Bab 1
Di hari ulang tahunku, pacarku yang sudah bersamaku selama enam tahun malah melamar cinta pertamanya.
Seketika, semua perasaan sirna.
Aku pun tersadar dan memilih pergi untuk menjalani perjodohan keluarga….
Di tahun keenam kami berpacaran, aku menemukan sebuah kotak kecil berisi cincin lamaran di saku mantel pacarku, Peter.
Di hari ulang tahunku, aku datang dengan penuh harap, tapi malah melihat foto dirinya bersama gadis lain sedang makan di restoran mewah khusus pasangan di postingan instagram.
Aku buru-buru naik taksi menuju restoran itu, lalu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dia berlutut di depan gadis itu dan melamarnya. Sementara orang-orang di sekeliling bersorak menyuruh mereka untuk bersama.
Kekecewaan yang menumpuk membuatku tidak lagi bereaksi seperti dulu, tidak berteriak atau membuat keributan. Aku hanya diam dan menekan nomor ayahku.
“Ayah, aku setuju dengan perjodohan Keluarga Nick. Persiapkan saja pernikahannya.”
…
Ayah sempat terdiam, lalu suaranya terdengar penuh kegembiraan,
“Putriku sayang, akhirnya kamu sadar juga. Dalam pernikahan yang terpenting adalah kesepadanan keluarga. Hidangan sederhana di luar boleh saja dicicip, tapi kita tak mungkin hidup selamanya hanya dengan bubur polos!”
Aku hanya mengiyakan pelan, berdiri sendirian di lobi restoran pasangan, menatap Peter dan gadis itu berciuman di tengah riuh sorak-sorai orang banyak.
Semua orang bersorak untuk mereka, hanya aku yang berdiri kaku seperti boneka kayu, tak mampu bergerak sedikit pun.
Ayahku pun mendengar keramaian dari balik telepon, dia mendesakku, “Lalu kapan kamu pulang ke rumah untuk bertemu dengan Nick? Mereka sudah lama menunggu kabar untuk pertunangan ini.”
“Tiga hari lagi, setelah urusan di sini selesai, aku bakal langsung pulang.”
Setelah menutup telepon, aku melihat Peter menyematkan cincin ke jari gadis itu dengan tangan gemetar. Mungkin karena aku terlalu asing di tengah keramaian yang penuh sorak-sorai, begitu Peter berdiri, pandangannya langsung tertuju padaku.
Kami saling berpandangan dari kejauhan, Peter tampak sedikit terkejut melihatku di sana. Alisnya sempat berkerut, lalu akhirnya menggandeng tangan gadis itu dan kembali ke tempat duduk.
Mawar, sampanye, alunan piano romantis, ditambah makan malam bercahaya lilin….
Enam tahun bersama dengannya, aku bahkan belum pernah sekalipun makan di tempat seperti ini.
Aku pun berbalik pergi. Semua sahabat baik Peter juga hadir. Foto yang kulihat sebelumnya juga berasal dari salah satu unggahan mereka di instagram.
Sebelum pergi, aku mendengar mereka bersiul dan bertepuk tangan sambil berseru, “Kalian berdua benar-benar pasangan serasi, setelah sekian lama akhirnya bisa bersama juga!”
“Ayo, angkat gelasnya semua! Kita beri selamat untuk pasangan baru ini! Semoga cintanya bisa langgeng selamanya!”
Aku hanya bisa tersenyum getir. Enam tahun bersama dengan Peter, tak ada satu pun sahabatnya yang tahu tentang hubungan kami, tapi semua orang justru tahu kisah cintanya dengan gadis itu.
Rasa perih merayap ke dalam hatiku.
Hari ini adalah ulang tahunku. Rasa terharu saat menemukan kotak cincin di saku mantel miliknya tadi, kini semuanya berubah jadi racun yang menggerogoti hati.
Setelah naik taksi, aku kembali pulang. Di depan pintu rumah, aku melihat kurir makanan mengantarkan kue ulang tahun. Ada kartu ucapan yang menempel di kotaknya, tertera tulisan tangan Peter, [Selamat ulang tahun, sayangku. Semoga tercapai semua keinginanmu].
Kurir itu tersenyum padaku dan dengan nada iri, dia berkata, “Nona, pacarmu benar-benar baik sekali. Ini kue termahal di toko kami dan kartu ucapannya pun ditulis langsung olehnya!”
Aku membuka pintu, meletakkan kue itu begitu saja di atas meja. Ternyata dia masih ingat hari ini hari ulang tahunku. Tapi, apa yang telah dia lakukan hari ini?
Dengan lemas aku merebahkan diri ke sofa. Menatap kosong ke ruangan yang sepi, tanpa sadar mataku berkaca-kaca.
Setiap sudut ruangan masih menyimpan jejak kehidupan kami berdua. Tapi, pacarku malah membeli cincin pertunangan untuk melamar wanita lain?
Kini, melihat kue itu saja, aku hanya merasa mual dan muak.
Aku duduk di sofa cukup lama hingga hampir lupa waktu, sampai akhirnya tiba-tiba pintu apartemenku terbuka.
Bab 2
Peter pulang dengan wajah letih, tangannya masih menenteng seikat bunga segar.
Dia berjalan mendekatiku tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya, “Aurel, aku bawakan bunga lisianthus kesukaanmu.”
Lisianthus, bunga yang melambangkan kesetiaan dan cinta yang tunggal. Tapi saat ini, berada di genggamannya, rasanya seperti sebuah lelucon.
Aku menerima bunga itu, Peter mengira emosiku sudah mereda. Dia pun mulai menjelaskan, “Rosa didiagnosis kanker tulang. Satu-satunya keinginannya itu menikah denganku. Kami tumbuh besar bersama, aku tak tega mengabaikan keinginannya. Jadi, tiga hari lagi aku bakal bertunangan dengannya.”
“Kamu selalu pengertian, pasti bisa memahami aku, ’kan?”
Nada bicaranya bukan seperti penjelasan, lebih mirip pemberitahuan.
Tiga hari lagi bakal bertunangan dengan Rosa?
Kebetulan, tiga hari lagi aku juga sudah berniat pergi.
Aku hanya mengangguk pelan.
Dulu, Peter paling tidak tahan dengan sifat manja dan keras kepalaku.
Katanya, aku selalu mencari-cari perhatian darinya setiap ada masalah kecil, berkali-kali menanyakan apakah dia masih mencintaiku.
Lama-kelamaan, aku pun berubah dan belajar menahan diri.
Kini, aku tidak marah, tidak ribut dan juga tidak menuntut jawaban soal cinta darinya. Peter malah tampak heran dan melirikku.
“Aku bakal pindah ke rumah Rosa besok. Beberapa bulan ke depan, kamu mungkin harus terbiasa sendirian.”
“Rosa lagi sakit. Dibandingkan kamu, dia yang lebih membutuhkan aku sekarang.”
Aku tersenyum dan meletakkan bunga itu. Melihat aku tidak menolak, Peter mendekat dan hendak menyentuh wajahku.
Aku menolak dengan halus. Di kerah kemejanya masih menempel jelas bekas lipstik, aroma parfum manis menusuk hidungku, membuat perutku terasa mual.
Peter yang ditolak olehku pun naik pitam. Dia tak berbicara lagi, lalu bergegas pergi dari rumah.
Sementara aku, langsung membuang bunga dan kue itu ke tempat sampah, lalu mulai membereskan barang-barangku.
Aku tak menginginkan bunga itu, begitu juga dengan Peter.
Bahkan rumah yang kutinggali enam tahun ini, tak lagi menyisakan sedikitpun alasan untuk kupertahankan.
Bab 3
Keesokan harinya, saat kembali ke kantor, aku duduk di meja kerjaku dan sudah mencetak surat pengunduran diri.
Aku dan Peter saling mengenal dan jatuh cinta sejak kuliah. Setelah dia masuk kerja di perusahaan teknologi ini, aku pun ikut bergabung ke sini, menolak rencana orang tuaku dan memilih menemaninya berjuang dari posisi karyawan biasa.
Selama bersama Peter, aku pernah secara halus menyinggung soal pernikahan. Tapi, dia selalu sibuk bekerja, beralasan belum punya pencapaian apa-apa, takut orang tuaku tidak rela menyerahkan putri kesayangan mereka padanya.
Harus berkarir dulu baru berumah tangga, begitu katanya padanya.
Sementara aku, demi tidak menambah beban, hanya bisa diam-diam menenangkan orang tuaku, bahkan menyembunyikan latar belakangku agar dia tidak makin tertekan.
Kini, dia sudah menjadi wakil direktur perusahaan. Saat menemukan cincin di sakunya, aku sempat berharap itu pertanda dia akhirnya siap melamarku.
Namun, ternyata semua itu hanyalah khayalanku sendiri.
Seorang rekan kerja lewat dan melihat surat pengunduran diri di komputerku, dia pun terkejut dan bertanya, “Kak Aurel, sebentar lagi kamu mau dipromosikan jadi direktur teknik. Kok malah tiba-tiba mau mengundurkan diri?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Aku mau menikah sebentar lagi, nanti mungkin akan pindah ke perusahaan lain.”
Rekan kerjaku, Lina ikut tersenyum sambil memberi selamat, “Belakangan ini banyak kabar gembira ya. Tadi malam aku juga lihat postingan instagram Pak Peter, katanya diam mau tunangan!”
“Harus diakui, Pak Peter dan pacarnya benar-benar serasi sekali. Kudengar mereka sahabat sejak kecil, benar-benar cinta pertama di hati satu sama lain.”
Senyuman di wajahku perlahan menghilang. Aku membuka ponsel, baru sadar Peter sudah memblokirku dari akun utama maupun akun kecilnya.
Akun utamanya untuk pribadi, sejak semalam dia keluar rumah langsung memblokirku. Akun kecilnya untuk urusan kerja dan saat kubuka, percakapan kami hanya tersisa obrolan formal atasan bawahan.
Tiba-tiba, Peter masuk ke kantor bersama Rosa.
Mereka berjalan berdekatan, wajah Rosa merona dengan senyuman ceria, sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Lalu, Peter pun memperkenalkan pada semuanya, “Ini calon direktur teknik baru perusahaan. Mulai sekarang, kita semua akan bekerja bersama, jadi tolong jaga hubungan baik.”
Lina tampak kaget, pandangan bergantian antara aku dan Rosa. Akhirnya dia tetap menunduk sopan dan menyapa, “Salam kenal, Bu Rosa!”
Aku tidak berbicara, hanya menggenggam surat pengunduran diriku erat-erat. Tapi, Peter malah memandangku dengan kesal, “Aurel, semua orang sudah menyapa direktur baru, kok sikap kamu malah begitu?”
Rosa terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangan padaku, “Mulai sekarang kita akan bekerja di kantor yang sama, mohon bimbingannya, ya.”
Aku baru hendak menyambut tangannya, tiba-tiba Peter menarik tangan Rosa kembali, “Kamu itu direktur, nggak perlu terlalu ramah dengan karyawan kecil. Ayo, aku bawa kamu keliling untuk mengenal lingkungan kerja.”
Mereka pun pergi bersama, meninggalkanku sendirian dengan tangan yang masih terulur kaku di udara. Aku terdiam di tempat, terlihat tak ada bedanya seperti badut.