Bab 3

Sebelum melangkah masuk ke kantor Felix, aku sempat ragu sejenak.

Bukan karena bimbang atau tidak rela.

Namun, ini karena aku belum memikirkan bagaimana caranya agar dia menandatangani dokumen ini tanpa banyak tanya.

Setelah sistem kepegawaian perusahaan dibenahi, aku pun harus menandatangani ulang kontrak kerja.

Selain itu, posisiku sebagai direktur desain cukup sensitif. Bisnis keluargaku pun ada kaitannya dengan industri ini. Jika dokumen pengunduran diri tidak diurus dengan benar, ini bisa jadi merepotkan saat aku kembali ke Kota Bana nanti.

Aku membuka pintu, lalu melangkah masuk. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, aku melihat Yoana sedang duduk di seberang Felix.

Pantas saja meja kerja di dekat pintu kosong.

Rupanya sudah dipindahkan ke sini.

Yoana yang pertama melihatku. Dia menepuk kepala Felix, lalu berkata dengan suara manja, "Felix!"

Suara Felix terdengar lembut penuh kasih sayang, "Sudah, jangan mengganggu dulu. Aku akan menyelesaikan perjanjian ini dulu."

"Aku nggak mengganggu ...."

Yoana melirikku dengan tatapan menantang, lalu dengan nada polos berkata, "Kak Silvia datang."

Felix langsung bersandar ke belakang, menjauh dari Yoana. Dia menoleh ke arahku dengan gugup, lalu tatapan kami pun bertemu.

Aku mengabaikan rasa sesak di dada, lalu berkata padanya dengan acuh tak acuh, "Felix, ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani."

Aku menyerahkan map dokumen itu padanya.

Ketika melihat aku tidak mempermasalahkan kemesraan mereka barusan, dia merasa sedikit lega, lalu mengangguk, "Oke."

"Felix, kalau begitu aku keluar dulu. Kalian bisa lanjutkan," ucap Yoana.

Wanita itu bangkit berdiri, berjalan keluar dengan anggun.

Saat Felix membuka map itu, aku bersiap mengutarakan alasan yang sudah aku siapkan. Namun, tiba-tiba Yoana meringis kesakitan sambil berseru, "Ah! Sakit!"

"Yoana!"

Felix langsung berdiri dengan panik, ingin bergegas menghampirinya.

Aku menghalangi langkahnya sambil berkata, "Tanda tangani dulu. Hanya butuh beberapa detik."

Felix mengerutkan kening sambil berujar, "Silvia, sejak kapan kamu jadi begitu dingin? Apakah dokumen ini begitu penting?"

"Felix ...."

Yoana terduduk di lantai, memegangi kakinya sambil menangis.

Mata dan hati Felix hanya tertuju pada Yoana. Tak ingin berdebat lebih lanjut denganku, dia bahkan tidak melirik isi dokumen itu, langsung menandatangani di tempat yang aku tunjuk dengan acuh tak acuh.

Ini memang sesuai dengan yang aku inginkan.

Aku hanya ingin proses pengunduran diriku berjalan dengan lancar, lalu pergi meninggalkan kota ini.

Kembali ke jalur hidupku yang seharusnya.

Felix mengangkat Yoana, langsung membawanya ke sofa. Dia memegang kakinya untuk memeriksanya dengan hati-hati. Felix berujar, "Syukurlah nggak bengkak. Tapi kalau masih sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit."

"Ini nggak separah itu ...."

Yoana menarik kakinya malu-malu, lalu melirikku dengan pandangan takut.

Aku menatap mereka tanpa ekspresi, lalu berbalik untuk pergi.

Sebelum masuk ke dalam mobil, aku dihadang oleh Felix yang mengejarku dari belakang. Dia berkata, "Silvia, jangan salah paham. Nggak ada apa-apa di antara kami berdua. Aku hanya ingin menjaganya karena kami tumbuh besar bersama."

"Ya."

Aku mengangguk dengan tenang, menatap tangannya yang menahan pintu mobil, memberi isyarat pada Felix untuk melepaskannya. "Aku masih ada urusan," ujarku.

Dia tertegun sejenak. "Kamu nggak marah?"

Aku tersenyum sambil membalas, "Apa aku harus marah?"

Felix berkata, "Dulu kalau aku melakukan ini, kamu pasti akan marah ...."

