Bab 1
Pria pujaanku adalah seorang penculik, yang mengatasnamakan status pacaran untuk menculik gadis-gadis itu ke desanya dan menjual mereka. Kebetulan aku juga bukan orang baik. Aku juga mengatasnamakan status pacaran untuk menipu pria-pria itu ke desa kami.
Desa kami adalah Desa Wanita. Di dalam desa itu hanya ada wanita. Sedangkan pria tidak dianggap sebagai manusia, melainkan barang habis pakai.
Legenda mengatakan dahulu kala, Desa Wanita adalah tempat pembuangan bayi perempuan. Orang-orang dari seluruh penjuru yang ingin membuang bayi perempuan akan membuangnya ke sini.
Seiring berjalannya waktu, roh kebencian berkultivasi menjadi nenek moyang pertama di desa kami. Dia memiliki sebuah keahlian yaitu bisa membuat pria hamil.
Sejak saat itu, desa kami bukan lagi desa biasa. Desa kami berdiri di antara dunia dan akhirat, hanya untuk memudahkan roh bayi gelandangan memiliki rumah.
Di desa kami, pria adalah komoditas yang langka, karena seorang pria harus mati agar dapat melahirkan bayi perempuan.
Seiring berjalannya waktu, di sekitar kami sudah tidak ada pria.
Para generasi tua di desa kami menaruh harapan mereka pada generasi muda. Mereka berharap kami bisa keluar dan membawa beberapa pria kembali, karena masih ada terlalu banyak roh bayi perempuan yang belum lahir. Kami tidak bisa hanya duduk diam dan tidak memedulikan mereka.
Aku adalah orang yang paling jago menculik pria di desa kami.
Bukan hanya karena parasku yang cantik, tetapi juga karena aku dapat mendengar suara hati pria-pria itu. Aku bisa mengidentifikasi "pria jahat" yang kami butuhkan secara akurat dan dapat memenuhi keinginan mereka.
Apalagi aku adalah satu-satunya mahasiswi di desa kami. Pria yang berinteraksi denganku pada umumnya adalah pria berkualitas tinggi, seperti pria idaman yang sedang mengenakan kemeja putih dan tersenyum lembut ini.
Ini adalah kesukaan Bibi Livia.
Bibi Livia adalah orang nomor satu dan juga terkaya di desa kami. Dia adalah orang yang paling royal. Untuk pria yang disukainya, dia rela membayar setidaknya 400 juta. Untuk pria idaman seperti ini setidaknya bisa 600 juta.
Awalnya kupikir butuh usaha lebih untuk mendapatkan pria itu. Siapa sangka pria itu datang sendiri menemuiku.
Pria itu bernama Franky Siantar. Dia berkata dia sangat senang berkenalan denganku, si adik junior. Dia pun bertanya dengan wajah tersipu apakah aku punya pacar.
Tentu saja aku bilang tidak.
Franky berpura-pura tersipu malu. Dia tidak tahu bahwa aku bisa membaca pikiran dan mendengar suara hatinya, "Gadis ini cantik, kakinya pun panjang. Dia pasti bisa dijual dengan harga yang bagus."
Kami benar-benar sepemikiran.
Menurutku, Franky kulitnya putih dan tampan. Kakinya juga panjang. Bokongnya pun besar. Dia pasti bisa melahirkan seorang anak perempuan yang montok.
Bab 2
Franky benar-benar sangat puas denganku. Dia mulai mengejarku dengan penuh semangat.
"Sayang, kamu mau makan KFC nggak?"
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi nonton film Sabtu ini?"
"Sayang ...."
Suara lembut Franky membuatku merinding, lalu aku meneruskan semua pesan suara itu kepada Bibi Livia.
Bibi Livia merasa sangat puas dan buru-buru meneleponku, "Steffi, aku mau yang ini. Aku akan mentransfer uang deposit sebesar 200 juta ke rekeningmu dulu. Cepat antar ke sini. Yang sebelumnya itu sudah nggak bisa dipakai. Masa baru tiga hari saja sudah mati di kandang babi."
Aku hanya bisa menasihati Bibi Livia, "Bibi Livia, bersikaplah lebih lembut terhadap anak laki-laki."
Bibi Livia tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, "Steff, kamu masih muda, makanya nggak ngerti. Pria itu harus diberi pelajaran dulu, baru bisa melayani seorang wanita."
Aku tidak punya hak suara dalam bagian ini. Bagaimanapun juga, Bibi Livia adalah orang yang ahli dalam melatih pria.
Aku hanya bertanggung jawab untuk menculik, bukan mengajari.
Franky mengirimiku pesan lagi dan menanyakan apakah aku ingin pergi mendaki gunung bersamanya saat liburan.
Bab 3
Kampung halaman Franky juga sudah mendesaknya. Ada seorang bujangan berusia lima puluhan yang menyukaiku. Dia telah mentransfer 60 juta ke rekening pria idaman itu. Katanya orang itu akan mentransfer 100 juta lagi setelah barang tiba.
Ck, ck, ck! Pria memang pelit. Masa hanya membayar 160 juta untuk membeli manusia.
Berbeda dengan Bibi Livia, yang punya banyak uang. Dia saja rela membayar 200 juta.
Kembali ke topik, mendaki gunung itu bagus.
Aku bertanya kepada Franky, "Apakah kamu juga suka mendaki gunung?"
Franky tampak sangat bersemangat. Dia menjawab, "Suka banget, aku paling suka mendaki gunung. Setiap liburan, aku pasti akan mendaki beberapa gunung."
"Kebetulan sekali, aku juga menyukainya. Aku juga suka mendaki beberapa gunung setiap liburan. Lihat, ini gunung yang akan aku daki beberapa hari lagi. Kamu mau ikut?"
Aku mengiriminya foto dan mengajaknya dengan penuh antusias. Aku membalasnya dengan cara yang sama.
Franky tidak mau menyerah. Dia juga mengirimkan beberapa gambar dan mengatakan dia ingin pergi ke sini.
Terus aku harus menurutinya? Aku kan nggak bodoh. Dia sudah mengatur segalanya. Pendakian gunung itu bohong, menipuku dan menjualku ke bujangan tua itu baru rencana nyata.'
"Nggak bisa dong, aku kan sudah membuat rencananya. Kalau nggak, kamu temani aku dulu saja, lalu nanti aku baru temani kamu?"
Aku sudah mengalah banyak. Toh asal bisa sampai di Desa Wanita, Bibi Livia punya banyak cara untuk menghadapinya.
Pria di ujung ponsel sedang merasa dilema karena di ponsel menunjukkan bahwa dia sedang mengetik selama beberapa menit sampai akhirnya dia mengirimkan pesan, "Oke, begitu saja."
Itu memang sudah keharusan.
Aku merasa senang dan gembira. Aku menyenandungkan sebuah lagu, lalu mengirimkan emoji oke kepada Bibi Livia dan memberitahunya, "Tiga hari kemudian, pria berkulit putih ini akan diantar ke rumahmu."