Bab 6
Felix masuk sambil membawa ponselnya, langsung bertanya dengan nada menekan.
Aku melirik sekilas. Memang benar itu adalah iklan yang aku unggah.
Harga yang aku tawarkan sangat rendah. Hari itu juga, jamnya langsung terjual.
Aku tersenyum, lalu mengarang cerita, "Itu bukan milikku. Bukannya Liana juga membeli sepasang jam tangan dengan suaminya? Sekarang dia ingin menggantinya dengan model yang baru, jadi dia memintaku membantu menjualkannya."
"Begitu, ya ...."
Felix tampaknya hanya setengah memercayaiku, tetapi pandangannya mulai melunak. "Silvia, akhir-akhir ini aku memang terlalu sibuk. Mungkin aku kurang perhatian pada perasaanmu. Kalau ada yang membuatmu merasa nggak senang, kamu harus mengatakannya padaku. Jangan dipendam, oke?" ujar pria itu.
Aku menundukkan kepala sambil membalas, "Baiklah."
"Setelah ibuku meninggal karena sakit tahun lalu, aku hanya memilikimu."
Felix memelukku seperti harta karun yang berharga. Nada suaranya seperti penuh janji, tetapi juga terselip rasa bersalah, "Percayalah, apa pun yang terjadi, kamu adalah orang yang paling penting untukku."
Aku percaya.
Felix.
Dulu, aku percaya dengan sepenuh hatiku.
Aku menghirup aroma samar mawar dari tubuhnya. "Ini sudah malam. Mandilah dulu, lalu istirahatlah."
"Peluk aku sebentar lagi."
Felix menolak untuk melepas pelukannya, dagunya menyentuh pucuk kepalaku. "Silvia, apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? Setelah aku menyelesaikan urusan beberapa hari ini, kita bisa membicarakannya."
Aku tertawa kecil.
Sibuk mengantre membeli kue untuk Yoana? Sibuk menyiapkan mobil penuh mawar sebagai kejutan?
Felix harus menyembunyikan semua ini dariku, sekaligus harus bisa menyenangkan Yoana. Pria ini memang sedang sibuk.
Dia menundukkan kepala menatapku, suaranya terdengar lembut, "Kenapa matamu merah? Apa kamu baru saja menangis?"
"Aku ...."
Baru saja aku hendak menjawab, ponselnya tiba-tiba berdering.
Begitu melihat nama penelepon, Felix langsung melepaskan pelukannya, lalu berjalan keluar sambil menerima telepon.
Entah apa yang dikatakan lawan bicaranya, tetapi wajah Felix langsung berubah.
Pada saat ini, udara begitu dingin, tetapi Felix bahkan tidak repot-repot mengambil jaket. Dia langsung berlari keluar hanya dengan kemeja tipis.
Kebiasaan selama bertahun-tahun membuatku tanpa sadar memanggilnya, "Felix!"
Namun, pria itu sama sekali tidak menggubris.
Terakhir aku melihatnya sekepanikan ini adalah waktu rumah sakit mengeluarkan pernyataan kondisi kritis untuk ibunya.
Aku berjalan ke jendela, menatap Porsche hitamnya melaju menembus gelap malam.
Telingaku seakan masih bisa mendengar kalimatnya barusan, "Silvia, kamu adalah orang yang paling penting untukku."
Namun, itu tidak penting lagi sekarang.
Selama beberapa hari berikutnya, aku sangat sibuk.
Aku akan pergi dari sini. Jadi, orang-orang yang perlu aku temui harus aku datangi satu per satu.
Malam itu, aku memegang spidol, menatap kosong sejenak, lalu akhirnya mengguratkan satu garis lagi di kalender.
Besok adalah hari ulang tahun Felix.
Itu juga hari terakhirku di kota ini.
Setelah memesan kue ulang tahun untuk Felix, aku menggunting semua foto kami bersama yang tergantung di dinding, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Segala hal yang berkaitan denganku di rumah ini sudah benar-benar dibersihkan.
Mungkin karena beberapa hari ini aku telat meminum obat, aku terbangun pagi-pagi dengan sakit perut yang luar biasa.
Ketika mendirikan perusahaan dulu, hanya ada aku dan Felix yang bekerja di sana.
Kami begitu sibuk sampai harus makan dan tidur di kantor.
Demi membela Felix di depan ayahku, sejak lulus kuliah aku tidak lagi meminta uang sepeser pun dari rumah.
Saat modal usaha tersendat, satu bungkus mi instan akan kami bagi dua untuk menghemat uang.
Di malam hari, kami masih harus menghadiri jamuan bisnis.
Felix memiliki toleransi alkohol yang rendah, jadi sebagian besar alkohol masuk ke perutku.
Pernah sekali aku sampai terkena perforasi lambung karena minum alkohol. Dokter bahkan memarahi Felix habis-habisan. Pria itu menjagaku di rumah sakit. Mata pria yang tingginya lebih dari 180 sentimeter itu tampak memerah seperti anak kecil.
Dia berkata aku sudah terlalu banyak menderita karena mengikutinya.
Dia juga berkata bahwa Felix Darian tidak akan mengecewakan Silvia Raider seumur hidupnya.
Sekarang aku sadar.
Janji itu hal yang bahkan belum tentu bisa dipercaya bahkan saat diucapkan.
Aku bangun dari tempat tidur sambil memegangi perutku. Setelah memakan sepotong roti tawar, aku meminum obat.
Namun, efek obatnya relatif lambat. Rasa sakitku malah menjadi makin parah. Aku meringkuk di sofa dengan keringat dingin yang terus keluar.
Aku mengeluarkan ponsel dengan susah payah untuk menelepon Felix.
Tidak ada yang menjawab.
Sepertinya Felix memang sangat sibuk.
Bahkan dia tidak punya waktu untuk menjawab satu panggilan dari pacarnya.
Aku baru tahu betapa sibuknya Felix beberapa hari ini saat Liana meneleponku.
Katanya Felix sudah beberapa hari tidak masuk kantor.
Proyek masih belum selesai dikerjakan, banyak dokumen yang menunggu ditandatangani.
Liana bahkan mulai merasa cemas. "Silvia, meski dia sudah terobsesi dengan cinta, apa kamu juga ikut terobsesi? Meski kalian sibuk mengurus pernikahan sekali pun, jangan melupakan urusan kantor! Tolong bujuk Felix, suruh dia cepat kembali ke kantor!"
"Oh ya, aku dengar minggu depan Pak Steven dari Perusahaan Investasi Rowan akan menggelar pernikahan. Felix harus mencari cara untuk mendapatkan undangan itu. Dia harus pergi ke Kota Bana untuk berkenalan, lalu mengambil hatinya. Asalkan Steven Quinn setuju, penawaran kita pasti akan aman."
"Tunggu."
Sebenarnya aku sudah setengah linglung karena sakit yang menyiksa. Namun, begitu mendengar kalimat terakhir, aku langsung tersentak. "Siapa nama orang dari Perusahaan Investasi Rowan yang kamu katakan tadi?"
"Steven Quinn!"
Bab 7
Liana menghela napas, "Dia benar-benar anak konglomerat yang lahir dengan sendok emas. Kita saja harus mencari Perusahaan Investasi Rowan untuk masuk pasar saham. Tapi aku dengar, Perusahaan Investasi Rowan hanya diberikan pada Steven untuk latihan oleh Keluarga Quinn."
Kota Bana.
Keluarga Quinn, Steven Quinn, perusahaan investasi.
Semuanya cocok.
Ketika Liana menyadari aku tidak merespons, dia bertanya, "Silvia, apa kamu mendengarkanku?"
"Ya, aku dengar."
Aku mengerutkan bibir sambil berkata, "Aku akan menyampaikan apa yang kamu katakan pada Felix."
Liana akhirnya merasa lega. "Baguslah. Oh ya, apa kamu sudah menentukan tanggal pernikahan? Undanganku harus yang versi cetak, jangan hanya menggunakan undangan elektronik secara asal-asalan!"
Aku tersenyum sembari membalas, "Tanggalnya minggu depan juga. Untuk masalah undangan, kamu tenang saja."
Ini adalah keluarga sekelas Keluarga Quinn.
Undangan untuk tamu tentu saja versi cetak semua.
Beberapa hari lalu, saat ibuku menelepon menanyakan siapa saja teman yang akan aku undang, aku sudah menyebutkan nama Liana.
Sisanya, Keluarga Quinn yang akan mengatur.
Setelah menutup telepon, aku menahan rasa tidak nyaman di perutku, lalu mengirimkan pesan ke Felix. Tidak ada balasan.
Akhirnya aku menelponnya langsung.
Aku pikir dia tidak akan mengangkatnya, tetapi ternyata panggilan tersambung juga.
Suaranya terdengar agak dingin di ujung sana, "Kenapa kamu terus meneleponku?"
Jadi, ternyata dia melihat panggilanku sebelumnya.
Aku mengusap perutku sembari berkata, "Kamu sedang sibuk apa? Liana bilang kamu beberapa hari ini nggak datang ke kantor."
Nada suaranya terdengar agak mengejek, "Kamu nggak tahu aku sibuk apa?"
"Bagaimana aku tahu?" tanyaku balik.
Felix mencibir ketika mendengar jawabanku, lalu menahan emosi sambil bertanya dengan nada marah, "Kenapa kamu menyuruh orang menyiram cat di depan rumah Yoana? Apa kamu tahu kalau dia penakut? Sekali terkejut, dia akan langsung trauma! Silvia, sejak kapan kamu jadi sejahat ini?"
Jahat.
Aku merasakan sakit yang makin parah. Aku tidak tahu apakah rasa yang mencekik ini berasal dari perutku atau dadaku yang terasa sesak. "Yoana mengatakan kalau aku yang melakukannya? Kamu percaya?"
"Dia dari kecil nggak pernah berbohong!" balas Felix.
Pria itu bicara dengan suara lantang, "Untuk urusan kantor, kamu bantu aku mengurusnya dulu. Yoana sekarang sedang ketakutan, nggak bisa ditinggal sendirian."
Aku meneguk air hangat, lalu membalas, "Perutku sakit, aku nggak bisa pergi."
Felix tahu dengan baik tentang penyakit yang mengendap di tubuhku beberapa tahun terakhir ini.
Selama dia ada di rumah, dia akan selalu memastikan aku makan tiga kali sehari, serta meminum obat tepat waktu.
Entah sejak kapan, dia bahkan tidak pulang ke rumah lagi.
"Silvia."
Nada suaranya terdengar makin tidak sabar, seolah tidak mau mendengar lagi, "Sakitmu ini memang adalah masalah lama, tapi bisa nggak kamu menahannya sedikit saja? Aku sudah bilang, kalau Yoana nggak bener-bener membutuhkanku, aku juga nggak akan menyuruhmu."
"Lupakan saja, aku akan mencari cara sendiri."
Setelah mengatakan ini, Felix bersiap menutup telepon.
Aku buru-buru menahan, "Apakah kamu akan pulang malam ini?"
"Silvia, apakah kamu benar-benar harus membuat keributan di saat Yoana sangat membutuhkanku?" ujar Felix.
Aku terdiam sejenak.
Aku pikir aku sudah tidak akan peduli lagi.
Namun, begitu mendengar kalimat itu, rasanya seperti ada sesuatu yang runcing dan tajam menusuk dadaku, menembus sampai ke paru-paru.
Bahkan bernapas pun terasa sakit.
"Hari ini adalah hari ulang tahunmu, juga peringatan enam tahun hubungan kita."
Sambil mengusap perut, aku melanjutkan perlahan, "Felix, kamu sendiri yang bilang kalau setiap hari jadi harus kita lewati bersama."
Putus.
Aku tetap ingin mengatakannya secara langsung.
Jika tidak, semua momen yang pernah kami lalui bersama akan terasa tidak berharga.
"Aku ...."
Felix terdiam sejenak, seolah merasa bersalah, "Aku hampir lupa karena sibuk."
"Silvia, aku akan segera pulang. Aku juga akan membawakan kue kesukaanmu dari toko favoritmu."
Baru saja aku ingin menjawab, suara Yoana tiba-tiba terdengar di seberang sana, seperti sedang menjerit panik.
Felix terdengar cemas, bahkan lupa mematikan panggilan telepon. Suaranya terdengar lembut saat menenangkan, "Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan pergi ke mana-mana."
Aku menutup panggilan. Ketika menatap rumah yang sudah sepi dan kosong, tiba-tiba aku tertawa.
Jarum jam terus berputar.
Langit malam pekat seperti tirai hitam.
Selain kurir makanan yang sempat mengetuk pintu, tidak ada lagi suara apa pun.
Felix tidak akan kembali malam ini.
Pada pukul tiga dini hari, ponselku berdering.
Itu adalah pesan dari Felix.
[Silvia, Yoana terus bermimpi buruk. Tenang aja, sebelum matahari terbit aku pasti pulang. Tunggu aku.]
Aku menunduk, duduk diam beberapa saat. Kemudian, aku membuang makanan dan kue di atas meja ke tempat sampah satu per satu.
Aku masuk ke kamar mandi, mandi air hangat.
Kemudian, aku mengirimkan pesan terakhir lewat WhatsApp untuk Felix.
Aku langsung memblokir serta menghapus semuanya.
Aku menarik dua koper yang sudah lama aku persiapkan. Tanpa menoleh ke belakang, aku naik taksi ke bandara.
Felix, kali ini aku tidak akan menunggumu lagi.
Semua barang milikku, termasuk diriku sendiri.
Hari ini, aku akan sepenuhnya meninggalkan kota yang sejak awal pun tidak pernah benar-benar menjadi milikku.