Bab 1
Ketika aku mengetahui bahwa Navish lebih memilih untuk mengantar obat flu untuk asistennya, sementara aku terjebak di lift dengan klaustrofobia, aku memutuskan untuk mengajukan cerai.
Navish dengan cepat menandatangani dokumen itu. Dia bahkan tertawa santai kepada temannya dan berkata, "Dia cuma ngambek. Lagian, orang tuanya sudah meninggal, dia nggak mungkin benar-benar menceraikan aku."
"Selain itu, bukankah ada masa tunggu 30 hari untuk perceraian? Kalau dia menyesal, aku bisa bermurah hati memaafkannya dan dia pasti akan kembali padaku," tambahnya sambil tersenyum percaya diri.
Keesokan harinya, dia memposting foto pasangan dengan asistennya di media sosial, lengkap dengan caption.
[ Merekam setiap momen malumu yang manis. ]
Aku menghitung hari-hari dengan tenang. Setelah memastikan semuanya sesuai rencana, aku mulai membereskan barang-barangku dan menelepon seseorang.
"Paman, tolong belikan aku tiket pesawat ke Nu York," kataku dengan suara tegas.
"Bagus sekali, Sasa. Bertahun-tahun kamu akhirnya mau kembali, Paman benar-benar senang," kata seorang pria paruh baya dengan nada riang di telepon.
Setelah aku menutup telepon, Navish membuka pintu kamar. Bersamaan dengan kehadirannya, tercium aroma parfum wanita yang asing.
"Kamu barusan telepon siapa?" tanyanya tanpa sedikit pun perhatian. Matanya tetap terpaku pada layar ponselnya, tidak melirikku sama sekali.
Aku baru hendak menjawab ketika ponselnya berdering. Dari sana, terdengar suara lembut seorang gadis, "Pak Navish, terima kasih banyak untuk obat flu yang kamu kirim beberapa hari lalu. Kalau bukan karena kamu, fluku pasti makin parah. Tanpa kamu, aku nggak tahu harus gimana!"
Navish tampaknya merasa kurang nyaman mendengarkan itu di depanku, jadi dia menurunkan volume teleponnya.
Aku diam saja, merasa percuma untuk berkata apa pun. Bukankah kami memang sudah berencana untuk bercerai? Aku menutup mulutku dan kembali mengemasi barang-barangku. Seperti biasa, aku membuatkan diriku segelas susu hangat.
Selesai berbicara di telepon, Navish duduk di sofa dengan santai sambil membaca koran keuangan seperti kebiasaannya setiap malam. Namun, dia tampak terganggu ketika tangannya tidak menemukan teh bunga yang biasa kubuatkan untuknya. Akhirnya, dia menatapku dan wajahnya menunjukkan ketidaksabaran.
"Cuma karena waktu itu aku nggak menyelamatkanmu saat lift rusak, kamu harus begini?" ucapnya dengan nada mengejek.
"Miya bilang, sepupunya seorang dokter, dan katanya klaustrofobia itu bukan masalah besar. Kamu jangan terlalu lebay."
"Lagi pula, kamu yang minta cerai, aku sudah setuju. Jadi, kenapa harus terus-terusan pasang wajah masam?"
Malam itu, aku pulang lembur sangat larut. Aku terjebak di lift yang mendadak mati listrik dengan ponsel yang hampir kehabisan daya. Klaustrofobiaku kambuh sehingga membuatku gemetar hebat. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menelepon Navish untuk meminta bantuan.
Namun, dia hanya menjawab, "Kamu nggak bisa cari solusi sendiri? Aku lagi sibuk," sebelum menutup telepon.
Beberapa saat kemudian, ponselku mati dan aku kehilangan kesadaran.
Baru belakangan aku tahu bahwa asistennya, Miya, mendapat cuti selama beberapa hari. Rupanya, malam itu dia "sibuk" mengantar obat flu untuk Miya.
Itulah alasan aku memutuskan untuk mengajukan cerai.
"Nggak masalah. Setelah kita resmi bercerai, kamu nggak perlu lagi melihat wajah masamku," jawabku tanpa menghentikan pekerjaanku.
Aku pikir Navish akan senang mendengar itu, tetapi dia tiba-tiba menaikkan suaranya, "Jangan sampai kamu menyesal!"
Aku tetap fokus pada pekerjaanku, tidak peduli dengan emosinya. Navish akhirnya keluar rumah dengan membanting pintu.
Aku tidak ingin memikirkan suasana hatinya lebih jauh. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku membuat segelas susu hangat, lalu mandi air panas sebelum bersiap tidur.
Namun, ponselku berbunyi. Pesan dari Navish masuk.
[ Aku mabuk. Datang jemput aku, sekalian bawa satu botol yogurt. ]
Aku tidak ingin pergi, tetapi pesan berikutnya langsung menyusul.
[ Kita belum resmi bercerai. Kamu masih punya kewajiban sebagai istriku. ]
Merasa lelah, aku akhirnya mempersiapkan diri dan berangkat. Ketika sampai di depan kelab tempat dia berada, suara tawa Navish dan Miya terdengar jelas dari dalam.
Pikiranku melayang ke malam saat aku pertama kali mengajukan cerai. Malam itu, Navish juga mabuk, dan salah seorang temannya bertanya, "Navish, kamu benar-benar tega menceraikan Sasa?"
Dengan nada meremehkan, dia menjawab, "Dia cuma ngambek. Orang tuanya sudah meninggal, mana mungkin dia benar-benar berani menceraikan aku?"
"Lagi pula, ada masa tunggu 30 hari untuk perceraian. Kalau Sasa menyesal, aku akan bermurah hati memaafkannya, dan dia pasti akan kembali padaku."
Dia pikir statusku sebagai yatim piatu membuatku tidak bisa meninggalkannya. Bukan karena cinta, dia hanya yakin aku tidak punya tempat untuk kembali.
Namun, dia salah besar. Aku sudah menghitung hari, dan masa penantianku hampir berakhir.
Bab 2
Aku membuka pintu kelab dan masuk. Ketika Navish melihatku, dia tampak agak terkejut dan alisnya berkerut. "Kenapa kamu di sini? Jangan-jangan kamu mengikutiku?" tanyanya dengan nada penuh tuduhan.
Aku mengangkat ponselku untuk menunjukkan pesan darinya. "Kamu yang kirim pesan padaku."
Miya yang duduk di sampingnya, mencubit lengannya sambil mengerucutkan bibir. "Pak Navish, aku cuma bercanda waktu nyuruh Kak Sasa bawa yogurt. Kamu nggak marah, 'kan?"
Kerutan di wajah Navish perlahan menghilang. Anehnya, aku tidak merasakan apa-apa atas lelucon Miya atau toleransi Navish terhadapnya. Tidak ada amarah seperti biasanya, hanya ketenangan. Aku mengangguk kecil sebagai tanda bahwa aku mengerti.
Namun, kali ini Navish terlihat ingin menjelaskan sesuatu. "Sasa, Miya cuma menemani aku untuk urusan pekerjaan ...."
Aku mengangkat tangan, menyerahkan botol yogurt padanya, dan memotong penjelasannya. "Ini yogurtnya."
Karena Navish sudah minum, dia tidak bisa mengemudi. Setelah memastikan Miya aman, dia mengajakku pulang.
Taksi yang kami tumpangi ada di seberang jalan. Ketika aku berjalan mendekat, tiba-tiba Navish menarik lenganku. Baru saat itu aku sadar ada mobil yang melaju kencang dan hampir menabrakku.
"Kalau jalan, lihat ke arah mobil dong," tegurnya dengan nada cemas. Tangannya menggenggam tanganku erat, seolah memastikan aku aman.
Sejenak aku teringat kebiasaannya dulu. Saat setiap kali kami menyeberang jalan, dia selalu memegang tanganku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melakukan itu, sampai rasanya aneh bagiku.
Begitu kami sampai di sisi lain jalan, aku menarik tanganku perlahan dan melepaskan genggamannya tanpa banyak bicara.
Keesokan paginya, aku bersiap-siap pergi bekerja. Ketika aku mengambil barang-barangku, Navish tiba-tiba berkata, "Aku antar kamu ke kantor."
Aku melirik jam. Karena urusannya semalam, aku telat tidur dan nyaris tidak punya waktu jika harus naik kereta bawah tanah. Jadi, aku setuju tanpa banyak basa-basi.
Namun, saat aku membuka pintu kursi penumpang depan mobilnya, aroma manis dan menyengat khas wanita langsung menyerbu penciumanku. Aku melihat interior mobil: sarung jok berwarna merah muda, lengkap dengan bantal kecil Hello Kitty yang lucu di kursi penumpang.
Di bagian depan mobil, ada stiker lucu bertuliskan "Tempat Khusus Miya" yang menunjukkan klaim kepemilikannya dengan sombong. Sungguh ironis, Navish yang biasanya dikenal tegas dan rapi di kalangan profesional, sekarang membiarkan hal-hal manis seperti ini ada di mobilnya.
Ekspresi canggung terlintas di wajahnya saat dia menjelaskan, "Miya itu cuma anak kecil. Kamu nggak perlu terlalu serius mempermasalahkannya."
Anak kecil yang berfoto pasangan dengannya? Pertanyaan itu hampir keluar dari mulutku, tetapi aku menahannya. Aku ingat betul, sehari setelah kami mengajukan cerai, dia memposting foto pasangan dengan Miya di media sosial dengan caption.
[ Merekam setiap momen malumu yang manis. ]
Entah itu cara dia membalas keputusanku untuk bercerai atau alasan lain, yang jelas hatinya sudah lama condong ke arah lain.
Aku memilih untuk menghindari drama lebih jauh. "Aku duduk di belakang saja," kataku singkat, lalu berjalan ke kursi belakang.
"Belum sarapan, 'kan?" Navish mungkin merasa canggung dengan keheningan sehingga dia menyerahkan sebotol susu padaku.
Aku melirik ke arah depan, ada sebuah kotak camilan penuh dengan kue kering, buah kering, dan jelly. Hal itu mengingatkanku pada betapa Navish dulu memiliki standar kebersihan yang sangat tinggi. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun makan di mobilnya.
Aku masih ingat ketika aku terkena hipoglikemia di mobilnya, dengan bibir pucat dan penglihatan kabur, aku memohon untuk meminum sedikit teh susu yang kubawa. Namun, dia tetap tidak mengizinkannya, bahkan saat aku hampir kehilangan kesadaran.
Namun, sekarang? Miya dengan mudah mendapatkan toleransi darinya.
Cinta dan tidak cinta, memang terlihat sangat jelas.
Aku menggelengkan kepala, menolak susunya, lalu memalingkan wajah untuk menatap ke luar jendela, memandangi kendaraan yang melintas.
Untungnya, perjalanan ke kantor tidak terlalu lama. Begitu tiba, aku segera kembali ke meja kerjaku.
Secara logis, karena aku dan Navish akan bercerai, aku seharusnya mengajukan pengunduran diri dari perusahaan tempat kami bekerja. Namun, aku masih menangani dua proyek besar, dan atas dasar tanggung jawab, aku ingin menyelesaikannya terlebih dahulu.
Sepanjang pagi hingga siang, aku sibuk hingga hampir tidak punya waktu untuk bernapas. Kurangnya tidur malam sebelumnya membuat pikiranku sedikit kacau. Ketika aku hendak membuat secangkir kopi untuk mengembalikan energi, tiba-tiba seorang kurir masuk dengan membawa sekotak besar teh susu dan kue kecil.
Sontak, rekan-rekanku bersorak gembira.
"Bos traktir teh susu! Wah, dia baik banget, ya!"
"Ah, kamu tahu apa? Ini sebenarnya karena Miya lagi diet dan bos merasa kasihan. Jadi, dia beli teh susu dan kue untuk Miya, kita hanya numpang untung!"
Bab 3
"Ah? Bukannya bos menikah sama Kak Sasa?" bisik salah satu rekan kerja.
"Ssst, pelan-pelan, Kak Sasa masih di sini!" sahut yang lain dengan gugup.
"Sasa, kami cuma bercanda. Jangan terlalu dipikirkan ya," kata salah satu rekan mencoba menenangkanku.
Melihat meja penuh dengan teh susu rasa mangga dan kue cokelat, aku sudah tahu, semuanya untuk Miya. Navish merasa kasihan karena Miya diet dan tidak ingin dia diet terlalu ketat, jadi Navish memutuskan untuk mentraktir seluruh kantor.
Ingin sekali rasanya aku mencicipi simbol cinta mereka ini. Sayangnya, aku alergi mangga dan tidak terlalu suka produk berbahan cokelat.
Dulu, ketika Navish mengejarku, dia juga melakukan hal-hal seperti ini. Dia takut aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan, dan sering menggunakan alasan "laporan pekerjaan" untuk mengajakku makan bersama.
Saat aku sakit tapi tetap bekerja, dia menyelipkan obat dalam sepotong kue kecil dan mengantarnya ke mejaku, hanya untuk melihat wajahku meringis karena rasa pahitnya.
Saat itu, suasana kantor menjadi ceria karena hubungan kami yang menjadi topik bahasan. Namun, sekarang, semua perhatian dan perhatiannya telah dialihkan ke orang lain.
Aku tidak punya waktu untuk terlalu memikirkannya. Pekerjaanku menumpuk dan sangat rumit. Demi proyek ini, aku sudah beberapa malam lembur. Seperti yang kuduga, malam ini pun aku harus melanjutkanya.
Langit mulai gelap dan aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Begitu sibuknya hingga aku tidak sadar ketika Navish tiba di sampingku.
"Sasa, kamu masih lembur?" tanyanya.
Aku menatapnya, tidak tahu apa yang dia inginkan. "Pak Navish, ada yang bisa saya bantu?"
Dia tampak tidak nyaman dengan nada formal yang kugunakan, tapi tetap langsung berkata terus terang, "Gimana kalau proyek ini diberikan ke Miya saja?"
Meskipun aku sudah menduga hal ini, hatiku tetap terasa perih mendengarnya.
"Belakangan ini, Miya banyak menerima gosip yang nggak menyenangkan. Kalau proyek ini dikerjakan atas namanya, kemampuan kerjanya nggak akan lagi dipertanyakan."
Dia tahu betapa keras usahaku untuk mendapatkan proyek ini. Aku bergadang selama beberapa malam, bahkan harus menghabiskan waktu berbicara dan meyakinkan banyak pihak. Namun sekarang, hanya dengan satu kalimat, dia memutuskan memberikannya kepada Miya.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah tentang melindungi Miya, takut dia jadi korban gosip. Namun, dia sama sekali tidak memikirkan betapa tidak adilnya ini bagiku. Aku tersenyum tipis, merasa ini benar-benar sebuah ironi.
"Baiklah, kasih saja ke dia. Suruh Miya temui saya besok untuk penyerahan," jawabku tanpa emosi.
Aku sudah memberikan segalanya untuk perusahaan ini. Sudah saatnya aku pergi. Jika Miya mau melanjutkan proyek ini, aku justru merasa lebih bebas.
Navish tampak terkejut dengan persetujuanku yang begitu cepat. Dari sakunya, dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berisi kalung.
"Bukankah dulu kamu bilang ingin sekali punya kalung dari merk ini? Waktu itu aku salah. Aku tahu gadis suka benda beginian, aku janji akan menebusnya perlahan-lahan."
Itu memang merk kalung yang aku suka. Aku pernah bilang padanya aku ingin membelinya. Namunsekarang, kalung ini sudah kehilangan artinya.
Navish tidak memberikannya saat aku paling menginginkannya. Selain itu, aku tidak suka konsep "menghukum dulu, lalu memberikan hadiah".
Aku menerima kalung itu dengan senyum datar. "Terima kasih."
Setelah aku menyetujui permintaannya, nada bicaranya menjadi jauh lebih lembut. Dia bahkan melepas jaketnya dan menyelimutkannya di bahuku.
"Jangan lawan aku lagi. Waktu itu memang salahku. Gimana kalau kita batalkan permohonan cerai minggu ini? Lagian, bukankah kamu selalu ingin pergi ke Dali? Nanti aku temani kamu ke sana."
Aku diam saja, tidak menanggapinya. Navish tampaknya menganggap diamku sebagai persetujuan. Dia terus berbicara panjang lebar tentang rencana-rencana yang dia pikir akan membuatku terkesan.
Di perjalanan pulang, aku membuka media sosial dan melihat postingan Miya. Di sana, dia memamerkan sebuah kalung dari merk yang sama, dengan kemasan yang sama. Namun, desain kalung Miya jauh lebih indah dan mewah dibandingkan dengan yang dia berikan padaku.
Baru aku sadari, kalung yang dia berikan padaku hanyalah hadiah bonus.
Menggelikan sekali. Dia tahu aku menyukai kalung ini, tapi bahkan untuk memilih sebuah kalung yang istimewa untukku saja dia tidak sudi.