Bab 2

Franky benar-benar sangat puas denganku. Dia mulai mengejarku dengan penuh semangat.

"Sayang, kamu mau makan KFC nggak?"

"Sayang, bagaimana kalau kita pergi nonton film Sabtu ini?"

"Sayang ...."

Suara lembut Franky membuatku merinding, lalu aku meneruskan semua pesan suara itu kepada Bibi Livia.

Bibi Livia merasa sangat puas dan buru-buru meneleponku, "Steffi, aku mau yang ini. Aku akan mentransfer uang deposit sebesar 200 juta ke rekeningmu dulu. Cepat antar ke sini. Yang sebelumnya itu sudah nggak bisa dipakai. Masa baru tiga hari saja sudah mati di kandang babi."

Aku hanya bisa menasihati Bibi Livia, "Bibi Livia, bersikaplah lebih lembut terhadap anak laki-laki."

Bibi Livia tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, "Steff, kamu masih muda, makanya nggak ngerti. Pria itu harus diberi pelajaran dulu, baru bisa melayani seorang wanita."

Aku tidak punya hak suara dalam bagian ini. Bagaimanapun juga, Bibi Livia adalah orang yang ahli dalam melatih pria.

Aku hanya bertanggung jawab untuk menculik, bukan mengajari.

Franky mengirimiku pesan lagi dan menanyakan apakah aku ingin pergi mendaki gunung bersamanya saat liburan.

Bab 3

Kampung halaman Franky juga sudah mendesaknya. Ada seorang bujangan berusia lima puluhan yang menyukaiku. Dia telah mentransfer 60 juta ke rekening pria idaman itu. Katanya orang itu akan mentransfer 100 juta lagi setelah barang tiba.

Ck, ck, ck! Pria memang pelit. Masa hanya membayar 160 juta untuk membeli manusia.

Berbeda dengan Bibi Livia, yang punya banyak uang. Dia saja rela membayar 200 juta.

Kembali ke topik, mendaki gunung itu bagus.

Aku bertanya kepada Franky, "Apakah kamu juga suka mendaki gunung?"

Franky tampak sangat bersemangat. Dia menjawab, "Suka banget, aku paling suka mendaki gunung. Setiap liburan, aku pasti akan mendaki beberapa gunung."

"Kebetulan sekali, aku juga menyukainya. Aku juga suka mendaki beberapa gunung setiap liburan. Lihat, ini gunung yang akan aku daki beberapa hari lagi. Kamu mau ikut?"

Aku mengiriminya foto dan mengajaknya dengan penuh antusias. Aku membalasnya dengan cara yang sama.

Franky tidak mau menyerah. Dia juga mengirimkan beberapa gambar dan mengatakan dia ingin pergi ke sini.

Terus aku harus menurutinya? Aku kan nggak bodoh. Dia sudah mengatur segalanya. Pendakian gunung itu bohong, menipuku dan menjualku ke bujangan tua itu baru rencana nyata.'

"Nggak bisa dong, aku kan sudah membuat rencananya. Kalau nggak, kamu temani aku dulu saja, lalu nanti aku baru temani kamu?"

Aku sudah mengalah banyak. Toh asal bisa sampai di Desa Wanita, Bibi Livia punya banyak cara untuk menghadapinya.

Pria di ujung ponsel sedang merasa dilema karena di ponsel menunjukkan bahwa dia sedang mengetik selama beberapa menit sampai akhirnya dia mengirimkan pesan, "Oke, begitu saja."

Itu memang sudah keharusan.

Aku merasa senang dan gembira. Aku menyenandungkan sebuah lagu, lalu mengirimkan emoji oke kepada Bibi Livia dan memberitahunya, "Tiga hari kemudian, pria berkulit putih ini akan diantar ke rumahmu."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B24109" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B24109
Salin

Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya