Logo
Pawang Hati
Pawang Hati

Pawang Hati

44 Bab
Tamat
Dalam novel fantasi Pawang Hati, seorang pangeran es menyimpan rahasia yang mampu meluluhkan jiwa. Ikuti kisah romance novel ini saat ia menghadapi takdir dan rintangan besar. Baca online novel seru ini untuk mengungkap bagaimana kehangatan mulai mengubah segalanya.
Bab 1 dari Pawang Hati

"Tiga ... Dua ... Satu! Fight!"

Suara penghapus dipukulkan. Dua tangan saling mengait seerat mungkin sambil bertumpu pada meja. Bersama dengan semarak tepuk tangan anak-anak sekelas dan juga sorakan kencang. Sesekali Shaina mengangkat ujung lengan seragam, lalu mengerahkan segenap kekuatan dalam otot-otot lengannya untuk melawan satu cowok di kelasnya dan beradu panco.

"SHAINA! SHAINA! SHAINA!"

"PATAHIN AJA, NA! SIKAT!"

"JANGAN KASIH KENDOR!"

Detik demi detik, silih berganti tangan Shaina menekan dan tertekan hingga memiring perlahan ke kanan dan ke kiri. Entah sejak kapan menggeluti kegiatan ini, tapi hampir setiap hari Shaina menantang teman-temannya. Dan, senjata yang membuat Shaina selalu menang yaitu lewat tatapan mata dan bibir seksinya. Seperti sekarang, meski otot sedang berjuang tapi Shaina tetap terlihat enjoy sembari mempertahankan senyum andalannya.

Percayalah, semua iman lelaki tergoda berkat itu. Shaina memiliki manic mata yang indah seperti batu emerald yang mampu merobohkan benteng hati dan keegoisan.

Bruk!

"Yaaahhhh!"

Dan terbukti, saat cowok itu lengah maka Shaina dengan mantap menekan tangannya hingga jatuh membentur meja. Saat itu juga barulah dia sadar telah dikalahkan. Bukan Shaina yang heboh tapi teman-teman lain, mereka saling mengkoor dan terbahak-bahak menertawai pak ketua kelas yang cemen itu. Dia hanya mengacak-acak belakang rambutnya dengan muka memerah padam.

"Ayo, siapa lagi mau coba duel sama gue maju sini!" Ujar Shaina dengan napas terengah-engah, lima kali panco baginya masih belum cukup untuk pemanasan di pagi ini.

"Gue dong, Na!" Cowok di bangku belakang berdiri dan menyimpan ponsel di saku celana. Menempati tempat duduk di depan Shaina dan melemaskan jari-jari sesaat.

"Siap? Yok!" tantang Shaina antusias.

Dan, terjadi lagi pertandingan panco di kelas sepuluh IPA-2. Semarak anak-anak sekelas kembali memenuhi segala penjuru ruangan itu untuk menyemangati Shaina dan lawannya kini. Bahkan, beberapa murid lain mulai melipir dan melihat dengan penasaran di luar kelas itu, tak sedikit juga yang menonton dari jendela bagaimana Shaina mampu menjatuhkan banyak cowok yang ingin menjajal kemampuan. Mereka dibuat geleng-geleng.

Di mata para cowok, Shaina teramat mengagumkan. Dia selalu berusaha membuktikan bahwa derajat perempuan dan laki-laki itu sama. Sehingga, perempuan tidak bisa dipandang rendah begitu saja oleh mereka kaum lelaki.

Jaman emansipasi.

Di tempat lain, Shaka baru saja datang sepuluh menit sebelum bel masuk. Dengan headphone membungkam telinga, Shaka menyusuri sepanjang koridor yang ramai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket bomber. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, Shaka menjadi fokus perhatian cewek-cewek biang gossip yang bertebaran di pinggir setiap koridor yang ia lewati. Bahkan tak segan-segan mereka memanggil Shaka, menyapa selamat pagi, dan meneriakan berapa nomor hape Shaka, namun tidak digubris sama sekali meski Shaka mendengar suaranya.

"Woy, Ka!" Tak lama seseorang datang dari belakang dan mendaratkan tepukan kerasnya di pundak Shaka. Seketika menginterupsi aktivitas itu dan Shaka bergegas menurunkan headphonenya ke leher. Ternyata si Jafar.

"Ka, gue barusan liat ada anak kelas lo adu panco, cewek, rame gitu di luar pada ngeliatin. Siapa dia? Coba, gih, lo tanding ama dia, dia jago banget asli."

Shaina, cewek tukang panco menggemparkan sekolah. Sejujurnya Shaka bosan sekali dengan fakta itu. Entah Shaina punya ilmu apa Shaka tidak ingin tau-menau, yang pasti Shaka malas sekali jika disuruh membaur dengannya. Dia tidak sepaham dengan Shaka. Dia suka menjadi pusat perhatian, sementara Shaka sebaliknya.

"Ayo, Ka, keburu bel!" Tanpa aba-aba Jafar langsung menarik bahu Shaka menuju kelas sepuluh IPA-2 di ujung koridor itu. Hingga menembus kerumunan murid-murid dan masuk ke dalam. Suasana berisik akan bermacam teriakan cewek kelas itu, karena Shaina lagi-lagi mampu mengalahkan cowok kelas sebalah dan yang terakhir itu.

"Ehm, hai, Shaina!" Jafar setengah mengeja nama yang tertera pada name tag seragam itu, sebagaimana murid-murid meneriakkan tadi. "Shaina, lo hebat banget ya?"

Tampak gadis itu tersenyum tipis usai meneguk air minumnya. "Hebat apanya? Cuma olahraga doang."

"Panco sekali lagi dong, sama Shaka, pake taruhan tapi," usulan Jafar mengundang pelototan Shaka tapi tidak digubris olehnya. "Gimana, mau gak? Yakin seru deh."

"Sori, maksud lo taruhan apa ya?" Shaina mengerutkan kening masih terduduk di bangkunya. Lambat laun murid-murid yang mengerubungi kelasnya berangsur pergi satu per satu bersama dengan decakan kagum tiada henti.

"Gini, kalo lo yang menang, nanti Shaka bakal traktir lo makan siang. Tapi, kalo misalnya Shaka yang menang..."

Shaka menggeram pelan, merasa tidak enak mendapati tatapan horor di mata Jafar. Pasalnya, keponakannya itu suka aneh-aneh dan bertindak semau udelnya sendiri.

Seperti yang dulu-dulu pernah terjadi selama keduanya tumbuh bersama di sekolah yang sama pula. Jafar suka nyodorin Shaka dalam hal apapun, termasuk soal cewek. Jafar paling sering membuat akal-akalan untuk mencomblangkan Shaka dengan cewek yang berbeda supaya Shaka keluar dari zona nyamannya. Nyatanya, sampai detik ini juga, tidak ada satupun yang berhasil.

Shaka masih sendiri, dan tak ada niat pacaran. Mungkin hanya itu yang tidak diwariskan oleh Zendi, sifat playboy.

"Kalo Shaka yang menang?" Shaina menatap bergantian dua cowok itu.

"Kalo misalnya Shaka yang menang ... kalian PDKT!"

"Hah?!" Shaka dan Shaina memekik bersama.

"Cuma main-main doang kok. Shaka jomblo, lo jomblo juga, kan? Sesama jomblo yaudah gass aja, PDKT. Paling engga kan kita mengurangi populasi jomblo di muka bumi ini, hehehe." Jafar tertawa garing, semakin dihujani pelototan tajam oleh Shaka, sesekali Shaka melirik ke arah Shaina yang juga mendadak kehabisan oksigen dan harus meminum banyak-banyak air dalam botolnya.

"Gua gak mau," putus Shaka.

"Ayolah, Ka." Pinta Jafar memelas.

"Sekali enggak, ya, enggak."

"Huuu! Dasar cemen lo!" Kalimat itu bisa terlontar kilat dari bibir Shaina. Akibatnya, Shaka langsung memandangnya seakan menusuk-nusuk, disertai muka datar seperti biasanya. Tapi Shaina hanya acuh tak acuh saja menanggapi itu.

"Kita gak sepadan," kata Shaka nyaris tak terdengar.

"Pantes aja namanya Shaka, orangnya takut kaya kena sakarotul maut, hahaha. Padahal cuma adu panco doang. Huu, dasar jiper!" Shaina tertawa seakan meremehkan. Karena memang hanya Shaka, cowok di kelas itu yang belum pernah sekali pun beradu panco dengan Shaina.

"Oke."

Terdesak, dan menyangkut harga diri. Shaka spontan melepas tas punggungnya dan melempar ke bangku di belakang, lalu menyodorkan tangan kanannya dengan siku bertumpu di atas meja itu. Aneh, Shaina bagaikan diperdaya oleh tatapan Shaka yang begitu tajam bukan main, hingga susah payah Shaina menelan ludah dan ragu-ragu saat hendak menyambut tangan kekar itu.

Mati gaya. Dingin. Sensasi itu kentara sekali terasa saat tangan mereka menempel dengan jemari saling mengerat. Jafar seketika berkoar-koar kala itu, hingga mengundang murid-murid lain berhambur mendekat dan mengerubungi bersama bangku Shaina. Dan, lima menit sebelum bel hari ini mungkin akan menjadi catatan sejarah di kamus hidup Shaka. Berurusan dengan cewek.

Keduanya menarik napas dalam sebelum akhirnya..

"Fighting!" Seru Jafar bagai wasit.

Sorakan kencang pecah dalam sekejap saja. Shaka dan Shaina mengerahkan tenaga dalam, bertarung dengan sengit saling menekan dan menjatuhkan satu sama lain perlahan-lahan. Shaina sampai menggigit bibir rapat-rapat merasakan tangannya nyaris ingin hancur karena remasan genggaman Shaka yang sangat amat sesak.

"SHAKA! SHAKA! SHAKA!"

"SHAINA! JANGAN KALAH!"

Riuh tepuk tangan mendominasi suasana. Sepertinya, keadaan akan berbalik. Jika menit-menit lalu Shaina menghipnotis cowok-cowok dengan tatapan teduh dan senyum paling manis yang ia punya, maka sekarang keadaan jungkir balik. Dengan mata elangnya, Shaka mengintimidasi Shaina tak tanggung-tanggung, tak peduli gender. Karena Shaka sudah diremehkan jadi ia bertekad bulat harus memenangkan adu panco ini.

"Argh!" Shaina menggeram kesal seraya mencengkram tepi bangku. Detik-detik yang terlewati, lama-lama pertahanan otot lengannya mulai melemas seakan ingin putus. Sementara Shaka terus menekan tangannya kuat-kuat hingga memiring dan sedikit demi sedikit semakin mendarat mendekati permukaan meja.

"SHAKA! AYO, KA! PEPET TERUS!" Jafar memukul bangku bertubi-tubi untuk membakar semangat Shaka. Meskipun dari awal Shaka juga sudah menebak. Secara logika, dimana-mana kekuatan cowok akan lebih besar dari pada cewek. Tapi Shaina menantang apa boleh buat, Shaka hanya mengikuti permainan itu.

"Argh! Gue.. pasti.. menang!" Desis Shaina terputus-putus. Dan, samar-samar senyum penuh arti terbit di bibir Shaka, melihat Shaina begitu mati-matian mempertahankan tangan mereka agar mengambang di udara. Sampai tiba waktunya kenyataan berbicara ..

Bruk!

Persis. Shaka berhasil menjatuhkan tangan Shaina di hadapan teman-teman, bertepatan dengan bunyi bel masuk dikumandangkan dengan nyaringnya. Masih tidak percaya, Shaina terperangah memperhatikan tangan kekar Shaka menahan di atas tangannya, disaat sorakan kencang di sekeliling menggebu-gebu terutama Jafar.

"YIIHAA.. AKHIRNYA SHAKA PUNYA GEBETAN!" Jafar tertawa terbahak-bahak bagaikan di atas angin.

Detik itu juga Shaka melepaskan tangannya dari Shaina. Mendadak matanya membola saat bertemu pandang dengan gadis itu. Jadi, taruhan itu sungguh-sungguh? Shaka harus melancarkan PDKT dengan Shaina? Konyol sekali. Mungkin karena sudah terlalu miris dan freehatin ikut meratapi ke-jomblo-an Shaka, Jafar jadi merepotkan diri sendiri menjadi mak comblang untuk Shaka.

Selama pelajaran Matematika berlangsung, kerap kali Shaina menengok ke belakang-tempat duduk Shaka. "Mestinya tadi lo tuh kalah aja. Bukan malah menang gimana, sih?! Taruhan lo sama Jafar itu gak banget tau, gak?"

"Berisik."

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

ENTERNAL LOVE
ENTERNAL LOVE
Dalam ENTERNAL LOVE, Elgar memburu penyihir hitam demi membalas dendam tunangannya. Menghadapi pengkhianatan di fantasy novel ini, ia terjebak antara misi balas dendam atau mengungkap misteri gadis serupa Carolina. Simak petualangan penuh aksi di web novel ini sekarang.
FENGYING LIE
FENGYING LIE
Dalam FENGYING LIE, seorang pemuda harus mempertahankan senjatanya dari ancaman maut. Saat dipaksa menyerahkan pedang pusakanya, ia memilih melawan demi bertahan hidup. Ikuti kisah fantasy novel penuh aksi ini, sebuah adventure story tentang keberanian menghadapi musuh yang licik.
Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
Dalam Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa, Indra berkelana melawan Raja Iblis yang menyebarkan virus di dunia Nobel. Bersama Aruna dan Rai, ia memulai adventure di fantasy novel ini demi membalas dendam desanya dan mengungkap asal-usul orang tuanya melalui misi penuh action yang mendebarkan.
Lawon Abang (Kafan Merah)
Lawon Abang (Kafan Merah)
Dalam Lawon Abang (Kafan Merah), Mbah Karso membangkitkan Nyai Larapati demi membalas dendam atas kematian cucunya. Horror novel penuh aksi ini mengikuti perjalanan mistis di Ledokombo untuk menuntaskan kesumat. Baca mystery story ini sebagai pilihan fiction books terbaik Anda.
Penyihir Terakhir
Penyihir Terakhir
Dalam fantasy novel Penyihir Terakhir, Zephyr harus bertahan hidup dari kejaran Kerajaan Elde setelah kaumnya dibantai. Sebagai penyihir terakhir, ia menghadapi pilihan antara balas dendam atau perdamaian. Ikuti adventure story penuh aksi ini di web novel terbaik sekarang.
Pesona Hantu CEO
Pesona Hantu CEO
Dalam novel Pesona Hantu CEO, arwah Sion Alexander Robin terjebak di dunia nyata tanpa tubuhnya. CEO ini terpaksa bekerja sama dengan Roura untuk mencari raganya. Ikuti kisah fantasy ini dalam webnovel penuh misteri dan elemen billionaire romance novel yang menegangkan.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Menyembuhkan Istriku yang Bisu
Menyembuhkan Istriku yang Bisu
Mahesa, dewa abadi yang terjerat utang batu roh, bereinkarnasi sebagai pecandu judi yang tewas dibunuh rentenir. Ia menemukan istri mendiang, wanita cantik dan berbudi luhur tapi bisu dan disiksa. Mahesa memutuskan menjalani hidup fana lewat pernikahan itu, bertekad mencari uang untuk memurnikan pil obat dan menyembuhkan istrinya.
Takdir Bahagia Bersamamu
Takdir Bahagia Bersamamu
Untuk lari dari perjodohan keluarganya, Lynn Shaw meminta bantuan Caleb, CEO Langdon Group, yang kebetulan lewat. Iba dengan nasibnya, Caleb menolong dan menyekolahkan Lynn di sekolah swasta milik perusahaannya. Meski dirundung dan didiskriminasi di sekolah, serta dipaksa ibunya bekerja paruh waktu, takdir kembali mempertemukan Lynn dengan Caleb. Seiring waktu yang mereka habiskan bersama, benih-benih cinta pun tumbuh di antara mereka.
Hantu Miliarder Itu Serumah Denganku
Hantu Miliarder Itu Serumah Denganku
Setelah tragedi masa kecil, Juna memiliki kemampuan melihat arwah manusia, yang justru membuat hidupnya terasa berat dan sepi. Kehidupan anehnya dimulai ketika arwah Jerry, seorang pria yang koma, muncul; hanya Juna yang bisa melihat dan mendengarnya. Meskipun sering berdebat, mereka makin dekat sambil membantu arwah menemukan kedamaian. Namun, seiring ancaman mendekat dan masa lalu terungkap, mereka harus berjuang untuk bertahan, dengan pertanyaan utama apakah Jerry dapat kembali ke tubuhnya.
Perang Es dan Api: Dewi Salju Terakhir
Perang Es dan Api: Dewi Salju Terakhir
Dunia dikuasai perang serigala dan vampir. Sena, pembunuh legendaris yang dikutuk gurunya, kembali ke dunia fana. Ia melamar Dewi Es, tapi ditolak karena bangsawan palsu lebih berkuasa. Saat identitasnya terbongkar, pertarungan besar pun tak terelakkan.
Cahaya Takdir
Cahaya Takdir
Setelah dituduh salah dan menyimpan dendam yang mendalam, dia terlahir kembali ke kehidupan baru hanya untuk menemukan dirinya berada di posisi terbawah sebagai pembantu rumah tangga seorang tuan tanah. Namun, melalui kecerdasan dan ketekunannya, dia berhasil naik pangkat menjadi anak angkat tuan tanah tersebut. Kembali ke tempat di mana dia pernah dirugikan, dia bertemu dengan tuan tanah yang lurus hati, dan bersama-sama, mereka memulai perjalanan terlarang yang penuh rahasia di rumah baru mereka. Mereka akan mengungkap korupsi dan melawan para tiran dalam sebuah kisah keadilan dan intrik.
Menikahlah Denganku Saat Salju Mencair
Menikahlah Denganku Saat Salju Mencair
Selama tiga tahun, semua orang di sekitar mereka menyatakan bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna. Hal itu sering dikatakan sehingga dia pun mulai mempercayainya. Namun, kemudian dia menyadari bahwa mereka tidak pernah berasal dari dunia yang sama.