Logo
Mr. Tatto Wants Me
Mr. Tatto Wants Me

Mr. Tatto Wants Me

64 Bab
Tamat
Dalam novel modern Mr. Tatto Wants Me, Denis yang trauma menjebak wanita untuk memuaskan dendamnya. Namun, pertemuannya dengan seorang DJ menantang rencananya. Simak kisah penuh intrik ini di web novel kami, pilihan terbaik bagi pembaca romance stories yang mencari narasi dewasa.
Bab 1 dari Mr. Tatto Wants Me

Sepasang roda sekuter merah muda dengan sebuah box besar bergambar pizza yang merekat erat di setiap sisi—terus bergerak menggerus aspal sore ini, si pengendara tak kalah menggemaskan saat tubuh mungilnya dibalut jaket merah muda dengan nama punggung berlogo toko pizza, tapi ini bukan pekerjaan pertama Marra, sebab ia bisa menjelma menjadi pekerja apa saja dimulai pagi buta hingga jam malam. Bukan masalah, gadis itu akan mengaku jika ia keturunan Hulk yang paling kuat saat melakukan segala hal meski bertubuh mungil.

Sekuter memasuki komplek perumahan mewah, ia sudah sering melewati bagian ini di sudut-sudut kota Manila, si penghafal jalan yang baik karena terbiasa berkeliling mengirim beragam hal selain pizza, hampir sebagian besar pengusaha berskala menengah di Manila mengenal seberapa rajinnya seorang Marra Acosta, ia memang tupai kecil yang melompat gesit dari satu tempat ke tempat lain setiap hari. Ia bisa menggantikan pekerjaan orang lain, berhenti dengan mudah saat lelah karena sebagai seorang part time Marra tak menerapkan kontrak, bahkan si pemilik usaha tak bisa menekan hal seperti itu padanya. Ia benar-benar pekerja freelance sejati.

Sekuter menepi di depan gerbang setinggi hampir dua meter, Marra turun dan melepas helm, pelindung kepala saja masih kebesaran untuknya, tapi si tupai kecil tak pernah memusingkan hal yang tak perlu didebatkan, ia hanya tahu bekerja dan mendapat uang.

"Itu belnya," ucap Marra. Ia mengeluarkan dua kotak pizza bertumpuk dari box di belakang sekuter dan menghampiri gerbang, menekan bell seraya menunggu seseorang menerima orderan di tangannya.

Tak berselang lama sebuah pintu di sisi gerbang terbuka, gadis cantik dengan dress polkadot hitam abu-abu muncul dan tersenyum.

"Ah, permisi." Marra menyapa. "Aku pengantar pizza." Ia mengulurkan barang di tangan.

"Baiklah, ini uangmu. Terima kasih sudah mengantarnya tepat waktu, teman-temanku baru saja mengeluh di dalam."

Marra mengangguk. "Selamat menikmati, aku permisi."

"Ya." Pintu kembali tertutup rapat, Marra memasang helm lagi, ia merogoh saku jaket dan membuka lipatan kertas berisi daftar pemesan pizza hari ini, baris terakhir. "Racher Art?" Marra menerawang. "Aku pernah mendengarnya beberapa kali, mari kita lihat maps." Ia beralih membuka ponsel. "Ah, ternyata di sana, tak jauh dari tempat ini." Marra kembali melanjutkan urusannya untuk pizza terakhir.

***

"Kenapa tiba-tiba mendung, apa prakiraan cuaca hari ini salah?" Jose menatap situasi di luar melalui kaca tebal di ruang utama Racher Art, ia bahkan memegang pembersih kaca. "Kapan pizza yang kuinginkan datang?"

"Apa pizza bisa terbang atau berjalan sendiri?" Suara tersebut berasal dari seorang wanita di sisi pria bertatto, mereka duduk di sofa tak jauh dari posisi Jose. Sebotol wine dengan tiga gelas sloki, sebungkus rokok serta pemantik tergeletak di permukaan meja. Wanita itu menyulut ujung rokok nan sudah tersemat di bibir. "Mungkin kau harus mengoceh pada si pengantar pizza karena dia membuatmu kelaparan."

Jose berkacak pinggang menatapnya. "Kau benar, Bianca. Harus kumarahi habis-habisan sampai dia menangis."

Bianca tersenyum miring, sembari menyesap rokoknya ia bersandar pada dada bidang berbalutkan kaus hitam yang melekat di tubuh pria bertatto. "Apa rencanamu malam ini?"

"Tidak ada." Denis mengangkat gelas sloki berisi sedikit wine, ia meneguknya hingga habis.

"Kalau begitu mari bertemu di 24night."

"Tentu."

Jose menyingkir menuju ruang lain dari gedung dua lantai milik sahabat sekaligus bosnya, tak berselang lama terdengar suara sekuter berhenti di depan Racher Art, buru-buru Jose berlari keluar karena siap memaki si pengantar pizza yang berdiri memunggungi seraya melepas helm.

"Denis, lihatlah bagaimana pekerjamu akan memaki pengantar pizza," ucap Bianca seolah siap menikmati kemarahan Jose, tapi Denis sama sekali tak melihat ke arah temannya sementara Jose sudah berkacak pinggang di belakang gadis pengantar pizza yang baru membuka box besarnya.

"Hey, kenapa kau begitu lama? Hampir tiga puluh menit sejak aku memesannya di aplikasi, apa kau tak memprioritaskan pelangganmu?" Jose memulai ocehannya. "Apa kau—" Bibir pria itu terkatup rapat saat Marra menoleh dan tersenyum.

"Aku benar-benar minta maaf dan bukan sengaja melakukannya, sekali perjalanan aku mengantar ke enam tempat dan kau mendapat bagian terakhir. Lalu, saat perjalanan menuju kemari hampir saja sekuterku menabrak anjing kecil di tengah jalan, ternyata kaki anjing itu sudah terluka, sepertinya dia sudah disiksa." Marra menghela napas berat, memasang tampang menyesal karena mengingat lagi anjing kecil tadi, ia bahkan tak bisa membawanya pulang ke rumah.

"Ah begitu." Jose melunak, ia bahkan tersenyum, lalu mengusap tengkuk. "Aku sudah salah paham, aku harus minta maaf padamu."

"Bukan masalah besar." Marra memberikan kotak pizzanya.

"Uang, ya?" Jose meraba saku celana. "Ada di dalam, tunggu sebentar." Ia buru-buru masuk dan meletakan kotak pizza di permukaan meja, membuat kening Bianca berkerut karena ekspresi Jose justru tampak senang, ke mana perginya amarah itu?

"Denis, berikan uangmu." Saat Denis baru menarik dompet dari saku celana, Jose buru-buru merebutnya. "Kenapa gadis itu menggemaskan sekali."

"Apa? Bukankah kau sempat memarahinya tadi, sekarang berubah?" tanya Bianca.

"Dia terlalu manis untuk dimaki-maki, dia seperti lolipop." Jose keluar dan memberikan selembar uang yang diambilnya dari dompet Denis. "Ambil saja kembaliannya."

Mata Marra membesar. "Benarkah? Tadi kau begitu kecewa padaku, jadi harus kuberikan kembaliannya." Ia merogoh saku jaket.

"Tidak, tidak perlu. Aku bersungguh-sungguh. Anggap saja permintaan maafku karena sudah keterlaluan."

"Hey, sudah kubilang semua itu bukan masalah." Marra tersenyum, ia menarik tangan Jose dan meletakan uang kembalian di sana. "Semoga kau menikmati pizzanya, aku harus kembali sekarang." Ia menengadah ke langit. "Sudah hampir hujan." Ia memakai helm dan bergegas duduk di jok sekuter, tapi baru saja memutar kunci, hujan turun sekaligus deras. Marra bergegas menyingkir di sisi Jose.

"Nona pengantar pizza, sepertinya kau harus bertahan sebentar di sini," ujar Jose, mungkin ia akan menikmati momen sederhana ini.

"Tidak bisa, aku harus segera mengembalikan sekuter dan pulang ke rumah. Apa kau tak memiliki jas hujan di dalam sana?" Marra menoleh ke belakang, tampak sepi manusia, ia memicing pada Jose seperti curiga akan sesuatu. Hujan seperti ini dan mereka hanya berdua, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi seraya menyilang tangan di dada, upaya melindungi diri. "Tidak! Tidak boleh!" Marra mulai galak.

"Apa?" Jose mengangkat sepasang tangannya. "Sungguh, aku bukan pria jahat. Apa yang kau pikirkan?"

"Kalau begitu pinjamkan aku jas hujanmu."

"Sebentar, aku akan mengeceknya di dalam." Jose menyingkir, ia tak peduli pada aktivitas Bianca serta Denis di sofa. Wanita itu entah sejak kapan sudah duduk di pangkuan Denis, mengalungkan tangan sembari mengusap lembut wajah laki-lakinya sebelum saling memagut bibir penuh gairah.

Sementara Jose mencari sesuatu, ia menemukan sebuah jas hujan milik Denis di laci tempat eksekusi tatto, tapi menatapnya begitu lama. "Apa aku harus meminjamkan benda ini pada gadis itu?" Ia tersenyum simpul, lantas menggeleng. "Tidak, lebih baik dia terjebak hujan di sini. Bukankah kami bisa mengobrol sebentar, dia bisa menjadi teman bicara saat Denis serta Bianca membuat panas suasana." Jose menutup laci. "Aku pria baik, aku takkan melukai gadis pengantar pizza itu." Ia penuh percaya diri dan kembali menghampiri Marra seraya memasang wajah penuh sesal, berpura-pura.

"Kau memilikinya, bukan?" tanya Marra, tapi melihat Jose menggeleng membuat gadis itu mendesah kesal. "Kau serius? Sudah mencari dengan benar?"

"Tentu, aku sudah melakukannya dari sudut ke sudut. Jadi, Nona. Kau harus bertahan sebentar di sini, mari masuk."

Marra menggeleng cepat. "Tidak mau."

"Aku tidak sendirian di sini, ada bosku serta temannya."

"Semua laki-laki?"

"Tidak, dia Bianca, teman kencan bosku. Mereka ada di sana dan siap menikmati pizza yang kau bawa." Jose menunjuk pada sofa di sisi kanannya, jika dari pintu utama Racher Art memang takkan terlihat karena tertutup tirai yang membentang sepanjang dua meter, hanya dibuka jika ingin.

"Benarkah? Kau tidak berbohong?" tanya Marra skeptis.

"Kau bisa mengeceknya sendiri."

Marra melangkah ragu, tapi tetap memberanikan diri masuk, saat ia menoleh ke sisi kirinya—gadis itu hampir mengumpat karena menyaksikan sepasang manusia sibuk bercumbu, ia bergerak mundur. "Tidak mau, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Kau menipuku, ya?"

"Haish." Jose mendengkus, ia berkacak pinggang dan menoleh ke kanan. "Hey! Bisakah kalian berhenti melakukan itu, kalian membuat gadis ini tak nyaman, dia tamuku. Jika ingin melanjutkannya—naiklah ke atas."

Bianca menjauhkan wajah dari Denis, ia menatap jengkel pada Jose. "Sejak kapan karyawan mengatur bosnya, kau tak lihat perbuatan karyawanmu itu, Denis?"

"Biarkan saja."

Jose tersenyum miring, ia merasa menang sekarang, lantas kembali menatap Marra. "Mereka takkan melakukan hal itu lagi, jadi masuklah."

"Apa boleh aku duduk di sana saja, aku tak ingin bergabung dengan mereka." Marra menunjuk ruang kosong di sisi kaca tebal.

"Tentu, aku akan mengambil dua kursi, tunggu sebentar." Jose kembali bersemangat, ia menata dua kursi di sisi kaca seperti berada di sebuah kafe. "Duduklah, kau mau minum kopi?"

"Kau tak punya racun atau narkoba, kan?" Gadis itu belum sepenuhnya percaya.

"Tidak sama sekali."

Marra mengangguk ragu, ia memberanikan diri masuk kembali dan duduk di kursi.

"Aku akan membuat kopi untukmu." Saat Jose menyingkir, Marra menoleh ke kanan, tadi ia tak terlalu memperhatikan sepasang manusia di sofa karena terkejut, tapi sekarang Marra bisa melihat jika pria berkaus hitam yang disebut 'bos' oleh Jose memiliki banyak tatto memenuhi kedua lengan hingga pergelangan tangan, bahkan kulit lehernya hampir saja tak terlihat.

Pria itu menoleh ke arahnya, membuat mereka beradu pandang selama beberapa detik sebelum Marra memutus kontak dan mengalihkan fokus untuk membuka ponsel.

"Hey, apa yang kau lihat? Aku di sini." Bianca mengarahkan wajah Denis agar melihatnya lagi. "Selama kau bersamaku, jangan pernah melihat ke arah lain. Oke?"

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Asa di Ujung Senja
Asa di Ujung Senja
Dalam novel modern Asa di Ujung Senja, Nada terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Abian, mantan pembalap yang buta akibat kecelakaan. Di tengah tekanan keluarga besar, mampukah ia menghadapi sikap dingin Abian? Baca romance novel ini untuk mengikuti kisah perjuangan dan rahasia mereka.
Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali
Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali
Dalam Boss Lady: Mantan Suamiku Ingin Aku Kembali, Selena berhenti menjadi istri penurut dan membangun kerajaan bisnis sendiri. Kenneth terobsesi mengejarnya kembali di romance novel ini. Baca kisah billionaire romance novels ini untuk melihat perjuangan Selena menjaga kemandiriannya.
Dunia Baru Alyssa
Dunia Baru Alyssa
Dalam Dunia Baru Alyssa, seorang lulusan pesantren harus beradaptasi di SMA Safir yang bebas. Menghadapi dinamika modern novel dan pergaulan remaja, ia berjuang menjaga prinsip religiusnya di tengah tantangan romance fiction books sambil menyebarkan kedamaian Islam kepada teman-teman barunya.
Panen Buah Cinta
Panen Buah Cinta
Dalam Panen Buah Cinta, Ken yang biasa saja terjebak di antara dua wanita populer. Ikuti kisah romance modern ini saat ia menghadapi pilihan sulit dalam hidupnya. Baca web novel seru ini untuk melihat bagaimana benih cinta tumbuh menjadi konflik yang tak terduga dalam romance stories pilihan.
Pengkhianatan Berujung Luka
Pengkhianatan Berujung Luka
Dalam novel romantis misteri modern Pengkhianatan Berujung Luka, pernikahan 30 tahun hancur setelah reservasi hotel rahasia sang suami terungkap. Menghadapi pengkhianatan keluarga dan tuduhan putranya, sang istri memilih bercerai dan membalas dendam. Baca novel online gratis yang penuh intrik ini.
Penipuan Bayi Miliaran Suamiku
Penipuan Bayi Miliaran Suamiku
Dalam Penipuan Bayi Miliaran Suamiku, pengorbanan istri pewaris bisnis hancur saat program ibu pengganti dimulai. Kebohongan suami demi warisan memicu konflik di romance novel ini. Baca kisah billionaire romance novels ini tentang pengkhianatan dan janji yang dilanggar di webnovel.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Balas Budi si Anak Durhaka
Balas Budi si Anak Durhaka
Diah dan suaminya membesarkan putra mereka, Ismail, dengan susah payah. Namun, mereka justru dieksploitasi oleh Ismail dan menantunya. Suami Diah meninggal dunia dengan penuh kekecewaan. Setelah terlahir kembali, Diah tersadar dan bangkit. Dia teguh mempertahankan prinsipnya dan melawan balik. Diah mengambil kembali hartanya, membongkar kebenaran kepada publik, dan akhirnya memutuskan hubungan dengan anak durhaka itu. Seluruh hartanya dia wakafkan untuk amal, mengajarkan makna sejati dari """"dari semua kebajikan, bakti kepada orang tua adalah yang utama
Pembalasan Anak Sah
Pembalasan Anak Sah
Di kehidupan sebelumnya, dia dikhianati oleh ibu dan saudara perempuannya. Bayinya yang baru lahir ditukar dengan anak saudara perempuannya yang menyebabkan aib dan kematian tragis di rumah. Suaminya juga dijebak oleh saudara perempuannya dan akhirnya meninggal. Setelah terlahir kembali, dia menggunakan ingatannya dari kehidupan sebelumnya untuk mengungkap rencana jahat ibu dan saudara perempuannya, yang akhirnya membantu suaminya naik ke tampuk kekuasaan.
Tak Terkalahkan
Tak Terkalahkan
Dia menyembunyikan statusnya sebagai tokoh paling berpengaruh di negara itu sambil mengangkat status keluarga istrinya menjadi bangsawan. Namun, istrinya meremehkannya karena kekayaannya yang minim dan memilih untuk menceraikannya. Saat istrinya mengungkap identitas aslinya, sudah terlambat untuk menebus kesalahannya.
Ksatria Berbaju Cemerlang
Ksatria Berbaju Cemerlang
"Setelah didiagnosis menderita kanker otak stadium akhir, Ryder Van Woodsen secara brutal mencampakkan cinta dalam hidupnya, Astrid Marie, agar dia dapat menemukan orang lain untuk menghabiskan waktu bersama. Bertahun-tahun kemudian, tidak berharap untuk hidup selama dia tetapi masih berjuang dengan gejala kanker: dia bertemu dengan Astrid lagi. Dia tertekan dan diberitahu bahwa tunangannya selingkuh padanya dengan saudara tirinya hanya beberapa menit sebelum bertemu dengannya lagi. Tapi masalahnya adalah, dia tidak mengenalinya, dan kali ini: Ryder memiliki sesuatu untuk ditawarkan padanya - tanpa dia mengetahui siapa dia sebenarnya; pria yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping, dan tidak pernah memberi tahu alasannya."
Nyonya Muda Blak-blakan
Nyonya Muda Blak-blakan
Senja berpura-pura jadi pacar pewaris kaya demi bayaran besar. Dengan ketulusan dan sifat blak-blakan, dia menyembuhkan sang pria, memenangkan keluarganya, dan akhirnya menjadi kesayangan keluarga kaya.
Pamanmu Adalah Suamiku
Pamanmu Adalah Suamiku
Nggak sengaja tidur dengan seorang paman di hari ulang tahunku, ternyata aku sudah mengusik orang yang salah...