Bab 2

Aku membuka pintu kelab dan masuk. Ketika Navish melihatku, dia tampak agak terkejut dan alisnya berkerut. "Kenapa kamu di sini? Jangan-jangan kamu mengikutiku?" tanyanya dengan nada penuh tuduhan.

Aku mengangkat ponselku untuk menunjukkan pesan darinya. "Kamu yang kirim pesan padaku."

Miya yang duduk di sampingnya, mencubit lengannya sambil mengerucutkan bibir. "Pak Navish, aku cuma bercanda waktu nyuruh Kak Sasa bawa yogurt. Kamu nggak marah, 'kan?"

Kerutan di wajah Navish perlahan menghilang. Anehnya, aku tidak merasakan apa-apa atas lelucon Miya atau toleransi Navish terhadapnya. Tidak ada amarah seperti biasanya, hanya ketenangan. Aku mengangguk kecil sebagai tanda bahwa aku mengerti.

Namun, kali ini Navish terlihat ingin menjelaskan sesuatu. "Sasa, Miya cuma menemani aku untuk urusan pekerjaan ...."

Aku mengangkat tangan, menyerahkan botol yogurt padanya, dan memotong penjelasannya. "Ini yogurtnya."

Karena Navish sudah minum, dia tidak bisa mengemudi. Setelah memastikan Miya aman, dia mengajakku pulang.

Taksi yang kami tumpangi ada di seberang jalan. Ketika aku berjalan mendekat, tiba-tiba Navish menarik lenganku. Baru saat itu aku sadar ada mobil yang melaju kencang dan hampir menabrakku.

"Kalau jalan, lihat ke arah mobil dong," tegurnya dengan nada cemas. Tangannya menggenggam tanganku erat, seolah memastikan aku aman.

Sejenak aku teringat kebiasaannya dulu. Saat setiap kali kami menyeberang jalan, dia selalu memegang tanganku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melakukan itu, sampai rasanya aneh bagiku.

Begitu kami sampai di sisi lain jalan, aku menarik tanganku perlahan dan melepaskan genggamannya tanpa banyak bicara.

Keesokan paginya, aku bersiap-siap pergi bekerja. Ketika aku mengambil barang-barangku, Navish tiba-tiba berkata, "Aku antar kamu ke kantor."

Aku melirik jam. Karena urusannya semalam, aku telat tidur dan nyaris tidak punya waktu jika harus naik kereta bawah tanah. Jadi, aku setuju tanpa banyak basa-basi.

Namun, saat aku membuka pintu kursi penumpang depan mobilnya, aroma manis dan menyengat khas wanita langsung menyerbu penciumanku. Aku melihat interior mobil: sarung jok berwarna merah muda, lengkap dengan bantal kecil Hello Kitty yang lucu di kursi penumpang.

Di bagian depan mobil, ada stiker lucu bertuliskan "Tempat Khusus Miya" yang menunjukkan klaim kepemilikannya dengan sombong. Sungguh ironis, Navish yang biasanya dikenal tegas dan rapi di kalangan profesional, sekarang membiarkan hal-hal manis seperti ini ada di mobilnya.

Ekspresi canggung terlintas di wajahnya saat dia menjelaskan, "Miya itu cuma anak kecil. Kamu nggak perlu terlalu serius mempermasalahkannya."

Anak kecil yang berfoto pasangan dengannya? Pertanyaan itu hampir keluar dari mulutku, tetapi aku menahannya. Aku ingat betul, sehari setelah kami mengajukan cerai, dia memposting foto pasangan dengan Miya di media sosial dengan caption.

[ Merekam setiap momen malumu yang manis. ]

Entah itu cara dia membalas keputusanku untuk bercerai atau alasan lain, yang jelas hatinya sudah lama condong ke arah lain.

Aku memilih untuk menghindari drama lebih jauh. "Aku duduk di belakang saja," kataku singkat, lalu berjalan ke kursi belakang.

"Belum sarapan, 'kan?" Navish mungkin merasa canggung dengan keheningan sehingga dia menyerahkan sebotol susu padaku.

Aku melirik ke arah depan, ada sebuah kotak camilan penuh dengan kue kering, buah kering, dan jelly. Hal itu mengingatkanku pada betapa Navish dulu memiliki standar kebersihan yang sangat tinggi. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun makan di mobilnya.

Aku masih ingat ketika aku terkena hipoglikemia di mobilnya, dengan bibir pucat dan penglihatan kabur, aku memohon untuk meminum sedikit teh susu yang kubawa. Namun, dia tetap tidak mengizinkannya, bahkan saat aku hampir kehilangan kesadaran.

Namun, sekarang? Miya dengan mudah mendapatkan toleransi darinya.

Cinta dan tidak cinta, memang terlihat sangat jelas.

Aku menggelengkan kepala, menolak susunya, lalu memalingkan wajah untuk menatap ke luar jendela, memandangi kendaraan yang melintas.

Untungnya, perjalanan ke kantor tidak terlalu lama. Begitu tiba, aku segera kembali ke meja kerjaku.

Secara logis, karena aku dan Navish akan bercerai, aku seharusnya mengajukan pengunduran diri dari perusahaan tempat kami bekerja. Namun, aku masih menangani dua proyek besar, dan atas dasar tanggung jawab, aku ingin menyelesaikannya terlebih dahulu.

Sepanjang pagi hingga siang, aku sibuk hingga hampir tidak punya waktu untuk bernapas. Kurangnya tidur malam sebelumnya membuat pikiranku sedikit kacau. Ketika aku hendak membuat secangkir kopi untuk mengembalikan energi, tiba-tiba seorang kurir masuk dengan membawa sekotak besar teh susu dan kue kecil.

Sontak, rekan-rekanku bersorak gembira.

"Bos traktir teh susu! Wah, dia baik banget, ya!"

"Ah, kamu tahu apa? Ini sebenarnya karena Miya lagi diet dan bos merasa kasihan. Jadi, dia beli teh susu dan kue untuk Miya, kita hanya numpang untung!"

Bab 3

"Ah? Bukannya bos menikah sama Kak Sasa?" bisik salah satu rekan kerja.

"Ssst, pelan-pelan, Kak Sasa masih di sini!" sahut yang lain dengan gugup.

"Sasa, kami cuma bercanda. Jangan terlalu dipikirkan ya," kata salah satu rekan mencoba menenangkanku.

Melihat meja penuh dengan teh susu rasa mangga dan kue cokelat, aku sudah tahu, semuanya untuk Miya. Navish merasa kasihan karena Miya diet dan tidak ingin dia diet terlalu ketat, jadi Navish memutuskan untuk mentraktir seluruh kantor.

Ingin sekali rasanya aku mencicipi simbol cinta mereka ini. Sayangnya, aku alergi mangga dan tidak terlalu suka produk berbahan cokelat.

Dulu, ketika Navish mengejarku, dia juga melakukan hal-hal seperti ini. Dia takut aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan, dan sering menggunakan alasan "laporan pekerjaan" untuk mengajakku makan bersama.

Saat aku sakit tapi tetap bekerja, dia menyelipkan obat dalam sepotong kue kecil dan mengantarnya ke mejaku, hanya untuk melihat wajahku meringis karena rasa pahitnya.

Saat itu, suasana kantor menjadi ceria karena hubungan kami yang menjadi topik bahasan. Namun, sekarang, semua perhatian dan perhatiannya telah dialihkan ke orang lain.

Aku tidak punya waktu untuk terlalu memikirkannya. Pekerjaanku menumpuk dan sangat rumit. Demi proyek ini, aku sudah beberapa malam lembur. Seperti yang kuduga, malam ini pun aku harus melanjutkanya.

Langit mulai gelap dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Begitu sibuknya hingga aku tidak sadar ketika Navish tiba di sampingku.

"Sasa, kamu masih lembur?" tanyanya.

Aku menatapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan. "Pak Navish, ada yang bisa saya bantu?"

Dia tampak tidak nyaman dengan nada formal yang kugunakan, tapi tetap langsung berkata terus terang, "Gimana kalau proyek ini diberikan ke Miya saja?"

Meskipun aku sudah menduga hal ini, hatiku tetap terasa perih mendengarnya.

"Belakangan ini, Miya banyak menerima gosip yang nggak menyenangkan. Kalau proyek ini dikerjakan atas namanya, kemampuan kerjanya nggak akan lagi dipertanyakan."

Dia tahu betapa keras usahaku untuk mendapatkan proyek ini. Aku bergadang selama beberapa malam, bahkan harus menghabiskan waktu berbicara dan meyakinkan banyak pihak. Namun sekarang, hanya dengan satu kalimat, dia memutuskan memberikannya kepada Miya.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah tentang melindungi Miya, takut dia jadi korban gosip. Namun, dia sama sekali tidak memikirkan betapa tidak adilnya ini bagiku. Aku tersenyum tipis, merasa ini benar-benar sebuah ironi.

"Baiklah, kasih saja ke dia. Suruh Miya temui saya besok untuk penyerahan," jawabku tanpa emosi.

Aku sudah memberikan segalanya untuk perusahaan ini. Sudah saatnya aku pergi. Jika Miya mau melanjutkan proyek ini, aku justru merasa lebih bebas.

Navish tampak terkejut dengan persetujuanku yang begitu cepat. Dari sakunya, dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berisi kalung.

"Bukankah dulu kamu bilang ingin sekali punya kalung dari merk ini? Waktu itu aku salah. Aku tahu gadis suka benda beginian, aku janji akan menebusnya perlahan-lahan."

Itu memang merk kalung yang aku suka. Aku pernah bilang padanya aku ingin membelinya. Namunsekarang, kalung ini sudah kehilangan artinya.

Navish tidak memberikannya saat aku paling menginginkannya. Selain itu, aku tidak suka konsep "menghukum dulu, lalu memberikan hadiah".

Aku menerima kalung itu dengan senyum datar. "Terima kasih."

Setelah aku menyetujui permintaannya, nada bicaranya menjadi jauh lebih lembut. Dia bahkan melepas jaketnya dan menyelimutkannya di bahuku.

"Jangan lawan aku lagi. Waktu itu memang salahku. Gimana kalau kita batalkan permohonan cerai minggu ini? Lagian, bukankah kamu selalu ingin pergi ke Dali? Nanti aku temani kamu ke sana."

Aku diam saja, tidak menanggapinya. Navish tampaknya menganggap diamku sebagai persetujuan. Dia terus berbicara panjang lebar tentang rencana-rencana yang dia pikir akan membuatku terkesan.

Di perjalanan pulang, aku membuka media sosial dan melihat postingan Miya. Di sana, dia memamerkan sebuah kalung dari merk yang sama, dengan kemasan yang sama. Namun, desain kalung Miya jauh lebih indah dan mewah dibandingkan dengan yang dia berikan padaku.

Baru aku sadari, kalung yang dia berikan padaku hanyalah hadiah bonus.

Menggelikan sekali. Dia tahu aku menyukai kalung ini, tapi bahkan untuk memilih sebuah kalung yang istimewa untukku saja dia tidak sudi.

Bab 4

Besok adalah hari terakhir masa tenang perceraian. Setelah besok, aku dan Navish benar-benar tidak akan memiliki hubungan lagi. Aku berdiri di balkon, menyiram bunga kecil yang kupelihara. Tiba-tiba, cincin di jariku terlepas dan jatuh dari balkon.

Tanpa pikir panjang, aku membungkuk untuk mencoba mengambilnya.

"Apa yang kamu lakukan?!" Navish dengan cepat menarik tanganku untuk menjauh dari tepi balkon.

"Kamu tahu betapa bahayanya itu?!" ucapnya dengan nada khawatir. Seolah-olah dia masih peduli padaku.

"Cincinnya jatuh," jawabku singkat.

Cincin itu adalah cincin yang dia buat sendiri untukku dulu dengan desain yang sangat kusukai. Itulah sebabnya aku selalu memakainya hingga sekarang. Ketika cincin itu jatuh dari balkon, aku merasa tidak bisa diam saja.

Navish menghela napas lega. "Itu cuma cincin. Aku bisa belikan yang baru, kamu nggak perlu mengambil risiko seperti itu."

Cuma cincin. Aku melihat jarinya yang kosong tanpa cincin. Rupanya dia sudah lama melepasnya.

"Besok adalah hari peringatan pernikahan kita. Aku akan menjemputmu, kita rayakan bersama," katanya.

Sudah berapa lama sejak kami terakhir kali merayakan hari pernikahan dengan lengkap? Aku terdiam sejenak dan merenung. Mungkin ini adalah cara yang baik untuk mengakhiri hubungan ini dengan tenang.

Keesokan harinya, aku menunggu di restoran yang sudah dipesan sebelumnya. Waktu berlalu, dan aku sudah sangat lapar, tetapi Navish belum juga datang.

Aku membuka ponselku untuk mengirim pesan kepadanya. Kalau memang dia tidak benar-benar berniat merayakan hari pernikahan ini, seharusnya dia bilang dari awal daripada membuang waktuku.

Aku mencoba meneleponnya beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Ketika aku kembali memeriksa ponsel, sebuah pesan muncul di grup kerja.

Sebuah akun anonim menulis.

[ Miya menggoda bos yang sudah menikah. Mengandalkan dirinya yang muda dan cantik, dia menggunakan tubuhnya untuk naik jabatan. Sungguh memalukan! ]

Di bawahnya, ada bukti-bukti tentang proyek yang kuserahkan kepada Miya.

Meskipun pesan itu menyalahkan Miya, setiap kalimatnya secara tidak langsung menyalahkanku juga. Tidak lama setelah aku membaca pesan itu, Navish muncul dengan marah dan membuka pintu restoran dengan keras.

"Aku pikir kamu tulus menyerahkan proyek itu," kata Navish dengan nada tinggi. "Ternyata kamu sejahat itu, pura-pura setuju lalu diam-diam memfitnah Miya!"

"Sasa, kamu ini begitu rendah!"

Miya bersembunyi di belakang Navish, menangis sesenggukan seolah sangat menderita. "Aku nggak perlu proyek itu. Aku nggak peduli apa yang orang lain katakan tentangku. Tapi, Kak Sasa, aku selalu menganggapmu teman baik. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?"

"Bukan aku," jawabku dengan tenang.

"Kalau bukan kamu, siapa lagi yang punya alasan untuk menjatuhkan Miya?" Navish menatapku tajam. "Sasa, kamu wanita yang munafik!"

"Miya bahkan sudah memilihkan restoran ini untuk kita dengan teliti! Kamu benar-benar nggak layak!" lanjutnya, wajahnya memerah karena emosi.

Dengan marah, dia meraih piring dan membantingnya ke lantai. Pecahan piring berhamburan ke segala arah.

Sepuluh tahun hidup bersama, tapi itu tidak cukup untuk membuatnya percaya pada karakterku.

Aku merogoh kantong dan mengeluarkan dokumen perjanjian cerai. "Kalau begitu, masa tenang 30 hari sudah selesai. Tanda tangan saja sekarang." Aku meletakkan surat pengunduran diriku di bawah dokumen itu.

Navish tertawa sinis, lalu meraih pena dan dengan cepat menandatangani dokumen itu. "Sesuai keinginanmu!"

Setelah itu, dia memeluk Miya dan pergi begitu saja.

Aku duduk di tempatku, menatap punggungnya yang semakin menjauh. Tampaknya, tidak ada lagi gunanya menyelesaikan perayaan pernikahan terakhir ini.

Melihat makanan di atas meja yang sudah dingin, aku perlahan menyuapkan pasta ke mulutku. Sesuap demi sesuap, hingga semuanya habis.

Setelah itu, aku meraih koper yang sudah kusiapkan dan terletak di sudut restoran. Aku memesan taksi online untuk menuju bandara.

Di perjalanan, aku mengirim pesan terakhir ke Navish.

[ Kunci sudah aku taruh di meja ruang tamu. Hubungan kita sudah berakhir. Jangan pernah menghubungiku lagi. ]

Setelah pesan terkirim, aku mematikan ponselku dan melangkah naik ke pesawat yang akan membawaku ke Nu York.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B72017" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B72017
Salin

Menunggu Perceraian yang Dinantikan

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya