Logo
Noda Darimu
Noda Darimu

Noda Darimu

61 Bab
Tamat
Dalam novel Noda Darimu, Violetta Gilda harus menghadapi konsekuensi fatal setelah kesalahan satu malam dengan kekasih sahabatnya, Biantara Edzhar Martinez. Terjebak dalam pernikahan kontrak dan ancaman sabotase, Gilda berjuang mempertahankan posisinya dalam billionaire romance novel ini.

Ringkasan Noda Darimu

Violetta Gilda terjebak dalam situasi pelik setelah sebuah kesalahan fatal terjadi saat pesta bersama Biantara Edzhar Martinez. Insiden malam itu membuatnya hamil, meski Edzhar adalah kekasih sahabatnya sendiri, Carla. Rahasia Gilda terbongkar oleh kakek Edzhar hingga mereka dipaksa menikah. Carla yang murka bekerja sama dengan ibu Edzhar untuk menghancurkan Gilda, bahkan memicu terciptanya kontrak pernikahan. Gilda kini berjuang mempertahankan rumah tangga demi sang anak, sambil bergulat dengan perasaan cintanya pada Edzhar.
Selengkapnya

Bab 1 dari Noda Darimu

"Kau tidak datang ke perayaan? Aku pikir kau akan ikut," ujar Gilda seraya duduk di pinggir kasur Edzhar dan menatapnya. Dia memerhatikan Edzhar yang tengah tiduran sambil memegang ponsel.

Gilda tengah berada di kamar pribadi Edzhar, seorang pria yang cukup dekat dengannya, tetapi bukan pacar. Gilda adalah sahabat Edzhar sejak mereka duduk di bangku perkuliahan, jadi sudah tidak asing baginya untuk mendatangi kamar Edzhar. Karena malam ini adalah pesta perayaan atas kelulusan mereka, Gilda hendak memastikan bahwa Edzhar turut datang ke pesta.

"Memangnya kau ikut?"

"Kau tidak lihat? Aku sudah memakai gaun, Ed."

Edzhar yang tadinya fokus pada ponsel, kini memandang Gilda. Dari ujung kepala sampai kaki, Edzhar memerhatikan pakaian sahabatnya. "Kau yakin akan memakai gaun itu?" tanya Edzhar dengan pupil membesar.

"Yakin. Mengapa aku harus tidak yakin?"

Gaun yang dipakai Gilda merupakan gaun ketat pendek berwarna putih, dengan model kerah sabrina. Edzhar bisa melihat belahan dada sahabatnya yang tidak tertutupi dengan baik. Oleh sebab itu ia bertanya, dan agar Gilda bisa mengganti dengan gaun yang lebih aman.

"Sebaiknya ganti pakaianmu, itu terlihat ... sedikit menggoda ...," lirih Edzhar sembari menegakkan tubuhnya. Dia turun dari ranjang dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Edzhar berjalan ke lemari pakaiannya dan mencari baju yang akan ia kenakan ke pesta perayaan kelulusan.

"Cuma ini gaun yang aku punya. Lagipula aku tidak akan lama, kelab malam bukan tempat favoritku. Kau kan tahu aku, Ed."

"Ya sudah, terserah kau saja. Aku ganti pakaian dulu."

"Oke. Aku tunggu kau di luar."

Setelah beberapa detik Edzhar di kamar mandi, Gilda pun memilih keluar. Akan tetapi, sebelum angkat kaki, dia mendengar Edzhar memanggil namanya. Membuat Gilda mendekat dan menjawab, "Ada apa?"

"Jangan lupa kabari Carla!" titah Edzhar mengingatkan.

Sambil berdiri di depan pintu, Gilda dengan santai menyahut, "Dia kekasihmu, seharusnya kau sendiri yang mengabari, bukan aku."

"Tolonglah ... aku lupa mengajaknya! Jika tidak diberitahu sekarang, kita akan lama menunggunya berdandan! Bisa-bisa kita terlambat ke pesta."

"Oke, aku hubungi sekarang! Kau sendiri jangan lama-lama berganti pakaian!"

Begitu keluar dari kamar Edzhar, Gilda langsung mengabari Carla. Mengatakan bahwa dia dan Edzhar akan ke rumahnya untuk menjemput beberapa menit lagi. Gilda tak lupa mengatakan bahwa mereka akan pergi ke kelab malam untuk berpesta, merayakan kelulusan Edzhar juga dirinya.

*

"Mungkin hanya ini waktu yang bisa dia gunakan untuk memakai gaun cantik itu," kata Gilda yang mencoba menengahi pertengkaran Edzhar dan Carla di parkiran, yang tidak selesai sejak mereka berangkat dari rumah Carla.

"Cantik? Gaun cantik dari mana? Semua paha dan dadanya terlihat jelas! Kau juga, Gil!" semprot Edzhar masih emosi. Carla memang tampil dengan gaun hitam yang jauh lebih pendek dan terbuka dari Gilda, tak heran Edzhar memarahinya habis-habisan.

"Sudahlah, kita ke club untuk berpesta. Aku tidak suka diceramahi ketika kamu sendiri yang mengajakku ke sini, Sayang ...."

Tidak berhenti di sana pertengkaran dua manusia itu. Sampai di dalam club bernama 'Dark Purple' pun Edzhar masih saja memarahi Carla. Hingga Carla yang kesal memilih untuk masuk lebih dulu, meninggalkan Edzhar.

"Kejar! Mengapa kau diam saja?!" perintah Gilda yang kesal, dan mendorong tubuh Edzhar dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya dia yang sendirian, masuk tanpa teman. Ia lebih memilih untuk jalan santai dan memandangi club itu dengan intens.

Suasana club pada pukul dua belas lewat tiga puluh menit malam ini tampak begitu ramai, semakin riuh. Musik dari disjoki yang mengangguk-anggukkan kepala di atas panggung sana juga memberi semangat para anak muda untuk menggoyangkan pinggul ke kanan-kiri. Tak ketinggalan, lampu kelap-kelip bermacam warna yang membuat kepala Gilda pusing, ingin rasanya dia pulang saja.

Di dalam, ia bertemu dengan semua teman seperjuangan. Akan tetapi, ia tak menemukan Carla. Sosok Edzhar ternyata sudah duduk sendirian di ujung sofa, paling pojok.

Gilda yang penasaran di mana Carla, lantas berjalan mendekat. Sebelum duduk, ia sempat disapa para teman seangkatannya dan bersalaman. Gilda juga disuguhi aneka macam minuman beralkohol.

Dengan senyum tipis Gilda mengangkat gelasnya dan mencicip sedikit. "Carla di mana?"

"Aku tidak tahu."

"Lalu kenapa kau masih di sini?! Kenapa tidak kau cari?!"

"Untuk apa? Dia saja tidak ingin mendengarkan perintahku. Aku sudah memanggilnya beberapa kali, tapi dia terus jalan dan mengabaikanku."

Mendengar itu Gilda menepuk-nepuk pundak Edzhar. Dia sudah tahu bagaimana Carla yang terlalu keras kepala, tidak heran jika Edzhar sulit menasihati gadis itu. "Lain kali bicarakan baik-baik, mungkin Carla akan luluh kalau kau lebih lembut padanya, Ed." 

Mereka berdua kembali fokus pada obrolan teman-temannya. Gilda tak banyak bersuara. Ia hanya menanggapi pertanyaan temannya yang penasaran akan pekerjaannya.

Gilda mengatakan bahwa dia baru saja melamar di salah satu perusahaan, namun belum mendapatkan panggilan. Jadi, kegiatan Gilda saat ini hanya sibuk mengelola toko kue roti peninggalan orang tuanya saja. "Menurutku lebih seru nonton drama sembari makan mie instan, daripada di sini ... rasanya aku ingin muntah," keluh Gilda yang ditanggapi Edzhar dengan anggukan kecil.

Gilda yang duduk bersebelahan dengan Edzhar, menyender pada bahu lelaki itu. Mulutnya mulai meracau, setelah kesadarannya perlahan-lahan berkurang. Tangannya bahkan bergerak dengan sendirinya, mengambil gelas setelah menerima tuangan dari Edzhar.

Ia meminum minuman jenis tequilla dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Walau begitu asing bagi Gilda, mulutnya terus meneguk.  Beberapa teman mereka yang masih kuat minum bahkan beberapa kali memperingatkan Edzhar untuk berhenti minum agar tidak kobam.

Sayangnya, kesadaran lelaki itu sudah menipis sejak sepuluh menit lalu.

Malam itu, pesta perayaan yang terasa asing bagi Gilda menjadi bencana tak terduga di dalam hidupnya. Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya dan Edzhar sudah menghabiskan beberapa jam di kamar pria itu. Dipegangnya kepala yang terasa sangat pening.

"Pusing ...," gumam Gilda yang masih belum sepenuhnya sadar. Dia juga tidak tahu kalau gaun putihnya sudah tidak melekat di badan. Butuh beberapa detik untuknya membuka mata dengan sempurna. Begitu menoleh ke samping kiri, detik berikutnya mata berbulu lentik itu melotot lebar.

"Ed-zhar ...," lirihnya bersamaan dengan lengan kekar di pinggangnya mengerat. Merasakan langsung kulit Edzhar, Gilda sadar bahwa dirinya benar-benar polos tanpa busana. "Apakah kami baru saja selesai melakukan hub—" ucapannya terputus saat Edzhar semakin menarik tubuhnya.

"Aku sangat mencintaimu, Carla ... tolong dengarlah nasihatku." Gilda yang tubuhnya kaku di dalam dekapan Edzhar hanya bisa menelan ludahnya. "Semua itu untuk kebaikanmu, Carla ...." Setelah itu Gilda merasa lengan Edzhar tidak lagi memeluknya dengan erat.

Sembari menahan air matanya yang tiba-tiba menetes, Gilda berusaha melepaskan diri dari pelukan Edzhar. Dengan sangat hati-hati, ia turun dari ranjang milik sahabat dekatnya dan memungut pakaian dalam serta gaunnya, dengan buru-buru meskipun pangkal paha begitu perih. Dia juga mengambil tasnya yang tergeletak di atas lantai dekat nakas.

"Mungkin setelah ini aku akan menjauhimu, Ed ...," lirih Gilda sebelum masuk ke kamar mandi Edzhar untuk memakai pakaiannya kembali. Tak butuh waktu lama untuknya berpakaian dan keluar dari sana.

Ia menatap Edzhar cukup lama sebelum benar-benar angkat kaki dari kamar pribadi Edzhar. Kamar yang biasanya dipakai untuk mengerjakan tugas kuliah bersama dengan lelaki tampan nan sopan itu, mungkin tidak akan pernah ia kunjungi lagi. Akibat insiden mengerikan yang tak pernah ia impikan ini, Gilda bertekad bahwa ia harus menjauh atau masalah lain akan muncul.

Sepasang kaki Gilda terayun sangat pelan, pikirannya mengambang. Seumur-umur, baru kali ini tubuh paling privasi dijamah orang lain. Terlebih-lebih orang itu adalah Edzhar, laki-laki yang selalu menemani dan sangat dekat dengannya. Ia bersumpah tidak akan memberitahu siapa pun tentang kejadian yang menimpanya, termasuk Edzhar.

"Gilda? Kaukah itu?" panggil seseorang dari arah dapur, dan di sanalah pintu belakang rumah Edzhar berada. Pintu belakang sebenarnya akan dipakai Gilda untuk menyelinap keluar, supaya tidak ketahuan orang di rumah Edzhar. Namun, takdir sepertinya lagi-lagi tidak berpihak padanya. "Oh, ternyata kau sudah bangun."

Gilda terdiam. Tubuhnya seperti tak bisa digerakkan saat sosok Mateo kini berdiri menghadap ke arahnya. Bahkan pria tua itu sudah menatap lekat-lekat. Gilda yang langkahnya terhenti sejak suara serak itu memanggilnya, mengangguk-angguk pelan.

"Ini masih terlalu pagi, kembalilah ke kamar tamu. Istirahat saja dulu."

"Tidak, Kakek. Aku harus pulang, bibiku pasti khawatir." Gilda menjawab dengan sopan dan tersenyum tipis. "Semalam aku hanya berpamitan ke pesta sebentar. Aku merasa buruk kalau semakin lama di sini, Kakek."

"Setidaknya minumlah susu hangat dulu, alkohol sudah menyiksamu. Akan sangat berbahaya jika kau pulang sepagi ini sendiri." Mau tidak mau Gilda menerima tawaran Mateo, dan diajak Mateo ke ruang makan. "Kau duduk saja di sini, aku akan meminta pelayan membuatkanmu susu hangat."

"Tidak, Kakek." Gilda masih berusaha menolak baik-baik.

"Setidaknya biarkan perutmu membaik walau hanya dengan segelas susu hangat.

"Baiklah, tapi biar aku saja," tolak Gilda yang benar-benar merasa tak enak.

Namun, Mateo bersikukuh untuk menahan Gilda di ruang makan. "Tidak, Gilda. Aku tahu kau sedang kelelahan, duduklah dengan tenang. Mukamu tampak tidak baik-baik saja, Nak." Sangat terpaksa kepala Gilda bergerak ke atas dan bawah. "Setelah itu aku akan meminta sopir mengantarmu, agar kau pulang dengan selamat."

"Baik, Kakek."

Mateo kembali ke dapur dan meninggalkan Gilda di ruang makan sendiri. Menatap punggung kakek Edzhar yang perlahan menjauh, gadis itu jadi kepikiran akan ucapan pria tua tersebut. Jika setahu Mateo dirinya semalam dibawa ke kamar tamu, lalu mengapa ia bisa terbangun di ranjang Edzhar?

Gilda merasa ada yang tidak beres. Keanehan yang benar-benar dirinya tak habis pikir bisa terjadi, dan menimpanya dalam sekejap saja. Baru saja Gilda hendak menampar wajahnya sendiri, pelayan datang membawakan susu hangat yang dipesankan Mateo, namun bersama beberapa kue. Ditaruh di hadapannya.

Setelah mengucapkan terima kasih, Gilda menahan tangan pelayan itu. "Tunggu, Mona ... ada yang ingin aku tanyakan," ucap Gilda kemudian yang membuat pelayan itu mengangguk dan mempersilakan Gilda bertanya. "Kau tahu siapa yang membawaku ke mari semalam?"

"Tentu saja aku tahu, Nona. Beberapa teman tuan Edzhar yang membawa kalian ke rumah. Aku juga ikut menuntunmu, karena semalam kau mabuk berat, Nona," terang Mona tanpa ditutup-tutupi. "Apa kau tidak ingat sama sekali?" tanya Mona yang membuat Gilda menggeleng.

"Di mana kau membaringkanku semalam?"

"Tentu saja di kamar tamu yang berada di samping kamar tuan Edzhar, Nona." Gilda yang mendengar jawaban Mona tentu saja terkejut, sampai menelan ludahnya sendiri dengan mata membola. Melihat ekspresi Gilda, Mona pun bertanya, “Apakah ada yang salah dengan kamar itu?"

“Ti-tidak, tidak ada, Mona. Terima kasih sudah menolongku kemarin.” Gilda tersenyum tipis dengan pikiran kacau. Mendekatkan gelas berisi susu vanila hangat ke bibir, dia berkata, “Terima kasih juga untuk minumannya ....” Mona lantas kembali ke dapur untuk menyiapkan menu sarapan khusus perintah Mateo Martinez.

“Jadi, siapa yang membawaku ke kamar Edzhar?” gumam Gilda yang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa bodoh jika memang itu yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, bagaimana kalau ada yang menjebaknya? Kalau iya, siapa? Membuang napasnya, Gilda kembali minum. 

“Tidak mungkin orang-orang di sini melakukan hal gila itu,” lirihnya sebelum bangun dari kursi. Apalagi saat membayangkan wajah Mateo, sepertinya sangat mustahil bagi Gilda kalau pria tua itu merencanakan hal konyol. Ia menambahkan, “Termasuk kakek, tidak mungkin ... lalu, siapa? Dan untuk apa?” Gilda terdiam sebentar sebelum bertanya pelan pada diri sendiri, ucapnya, “Mungkinkah aku berjalan ke kamarnya tanpa sadar?”

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

A-PD170
A-PD170
Dalam novel modern A-PD170, Winnie menghadapi kehancuran setelah dipermalukan tunangannya. Demi bertahan hidup, ia nekat mengklaim mengandung anak Dion, sang paman yang berkuasa. Ikuti kisah billionaire romance novels ini tentang pernikahan kesepakatan yang penuh intrik dan rahasia besar.
Anak Rahasia Sang Presdir
Anak Rahasia Sang Presdir
Dalam Anak Rahasia Sang Presdir, Ariana terjebak menjadi rahim sewaan demi melunasi utang. Setelah bayinya dirampas paksa oleh sang miliarder, ia harus berjuang dalam konflik pengabdian dan perasaan. Baca romance novel ini untuk melihat takdir mereka di web novel modern ini.
CINTA SATU MALAM DENGAN CEO
CINTA SATU MALAM DENGAN CEO
Dalam novel modern CINTA SATU MALAM DENGAN CEO, Athena Gimberly mencari donor bibit tanpa pernikahan demi memiliki anak. Ia menjebak Arthur Harley, seorang pria dengan harga diri tinggi. Temukan kisah billionaire romance novels ini hanya di webnovel pilihan pembaca setia.
HOLD ME
HOLD ME
Dalam novel HOLD ME, Alice harus menghadapi kenyataan pahit saat kakaknya menjualnya kepada Devan, seorang miliarder brengsek. Di tengah hancurnya mimpi, ia terjebak dalam obsesi gelap. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Alice lepas dari cengkeraman gairah di billionaire romance books.
Kehidupan Istri Seorang Milyarder
Kehidupan Istri Seorang Milyarder
Dalam novel Kehidupan Istri Seorang Milyarder, seorang wanita menuntut imbalan 100 juta setelah menyelamatkan pria terkaya di kota. Meski ditawari mahar fantastis, ia menolak lamaran sang presiden yang mendominasi. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti perjuangan cintanya.
Mama Polos Dan Bayi Jenius
Mama Polos Dan Bayi Jenius
Dalam Mama Polos Dan Bayi Jenius, seorang sekretaris harus menghadapi CEO billionaire setelah rahasia malam liar enam tahun lalu membuahkan seorang anak. Baca romance novel ini untuk melihat bagaimana takdir mempertemukan mereka kembali di dunia modern yang penuh dengan pilihan sulit.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Jadilah Lebih Toleran
Jadilah Lebih Toleran
Ia sedang dalam perjalanan untuk membawa seorang anak yang terluka parah ke rumah sakit, namun nenek anak tersebut, yang tidak menyadari hal itu, berulang kali menghalangi jalannya.
Kalian Kuras Cintaku
Kalian Kuras Cintaku
Profesor kedokteran nuklir Nesia, Charlie Clare, meninggalkan kariernya demi keluarga, tapi dia ditinggalkan karena istri dan putrinya lebih memilih Isaac, saingan cintanya. Setelah diabaikan oleh keluarganya, dia memutuskan untuk pergi dan bergabung dengan Proyek Unicorn, yang dia rancang untuk menyembuhkan tanda lahir saraf putrinya sebagai karya hidupnya. Tapi istri dan putri Charlie yang tidak menyadari bahwa Charlie mengorbankan hidupnya demi mereka, malah memperdalam keretakan hubungan mereka dengan Charlie setelah bertemu kembali dan menghancurkan semua yang Charlie tinggalkan untuk mereka sebelum menyadari kesalahan mereka dan menyadari semuanya sudah terlambat.
Jangan Tantang Seorang Ibu Hebat
Jangan Tantang Seorang Ibu Hebat
Setelah meredam kekacauan dari luar, Zoe Miller, prajurit terbaik Republik Valoria, pulang ke rumah. Namun, dia mendapati putrinya diperlakukan buruk oleh Keluarga David. Dalam amarah yang memuncak, Zoe mengamuk di pesta keluarga hingga tak sengaja mengungkap jati dirinya sebagai Menteri Pertahanan legendaris. Kemudian, dia mengetahui bahwa putra angkatnya, Jacob, telah dikhianati oleh mata-mata musuh bernama Robert. Yang lebih mengejutkan lagi, ayah Mia, Pak Presiden Louis, ternyata juga terjebak dalam intrik perebutan kekuasaan. Dengan kondisi Mia yang kritis dan berada di ambang kematian, mampukah Zoe melindungi putrinya?
Makanan, Cinta, dan Robot
Makanan, Cinta, dan Robot
Tujuh tahun setelah kematian mendadak pasangan sejatinya, Elliot, Natalinya yang tenang pada hari Natal terganggu ketika keinginan putra mereka, Evan, terwujud: Elliot kembali. Namun, Elliot yang kembali kali ini adalah robot humanoid, yang diprogram dengan kenangan dari pacar yang sudah meninggal tersebut. Saat hati Lily mulai terbuka kembali untuk mencintai, dia harus menavigasi kekacauan penuh pesona dalam keluarga, romansa, dan teknologi, sambil mencari tahu apakah kesempatan kedua untuk kebahagiaan ini nyata atau hanya program AI yang sempurna.
Dia Naik ke Puncak
Dia Naik ke Puncak
Di kehidupan sebelumnya, dia sangat mencintai suaminya dan melakukan apa pun yang dia bisa untuk membantunya naik pangkat. Namun, suaminya mengkhianatinya, berselingkuh dengan sahabatnya, mencekiknya, dan memusnahkan seluruh keluarganya. Setelah diberi kesempatan kedua dalam hidup, dia bertemu dengan saingan politik suaminya dan memutuskan untuk bergabung dengannya. Kali ini, saksikan bagaimana dia menjadi tangguh dan berhasil membalas dendam pada bajingan itu.
Kaisar Pulang ke Desa (Sulih Suara)
Kaisar Pulang ke Desa (Sulih Suara)
Sebelum meninggalkan kampung halamannya, Alingga berjanji pada tunangannya, Rinjani, bahwa ketika dia menjadi kaisar, dia akan kembali dan menjadikan Rinjani sebagai permaisuri. Bertahun-tahun kemudian, dia naik takhta sebagai kaisar. Untuk menepati janjinya, dia memutuskan untuk menyamar dan kembali ke kampung halamannya. Namun, saat memasuki gerbang kota, dia mendapati tunangannya, Rinjani, telah berubah hati dan akan menikah dengan putra Bupati...