Bab 1

Tahun keenam aku bersama Felix Darian.

Aku berkata, "Felix, aku mau menikah."

Pria itu tersentak, seketika tersadar dari lamunannya, tampak agak canggung ketika berujar, "Silvia, kamu tahu kalau perusahaan sedang dalam tahap penting untuk pendanaan. Untuk sementara ini, aku belum bisa memikirkan tentang hal itu …."

"Nggak masalah," balasku.

Aku tersenyum acuh tak acuh.

Felix salah paham.

Aku memang akan menikah, tetapi bukan dengannya.

"Ibu ... tolong bantu aku menyampaikan pada Kakek kalau aku bersedia kembali untuk perjodohan itu," ujarku.

"Benarkah?" Ibuku terdengar senang, tetapi kemudian dia merasa ragu. Dia melanjutkan, "Tunggu dulu, bagaimana dengan pacarmu yang sudah berhubungan bertahun-tahun denganmu itu? Kami memang ingin kamu mendapatkan pasangan yang setara, tapi kalau ...."

"Sudah tidak ada lagi. Tolong aturkan saja pernikahannya," balasku.

Ibuku tidak langsung menanyakan alasan di baliknya. Dia hanya berkata, "Kamu pikirkan lagi dalam dua hari ini. Memang benar, kakekmu sudah memilihkan calon itu dengan sangat hati-hati. Sekarang, pria itu juga sedang mengelola perusahaan investasi keluarga mereka. Tapi ini masalah pernikahan, Ibu tetap berharap agar kamu nggak bertindak gegabah."

"Ibu, aku nggak bertindak gegabah. Aku sudah memikirkannya dengan matang," kataku.

Kemarin saat berbicara dengan adik laki-lakiku di telepon, dia tanpa sengaja mengatakan semuanya. Aku mengetahui bahwa rantai keuangan keluarga kami sedang berada di ambang jurang.

Sementara itu, perjodohan ini adalah solusi terbaik.

Tentu saja, orang yang dibutakan oleh cinta sepertiku, yang dulu rela memutuskan hubungan dengan seluruh keluarga demi pacarku, tidak mungkin akan mau dijodohkan.

Satu-satunya alasan kenapa aku melakukannya adalah karena otak penuh cintaku sudah mati.

Sudah saatnya aku sadar.

Aku melirik ke arah yang tadi sedang dipandang dengan tatapan kosong oleh Felix melalui kaca prancis besar. Sudut bibirku membentuk senyuman getir.

Dulu, dia juga memandangku seperti itu.

Dalam empat tahun masa kuliah, dia mengejarku selama tiga tahun. Aku pernah bertanya tentang apa yang dia sukai dariku. Dia hanya tertawa seperti orang bodoh sambil menjawab bahwa dia menyukai wajahku. Katanya, tidak ada orang lain yang secantik aku.

Aku tidak suka pria bodoh, tetapi akhirnya aku luluh oleh ketulusan dalam dirinya.

Meski begitu, aku tidak langsung menerima cinta Felix.

Namun, Felix tidak pernah menyerah. Setiap hari, tidak peduli cuaca hujan atau pun cerah, dia akan mengantarkan sarapan ke depan asramaku.

Dia menghitung siklus menstruasiku, lalu mulai membuatkan air gula merah dua hari sebelum siklusku dimulai.

Setiap kali aku memperhatikan sebuah kalung sedikit lebih lama, Felix akan meluangkan waktu untuk bekerja paruh waktu, lalu menabung dan membelikannya untukku.

Saat aku sedang sedih, dia akan memutar otak untuk mencari lelucon agar aku bisa tertawa.

Bahkan ketika aku hanya mengernyitkan kening sedikit saja, dia akan langsung bertanya apakah aku merasa tidak enak badan.

Namun, pada akhirnya ....

Semua itu tidak bisa mengalahkan cinta masa kecil.

Dua bulan yang lalu, gadis kecil dari masa lalu Felix tiba-tiba datang ke Kota Jawan untuk menemuinya.

Pertama kali melihat mereka bersama, aku langsung menyadari bahwa mereka tidak punya batasan yang jelas dalam berinteraksi.

Namun, saat itu aku berpikir bahwa Yoana hanya akan bermain selama beberapa hari, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.

Siapa sangka, wanita itu malah menjadi sekretaris pribadi Felix, tinggal di Kota Jawan.

Ketika aku menanyakan hal itu, Felix hanya berkata, "Kebetulan aku sedang mencari orang. Daripada aku mempekerjakan orang luar, lebih baik mempekerjakan orang yang aku kenal."

Namun, sejak saat itu, Felix jadi lebih sering lembur serta melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.

Tidak pulang sepanjang malam pun menjadi hal yang biasa.

Dua hari yang lalu, aku memeriksa daftar kehadiran di bagian administrasi. Baru pada sata itu aku mengetahui bahwa mereka berdua sungguh tidak terpisahkan.

Perjalanan bisnis ke luar kota pun hanya dilakukan berdua saja, seorang pria dan seorang wanita.

Namun, faktur yang mereka berikan pada bagian keuangan untuk penggantian biaya hanya menunjukkan satu kamar eksekutif.

Lembur? Sudah tidak perlu dibahas.

Saat aku keluar dari ruang kerja Felix, Yoana berdiri dari kursinya di dekat pintu.

Wanita itu tersenyum manis, lalu berujar, "Kak Silvia, kenapa wajahmu tampak nggak senang? Apa kalian baru saja bertengkar?"

Aku tidak berniat meladeninya, jadi aku berjalan melewatinya begitu saja.

"Silvia!"

Yoana memanggilku, "Tahun depan kamu akan berusia tiga puluh, 'kan? Jangan bertingkah seperti anak kecil. Perusahaan Investasi Rowan belum juga memberikan jawaban tentang masalah pendanaan, sementara Felix sedang merasa sangat khawatir. Kalau kamu nggak bisa membantu, setidaknya jangan menjadi beban pikirannya di saat penting seperti ini."

Aku mengerutkan kening, menatapnya dengan tenang, lalu membalas, "Yoana, aku membangun perusahaan ini bersama dengan Felix. Kalau dia bisa membuatmu tinggal di sini, aku juga bisa membuatmu pergi."

"Kamu ...."

Yoana tidak menyangka aku akan bersikap sekeras itu. Dia terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada sedih, "Aku hanya menasihatimu dengan niat baik. Kalau kamu nggak suka, nggak perlu mendengarkannya. Tapi kenapa harus mengusirku ...."

"Siapa yang berani mengusirmu?"

Felix keluar sambil bertanya dengan nada dingin. Dia melanjutkan, "Silvia, dia hanya seorang gadis muda, nggak kenal dengan siapa-siapa di sini. Kalau ada kata-katanya yang kurang tepat, apa kamu nggak bisa memakluminya sedikit?"

Gadis muda.

Aku hampir tidak bisa menahan tawa.

Yoana itu hanya tiga bulan lebih muda dariku.

Rasa perih memenuhi dadaku, hampir membuat air mata tumpah. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Felix, aku akan memberimu satu kesempatan untuk memilih. Dia yang pergi, atau aku."

Felix menjawab, "Silvia Raider, jangan membuat keributan."

Aku terdiam sejenak.

Merasa linglung.

Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali Felix memanggilku dengan nama lengkap seperti itu.

"Kak Silvia, mungkin kamu salah paham tentang hubungan kami. Aku dan Felix hanya teman baik sejak kecil."

Mata Yoana tampak memerah. Dia menatap Felix dengan ekspresi menyedihkan, lalu melanjutkan, "Felix, aku dengar kalau Kak Silvia dari keluarga berada, dia pasti dimanja sejak kecil. Kamu seharusnya lebih perhatian padanya. Jangan sampai kalian bertengkar gara-gara aku. Aku ... aku terbiasa hidup memahami orang lain, bekerja di tempat lain juga nggak masalah untukku. Asal Kak Silvia senang, aku bisa mengemasi barang-barangku, lalu pergi dari Kota Jawan ...."

"Yoana!"

Nada Felix mengandung kelembutan yang tidak bisa dia sembunyikan.

Aku menunjukkan senyum di sudut bibirku, berbalik, langsung melangkah pergi.

Selama bertahun-tahun ini, keluargaku selalu memanjakanku.

Setelah lulus kuliah, ayahku ingin aku kembali ke Kota Bana untuk mendapatkan beberapa tahun pengalaman, sebelum akhirnya mewarisi bisnis keluarga.

Namun, pada saat itu aku dibutakan oleh cinta. Demi Felix, aku bertengkar hebat dengan ayahku, bersikeras untuk tetap tinggal di Kota Jawan.

Ini hanya karena satu kalimat dari ayahku, "Dia hanya pemuda miskin, apa yang bisa dia berikan padamu?"

Aku diam-diam mendampingi Felix memulai bisnisnya, sering begadang demi membicarakan sebuah kontrak.

Tidak aku sangka, yang aku dapatkan bukanlah kesetiaan Felix.

Yang aku dapatkan hanyalah lambung yang harus diobati dengan pengobatan tradisional.

Ibuku menghela napas, lalu bertanya, "Lalu, kapan kamu akan kembali ke Kota Bana?"

"Mungkin setengah bulan lagi," jawabku.

Setelah menutup telepon, aku menoleh sejenak ke arah gedung tinggi yang menjulang itu. Senyumku mengandung kegetiran.

Felix Darian.

Aku sudah memberimu kesempatan untuk memilih.

Kamu sendiri yang tidak menginginkannya.

Kalau begitu, aku juga tidak menginginkanmu.

Bab 2

Sesampainya di rumah, aku duduk termenung di sofa untuk waktu yang lama.

Tanda-tanda keretakan hubunganku dengan Felix sebenarnya sudah muncul sejak bulan lalu.

Awalnya aku benar-benar tidak mengerti, bagaimana mungkin cinta bisa berubah secepat itu?

Setiap kali aku mencurigai hubungan Felix dengan Yoana, dia akan selalu berkata, "Kamu terlalu banyak berpikir. Aku hanya menganggap dia sebagai adikku, jadi aku lebih perhatian padanya."

Awalnya, aku sungguh memercayainya.

Karena kebaikan Felix padaku tidak mungkin palsu. Aku juga sangat yakin kalau dia mencintaiku.

Sampai suatu hari saat menghadiri pesta bersama temannya, Felix mabuk berat. Aku pun datang menjemputnya.

Dari mulut temannya yang juga mabuk, aku tidak sengaja mendengar kebenarannya.

"Felix dan Yoana ... mereka tumbuh besar bersama. Sebelum dia mengejarmu, dia pernah menyatakan cinta pada Yoana terlebih dulu, tapi Yoana menolaknya."

"Mana bisa hubungan sedekat itu dilupakan dengan mudah?"

"Alasan Felix mengejarmu itu ... karena senyummu mirip Yoana."

"Tapi tenang saja, kami semua sudah menasihati Felix untuk serius bersama denganmu. Dulu, Yoana itu pasti menolak Felix karena dia miskin. Sekarang melihat kariernya yang melejit naik, wanita itu pun mendatanginya."

...

Tut, tut, tut ....

Baru ketika suara pengingat dari teko elektrik tanda obat tradisional sudah matang berbunyi, aku baru tersadar kembali.

Satu gelas obat tradisional berwarna coklat gelap aku habiskan. Rasa pahitnya begitu menusuk hati. Aku memandang rumah yang sudah aku tata dengan rapi ini, lalu membuat tanda pada tanggal di kalender.

Tersisa 14 hari.

Setelah itu, aku mulai pelan-pelan membereskan rumah.

Kota Jawan dan Kota Bana masing-masing terletak di selatan dan utara. Barang bawaan yang bisa aku bawa terbatas.

Aku membuang semua sisanya.

Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang lain, terlebih lagi oleh wanita Felix berikutnya.

Setelah dua kali naik turun untuk membuang barang, tenagaku sudah habis. Aku hanya bisa membereskan sisanya nanti.

Selesai mandi, aku membuka media sosial, langsung melihat unggahan Yoana.

[Siang hari dia adalah bos yang dingin, tapi di malam hari dia rela mengantre untuk membelikanku kue. Katanya, dia ingin menebus semua waktu yang hilang selama ini. Senangnya!]

Terlampir foto kue stroberi. Di tangan yang memegang kue itu, melingkar sebuah jam tangan pria yang jelas bukan milik Yoana.

Itu adalah jam tangan pasangan, seperti yang ada di tanganku.

Pada saat itu, aku menemani Felix menyelesaikan proyek pertama perusahaan setelah lembur berhari-hari.

Itu juga merupakan proyek yang melambungkan reputasi perusahaan.

Meskipun seminggu penuh hampir tidak tidur, Felix tetap penuh semangat. Dia menarikku ke mal untuk membeli jam tangan pasangan yang dulu diam-diam aku simpan fotonya.

Aku mengatakan bahwa benda itu terlalu mahal.

Namun, Felix bersikeras membelinya. Dia memakaikannya ke tanganku, memelukku, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Silvia, aku harus memberikan sendiri semua yang kamu suka."

Selain saat mandi dan tidur, jam tangan itu tidak pernah lepas dari pergelangan tangan Felix.

Asisten Felix sebelumnya dipecat hanya karena tidak sengaja membasahi jam itu.

Semua orang tahu bahwa Felix mencintaiku.

Sekarang, jika aku pikir-pikir lagi, itu semua hanya lelucon.

Tidak ada yang tahu bahwa dalam tatapan penuh cinta yang pria itu arahkan padaku, sebenarnya dia sedang membayangkan orang lain.

Aku menghela napas panjang, melepaskan jam tangan itu, mengambil beberapa gambar, lalu mengunggahnya ke platform jual beli barang bekas.

Felix lagi-lagi tidak pulang semalaman.

Keesokan harinya, aku bangun siang hari, lalu pergi ke kantor untuk mengurus prosedur pengunduran diri.

Beberapa tahun terakhir setelah perusahaan berjalan stabil, tugasku hanya fokus di bagian desain.

Namun, dalam perjalanan dari departemen desain ke departemen personalia, anehnya banyak orang yang mengucapkan selamat padaku.

Aku merasa bingung. Ketika aku akan bertanya pada Liana, pegawai dari departemen personalia, dia menarikku ke dalam kantor, lalu berkata, "Katakan padaku, apa kamu dan Felix akan menikah?"

"Apa?"

Aku tercengang.

Liana adalah salah satu karyawan paling lama di perusahaan, jadi dia sudah terbiasa bicara apa adanya denganku. Liana lanjut bertanya, "Benarkah itu? Semua sudah sampai tahap ini, tapi kamu masih ingin menyembunyikannya? Felix heboh sekali sampai semua orang tahu kalau dia ingin melamarmu!"

Aku mengerutkan kening, lalu bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Liana menutup mulutnya dengan tangan, lalu berkata, "Kamu benar-benar nggak tahu? Jangan-jangan dia berencana memberi kejutan ...."

"Tolong ceritakan dengan jelas," kataku.

"Jadi ...."

Liana sempat merasa ragu, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk berpihak padaku. Dia menjelaskan, "Tadi ada yang melihat toko bunga mengirimkan pesanan untuk Felix. Itu adalah satu bagasi penuh mawar merah muda! Hari ini bukan ulang tahunmu atau hari jadi kalian. Kalau bukan melamar, untuk apa lagi?"

Mawar merah muda.

Aku ingat dua bulan lalu, saat Yoana datang ke Kota Jawan, Felix menjemputnya di bandara dengan membawa mawar merah muda juga.

Jariku perlahan mengusap telapak tangan.

Aku mengerutkan bibirku, tidak mengatakan apa-apa. Liana melirik tanganku, lalu bertanya, "Apa ini?"

"Aku ingin mengundurkan diri," kataku.

"Pantas saja!"

Tiba-tiba, Liana tampak tersadar. Dia berkata, "Pasti ini lamaran, 'kan? Kamu sudah bersiap-siap mengundurkan diri untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Ayo sini, aku akan menandatanganinya."

"Baiklah," balasku.

Aku tidak menjelaskan apa pun, langsung menyerahkan dokumen itu.

Sambil menandatangani dokumen, Liana mengeluh, "Felix ini benar-benar hebat. Dia bahkan nggak memberitahuku lebih dulu. Aku jadi harus segera mencari penggantimu. Di mana aku bisa menemukan direktur desain sepertimu?"

"Nanti kamu hanya perlu meminta Felix menandatanganinya, lalu semuanya beres."

Setelah selesai memberikan tanda tangan, Liana mengembalikan berkas, lalu menambahkan dengan nada tulus, "Silvia, aku nggak tahu keputusanmu untuk mengundurkan diri ini benar atau salah, tapi sebagai teman lama, aku mendoakan agar kamu bahagia! Semoga Felix nggak membuatmu kecewa."

"Tenang aja, aku pasti bahagia," balasku.

Hanya saja, itu tidak ada hubungannya dengan Felix.

Bab 3

Sebelum melangkah masuk ke kantor Felix, aku sempat ragu sejenak.

Bukan karena bimbang atau tidak rela.

Namun, ini karena aku belum memikirkan bagaimana caranya agar dia menandatangani dokumen ini tanpa banyak tanya.

Setelah sistem kepegawaian perusahaan dibenahi, aku pun harus menandatangani ulang kontrak kerja.

Selain itu, posisiku sebagai direktur desain cukup sensitif. Bisnis keluargaku pun ada kaitannya dengan industri ini. Jika dokumen pengunduran diri tidak diurus dengan benar, ini bisa jadi merepotkan saat aku kembali ke Kota Bana nanti.

Aku membuka pintu, lalu melangkah masuk. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, aku melihat Yoana sedang duduk di seberang Felix.

Pantas saja meja kerja di dekat pintu kosong.

Rupanya sudah dipindahkan ke sini.

Yoana yang pertama melihatku. Dia menepuk kepala Felix, lalu berkata dengan suara manja, "Felix!"

Suara Felix terdengar lembut penuh kasih sayang, "Sudah, jangan mengganggu dulu. Aku akan menyelesaikan perjanjian ini dulu."

"Aku nggak mengganggu ...."

Yoana melirikku dengan tatapan menantang, lalu dengan nada polos berkata, "Kak Silvia datang."

Felix langsung bersandar ke belakang, menjauh dari Yoana. Dia menoleh ke arahku dengan gugup, lalu tatapan kami pun bertemu.

Aku mengabaikan rasa sesak di dada, lalu berkata padanya dengan acuh tak acuh, "Felix, ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani."

Aku menyerahkan map dokumen itu padanya.

Ketika melihat aku tidak mempermasalahkan kemesraan mereka barusan, dia merasa sedikit lega, lalu mengangguk, "Oke."

"Felix, kalau begitu aku keluar dulu. Kalian bisa lanjutkan," ucap Yoana.

Wanita itu bangkit berdiri, berjalan keluar dengan anggun.

Saat Felix membuka map itu, aku bersiap mengutarakan alasan yang sudah aku siapkan. Namun, tiba-tiba Yoana meringis kesakitan sambil berseru, "Ah! Sakit!"

"Yoana!"

Felix langsung berdiri dengan panik, ingin bergegas menghampirinya.

Aku menghalangi langkahnya sambil berkata, "Tanda tangani dulu. Hanya butuh beberapa detik."

Felix mengerutkan kening sambil berujar, "Silvia, sejak kapan kamu jadi begitu dingin? Apakah dokumen ini begitu penting?"

"Felix ...."

Yoana terduduk di lantai, memegangi kakinya sambil menangis.

Mata dan hati Felix hanya tertuju pada Yoana. Tak ingin berdebat lebih lanjut denganku, dia bahkan tidak melirik isi dokumen itu, langsung menandatangani di tempat yang aku tunjuk dengan acuh tak acuh.

Ini memang sesuai dengan yang aku inginkan.

Aku hanya ingin proses pengunduran diriku berjalan dengan lancar, lalu pergi meninggalkan kota ini.

Kembali ke jalur hidupku yang seharusnya.

Felix mengangkat Yoana, langsung membawanya ke sofa. Dia memegang kakinya untuk memeriksanya dengan hati-hati. Felix berujar, "Syukurlah nggak bengkak. Tapi kalau masih sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit."

"Ini nggak separah itu ...."

Yoana menarik kakinya malu-malu, lalu melirikku dengan pandangan takut.

Aku menatap mereka tanpa ekspresi, lalu berbalik untuk pergi.

Sebelum masuk ke dalam mobil, aku dihadang oleh Felix yang mengejarku dari belakang. Dia berkata, "Silvia, jangan salah paham. Nggak ada apa-apa di antara kami berdua. Aku hanya ingin menjaganya karena kami tumbuh besar bersama."

"Ya."

Aku mengangguk dengan tenang, menatap tangannya yang menahan pintu mobil, memberi isyarat pada Felix untuk melepaskannya. "Aku masih ada urusan," ujarku.

Dia tertegun sejenak. "Kamu nggak marah?"

Aku tersenyum sambil membalas, "Apa aku harus marah?"

Felix berkata, "Dulu kalau aku melakukan ini, kamu pasti akan marah ...."

"Tapi bukankah kamu tetap saja melakukannya?" balasku.

Aku mendongak, menatap kegelisahan yang terlihat jelas di matanya. "Sudahlah, aku hanya bercanda. Malam ini pulanglah untuk makan di rumah, oke?"

"Aku ...."

Felix menekan rasa bersalahnya, menggenggam tanganku, lalu membalas, "Malam ini aku ada janji, tapi aku pasti akan pulang."

Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa.

Entah kenapa, bahkan keputusannya untuk pulang ke rumah pun terasa seperti pemberian yang terpaksa.

Aku makan malam di luar, sebelum kembali ke rumah untuk melanjutkan beres-beres.

Baru saat itu aku sadar, ternyata saat rasa kecewa sudah mencapai titik paling dalam, bahkan kenangan pun tidak layak disimpan.

Aku menghapus setiap jejak kehadiranku di rumah ini dengan sungguh-sungguh.

Termasuk kamar Felix.

Tentu saja, hanya barang-barang yang aku beli untuk kami berdua yang aku buang.

Sikat gigi, gelas, sandal, baju tidur ....

Saat sedang beristirahat sejenak, aku menerima pesan dari Yoana lewat WhatsApp.

[Silvia, lihatlah. Setelah sekian lama, Felix masih ingat kalau bunga favoritku adalah mawar merah muda. Sekarang dia bahkan lebih perhatian dari sebelumnya.]

[Terima kasih karena sudah membantu membentuknya menjadi pria yang begitu sempurna.]

[Menikmati teduh di bawah pohon yang ditanam orang lain itu sungguh menyenangkan.]

Terlampir satu foto dalam pesannya.

Bagasi mobil Porsche yang aku pilih sendiri, tampak penuh dengan bunga, bahkan dihiasi lampu-lampu kecil yang cantik.

Dalam sekejap, aku benar-benar tersadar.

Cinta yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini, sejak awal memang milik orang lain.

Pasti Ada yang Mencintaimu

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya