Bab 1
Ibuku pergi berwisata ke Kota Xaver dan pulang membawa patung dewa ular. Katanya, patung itu harus disembah dengan darah menstruasi gadis perawan agar bisa membuat awet muda.
Dia memaksaku memberikan darahku untuk patung itu, bahkan memotong rambutku dan melilitkannya di kepala ular.
Aku tak berani memberitahu ibuku kalau aku diam-diam pernah menginap di hotel bersama pacarku waktu kuliah.
Dua bulan kemudian, kulitnya mulai muncul bercak biru seperti sisik, bahkan dia mulai mengalami proses pergantian kulit seperti ular.
Setelah menginjak umur 45 tahun, ibuku menjadi sangat terobsesi dengan kecantikan.
Dia membeli skincare yang harganya jutaan, melakukan perawatan mahal seperti thermage ... tapi semua itu tak bisa menghentikan kulitnya yang semakin kendur dan kerutan yang mulai muncul.
Tahun lalu, dia ikut tur ke Xaver, aku dan ayah yang menjemputnya di bandara.
Namun, kami tak melihat kopernya, yang ada malah sebuah kotak kayu kecil yang dia pegang dengan hati-hati di tangannya.
Ibuku terlihat sangat semangat di mobil, mengatakan bahwa di dalam kotak itu ada benda berharga, yaitu Vasuki, yang dia beli dengan harga mahal. Katanya, patung itu bisa membuatnya semakin muda dan kulitnya menjadi halus seperti kulit gadis muda.
Aku sudah tidak kaget mendengar kata-kata seperti itu. jadi hanya menjawab seadanya.
Ayahku menghela napas, "Mahal? Aduh ... kamu membuang-buang uang lagi ... "
"Itu bukan buang-buang uang, kalau istrimu jadi lebih cantik, bukannya kamu juga yang ikut bangga?!"
Ujar ibuku, dia begitu marah dan ayahku pun tak berani berkomentar lagi.
Sesampainya di rumah, ibuku mulai menggumamkan beberapa kata dialek Xaver dengan suara pelan, mungkin sedang memanggil ... dewi ular atau semacamnya.
Lalu, dengan hormat dia meletakkan kotak itu di atas meja dan sujud tiga kali
Ketika ibu mengangkat kepalanya, setetes darah mengalir dari dahinya ke tulang hidungnya. Aku langsung panik dan mencari kotak P3K.
"Bu! Kepalamu berdarah, ayo pakai obat dulu!"
Namun, ibu malah dengan bersemangat memegang tanganku, seolah tidak merasakan sakit sama sekali pada luka di dahinya.
Dia berkata, "Luna, kamu harus bantu ibu, ya!"
"Bu, kita pakai obat dulu, itu nanti saja baru dibicarakan!"
Namun, ibu tetap menggenggam tanganku erat-erat dan saat ayah tidak melihat, dia menarikku ke kamar.
Setelah masuk kamar, ibuku menatapku dengan mata berbinar, lalu bertanya apakah aku sudah datang bulan.
Tanpa pikir panjang, mengira dia hanya perhatian padaku, jadi aku memegang perutku yang agak sakit dan mengangguk.
Ibu tersenyum dan berkata, "Pinjamkan sedikit darah padaku."
Aku terkejut.
Meskipun ibu tersenyum, kata-katanya membuatku merinding.
Pinjam darah? Darah apa? Apa yang dia maksud itu darah menstruasiku?"
Itu terdengar menjijikkan, untuk apa dia membutuhkan itu?
Ibu menjelaskan, agar patung Vasuki bisa memberi berkah, setiap bulan harus dipersembahkan dengan darah menstruasi gadis perawan. Selain itu, dia juga harus memotong sedikit rambutku dan mengikatnya pada patung, katanya itu untuk mengikat dewa, agar dewa itu selalu tinggal dan memberikan berkah.
Aku belum pernah mendengar cara pemujaan yang begitu aneh. Seketika, wajahku langsung memerah, malu dan marah sekaligus.
"Bu, jangan-jangan kamu dibohongi orang?! Mana ada dewa yang disembah pakai ... pakai hal seperti itu?! Aku nggak mau!"
Ibu marah dan mencubit keras lenganku, sampai aku merasa sakit dan hidungku terasa agak perih.
"Dasar kamu! Aku sudah melahirkan dan membesarkanmu, hanya meminta sedikit darahmu saja nggak mau, itu bahkan nggak menimbulkan rasa sakit! Dasar anak durhaka!"
Aku tidak berani memberitahu ibu bahwa alasan aku tak mau membantunya adalah karena aku punya alasan yang sulit diungkapkan.
Waktu kuliah, aku sudah pernah diam-diam menginap di hotel dengan pacarku.
Meskipun dia mengambil darahku, itu juga tak akan bisa digunakan.
Namun, setelah ibu memarahiku, dia tak mengatakan apa-apa lagi dan pergi begitu saja.
Malam itu, setelah makan malam, ibu membawa kotak berharga itu ke kamar.
Saat aku pergi ke kamar mandi untuk mengganti pembalut, aku baru sadar ada yang aneh ... tempat sampah di kamar mandi hilang.
Mengingat apa yang ibuku katakan tadi, aku mulai merasa cemas dan langsung masuk ke kamar ibu tanpa mengetuk pintu.
"Bu! Tempat sampah di kamar mandi ... "
Kalimatku terhenti.
Kosmetik berserakan di atas meja rias, digantikan oleh sebuah patung ular. Sisik-sisiknya berwarna ungu gelap dengan kilau metalik.
Yang paling aneh adalah kepala patung ular itu, meskipun berbentuk kepala ular segitiga, wajah ular itu justru terlihat seperti wajah manusia yang sangat mengganggu dan menjijikkan.
Ibuku sedang memeras darah dari pembalut yang dia ambil dari tempat sampah dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam sebuah mangkuk di depan patung ular tersebut.
Bab 2
"Bu, apa yang sedang kamu lakukan?! Hentikan!"
Aku mencoba merebut mangkuk kecil itu. tapi ibuku langsung memegang tanganku dengan erat.
"Luna, tolong bantu itu. Ibu nggak pernah meminta apa-apa darimu sebelumnya. Ibu bahkan sudah membesarkanmu sampai sebesar ini, bantu ibu sekali saja ... "
Usai bicara, dia mengambil gunting dari lantai belakangnya, lalu tanpa ragu memotong rambut panjangku.
Ibu melepaskanku, lalu mengambil potongan rambut itu dan melilitkannya di kepala patung ular.
Aku ingin menghentikannya, tapi tiba-tiba tubuhku terasa kaku, seperti ada sesuatu yang menahanku.
"Bu, jangan seperti ini ... "
Aku panik, suaraku bahkan bergetar hampir menangis, tapi dia seolah tak mendengar.
Setelah selesai melilitkan rambut, ibuku berlutut di lantai, membakar dupa dan bersujud dengan hormat di depan patung ular itu.
Setelah semuanya selesai, dia menatap patung itu dengan ekspresi tegang sekaligus penuh harap. Seketika, aku merasakan sesuatu di belakangku, sesuatu yang basah menyentuh leherku dengan lembut, seperti sedang menjilatnya.
"Luna, bukannya kamu bilang mau iPad untuk sekolah? Ibu akan membelikannya untukmu, tahan sebentar lagi, sebentar saja!"
Benda itu hanya menjilatku sekali, lalu menghilang, tetapi sensasinya sangat menyeramkan. Tubuhku basah oleh keringat dingin.
Tak peduli seberapa keras aku berjuang, aku tetap tak bisa bergerak. Bahkan ingin berteriak pun tidak bisa, seperti sedang ketindihan.
Patung ular itu mulai berubah warna, dari ungu gelap perlahan menjadi merah darah. Entah itu hanya halusinasiku, tetapi aku seperti melihat mata di wajah ular itu sedikit bergerak.
Rasanya seperti patung itu sedang menatap ibuku, tetapi tatapannya tembus melalui ibuku dan langsung tertuju pada diriku yang berdiri di belakangnya.
"Berhasil! Akhirnya dia berubah warna!"
Ibuku berseru girang sambil menatap patung itu. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba tubuhku terbebas dari belenggu. Aku langsung jatuh terduduk di lantai.
Mendengar suara gaduh dari kamar, ayahku masuk ke dalam.
"Luna, kenapa kamu duduk di lantai? Ayo cepat bangun."
Ayah mengulurkan tangan, terlihat seperti ingin membantuku berdiri, tapi kemudian dia melewatiku begitu saja dan berjalan lurus ke arah patung ular itu.
"Indah sekali ... indah sekali ... " gumam ayahku, sambil menatap patung itu dengan tatapan terpukau.
Melihat kedua orang tuaku yang seperti kerasukan, aku merasa sangat merinding. Aku bangkit dan melarikan diri ke kamar.
Aku menutup pintu kamar dengan rapat dan membungkus diriku dengan selimut.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara derit dari kamar mereka, disertai dengan suara napas berat yang tak tertahan.
Aku tak pernah menyangka bahwa orang tuaku akan melakukan hal seperti itu di siang bolong, bahkan saat putri mereka masih ada di rumah.
Seketika, rasa jijik yang sulit dijelaskan memenuhi hatiku.
Suara itu semakin lama semakin keras. Pada akhirnya, mereka seperti lupa dengan keberadaanku dan mulai mendesah tanpa malu.
Suara itu berlangsung lebih dari setengah jam, hingga akhirnya mereda.
Aku pun tertidur tanpa sadar.
Namun, di tengah malam, aku merasakan sesuatu yang lembut dan dingin masuk ke dalam selimut, melilit tubuhku.
Aku terkejut, terbangun dan langsung duduk.
Sensasi dingin itu menghilang, aku membuka selimut, tetapi tidak ada apapun di kasur. Seolah semuanya hanya ilusii.
Setelah menenangkan diri, aku mendengar suara air mengalir dari kamar mandi.
Di waktu seperti ini, siapa yang di sana?
Suara itu tidak terdengar seperti orang tuaku, melainkan seperti ada orang yang mencuci sesuatu dengan keras.
Dengan penasaran, aku membuka pintu kamar. Ruang tamu gelap gulita dan pintu kamar mandi trbuka, tetapi lampunya tidak menyala. Aku hanya bisa samar-samar melihat bayangan seseorang berdiri di pintu.
"Bu ... kamu ya?"
Bayangan itu tidak merespon, hanya terus melakukan apa yang sedang dikerjakan.
Aku menahan rasa takut, mengumpulkan keberanian dan berjalan ke arah pintu kamar mandi, lalu menyalakan lampunya.
Cahaya yang tiba-tiba terang menyilaukan mataku. Dengan mata setengah terpejam, aku melihat ibuku sedang mencuci seprai di wastafel.
Airnya berwarna merah muda, dengan busa mengambang di atasnya.
"Bu, kenapa kamu mencuci seprai di tengah malam?" tanyaku bingung.
Ibu tersenyum canggung dan menjawab, "Ibu datang bulan tiba-tiba, nggak sengaja mengotori seprai. Noda darahnya nggak akan hilang kalau dicuci besok. Maaf ya, sudah mengganggumu ... "
Seketika aku terdiam.
Ibuku sudah memasuki masa menopause dua tahun lalu, seharusnya dia sudah tidak menstruasi lagi. Bagaimana mungkin ...
Ada bau darah samar di udara. Ibuku juga tak mungkin berbohong tentang hal seperti itu.
Apakah patung ular itu benar-benar bisa membuat ibu menjadi muda kembali?
Tapi ini terlalu aneh!
Aku merasa sangat bingung, tetapi melihat ibu yang terlihat begitu bahagia, aku tidak tega memadamkan semangatnya. Akhirnya, aku tidak berkomentar lebih banyak dan kembali ke kamar.
Bab 3
Malam itu, aku bermimpi aneh.
Dalam mimpi, aku melihat ibuku membelakangiku, sibuk mencuci pakaian. Tak peduli berapa kali aku memanggilnya, dia tak menghiraukanku.
Aku pun berjalan mendekat dan menepuk bahunya.
Dia menoleh, wajahnya penuh dengan sisik berwarna merah darah, kulitnya kencang dan mengecil. Lidahnya yang bercabang keluar masuk dengan suara berdecit pelan, seperti ular.
Aku langsung terbangun, tubuhku basah oleh keringat dingin yang meresap hingga ke kasur.
Sepanjang hari itu, saat mengikuti kelas daring, pikiranku benar-benar kacau. Bayangan tentang sosok ibu yang menyerupai monster ular dalam mimpi terus menghantuiku.
Beberapa hari berikutnya, setiap hari ibu berlutut di depan patung ular itu, membakar dupa dan bersujud.
Entah karena sering dibersihkan atau alasan lain, warna patung itu terlihat semakin gelap. Sisik-sisiknya juga tampak mulai terbuka, seperti ular sungguhan yang sedang melingkar di sana. Jika dilihat sepintas, sulit membedakannya dengan ular asli.
Aku yang masih trauma dengan mimpi buruk malam itu, membeli berbagai jenis aroma terapi untuk membantu kualitas tidurku. Aku juga meletakkan sebungkus belerang yang kubeli di Shopee di bawah bantal. Baru setelah itu, aku merasa lebih tenang untuk tidur.
Sebulan kemudian, kulit ibu benar-benar terlihat lebih halus dan lembut. Namun, setiap kali dia berkeringat setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, terkadang ada aroma amis samar yang keluar dari tubuhnya.
Aromanya seperti bau ikan, tapi tidak sepenuhnya sama.
Di sisi lain, ayahku tampak semakin lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas dan tubuhnya menjadi lebih kurus.
Namun, aku tidak heran. Bagaimana tidak? Orang tuaku yang sudah berusia lima puluhan itu hampir melakukan hal itu setiap malam. Aku sampai harus memakai penutup telinga untuk bisa tidur.
Entah dari mana datangnya semangat untuk mereka yang sudah berusia lima puluhan!
Perutku merasa nyeri lagi, itu tanda bahwa sudah waktunya menstruasi. Aku pun buru-buru ke kamar mandi.
Saat keluar, aku bertemu dengan ayahku yang baru saja pulang dari pasar, dia membawa sekantong daging dan telur.
"Ayah, kenapa wajahmu begitu pucat?"
Bibirnya tampak keunguan, napasnya tersengal-sengal, seperti suara sapi kehabisan napas.
Dia menundukkan badan, melambaikan tangan dan menjawab, "Nggak apa-apa, nak. Ayah hanya terburu-buru tadi. Cukup istirahat sebentar saja."
Namun, aku melihat sesuatu yang aneh di lehernya, ada luka kecil berwarna ungu kemerahan.
"Ayah, lehermu kenapa?" tanyaku, sambil mendekat untuk melihat lebih jelas.
Ayah tampak canggung, buru-buru menaikkan kerah bajunya.
"Oh ... ini nggak sengaja. Ibumu bercanda tadi pagi, terus nggak sengaja menggigitku. Bukan luka serius."
Gigitan ibuku?
Tapi terlihat jelas ada dua lubang kecil di luka itu, seperti bekas gigitan ular!
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi ayahku tiba-tiba terjatuh ke lantai. Tubuhnya kejang-kejang dan mulutnya berbisa.
Aku dan ibuku panik, langsung menelepon ambulans.
Di rumah sakit, setelah proses penyelamatan yang panjang, akhirnya dokter memberitahu bahwa ayahku selamat.
Karena harus dirawat di rumah sakit, ibuku pulang untuk mengambil barang-barang kebutuhan.
Diriku sebagai keluarga pasien, diajak dokter ke ruangannya. Wajah dokter tampak serius.
"Maaf, tapi kalian pelihara ular beracun di rumah, ya? Banyak anak muda yang suka memelihara hewan aneh seperti itu sekarang! Apa ular berbisa boleh sembarangan dipelihara?"
Aku terkejut dan segera menyangkal bahwa kami tidak memelihara hewan di rumah.
Dokter semakin marah, dia berkata, "Nggak pelihara? Kalau nggak, lalu bagaimana ayahmu bisa terkena racun bisa ular?! Untung saja segera ditangani, kalau nggak, dia bisa meninggal, kamu tahu nggak?!"
Setelah aku bertanya lagi, dokter akhirnya menjelaskan bahwa ayahku terkena bisa ular dari jenis viper hijau.
Ular jenis ini biasanya tidak ada di daerah kami tinggal. Itulah sebabnya dokter yakin ada orang yang memelihara ular itu di rumah.
Aku berjalan keluar dari ruangan dokter dengan pemikiran yang kacau balau.
Daerah ini sedang musim dingin, tidak mungkin ada ular. Bahkan jika ada pun, kami tinggal di apartemen, bagaimana bisa ular seperti itu muncul?
Aku langsung teringat patung ular yang dibawa ibuku dari Xaver.
Namun, bagaimana mungkin patung itu hidup dan menggigit ayahku?
Malam itu, aku duduk di samping ranjang ayah, memegang tangannya erat-erat. Seketika, aku merasa takut.
Jika terlambat sedikit, aku mungkin akan kehilangan ayah.
Sekitar pukul sepuluh malam, ibuku belum juga kembali ke rumah sakit. Aku mulai khawatir, setelah meminta perawat menjaga ayah, aku memutuskan untuk pulang.
Sampai di bawah apartemen, aku melihat semua jendela rumah gelap.
Apa ibu nggak ada di rumah?
Ke mana ibuku?
Rumahku di lantai 10 dan lift terjebak di lantai 26 karena renovasi. Aku tak sabar menunggu dan memutuskan untuk naik tangga ke lantai 10.
Saat membuka pintu, rumah gelap gulita, tetapi terdengar suara aneh dari dapur.
Aku mengambil sapu yang ada di dekat pintu, berjalan pelan menuju dapur.
Di bawah sinar bulan, aku melihat ibuku duduk di lantai dapur dan sedang mengunyah sesuatu.
Di sampingnya ada kantong plastik hitam dan suara krek-krek itu berasal dari dalam kantong tersebut.
Aku hendak mendekat untuk melihat lebih jelas, tetapi tiba-tiba sesuatu melayang ke arah wajahku. Aku pun menjerit terkejut.
Benda itu hampir mengenai wajahku, baunya amis dan terasa lengket.
Jeritanku menarik perhatian ibu dan dia berhenti mengunyah. Ibu pun mengambil seekor katak dari kantong plastik itu.
Aku berusaha menenangkan diriku sendiri dan memastikan bahwa benda itu adalah katak.
"Bu, kamu makan ini?!"
Suaraku bergetar dan hampir tidak percaya melihat ini.
Ibuku dengan enggan membuang katak itu. Mungkin karena terlalu erat digenggam, katak itu melompat dua kali sebelum akhirnya tak bergerak.
Ibu buru-buru mengelap tangannya di celemek dan berkata gugup,
"Jangan takut, Luna. Ibu hanya mau memasak sup katak. Katanya bagus untuk kesehatan. Ini semua dibeli di pasar tadi pagi."
Tapi aku melihat jelas, aku melihat dia memakan katak itu mentah-mentah.
Entah karena pengaruh gelap atau mataku yang salah lihat, aku sepertinya melihat pupil ibuku berubah menjadi vertikal seperti mata ular.
Namun begitu dia menyalakan lampu, pupilnya kembali normal.
"Ibu belum selesai masak, kamu bantu ibu ambil pakaian untuk dibawa ke rumah sakit, ya? Kita harus menemani ayahmu di rumah sakit beberapa hari ini."
Aku mengangguk dan meletakkan sapu, lalu masuk ke kamar mereka.
Ibuku sedang sibuk di dapur, jadi tidak memperhatikanku. Pikiranku terus kembali ke ucapan dokter di rumah sakit. Dengan hati-hati, aku mendekati patung ular itu.
Aku bahkan memberanikan diri untuk menyentuhnya.
Patung itu terasa dingin seperti logam, tapi ada sesuatu yang salah.
Wajah patung ular itu tampak berbeda dari sebelumnya, tetapi aku juga tak bisa menjelaskan dengan pasti apa yang berubah.
Sampai aku melihat foto pernikahan orang tuaku di dinding, aku baru sadar apa yang membuatku merasa aneh.
Wajah patung ular itu semakin lama semakin mirip dengan wajah ibuku.