privat paling mewah di Kota Herburt dalam dua tahun terakhir. Konon, tanpa kartu keanggotaan, orang biasanya tidak akan bisa masuk. Bahkan kartu keanggotaan paling dasar, yaitu kartu perak saja memerlukan biaya pendaftaran 200 juta.
Karena bisnis Elaine berkembang pesat dalam dua tahun terakhir, dia pun membuat kartu di sana. Kadang-kadang, dia mengundang klien makan di tempat itu. Namun, Bradford sendiri belum pernah masuk ke sana sekali pun.
"Restorannya memang nyaman. Kalau Dokter Clayden nggak berkenan, kita bisa ganti tempat lain," kata Kimmy dengan hati-hati karena takut pilihan itu tidak sesuai selera.
"Nggak perlu, kita ke sana saja." Bradford menggeleng, menunjukkan bahwa dia tidak keberatan.
Setelah jeda sejenak, dia berkata lagi, "Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi memanggilku Dokter Clayden. Cukup panggil aku Clayden, atau Pak Clayden."
"Kalau begitu, aku panggil Pak Clayden saja."
Meskipun Bradford terlihat tidak jauh lebih tua darinya, Kimmy tetap tidak berani sembarangan menyebut namanya begitu saja. Tentu saja, yang tidak dia ketahui adalah nama Clayden sebenarnya bukan nama asli Bradford, melainkan alias yang diberikan gurunya di masa lalu.
Tak lama kemudian, Bentley hitam itu pun tiba di Restoran Hardara.
Sebelum mereka sempat turun dari mobil, tampak seorang pria muda berpakaian mewah bergegas mendekat dengan wajah penuh kejutan. "Kimmy, kebetulan sekali!"
Pria itu menghampiri mobil mereka. Awalnya dia menyapa Kimmy dengan senyum lebar. Namun begitu matanya menangkap Bradford yang duduk di samping Kimmy, senyumnya lenyap seketika dan ekspresinya berubah dingin.
Dia mengetuk keras kaca mobil, lalu menunjuk ke arah Bradford sambil memaki, "Dasar sampah! Siapa kamu? Apa hakmu duduk di samping Kimmy? Cepat turun dari mobil!"
Kimmy langsung marah. Dia turun dari mobil dan membentak, "Arden, tolong tunjukkan sedikit rasa hormat! Pak Clayden ini adalah tamu undanganku!"
"Tamu? Hah! Lihat saja pakaiannya, harganya bahkan nggak sampai 2 juta! Kamu bercanda, 'kan?" Arden menatap Bradford dari atas ke bawah dengan penuh rasa meremehkan.
Dia beranggapan bahwa dengan status Kimmy sekarang, tamu yang dia bawa pasti orang-orang kaya raya atau pejabat besar. Bagaimana mungkin pria sederhana seperti Bradford bisa masuk hitungan?
Sambil berkata demikian, dia pun langsung mengulurkan tangan hendak menarik Bradford keluar dari mobil!
Kimmy sontak kaget dan marah melihat ulahnya.
Arden ini memang salah satu playboy papan atas di Kota Herburt. Kakeknya adalah pendiri Crown Group, perusahaan yang menempati posisi lima besar di kota itu, sejajar dengan Galaxy Group milik Keluarga Taulany.
Yang lebih penting, ayah Arden yang bernama Aaron, adalah teman lama Keenan sejak kuliah. Saat Kimmy dan Arden masih kecil, kedua orang tua mereka bahkan pernah bercanda soal menjodohkan mereka berdua.
Meskipun setelah itu tidak pernah ada yang benar-benar menyinggung soal perjodohan, Arden selalu menyimpannya dalam hati. Dia terus mengejar Kimmy dan menganggap Kimmy sebagai tunangannya.
Karena itulah, begitu melihat Bradford duduk di mobil bersama Kimmy, dia langsung bereaksi berlebihan dan tanpa ragu bertindak kasar.
"Arden, kamu gila? Jangan sentuh Pak Clayden!"
Kimmy memang segera berteriak untuk menghentikan, tetapi tangan Arden sudah lebih dulu mencengkeram pakaian Bradford. "Dasar sampah, cepat turun dari mobil!"
Wajah Arden yang biasanya cukup tampan, kini penuh amarah dan memerah karena emosi. Dia menarik sekuat tenaga, tetapi Bradford sama sekali tidak bergerak.
"Lepaskan," perintah Bradford sambil menatap dingin ke arahnya.
"Berengsek! Berani-beraninya menatapku begitu. Akan kupukul kamu sampai babak belur hari ini!"
Sejak kecil, Arden hidup dengan bergelimang harta dan terbiasa dihormati semua orang. Bahkan para senior di keluarganya pun jarang memarahinya.
Kini dia sedang terbakar amarah dan sangat yakin bahwa Bradford hanyalah orang biasa yang hidup miskin. Jadi, mana mungkin dia bisa menerima sikap Bradford seperti ini terhadapnya?
Tanpa berpikir panjang, dia mengayunkan tinju ke wajah Bradford!
Bradford mendengus pelan, lalu langsung menangkap tangan Arden. Dengan sekali cengkeraman kuat, terdengar bunyi derakan. Pergelangan tangan Arden remuk!
Kemudian dengan sekali dorongan dari Bradford, Arden langsung terhuyung ke belakang dan menjerit kesakitan, lalu jatuh tersungkur di tanah.
Bradford membuka pintu mobil dan turun dengan tenang. Dia melirik Kimmy sekilas, lalu bertanya dengan nada tidak senang, "Dari mana kamu kenal orang gila seperti ini?"
Kimmy masih melongo dan terpukau dengan kehebatan Bradford. Namun, sikap dingin Bradford membuat jantungnya berdebar cemas. Dia buru-buru menjelaskan, "Pak Clayden, maafkan aku ... aku benar-benar nggak menyangka hal ini akan terjadi."
"Aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Cuma ingin mengingatkan, sebaiknya jangan punya hubungan sama orang seperti itu."
Setelah mengucapkan kata itu dengan tenang, Bradford lalu berjalan menuju pintu utama Restoran Hardara tanpa menoleh pada Arden sama sekali.
Kimmy melirik Arden sekilas dan mendengus kesal, lalu bergegas menyusul Bradford.
Arden yang pergelangan tangannya patah, sempat berpikir Kimmy akan menanyakan kondisinya. Tak disangka, Kimmy tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya bisa melihat Kimmy pergi begitu saja.
"Dasar jalang! Kita tumbuh dewasa sama-sama sejak kecil, tapi kamu tega mengabaikanku! Si sampah itu juga sama saja! Berani-beraninya dia mematahkan tanganku. Aku akan menuntut nyawanya!"
Wajah Arden tampak penuh kebencian. Sambil meringis menahan sakit, dia mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang masih utuh.
"Pak Clayden, silakan lewat sini."
Kimmy segera menyusul langkah Bradford, lalu mempersilakannya masuk ke dalam restoran bergaya tradisional dengan penuh hormat. Di dalamnya terdapat paviliun, jembatan kecil, aliran sungai, dan rumpun bambu yang menambah nuansa khas.
Namun baru saja mereka melangkah masuk, seseorang langsung mengenali Bradford di sudut restoran.
"Ibu, lihat! Itu Kakak Ipar! Dia lagi sama seorang wanita asing!"
Seorang gadis muda yang berwajah mirip Elaine dan berusia sekitar 20-an, menunjuk ke arah Bradford sambil berkata pada wanita paruh baya di sampingnya. Wanita itu menoleh dan ikut terperanjat. Wajahnya lalu memerah karena marah.
"Bradford, dasar bajingan! Berani-beraninya kamu selingkuh?!"