Bab 3
Keesokan harinya, saat kembali ke kantor, aku duduk di meja kerjaku dan sudah mencetak surat pengunduran diri.
Aku dan Peter saling mengenal dan jatuh cinta sejak kuliah. Setelah dia masuk kerja di perusahaan teknologi ini, aku pun ikut bergabung ke sini, menolak rencana orang tuaku dan memilih menemaninya berjuang dari posisi karyawan biasa.
Selama bersama Peter, aku pernah secara halus menyinggung soal pernikahan. Tapi, dia selalu sibuk bekerja, beralasan belum punya pencapaian apa-apa, takut orang tuaku tidak rela menyerahkan putri kesayangan mereka padanya.
Harus berkarir dulu baru berumah tangga, begitu katanya padanya.
Sementara aku, demi tidak menambah beban, hanya bisa diam-diam menenangkan orang tuaku, bahkan menyembunyikan latar belakangku agar dia tidak makin tertekan.
Kini, dia sudah menjadi wakil direktur perusahaan. Saat menemukan cincin di sakunya, aku sempat berharap itu pertanda dia akhirnya siap melamarku.
Namun, ternyata semua itu hanyalah khayalanku sendiri.
Seorang rekan kerja lewat dan melihat surat pengunduran diri di komputerku, dia pun terkejut dan bertanya, “Kak Aurel, sebentar lagi kamu mau dipromosikan jadi direktur teknik. Kok malah tiba-tiba mau mengundurkan diri?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Aku mau menikah sebentar lagi, nanti mungkin akan pindah ke perusahaan lain.”
Rekan kerjaku, Lina ikut tersenyum sambil memberi selamat, “Belakangan ini banyak kabar gembira ya. Tadi malam aku juga lihat postingan instagram Pak Peter, katanya diam mau tunangan!”
“Harus diakui, Pak Peter dan pacarnya benar-benar serasi sekali. Kudengar mereka sahabat sejak kecil, benar-benar cinta pertama di hati satu sama lain.”
Senyuman di wajahku perlahan menghilang. Aku membuka ponsel, baru sadar Peter sudah memblokirku dari akun utama maupun akun kecilnya.
Akun utamanya untuk pribadi, sejak semalam dia keluar rumah langsung memblokirku. Akun kecilnya untuk urusan kerja dan saat kubuka, percakapan kami hanya tersisa obrolan formal atasan bawahan.
Tiba-tiba, Peter masuk ke kantor bersama Rosa.
Mereka berjalan berdekatan, wajah Rosa merona dengan senyuman ceria, sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Lalu, Peter pun memperkenalkan pada semuanya, “Ini calon direktur teknik baru perusahaan. Mulai sekarang, kita semua akan bekerja bersama, jadi tolong jaga hubungan baik.”
Lina tampak kaget, pandangan bergantian antara aku dan Rosa. Akhirnya dia tetap menunduk sopan dan menyapa, “Salam kenal, Bu Rosa!”
Aku tidak berbicara, hanya menggenggam surat pengunduran diriku erat-erat. Tapi, Peter malah memandangku dengan kesal, “Aurel, semua orang sudah menyapa direktur baru, kok sikap kamu malah begitu?”
Rosa terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangan padaku, “Mulai sekarang kita akan bekerja di kantor yang sama, mohon bimbingannya, ya.”
Aku baru hendak menyambut tangannya, tiba-tiba Peter menarik tangan Rosa kembali, “Kamu itu direktur, nggak perlu terlalu ramah dengan karyawan kecil. Ayo, aku bawa kamu keliling untuk mengenal lingkungan kerja.”
Mereka pun pergi bersama, meninggalkanku sendirian dengan tangan yang masih terulur kaku di udara. Aku terdiam di tempat, terlihat tak ada bedanya seperti badut.
Bab 4
Lina menarikku duduk dan mulai bergosip di meja kerja, “Kak Aurel, kamu sudah lihat, ‘kan? Barusan itu tunangannya Pak Peter?!”
“Kalung berlian di lehernya itu hadiah dari Pak Peter kemarin, katanya harganya sampai miliaran!”
“Tapi, cara Pak Peter menempatkan orang itu terlalu terang-terangan! Kamu sudah kerja di perusahaan ini lima tahun, semua orang tahu kemampuanmu. Dia malah dengan enteng kasih posisi yang seharusnya jadi milikmu ke orang lain!”
Aku hanya mengangguk tanpa semangat. Memang dari awal aku sudah berniat mengundurkan diri dan kedatangan Rosa hari ini hanya membuatku semakin cepat sadar akan posisiku di hati Peter.
Aku mengambil berkas-berkas dan surat pengunduran diri, lalu mengetuk pintu kantor Peter.
“Masuk,” jawab Peter dengan dingin.
Aku meletakkan semua dokumen, termasuk berkas-berkas untuk serah terima pekerjaan setelah keluar nanti.
Peter membolak-balik berkas-berkas itu, semakin dilihat wajahnya semakin muram.
Akhirnya, dia mengangkat pandangan, menatapku dengan senyuman tipis yang penuh ejekan.
“Aurel, aku kira kamu sudah berubah baik kemarin dan nggak akan sembarangan melampiaskan emosi. Ternyata hari ini sifat aslimu muncul lagi?”
Usai bicara, dia langsung melemparkan berkas-berkas itu ke arahku.
Aku cepat-cepat menghindar, lalu menunduk, memunguti satu per satu berkas yang berserakan di lantai.
Peter masih saja bicara, “Bukannya hanya masalah promosi jabatan? Bidang Rosa itu sama denganku, aku percaya kemampuannya, makanya posisi direktur teknik kuberikan padanya. Kamu punya hak apa untuk marah-marah?!”
Aku menumpuk berkas dengan rapi, meletakkannya di hadapannya, lalu dengan tenang berkata, “Aku nggak sedang marah, hanya mau mengajukan pengunduran diri.”
Rosa memang satu jurusan denganmu, kamu tahu kemampuannya, lalu bagaimana denganku?
Aku kuliah jurusan desain perhiasan, tapi demi Peter, aku sampai ambil kuliah tambahan lintas jurusan. Bertahun-tahun aku kerja keras siang malam demi bisa mengikuti langkahnya.
Ternyata, semua usahaku tidak ada harganya sama sekali di matanya.
Peter menatapku dari atas, merendahkan, “Kamu sendiri nggak tahu batas kemampuanmu sampai mana? Aku sudah menempatkanmu di bawah Rosa. Mulai sekarang belajarlah baik-baik dengannya.”
Aku tersenyum, “Waktuku juga berharga. Aku nggak akan belajar hal yang nggak kusukai lagi.”
“Bagus! Kalau begitu pergi saja! Aku mau lihat perusahaan mana yang mau menerimamu!” ujar Peter sambil bangkit dari kursinya, menatapku seperti iblis yang siap menerkam.
Sedangkan aku hanya berbalik dan langsung keluar dari ruangannya.
Waktu enam tahun bersamanya, anggap saja sudah terbuang sia-sia.
Aku tidak akan lagi hidup mengitari dirinya, apalagi dia malah mau aku berputar mengelilingi Rosa.
Bab 5
Siang itu, aku kembali ke meja kerjaku untuk membereskan barang-barang.
Di atas meja masih terletak pajangan kecil berbentuk planet yang dulu diberikan oleh Peter saat lulus kuliah.
Waktu itu, dia bahkan bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa akulah seluruh dunianya.
Aku tersenyum miris, lalu menatapnya sekali lagi. Lalu akhirnya memutuskan untuk tetap membawanya pergi.
Saat aku memeluk kotak berisi barang-barang dan bersiap meninggalkan kantor, tiba-tiba Rosa masuk dengan wajah cemas.
“Maaf teman-teman, sepertinya kalung yang kupakai hari ini hilang. Bisa tolong kerja samanya untuk diperiksa?”
Seketika, suasana kantor menjadi ramai dan penuh bisik-bisik.
“Tadi aku sempat lihat kalung Bu Rosa, berlian di kalungnya besar sekali dan sangat berkilau!”
“Aku rasa Bu Rosa sengaja bicara halus begitu. Bisa jadi memang ada orang yang lihat kalung itu dan timbul niat jahat untuk mencurinya!”
“Astaga! Berarti ada pencuri di kantor kita? Pantas saja akhir-akhir ini cemilan di mejaku sering hilang!”
Peter berdiri di samping Rosa, lalu memerintahkan sekuriti perusahaan untuk menutup pintu dan memeriksa semua orang satu per satu.
Saat giliranku tiba, aku meletakkan kotak dan bekerja sama pada Peter untuk diperiksa.
Pandangan matanya langsung tertuju pada pajangan kecil berbentuk planet yang ada di paling atas. Dia sempat terdiam sesaat, tapi akhirnya tetap memerintahkan orang untuk mengeluarkan semua isi kotak.
Benda-benda berjatuhan ke lantai dengan suara berisik. Pajangan itu hancur berkeping-keping, seperti hubunganku dengan Peter selama enam tahun, begitu muncul retakan, tak akan pernah bisa kembali utuh.
Beberapa sekuriti menggeledah barang-barang di lantai, tiba-tiba Rosa menutup mulut sambil berseru kaget, “Itu kalungku!”
Semua orang di ruangan sontak terdiam mendengar seruan itu, lalu semua mata langsung tertuju padaku. Di belakangku, bisik-bisik tuduhan terus bermunculan.
“Ya ampun! Ternyata Aurel yang mencuri kalung direktur baru?! Kalau saja Pak Peter nggak menutup pintu kantor, dia pasti sudah kabur dengan kalung itu sekarang!”
“Tak kusangka Aurel ternyata orang seperti ini. Benar-benar sifat tak bisa dinilai dari tampang wajah. Hanya gara-gara posisinya direbut direktur baru, dia malah sampai kecil hati begitu!”
“Sempit hati sekali Aurel! Ternyata dia orang yang suka mencuri. Untung saja dia sudah mengundurkan diri, kalau nggak, aku jadi agak takut kalau harus satu ruangan dengannya!”
Seketika, wajahku menjadi pucat. Aku yakin sekali bukan aku yang menyentuh kalung itu. Saat aku pergi menyerahkan surat pengunduran diri, pasti ada yang sengaja mengutak-atik barang-barangku.
Dengan wajah muram, Peter mengangkat kalung berlian dari tumpukan barangku.
Peter menggenggam kalung itu, wajahnya tampak penuh kekecewaan menatapku, “Aurel….”
Dia membentak menyebut namaku, sementara aku menunduk dan melihat barang-barang milikku yang sudah diinjak-injak di bawah kakinya. Bahkan, dia dengan sengaja menghancurkan pajangan berbentuk planet pemberiannya hingga remuk.
Begitu aku mendongak, Peter tanpa banyak bicara langsung menamparku. Dia berkata, “Cepat minta maaf pada Rosa! Kenapa kamu harus mencuri kalung yang kuberikan padanya?!”
Saat itu juga, hatiku benar-benar hancur.
Peter menggenggam kalung berlian bernilai miliaran yang berikan untuk Rosa, sementara di kakinya, dia menginjak barang murahan yang pernah dia berikan padaku, yang bahkan nilainya tak sampai sepersekian dari kalung itu.
Seketika, air mataku menetes. Dibanding salah paham dari rekan-rekan sekantor, tamparan Peter, pria yang menemaniku selama enam tahun jatuh lebih membuat hatiku sakit.
Dia benar-benar tak percaya padaku?
Melihatku diam, Peter kembali menarikku dengan kasar layaknya menyeret sampah. Lalu melemparkanku ke depan Rosa, “Cepat minta maaf pada Rosa! Jelaskan kenapa kamu mencurinya?!”
Tatapan puas sempat berkilat di mata Rosa, tapi dengan cepat dia pura-pura mengerutkan kening, lalu mengulurkan tangan seolah ingin menolongku berdiri dari lantai yang dingin.
Aku menepis tangannya, menyisakan sedikit harga diri, lalu berdiri dengan kekuatanku sendiri.
Meski pandanganku kabur dipenuhi air mata, tubuhku tetap tegak dan menjawab, “Aku nggak mengambilnya! Di kantor ada CCTV, aku akan memeriksa rekamannya untuk membuktikan kalau aku nggak bersalah!”
Lalu, aku menatap mata Rosa lekat-lekat dan dengan tegas berkata, “Hanya kalung berlian seperti itu, aku nggak tertarik sama sekali!”