"Tapi bukankah kamu tetap saja melakukannya?" balasku.

Aku mendongak, menatap kegelisahan yang terlihat jelas di matanya. "Sudahlah, aku hanya bercanda. Malam ini pulanglah untuk makan di rumah, oke?"

"Aku ...."

Felix menekan rasa bersalahnya, menggenggam tanganku, lalu membalas, "Malam ini aku ada janji, tapi aku pasti akan pulang."

Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa.

Entah kenapa, bahkan keputusannya untuk pulang ke rumah pun terasa seperti pemberian yang terpaksa.

Aku makan malam di luar, sebelum kembali ke rumah untuk melanjutkan beres-beres.

Baru saat itu aku sadar, ternyata saat rasa kecewa sudah mencapai titik paling dalam, bahkan kenangan pun tidak layak disimpan.

Aku menghapus setiap jejak kehadiranku di rumah ini dengan sungguh-sungguh.

Termasuk kamar Felix.

Tentu saja, hanya barang-barang yang aku beli untuk kami berdua yang aku buang.

Sikat gigi, gelas, sandal, baju tidur ....

Saat sedang beristirahat sejenak, aku menerima pesan dari Yoana lewat WhatsApp.

[Silvia, lihatlah. Setelah sekian lama, Felix masih ingat kalau bunga favoritku adalah mawar merah muda. Sekarang dia bahkan lebih perhatian dari sebelumnya.]

[Terima kasih karena sudah membantu membentuknya menjadi pria yang begitu sempurna.]

[Menikmati teduh di bawah pohon yang ditanam orang lain itu sungguh menyenangkan.]

Terlampir satu foto dalam pesannya.

Bagasi mobil Porsche yang aku pilih sendiri, tampak penuh dengan bunga, bahkan dihiasi lampu-lampu kecil yang cantik.

Dalam sekejap, aku benar-benar tersadar.

Cinta yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini, sejak awal memang milik orang lain.

Bab 4

Felix mengingkari janjinya.

Dia tidak pulang.

Selama beberapa hari berturut-turut, dia bahkan tidak muncul sekali pun.

Aku baru tahu bahwa Felix sedang melakukan perjalanan bisnis lagi ketika menelepon Liana.

Kali ini, dia bersama Yoana lagi.

Namun, ini justru memberiku lebih banyak waktu untuk membereskan segalanya.

Di kalender, hanya tersisa 7 hari lagi.

Hari itu, saat aku sedang mengemas barang-barang yang akan aku bawa ke Kota Bana, Liana tiba-tiba menelepon.

"Silvia, apa kamu salah menulis alamat untuk pengiriman paket?"

"Apa?"

"Itu adalah gaun pengantinmu dan Felix, dikirim ke kantor atas namamu. Si Felix-mu ini bahkan menghabiskan banyak uang untuk gaun pengantin yang dibuat khusus. Gaun pengantin buatan AND ini paling nggak harganya mencapai lebih dari sepuluh digit. Dia pasti sudah menghabiskan semua tabungannya. Apa dia nggak memikirkan kehidupan kalian setelah menikah?" ujar Liana.

Aku buru-buru ke kantor. Begitu membuka paketnya, aku juga tertegun.

Ukurannya memang pas denganku.

Namun ....

Gaya dan detailnya tidak seperti pilihan Felix.

Selama beberapa tahun ini, meski performa perusahaan lumayan bagus, kami belum sampai pada titik rela menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk sebuah gaun pengantin.

Lagi pula, dia sepertinya ... memang tidak pernah benar-benar berniat menikah denganku.

Saat aku masih bingung, ibuku menelepon.

"Sayang, apakah gaunnya sudah kamu terima? Haih, Keluarga Quinn benar-benar antusias tentang pernikahanmu dengan Steven. Waktu aku mengatakan kalau kamu baru akan pulang dua minggu lagi, mereka langsung buru-buru mulai menyiapkan segalanya."

"Bahkan gaunnya pun mereka kirim duluan, supaya kamu bisa melihat dan mencobanya, apakah gaunnya cocok atau nggak!"

Suara ibuku terdengar ceria di telepon, jelas sekali dia merasa sangat puas dengan sikap serius dari Keluarga Quinn terhadapku.

Aku mengusap pelipisku sambil bertanya, "Bu apakah Ibu yang memberikan alamatnya?"

"Ya! Apakah kamu sudah pindah perusahaan?" tanya ibuku.

"Nggak ...."

Aku menghela napas sambil menjawab, "Aku akan mengirimkan alamat baruku. Kalau ingin mengirimkan paket atau apa pun, kirimkan ke alamat itu saja."

"Baiklah."

Ibuku langsung menyetujui dengan penuh semangat, "Oh ya, Bibi Cecil juga memintaku untuk bertanya padamu, apa kamu punya permintaan khusus untuk acara pernikahannya? Dia akan mengaturnya."

"Aku nggak ada permintaan apa pun."

Aku menggigit bibir sejenak, lalu berujar, "Pernikahannya kalian atur saja, aku nggak masalah."

"Pernikahan?"

Suara Felix tiba-tiba terdengar dari belakang. "Pernikahan apa?"

Jantungku langsung berdebar kencang, sementara aku langsung menutup panggilan. "Kamu sudah kembali dari perjalanan bisnis?"

"Ya."

Dia menghindari tatapanku dengan rasa bersalah, lalu melirik gaun pengantin di sofa sambil mengernyitkan kening. "Silvia, aku sudah bilang kalau sekarang ini aku nggak ada niat untuk memikirkan pernikahan. Bisakah kamu nggak memaksaku?"

Aku terdiam.

Aku menatapnya lekat-lekat ketika berkata, "Apakah aku mengatakan kalau kamu adalah mempelai pria dalam pernikahan ini?"

"Apa maksudnya?" tanya Felix.

"Nggak ada maksud apa-apa."

Aku mengangkat bahu, lalu berjalan mendekat, mulai merapikan kembali gaun itu ke dalam kotaknya.

Felix langsung menarik lenganku, suaranya melunak, "Apa kamu marah? Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya kelelahan karena perjalanan bisnis kemarin. Maafkan aku, oke?"

"Ya."

Tanpa pikir panjang, aku mengangguk.

Felix masih tampak ragu, "Benarkah?"

"Ya."

"Kalau begitu, bisakah kamu menyimpan gaun pengantin ini untuk sekarang?" ujar Felix.

Dia tampak sedikit bimbang. "Silvia, beri aku sedikit waktu lagi, aku pasti akan menikahimu."

Nada suara Felix seperti orang yang takut dipaksa melakukan sesuatu.

Aku tidak kuasa menahan tawa kecil. "Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tadi nggak mendengarku menelepon? Ini adalah gaun milik temen kuliahku yang akan menikah. Dia membuat kesalahan saat mengisi alamat."

Felix langsung menghela napas lega, mencubit pipiku, lalu berkata, "Apa kamu sengaja menakut-nakutiku?"

"Anggap saja begitu," balasku.

Felix kenal baik dengan ketiga sahabatku dari kampus.

Jika saja dia masih sedikit peduli padaku, dia pasti akan mengingat kalau ketiganya sudah lama menikah.

Bahkan Felix menemaniku ke setiap pernikahan mereka.

Waktu itu, dia terus membuat rencana masa depan kami. Setiap menghadiri pernikahan orang lain, Felix pasti terlihat sangat tersentuh.

Kami pernah berjanji, begitu perusahaan stabil, kami akan segera menikah.

Namun, dalam sekejap mata, sudah tiga tahun berlalu.

Felix tidak pernah menyinggung tentang hal itu lagi.

Pernah suatu saat, aku sempat berpikir mungkin dia takut menikah.

Namun, sekarang aku mengerti.

Bukan karena Felix tidak ingin menikah, tetapi karena orang yang ingin dia nikahi bukanlah aku.

Liana mengetuk pintu dan melangkah masuk. Wajahnya tampak seolah sudah terlalu muak dengan kemesraan ini. "Aku sebenarnya nggak mau mengganggu kalian, tapi Pak Felix, nanti kamu tetap harus hadir untuk wawancara calon direktur desain baru."

"Direktur desain?"

Felix yang tampak bingung, menoleh ke arahku. "Apa kamu kewalahan? Apa kamu butuh orang untuk membantumu?"

"Nggak."

Aku menggelengkan kepala. "Felix, aku sudah mengundurkan diri."

Kening Felix langsung berkerut dalam. "Kamu mengundurkan diri? Kenapa kamu nggak mendiskusikannya dulu denganku? Silvia, sekarang ini masa yang penting untuk perusahaan. Kita sedang dalam proses pendanaan, sementara divisi desain adalah jantung perusahaan! Apa kamu tahu kalau mengganti direktur sekarang bisa berdampak besar ke investor?"

Tiba-tiba, aku merasa seperti sedang berdiri di hadapan orang asing.

Aku mendongak menatapnya. "Jadi, apa yang ingin kamu lakukan?"

"Tanpa tanda tanganku, proses pengunduran dirimu belum sah."

Felix menghela napas. "Kamu bukan anak kecil lagi, jangan bertindak kekanak-kanakan. Kembalilah bekerja besok."

"Felix."

Aku tersenyum simpul. "Kamu sudah tanda tangan."

"Kalau kamu nggak percaya, Liana punya salinannya. Kamu bisa melihatnya," tambahku.

Setelah berkata demikian, aku membawa gaun pengantin itu pergi.

Bab 5

[Silvia, seberapa pun kamu ingin menikah, kamu nggak bisa memaksa orang menikah, 'kan?]

[Apa kamu pikir dengan membeli satu gaun pengantin bisa membuat Felix ingin menikahimu?]

[Dari dulu dia sudah berjanji hanya akan menikah denganku. Kamu jangan bermimpi.]

Dalam perjalanan, aku menatap pesan WhatasApp dari Yoana dengan rasa lelah yang menumpuk.

Aku menyetir keliling Kota Jawan selama berjam-jam, sampai lewat tengah malam. Angin yang dingin menusuk ke tulang. Baru setelah benar-benar menggigil, aku pulang ke rumah.

Yang mengejutkan, lampu rumah menyala terang benderang begitu aku membuka pintu.

Felix yang duduk di sofa langsung berdiri menyambutku. "Kenapa kamu baru kembali malam sekali?"

"Aku pergi jalan-jalan," jawabku.

Aku akan segera pergi, jadi aku ingin menatap kota tempatku hidup selama bertahun-tahun ini sekali lagi untuk sedikit lebih lama.

Felix mengangguk, lalu hendak memelukku. Aku tanpa sadar mundur selangkah.

Kening Felix tampak berkerut halus. "Apa kamu masih marah?"

"Tadi siang aku sudah mengatakan hal yang kasar. Kalau kamu nggak mau bekerja, kamu nggak perlu bekerja, oke?"

"Asal kamu bahagia. Itu lebih penting dari segalanya."

Mendengar kata-kata Felix, aku hanya menundukkan kepala. Ada sedikit ironi di mataku, tetapi aku tidak ingin memperpanjang masalah. "Beberapa hari lagi adalah ulang tahunmu. Apa kamu sudah ada rencana?"

Sebelum pergi tadi pagi, aku sempat melihat kalender. Aku baru sadar kalau sehari sebelum tanggal yang aku rencanakan untuk pergi adalah hari ulang tahunnya.

Itu juga adalah hari jadi kami.

"Tentu saja aku akan pulang untuk merayakannya berdua denganmu."

Felix mengulurkan tangan untuk meraihku dengan hati-hati. Saat dia melihat aku tidak menolak, barulah dia terlihat benar-benar merasa tenang. Dia memelukku, lalu bergumam, "Silvia, aku selalu merasa belakangan ini kamu tampak berubah."

"Kamu terlalu banyak berpikir," balasku.

Aku perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukannya. "Aku kedinginan, aku mau mandi."

Dulu, Felix pasti akan langsung sadar kalau seluruh tubuhku sedingin es.

Sekarang, aku bahkan tidak yakin siapa yang sebenarnya sudah berubah.

"Oh ya, kenapa sikat gigi dan gelas kumurku nggak ada?"

Felix tiba-tiba bertanya dari belakang.

Aku menundukkan pandanganku.

Di rumah ini, yang hilang bukan cuma dua barang itu.

Namun, perhatiannya juga sudah lama pergi.

Wajar saja kalau dia tidak menyadarinya.

Aku menjawab dengan acuh tak acuh, "Perlengkapan mandi itu harus diganti secara rutin. Di lemari kamar mandi masih ada yang baru."

Aku masuk ke kamar untuk mandi.

Ponsel yang ada di atas kasur terus berbunyi.

Begitu keluar, aku lagi-lagi melihat pesan dari Yoana.

Sore tadi dia sempat mengirimkan pesan bernada provokatif, tetapi aku tidak berniat membalasnya.

Namun, dia jelas tidak berniat untuk berhenti.

Pesannya terus masuk, satu per satu.

Saat melihat aku tidak membalas, dia malah mengirimkan tangkapan layar.

Itu adalah obrolannya dengan Felix.

Pesan itu bukan hanya dari dua bulan terakhir.

Ada yang dari setahun, bahkan dua tahun lalu.

Sebagian besar, pesan itu adalah pesan satu arah dari Felix.

[Yoana, aku mengikuti saranmu. Aku punya pacar sekarang. Dia sangat baik, senyumnya mirip denganmu.]

[Yoana, tiap kali aku bersama dengannya, rasanya seperti kembali ke masa-masa kita nggak terpisahkan dulu.]

[Yoana, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Semalam aku bermimpi tentangmu. Aku sangat merindukanmu.]

[Yoana, aku mungkin akan menikah. Aku nggak bisa mengecewakannya.]

[Dia sudah menemaniku melalui banyak kesulitan selama bertahun-tahun ini. Semua yang aku punya sekarang, karier yang sukses, mobil, rumah di Kota Jawan, semua adalah berkat dia ....]

Setelah mengirimkan pesan-pesan itu, Yoana akhirnya mulai membalas.

Begitu tahu Felix membeli dua apartemen di pusat Kota Jawan, bahkan salah satunya sedang direnovasi menjadi unit mewah, mereka langsung saling jatuh cinta.

Pesan mereka berubah menjadi obrolan manis sehari-hari.

Aku tahu dengan baik bahwa setiap kali Felix pulang mabuk dari jamuan kerja, aku akan bangun pagi-pagi, memasakkan bubur untuknya. Namun, apa yang dia lakukan? Dia mengambil foto, mengirimkannya ke Yoana.

[Pagi ini aku makan bubur. Bagaimana dengamu?]

Ketika pohon lemon yang aku tanam akhirnya berbuah. Felix langsung mengirimkan foto pada Yoana.

[Lihat, menakjubkan bukan? Nanti kalau sudah agak besar, aku akan mengambil yang paling besar untukmu. Aku akan bawakan ke kantor untuk kamu seduh.]

Tanganku yang memegang ponsel tidak bisa berhenti gemetar.

Aku memang sudah tahu kalau aku hanya dijadikan pengganti. Namun, mengetahui sesuatu dan menyaksikan buktinya secara langsung, itu adalah dua hal yang sangat berbeda.

Meski aku baru saja mandi air hangat, tubuhku terasa dingin sampai ke tulang.

Aku ingin tertawa. Tertawa, sampai akhirnya mataku memerah.

Aku menangis bukan karena merasa dikhianati.

Namun, ini karena aku, Silvia Raider, ternyata benar-benar sudah menjadi bayangan orang lain selama bertahun-tahun.

Momen-momen manis yang aku anggap adalah milik kami, semua justru dia bagikan pada orang lain.

Aku menahan air mataku dengan paksa, lalu mengetik balasan. [Tengah malam begini bukannya tidur, tapi malah mengingat masa lalu.]

Yoana langsung membalas, [Silvia, jangan bersikap nggak tahu diri! Meskipun kamu nggak pergi, yang akan dinikahi Felix tetap adalah aku. Aku tahu kalau kamu enggan melepas perusahaan karena sebentar lagi perusahaan akan masuk ke bursa saham. Tapi karena kamu sudah membantunya membangun perusahaan, aku akan memberimu saran untuk sadar diri. Nanti aku akan menyuruhnya memberimu uang pesangon 200 juta.]

[Lagi pula, begitu kamu meninggalkan Felix, kamu nggak akan bisa mendapatkan pria sekaya dia lagi.]

Dua ratus juta.

Entah apakah itu cukup untuk membayar biaya satu meja pesta pernikahan Keluarga Quinn.

Baru saja aku selesai membaca pesan itu, pintu kamar tiba-tiba didobrak terbuka.

"Silvia, kenapa kamu menjual jam tangan yang aku berikan padamu?" tanya Felix.

Pasti Ada yang Mencintaimu

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya