Logo
Partner di Atas Ranjang
Partner di Atas Ranjang

Partner di Atas Ranjang

54 Bab
Tamat
Dalam novel Partner di Atas Ranjang, Kasih terjebak pilihan sulit demi biaya rumah sakit ibunya. Keputusan menjadi budak nafsu Gilang membawa penyesalan mendalam. Simak lika-liku hidupnya di romance novel ini, sebuah modern novel penuh perjuangan yang bisa Anda baca di platform webnovel.
Bab 1 dari Partner di Atas Ranjang

"Mas lagi nggak ada duit, Kasih. Beberapa bulan ini kerjaan Mas sedang kurang kondusif, jadi kerjaan banyak liburnya."

Kasih menghela napas berat, suaminya selalu saja beralasan seperti itu. Hari ini Kasih benar-benar membutuhkan uang, untuk membelikan ibunya obat, karena stok obatnya sudah habis.

"Mas udah nggak punya simpanan lagi, coba kamu pinjam dulu deh ke tetangga, siapa tahu dapat," sambung Danu dari ujung sana.

"Utang yang kemarin aja belum dibayar, ini disuruh minjam lagi, pasti nggak bakalan dikasih, Mas," keluh Kasih.

"Habisnya mau gimana lagi, Mas benar-benar nggak ada duit."

Sudah beberapa bulan ini, Dani tidak pernah mengirimkan uang, Kasih memahami hal itu.

Tapi, semakin ke sini, Kasih semakin curiga dengan tingkah suaminya yang belakangan ini tampak berbeda. Kasih merasa jika Dani tengah menyembunyikan sesuatu.

"Mas lagi nggak bohong sama aku, kan?" tanya wanita itu penuh selidik.

Kasih mendengar dengkusan kasar dari ujung sana.

"Kamu nuduh Mas berbohong?"

"Bukan begitu, hanya--"

"Itu sama saja kalau kamu anggap Mas bohong. Emang susah ya kalau bicara sama kamu, ini yang Mas nggak suka dari sifat kamu, bawaannya selalu curiga terus," sentak Dani.

"Maksud Mas apa?"

"Halah! Sudahlah, teleponnya Mas matikan saja."

Baru saja Kasih ingin membuka mulutnya, panggilan itu langsung terputus.

Kasih menghela napas berat. Kentara sekali jika wanita itu tengah kecewa. Danu, pria satu-satunya yang selalu dia andalkan, nyatanya tak dapat membantu, lantas ke mana lagi dia harus mencari bantuan?

Prang ....

Kasih terperanjat kaget ketika mendengar suara benda jatuh. Buru-buru dia melangkahkan kakinya menuju kamar ibunya.

Matanya membola ketika melihat serpihan gelas berhamburan di mana-mana.

"Ibu!" jerit Kasih.

Kasih tak memedulikan bagaimana kakinya yang terkena pecahan gelas itu, yang dia khawatirkan saat ini adalah ibunya. Mutia tampak memegangi kepalanya sambil meraung kesakitan.

"Sakit, Kasih," erang Mutia.

"Iya, Bu. Secepatnya aku akan membeli obatnya, Ibu yang sabar, ya," pinta Kasih dengan mata berkaca-kaca.

Kasih harus berusaha keras untuk meminjam uang. Secepatnya, kalau terus-terusan ditunda, ibunya akan semakin lama merasakan kesakitan.

'Maafin aku, Ibu. Karena telah gagal menjadi anak yang membanggakan,' batin Kasih sambil meneteskan air mata.

Kasih bernapas lega ketika melihat Mutia tidak lagi mengerang kesakitan. Ibunya tampak tertidur pulas. Kasih menatap ibunya cukup lama. Namun, semakin Kasih tatap, ada yang berbeda dari cara Mutia tertidur.

"Bu," panggil Kasih pelan, sambil menggoyangkan tubuh Mutia dengan pelan.

Tak ada respon, membuat Kasih kembali menggoyangkan tubuh ibunya.

"Ibu, jangan bikin aku takut, Bu. Ayo bangun, aku janji akan belikan Ibu obat," ucap Kasih yang tampak ketakutan.

Lagi-lagi Mutia tak menjawab, Kasih semakin cemas, tangannya gemetar, keringat dingin bercucuran. Kasih tahu bahwa saat ini Mutia tengah pingsan.

Tak ada cara lain, jalan satu-satunya adalah membawa Mutia ke rumah sakit, Kasih tak ingin mengambil risiko jika terjadi sesuatu pada ibunya.

***

Kasih tertunduk lesu ketika melihat nominal uang yang ada di kertas itu, pihak rumah sakit tak ingin membantunya jika dirinya belum membayar biaya administrasi.

Wanita itu tampak begitu frustrasi, tak ada jalan lain. Sepertinya dia harus meminjam uang lagi pada temannya, walau sebenarnya dia tahu, besar kemungkinan hasilnya nihil.

"Dicoba aja dulu deh," gumam wanita itu sambil merogoh ponselnya di saku celana.

Kasih harap-harap cemas ketika mendengar sambungan telepon itu terhubung, berdoa dalam hati semoga saja kali ini temannya mau membantunya.

"Halo, Kasih. Ada apa?"

Kasih tersenyum lebar ketika Diana mengangkat panggilannya.

"Halo, Di. Lagi sibuk nggak?" tanya Kasih pelan.

"Nggak terlalu sih, emangnya ada apa? Mau minjam uang lagi?"

Kasih tersenyum miris ketika Diana sudah bisa menebak pikirannya, pasti Diana risih karena dirinya selalu meminta bantuan padanya.

"Iya, Di. Apa kamu bisa membantuku, kali ini aja. Please," mohon Kasih.

"Aduh, maaf ya, Kasih. Kali ini aku nggak bisa bantu kamu. Soalnya aku juga lagi butuh uang. Tapi, aku ada kerjaan nih buat kamu, siapa tahu kamu tertarik."

Kasih menghela napas berat. "Aku butuh uangnya sekarang, Di," lirih wanita itu.

"Kamu tenang aja, kerja di sana bisa minta kasbon dulu kok. Bosnya itu baik banget. Kamu nggak tertarik kerja di sana? Daripada jualan, kan? Belum tentu dagangannya selalu laris."

Siapa yang tidak mau menerima tawaran yang begitu menggiurkan. Sama seperti Kasih saat ini, wanita itu tampak berbinar senang.

"Aku mau," jawab wanita itu cepat. "Tapi, kalau bisa, aku minta uangnya malam ini. Aku butuh banget uang buat biaya pengobatan ibu aku. Apa kamu bisa bantu aku?"

"Masalah itu gampang. Oke, jadi udah fix nih kamu terima tawaran itu?" tanya Diana.

"Iya, aku mau," jawab Kasih mantap.

"Oke, nanti malam aku datang ke rumah kamu, ya. Kita akan datang ke tempat kerja itu. Kamu harus berpakaian yang menarik."

"Siap, sekali lagi terima kasih ya, Di. Kamu memang teman yang sangat baik."

***

"Kita mau ke mana sih, Di. Memangnya ada ya, orang kerja malam-malam?" tanya Kasih heran, wanita itu tampak risih karena pakaiannya terlalu terbuka.

"Banyak kali, Kasih. Kamu dagang aja sampai malam, kan?"

"Iya, tapi kenapa harus pakai baju seperti ini?"

"Kamu takut? Atau kita balik aja deh, aku nggak mau kalau kamunya terkesan terpaksa."

"Jangan," sergah Kasih. "Oke, oke. Aku akan diam. Nggak akan komentar lagi."

Setelah itu, mereka berdua benar-benar terdiam. Sepanjang perjalanan, Kasih selalu duduk dengan gelisah. Feelingnya mengatakan jika akan terjadi sesuatu padanya.

Mata Kasih mengerjap ketika mobil Diana berhenti di sebuah diskotik. Kasih langsung menatap Diana dengan horor.

"Santai aja kali, aku datang ke sini mau ketemu sama teman, sebentar aja. Ayo ikut masuk," ajak wanita itu.

"Nggak deh, aku tunggu di sini aja," tolak Kasih.

"Yakin? Siapa tahu aku agak lama di sana, nggak takut kalau ada yang macam-macam sama kamu?"

Kasih menggigit bibir bawahnya, kentara sekali jika saat ini wajahnya pucat pasi, seumur hidupnya baru kali ini dia menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Bagaimana nanti kalau suaminya tahu? Pasti akan mencercanya habis-habisan.

"Oke, aku ikut. Tapi jangan lama-lama ya."

"Sip, ya udah. Ayo turun."

Mereka berdua pun akhirnya turun dari mobil, Kasih menelan salivanya, berjalan dengan kaki gemetar, beruntungnya ada Diana yang kini tengah menuntunnya.

Semakin mereka masuk ke dalam ruangan itu, dada Kasih bergemuruh hebat. Bahkan saat ini Kasih memegang tangan Diana begitu erat.

"Itu dia, ayo kita ke sana," ajak Diana.

Kasih mencekal tangan Diana, lalu menggeleng pelan.

"Kamu tenang aja, nggak usah takut. Orang-orang di sini nggak apa-apa, kok," ucap Diana sambil tersenyum tipis.

Kasih diam saja, membuat Diana kembali melanjutkan langkahnya.

"Hai, aku datang. Sesuai yang aku janjikan, tentunya tepat waktu," sapa Diana pada sosok pria yang saat ini tengah duduk sambil menenggak sebotol minuman yang Kasih tak tahu itu minuman apa.

"Oke, tunggu aku di kamar nomor 15," ucap pria itu dengan suara serak, sambil menatap Kasih tajam.

Kasih yang ditatap seperti itu seketika merinding, wanita itu langsung membuang pandangannya ke sembarang arah.

"Oke, jangan lupa komisinya."

Setelah itu Diana membawa Kasih pergi, bukan ke arah luar, melainkan ke sebuah lorong yang begitu sepi.

"Kita mau ke mana?" tanya Kasih, kepalanya celingukan ke sana-sini, kemudian bergidik takut.

"Aku mau temuin teman dulu di kamarnya, katanya dia lagi ada di sana."

Kasih kembali terdiam, perasaannya tiba-tiba tak enak. Dia ingin membicarakan hal itu pada Diana, tapi diurungkan karena tak enak hati.

Tepat di sebuah kamar nomor 15, mereka berdua berhenti melangkah. Diana membuka knop pintu itu, lalu masuk, disusul juga oleh Kasih.

"Kamu duduk-duduk dulu di situ, aku mau lihat dia ada di mana."

Kasih menuruti perintah Diana, wanita itu duduk di sebuah ranjang yang begitu empuk.

"Kasih. Kayaknya ponsel aku ketinggalan di mobil deh, kamu bisa tunggu aku sebentar di sini, sebentar aja kok."

Kasih menggeleng tak setuju. "Nggak, aku mau ikut aja. Takut sendirian di sini, masa kamu tega."

"Ya ampun, cuma sebentar aja kok. Habis itu aku balik lagi ke sini. Suer deh, cuma sebentar," ucap Diana meyakinkan.

"Tapi, Di--"

"Cuma sebentar aja," sela Diana cepat.

Kasih menghela napas pasrah. "Ya udah deh, janji ya, cuma sebentar?"

"Iya," sahut Diana. Wanita itu pun akhirnya pergi dari kamar itu.

Kasih mendengar pintu itu dikunci dari luar, membuat wanita itu mengerutkan keningnya.

"Kok pintunya dikunci?" gumam wanita itu, tapi setelah itu dia mengedikkan bahunya acuh. Mungkin saja Diana melakukan seperti itu karena tidak ingin terjadi sesuatu padanya.

Selang beberapa menit, Kasih mendengar knop pintu terbuka, membuat wanita itu mengembangkan senyumnya.

"Sebentar banget, kamu ngambil ponselnya sambil lari-lari atau ...."

Kasih menggantungkan kalimatnya, matanya mengerjap beberapa kali karena melihat bukan Diana yang ada di ambang pintu itu, melainkan seorang pria yang tadi dia lihat sedang mengobrol dengan Diana.

Pria itu berjalan mendekati Kasih, tak lupa juga dia menutup pintu itu. Jelas saja membuat Kasih begitu ketakutan.

"Maaf, Diananya lagi nggak ada, tapi ... sebentar lagi dia akan--"

"Sssttttt," desah pria itu sambil membungkam bibir Kasih menggunakan jari telunjuknya.

"Kamu cantik, tapi malam ini jauh lebih cantik."

Kasih memundurkan tubuhnya, menatap pria itu ketakutan. Dia tahu jika pria yang ada di hadapannya ini tengah mabuk.

"Aku bukan Diana, aku ini temannya. Tolong jangan bersikap kurang ajar sama saya!" kata Kasih tak terima.

Tiba-tiba saja pria itu tertawa keras, jenis tawa yang menurut Kasih begitu berbahaya.

"Ya, aku tahu hal itu. Kamu adalah Kasih, temanmu yang sudah menjualmu padaku, ngerti?"

Kasih mematung di tempat, apa maksud perkataan pria itu? Menjual? Diana? Apa Diana menjualnya? Tidak, Kasih yakin Diana tidak akan pernah melakukan perbuatan sekeji itu.

"Itu tidak mungkin, kamu jangan mengarang cerita," tandas Kasih.

"Kenyataannya memang seperti itu, Kasih," kata pria itu, lalu detik berikutnya pria itu mendorong tubuh Kasih ke ranjang. "Intinya, tubuhmu saat ini adalah milikku, aku sudah membayar mahal pada temanmu. Jadi, marilah kita lewati malam panjang ini dengan malam yang begitu panas," ujar pria itu seraya tersenyum menyeringai.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cinta Diantara
Cinta Diantara
Dalam Cinta Diantara, Aisyah menikahi pria asing demi keluarga. Namun, romance modern ini berubah menjadi penuh teka-teki saat ia menemukan sisi gelap suaminya. Di antara misteri masa lalu, ia harus memilih bertahan atau pergi. Baca romance stories ini di web novel favorit Anda.
Istri Rahasia Sang CEO
Istri Rahasia Sang CEO
Dalam Istri Rahasia Sang CEO, Arana terjebak dilema saat Danendra menawarkan pelunasan biaya medis ibunya dengan syarat pernikahan. Sebagai romance novel dengan bumbu billionaire romance books, Arana harus memilih antara kekasihnya atau menjadi istri rahasia sang pengusaha ternama demi keselamatan ibunya.
MAWAR EMAS SANG PEWARIS
MAWAR EMAS SANG PEWARIS
Dalam MAWAR EMAS SANG PEWARIS, Lily menghadapi dilema antara perjodohan bisnis global atau cintanya pada asisten pribadi yang sederhana. Ikuti kisah billionaire romance ini di platform webnovel kami untuk membaca berbagai romance stories dan modern novel terbaik secara mendalam.
Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita
Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita
Dalam novel misteri "Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita", seorang wanita menghadapi kekasihnya yang ternyata menculik wanita untuk dijual. Namun, ia juga punya rahasia gelap menjebak para pria ke desanya. Baca novel online aksi mendebarkan ini.
RAHASIA KELUARGA TERLARANG
RAHASIA KELUARGA TERLARANG
Dalam RAHASIA KELUARGA TERLARANG, Hamidah berjuang bertahan hidup setelah dikhianati dan diusir. Bersama Arif, ia menghadapi amukan warga. Romance modern ini penuh misteri story yang menguak asal-usul kelam mereka. Baca web novel ini untuk mengungkap kebenaran yang terkubur.
Suami Janda Paling Setia
Suami Janda Paling Setia
Dalam romance modern Suami Janda Paling Setia, Alfa Septian harus berjuang merawat dua anak tiri setelah kematian istrinya. Diuji antara kesetiaan pada Kinanti atau memulai hidup baru, ia menghadapi pilihan sulit. Baca web novel ini sebagai salah satu fiction books emosional.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Dilindungi Kakak Angkat
Dilindungi Kakak Angkat
Di kehidupan lalu, Clara Genta diusir kakaknya, Steve, lalu tewas tragis di jalan. Sebelum mati, Steve berkata, “Di kehidupan selanjutnya, jangan muncul lagi di depan keluarga kami!” Saat terlahir kembali di hari orang tuanya hendak mengakuinya, Clara menolak. Ia memilih diantar ke Keluarga Sean sebagai anak angkat. Meski dikenal paling kejam di ibu kota, Fikri Sean justru melindunginya: “Dia adikku. Siapa berani menyakitinya?”
Anak Petani Itu Ikan Koi
Anak Petani Itu Ikan Koi
Gadis imut bernama Yuyun adalah dewa keberuntungan dari langit, dia dikirim oleh Kaisar Langit ke dunia untuk menyelamatkan bencana kekeringan. Dia turun ke dunia menjadi anak desa yang malang. Tapi jangan takut, tubuhnya yang kecil terdapat kekuatan yang luar biasa. Dengan melambaikan tangan, dia membuat seekor kambing tua melahirkan; dengan menghentakkan kaki, dia membuat sumur kering menyemburkan mata air yang manis! Tapi bibinya yang jahat memanggilnya "Pembawa Sial". Setelah itu, dapur bibi jahat pun meledak! Bagaimana dengan kakak sepupu Yuyun yang melempar batu dan menindasnya?
Cinta Bersemi Dalam Pelukan Paman
Cinta Bersemi Dalam Pelukan Paman
Pekerja kantoran biasa, Lily Basuki, terbangun di dalam novel melodrama yang baru dibacanya sebagai tokoh utama perempuan. Dia harus menghadapi ketidakpedulian suami, adik angkat bermuka dua, dan keluarga yang tak berpihak padanya. Akhirnya dia memilih melawan dan membongkar kepalsuan mereka. Namun kekuasaan besar sang tokoh utama pria segera mendorongnya ke jalan buntu.
[Versi suara dubbing] Kembali ke Tahun 2010: Di Luar Penipuan
[Versi suara dubbing] Kembali ke Tahun 2010: Di Luar Penipuan
Seorang mahasiswa baru perguruan tinggi vokasional membunuh seseorang setelah pacarnya diperkosa dan dia dipenjarakan. Setelah mengetahui bahwa itu adalah penipuan, dia dilahirkan kembali, memutus hubungan dengan pacar buruknya, menyelamatkan teman masa kecilnya, memulai bisnis, menindak gengster, dan mencapai kesuksesan besar!
Bukan Lagi Budak Keluarga
Bukan Lagi Budak Keluarga
Dijebloskan ke penjara oleh Vincent, anak angkat keluarganya, Tyler meninggal dengan sesal di tahap akhir kanker perut. Namun takdir memberinya kesempatan kedua: dia terlahir kembali ke lima tahun lebih awal. Tak mau lagi berkorban untuk keluarga, dia bergabung dengan tim balap Alpha. Bakatnya yang luar biasa membawanya meraih kemenangan beruntun, sekaligus membongkar kecurangan Vincent: mengatur skor dan mencuri penghargaan. Tyler pun memutuskan hubungan dengan keluarganya yang tak adil. Pada akhirnya, dia meraih cinta sejati dan kehormatan untuk mewakili negaranya di Kejuaraan Dunia Balap Mobil.
Janji yang Hancur
Janji yang Hancur
Saat berseteru dengan ayahnya, Yuli bertemu Hendri yang selalu mendukungnya. Ia jatuh cinta, tapi di hari pemeriksaan tahu ayah dan suaminya menikah. Melihat kenyataan itu, ia melepaskan dan menerima tawaran tuan tajir Kota Laut, Heri.